Kytyg Jurnal Pengetahuan. Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. No. November 2024, hal. ISSN 1412-2065, eISSN 2714-6367 https://jurnal. isi-ska. id/index. php/keteg NILAI PANCASILA DALAM SYAIR SINDHENAN GAYA SURAKARTA Sukesi Jurusan Pedalangan. Fakultas Seni Pertunjukan. Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta sukesipdl@gmail. dikirim 24-03-2025. diterima 08-08-2025. diterbitkan 08-08-2025 Abstrak Pancasila merupakan dasar negara yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara mulai dari hukum, politik, ekonomi, hingga seni dan budaya harus senantiasa berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila. Dalam aspek seni dan budaya, nilai-nilai Pancasila tercermin dalam berbagai bentuk kesenian tradisional, salah satunya yang ada dalam syair sindhenan gaya Surakarta. Penelitian mengenai Nilai Pancasila di dalam Syair Sindhenan Gaya Surakarta adalah upaya untuk menggali nilai-nilai Pancasila yang terkandung di dalam syair sindhenan yang lazim digunakan pada repertoar Karawitan Gaya Surakartap. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis yakni dengan mendeskripsikan beberapa bentuk wangsalan sindhenan lalu di analisis dengan pendekatan nilai pancasila sebagai objek formal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa posisi pesindhen bukan hanya sebagai objek eksploitasi bunyi dan visual semata, akan tetapi kemampuan sindhen dalam menyampaikan nilai-nilai Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia. Dengan demikan, hal ini menunjukkan bahwa para pesindhen telah berperan aktif dalam mensosialisasikan dasar negara sebagai pandangan hidup sekaligus identitas Bangsa Indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah adanya nilai-nilai Pancasila beserta butir-butirnya sebagaimana termuat dalam TAP MPR RI 2003 di dalam syair sindhenan gaya Surakarta terutama pada bagian wangsalan . Kata Kunci: Pancasila. Wangsalan . Sindhenan Gaya Surakarta This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. Abstract Pancasila is the foundation of the state that has an important position in the life of Indonesian society. Every aspect of the life of the nation and state ranging from law, politics, economics, to art and culture must always be based on the values of Pancasila. In the aspect of arts and culture. Pancasila values are reflected in various traditional art forms, one of which is in Surakarta-style sindhenan poetry. Research on Pancasila Values in Surakarta Style Sindhenan Poetry is an attempt to explore Pancasila values contained in sindhenan poetry commonly used in Surakarta Style Karawitan repertoire. The purpose of this research is to show that the position of the sindhen is not only an object of sound and visual exploitation, but the ability of the sindhen to convey the values of Pancasila which is the basis of the Indonesian state. Thus, this shows that pesindhen have played an active role in socialising the foundation of the state as a way of life as well as the identity of the Indonesian Nation. The result of this research is the existence of Pancasila values and its points as contained in the 2003 TAP MPR RI in Surakarta style sindhenan poetry, especially in the wangsalan section. Keywords: Pancasila. Wangsalan . SurakartaAos Style Sindhenan 33153/keteg. keteg@isiska. Kytyg Jurnal Pengetahuan. Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi ISSN 1412-2065. eISSN 2714-6367 Pendahuluan Pancasila merupakan dasar negara yang dirumuskan semenjak sidang BPUPKI yang dilaksanakan pada 28 Mei Ae 1 Juni 1945. Sesuai kesepakatan bersama, akhirnya Bung Karno merumuskan lima dasar negara yang terdiri dari Ketuhanan. Kemanusiaan. Persatuan. Musyawarah dan Keadilan (Hatta 2. Kelima dasar tersebut kemudian mengalami beberapa perubahan dan penyempurnaan hingga akhirnya disahkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara yang sah. Lima dasar negara yang akhirnya disebut sebagai Pancasila ini dianggap paling sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia mengingat dasar negara tersebut dirumuskan berdasarkan kemajemukan Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama dan golongan (Sihotang, et al. Kedudukan Pancasila di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hampir ada di dalam setiap sendi kehidupan rakyat Indonesia salah satunya di dalam seni budaya yang berkembang di Seni dan budaya tersebut terwujud dalam bentuk tarian, musik, puisi, maupun seni pertunjukkan tradisional Salah satu seni pertunjukkan tradisional yaitu seni karawitan memiliki peran penting dalam melestarikan budaya yang sejalan dengan Pancasila. Dalam pertunjukkan seni karawitan, terdapat syair-syair sindhenan yang tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap estetika namun juga mengandung pesan moral yang mencerminkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan (Murtana 2010, . Syair-syair sindhenan dalam seni karawitan umumnya disampaikan oleh seorang seniman yang sering disebut dengan nama pesindhen. Keberadaan pesindhen sebagai bagian dari seni karawitan ini menunjukkan bahwa peran mereka bukan hanya sebagai pelengkap pertunjukkan tetapi juga sebagai penyampai pesan moral dan nilai-nilai luhur Pancasila yang terkandung dalam syair-syair sindhenan tersebut. Maka dari itu, dalam tulisan ini akan dibahas bukti-bukti mengenai kandungan nilai-nilai Pancasila yang dijaga oleh para seniman tradisi karawitan di dalam syairsyair sindhenan gaya Surakarta. Pudarnya kesadaran akan nilai-nilai Pancasila terutama di dalam pertunjukkan seni tradisi menjadi latar belakang penggalian mengenai kandungan nilai Pancasila pada sastra wangsalan yang termuat di dalam syair-syair sindhenan gaya Surakarta. Hal ini dibuktikan dengan maraknya stigma negatif yang ditujukan kepada para pesindhen bahkan mengarah pada pelecehan seksual baik secara verbal maupun sentuhan fisik. Berangkat dari fenomena tersebut, maka perlu adanya kesadaran pada dua sisi, yakni pesindhen sebagai objek dan penonton sebagai penikmat pertunjukkan kesenian. Tulisan terkait Nilai Pancasila dalam Syair Sindhenan Gaya Surakarta ini belum ditemukan dalam jurnal penelitian manapun. Akan tetapi ada tulisan yang menjadi landasan penelitian ini yaitu (Khasanah. Suyanto and Sudiyanto 2. membahas tentang Nilai Pendidikan pada Wangsalan Sindhenan karya Nyi Bei Mardusari. Berpijak dari minimnya penelitian tentang nilainilai dalam wangsalan sindhenan , maka tulisan penelitian ini sangat diperlukan untuk segera dipublikasikan agar dapat bermanfaat bagi perkembangan keilmuan seni pertunjukan khususnya dalam garap kepesindhenan . Metode Jenis penelitian dalam artikel ini adalah kualitatif dan metode yang digunakan yaitu deskriptif analisis. Deskripstif analisis merupakan jenis metode kualitatif yang fokus untuk mendeskripsikan data penelitian sekaligus menganalisis data tersebut. Proses implementasinya adalah segala bentuk informasi berupa data tertulis maupun tidak tertulis akan dipilah sesuai Sukesi (Nilai Pancasila dalam Syair Sindhenan Gaya Surakart. Kytyg Jurnal Pengetahuan. Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi ISSN 1412-2065. eISSN 2714-6367 dengan kebutuhan penelitian kemudian dijabarkan secara rinci dan jelas. Selanjutnya data-data tersebut akan dianalisis dengan nilai Pancasila sebagai objek penelitian formal (Sugiono 2014, . Pembahasan Fungsi dan Kedudukan Pancasila bagi Bangsa Indonesia Pancasila sebagai dasar negara Indonesia memiliki fungsi dan kedudukan yang fundamental dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara, menjadi pedoman dalam setiap aspek kehidupan masyarakat, serta sebagai landasan dalam pembentukam kebijakan, hukum, dan norma sosial yang berlaku di Indonesia. Fungsi dan kedudukan Pancasila yaitu sebagai berikut (Salikun and Surya 2. Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia: Pancasila memberikan nilai hidup universal untuk masyarakat Indonesia. Selain itu. Pancasila berfungsi sebagai standar ideologis untuk bangsa dan negara, sehingga dianggap sebagai cita-cita pandangan ke depan tentang jati diri bangsa Indonesia. Pancasila dianggap sebagai kepribadian bangsa Indonesia. Pancasila adalah identitas atau kepribadian bangsa Indonesia. Identitas ini mencakup peran untuk menunjukkan kepribadian bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa lain, seperti yang ditunjukkan oleh sikap mental, perilaku, dan tindakan mereka. Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia Pancasila merepresentasikan kepribadian sekaligus identitas fundamental bangsa Indonesia. Identitas ini tercermin melalui peran Pancasila dalam membentuk karakteristik bangsa yang khas dan membedakannya dari bangsa lain, yang diwujudkan melalui sikap mental, perilaku, serta tindakan warga negaranya. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia Pancasila lahir dari proses reflektif kolektif yang bersumber dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Nilai-nilainya merupakan bentuk kristalisasi dari pengalaman kehidupan bangsa yang telah membentuk sistem etika, norma, tata nilai, serta karakter dan perilaku masyarakat Indonesia, yang kemudian menjadi dasar dalam merumuskan pandangan hidup bangsa. Pancasila sebagai dasar negara Pancasila berperan sebagai landasan ideologis utama bagi bangsa Indonesia, yang berfungsi mengarahkan penyelenggaraan kehidupan nasional serta menjadi dasar dalam pelaksanaan sistem ketatanegaraan. Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum Sistem hukum yang berlaku di Indonesia berpijak pada nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam Pancasila. Artinya, setiap bentuk perumusan peraturan perundang-undangan, pelaksanaan kekuasaan kehakiman, maupun penegakan hukum di tengah masyarakat harus mencerminkan dan tidak boleh bertentangan dengan prinsipprinsip moral, etika, dan keadilan sosial yang menjadi inti dari Pancasila sebagai dasar Sukesi (Nilai Pancasila dalam Syair Sindhenan Gaya Surakart. Kytyg Jurnal Pengetahuan. Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi ISSN 1412-2065. eISSN 2714-6367 Dengan demikian. Pancasila menjadi sumber nilai normatif dan ideologis dalam pembentukan serta pelaksanaan hukum nasional. Pancasila sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia saat mendirikan negara Pancasila merupakan hasil kesepakatan fundamental para pendiri bangsa yang memiliki nilai luhur sebagai dasar bersama dalam membangun kehidupan berbangsa dan Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat Indonesia berkewajiban untuk menjunjung tinggi, menerapkan, menjaga, serta mewariskan nilai-nilai Pancasila secara konsisten dalam setiap aspek kehidupan. Butir-Butir Pancasila Berdasarkan TAP MPR No. I/MPR/2003. Pancasila mengandung beberapa butirbutir penting dalam tiap-tiap silanya, yang menjadi pedoman dalam hidup berbangsa dan Berikut merupakan butir-butir Pancasila tersebut: Sukesi (Nilai Pancasila dalam Syair Sindhenan Gaya Surakart. Kytyg Jurnal Pengetahuan. Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi ISSN 1412-2065. eISSN 2714-6367 Sukesi (Nilai Pancasila dalam Syair Sindhenan Gaya Surakart. Kytyg Jurnal Pengetahuan. Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi ISSN 1412-2065. eISSN 2714-6367 Implementasi butir butir nilai Pancasila ini sangat dibutuhkan mahasiswa dalam membentuk fondasi bagi terciptanya warga negara yang kritis, aktif, dan memiliki kapasitas untuk berkontribusi secara konstruktif dalam kehidupan bermasyarakat (Nastiti and Sari Civic intelligence memberikan dasar pengetahuan serta kecakapan yang dibutuhkan individu untuk memahami dan merespons isu-isu publik secara reflektif. Sementara itu, civic responsibility menekankan pentingnya menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara secara etis dan bertanggung jawab. Adapun civic participation mendorong partisipasi nyata dalam berbagai proses demokrasi serta keterlibatan dalam upaya perubahan sosial. Ketiganya menjadi elemen penting dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang inklusif, adil, dan berorientasi pada keberlanjutan. Tinjauan Umum Sindhenan Gaya Surakarta Sindhynan adalah nyanyian vokalis wanita secara tunggal yang menyertai instrumen gamelan dan mempresentasikan sebuah repertoar gendhing. Sindhenan dalam karawitan Jawa tidak selalu menonjol sebagai elemen vokal utama yang mendominasi, seperti halnya vokal dalam banyak genre musik Barat. Alih-alih menjadi pusat perhatian tunggal, sindhynan justru memiliki peran yang setara dan terintegrasi dengan unsur musikal lainnya dalam gamelan. Ini berarti bahwa sindhynan bukan sekadar iringan pasif, melainkan elemen aktif yang berinteraksi, merespons dan bahkan memimpin dialog musikal dengan instrumen-instrumen garap. Sindhynan memiliki bahasa musikal yang berbeda dengan jenis vokal lainnya, seperti gyrongan, macapat, dan bawa (Suraji, 2005 : . Dalam karawitan Jawa Tengah Gaya Surakarta, sindhenan mempunyai kedudukan yang sangat penting yakni. menghias sebuah repertoar gendhing atau menghias lagu, memberi ide garap musikal terhadap instrumen garap seperti. rebab, gendyr, bonang barung, serta kendhang sehingga memandu arah interpretasi musikal secara keseluruhan. Pada akhirnya, sindhynan juga memiliki peran dalam membentuk karakter atau rasa sebuah sajian gendhing. Sindhynan tidak terlepas dari dua unsur pokok yang saling terkait, melengkapi, dan mendukung, yakni teks dan lagu. Kedua unsur ini saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dalam rangka membentuk karakter dan rasa sebuah gendhing yang harus diolah dan diterjemahkan dalam bahasa musikal sindhenan (Suyoto 2020, . Interpretasi lagu sindhenan membutuhkan kepekaan rasa musikal yang dipengaruhi dan dibentuk oleh latar belakang budaya, potensi musikal alami dari pesindhen, serta pengalaman berkesenian yang cukup panjang sehingga hasil interpretasi tersebut menghasilkan garap lagu sindhynan. Garap sindhynan sangat ditentukan oleh teknik vokal, bentuk gending, garap ricikan yang dijadikan acuan garapnya, gaya bahasa . , dan dinamika pada unsur suara vokal (Rahayu 2. Teknik vokal dalam garap sindhynan meliputi penguasaan cyngkok dan gregel yang masing-masing memiliki fungsi estetis maupun struktural dalam sajian gending. Cyngkok merupakan pola melodi khas yang diturunkan dari tradisi lisan dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda sesuai gaya daerah. Pilihan cyngkok ini disesuaikan dengan bentuk, garap, dan karakter gending yang disajikan sehingga interpretasi tidak terlepas dari konvensikonvensi yang ada serta tetap memberi ruang ekspresi. Selain itu, garap ricikan seperti rebab, gendyr, dan lainnya memengaruhi interpretasi sindhynan. Sindhynan dan pola permainan ricikan garap menciptaan dialog musikal yang padu. Gaya bahasa . yang digunakan dalam sindhynan juga turut memengaruhi karakter vokal yang dibangun. Misalnya, penggunaan dialek halus . rama inggi. dalam Sukesi (Nilai Pancasila dalam Syair Sindhenan Gaya Surakart. Kytyg Jurnal Pengetahuan. Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi ISSN 1412-2065. eISSN 2714-6367 gending tertentu dapat menambah kesan sakral dan anggun, sementara dialek yang lebih luwes atau ngoko sering dipakai dalam gending dengan suasana ringan atau jenaka. Hal ini menunjukkan bahwa pesindhyn tidak hanya bernyanyi, tetapi juga menyampaikan makna secara halus melalui bahasa dan intonasi bunyi. Dinamika dalam suara vokalAiseperti keras lembutnya suara, panjang pendeknya nada, serta tempoAijuga menjadi aspek penting dalam membantun interpretasi sindhynan. Dinamika tida bersifat statis, tetapi harus responsif terhadap perubahan suasana pertunjukan. Kepekaan terhadap suasana dan emosi musikal ricikan yang lain menjadikan sindhynan lebih hidup dan menciptakan pengalaman musikal yang mendalam bagi pendengar. Garap sindhynan merupakan hasil dari proses yang kompleks dan mendalam, yang melibatkan kombinasi antara kemampuan teknis, kepekaan musikal, serta latar belakang Sindhynan hadir tidak hanya sebagai vokal yang melengkapi sajian, namun memuat berbagai unsur yang membentuk sajian musikal yang harmonis dan bermakna. Sindhynan dalam gendhing-gendhing karawitan mengandung unsur-unsur penting yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain yaitu unsur teks . dan lagu. Unsur teks terdiri dari abon-abon/iseAn-iseAn, parikan, senggakan, macapat, sekar ageng, sekar tengahan, dan sekar Unsur lagu yaitu meliputi irama, laras, cengkok, dan pathet. Dalam sindhenan gaya surakarta terdapat bentuk teks pokok yang disebut dengan wangsalan. Wangsalan merupakan bentuk ekspresi linguistik khas dalam tradisi lisan Jawa yang memadukan estetika bahasa dan kecerdasan berbahsa melalui struktur kalimat berlapis makna. Wangsalan merupakan satu kalimat yang terdiri dari dua frase atau lebih, dan di dalamnya terdapat teka- teki yang jawabannya berhubungan dengan kalimat tersebut (Waridi, 2002 : . Unsur teka-teki ini biasanya disusun sedemikian rupa sehingga maknanya tidak eksplisit, melainkan tersirat melalui asosiasi simbolik antar kata dalam kalimat tersebut. Untuk mengungkap makna sebenarnya, penutur atau pendengar harus menelusuri keterkaitan antar elemen leksikal dalam kalimat wangsalan, yang secara implisit menyampaikan pesan Proses dekode terhadap wangsalan ini menuntut pemahaman mendalam terhadap budaya, struktur bahasa Jawa, dan konteks penggunaannya, sehingga wangsalan bukan sekadar permainan kata, melainkan juga bentuk kecanggihan retorika tradisional yang memiliki nilai edukatif maupun estetis dalam praktik karawitan dan kesusastraan Jawa. a yang terdapat dalam kalimat tersebut untuk menemukan makna tersembunyi di baliknya. Dalam khazanah kesusastraan Jawa, bentuk wangsalan memiliki ragam klasifikasi berdasarkan kompleksitas struktur dan kandungan maknanya. Padmosoekotjo dalam bukunya yang berjudul NgeAngreAngan Kasusastran Djawa II menyebutkan bahwa secara garis besar wangsalan dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis yaitu wangsalan lamba, wangsalan rangkep . , wangsalan memet, dan wangsalan padintenan (Padmosoekotjo dalam Sukesi, 2017 : . Berikut merupakan penjabaran dari keempat wangsalan tersebut: Wangsalan lamba merupakan bentuk paling sederhana dalam klasifikasi wangsalan, yang ditandai dengan struktur kalimat yang hanya mengandung satu inti makna atau jawaban Ciri khas dari wangsalan jenis ini terletak pada sifatnya yang lugas dan tidak bercabang, sehingga proses penafsiran terhadap makna tersembunyi relatif lebih mudah Jawaban dari teka-teki dalam wangsalan lamba biasanya bersifat tunggal dan langsung, tanpa memerlukan penguraian simbolik yang kompleks. Contoh: Sukesi (Nilai Pancasila dalam Syair Sindhenan Gaya Surakart. Kytyg Jurnal Pengetahuan. Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi ISSN 1412-2065. eISSN 2714-6367 . Janur gunung = areAn kadingareAn koweA teka. Pindhang lulang = kreAceAk kaceAk apa aku karo koweA. Jenang gula = glali aja lali karo aku iki. Balung klapa = bathok eAthok-eAthok ora ngerti. Wangsalan rangkep, yang juga dikenal dengan sebutan camboran, merupakan salah satu bentuk wangsalan yang memiliki struktur lebih kompleks dibandingkan dengan wangsalan Karakteristik utama dari jenis ini terletak pada isi jawabannya yang terdiri atas dua elemen atau lebih, sehingga memungkinkan penafsiran yang lebih berlapis dan simbolik. Secara struktural, wangsalan rangkep terdiri atas dua frasa yang saling berkaitan: frasa pertama berfungsi sebagai bagian teka-teki, sementara frasa kedua memuat jawaban tersembunyi dari teka-teki tersebut. Hubungan antara kedua frasa ini tidak bersifat eksplisit, melainkan dibangun melalui permainan asosiasi bunyi, makna, dan struktur Karena sifatnya yang dinamis dan fleksibel dalam mengemas pesan simbolik, wangsalan rangkep menjadi salah satu bentuk yang paling sering digunakan dalam teks sindhynan, khususnya dalam karawitan gaya Surakarta. Contoh: Jenang seAla = apu wader kali sesondheAran = sepat apuranta yeAn wonten lepat . Jarwa surya = srengeAngeA surya lumebeAng ancala = surup srenging karsa mung nedya nyumurupana. Riris harda = deres hardaneA wong lumaksana = mlayu dressing karsa memayu hayuning praja. DeAwa tirta = Baruna lampaheA amungu neAndra = subuh pra taruna mati alabuh . Wangsalan Memet merupakan jenis wangsalan yang memiliki tingkat kerumitan lebih tingi dibandingkan jenis-jenis lainnya karena proses penafsiran jawabannya membutuhkan penguasaan perbendaraan kata yang luas dan berlapis. Dalam wangsalan ini, pencarian makna tersembunyi tidak dapat dilakukan secara langsung, melainkan melalui tahapan penguraian makna ganda, yang dalam praktiknya sering kali mengharuskan penutur atau pendengar untuk menggandakan proses asosiatif terhadap kata-kata yang digunakan. Dengan kata lain, interpretasi terhadap wangsalan memet melibatkan proses dekode makna yang berlangsung dua kali: pertama, untuk mengidentifikasi unsur simbolik dalam kalimat, dan kedua, untuk menafsirkan jawaban dari asosiasi kata yang muncul. Keunikan struktur wangsalan ini tidak hanya menunjukkan kekayaan kosakata dalam bahasa Jawa, tetapi juga merefleksikan kecanggihan kognitif dan estetika linguistik dalam tradisi sastra lisan Jawa. Oleh karena itu, wangsalan memet memiliki nilai penting dalam kajian semantik dan stilistika, sekaligus menunjukkan tingkat kreativitas yang tinggi dalam konstruksi pesan simbolik. Contoh: Uler kambang = lintah yeAn trima alon-alonan sakepeAnakeA. Wangsalan Padinan adalah bentuk wangsalan yang bersifat konvensional dan kontekstual dalam komunikasi sehari-hari masyarakat Jawa. Berbeda dengan jenis wangsalan lainnya yang menuntut proses penalaran untuk menemukan jawaban tersembunyi, wangsalan padintenan tidak mensyaratkan adanya jawaban eksplisit. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa pihak yang diajak berkomunikasi telah memahami makna yang dimaksud secara implisit melalui kebiasaan linguistik dan konteks sosial yang sama. Dengan kata lain, pemahaman terhadap wangsalan ini bergantung pada kesepahaman kultural antara penutur dan pendengar. Fungsi utama dari wangsalan padintenan lebih Sukesi (Nilai Pancasila dalam Syair Sindhenan Gaya Surakart. Kytyg Jurnal Pengetahuan. Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi ISSN 1412-2065. eISSN 2714-6367 mengarah pada memperkuat kohesi sosial, menjaga etika berbicara, atau menyampaikan maksud secara halus dalam situasi yang sensitif. Oleh sebab itu, wangsalan jenis ini memiliki nilai pragmatis yang tinggi dan menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa memadukan estetika bahasa dengan etika komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Contoh: EAsuk-eAsuk kok wis nggodhong garing = klaras = nglaras. Aja njenang gula karo aku= glali = lali. Mbok aja ngrokok cendhak = tegesan neges-neges Klasifikasi ini menunjukkan bahwa wangsalan tidak hanya merupakan bentuk estetika bahasa, tetapi juga menyimpan sistematika tersendiri yang mencerminkan fungsi sosial, edukatif, dan artistik dalam konteks budaya Jawa. Dengan demikian, pemahaman terhadap ragam wangsalan menjadi krusial dalam studi linguistik tradisional maupun dalam pengembangan apresiasi terhadap kesastraan lokal. Nilai Pancasila dalam Wangsalan Keberadaan wangsalan dalam teks sindhynan tidak sekadar berfungsi sebagai unsur estetis dalam seni karawitan, melainkan juga merefleksikan kedalaman nilai-nilai budaya yang hidup dan tumbuh dalam masyarakat Jawa. Sebagai bagian integral dari kebudayaan lisan, wangsalan menempati posisi khusus dalam praktik komunikasi simbolik yang sarat makna. Dalam berbagai teks sindhynan, seringkali ditemukan muatan nilai-nilai kehidupan yang mencerminkan falsafah dan etika sosial khas Jawa, seperti keselarasan . , penghormatan terhadap hierarki sosial, kesabaran . , serta kebijaksanaan dalam bersikap . ling lan Nilai-nilai tersebut tidak hanya dipahami, tetapi juga dihayati dan dijadikan sebagai pandangan hidup oleh masyarakat yang memiliki latar belakang budaya Jawa (Padmasoekatja 1979, . Oleh karena itu, sindhenan yang memuat wangsalan tidak hanya dapat dibaca sebagai produk seni, tetapi juga sebagai representasi ideologis yang menyimpan pandangan hidup kolektif suatu komunitas budaya. Dalam konteks ini, wangsalan menjadi media transformatif yang menghubungkan antara ekspresi artistik dan transmisi nilai-nilai budaya secara turun-temurun. Nilai-nilai yang terkandung tersebut diantaranya adalah cara pandang hidup masyarakat Jawa terhadap Tuhan sebagai pencipta awal dan akhir kehidupan (Suyanto 2015. Pandangan tersebut diwujudkan dalam konsep spiritual yang dikenal sebagai sangkan paraning dumadi, yaitu keyakinan bahwa manusia berasal dari Tuhan, hidup di dunia sebagai bagian dari kehendak-Nya, dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Konsep ini tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga membentuk kerangka berpikir masyarakat Jawa dalam menjalani kehidupan yang harmonis, penuh rasa syukur, dan rendah hati. Lebih jauh, teks-teks sindhynan yang memuat wangsalan juga merepresentasikan nilainilai moral dan sosial yang sejalan dengan dasar-dasar ideologis bangsa Indonesia, sebagaimana tercantum dalam Pancasila. Nilai-nilai tersebut mencakup penghargaan terhadap martabat kemanusiaan, semangat persatuan, pentingnya musyawarah untuk mufakat, serta komitmen terhadap keadilan sosial. Dengan demikian, sindhynan melalui wangsalan tidak hanya berfungsi sebagai sarana ekspresi seni vokal, tetapi juga sebagai medium pewarisan nilai-nilai luhur yang membentuk identitas kultural dan kebangsaan. Keberlangsungan tradisi ini sekaligus menjadi bukti bahwa kesenian tradisional berperan penting dalam menjaga Sukesi (Nilai Pancasila dalam Syair Sindhenan Gaya Surakart. Kytyg Jurnal Pengetahuan. Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi ISSN 1412-2065. eISSN 2714-6367 kesinambungan nilai-nilai spiritual dan etis dalam kehidupan masyarakat. Berikut adalah nilainilai sila Pancasila yang termuat dalam wangsalan sindhenan : Nilai Ketuhanan Kawis pita, (Maj. = Buah kawis yang berwarna kuning Kang lata kentiring toya, (Laraha. = Daun-daun kering yang hanyut di sungai (Larahan: J. Aja uwas, = Jangan Khawatir Den sumarah mring Hywang Suksma. = Pasrahlah kepada Tuhan. Frasa kawis pita, yang secara harfiah merujuk pada buah kawis . ejenis maj. yang memiliki warna kuning mencolok. Dalam penalaran simbolik masyarakat Jawa, warna kuning dari buah tersebut secara fonetik diasosiasikan dengan kata maja, yang kemudian ditransformasikan menjadi petunjuk jawabannya, yakni ajaAisebuah kata imperatif dalam bahasa Jawa yang berarti 'jangan'. Hubungan ini menampilkan bagaimana mekanisme pengungkapan dalam wangsalan sering kali tidak bersifat literal, melainkan melalui penyerapan makna yang bersifat kontekstual dan fonologis. Frasa lata kentiring toya, yang menggambarkan dedaunan kering atau sampah yang hanyut di permukaan air. Imaji tersebut mengandung simbolisasi tentang kerelaan mengikuti arus tanpa perlawanan, yang dalam sistem nilai masyarakat Jawa diinterpretasikan sebagai bentuk kepasrahan terhadap kehendak yang lebih tinggi. Oleh karena itu, jawaban atas wangsalan tersebut ditafsirkan sebagai sumarah, yang berarti sikap pasrah secara total. Kedua contoh tersebut menunjukkan bahwa makna wangsalan tidak hanya tersimpan dalam struktur bahasanya, melainkan juga dalam kearifan lokal yang Pemaknaan semacam ini menjadikan wangsalan sebagai media reflektif yang menggambarkan cara pandang masyarakat Jawa terhadap kehidupan, alam, dan hubungan spiritual dengan kekuatan adikodrati. Teks wangsalan tersebut mengajak pendengar untuk menyingkirkan keraguan dalam kehidupannya dan berserah diri kepada Tuhan. Selain itu, syair tersebut juga menggambarkan bahwa masyarakat Jawa menempatkan Tuhan di atas segalanya sebagai tempat berserah diri dan menghilangkan segala bentuk kekhawatiran. Kosakata lain yang yang memuat nilai-nilai hubungan manusia dengan Tuhan yaitu, wastengsela= nama lain dari sela (Batu, watu: J. , sela kembang jrosamodra= batu berbentuk bunga dalam lautan (Karan. , mituruta= turutilah, dan marang wulang kang utama= kepada ajaran utama. Nilai Kemanusiaan Selain nilai-nilai Ketuhanan yang tercakup dalam wangsalan sindhenan , nilai lain yang banyak ditemukan adalah nilai cinta kasih sebagai sesama manusia. Dari sifatnya, nilai kemanusiaan mencerminkan rasa saling menyayangi dan kepedulian antar individu. Berikut adalah beberapa contoh wangsalan yang mencerminkan nilai-nilai tersebut: Puspa kresna = Bunga yang berwarna hitam (Telengan: j. Sapu Bale Winantara = Pembersih tempat sementara (Kelut: j. Kalenglengan = merasa bingung. Kaluting lara asmara = Bingungnya dilanda cinta Sukesi (Nilai Pancasila dalam Syair Sindhenan Gaya Surakart. Kytyg Jurnal Pengetahuan. Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi ISSN 1412-2065. eISSN 2714-6367 Jika dilihat secara lengkap, wangsalan tersebut mengisahkan kebingungan manusia dalam merasakan cinta. Pesan moral yang tersirat dalam wangsalan ini mengarah pada pemahaman bahwa nilai cinta kasih merupakan aspek fundamental dari eksistensi manusia. Cinta diposisikan sebagai kekuatan spiritual dan sosial yang mampu menyatukan manusia dalam hubungan yang harmonis dan saling menghargai. Oleh karena itu, penyampaian nilai cinta melalui simbolisme wangsalan tidak hanya memperkaya estetika sindhynan, tetapi juga mempertegas peran karawitan sebagai media reflektif dan edukatif dalam membentuk karakter dan kepekaan emosional masyarakat. Trahing nata : keturunan raja = Raden garwa risang Dananjaya : Istri sang Arjuna = Sembadra den prayitna = Berhati-hatilah, sabarang haywa sembrana = jangan tergesa-gesa terhadap segala sesuatu Simbolisme dalam wangsalan sering kali menjadi wahana penyampaian nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat mendalam dan filosofis. Dalam contoh wangsalan yang memuat frasa Trahing nata, yang berarti keturunan bangsawan atau raja dan merujuk pada gelar Raden, tersirat ajaran tentang keluhuran budi pekerti yang seharusnya dimiliki oleh seseorang yang berasal dari lingkungan terhormat. Gelar ini tidak hanya menyimbolkan status sosial, tetapi juga membawa tanggung jawab moral untuk menjadi panutan dalam Sementara itu, frasa garwa risang Dananjaya atau istri dari tokoh Arjuna, yakni Sembadra, melambangkan kesetiaan, kelembutan, dan peran penting perempuan dalam menjaga keharmonisan dan martabat keluarga, sekaligus menjadi figur pelengkap dalam narasi sosial dan spiritual masyarakat Jawa. Lebih jauh, nilai-nilai kemanusiaan ditanamkan melalui ungkapan den prayitna, yang berarti berhati-hatilah, serta sabarang haywa sembrana, yaitu larangan untuk tergesa-gesa dalam menyikapi segala hal. Kedua ekspresi tersebut mengandung pesan etis tentang pentingnya kehati-hatian, kesabaran, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Dalam konteks kehidupan sosial, ajaran ini menggarisbawahi bahwa manusia yang bijak adalah mereka yang mampu menahan diri, berpikir jernih, serta tidak terburu-buru dalam bertindak, terutama dalam menghadapi persoalan yang menyangkut hubungan Dengan demikian, wangsalan tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi artistik dalam tradisi sindhynan, tetapi juga sebagai instrumen pedagogis yang menyampaikan nilainilai kemanusiaan secara implisit. Nilai-nilai tersebut meliputi keluhuran akhlak, tanggung jawab sosial, pengendalian diri, serta penghargaan terhadap relasi manusia dalam kerangka budaya yang adiluhung. Ini menunjukkan bahwa seni tradisi lisan seperti wangsalan memiliki kontribusi penting dalam pembentukan karakter dan etika masyarakat. Nilai Persatuan Nilai persatuan ini menekankan pada pentingnya keselarasan dan keharmonisan antara rakyat . dengan pemimpin dalam menjalankan pemerintahan. Lebih jauh, nilai persatuan juga mencerminkan bentuk loyalitas kultural dan tanggung jawab kolektif masyarakat terhadap institusi kekuasaan, baik dalam bentuk kerajaan tradisional maupun negara modern. Rakyat tidak hanya dianggap sebagai subjek yang tunduk, tetapi juga sebagai bagian integral dari keberlangsungan kekuasaan yang sah. Loyalitas ini bersifat Sukesi (Nilai Pancasila dalam Syair Sindhenan Gaya Surakart. Kytyg Jurnal Pengetahuan. Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi ISSN 1412-2065. eISSN 2714-6367 timbal balik dan etisAipemimpin bertugas melindungi serta menyejahterakan rakyat, sementara rakyat menjaga stabilitas sosial dan menghormati kepemimpinan. Dengan demikian, nilai persatuan dalam pandangan masyarakat Jawa tidak bersifat pasif, melainkan aktif membentuk ikatan emosional dan spiritual antara individu dan komunitas dalam kerangka kehidupan bernegara. Pandangan ini relevan untuk ditelaah lebih lanjut dalam kajian kebudayaan dan etika politik berbasis kearifan lokal. Nilai-nilai ini juga tersirat dalam syair wangsalan sindhynan yaitu sebagai berikut: Jarweng janma: Bahasa Jawa yang berarti manusia, janma kan koncatan jiwa: sebutan manusia tanpa nyawa wong prawira: Pahlawan itu, mati alabuh nagara: yang mati karena membela negaranya. Secara harfiah, sejumlah wangsalan dalam teks sindhenan mengandung nilai-nilai patriotisme, yaitu semangat cinta tanah air dan bela negara yang tercermin dalam komitmen terhadap persatuan dan kesatuan bangsa. Nilai ini sejalan dengan sila ketiga Pancasila, yakni Persatuan Indonesia, yang menekankan pentingnya menjaga integritas nasional di tengah keragaman sosial dan budaya. Dalam konteks budaya Jawa, ekspresi patriotisme tidak selalu disampaikan secara eksplisit, melainkan seringkali tersirat melalui simbol-simbol kultural dan narasi kebijaksanaan dalam wangsalan yang menggambarkan keterikatan batin antara rakyat dan tanah kelahirannya. Hal tersebut juga mengimplementasikan bentuk kewajiban moral untuk menjaga kehormatan bangsa dan negara. Contoh lainnya dapat dilihat dalam teks berikut: Welut wisa : ula = Ular Sawung asli liyan praja = Bekisar Ywa ngresula = jangan mengeluh dadi bantenging negara = berkorban untuk negara. Nilai Permusyawaratan Kawi lima = Bahasa kawi dari bilangan lima (Panca: k. Putra priya dahyang drona = Anak laki- laki Drona (Aswatam. Pancasila = Pancasila Dasaring nagri utama = Dasar dari sebuah negara yang baik. Pancasila merupakan ideologi yang didapatkan dari kesepakatan bersama para pendiri bangsa. Wangsalan tersebut secara implisit menyampaikan ajakan untuk mencintai Pancasila sebagai landasan etis dan filosofis. Melalui gaya bahasa simbolik dan puitis, wangsalan tidak hanya menyampaikan pesan estetika, tetapi juga membangun kesadaran kebangsaan dan komitmen terhadap nilai-nilai persatuan, keadilan, kemanusiaan, demokrasi, dan ketuhanan yang menjadi inti dari Pancasila. Sukesi (Nilai Pancasila dalam Syair Sindhenan Gaya Surakart. Kytyg Jurnal Pengetahuan. Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi ISSN 1412-2065. eISSN 2714-6367 Nilai Keadilan Jarweng nata, : Kata lain dari Raja = Pangarsa prajane para pandawa: Kerajaan para Pandawa Sang Pangarsa, : Pemimpin itu Ambeg adil paramarta: Harus adil dan bijaksana Wangsalan di atas mengandung nasihat kepada pemimpin, tersirat sebuah harapan normatif agar pemimpin senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dalam mengelola Sikap adil ini menjadi salah satu prinsip utama dalam menjalankan amanah kekuasaan, yang tidak berpihak, menjunjung nilai kemanusiaan, dan berpijak pada kepentingan rakyat secara menyeluruh. Pesan tersebut sejalan dengan cita-cita luhur Pancasila sila kelima, yaitu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila ini menekankan pentingnya distribusi keadilan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang ekonomi, hukum, pendidikan, dan akses terhadap kesejahteraan. Wangsalan yang memuat harapan terhadap pemimpin agar bersikap adil merupakan bentuk artikulasi kultural dari cita-cita Pancasila, sekaligus menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut telah hidup dan berkembang dalam budaya lokal jauh sebelum dirumuskan secara formal dalam ideologi negara. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat ditarik setelah dilakukan penelitian mengenai nilai-nilai Pancasila yang terdapat di dalam wangsalan sindhynan gaya Surakarta adalah: Pesindhyn merupakan sosok yang menyampaikan nilai-nilai Pancasila di dalam syair yang dibawakan. Kandungan nilai-nilai tersebut banyak dimasukkan di dalam syair wangsalan . Nilai-nilai Pancasila dalam wangsalan mencakup kelima sila, yaitu Ketuhanan. Kemanusiaan. Persatuan. Permusyawaratan, dan Keadilan. Setiap sila tersebut telah terwakili dalam syair wangsalan , beserta butir-butir nilai yang terkandung di dalamnya. Sebagai bagian dari seni tradisi, syair sindhynan yang mengandung nilai-nilai Pancasila memiliki posisi strategis dalam proses pendidikan karakter dan pembentukan jati diri kebangsaan. Melalui ungkapan simbolik dan estetika vokal yang khas, syair-syair tersebut berperan dalam menanamkan nilai cinta tanah air, memperkuat identitas nasional, dan membangun semangat patriotisme dalam masyarakat. Nilai-nilai luhur seperti persatuan, keadilan sosial, penghormatan terhadap kemanusiaan, musyawarah, dan ketakwaan kepada Tuhan yang termuat dalam Pancasila direpresentasikan secara implisit dalam teks sindhynan. Melalui syair yang sarat akan pesan moral, kebijaksanaan, dan nilai-nilai kebangsaan, sindhynan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, akan tetapi juga sebagai media edukasi budaya yang menguatkan jati diri bangsa. Dengan demikian, pelestarian dan pemahaman terhadap syair sindhynan diharapkan mampu membangkitkan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga persatuan, keadilan, serta nilai luhur yang menjadi dasar negara Indonesia. Sukesi (Nilai Pancasila dalam Syair Sindhenan Gaya Surakart. Kytyg Jurnal Pengetahuan. Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi ISSN 1412-2065. eISSN 2714-6367 Daftar Pustaka