Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 12. Nomor 1, 2025 pp. P-ISSN: 2355-6633 E-ISSN : 2548-5490 Open Access: https://jurnal. id/index. php/Deiksis/index A Study of the Adaptation of the Novel Invalidite: The Bridge of Perfection into Film Kuswara, 2Arla Aelani Prisilia, 3Dedi Irawan 1,2,3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Sebelas April. Sumedang. Indonesia Corresponding authorAos email: dedirawan_fkip@unsap. ARTIKEL INFO A B S T R ACT Article history: Received 10 November 2024 Accepted 20 Desember 2024 Published 28 January 2025 Films adapted from novels often receive negative responses from readers and viewers alike due to disappointment with the film's storyline, which is considered inconsistent with the novel. Therefore, this study aims to describe the adaptation of the novel Invalidite: The Bridge of Perfection into the film Invalidite and to describe the public's response to films that have undergone The method used in this study is descriptive. The data collection techniques used in this study are content analysis, documentary analysis, and questionnaire analysis. The instruments used in this study are a data table of the elements in the novel and film, as well as a questionnaire. After analyzing the data, the results showed that the study of the adaptation of Faradita's novel Invalidite: The Bridge of Perfection into the film Invalidite by director Herwin Novianto consisted of reductions, additions, and various changes to the plot, characters, setting, costumes, props, and background music. There were 51 instances of reduction, 25 instances of addition, and 38 instances of varied changes. This aligns with respondents' statements that films undergoing adaptation inevitably undergo changes. This study aims to provide readers and viewers with an understanding and awareness of the changes that occur in films. Keywords: Screen adaptation. Various changes. Novel. Film DOI: 10. 33603/deiksis. PENDAHULUAN Novel adalah salah satu karya sastra jenis prosa yang masih digandrungi oleh masyarakat luas hingga saat ini (Gumilang, 2. Dari banyaknya novel-novel yang digemari oleh masyarakat setiap tahunnya membuktikan bahwa karya sastra populer jenis novel ini menjadikan perkembangan sastra di Indonesia mengalami peningkatan yang luar biasa (Kompas, 05 Januari 2. Salah satu dampak dari popularitas sebuah novel akhirnya mampu menarik para pegiat industri perfilman untuk mengadaptasi novel tersebut menjadi sebuah film layar lebar (Praharwati, 2017: . Pengadaptasian atau pengangkatan cerita novel menjadi sebuah film disebut dengan ekranisasi (Eneste, 1991: . Fenomena ini marak dilakukan oleh industri perfilman di seluruh dunia. Seperti film Harry Potter yang diadaptasi dari novel yang berjudul sama karya J. Rowling ini menjadi salah satu film yang sukses p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Kuswara1. Arla Aelani Presilia2. Dedi Irawan2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. xx-xx dinikmati para Cinephile di seluruh penjuru dunia, bahkan filmnya diberikan subtitle Bahasa Indonesia (Herman, 2017: . Dalam sejarah perfilman Indonesia, ekranisasi juga bukan hal yang asing lagi. Terhitung dari tahun 1926 sampai sekarang banyak sekali film-film di Indonesia yang diangkat dari novel-novel ternama yang dibuat seorang sastrawan maupun novel yang telah dibaca berjuta-juta kali lewat aplikasi novel digital (Cinema Poetica, 28 November 2. Woodrich . 7: . menyatakan bahwa ekranisasi adalah suatu proses adaptasi kerja suatu karya sastra ke dalam layar . yang asalnya dari media lain . Woodrich juga menambahkan bahwa ekranisasi merupakan proses yang dapat disebut dengan filmisasi atau alih wahana. Menurut Damono . 8: . alih wahana adalah perubahan dari suatu jenis kesenian atau karya ke bentuk kesenian atau karya yang lain. Damono . 8: . menyatakan bahwa beberapa istilah khusus yang merupakan bagian dari alih wahana seperti, ekranisasi, musikalisasi, dramatisasi, dan novelisasi. Sejalan dengan itu. Eneste . 1: . menjelaskan bahwa ekranisasi adalah pelayarputihan atau pengangkatan novel ke bentuk film. Disimpulkan bahwa ekranisasi adalah proses perubahan, pelayarputihan, atau pengangkatan sebuah novel ke dalam bentuk film. Proses perubahan ini terdapat pada wujud utama sebuah novel yakni berupa kata-kata atau tulisan yang menggambarkan cerita, tema, alur, penokohan, latar, suasana dan gaya bahasa di dalamnya, kemudian kata-kata tersebut dialihwahanakan menjadi sebuah gambar, audiovisual, yang mampu menyajikan cerita, tema, alur, penokohan, suasana dan gaya bahasa yang tercermin dari kata-kata atau tulisan dalam novel aslinya (Eneste, 1991: . Namun, tak jarang film yang diadaptasi dari sebuah novel menghasilkan sudut pandang yang berbeda serta menimbulkan beberapa perubahan di dalamnya (Eneste, 1991:. Perubahan yang terjadi ketika novel diadaptasi menjadi sebuah film tidak terlepas dari bentuk ekranisasi itu sendiri. Bentuk ekranisasi yang menyebabkan perubahan dari novel ke bentuk film di atas sering kali menimbulkan efek dan tanggapan yang negatif (Eneste, 1991: Dampak dari efek ketidakpuasan tersebut cukup ironis, pengarang akhirnya tidak mau namanya dicantumkan sebagai pengarang asli dari cerita film tersebut, seperti yang dilakukan oleh Y. Mangunwijaya penulis novel Roro Mendut (Eneste, 1991: . Beberapa pengarang akhirnya menanggapi bahwa film hasil ekranisasi sering kehilangan jati dirinya karena menyimpang dari novel aslinya dan nilai sastra di dalam novel tidak terungkap lagi dalam film, bahkan nilai sastra tersebut jadi rusak sama sekali (Eneste, 1991: . Efek dan beberapa tanggapan juga disampaikan oleh beberapa penonton sekaligus pembaca cerita aslinya dalam p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Kuswara1. Arla Aelani Prisilia2. Dedi Irawan3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. xx-xx Sering kali film ekranisasi ini menimbulkan efek berupa kekecewaan para pembaca karena film tersebut tidak mampu merealisasikan imajinasinya selama ini (Kumparan, 27 Januari 2. Menurut Stam . 5: . berpendapat bahwa film ekranisasi sering kali mengabaikan kedalaman karakter dan kompleksitas narasi yang ada dalam teks asli, mengakibatkan hilangnya nuansa yang penting. Hutcheon . 6: . juga mengkritik bahwa adaptasi film cenderung terlalu fokus pada aspek visual, yang dapat mereduksi tema dan pesan mendalam dari karya sastra. Hal tersebut juga dijelaskan oleh Todorov . 0: . yang menyatakan bahwa penciutan dan perubahan yang terjadi dalam proses ekranisasi dapat mengarah pada penyederhanaan yang merugikan, sehingga menghilangkan esensi dari cerita asli. Dari permasalahan di atas, memperkuat bahwa pengkajian terhadap bentuk ekranisasi dalam novel ke bentuk film dinilai penting untuk diteliti. Hal tersebut bertujuan agar dapat memberikan pemahaman kepada para penonton mengenai proses ekranisasi yang terjadi dilakukan bukan tanpa alasan yang jelas. Maka dari itu, peneliti akan melakukan penelitian yang berjudul Kajian Ekranisasi Dalam Novel Invalidite: The Bridge of Perfection Karya Faradita Ke Bentuk Film Invalidite Karya Sutradara Herwin Novianto dengan tujuan untuk mendeskripsikan bentuk ekranisasi dalam novel Invalidite: The Bridge of Perfection ke bentuk film Invalidite dan mendeskripsikan tanggapan masyarakat terhadap film yang mengalami proses ekranisasi. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode mendeskripsikan suatu fenomena dengan data yang akurat dan teliti secara sistematis (Raihan, 2017: . Melalui metode deskriptif ini peneliti akan mendeskripsikan bentuk ekranisasi terhadap unsur pembangun dalam novel Invalidite: The Bridge of Perfection karya Faradita ke bentuk film Invalidite karya sutradara Herwin Novianto. Data yang dikaji dalam penelitian ini berbentuk kata, kalimat, dan cuplikan scene atau adegan yang terdapat pada unsur pembangun dalam novel maupun film yaitu, alur, tokoh, latar, kostum, properti, dan musik pengiring dalam proses ekranisasi novel Invalidite: The Bridge of Perfection ke bentuk film Invalidite. Teknik pengumpulan data di antaranya adalah teknik analisis isi . ontent analisy. (Jabrohim, 2003: . , p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Kuswara1. Arla Aelani Presilia2. Dedi Irawan2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. xx-xx teknik dokumenter (Rahmadi, 2011: . , dan teknik kuisioner . (Sugiyono, 2013: . Penggunaan teknik tersebut ditujukan untuk memperoleh data dan informasi mengenai unsur pembangun dalam novel Invalidite: The Bridge of Perfection dan film Invalidite, dan tanggapan masyarakat terkait film yang mengalami proses ekranisasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Tanggapan Masyarakat Terhadap Film yang Mengalami Proses Ekranisasi Dalam memperoleh tanggapan masyarakat terhadap film yang mengalami proses ekranisasi, peneliti menggunakan kuisioner. Kuisioner ini ditujukan untuk mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang pernah menonton film yang diadaptasi dari novel yang dibaca. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Sebelas April yang memenuhi kriteria tersebut berjumlah 10 Kuisioner ini ditujukan untuk film ekranisasi secara umum. Artinya, peneliti tidak menuntut responden untuk menanggapi novel dan film tertentu maupun yang peneliti analisis yaitu novel Invalidite: The Bridge of Perfection dan film Invalidite. Berikut adalah pemaparan mengenai hasil tanggapan terhadap film ekranisasi yang akan dijelaskan satu Tabel 1. Tanggapan Responden Terhadap Film yang Mengalami Proses Ekranisasi Pertanyaan Tidak Apakah cerita dalam film tersebut sesuai dengan novel aslinya? Apakah terjadi penciutan / penghapusan unsur alur dalam film? Apakah terjadi penambahan unsur alur dalam film? Apakah terjadi perubahan bervariasi unsur alur dalam film? Apakah terjadi penciutan / penghapusan pada unsur tokoh dalam film? Apakah terjadi penambahan pada unsur tokoh dalam film? Apakah terjadi perubahan bervariasi pada unsur tokoh dalam film? Apakah terjadi penciutan / penghapusan unsur latar dalam film? Apakah terjadi penambahan unsur latar dalam film? Apakah terjadi perubahan bervariasi unsur latar dalam film? Apakah terjadi penciutan / penghapusan unsur kostum dalam film? Apakah terjadi penambahan unsur kostum dalam film? Apakah terjadi perubahan bervariasi unsur kostum dalam film? Apakah terjadi penciutan / penghapusan unsur properti dalam film? p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Kuswara1. Arla Aelani Prisilia2. Dedi Irawan3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. xx-xx Apakah terjadi penambahan unsur properti dalam film? Apakah terjadi perubahan bervariasi unsur properti dalam film? Apakah musik pengiring dalam film mampu menghidupkan cerita dan membangun emosi serta efek dramatis? Apakah anda menerima semua perubahan yang terjadi ketika novel tersebut Berdasarkan tabel 1 di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap film ekranisasi pasti mengalami perubahan. Namun, disamping perubahan tersebut secara keseluruhan cerita dalam film tidak menyimpang terlalu jauh dari novel. Dari adanya hasil tanggapan responden terhadap film yang mengalami ekranisasi di atas, diharapkan dapat memperkuat hasil penelitian terhadap proses ekranisasi dalam novel Invalidite: The Bridge of Perfection ke bentuk Film Invalidite. Selain itu, hasil tanggapan responden ini dapat memberikan pemahaman kepada pembaca sekaligus penonton serta mampu membangun kesadaran akan perubahan yang terjadi dalam film didasari dengan alasan yang jelas dan mampu menerima, menghargai, serta lebih bijak dalam menilai film yang diadaptasi dari novel. Maka dari itu, film ekranisasi berhak mendapatkan apresiasi dan dukungan dari seluruh masyarakat. Selain dapat membangun kesadaran pembaca sekaligus penonton untuk menerima semua perubahan yang terdapat dalam film, hasil dari tanggapan tersebut dapat menjadi acuan untuk memotivasi para produksi perfilman di Indonesia untuk lebih kreatif dalam menciptakan sebuah film yang diadaptasi dari novel. Bentuk Ekranisasi Pada subbab ini peneliti akan membahas hasil analisis proses ekranisasi dalam novel Invalidite: The Bridge of Perfection ke bentuk film Invalidite. Secara keseluruhan, isi cerita dalam film Invalidite sesuai dengan novel Invalidite: The Bridge of Perfection. Hal tersebut dikuatkan dengan 80% hasil tanggapan responden yang dipaparkan sebelumnya menyatakan bahwa cerita dalam film sesuai dengan cerita novel aslinya. Di samping kesesuaian antara cerita dalam keduanya, film Invalidite yang tercipta dari hasil proses ekranisasi tentu tidak luput dari perubahan di dalamnya. Berikut lampiran tabel bentuk ekranisasi terhadap novel Invalidite: The Bridge of Perfection ke bentuk film Invalidite yang meliputi bentuk penciutan, bentuk penambahan, dan bentuk perubahan bervariasi. p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Kuswara1. Arla Aelani Presilia2. Dedi Irawan2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. xx-xx Table 2. Bentuk Ekranisasi dalam Novel Invalidite: The Bridge of Perfection ke Bentuk Film Unsur Pembangun Eksemplar Alur Penciutan Penambahan Perubahan Bervariasi Penciutan Penambahan Perubahan Bervariasi Penciutan Penambahan Perubahan Bervariasi Kostum Perubahan Bervariasi Properti Penciutan Perubahan Bervariasi Penambahan Tokoh Latar Musik Pengiring Bentuk Ekranisasi Berdasarkan tabel 2 di atas, dapat disimpulkan bahwa proses ekranisasi terhadap novel Invalidite: The Bridge of Perfection karya Faradita ke bentuk film Invalidite karya Sutradara Herwin Novianto terdapat bentuk penciutan, bentuk penambahan, dan bentuk perubahan Bentuk penciutan terdiri dari 51 penciutan terhadap alur, tokoh, latar, dan properti. Bentuk penambahan terdiri dari 25 penambahan terhadap alur, tokoh, latar, dan musik Bentuk perubahan bervariasi terdiri dari 38 perubahan bervariasi terhadap alur, tokoh, latar, kostum, dan properti. Bentuk Penciutan Dalam novel Invalidite: The Bridge of Perfection, ada 26 peristiwa yang mengalami penciutan atau tidak ditampilkan dalam film Invalidite yang disebabkan karena keterbatasan durasi penayangan maupun keterbatasan teknis dalam penggarapan film, sehingga beberapa peristiwa alur yang tidak terlalu penting, tidak ditampilkan dalam film. Hal tersebut sesuai dengan 50% hasil tanggapan responden yang menyatakan bahwa film ekranisasi mengalami bentuk penciutan terhadap alur. Dari hasil tanggapan responden yang dinilai sesuai dengan hasil analisis proses ekranisasi dalam bentuk penciutan terhadap alur tersebut dapat menguatkan bahwa bentuk penciutan alur tidak hanya ditemukan dalam film Invalidite saja, akan tetapi film-film lainnya yang berasal dari novel pasti mengalami penciutan dalam unsur p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Kuswara1. Arla Aelani Prisilia2. Dedi Irawan3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. xx-xx Proses penciutan terhadap alur merupakan hasil penyisihan yang dilakukan oleh sutradara maupun penulis skenario yang dipilih untuk tidak difilmkan dengan alasan keterbatasan durasi penayangan (Bordwell dan Thompson, 2010: . , keterbatasan teknis (Hutcheon, 2006: . dan (Bordwell dan Thompson, 2010: . , peristiwa yang dinilai tidak terlalu penting untuk ditampilkan dalam film atau peristiwa tersebut merupakan peristiwa tambahan yang tidak terlalu mempengaruhi alur utama dalam film (Damono, 2008: . dan (Lesmana, 2018: . , peristiwa yang tidak layak dipertontonkan (Said, 2010: . dan (Lesmana, 2018: . , dan beberapa alasan khusus yang terjadi dalam setiap peristiwanya. Dalam novel Invalidite: The Bridge of Perfection, ada 12 tokoh yang mengalami penciutan atau tidak ditampilkan dalam film Invalidite, di antaranya tokoh Bu Marta. Aldi. Tino. Misa. Geo. Sandra. Aya. Pak Beni. Kris/Kristal. Rosa. Raya, dan Santoso. Hal tersebut sesuai dengan 60% hasil tanggapan responden yang menyatakan bahwa film ekranisasi mengalami bentuk penciutan terhadap Tokoh. Dari hasil tanggapan responden yang dinilai sesuai dengan hasil analisis proses ekranisasi dalam bentuk penciutan terhadap tokoh tersebut dapat menguatkan bahwa bentuk penciutan tokoh tidak hanya ditemukan dalam film Invalidite saja, akan tetapi film-film lainnya yang berasal dari novel pasti mengalami penciutan dalam unsur tokoh. Proses penciutan terhadap tokoh merupakan hasil penyisihan yang dilakukan oleh sutradara maupun penulis skenario yang dipilih untuk tidak difilmkan dengan alasan keterbatasan teknis dari segi pemain (Stam, 2005: . , (Aurora, 2015: . dan (Damono, 2008: . , tokoh yang dinilai tidak terlalu penting untuk ditampilkan dalam film atau tokoh tersebut merupakan tokoh tambahan yang tidak terlalu mempengaruhi alur utama dalam film (Hutcheon, 2006: , penciutan alur (Stam, 2005: . dan (Damono, 2008: . dan beberapa alasan khusus pada setiap tokohnya. Dalam novel Invalidite: The Bridge of Perfection, ada 8 latar yang mengalami penciutan atau tidak ditampilkan dalam film Invalidite, di antaranya latar gedung seni, ruang lukis, pasar seni, rumah panti, taman kampus, vila daerah puncak, kantor polisi, dan rumah sakit. Hal tersebut sesuai dengan 50% hasil tanggapan responden yang menyatakan bahwa film ekranisasi mengalami bentuk penciutan terhadap latar. Dari hasil tanggapan responden yang dinilai sesuai dengan hasil analisis proses ekranisasi dalam bentuk penciutan terhadap latar tersebut dapat menguatkan bahwa bentuk penciutan latar tidak hanya ditemukan dalam film Invalidite saja, akan tetapi film-film lainnya yang berasal dari novel pasti mengalami penciutan dalam unsur latar. Proses penciutan terhadap latar merupakan hasil penyisihan yang dilakukan oleh sutradara maupun penulis skenario yang dipilih untuk tidak difilmkan p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Kuswara1. Arla Aelani Presilia2. Dedi Irawan2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. xx-xx dengan alasan keterbatasan teknis dalam visualisasi latar (Bordwell dan Thompson, 2010: . dan (Stam, 2005: . , latar yang dinilai tidak terlalu penting untuk ditampilkan dalam film atau latar tersebut merupakan latar yang terdapat pada peristiwa tambahan yang mengalami penciutan (Damono, 2008: . dan (Stam, 2005: . , latar yang tidak memungkinkan untuk divisualisasikan ke dalam film karena ketidaksesuaian dengan alur cerita dan beberapa alasan khusus pada setiap latarnya (Hutcheon, 2006: . , (Stam, 2005: . , dan (Damono, 2008: . Dalam novel Invalidite: The Bridge of Perfection, terdapat 5 hand prop pada tokoh Dewa dan Pelita yang tidak ditampilkan dalam film. Hal tersebut sesuai dengan 60% hasil tanggapan responden yang menyatakan bahwa film ekranisasi mengalami bentuk penciutan terhadap properti. Dari hasil tanggapan responden yang dinilai sesuai dengan hasil analisis proses ekranisasi dalam bentuk penciutan terhadap properti tersebut dapat menguatkan bahwa bentuk penciutan properti tidak hanya ditemukan dalam film Invalidite saja, akan tetapi film-film lainnya yang berasal dari novel pasti mengalami penciutan dalam unsur Proses penciutan terhadap properti merupakan hasil penyisihan yang dilakukan oleh sutradara maupun penulis skenario yang dipilih untuk tidak difilmkan dengan alasan keterbatasan teknis dari visualisasi properti (Bordwell dan Thompson, 2010: . , keterbatasan anggaran biaya dalam penyediaan properti (Stam, 2005: . , properti yang terbatas (Damono, 2008: . , properti yang memiliki peluang kerusakan yang tinggi (Stam, 2005, . , (Hutcheon, 2006: . , dan (Bordwell dan Thompson, 2010: . , properti yang tidak layak dipertontonkan dalam film (Said, 2010: . , (Aurora, 2015: . , dan (Lesmana, 2018: . , properti yang tidak memungkinkan untuk divisualisasikan ke dalam film karena ketidaksesuaian dengan alur cerita (Stam, 2005: . , properti yang dinilai tidak terlalu penting untuk ditampilkan dalam film atau properti tersebut merupakan properti yang terdapat pada peristiwa tambahan yang mengalami penciutan (Damono, 2008: . , dan beberapa alasan khusus pada setiap properti. Bentuk Penambahan Dalam film Invalidite, ada 6 peristiwa yang termasuk pada penambahan dalam film dan tidak terdapat dalam novel Invalidite: The Bridge of Perfection yang dinilai penting dari sudut pandang filmis untuk disajikan dalam film. Hal tersebut sesuai dengan 50% hasil tanggapan responden yang menyatakan bahwa film ekranisasi mengalami bentuk penambahan terhadap alur. Dari hasil tanggapan responden yang dinilai sesuai dengan hasil analisis proses ekranisasi dalam bentuk penambahan terhadap alur tersebut dapat p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Kuswara1. Arla Aelani Prisilia2. Dedi Irawan3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. xx-xx menguatkan bahwa bentuk penambahan alur tidak hanya ditemukan dalam film Invalidite saja, akan tetapi film-film lainnya yang berasal dari novel pasti mengalami penambahan dalam unsur alur. Proses penambahan terhadap peristiwa alur di atas, bertujuan untuk memberikan peristiwa alur yang baru dan lebih menarik dalam sudut pandang filmis (Yuniarti, 2018: . serta melengkapi bagian peristiwa alur yang dianggap memerlukan peristiwa tambahan untuk memperjelas cerita dalam film. Proses penambahan terhadap alur merupakan hasil pertimbangan yang dilakukan oleh sutradara maupun penulis skenario yang dipilih untuk difilmkan dengan alasan memberikan sentuhan baru sehingga lebih menarik. Dalam film Invalidite, ada 4 tokoh yang ditambahkan oleh sutradara atau penulis skenario yang sebelumnya tidak dijumpai dalam novel Invalidite: The Bridge of Perfection, di antaranya tokoh Emma. Pembantu rumah Dewa. Penguntit Dewa, dan Ibu Gilvy. Hal tersebut sesuai dengan 60% hasil tanggapan responden yang menyatakan bahwa film ekranisasi mengalami bentuk penambahan terhadap tokoh. Dari hasil tanggapan responden yang dinilai sesuai dengan hasil analisis proses ekranisasi dalam bentuk penambahan terhadap tokoh tersebut dapat menguatkan bahwa bentuk penambahan tokoh tidak hanya ditemukan dalam film Invalidite saja, akan tetapi film-film lainnya yang berasal dari novel pasti mengalami penambahan dalam unsur tokoh. Proses penambahan terhadap tokoh merupakan hasil pertimbangan yang dilakukan oleh sutradara maupun penulis skenario yang dipilih untuk difilmkan dengan alasan, tokoh tambahan tersebut berperan penting dalam peristiwa alur, tokoh tersebut mendukung jalannya cerita dalam film, tokoh yang cukup penting dihadirkan menjadi perwakilan dari banyak tokoh, adanya pengaruh penambahan peristiwa alur dalam film, dan sebagai pelengkap dalam sebuah keluarga serta dihadirkan karena penting dari segi filmis (Hutcheon, 2006: . Dalam film Invalidite, ada 4 latar yang ditambahkan oleh sutradara atau penulis skenario yang sebelumnya tidak dijumpai dalam novel Invalidite: The Bridge of Perfection, di antaranya latar tempat ruang komputer, perpustakaan, warung kopi, dan rumah Gilvy. Penambahan latar-latar tersebut dapat disebabkan oleh penambahan alur atau alasan khusus Hal tersebut sesuai dengan 60% hasil tanggapan responden yang menyatakan bahwa film ekranisasi mengalami bentuk penambahan terhadap latar. Dari hasil tanggapan responden yang dinilai sesuai dengan hasil analisis proses ekranisasi dalam bentuk penambahan terhadap latar tersebut dapat menguatkan bahwa bentuk penambahan latar tidak hanya ditemukan dalam film Invalidite saja, akan tetapi film-film lainnya yang berasal dari novel pasti mengalami penambahan dalam unsur latar. Proses penambahan terhadap p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Kuswara1. Arla Aelani Presilia2. Dedi Irawan2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. xx-xx latar merupakan hasil pertimbangan yang dilakukan oleh sutradara maupun penulis skenario yang dipilih untuk difilmkan dengan alasan, latar tambahan tersebut berperan penting dalam peristiwa alur, latar tersebut mendukung jalannya cerita dalam film, adanya pengaruh dari penambahan peristiwa alur dalam film, dan latar yang dinilai penting dari segi filmis (Stam, 2005: . , (Hutcheon, 2006: . , dan (Bordwell dan Thompson, 2010: . Musik pengiring merupakan salah satu elemen penting dalam sebuah film. Maka dari itu, dalam film Invalidite ditemukan tambahan musik pengiring yang terdiri dari, 2 foley, 1 special effect, 3 backsound, dan 5 soundtrack. Proses penambahan terhadap musik pengiring di atas bertujuan untuk memberikan efek dramatis (Bordwell dan Thompson, 2010: . , melengkapi cerita alur, menghidupkan cerita dalam film (Murch, 2001: . , membangun emosi penonton (Gorbman, 1987: . , dan memberikan keterkaitan antara iringan musik yang dimainkan dengan cerita yang disajikan pada film (Murch, 2001: . Hal tersebut sesuai dengan 100% hasil tanggapan responden yang menyatakan bahwa musik pengiring dalam film mampu menghidupkan cerita, emosi, dan efek dramatis, sehingga musik pengiring sangat mempengaruhi keberlangsungan cerita yang disajikan dalam film. Bentuk Perubahan Bervariasi Dalam novel dan film, ada 17 peristiwa yang mengalami perubahan bervariasi. Peristiwa tersebut mengalami perubahan bervariasi antara peristiwa novel (PN) ke bentuk peristiwa film (PF) yang ditinjau mengalami perubahan yang jelas. Hal tersebut berbeda dengan 70% hasil tanggapan responden yang menyatakan bahwa film ekranisasi tidak mengalami bentuk perubahan bervariasi terhadap alur. Dari hasil tanggapan responden yang dinilai tidak sesuai dengan hasil analisis proses ekranisasi dalam bentuk perubahan bervariasi terhadap alur tersebut dapat membuktikan jika tidak semua film ekranisasi mengalami bentuk perubahan bervariasi terhadap alur. Namun, terdapat 30% tanggapan responden yang mampu menguatkan bahwa bentuk perubahan bervariasi terhadap alur tidak hanya ditemukan dalam film Invalidite saja, akan tetapi sebagian dari film yang berasal dari novel pasti mengalami perubahan bervariasi dalam unsur alur. Proses perubahan bervariasi terhadap alur merupakan hasil pertimbangan yang dilakukan oleh sutradara maupun penulis skenario yang dipilih untuk difilmkan dengan alasan, alur sebelumnya yang terlalu berteletele, adanya penciutan alur, adanya penambahan alur, adanya perubahan pada tahapan alur, adanya penciutan tokoh, perubahan karakter tokoh, keterbatasan durasi penayangan, keterbatasan teknis, pemilihan alur yang jauh lebih sesuai, menghindari adegan yang beresiko p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Kuswara1. Arla Aelani Prisilia2. Dedi Irawan3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. xx-xx terhadap keselamatan pemain, dan perubahan yang penting dari sudut pandang filmis (Hutcheon, 2006: . , (Stam, 2005: . , dan (Edgar, 1995: . Dalam film Invalidite, ada 10 tokoh yang mengalami perubahan bervariasi baik dari segi nama maupun karakter di antaranya tokoh Dewa. Pelita. Rendy. Gerka. Tika. Brata. Mahadirga. David. Pemilik toko patung, dan Ibu Asih. Hal tersebut berbeda dengan 80% hasil tanggapan responden yang menyatakan bahwa film ekranisasi tidak mengalami bentuk perubahan bervariasi terhadap tokoh. Dari hasil tanggapan responden yang dinilai tidak sesuai dengan hasil analisis proses ekranisasi dalam bentuk perubahan bervariasi terhadap tokoh tersebut dapat membuktikan jika tidak semua film ekranisasi mengalami bentuk perubahan bervariasi terhadap tokoh. Namun, terdapat 20% tanggapan responden yang mampu menguatkan bahwa bentuk perubahan bervariasi terhadap tokoh tidak hanya ditemukan dalam film Invalidite saja, akan tetapi sebagian dari film yang berasal dari novel pasti mengalami perubahan bervariasi dalam unsur tokoh. Proses perubahan bervariasi terhadap tokoh merupakan hasil pertimbangan yang dilakukan oleh sutradara maupun penulis skenario yang dipilih untuk difilmkan dengan alasan, karakter tokoh sebelumnya yang tidak terlalu menantang, keterbatasan teknis visualisasi dalam film, penekanan terhadap ciri khas tokoh dalam film, mewakili beberapa karakter tokoh, keterbatasan durasi penayangan, perubahan tokoh yang lebih menarik, dan perubahan bervariasi pada alur (Hutcheon, 2006: . dan (Stam, 2005: . Dalam film Invalidite, ada 5 latar yang mengalami perubahan bervariasi di antaranya, latar tempat kantin, perpustakaan, warung kopi, kantor Jeremy, dan tepi danau. Hal tersebut sesuai dengan 70% hasil tanggapan responden yang menyatakan bahwa film ekranisasi mengalami bentuk perubahan bervariasi terhadap latar. Dari hasil tanggapan responden yang dinilai sesuai dengan hasil analisis proses ekranisasi dalam bentuk perubahan bervariasi terhadap latar tersebut dapat menguatkan bahwa bentuk perubahan bervariasi latar tidak hanya ditemukan dalam film Invalidite saja, akan tetapi film-film lainnya yang berasal dari novel pasti mengalami perubahan bervariasi dalam unsur latar. Proses perubahan bervariasi terhadap latar merupakan hasil pertimbangan yang dilakukan oleh sutradara maupun penulis skenario yang dipilih untuk difilmkan dengan alasan, kesesuaian latar yang dipilih dengan urutan peristiwa sebelumnya, penciutan alur, penambahan alur, penambahan latar, dan keterbatasan teknis dalam memvisualisasikan latar (Stam, 2005: . , (Hutcheon, 2006: . , dan (Edgar, 1995: . p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Kuswara1. Arla Aelani Presilia2. Dedi Irawan2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. xx-xx Dalam film Invalidite, ada 3 kostum pada tokoh yang mengalami perubahan bervariasi di antaranya, kostum yang dikenakan oleh Dewa, pelita, dan Brata. Hal tersebut sesuai dengan 60% hasil tanggapan responden yang menyatakan bahwa film ekranisasi mengalami bentuk perubahan bervariasi terhadap kostum. Dari hasil tanggapan responden yang dinilai sesuai dengan hasil analisis proses ekranisasi dalam bentuk perubahan bervariasi terhadap kostum tersebut dapat menguatkan bahwa bentuk perubahan bervariasi kostum tidak hanya ditemukan dalam film Invalidite saja, akan tetapi film-film lainnya yang berasal dari novel pasti mengalami perubahan bervariasi dalam unsur kostum. Proses perubahan bervariasi terhadap kostum merupakan hasil pertimbangan yang dilakukan oleh sutradara maupun penulis skenario yang dipilih untuk difilmkan dengan alasan, keterbatasan kostum, pemilihan kostum yang dapat mempengaruhi cahaya, keterbatasan aksesori, maupun keterbatasan anggran biaya (Walden, 2012: . dan (Dyer, 1996: . Dalam film Invalidite, ada 3 properti berupa set prop yang mengalami perubahan Hal tersebut berbeda dengan 60% hasil tanggapan responden yang menyatakan bahwa film ekranisasi tidak mengalami bentuk perubahan bervariasi terhadap properti. Dari hasil tanggapan responden yang dinilai tidak sesuai dengan hasil analisis proses ekranisasi dalam bentuk perubahan bervariasi terhadap properti tersebut dapat membuktikan jika tidak semua film ekranisasi mengalami bentuk perubahan bervariasi terhadap properti. Namun, terdapat 40% tanggapan responden yang mampu menguatkan bahwa bentuk perubahan bervariasi terhadap properti tidak hanya ditemukan dalam film Invalidite saja, akan tetapi sebagian dari film yang berasal dari novel pasti mengalami perubahan bervariasi dalam unsur Proses perubahan bervariasi tersebut rata-rata didominasi dengan alasan keterbatasan teknis, ketersediaan properti yang terbatas, dan properti yang tidak memungkinkan untuk divisualisasikan (Bordwell dan Thompson, 2010: . , (Staiger, 2007: , dan (Altman, 2000: . Berdasarkan pemaparan mengenai proses penciutan terhadap alur, tokoh, latar, dan properti di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor utama terjadinya penciutan tersebut adalah keterbatasan durasi penayangan, keterbatasan teknis, dan keterbatasan anggaran biaya dalam penggarapan film. Keterbatasan durasi penayangan dan keterbatasan teknis dalam penggarapan film menyebabkan sutradara maupun penulis skenario harus memilih kembali peristiwa yang dinilai penting dalam novel untuk ditampilkan ke dalam film. Hal tersebut sesuai dengan hasil tanggapan dari responden yang menyatakan bahwa film ekranisasi mengalami penciutan terhadap unsur pembangun alur, tokoh, latar, dan properti. Dari p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Kuswara1. Arla Aelani Prisilia2. Dedi Irawan3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. xx-xx penciutan tersebut dapat menimbulkan efek kekecewaan, ketidakpuasan, dan rasa kehilangan terhadap hal-hal yang sudah tertanam dalam imajinasi penonton (Eneste, 1991: . dan (Damono, 2008: . Berikutnya, berdasarkan rincian mengenai proses penambahan terhadap alur, tokoh, latar, dan musik pengiring di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor utama terjadinya penambahan tersebut dikarenakan unsur pembangun tambahan yang dinilai penting dari sudut pandang filmis atau komersialisasi serta dapat memberikan sesuatu yang lebih menarik dalam menghidupkan cerita film untuk disajikan kepada penonton. Hal tersebut sesuai dengan hasil tanggapan dari responden yang menyatakan bahwa film ekranisasi mengalami penambahan terhadap unsur pembangun alur, tokoh, latar, dan musik pengiring. Selain sesuai dengan tanggapan dari responden, bentuk penambahan dianggap penting adanya karena alasan komersialisasi. Film memerlukan komersialisasi untuk meningkatkan visibilitas dan kesadaran merk, memaparkan keunggulan produk atau layanan, meningkatkan keterlibatan audiens, mengkomunikasikan emosi dan nilai merek, menciptakan pengalaman yang berkesan, meningkatkan konversi penjualan, dukungan untuk pemasaran digital, daya saing dalam pasar, peningkatan reputasi bisnis, dan fleksibilitas dalam komunikasi (International Design School, ). Dari penambahan tersebut dapat menciptakan efek ketertarikan dan nuansa baru yang dirasakan oleh penonton. Terakhir, berdasarkan pemaparan mengenai proses perubahan bervariasi terhadap alur, tokoh, latar, kostum, dan properti di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor utama terjadinya perubahan bervariasi tersebut adalah keterbatasan dari teknis visualisasi, pemain, latar, kostum, dan properti maupun keterbatasan anggaran biaya produksi. Hal tersebut sesuai dengan sebagian kecil dari hasil tanggapan responden yang menyatakan bahwa film yang tercipta dari proses ekranisasi mengalami bentuk perubahan bervariasi terhadap unsur pembangun alur, tokoh, latar, kostum, dan properti. Keterbatasan tersebut dapat mempengaruhi seluruh unsur pembangun, sehingga satu keterbatasan pada unsur pembangun yang terjadi dapat merubah segi cerita dalam film. Hal tersebut dikuatkan dengan anggaran produksi film tingkat menengah yang dijelaskan oleh Heckmann (Studiobinder. Proses ekranisasi yang terjadi dalam bentuk penciutan, penambahan, perubahan bervariasi terhadap unsur pembangun tersebut disebabkan oleh hal-hal yang logis. Hal tersebut membuktikan bahwa perubahan yang terjadi dalam proses ekranisasi pada film Invalidite yang diadaptasi dari novel Invalidite: The Bridge of Perfection bersifat mutlak. Artinya, p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Kuswara1. Arla Aelani Presilia2. Dedi Irawan2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. xx-xx perubahan yang terjadi baik itu dalam bentuk penciutan, penambahan, atau perubahan bervariasi, pasti ditemukan dalam film yang mengalami proses ekranisasi (Hutcheon, 2006: . dan (Eneste, 1. Perubahan yang terjadi dalam film yang mengalami proses ekranisasi terjadi karena banyaknya hal yang harus dipertimbangkan dalam penggarapan film seperti, keterbatasan durasi penayangan dalam film, keterbatasan teknis, keterbatasan anggaran biaya, kepentingan komersial. Simpulan dari pemaparan di atas, tidak hanya diambil dari hasil penelitian terhadap proses ekranisasi dalam novel Invalidite: The Bridge of Perfection karya Faradita ke bentuk film Invalidite karya sutradara Herwin Novianto yang dilakukan oleh peneliti saja. Akan tetapi, hampir seluruh film yang diadaptasi dari novel pasti mengalami perubahan yang mutlak di Seperti pada film Athirah karya sutradara Riri Riza yang diadaptasi dari novel Athirah karya Alberthiene Endah dengan durasi penayangan sekitar 81 menit. Perubahan yang terjadi dalam film Athirah ditemukan dalam bentuk penciutan berjumlah 127, bentuk penambahan berjumlah 80, dan bentuk perubahan bervariasi berjumlah 56. Hal tersebut terjadi karena keterbatasan durasi, keterbatasan teknis, komersialisasi (Azis, 2. Berbeda dengan film Athirah yang hanya berdurasi 81 menit, film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang digarap oleh Sunil Soraya ini menjadi film dengan durasi terpanjang di tahun 2013, yaitu 2 jam 35 menit. Hal tersebut dilakukan karena sutradara menginginkan kisah yang terdapat dalam novel tidak dibuang begitu saja, mulai dari kisah Zainuddin yang miskin hingga menjadi seorang penyair yang kaya raya. Seluruh detail yang terdapat dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka tersebut berhasil divisualisasikan dengan cermat oleh sutradara. Walaupun film tersebut memiliki durasi yang cukup panjang dan cukup leluasa untuk memvisualisasikan seluruh cerita dalam novel, tetap saja dalam proses menggarap filmnya terdapat perubahan-perubahan di dalamnya. Seperti film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck terdapat 82 penciutan, 64 penambahan, dan perubahan bervariasi sebanyak 38. Hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan terhadap unsur pembangun tidak hanya terjadi pada film yang berdurasi pendek saja seperti film Athirah dan film Invalidite yang peneliti kaji (Musyafir, 2017: 78-. SIMPULAN Secara keseluruhan cerita film Invalidite sesuai dengan cerita novelnya. Namun, tetap saja film Invalidite mengalami berbagai bentuk ekranisasi di dalamnya, seperti bentuk penciutan, bentuk penambahan, dan bentuk perubahan bervariasi. Bentuk penciutan p-ISSN : 2579-7158, e-ISSN : 2549-6050 Kuswara1. Arla Aelani Prisilia2. Dedi Irawan3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. xx-xx ditemukan dalam unsur pembangun alur sebanyak 26, tokoh sebanyak 12, latar sebanyak 8, dan properti sebanyak 5. Selain itu, bentuk penambahan ditemukan dalam unsur pembangun alur sebanyak 6, tokoh sebanyak 4, latar sebanyak 4, dan musik pengiring sebanyak 11. Terakhir, bentuk perubahan bervariasi ditemukan dalam unsur pembangun alur sebanyak 17, tokoh sebanyak 10, latar sebanyak 5, kostum sebanyak 3, dan properti sebanyak 3. Perubahan dalam film Invalitie tersebut mendapatkan beragam tanggapan positif dan negatif dari pembaca sekaligus penonton. Hal tersebut sesuai dengan hasil tanggapan responden yang ditujukkan kepada 10 mahasiswa Diksatrasia. Universitas Sebelas April, yang memiliki pengalaman dalam membaca novel sekaligus menonton film ekranisasi, dapat membuktikan bahwa film yang diadaptasi dari novel mengalami berbagai perubahan terhadap unsur Tanggapan dari 80% responden menyatakan bahwa mereka menerima segala perubahan dalam film yang mengalami proses ekranisasi dan 20% responden menyatakan bahwa mereka tidak menerima perubahan dalam film tersebut karena ketidakpuasan maupun Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada pembaca sekaligus penonton serta mampu membangun kesadaran akan perubahan yang terjadi dalam film didasari dengan alasan yang jelas dan mampu menerima, menghargai, serta lebih bijak dalam menilai film yang diadaptasi dari novel. Selain dapat membangun kesadaran pembaca sekaligus penonton untuk menerima semua perubahan yang terdapat dalam film, hasil dari tanggapan tersebut dapat menjadi acuan untuk memotivasi para produksi perfilman di Indonesia untuk lebih kreatif dalam menciptakan sebuah film yang diadaptasi dari novel. REFERENSI