http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Artikel Penelitian NON-SUICIDAL SELF INJURY (NSSI) AMONG ADOLESCENTS IN SENIOR HIGH SCHOOL AT PONTIANAK CITY Dinda Maharani1*. Triyana Harlia Putri1. Gabby Novikadarti1 Abstrak Pendahuluan: Remaja menjadi populasi yang berisiko melakukan perilaku melukai diri atau non suicidal self injury (NSSI). Bentuk koping maladaptif ini terjadi karena remaja rentan mengadapi masalah emosional dalam kehidupannya. Tujuan: Mengetahui gambaran perilaku NSSI pada remaja di salah satu sekolah menengah atas (SMA) kota Pontianak. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif, sampel pada penelitian ini berjumlah 272 orang dari kelas X dan XI. Instrumen yang digunakan ialah Inventory of Statement about NSSI (ISAS). Hasil: Sebanyak197 orang . ,4%), responden yang mengalami perilaku NSSI sedang sebanyak 24 orang . ,8%) dan responden yang mengalami perilaku NSSI berat sebanyak 51 orang . ,8%). Rata-rata perilaku NSSI yang dialami oleh responden sebagian besar adalah melakukan perilaku menarik rambut dengan (M,SD) . ,96, 9,. serta jumlah minimum sebanyak 0 kali dan jumlah maksimum sebanyak 100 kali. Sedangkan jumlah rata-rata yang paling kecil adalah responden melakukan perilaku menelan zat berbahaya dengan (M,SD) . ,18,1,. serta jumlah minimum sebanyak 0 kali dan jumlah maksimum sebanyak 24 kali. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar remaja di Kota Pontianak menunjukkan perilaku NSSI, dengan bentuk yang paling umum adalah menarik rambut dan menelan zat berbahaya. Tingkat perilaku NSSI remaja berada dalam level ringan, yang pada umumnya perilaku ini dilakukan dalam jumlah yang bervariasi, dengan sebagian besar responden melakukan perilaku menarik rambut secara berulang. Kesimpulan: Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi dini dan pendekatan preventif untuk mengurangi risiko perilaku NSSI di kalangan remaja, serta program edukasi yang menargetkan remaja dan orang tua mengenai bahaya perilaku NSSI dan cara mengatasi masalah emosional secara sehat. Kata kunci: Non-Suicidal Self Injury. Remaja. Sekolah Abstract Introduction: Adolescents constitute a population at risk of engaging in self-injurious behavior or non-suicidal self-injury (NSSI). This maladaptive coping behavior occurs because adolescents are vulnerable to emotional difficulties in their Objective: To describe NSSI behavior among adolescents at a senior high school (SMA) in Pontianak City. Methods: This study employed a quantitative descriptive design. The sample consisted of 272 students from grades X XI. Data Inventory Statements About NSSI (ISAS). Results: A total of 197 respondents . 4%) reported mild NSSI behavior, 24 respondents . 8%) reported moderate NSSI behavior, and 51 respondents . 8%) reported severe NSSI behavior. The most frequently reported NSSI behavior was hair pulling, with a mean (SD) of 3. , a minimum frequency of 0, and a maximum frequency of In contrast, the least frequent behavior was ingesting harmful substances, with a mean (SD) of 0. , a minimum of 0, and a maximum of 24 occurrences. Overall, the findings indicate that most adolescents in Pontianak City exhibited NSSI behaviors, with hair pulling being the most common form, followed by ingesting harmful substances. The level of NSSI behavior among adolescents was predominantly mild, with behaviors occurring at varying frequencies. most respondents reported repeatedly engaging in hair pulling. Conclusion: These findings underscore the importance of early intervention and preventive approaches to reduce the risk of NSSI among adolescents, as well as educational programs targeting adolescents and parents to raise awareness of the dangers of NSSI and promote healthy strategies for coping with emotional problems. Keywords: Adolescents. Non-Suicidal Self-Injury. Schools Affiliasi penulis : Affiliasi penulis : 1 Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas. Fakulta. Korespondensi : AuDinda MaharaniAy i1031201021@student. PENDAHULUAN Remaja dalam mengatasi masalah saat mengalami stres yang tinggi akan berdampak negatif pada emosional, apabila tidak dapat di kendalikan maka remaja cenderung bertindak dengan menyakiti diri atau perilaku non-suicidal self injury (NSSI) . Selain itu juga ancaman stres yang berkepanjangan dapat berdampak buruk pada kesehatan mental remaja, menyebabkan berbagai Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman masalah seperti kecemasan hingga depresi . Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa, prevalensi gabungan NSSI tercatat sebesar 17,2% pada remaja, 13,4% pada dewasa muda, dan 5,5% pada orang dewasa. Selanjutnya, berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh YouGov Omnibus pada tahun 2019 terhadap 1. 018 orang Indonesia menemukan bahwa 36% masyarakat Indonesia pernah melakukan NSSI. Fenomena NSSI tersebut banyak ditemukan Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 di kalangan muda usia 18-24 tahun, data tersebut juga menunjukkan bahwa 7% kalangan muda Indonesia kerap melukai diri sendiri, dengan prevalensi lebih dari 2 dari 5 orang . %) pernah melukai diri sendiri . Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dewi, et al. , . di Indonesia presentase yang paling banyak adalah perempuan sebesar 93% pernah melakukan NSSI, hal tersebut dikarenakan salah memendam perasaan dalam masalah yang Hasil studi telaah melaporkan bahwa didapatkan bahwa perilaku NSSI lebih banyak terjadi di kalangan perempuan . Adanya kondisi yang tidak terlihat ini dari tenaga kesehatan di Indonesia di sebabkan oleh sering menutupi perilaku NSSI, akibatnya layanan kesehatan secara mandiri tidak di lakukan . Beberapa metode NSSI yang paling umum dilakukan oleh remaja adalah menggigit dan memotong diri sendiri. Selain itu juga, pria menggunakan lebih banyak koping adaptif daripada wanita . ,7%) . Menurut Kenzie & Gross, . NSSI merupakan perilaku melukai diri sendiri tanpa niatan bunuh diri seperti sayat pada tubuh, garuk kulit hingga luka, sengaja benturkan kepala, menarik rambut dengan sangat kuat hingga mengigit kuku hingga Dalam kondisi ini kecenderungan menyakiti diri sendiri dapat berujung pada kemungkinan yang lebih besar yakni muncul ide atau percobaan bunuh dir. Praktik menyakiti diri sendiri yang terus menerus hingga cedera yang fatal berkemungkinan lebih besar untuk melakukan bunuh diri . Perilaku NSSI sering terjadi ketika seseorang mengalami emosi negatif yang tak tertahankan dan tidak dapat di kendalikan karena perasaan kecewa, perasaan tidak nerguna dan tidak berharga, merasa tidak di cintai, merasa marah baik terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri, sehingga mereka cenderung untuk melakukan NSSI . Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Perilaku NSSI yang terus-menerus dilakukan dapat menimbulkan dampak pada individu tersebut. Dilaporkan dari berbagai penelitian menurut Tarigan et al. , . NSSI pendarahan, memar dan rasa sakit yang ditujukan untuk menyebabkan masalah serius pada tubuh namun kondisi ini tanpa adanya keinginan bunuh diri . Selanjutnya dampak lain dari NSSI yakni adanya bekas luka pada tubuh, bahkan merasa tidak puas pada diri individu yang melakukannya . Menanggulangi NSSI, kedudukan konselor sangat penting untuk menangani permasalahan siswa di sekolah. Intervensi yang dilakukan konselor untuk menangani siswa khususnya yang yang melakukan NSSI adalah dengan memantau berkelanjutan dalam pemberian layanan konseling hingga memberikan rujukan menyelesaikan peermasalahan NSSI . Tidak hanya itu, bimbingan pada siswa di sekolah dapat dipersiapkan secara efektif agar selama proses pembelajaran hingga menghadirkan diri dalam bentuk pertolongan pada siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran yang diharapkan . Apabila hal tersebut tidak dilakukan maka akan mengalami stres akademik yang secara konsisten menjadi faktor penyebab utama terjadinya perilaku NSSI . Berdasarkan hasil wawancara kepada siswa/siswi salah satu SMA di Pontianak untuk angkatan kelas X dan XI belum pernah mendapatkan kunjungan dan penyuluhan tentang kesehatan pada remaja khususnya berkaitan dengan perilaku NSSI dan di sekolah tersebut tidak memiliki bidang bimbingan konseling (BK). Hasil wawancara bersama kelas X dan XI rata-rata mengatakan bahwa masalah di awali dari di kelas banyak teman yang memiliki hasil belajar yang sangat baik sehingga timbul rasa persaingan dalam belajar dan nilai, dan ada beberapa yang mengatakan bahwa karena orang tua dari latar belakang Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 pendidikan tinggi maka timbul rasa takut jika tidak bisa seperti orang tuanya. Oleh sebab itu, pentingnya melihat gambaran perilaku NSSI pada remaja dan NSSI pada remaja di Pontianak. Pada penelitian ini, peneliti telah menerima surat keterangan lolos kaji etik dengan nomor sertifikat 2899/UN22. 9/PG/2024. METODE HASIL Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Adapun populasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah siswa/siswi disalah satu Sekolah Menengah Atas yang ada di Kota Pontianak yaitu Sekolah Menengah Atas di salah satu kota Pontianak yang seluruhnya berjumlah 639 Kelas X berjumlah 345 siswa/siswi dan Kelas XI berjumlah 294 siswa/siswi. Penentuan sampel dalam penelitian yang dilakukan adalah menggunakan teknik probability sampling jenis stratified random Menentukan besarnya sampel menggunakan rumus Taro Yamane . dan sampel dalam penelitian yang dilakukan terbagi menjadi beberapa kelas, sehingga peneliti membagi tingkatan strata yaitu kelas X dan XI dengan perhitungan rumus proportionate stratified random sampling yaitu teknik sampling yang digunakan pada populasi yang tidak homogen dan berstrata secara proporsiona. Pengambilan data dilakukan secara online atau secara tidak tatap muka, dimana pengambilan data melalui link google form yang telah disediakan oleh peneliti. Pada penelitian ini hanya menggunakan bagian pertama dari kuosioner ISAS dikarenakan hanya ingin mengukur perilaku NSSI sesuai dengan tujuan penelitian. Selain itu, peneliti sebelumnya . juga menggunakan bagian pertama dari kuesioner tersebut atas seizin oleh Glenn et al. , . selaku pemilik instrumen ISAS . Hal tersebut dilakukan oleh peneliti sebelumnya dikarenakan hanya ingin mengukur perilaku NSSI. Analisis univariat pada penelitian yang dilakukan demografi responden yaitu usia, jenis kelamin, kelas, tingkat pendidikan orang tua, ekstrakurikuler dan pengalaman konseling dari variabel penelitian ini yaitu karakteristik Analisa Deskriptif Perilaku NSSI Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Variabel Penelitian Tabel 1 Distribusi Deskriptif Variabel Perilaku NSSI Variabel Mean Median Std. Deviation MinMax Perilaku NSSI 5,00 26,304 Berdasarkan tabel 1 menunjukkann bahwa variabel perilaku NSSI memiliki rata-rata skor yaitu 15,61, dengan nilai median sebesar 5,00, standar deviasi sebesar 26,304, serta skor minimum 0 dan skor maksimum 163. Tabel 2 Rata-rata Perilaku NSSI pada Remaja Perilaku NSSI Mengiris Kulit Menggaruk Menggigit Mean Median 0,52 3,46 2,90 0,00 0,00 0,00 Std. Deviation 2,040 6,419 8,410 Mengukir Kulit Menggosok Mencubit Menusuk diri Jarum Menarik Rambut Menelan Zat Berbahaya 0,54 0,00 2,100 MinMax 1,52 0,00 4,167 2,19 0,34 0,00 0,00 4,751 1,413 3,96 0,00 9,931 0,18 0,00 1,580 Berdasarkan tabel 2 diketahui dari 272 responden didapatkan bahwa rata-rata perilaku NSSI yang dilakukan oleh responden adalah melakukan perilaku menarik rambut dengan jumlah rata-rata . 3,96, dengan standar deviasi 9,931, serta jumlah minimum sebanyak 0 kali dan jumlah maksimum sebanyak 100 kali. Sedangkan jumlah ratarata yang paling kecil adalah responden melakukan perilaku menelan zat berbahaya dengan jumlah rata-rata . 0,18, dengan Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 standar deviasi 1,581, serta jumlah minimum sebanyak 0 kali dan jumlah maksimum sebanyak 24 kali. Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa perilaku NSSI yang dilakukan oleh responden adalah perilaku NSSI ringan dengan jumlah 197 orang . ,4%), responden yang mengalami perilaku NSSI sedang sebanyak 24 orang . ,8%) dan responden yang mengalami perilaku NSSI berat sebanyak 51 orang . ,8%). Tabel 3 Kategorisasi Skor Tingkat Perilaku NSSI Kategori Perilaku NSSI Ringan Sedang Berat Total Frekuensi Persentase (%) 72,4% 8,8% 18,8% Tabel 4 NSSI Berdasarkan Karakteristik Responden Karakteristik Usia Jenis Kelamin Kelas Tingkat Pendidikan Orang Tua Pekerjaan Orang Tua Pendapatan Orang Tua Pengalaman Ekstrakurikuler 14 tahun 15 tahun 16 tahun 17 tahun 18 tahun Laki-laki Perempuan Tidak Sekolah SMP SMA PNS TNI/Polri Manager Wiraswasta Wirausaha Legislatif Pegawai Swasta Tenaga Pendidik Tenaga Kesehatan Jasa/Buruh Petani Peternak Pensiunan IRT Tidak Bekerja Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Pernah Mengikuti Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Ringan Perilaku NSSI Sedang Berat Total Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Karakteristik Pengalaman Konseling Tidak Pernah Mengikuti Pernah Melakukan Tidak Pernah Melakukan Ringan Perilaku NSSI Sedang Berat Berdasarkan tabel 4 diatas, didapatkan bahwa responden berdasarkan karakteristik usia yang mengalami perilaku NSSI berat adalah usia 16 tahun sebanyak 24 orang . ,8%), responden yang mengalami perilaku NSSI sedang pada usia 15 dan 16 tahun sebanyak 9 orang . ,3%), dan responden yang mengalami perilaku NSSI ringan pada usia 16 tahun sebanyak 102 orang . ,5%). Berdasarkan karakteristik jenis kelamin, didapatkan bahwa yang mengalami perilaku NSSI berat adalah responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 32 orang . ,8%), berdasarkan karakteristik kelas, didapatkan bahwa yang mengalami perilaku NSSI berat adalah responden kelas X sebanyak 30 orang . ,0%), berdasarkan karakteristik tingkat pendidikan orang tua mengalami perilaku NSSI berat adalah SMA sebanyak 25 orang . ,2%). Selanjutnya, berdasarkan karakteristik pekerjaan orang tua, didapatkan bahwa yang mengalami perilaku NSSI berat adalah responden dengan pekerjaan orang tua wirausaha sebanyak 24 orang . ,8%). Berdasarkan didapatkan bahwa yang mengalami perilaku NSSI berat adalah responden dengan pendapatan orang tua sangat tinggi sebanyak 36 orang . ,2%). Kemudian, bahwa yang mengalami perilaku NSSI berat adalah responden yang pernah mengikuti ekstrakurikuler sebanyak 47 orang . ,3%), mengalami perilaku NSSI berat adalah responden yang tidak pernah melakukan konseling sebanyak 45 orang . ,5%). Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Total PEMBAHASAN Temuan menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat NSSI kategori Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Arifin et , . mayoritas responden dalam penelitiannya yaitu remaja SMA di sebuah sekolah Jakarta mengalami tingkat NSSI pada kategori ringan . Penelitian tersebut juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Utami et al. , . mayoritas responden dalam penelitiannya yaitu di SMA Kota Banda Aceh mengalami tingkat NSSI pada kategori ringan . Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sabrina et al. , . mayoritas responden dalam penelitiannya yaitu remaja mengalami tingkat NSSI pada kategori sedang . Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti didapatkan hasil rata-rata yang paling tinggi melakukan perilaku NSSI adalah responden dengan sering melakukan perilaku menarik rambut, menggaruk kulit dengan keras dan menggigit kuku ketika mengalami stres akademik. Perilaku tersebut memiliki jumlah yang paling banyak dilakukan oleh responden yaitu 25 sampai 100 kali dalam satu tahun terakhir. Kejadian perilaku NSSI ini dapat terjadi dikarenakan adanya kondisi stres yang tersembunyi dari dalam diri individu, serta kesulitan dalam mengatasi masalah tersebut dengan baik. Stres tersebut bisa disebabkan karena faktor keluarga, psikologis, kepribadian, dan ekonomi . Tidak hanya itu, beberapa faktor lainya turut mempengaruhi diantaranya karakteristik pada responden itu sendiri seperti usia, jenis kelamin, kelas, tingkat pendidikan orang tua. Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 pengalaman ekstrakurikuler dan pengalaman Berdasarkan karakteristik usia, didapatkan hasil yang mengalami perilaku NSSI kategori tingkat berat adalah usia 16 tahun. Faktor usia tersebut terjadi karena fase remaja menjadi masa yang paling dinamis dalam siklus kehidupan dari berbagai perubahan yakni pada aspek fisik maupun psikologis. Apabila kondisi tersebut tidak dapat di kontrol oleh remaja akan bermasalah tanpa mekanisme koping yang efektif . Pada penelitian lain menurut Stanley Hall . remaja merupakan masa puncak stres dimana pada masa ini gejolak besar pada perasaan ditandai konflik dan transisi perasaan secara signifikan . Pernyataan tersebut juga didukung dengan penelitian terdahulu dimana usia remaja merupakan masa peralihan, sering terjadi krisis identitas dan perubahan secara tajam pada emosional serta didukung pula dengan perkembangan otak yang belum matang, sehingga remaja rentan melakukan perilaku NSSI . melalui proses penyaringan serta mengikuti tingkah laku teman sebaya yang seharusnya tidak dilakukan . Berdasarkan karakteristik kelas, didapatkan hasil yang mengalami perilaku NSSI kategori tingkat berat adalah responden yang berada di kelas X. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Paramita et al. , . pada jenjang SMA, peserta didik bisa dikatakan berada dalam fase remaja, dimana pada fase ini remaja menghadapi banyak perubahan mulai dari fisik, sosial serta emosional, sehingga rentan mengalami stres akademik . Ketika terjadi konflik internal dan eksternal tindakan NSSI yang merugikan individu. Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian terdahulu bahwa remaja tergolong sangat rentan terhadap stres, dimana mereka harus menghadapi tekanan untuk berhasil di kehidupan akademik dan juga harus menghadapi masa depan yang tidak pasti, sehingga stres tersebut dapat memicu remaja melakukan perilaku NSSI . Berdasarkan karakteristik jenis kelamin, didapatkan hasil yang mengalami perilaku NSSI kategori tingkat berat adalah responden kalangan wanita. Secara emosional wanita memiliki level lebih berat dari pada pria, menyelesaikan masalah lebih maladaptif seperti perilaku NSSI hingga perilaku tindakan bunuh diri . Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian Insani et al. , . kalangan wanita lebih cenderung lebih memiliki tekanan psikologis yang level berat dari pada pria, sehingga wanita lebih memilih menghilangkan perasaan tertekannya demi mendapatkan rasa nyaman dengan cara menyakiti diri sendiri . Terdapat faktor lain remaja perempuan rentan mengalami perilaku NSSI yaitu meniru perilaku NSSI dari media dan orang lain, menurut penelitian Zakaria et al. , . remaja perempuan lebih aktif di media dari pada laki-laki, sehingga rentan mengambil informasi dari media tanpa Berdasarkan didapatkan hasil responden yang mengalami perilaku NSSI kategori tingkat berat adalah responden dengan pendidikan terakhir orang tua yaitu SMA. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Prihatiningsih et al. , . level pendidikan orang tua yang rendah berhubungan dengan sikap pola asuh yang buruk, terutama dalam menerapkan disiplin pada anak melalui bentuk kekerasan dan sifat otoriter, sedangkan level pendidikan orang tua yang lebih tinggi justru menggambarkan bahawa orang tua memiliki rasa peka pada perkembangan anak, bahkan memahami strategi dalam menstimulasi kompetensi sosial anak dan lebih supportif dalam pola asuh anak . Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian Basuni et , . orang tua dengan tingkat pendidikan rendah berbeda dalam pola pengasuhannya . Tingginya level pendidikan orang tua juga mengindikasikan bahwa mereka memiliki pengetahuan yang luas dalam informasi sehingga akan baik di Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 aplikasikan dengan mudah dan baik, mengontrol emosional yang dapat mencegah perilaku menyakiti diri sendiri. Berdasarkan karakteristik pekerjaan orang tua didapatkan hasil responden yang mengalami perilaku NSSI kategori tingkat berat adalah responden dengan pekerjaan orang tua wirausaha dan tingkat pendapatan sangat tinggi. Orang tua yang memiliki pekerjaan formal atau informal yang memiliki sedikit interaksi dengan anaknya dapat menyebabkan masalah gangguan mental emosional pada remaja, karena minimnya kebersamaan serta keinginan orang tua dalam bertatap muka dengan anaknya, sehingga remaja rentan terpengaruh oleh perilaku negatif . Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Islamarida et , . dimana perilaku NSSI pada remaja terjadi disebabkan oleh keadaan ekonomi yang rendah . Kondisi tersebut di sebabkan oleh ketidakmamapuan keluarga dalam mencukupi segala kebutuhan remaja sehingga berdampak pada cara mengasuh anak yang buruk, kurang memberikan perhatian dan kasih sayang, serta sering terjadi konflik keluarga. Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian Islamarida et al. orang tua yang berada dibawah tekanan keuangan ataupun yang tidak mampu mengelola masalah keuangan lebih rentan mengalami masalah keluarga yang dapat menyebabkan masalah remaja seperti masalah kesehatan mental . Pada penelitian ini peneliti berasumsi remaja yang melakukan perilaku NSSI baik dengan ekonomi tinggi atau rendah, dikarenakan lingkungan keluarga atau lingkungan sosial yang tidak mendukung. Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian terdahulu dimana remaja yang mendapat dukungan sosial yang cukup dari keluarga, teman, dan orang-orang penting lainnya dalam hidupnya memiliki kesehatan mental yang lebih baik, dan perilaku berisiko tinggi yang lebih sedikit . Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Berdasarkan ekstrakurikuler didapatkan hasil responden yang mengalami perilaku NSSI kategori tingkat berat adalah responden dengan mengikuti ekstrakurikuler. Ekstrakurikuler kecemasan, dimana kecemasan memiliki dampak negatif pada remaja salah satunya memicu perilaku NSSI . Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ramadhan et , . bahwa kegiatan ekstrakurikuler dengan jadwal yang lebih rutin menyebabkan kelelahan secara fisik dan psikologis, stres karena kewalahan, kurangnya manajemen waktu hingga keteledoran akademik karena ketidakmampuan remaja untuk fokus pada satu hal, sehingga remaja rentan mengalami stres yang berdampak kepada perilaku NSSI . Berdasarkan karakteristik jenis kelamin, didapatkan hasil yang mengalami perilaku NSSI kategori tingkat berat adalah responden kalangan wanita. Hal ini dapat disebabkan karena jumlah wanita jauh banyak dari pada Secara emosional wanita memiliki level lebih berat dari pada pria, karena pria lebih banyak menerapkan logikanya sehingga jauh lebih tenang dalam situasi dan kondisi masalah, apabila di bandingkan wanita, yang lebih banyak menggunakan sensitifitas perasaannya dan rentan menyelesaikan masalah lebih maladaptif seperti perilaku NSSI hingga perilaku tindakan bunuh diri . Kalangan wanita lebih cenderung lebih memiliki tekanan psikologis yang level berat dari pada pria, sehingga wanita lebih memilih menghilangkan perasaan tertekannya demi mendapatkan rasa nyaman dengan cara menyakiti diri sendiri . Terdapat faktor lain remaja perempuan rentan mengalami perilaku NSSI yaitu meniru perilaku NSSI dari media dan orang lain, menurut penelitian . , remaja perempuan lebih aktif di media dari pada laki-laki, sehingga rentan mengambil informasi dari media tanpa melalui proses penyaringan serta mengikuti tingkah laku Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 teman sebaya mengontrol emosional yang dapat mencegah perilaku menyakiti diri sendiri . Berdasarkan karakteristik kelas, didapatkan hasil yang mengalami perilaku NSSI kategori tingkat berat adalah responden yang berada di kelas X. Menurut penelitian yang dilakukan oleh . , pada jenjang SMA, peserta didik bisa dikatakan berada dalam fase remaja, dimana pada fase ini remaja menghadapi banyak perubahan mulai dari fisik, sosial serta emosional, sehingga rentan mengalami stres akademik. Ketika terjadi konflik internal dan eksternal mengakibatkan individu NSSI merugikan individu. Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian terdahulu bahwa remaja tergolong sangat rentan terhadap stres, dimana mereka harus menghadapi tekanan untuk berhasil di kehidupan akademik dan juga harus menghadapi masa depan yang tidak pasti, sehingga stres tersebut dapat memicu remaja melakukan perilaku NSSI . Berdasarkan karakteristik pekerjaan orang tua didapatkan hasil responden yang mengalami perilaku NSSI kategori tingkat berat adalah responden dengan pekerjaan orang tua wirausaha dan tingkat pendapatan sangat tinggi. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Islamarida et , . dimana perilaku NSSI pada remaja terjadi disebabkan oleh keadaan ekonomi yang rendah . Kondisi tersebut di sebabkan oleh ketidakmamapuan keluarga dalam mencukupi segala kebutuhan remaja sehingga berdampak pada cara mengasuh anak yang buruk, kurang memberikan perhatian dan kasih sayang, serta sering terjadi konflik keluarga. Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian Haniyah et al. orang tua yang berada dibawah tekanan keuangan ataupun yang tidak mampu mengelola masalah keuangan lebih rentan mengalami masalah keluarga yang dapat menyebabkan masalah remaja seperti masalah kesehatan mental . Pada penelitian ini peneliti berasumsi remaja yang melakukan perilaku NSSI baik dengan ekonomi tinggi atau rendah, dikarenakan lingkungan keluarga atau lingkungan sosial yang tidak mendukung. Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian terdahulu dimana remaja yang mendapat dukungan sosial yang cukup dari keluarga, teman, dan orang-orang penting lainnya dalam hidupnya memiliki kesehatan mental yang lebih baik, dan perilaku berisiko tinggi yang lebih sedikit . Berdasarkan didapatkan hasil responden yang mengalami perilaku NSSI kategori tingkat berat adalah responden dengan pendidikan terakhir orang tua yaitu SMA. Level pendidikan orang tua yang rendah berhubungan dengan sikap pola menerapkan disiplin pada anak melalui bentuk kekerasan dan sifat otoriter, sedangkan level pendidikan orang tua yang lebih tinggi justru menggambarkan bahawa orang tua memiliki rasa peka pada perkembangan anak, bahkan memahami strategi dalam menstimulasi kompetensi sosial anak dan lebih supportif dalam pola asuh anak . Orang tua dengan tingkat pendidikan rendah berbeda dalam pola Tingginya level pendidikan orang tua juga mengindikasikan bahwa mereka memiliki pengetahuan yang luas dalam informasi sehingga akan baik di aplikasikan dengan mudah dan baik. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman SIMPULAN Tingkat perilaku NSSI remaja berada dalam level ringan, yang pada umumnya perilaku ini dilakukan dalam jumlah yang responden melakukan perilaku menarik rambut secara berulang. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi dini dan pendekatan preventif untuk mengurangi risiko perilaku NSSI di kalangan remaja, serta program edukasi yang menargetkan remaja dan orang tua mengenai bahaya perilaku Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 NSSI dan cara mengatasi emosional secara sehat DAFTAR PUSTAKA