http://journal. id/index. php/anterior CERITA RAKYAT SEBAGAI KRISTALISASI DAN MEDIA INTERNALISASI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA MASYARAKAT KOTAWARINGIN TIMUR Folklore as Crystallization and Media for Internalization of Character Education Values in Kotawaringin Timur Society Tika Pebryani Ratna Putri1* Gita Anggraini2* Putri Rahayu Nengsih3* *1,2,3Universitas Muhammadiyah Sampit. Sampit. Kalimantan Tengah. Indonesia *email: gitaanggraini@umsa. Abstrak Cerita rakyat merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat penuturnya, bentuk konkret dari cipta, rasa dan karsa yang menjadi kristalisasi nilai serta cerminan karakter rakyat. Didalamnya terkandung harapan dan acuan keluhuran budi pekerti serta pandangan hidup masyarakat penuturnya, sehingga menjadi pentransfer nilai dari generasi sebelumnya kepada generasi selanjutnya dimana di dalamnya terdapat pendidikan karakter yang dapat disampaikan. Penelitian ini ditujukan untuk mencari dan menyajikan gambaran umum atau informasi mengenai cerita rakyat Kotawaringin Timur. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Lokus penelitian adalah Kecamatan Baamang. Kabupaten Kotawaringin Timut. Data dikumpulkan dengan cara wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Analisis dilakukan dengan melalui tahapan reduksi data, penyajian data . , penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil yang ditemukan berupa informasi dan fakta mengenai cerita rakyat sebagai kristalisasi nilai-nilai dan cerminan karakter Terdapat nilai-nilai dalam cerita rakyat Kotawaringin Timur meliputi norma terhadap diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan Tuhan. Keberadaan nilai-nilai ini menyebabkan cerita rakyat dapat dijadikan sebagai media pendidikan karakter. Abstract Kata Kunci: Cerita Rakyat Nilai-Nilai Karakter Pendidikan Karakter Keywords: Folklore Values Character Character Education Folklore is part of the culture of the community that speaks it, a concrete form of creativity, feeling and will that becomes the crystallization of values and a reflection of the character of the people. It contains hopes and references for the nobility of character and the outlook on life of the community that speaks it, so that it becomes a transfer of values from the previous generation to the next generation where there is character education that can be This study aims to find and present a general description or information about the folklore of East Kotawaringin. The research method uses a qualitative approach with the ethnopedagogy method. The research locus is Baamang District. East Kotawaringin Regency. Data were collected by means of interviews, observations, and literature studies. Analysis was carried out through the stages of data reduction, data presentation . , drawing conclusions and verification. The results found were information and facts about folklore as a crystallization of values and a reflection of the character of the community. There are values in the folklore of East Kotawaringin including norms towards oneself, others, the environment, and God. The existence of these values makes folklore can be used as a medium for character education. A2025 The Authors. Published by Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. This is Open Access article under the CC-BY-SA License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/). PENDAHULUAN Budaya sebagai bagian dari kehidupan manusia hadir atas rasa kebutuhan dan untuk memenuhi kebutuhan manusia, salah satunya adalah kebutuhan akan kehidupan bersama yang tenteram dan rukun dengan etika dan adat yang dibentuk serta kehidupan yang luhur dengan moral dan nilai-nilai yang dipertahankan. Segala etika, adat, moral, dan nilai-nilai tersebut tercermin, tersurat, dan tersirat dalam bentuk-bentuk konkret kebudayaan seperti cerita-cerita rakyat Cerita rakyat pada dasarnya menyampaikan pesan yang berkaitan dengan sistem budaya seperti: perilaku masyarakat, norma, dan nilai. Cerita rakyat dari sisi nilai moral memiliki nilai moral religi, sosial, dan individual (Juanda, 2. Menurut James . Cerita rakyat adalah suatu bentuk karya sastra lisan yang lahir dan berkembang dari masyarakat tradisional yang disebarkan dalam bentuk relatif tetap dan di antara kolektif tertentu dari waktu yang cukup lama dengan menggunakan kata klise (Irsyadi & Mulae, 2. Cerita-cerita ini biasanya anonim, dipertahankan, dan diturunkan secara Tika Pebryani Ratna Putri. Gita Anggraini dan Putri Rahayu Nengsih. Cerita Rakyat Sebagai Kristalisasi Dan Media Internalisasi Nilai Pendidikan Karakter Pada Masyarakat Kotawaringin Timur turun temurun dari generasi ke generasi. Cerita rakyat telah lama lahir sebagai wahana pemahaman dan gagasan serta pewaris tata nilai yang tumbuh dalam masyarakat serta teruji berabad-abad sebagai dasar komunikasi antara pencipta dan masyarakat (Kuswara & Sumayana, 2. Penelitian-penelitian terdahulu tentang cerita rakyat di Indonesia yang mengandung kearifan lokal telah banyak Inriani . melakukan penelitian tentang tiga cerita rakyat Muntok dan mengungkapkan ada 13 nilai karakter yang terkandung di dalamnya. Demikian juga dengan penelitian cerita rakyat di Kalimantan Tengah. Penelitian Rizal. An Adzani, & Adila . yang mengkaji AuLegenda Batu BagaungAy and AuDohong dan TingangAy menyebutkan bahwa kedua cerita rakyat ini menjadi pengingat warga untuk menjaga alam. Dalam legenda Batu Bagaung, sungai sebagai penanda Sedangkan dalam legenda Dohong dan Tingang, burung sebagai simbol hewan yang dilindungi. Sedangkan pada penelitian Rismayani. Mursalim, & Purwanti . tentang cerita Bawi Kuwu di Kalimantan Tengah menemukan bahwa cerita ini mengandung nilai budaya yang berhubungan dengan lima kategori hubungan manusia. Nilai budaya melahirkan dan membentuk suatu kebudayaan sendiri dalam hubungan manusia, terutama dengan Tuhannya. Cerita-cerita rakyat tersebut hadir sebagai kristalisasi nilai-nilai dalam masyarakat dan cerminan karakter rakyat. Sayangnya belum banyak pembukuan cerita-cerita tersebut, terutama di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur. Cerita masyarakat Dayak yang bersifat mulut ke mulut tidak memiliki bentuk konkret dan hanya diwariskan dari generasi ke Sebagai kristalisasi nilai-nilai dalam masyarakat dan cerminan karakter rakyat, cerita- cerita rakyat tersebut sesungguhnya hadir sebagai pengarah dan petunjuk moral masyarakat penuturnya. Dalam perspektif pendidikan karakter, cerita rakyat dapat menjadi sumber dan metode pembelajaran melakukan internalisasi nilai-nilai. Dalam proses pembelajaran, pendekatan ini dapat lebih menarik peseta didik sebab dekat dengan budaya dan kehidupan sehari-hari. Beberapa kajian dan penelitian menyebutkan sesungguhnya cerita rakyat merupakan media yang digunakan oleh orang-orang terdahulu untuk menyampaikan pesan moral (Jayapada. Faisol, & Kiptiyah, 2. Cerita rakyat sebagai media pendidikan karakter memiliki nilai yang terkandung dalam peristiwa, cerita, karakter tokoh, dan hubungan antar tokoh (Sandi. Resviya, & Karso, 2. Sementara itu Ardhyantama . menyebutkan bahwa perbuatan yang digambarkan dalam cerita rakyat mengandung makna yang akan berpengaruh terhadap perkembangan anak baik dari sisi psikologis, kognitif maupun sosial. Dalam perspektif pendidikan karakter, proses memasukkan nilai melalui cerita rakyat tersebut merupakan bagian dari proses pendidikan yang disebut dengan internalisasi nilai. Proses ini dimulai dengan menerima . , menanggapi . , memberi nilai . , mengorganisasi nilai . rganization of valu. , dan karakterisasi nilai . haracterization by a valu. (Anggraini, 2. Nilai yang diinternalisasikan kepada anak melalui cerita rakyat kelak akan menjadi nilai yang dipegang teguh sebagai landasan berprilaku sehingga menjadi karakter pada seorang individu. Namun, sangat disayangkan pembukuan cerita-cerita rakyat di Indonesia masih terbatas. Di lain sisi banyak dongeng di Indonesia masih kurang menunjang pendidikan karakter, seperti Kancil Mencuri Ketimun (Samani & Hariyanto, 2. Selain itu, arus globalisasi dan kecanggihan teknologi ikut menurunkan minat generasi muda terhadap cerita-cerita rakyat yang ada di daerah (NursaAoah, 2. termasuk di Kabupaten Kotawaringin Timur. Oleh sebab itu, masih diperlukan pengkajian dan penulisan cerita-cerita rakyat yang mengandung kearifan masyarakatnya. Hal ini penting agar cerita rakyat tidak hilang dan dapat digunakan sebagai media pendidikan karakter. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi beberapa cerita rakyat yang ada di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur dan kandungan nilai karakter yang ada di dalamnya. Cerita-cerita ini lebih banyak dituturkan dari mulut ke mulut. Hasil kajian dapat menyingkap kandungan nilai-nilai yang tersaji dalam cerita tersebut sehingga dapat menjadi media untuk pendidikan karakter. METODOLOGI Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan kualitatif dengan metode etnopendagogi. Etnopedagogi menurut Alwasilah . merupakan praktik pendidikan formal berbasis kearifan lokal dalam berbagai aspek kehidupan termasuk pada aspek kebudayan. Fokus yang dikaji dalam penelitian ini adalah nilai-nilai yang terkandung dalam cerita-cerita rakyat yang ada di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah. Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan, yaitu Juni sampai dengan Agustus tahun 2020. Lokus penelitian di Kecamatan Baamang. Sampit. Kalimantan Tengah. Narasumber penelitian adalah masyarakat Kecamatan Baamang Sampit. Kalimantan Tengah yang masing menggunakan cerita rakyat sebagai media edukasi. Narasumber terdiri dari 5 keluarga dan 2 orang tokoh masyarakat yang mengetahui tentang cerita rakyat. Pengumpilan data juga dilakukan dengan studi dokumentasi terhadap artikel yang relevan dan buku-buku cerita rakyat Kalimantan Tengah. Selain itu dilakukan juga observasi pada keluarga Data yang telah didapat dianalisis dengan melalui tahapan reduksi data, penyajian data . , penarikan Anterior Jurnal. Volume 24 Issue II. Mei 2025. Page 120 Ae 125 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 kesimpulan dan verifikasi (Miles. Huberman, & Saldana, 2. Verifikasi dilakukan dengan metode triangulasi sumber dan meningkatkan ketekunan. HASIL DAN PEMBAHASAN Cerita-Cerita Rakyat Hadir Sebagai Bagian dari Kebudayaan Cerita rakyat merupakan sesuatu yang dipersepsikan sebagai kekayaan rakyat, eksistensinya ditujukan untuk menghadirkan interaksi atau hubungan sosial dengan orang lain, sehingga di dalamnya dapat ditemui tindakan berbahasa sebagai cara untuk menampilkan adanya nilai-nilai dalam masyarakat (Gusnetti & Isnanda, 2. Secara teoretik. Taylor mendefenisikan kebudayaan sebagai satuan kompleks yang meliputi ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, akhlak, hukum, adat, dan banyak kemampuan-kemampuan dan kebiasaan-kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat (Kistanto, 2. Sedangkan Koentjaraningrat . mendefenisikan kebudayaan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal yang terwujud dari ide, gagasan, norma, tindakan berpola dari manusia, serta benda-benda dari hasil karya manusia. Berdasarkan pemaknaan tersebut, maka cerita rakyat menjadi bagian dari Sebagai bagian dari kebudayaan cerita rakyat mengandung nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam Selain nilai dan norma, cerita rakyat juga mewakili bahkan mencermikan pribadi dan karakter masyarakat Oleh karenanya, cerita rakyat merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat yang menyimpan jati diri suatu masyarakat, dan menjadi media penyampai nilai serta norma yang berlaku dalam masyarakat. Pada umumnya, cerita rakyat sangat terkait dengan situasi alam dan lingkungan di mana cerita itu lahir. Keterkaitan tersebut bisa dengan lingkungan sosial, politik, kondisi alam, dan situasi zaman pada saat itu (Wijanarti, 2. Cerita rakyat hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, dari mulut ke mulut dan pada dasarnya disampaikan oleh seseorang pada orang lain melalui penuturan lisan maupun tulisan. Di sisi lain, cerita atau prosa rakyat merupakan cerita yang hadir dalam masyarakat, dengan mengandung nilai- nilai luhur dalam masyarakat dan lebih condong kepada kebudayaan yang ada dalam masyarakat (Kanzunnudin, 2. Cerita-cerita rakyat yang diutarakan dan disampaikan dari mulut ke mulut oleh generasi tua atau terdahulu kepada para generasi muda menjadi fokus utama. Salah satu contoh tentang bagaimana seorang nenek menyampaikan sebuah cerita yang berisi nilai-nilai dan pandangan hidup masyarakat Dayak kepada cucunya. Cerita-cerita ini merupakan cerminan karakter dan keluhuran masyarakat Dayak, serta bukti proses pemikiran yang tidak lepas dari aspek cipta, rasa, dan karsa para masyarakat dalam mendidik dan menanamkan nilai dalam diri setiap anak atau genersi muda. Biasanya cerita-cerita tersebut diambil dari nilai-nilai luhur yang dipegang teguh oleh kelompok masyarakat yang kemudian dinarasikan dengan menciptakan tokoh-tokoh yang dekat dengan kehidupan mereka. Sebagai bagian dari karakter, pandangan hidup dan nilai-nilai yang ada dalam kehidupan masyarakat Dayak, ceritacerita rakyat tersebut menjadi bagian dari budaya dan kebudayaan. Nilai-nilai, pandangan hidup, dan cerminan karakter menjadi inti dan isi utama dari setiap cerita tersebut, menjadi pembangun moral dan keluhuran budi perkerti dalam setiap diri masyarakatnya. II. Nilai-Nilai yang Terkandung Dalam Cerita Rakyat KotawaringinTimur Nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat. Suatu sistem nilai yang ada dalam masyarakat terdiri dari konsepsi-konsepsi, yang hidup dan hadir dalam alam pikiran mayoritas masyarakat, berkaitan dengan hal yang harus dianggap amat bernilai dalam hidup. Dengan demikian sistem nilai yang ada di masyarakat merupakan pedoman tertinggi, bagi keluhuran budi pekerti atau sikap dan tingkah laku manusia dalam masyarakat. Nilai budaya juga dapat diartikan sebagai sistem nilai dengan bentuk konkret seperti aturan-aturan khusus, serta hukum dan norma-norma (Istiqomah & Setyobudihono, 2. Nilai budaya atau nilai lokal juga diartikan sebagai nilai yang tumbuh dalam suatu konteks budaya tertentu (Gusal. Nilai tersebut hadir dengan selalu terkait dengan konteks kehidupan sekelompok individu yang selanjutnya dipengaruhi oleh lingkungan alam, iklim, social-ekonomi, dan lain-lain. Oleh karena itu, pemahaman mengenai perilaku manusia yang terkait dengan pemahaman sistem nilai yang mempengaruhi perilaku, akan sangat berpengaruh dalam mengembangkan perilakupositif. Pada masyarakat Kotawaringin Timur yang sebagian besar suku Dayak, nilai-nilai pada cerita-cerita rakyat yang hadir dalam masyarakat lebih condong kepada budi pekerti, norma-norma, serta adat istiadat yang berlaku. Selain itu, terkandung juga nilai-nilai perjuangan, keberanian, dan prinsip/cara hidup masyarakat terdahulu. Melalui nilai-nilai tersebut, para generasi setelahnya diharapkan mampu menjaga keluhuran budi pekerti dan memahami prinsip hidup Tika Pebryani Ratna Putri. Gita Anggraini dan Putri Rahayu Nengsih. Cerita Rakyat Sebagai Kristalisasi Dan Media Internalisasi Nilai Pendidikan Karakter Pada Masyarakat Kotawaringin Timur sebagai masyarakat Dayak. Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut diharapkan mampu menjadi transfer nilai, sekaligus sebagai kontrol kehidupan bermasyarakat dalam kehidupan masyarakat Dayak (Saprah & Zain, 2. Cerita-cerita rakyat yang ada di Kabupaten Kotawarinigin Timur sarat akan nilai-nilai baik yang harus terus dipegang Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan narasumber, didapatkan 2 contoh cerita rakyat yang disampaikan dari mulut ke mulut. Cerita ini cukup populer dan banyak sering digunakan para orang tua terdahulu untuk memberikan nasihat atau nilai-nilai kehidupan kepada anak-akan mereka. Cerita ini juga menjadi pandangan hidup serta cerminan karakter masyarakat Dayak di Kotawaringin Timur khususnya Sampit. Kisah tersebut adalah kisah Burung Sarindit dan Asal Mula Mulut/Paruh Bebek Lebar. Burung Sarindit bercerita tentang seorang kakak yang tidak mematuhi perintah orang tua dan berakhir kehilangan Sang kakak menyesali perbuatannya dan meratapi dengan sedih. Sang ibu akhirnya juga menyadari bahwa dia telah salah menyampaikan pesan kepada sang kakak. Cerita ini membawa nilai-nilai tentang berbakti kepada orang tua. Lalu ada Asal Mula Mulut/Paruh Bebek Lebar yang bercerita tentang angsa yang sedang bersedih dan bertemu bebek. Angsa kemudian menceritakan alasan kesedihannya dan mengatakan kepada bebek agar menjaga rahasia tersebut. Namun, bebek yang dipercaya oleh angsa justru menceritakan rahasia angsa kepada sahabatnya kera. Tidak hanya kepada kera, bebek juga menceritakan kepada seluruh penghuni hutan. Ketika angsa mengetahui bahwa bebek tidak dapat menjaga rahasianya, saat itu juga angsa mengutuknya dan mengatakan bahwa bebek tidak bisa menjaga rahasia. Kutukan angsa menyebabkan paruh bebek menjadi lebar. Cerita ini sarat dengan nilai-nilai menjaga amanah dan kepercayaan serta menjadi anggota masyarakat yang dapat dipercaya. Selain itu, terdapat juga Asal Mula Pulau Hanaut dan Pulau Lepeh yang bercerita kerajaan yang dipimpin oleh Raja Lumuh Peang. Sang raja memiliki dua orang anak yaitu Lumuh Lenggana dan Pangeran Lumuh Sumpit. Suatu hari sang raja memanggil kedua anaknya untuk bercakap-cakap di ruang singgasana. Raja yang sudah tua ingin menyampaikan rahasia pusaka yang sudah diturunkan turun temurun dan menjadi simbol kejayaan kerajaan. Pusaka tersebut adalah permata biru bercahaya sebesar tongkol pisang. Sang raja menjelaskan, bahwa pusaka tersebut adalah rahasia istana dan menjadi tanggung jawab setiap raja dan penerusnya. Pusaka tersebut dijaga di istana dan tidak boleh diperjualbelikan maupun dialihtangankan kepada orang lain. Hal itu merupakan amanah dari raja terdahulu dan akan tetap diamanahkan sampai kapan pun. Setelah sang raja meninggal ia digantikan oleh anak pertamanya yaitu Lumuh Lenggana, sedangkan pangeran Lumuh Sumpit sebagai pembantu raja atau kakaknya. Selain membantu urusan negara atau pemerintahan di bawah kepemimpinan kakaknya. Lumuh Sumpit juga berlayar mengarungi samudra ke negeri-negeri lain untuk berdagang. Namun. Lumuh Sumpit ternyata tidak pandai berdagang, ia selalu menelan kerugian, hal ini berdampak pada keuangan kerajaan yang semakin menyusut hingga harus menggadaikan banyak hal. Akhirnya benda paling berharga yang dimiliki oleh istana hanya tersisa pusaka kerajaan. Lumuh Sumpit akhirnya digantikan oleh adiknya dan mengatakan bahwa mereka harus menjual pusaka karena kerajaan sudah banyak mengalami kerugian. Lumuh Lenggana tidak mau menjual pusaka dan tetap menjaga amanah ayahnya sehingga mengakibatkan Lumuh Sumpit marah besar. Lumuh Lenggana berdoa kepada Tuhan untuk menurunkan kutuk kepadanya agar tidak mati di tangan kakaknya sendiri dan bisa meninggalkan dunia dengan damai. Cerita yang sudah populer dan dibukukan ini erat dengan nilai-nilai perjuangan, keberanian, pengabdian, dan prinsip atau cara hidup, menghindari konflik keluarga, ajaran agar menjauhi keserakahan, dan persaudaraan. Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut merupakan ajaran para pendahulu dan orang tua yang ada di Kotawaringin Timur tentang norma dan perilaku dalm kehidupan sehari-hari. Norma-norma dan nilai tersebut meliputi norma kepada diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan kepada Tuhan. Nilai kepada diri sendiri terlihat pada ajaran atau nilai tentang tanggung jawab, rela berkorban, kejujuran, ketekunan, dan pengelolaan emosi. Sedangkan norma yang berhubungan dengan orang lain dapar dilihat dari ajaran tentang nilai menjaga amanah, menghormati orang tua, dan ajaran tentang berbuat baik dengan keluarga. Sedangkan nilai lingkungan dapat dilihat dari tokoh-tokoh yang identik dengan alam dan hutan yang ada di Kotawaringin Timur. Selanjutnya hubungan dengan Tuhan atau spiritualitas dapat disampaikan melalui alur cerita yang menceritakan tokoh memanjatkan doAoa kepada Tuhan. Pengaruh Nilai-Nilai yang Terdapat Dalam Cerita Rakyat Terhadap Karakter Masyarakat Penuturnya Dari Perspektif Pendidikan Karakter atau watak memiliki beberapa aspek, yaitu aspek-aspek berupa tujuan-tujuan yang dimiliki manusia dalam tindakan-tindakannya. bentuk organisasi yang bersandar pada jalinan hubungan dan proporsi dari peranan dan hasrat . isalnya bagaimana hasrat manusia dalam bekerjasama dengan pihak lai. dan nilai etis. Aspek etis ini menunjukkan Anterior Jurnal. Volume 24 Issue II. Mei 2025. Page 120 Ae 125 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 bagaimana manusia atau seseorang itu memenuhi norma-norma kesusilaan, dan dari norma kesusilaan pula seseorang atau individu tersebut mendapat kriteria baik atau buruk (Kanzunnudin, 2. Cerita rakyat sebagai kontrol sosial dan pentransfer nilai-nilai akan berpengaruh terhadap pribadi, karakter dan kesadaran akan batasan, hak dan kewajiban dalam diri para penuturnya. Hal tersebut didukung dengan fakta bahwa generasi yang masih melekat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat, akan lebih memiliki kesadaran akan norma, adab, dan kewajiban sebagai anggota masyarakat. Hal tersebut dibuktikan dengan keluarga narasumber yaitu SP dan AZ . yang masih menggunakan cerita dalam menanamkan dan membangun karakter anak-anak dan cucunya, hingga saat ini anak-anak dan cucu-cucunya masih paham betul batasan-batasan nilai, standar keluhuran budi pekerti dan prinsip serta pandangan hidup masyarakat Dayak. Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita-cerita rakyat tersebut secara berkesinambungan melekat dalam ingatan masyarakat penuturnya dan memberikan dorongan serta acuan dalam bersikap maupun bertindak. Cerita- cerita rakyat yang selalu diperdengarkan pada anak-anak sebagai generasi muda menjadi bekal pemahaman tentang budaya, etika, norma dan prinsip serta pandangan hidup masyarakat Dayak. Cerita rakyat di atas dalam konteks pendidikan karakter merupakan media untuk menginteranalisasikan nilai-nilai yang ingin ditanamkan kepada seorang anak. Internalisasi dimaknai sebagai upaya yang dilakukan untuk memasukan nilainilai ke dalam jiwa sehingga menjadi miliknya. Nilai membutuhkan proses agar menjadi karakter bagi seorang anak. Proses tersebut dimulai dengan tahap transformasi, tahap transaksi, dan tahap transinternalisasi (Anggraini. Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter pada Masyarakat dayak Ngaju, 2. Lebih lanjut, pakar pendidikan karakter Lickona . menyebutkan bahwa nilai tertanam menjadi karakter harus dimulai dengan pengetahuan yang baik . oral knowin. , selanjutnya keinginan terhadap moral tersebut . oral feelin. , dan muaranya adalah aksi atau melakukan moral tersebut . oral actio. Melalui cerita rakyat, proses internalisasi tersebut berjalan dengan lembut, tanpa dipaksakan kepada anak. Pada konteks ilmu pendidikan, cerita rakyat ini dapat dipandang sebagai media untuk melakukan transformasi nilai. Sedangkan tradisi bercerita yang sering dilakukan orang tua terdahulu merupakan sebuah metode dalam pendidikan. Hal ini sejalan dengan yang diunggkapkan oleh Juwairiyah . yang menyatakan bahwa cerita rakyata berfungsi sebagain . sistem proyeksi atau alat yang mencerminkan angan-angan kolektif. alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga . alat pendidikan anak. alat untuk mengawasi norma-norma masyarakat. KESIMPULAN Cerita rakyat merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat, karena didalamnya terkandung nilai-nilai dan tersirat cerminan karakter masyarakat penuturnya. Selain itu cerita rakyat merupakan bentuk dari proses cipta, rasa, dan karsa yang berlangsung dalam masyarakat. Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat masyarakat Kotawaringin Timur pada umumnya berupa nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat, serta pandangan dan prinsip hidup masyarakat Kotawaringin Timur sebagai bagian dari masyarakat Dayak. Nilai-nilai tersebut meliputi norma terhadap diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan Tuhan. Kristalisasi nilai dalam cerita rakyat tersebut tentu akan berpengaruh pada karakter dan pribadi masyarakat penuturnya maupun generasi yang masih dekat dengan budaya cerita rakyat tersebut. Diperdengarkannya cerita-cerita rakyat dari generasi sebelumnya pada generasi sesudahnya, dilakukan untuk memberikan dorongan dan kesadaran dalam membentuk dan menanamkan pribadi/karakter yang mengerti, menjunjung tinggi, dan mampu mematuhi nilai dan norma yang berlaku. Jika dilihat dari sudut pandang cerita-cerita rakyat yang tidak lagi menduduki perannya sebagai pentransfer nilai serta penyampai suri tauladan yang baik bagi masyarakat penuturnya. Dalam konteks pendidikan karakter, cerita rakyat dapat dijadikan media dalam pendidikan karakter. Upaya dan usaha nyata dalam menjaga cerita-cerita rakyat sebagai pentransfer nilai merupakan tanggung jawab bersama yang perlu digagas demi kelestarian dan terjaganya keluhuran budaya yang tidak tergantikan. UCAPAN TERIMA KASIH Kami mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Universitas Muhammadiyah Sampit atas dukungan yang diberikan selama proses hingga penyusunan hasil penelitian ini. Masyarakat Kecamatan Baamang. Sampit. Kalimantan Tengah yang telah mendukung dan membantu memberikan data maupun informasi untuk tujuan penelitian ini. Tika Pebryani Ratna Putri. Gita Anggraini dan Putri Rahayu Nengsih. Cerita Rakyat Sebagai Kristalisasi Dan Media Internalisasi Nilai Pendidikan Karakter Pada Masyarakat Kotawaringin Timur REFERENSI