Resensi Buku Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Volume 1 Nomor 1 (Oktober 2. MEWARGA DENGAN HATI Pembelajaran Transformatif sebagai Respons Pedagogis Kristiani Terhadap Tantangan Pendidikan Kewarganegaraan dalam Konteks Indonesia Masa Kini Judul Buku : Mewarga dengan Hati: Pembelajaran Transformatif sebagai Respons Pedagogis Kristiani Terhadap Tantangan Pendidikan Kewarganegaraan dalam Konteks Indonesia Masa Kini Penulis : Justitia Vox Dei Hattu Bahasa : Indonesia ISBN : 978-602-231-528-5 Terbit : 2018 Tebal : vi 74 halaman Penerbit : BPK Gunung Mulia & STFT Jakarta PAULUS EKO KRISTIANTO Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta paulusekokristianto12@gmail. DOI: 10. 21460/aradha. Mungkinkah Pendidikan Kristiani . elanjutnya ditulis PK) dan Pendidikan Kewarganegaraan . elanjutnya ditulis PK. dikombinasi dalam gagasan? Jawabannya, ini mungkin. Hal ini terolah dalam buku Mewarga dengan Hati: Pembelajaran Transformatif Sebagai Respons Pedagogis Kristiani Terhadap Tantangan Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Konteks Indonesia Masa Kini yang ditulis Justitia Vox Dei Hattu. Awalnya, buku ini merupakan orasi pada Dies Natalis ke-84 Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta pada tahun 2018. Buku ini menawarkan kebaruan gagasan PK untuk formasi identitas kewarganegaraan yang dilakukan dengan basis mewarga dengan hati. Adapun, bangunan kata-kata kunci teori yang digunakan yaitu pembelajaran transformatif, estetika atau seni, pendidikan dan identitas kewarganegaraan, orang dewasa . -60 tahu. Oleh karenanya, tiga rumusan pertanyaan Resensi Buku Volume 5 Nomor 1 (Januari-April 2. yang menjadi acuan yaitu: Pertama, mengapa kita memerlukan PK untuk formasi identitas kewarganegaraan? Kedua, sejauh mana PK dapat menjadi basis yang efektif dan relevan bagi pendidikan kewarganegaraan untuk orang dewasa di gereja? Ketiga, bagaimana pembelajaran transformatif berbasis nilai-nilai Kristiani dapat berkontribusi bagi pemahaman kewarganegaraan dan kebangsaan orang Kristen Indonesia saat ini? (Hattu, 2018: . Buku ini dibangun melalui tiga alur. Pertama, pembelajaran transformatif sebagai sebuah pendekatan pedagogis Kristiani. Hattu berangkat dari teori pembelajaran transformatif yang dibahas Jack Mezirow. Mezirow mendefinisikannya sebagai sebuah desain pendidikan untuk orang dewasa dengan dasar pemikiran bahwa orang dewasa menginterpretasi pengalamanpengalaman mereka dengan cara mereka sendiri yang dipengaruhi oleh persepsi atas pengalaman tersebut (Hattu, 2018: . Komponen pembelajaran ini yaitu pengalaman, refleksi kritis, diskursus reflektif, dan aksi (Hattu, 2018: . Hattu meyakini pembelajaran transformatif berpotensi memberikan kontribusi terhadap formasi identitas kewarganegaraan dari perspektif PK (Hattu, 2018: . Pada praktiknya, ini perlu dielaborasikan dengan estetika atau seni. Hattu sendiri meyakini bahwa gagasan ini sudah banyak dibahas berbagai tokoh pendahulu, di antaranya John Dewey. Christopher Higgins. Jiwon Kim. Maxine Greene. Randee Lipson Lawrence. Elizabeth J. Tisdell (Hattu, 2018: 12Ae. Hattu beranggapan bahwa estetika atau seni bisa menjadi perantara percakapan demikian (Hattu, 2018: . Kedua. PKn dalam ranah kurikulum dan diskursus internasional. PKn memang menjadi bagian mata pelajaran atau kuliah yang masuk dalam kurikulum yang mengalami perubahan dan perkembangan mengikuti konteks yang dinamis (Hattu, 2018: 18Ae. Sebagai basis teori. PKn perlu dilihat tidak sekedar itu, melainkan proses mendidik warga negara agar mereka dengan tulus ikhlas mau terlibat dalam masalah-masalah dasar kenegaraan dan bertanggungjawab (Hattu, 2018: . Hattu menunjukkan diskusi yang muncul berupa PKn sebagai formasi identitas. PKn dan pembentukan karakter. PKn dan multikulturalisme (Hattu, 2018: 28Ae. Kemudian. Hattu menggariskan empat isu penting terkait dengan pendasaran PKn dari perspektif PK yaitu: landasan teologis-pedagogis yang kuat untuk mengintegrasikan PKn dalam desain PK untuk konteks bergereja. desain PK yang kontekstual. model dan metode pembelajaran yang . kategori peserta didik (Hattu, 2018: 42Ae. Ketiga. PK untuk formasi identitas kewarganegaraan. Gagasan ini merupakan kebaruan dari Hattu. Ia menggunakan tiga dimensi sebagaimana diinspirasi dari Jack L. Seymour yang tidak bisa dilihat terpisah, melainkan saling terhubung. Pertama, identitas. Identitas berbicara tentang siapa dan apa yang kita bawa serta dalam perjumpaan atau dialog dengan orang lain dan lingkungan alam (Hattu, 2018: . Kedua, vokasi berbicara tentang apa yang bisa kita lakukan sebagai respons terhadap berbagai situasi sekeliling dan komitmen untuk tetap setia melakukannya (Hattu, 2018: . Dua bagian tersebut . dentitas dan vokas. diuraikan Hattu melalui bahasan PK di ruang publik. Hattu menunjukkan setidaknya ada tiga hal mendasar pentingnya PK untuk itu yaitu: . Indonesia tidak hanya didiami oleh orang dari agama atau suku tertentu saja, melainkan beragam suku dan agama. Pertanggungjawaban dan peran publik Paulus Eko Kristianto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies dari PK. PK turut serta dalam percakapan tentang kewarganegaraan dan kebangsaan (Hattu, 2018: 46Ae. Lebih lanjut. Hattu menunjukkan contoh dua bagian itu . dentitas dan vokas. yaitu Wadah Komunikasi dan Pelayanan Umat Beragama (WKPUB) dengan kegiatan dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pengembangan ekonomi masyarakat yang diperuntukkan sejak anak sampai dewasa (Hattu, 2018: . Ketiga, sumber daya berbicara tentang sumber-sumber yang kita miliki, mulai dari keyakinan sampai pada keterampilan atau keahlian atau kecakapan yang dapat digunakan atau dikembangkan untuk menghidupi vokasi kita (Hattu, 2018: . Bagian ini dibangun melalui tiga prinsip dasar. PK untuk formasi identitas kewarganegaraan dilaksanakan atas dasar sebuah keyakinan bahwa gereja melalui desain pendidikannya bertanggungjawab mendidik dan mengajar umatnya untuk menjadi warga negara yang baik dan bertanggungjawab. PK untuk ini bertujuan memperkenalkan, mengekspresikan, dan mempraktikkan nilai-nilai luhur kemanusiaan, termasuk nilai persatuan dan kesatuan. PK untuk ini dilaksanakan dalam semangat memanusiakan orang lain (Hattu, 2018: 54Ae. Dalam kaitannya dengan estetika atau seni ketika membahas PK untuk formasi identitas kewarganegaraan. PK bisa menggunakan empat hal yaitu: . gambar dan lukisan. fiksi dan film. musik dan lagu (Hattu, 2018: 56Ae. Dari upaya yang dilakukan Hattu, peresensi menimbang hal yang bisa dijadikan perhatian. Pertama. PK perlu dikombinasikan dengan berbagai bidang. Hattu telah menunjukkan salah satu wujud nyatanya. Kombinasi ini memungkinkan hadirnya PK di ruang publik. Sebenarnya. Hattu menimbang kajian PKn yang mana tidaknya membahas isu politik tetapi keseharian, pembelajaran transformatif dalam bidang pendidikan, dan estetika atau seni. Peresensi akui kesulitan menemukan buku komprehensif yang menyentuh diskusi integratif sebagaimana dibahas Hattu. Peresensi mengusulkan pembaca dapat turut membaca buku Religious Education as a Dialogue with Difference: Fostering Democratic Citizenship Through the Study of Religions in Schools (Routledge Research in Religion and Educatio. yang membahas tidak hanya dari segi Kristiani tetapi semua agama yang bersinggungan dengan kewarganegaraan yang mana belum dibahas Hattu (OAoGrady, 2. Buku ini bersifat praksis. Kemudian dalam isu kewarganegaraan, kombinasi PK dan PKn diharapkan turut melihat beragam persoalan agama dan moral yang turut berkontribusi ke bidang pendidikan interkultural. PKn, dan pendidikan nilai hingga berujung ke tawaran kebaruan PK pluralistik . luralistic religious educatio. yang belum dibahas Hattu, meskipun ia mulai menyinggung PKn dan multikulturalisme. Peresensi mengusulkan pembaca menjelajahnya dalam buku Rethinking Religious Education and Plurality: Issues in Diversity and Pedagogy (Jackson, 2. Kedua. PK dan PKn memiliki kekhasan kajian yang perlu dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum dikombinasikan. Peresensi sepakat dengan pola demikian sebagaimana telah dilakukan Hattu. Guna memperluas cakrawala kombinasi menuju inovasi, peresensi merekomendasikan buku bunga rampai Innovating Christian Education Research: Multidisciplinary Perspectives (Luetz dan Green, 2. Ada banyak contoh inovasi yang dapat dipetik di sana, khususnya berkenaan PK dan PKn di antaranya pendidikan nilai. PK di era pasca sekular, dan pendidikan interkultural. Resensi Buku Volume 5 Nomor 1 (Januari-April 2. Ketiga, peresensi menimbang PK memang perlu didorong ke partisipasi kewarganegaraan. Hattu telah mencobanya. Guna melengkapi gagasan ini dan berangkat dari teori pendidikan umum, peresensi merekomendasikan buku Handbook of Research on Education for Participative Citizenship and Global Prosperity yang turut bersifat praksis (Navasrro-Medina. Pineda-Alfonso, dan Alba-Fernandez, 2. Buku ini tidak hanya membahas wilayah identitas kewarganegaraan, melainkan kebijakan pendidikan dan keadilan sosial yang mana dua wilayah terakhir belum dibahas Hattu. Namun, pembaca yang hendak mengonstruksi ke PK, buku ini bisa menjadi Pada akhirnya, peresensi menimbang usaha Hattu yang berawal dari orasi turut direkomendasikan guna membangun diskursus PK di ruang publik turut dipertimbangkan dan dikembangkan lebih lanjut. Bagaimanapun. PK tidak boleh hanya bekerja di dunia komunitas iman, melainkan masuk ke ruang publik itu. Ini selaras dengan gaung yang ditawarkan Jack L. Seymour dalam tiga bukunya yang menunjukkan begitu dinamisnya perkembangan PK (Seymour, 1982, 2014, 2. Daftar Pustaka