Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing SKI Learning through Cooperative Learning: A Classroom Action Research at MAS Harisul Khairaat Ome Muhamad Nursalim 1. Aqlis Hidayah 2 1 MAS Harisul Khairaat Ome 2 MAS Muhammadiyah 13 Entrepreneur Correspondence: salim141081@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Cooperative Learning. Sejarah Kebudayaan Islam. Student Engagement. Islamic History. MAS Harisul Khairaat Ome. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to enhance the learning of Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) at MAS Harisul Khairaat Ome through the implementation of the Cooperative Learning model. The research focuses on improving students' engagement, understanding, and retention of Islamic history and culture by encouraging collaboration among Cooperative learning, which emphasizes teamwork and shared responsibility, enables students to actively participate in learning activities, exchange ideas, and solve problems together. This method fosters a deeper understanding of SKI material through peer interaction and shared The study was conducted in two cycles, each consisting of four stages: planning, action, observation, and reflection. In the planning phase, the teacher and researcher designed lesson plans that integrated cooperative learning strategies, such as group discussions, collaborative projects, and peer teaching. During the action phase, students worked in small groups to explore SKI topics, while the teacher facilitated the learning process. Observations were made during the lessons to monitor student participation and group dynamics. In the reflection phase, the effectiveness of the cooperative learning approach was evaluated, and adjustments were made for the next cycle. The findings of the research suggest that cooperative learning significantly improved students' engagement and understanding of SKI. Students demonstrated increased motivation, better communication skills, and a greater ability to apply historical concepts in context. The collaborative environment created by this model allowed students to share different perspectives, leading to a more comprehensive understanding of Islamic history and culture. The research highlights the effectiveness of cooperative learning in enhancing the learning experience and outcomes in SKI education at MAS Harisul Khairaat Ome. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan agama Islam memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter siswa, terutama dalam konteks pengajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di sekolah SKI bukan hanya mengajarkan sejarah peradaban Islam, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan nilai-nilai moral dan spiritual yang terkandung dalam perjalanan sejarah umat Islam. Sebagai mata pelajaran yang membahas tentang kejayaan peradaban Islam. SKI berfungsi untuk menumbuhkan kesadaran siswa mengenai pentingnya memahami sejarah Islam secara menyeluruh. Namun, pembelajaran SKI sering kali dianggap kurang menarik bagi siswa karena cenderung bersifat teoritis dan monoton (Budi, 2. Penerapan metode pembelajaran yang efektif sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pengajaran SKI. Salah satu pendekatan yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa adalah Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 melalui model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif menekankan pada kerja sama antar siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang sama. Melalui model ini, siswa bekerja dalam kelompok untuk saling membantu, berbagi pengetahuan, dan berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Pendekatan ini tidak hanya mempercepat pemahaman materi, tetapi juga mengajarkan keterampilan sosial dan komunikasi yang penting dalam kehidupan sehari-hari (Fitriani, 2. Namun, penerapan pembelajaran kooperatif dalam SKI di banyak sekolah masih terbatas. Seringkali, pembelajaran SKI di sekolah-sekolah menengah lebih berfokus pada hafalan teks atau materi yang kurang aplikatif, yang membuat siswa merasa bosan. Di MAS Harisul Khairaat Ome, pengajaran SKI masih cenderung menggunakan metode konvensional yang kurang melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar. Hal ini dapat mempengaruhi motivasi siswa dalam memahami materi, apalagi materi SKI sering kali dianggap sulit dan membosankan jika tidak disampaikan dengan cara yang menarik (Gunawan, 2. Penerapan model pembelajaran kooperatif diharapkan dapat mengubah paradigma tersebut dengan melibatkan siswa dalam proses pembelajaran yang lebih aktif dan kolaboratif. Dalam model ini, siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan dari guru, tetapi mereka juga diberi kesempatan untuk berdiskusi, menyelesaikan masalah, dan belajar bersama dengan temanteman sekelas. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa dapat lebih memahami dan mengingat materi SKI dengan lebih baik, karena mereka terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan diskusi yang saling memperkaya (Kurniawan, 2. Pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa untuk saling mengajarkan dan memberi umpan balik satu sama lain, yang dapat memperdalam pemahaman mereka. Model ini mendorong interaksi sosial yang positif di antara siswa, yang dapat meningkatkan komunikasi dan Dalam konteks SKI, di mana banyak materi yang berhubungan dengan sejarah dan kebudayaan, pembelajaran yang melibatkan diskusi kelompok sangat efektif untuk membantu siswa mengaitkan materi dengan kehidupan nyata mereka (Rahman, 2. Di MAS Harisul Khairaat Ome, penerapan model pembelajaran kooperatif dalam SKI dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan aplikatif. Melalui kerja sama dalam kelompok, siswa dapat menggali lebih dalam topik-topik sejarah Islam, seperti sejarah peradaban Islam di berbagai belahan dunia, tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam, dan perkembangan ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam. Materi yang sering dianggap kering dan sulit akan menjadi lebih hidup dan menarik melalui diskusi dan kolaborasi antar siswa (Sari, 2. Selain itu, pembelajaran kooperatif juga dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa. Dalam proses diskusi kelompok, siswa diajarkan untuk menghargai pendapat orang lain, bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama, dan menyelesaikan masalah secara kolektif. Keterampilanketerampilan sosial ini sangat penting, terutama dalam konteks pendidikan yang menekankan pada nilai-nilai Islam yang mengajarkan saling menghormati dan membantu sesama (Prasetyo. Namun, penerapan pembelajaran kooperatif di kelas juga menghadapi beberapa tantangan. Salah satu tantangan utama adalah pengelolaan kelompok yang beragam. Setiap kelompok memiliki karakteristik yang berbeda-beda, baik dalam hal kemampuan akademik, kepribadian, maupun minat terhadap materi yang diajarkan. Guru perlu memiliki keterampilan dalam mengelola dinamika kelompok agar setiap siswa dapat berkontribusi secara maksimal dan mendapatkan manfaat dari kegiatan belajar bersama (Teguh, 2. Untuk mengatasi masalah tersebut, guru perlu memastikan bahwa pembagian tugas dalam kelompok dilakukan secara adil dan merata. Setiap siswa harus diberi peran yang jelas dan sesuai dengan kemampuannya, sehingga mereka dapat berkontribusi secara optimal dalam diskusi dan tugas kelompok. Pembagian peran yang baik akan mengurangi kemungkinan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 terjadinya dominasi oleh satu atau beberapa siswa dalam kelompok, dan memastikan bahwa semua siswa terlibat dalam proses belajar (Zulkarnain, 2. Di sisi lain, evaluasi dan refleksi setelah setiap sesi pembelajaran juga sangat penting untuk menilai keberhasilan model pembelajaran kooperatif. Guru perlu memantau perkembangan siswa dalam setiap kelompok, memberikan umpan balik yang konstruktif, serta mengevaluasi sejauh mana model ini berhasil meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi SKI. Proses evaluasi ini akan membantu guru dalam merencanakan perbaikan dan penyesuaian yang diperlukan pada siklus berikutnya untuk mencapai hasil yang lebih optimal (Wahyuni, 2. Keberhasilan penerapan pembelajaran kooperatif dalam SKI tidak hanya dilihat dari seberapa baik siswa dapat menghafal materi, tetapi juga seberapa besar mereka dapat mengaitkan materi yang dipelajari dengan kehidupan mereka dan mengaplikasikannya dalam praktik. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru untuk menggunakan pendekatan yang lebih holistik dalam pengajaran, yang tidak hanya mencakup aspek kognitif tetapi juga aspek sosial dan moral siswa (Sutrisno, 2. Penerapan model pembelajaran kooperatif di MAS Harisul Khairaat Ome diharapkan dapat membawa perubahan positif dalam cara siswa memandang dan mempelajari SKI. Dengan membuat pembelajaran lebih interaktif, kolaboratif, dan aplikatif, diharapkan siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan yang lebih dalam tentang sejarah dan kebudayaan Islam, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan seharihari. Melalui pendekatan ini, pembelajaran SKI di sekolah akan menjadi lebih bermakna dan dapat membantu siswa dalam membentuk karakter yang baik sesuai dengan ajaran Islam (Ramadhan, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk meningkatkan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MAS Harisul Khairaat Ome melalui penerapan model pembelajaran kooperatif. PTK dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran secara langsung dengan melibatkan siswa, guru, dan peneliti dalam proses perbaikan berkelanjutan. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dengan setiap siklus terdiri dari empat tahap utama: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Setiap siklus bertujuan untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kekurangan dalam pembelajaran SKI, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa (Budi, 2. Pada tahap perencanaan, peneliti bersama dengan guru SKI merancang rencana pembelajaran yang mengintegrasikan model pembelajaran kooperatif. Rencana ini mencakup tujuan pembelajaran, penentuan materi yang akan diajarkan, serta strategi pengajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan kelompok. Guru juga mempersiapkan instrumen evaluasi untuk menilai pemahaman siswa, seperti lembar observasi, tes tertulis, dan rubrik penilaian untuk mengukur kolaborasi dan kontribusi siswa dalam kelompok (Fitriani, 2. Pada tahap pelaksanaan, guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif yang telah direncanakan. Siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk bekerja sama dalam menganalisis dan mendiskusikan topik-topik SKI. Guru bertindak sebagai fasilitator yang memberikan arahan, memantau proses diskusi, dan memberikan bantuan kepada kelompok yang membutuhkan. Pembelajaran ini menekankan pada saling berbagi pengetahuan antar anggota kelompok, serta kerjasama dalam menyelesaikan tugas yang diberikan (Rahman, 2. Pada tahap observasi, peneliti melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Observasi dilakukan untuk menilai sejauh mana siswa terlibat aktif dalam diskusi, seberapa baik kelompok berkolaborasi, serta bagaimana siswa memahami dan mengaplikasikan materi SKI. Peneliti juga mengamati dinamika kelompok, seperti pembagian peran di dalam kelompok dan interaksi antar siswa. Data observasi ini digunakan untuk Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 mengevaluasi efektivitas model pembelajaran kooperatif dalam meningkatkan pemahaman siswa (Kurniawan, 2. Tahap refleksi dilakukan setelah setiap siklus untuk mengevaluasi keberhasilan pembelajaran. Dalam tahap ini, peneliti bersama guru menganalisis data yang telah dikumpulkan, baik dari hasil observasi, tes, maupun umpan balik siswa. Refleksi dilakukan untuk mengevaluasi apakah tujuan pembelajaran telah tercapai, serta untuk mengidentifikasi masalah yang perlu Berdasarkan hasil refleksi, rencana perbaikan disusun untuk siklus berikutnya, dengan tujuan untuk memperbaiki kelemahan yang ditemukan selama siklus pertama (Sari. Selama penelitian, data dikumpulkan menggunakan berbagai instrumen seperti lembar observasi untuk menilai keterlibatan siswa dalam diskusi kelompok, tes untuk mengukur pemahaman materi SKI, dan angket untuk menilai respons siswa terhadap pembelajaran Data ini kemudian dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan bagaimana model pembelajaran kooperatif mempengaruhi pemahaman dan keterlibatan siswa. Analisis ini juga digunakan untuk melihat perubahan dalam sikap dan motivasi siswa terhadap pembelajaran SKI (Prasetyo, 2. Secara keseluruhan, penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi terhadap pengembangan pembelajaran SKI di MAS Harisul Khairaat Ome. Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif, diharapkan siswa dapat lebih aktif dalam memahami dan mendalami materi, serta dapat menerapkan nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan seharihari. Selain itu, model ini juga diharapkan dapat memperkuat keterampilan sosial siswa, seperti kemampuan bekerja sama, berbicara di depan umum, dan berpikir kritis dalam menghadapi tantangan yang ada (Teguh, 2. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, penerapan model pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MAS Harisul Khairaat Ome menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan siswa. Sebelumnya, banyak siswa yang tampak pasif dan kurang tertarik pada materi SKI, namun dengan model kooperatif, siswa lebih aktif terlibat dalam diskusi kelompok. Pembelajaran yang mengutamakan interaksi sosial antar siswa ini mendorong mereka untuk lebih aktif berbagi pengetahuan dan berdiskusi mengenai topik yang Aktivitas seperti diskusi kelompok dan kerja sama dalam menyelesaikan tugas memicu siswa untuk lebih memperhatikan materi yang diajarkan dan bekerja bersama dalam memecahkan masalah (Budi, 2. Di sisi lain, pembelajaran kooperatif juga memberikan dampak positif terhadap pemahaman materi siswa. Selama pembelajaran, siswa tidak hanya menghafal materi, tetapi mereka juga berdiskusi dan saling menjelaskan satu sama lain. Hal ini meningkatkan pemahaman mereka terhadap konsep-konsep dalam sejarah kebudayaan Islam yang sebelumnya dianggap sulit atau kurang menarik. Siswa yang mampu memahami materi dengan lebih baik kemudian membantu teman mereka yang kesulitan, menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih inklusif dan Interaksi antar siswa ini memperkuat pemahaman mereka tentang sejarah Islam dan meningkatkan kemampuan mereka dalam menyampaikan ide secara verbal (Fitriani, 2. Namun, meskipun ada peningkatan dalam keterlibatan dan pemahaman siswa, pengelolaan waktu tetap menjadi tantangan. Pembelajaran kooperatif sering kali membutuhkan waktu lebih lama, terutama ketika siswa terlibat dalam diskusi kelompok yang panjang. Di sisi lain, hal ini memperlambat laju pembelajaran secara keseluruhan, karena ada materi yang harus dipercepat agar sesuai dengan waktu yang terbatas. Pembagian waktu yang lebih efisien antara aktivitas diskusi dan pengajaran dari guru perlu diperhatikan, agar seluruh materi dapat dipahami dengan baik tanpa terburu-buru (Gunawan, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selain pengelolaan waktu, tantangan lain yang muncul adalah perbedaan kemampuan siswa dalam memahami materi. Pada beberapa kelompok, terdapat siswa yang lebih cepat menguasai materi, sementara siswa lain membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas atau memahami topik yang dibahas. Hal ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam kontribusi setiap siswa di dalam kelompok, di mana sebagian besar siswa yang lebih cepat menguasai materi lebih dominan dalam diskusi, sementara siswa yang kesulitan lebih cenderung pasif. Pengelompokan siswa berdasarkan tingkat kemampuan dan pemberian peran yang seimbang dalam kelompok dapat mengatasi masalah ini (Kurniawan, 2. Meskipun demikian, model pembelajaran kooperatif memberi kesempatan bagi siswa untuk belajar secara aktif dan lebih mengembangkan keterampilan sosial mereka. Melalui kerja sama dalam kelompok, siswa belajar untuk berkomunikasi, menghargai pendapat orang lain, dan memecahkan masalah bersama. Pembelajaran ini tidak hanya mendorong siswa untuk menguasai materi, tetapi juga memperkuat kemampuan mereka dalam bekerja sama, yang merupakan keterampilan penting di luar dunia pendidikan. Keberhasilan kerja sama dalam kelompok meningkatkan rasa percaya diri siswa dan memperkuat interaksi sosial di dalam kelas (Rahman, 2. Siswa juga mulai menunjukkan motivasi yang lebih tinggi terhadap pembelajaran SKI setelah diterapkan model kooperatif. Sebelumnya, beberapa siswa merasa SKI adalah mata pelajaran yang membosankan karena pendekatan yang digunakan hanya berfokus pada hafalan dan teori. Namun, setelah diberikan kesempatan untuk bekerja dalam kelompok dan saling berbagi pengetahuan, mereka merasa lebih terlibat dalam pembelajaran. Motivasi mereka meningkat karena mereka merasa lebih bertanggung jawab atas keberhasilan kelompok mereka, dan hasilnya, mereka lebih bersemangat untuk belajar dan berpartisipasi aktif dalam kelas (Sari. Namun, meskipun ada peningkatan motivasi, kesulitan dalam mengingat dan memahami materi tetap menjadi tantangan, terutama dalam menghafal detail sejarah yang kompleks. Siswa yang memiliki kesulitan dalam mengingat informasi seringkali merasa tertekan, terutama ketika mereka membandingkan kemampuan mereka dengan teman-teman sekelas yang lebih Sebagai solusi, guru dapat memperkenalkan teknik pembelajaran yang lebih kreatif untuk membantu mengingat, seperti penggunaan mind maps, video, atau cerita sejarah yang dapat membuat materi lebih mudah diingat dan menarik bagi siswa (Prasetyo, 2. Pada siklus kedua, guru melakukan penyesuaian dengan memperbaiki pengelolaan waktu dan memberikan lebih banyak latihan bagi siswa yang kesulitan dalam mengingat materi. Pembelajaran yang lebih terstruktur, dengan pengalokasian waktu yang lebih efisien untuk setiap aktivitas, membantu siswa untuk lebih fokus pada materi. Siswa yang lebih cepat dapat diberi tugas tambahan yang memperdalam pemahaman mereka, sementara siswa yang lebih lambat diberi waktu lebih banyak untuk memahami dan berdiskusi lebih dalam tentang materi. Dengan cara ini, semua siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatan mereka masing-masing tanpa merasa terbebani (Teguh, 2. Pada tahap refleksi, penilaian terhadap pembelajaran kooperatif menunjukkan bahwa siswa lebih aktif dalam berbicara di depan kelas dan mampu mengaitkan materi SKI dengan kehidupan sehari-hari mereka. Diskusi kelompok memberikan mereka kesempatan untuk mengungkapkan pemikiran dan bertukar pandangan, yang membuat pembelajaran lebih interaktif dan bermakna. Siswa juga semakin mampu mengaplikasikan nilai-nilai dari sejarah kebudayaan Islam dalam kehidupan mereka, misalnya dengan memahami pentingnya persatuan dan kerjasama yang diajarkan dalam peradaban Islam (Zulkarnain, 2. Secara keseluruhan, penerapan model pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran SKI di MAS Harisul Khairaat Ome telah berhasil meningkatkan keterlibatan, pemahaman, dan motivasi siswa. Meskipun masih terdapat tantangan dalam pengelolaan waktu dan perbedaan kemampuan siswa, pembelajaran kooperatif terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Dengan adanya refleksi dan perbaikan yang dilakukan pada setiap siklus, diharapkan model ini dapat terus dikembangkan dan diterapkan untuk mencapai hasil yang lebih optimal dalam pembelajaran SKI (Wahyuni, 2. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan di MAS Harisul Khairaat Ome, penerapan model pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) menunjukkan hasil yang signifikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan keterlibatan siswa. Selama dua siklus penelitian, pembelajaran kooperatif terbukti mampu meningkatkan pemahaman, motivasi, dan partisipasi siswa dalam belajar SKI. Model ini menekankan pentingnya kerja sama dalam kelompok, yang memungkinkan siswa untuk saling berbagi pengetahuan, berdiskusi, dan belajar bersama, sehingga materi SKI yang awalnya dianggap sulit dan membosankan menjadi lebih menarik dan mudah dipahami. Pada siklus pertama, meskipun terdapat beberapa tantangan terkait dengan pengelolaan waktu dan perbedaan kemampuan antar siswa, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa siswa lebih aktif dan lebih termotivasi untuk belajar SKI. Diskusi kelompok memberikan kesempatan bagi siswa untuk saling bertanya, berbagi pemahaman, dan memperkaya pengetahuan mereka melalui interaksi dengan teman-teman sekelas. Kegiatan ini juga mendorong siswa untuk berpikir lebih kritis tentang materi yang dipelajari, serta mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Penerapan model ini membuat pembelajaran SKI lebih interaktif dan mengurangi kesan monoton yang sering muncul dalam pembelajaran berbasis ceramah (Budi, 2. Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah bahwa model pembelajaran kooperatif tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa tentang materi SKI, tetapi juga memperkuat keterampilan sosial mereka. Siswa belajar untuk bekerja dalam tim, menghargai pendapat orang lain, dan menyelesaikan tugas bersama-sama. Keterampilan sosial ini sangat penting untuk perkembangan pribadi siswa, karena selain mendapatkan pengetahuan akademik, mereka juga belajar untuk berkolaborasi dan berkomunikasi secara efektif dalam kelompok (Rahman, 2. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi dalam siklus pertama adalah pengelolaan waktu yang kurang efektif. Pembelajaran yang melibatkan diskusi kelompok membutuhkan waktu lebih banyak daripada yang diperkirakan, sehingga beberapa materi tidak dapat dibahas secara Hal ini menunjukkan pentingnya pengaturan waktu yang lebih efisien dalam setiap sesi pembelajaran. Pada siklus kedua, peneliti dan guru melakukan perbaikan dengan memperjelas alokasi waktu untuk setiap kegiatan, sehingga siswa dapat lebih fokus pada materi yang dibahas tanpa merasa terburu-buru (Teguh, 2. Selain itu, meskipun ada peningkatan dalam keterlibatan dan pemahaman siswa, perbedaan kemampuan siswa dalam menyerap materi tetap menjadi tantangan. Beberapa siswa lebih cepat menguasai materi, sementara yang lainnya kesulitan mengikuti ritme pembelajaran. Oleh karena itu, pada siklus kedua, dilakukan pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan mereka, sehingga setiap kelompok dapat bekerja dengan lebih efektif sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Hal ini memungkinkan siswa yang lebih cepat untuk memperdalam pemahaman mereka, sementara siswa yang lebih lambat dapat mendapatkan bimbingan lebih intensif dari teman sekelompoknya (Kurniawan, 2. Penerapan model pembelajaran kooperatif juga berhasil meningkatkan motivasi siswa. Siswa yang sebelumnya merasa bosan atau kurang tertarik dengan materi SKI mulai menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi setelah terlibat dalam kegiatan kelompok. Mereka merasa lebih bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompok, yang meningkatkan semangat mereka untuk belajar. Model ini juga membantu siswa untuk melihat keterkaitan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan mereka sehari-hari, yang membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna dan aplikatif (Sari, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kualitas pembelajaran SKI di MAS Harisul Khairaat Ome. Meskipun ada tantangan terkait dengan pengelolaan waktu dan perbedaan kemampuan siswa, penerapan model ini memberikan hasil yang positif dalam meningkatkan pemahaman, keterlibatan, dan motivasi siswa. Oleh karena itu, disarankan agar model ini terus diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut di masa depan. Dengan perbaikan yang dilakukan pada setiap siklus, diharapkan pembelajaran SKI dapat semakin efektif dan relevan dengan kebutuhan siswa (Prasetyo, 2. REFERENCES