AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Sejarah Perjalanan Wofa Dan Patung Batu Lonkili Atau Batu Elang Di Desa Waisika Kecamatan Alor Timur Laut Saron LalangpulingA. Vera Marta KabeyA. Tabita Asmiyanti SerangkaiA. Tersia LengmaluA. Petrus Mau Tellu dony5 Universitas Tribuana Kalabahi Email: saronlalangpuling@gmail. com1,vemarkabey@gmail. com 2, tabitaasmiyantiserangkai@gmail. com3,tersialengmalu@gmail. com4, petrusdony2@gamil. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggali cerita leluhur sejarah perjalanan Wofa dan patung batu lonkili atau batu elang , di kecamatan Alor timur laut, desa Waisika. Cerita rakyat ini mengisahkan kehidupan di Kampung Kamengmane, tempat nenek moyang suku Petinpu dan suku Lubuy tinggal. Kehidupan awalnya damai, namun berubah sejak kelahiran Wofa, seorang anak yang dikenal nakal dan pembangkang. Perilaku buruk Wofa membuat seluruh warga kampung, termasuk orang tuanya, kehilangan kesabaran hingga memutuskan meninggalkan Wofa sendirian. Dalam kesedihan. Wofa bertemu dengan seorang gadis bernama Lonkili, yang kemudian menjadi istrinya. Pasangan ini memulai kehidupan baru di kampung tersebut, mengikuti pesan nenek Wofa untuk memanfaatkan alam sekitar. Mereka dikaruniai empat anak, tetapi hubungan mereka menjadi tegang akibat kepercayaan yang Lonkili, merasa dikhianati oleh suaminya, akhirnya memutuskan meninggalkan keluarganya dengan kembali ke wujud aslinya sebagai burung elang. Transformasi Lonkili menjadi batu yang menyerupai burung menjadi simbol penghormatan bagi keturunannya hingga kini. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan wawancara kepada beberapa Narasumber di desa waisika. Cerita ini mengandung pesan moral tentang pentingnya menghargai keluarga, mengendalikan emosi, serta menjaga harmoni dalam hubungan sosial dan keluarga. Kata Kunci: Sejarah. Patung Batu Lonkili Atau Batu Elang PENDAHULUAN (Bhargava & Pathy, 2. Guru perlu membantu Siswa untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam pembelajaran. Selain Membagikan pengetahuan, guru juga membantu siswa untuk mengembangkan Pemikiran dan sifat ilmiah, meramalkan kemajuan di semua bidang kehidupan Dan dampaknya terhadap masyarakat, dan melestarikan dan mentransmisikan Nilai-nilai yang dipelihara oleh masyarakat (Firdaus, 2. Situs Sejarah yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 yang dijadikan sebagai sumber belajar ini akan mempermudah dalam Upaya mengembangkan kesadaran sejarah lokal Menurut Wasino . dalam bukunya menyatakan sumber sejarah Berdasarkan bentuknya dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu sumber benda . angunan, perkakas, senjat. , sumber tertulis . , sumber lisan . asil Wawancar. Bangsa Yang tidak mengenal sejarahnya manusia dapat Diibaratkan seorang individu yang telah kehilangan Memorinya, ialah orang yang pikun atau sakit jiwa, maka Dia kehilangan kepribadian atau identitasnya (Kartodirdjo,1. Secara umum, para ahli sepakat bahwa sejarah budaya Indonesia adalah hasil dari proses panjang yang melibatkan interaksi antara budaya lokal dengan berbagai pengaruh asing. Proses ini tidak hanya mencerminkan adaptasi, tetapi juga kreativitas dan dinamika masyarakat Indonesia dalam menciptakan identitas budaya yang unik. Cerita rakyat merupakan salah satu bentuk warisan budaya yang mengandung pesan moral dan nilai-nilai kehidupan. Kisah Wofa dan Longkili dari kampung Kamengmane merupakan legenda lokal yang memiliki unsur pendidikan serta memperlihatkan konsekuensi dari sifat buruk dan usaha untuk bertahan hidup dalam keterasingan. Pada zaman dahulu, hiduplah dua suku bernama Suku Petinpu dan Suku Lubuy di sebuah kampung bernama Kamengmane, yang terletak di Desa Waisika. Kecamatan Alor Timur Laut. Kehidupan masyarakat di kampung ini sebagian besar bergantung pada bertani, berburu, dan melaut. Awalnya, kehidupan di sana berlangsung damai dan harmonis. Namun, situasi berubah dengan lahirnya seorang anak bernama Wofa. Wofa adalah anak tunggal dari sebuah keluarga kecil. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang pembangkang dan semakin nakal seiring bertambahnya usia. Kelakuannya sering membuat teman-temannya kesal, hingga mereka mengadu kepada orang tua masing-masing. Meski telah dinasihati dan dididik dengan keras oleh orang tuanya. Wofa tidak menunjukkan Akibat ulahnya. Wofa menjadi sosok yang dibenci oleh warga kampung, termasuk oleh kedua orang tuanya, yang merasa malu dan kecewa. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Keadaan memuncak ketika seluruh warga kampung, termasuk orang tua Wofa, memutuskan untuk meninggalkan kampung itu tanpa memberitahunya. Kisah ini kemudian menjadi awal perjalanan panjang Wofa dalam menjalani hidupnya sendiri, penuh dengan berbagai kejadian yang mengubah takdirnya. METODE PENGABDIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Analisis data penelitian Menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ialah Data kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua cara, yaitu observasi Lapangan dan Wawancara dilakukan dengan beberapa tokoh adat yaitu : . Cristofora Natalia Langko,. Yosep Langko. dengan Teknik analisis data yang digunakan, yaitu analisis deskriptif kualitatif. HASIL PENGABDIAN DAN PEMBAHASAN Pada zaman dahulu, hiduplah nenek moyang suku petinpu dan suku lubuy di kampung AukamengmaneAy kampung tersebut berada di desa waisika kecamatan alor timur laut. Ratarata kehidupan orang-orang di kampung itu ialah bertani, berburu dan melaut. Awalnya kehidupan di kampung tersebut terasa sangat aman dan damai. namun dengan berjalannya waktu situasi kehidupan kampung tersebut pun berubah. Hal ini bermula dari lahirnya seorang anak laki-laki bernama WOFA. Wofa adalah anak tunggal dari sebuah keluarga Wofa tumbuh besar dan menjadi anak yang pembangkang. Semakin besar usianya semakin besar pula kenakalannya. Wofa suka mengusik bahkan berkelahi dengan teman-teman seusianya. Setiap kali ketika anak tetangga pulang bermain, mereka selalu mengadu kepada orang tua mereka tentang kelakuan buruk Wofa. Orang tua wofa sudah menasehatinya bahkan mendidik dengan keras pun tetap saja sikap wofa tidak berubah sama sekali. Akibat dari perbuatannya ini membuat warga kampung tidak saja membenci wofa tetapi juga membenci ayah dan Sikap Wofa tentu saja sangat menjatuhkan nama baik kedua orang tuanya. Ayah ibunya cukup menahan malu atas kelakuannya, akibat kenakalannya ayah ibunya menjadi yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Sehingga kedua orang tua tidak mau lagi menerima wofa sebagai anak Suatu ketika orang-orang sekampung begitu juga kedua orang tua Wofa berkumpul untuk merundingkan siasat yang tepat untuk mengatasi sifat nakal Wofa. Dalam pertemuan tersebut mereka bersepakat untuk pergi ke tempat yang jauh meninggalkan Wofa sendiri di kampung yang sedang mereka tinggal itu. Seluruh warga setuju dan strategi pun dimulai. Keesokan harinya ketika waktu masih pagi benar ayah wofa kemudian menyuruh wofa untuk pergi menimba air di kali salbang. Seperti biasa Wofa lalu mengambil penimbah yang terbuat dari bambu dan pergi mengambil air. Pada waktu yang sama warga sekampung kemudian mengemas semua harta benda untuk bawa pergi dari kampung itu. Sementara itu di kali. Wofa kelihatan asyik menunggu air tadahannya sambil mencari udang maupun kepiting dibalik bebatuan kali. Selang beberapa jam Wofa dikejutkan oleh kokokan ayam jantan merah. Beginilah bunyi kokok yang pertama: AuKukkureko. !Ay, kau punya ayah ibu sedang bersiap-siap berangkat ke negeri yang jauhAy. Wofa mendengar suara itu tetapi ia tidak menghiraukannya. Ayam jantan merah pun kemudian berkokok yang kedua kalinya dengan kalimat yang sama AuKukkureko. Aukau punya ayah ibu sedang bersiap-siap berangkat ke negeri yang jauhAy. Wofa mendengar tetapi ia tidak memperdulikan hal tersebut. Ia pun lanjut mencari udang dan kepiting di balik daun dan batu-batu kali. Tak putus asa dengan kejadian tersebut ayam jantan merah pun kemudian mengeluarkan kokokan ketiga kalinya . AuWofa. cepatlah kau pulang ke kampungmu. !!!Ay,Ay orang tuamu beserta Semua Akan pergi meninggalkanmu. Mereka hendak pergi ke tempat yang jauhAy. Setelah mendengar kokokan yang ketiga. Wofa sadar karena air yang sejak tadi ditada belum juga penuh. Untuk memastikan hal tersebut. Wofa kemudian memeriksa bambu penimbahnya dengan teliti. Dan ternyata di dasar bambu sudah ada lubang-lubang kecil yang sengaja dibocorkan. Wofa langsung menangis teriak memanggil ayah dan ibunya. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Ia meninggalkan bambu airnya dan berlari dari kali salbang menuju ke kampung. Setibanya di sana kampung yang tadinya ramai Ternyata Sudah Sepi karena ditinggal oleh semua Pandang ke kiri kanan hanyalah rumah-rumah kosong yang tampak berdiri, tangisan wofa semakin kencang. Iya teriak memanggil ayah dan ibunya, sayangnya tak ada satupun suara manusia yang dapat membalasnya. Wofa menangis terisak-isak dan berlari ke arah pantai pukka (Bukula. Setibanya di sana ia melihat perahu perahu sedang berlayar ke tengah laut dengan berbagai arah. Wofa langsung membuang diri ke laut berusaha berenang mendekati perahu-perahu tersebut. Iya berhasil menemukan perahu keluarganya dan berusaha menggapai perahu tersebut, tetapi bapaknya dengan penuh amarah mengangkat sebuah parang untuk menghalanginya dengan cara memotong tangan wofa yang sudah menggapai mulut perahu. Namun karena belas kasih sang nenek terhadap cucu kandungnya (Wof. , dia pun ikut menghalangi ayunan parang dari sang ayah tersebut dan akhirnya Wofaa pun melepaskan pegangan tangan dari perahu tersebut setelah itu neneknya wofa memberi pesan kepada cucunya katanya AuHai. cucuku yang terkasih . Aukami akan pergi ke tempat yang jauh dan tidak akan kembali lagiAy. Auoleh karena ituAy. Auengkau pulang saja dan tinggallah di !!!Ay. Auuntuk kebutuhan hidupmu sehari-hari nenek sudah siapkan segala bibit yang ada di bawah gudang dekat tungkuAy. Aukarena itu pergilah dan tangkaplah belalang belalang dan ikatlah belalang belalang itu mengelilingi gudang besar yang akan kau tempati, kemudian bakarlah gudang-gudang yang lain yang ada di kampung itu, karena belalang-belalang itu akan melindungi gudang yang akan kau tempati sehingga tidak akan terbakar. Setelah itu jadikanlah tempat gudang-gudang yang terbakar itu menjadi kebunmuAy. Ini sudah menjadi takdir kita Yang harus kita lalui, karena kau sendiri pun bisa hidup karena alam ini penuh dengan kekayaanAy. Maka dengan hati yang penuh kekecewaan dan penyesalan, wofapun memalingkan wajahnya ke arah kampung tersebut dan berusaha berenang kembali ke Tepi pantai. Ketika Wofa sedang berusaha berenang dan hampir mencapai tepi pantai, tiba-tiba terbanglah seekor burung rajawali mendekatinya dari arah Timur, dan sementara Wofa memandang burung rajawali tersebut tiba-tiba burung rajawali tersebut berubah wujud dan wofa terkejut melihat kejadian tersebut karena burung rajawali itu telah berubah wujud menjadi seorang yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 gadis cantik yang sedang berdiri di hadapannya. Gadis itu pun kemudian bertanya kepada Wofa Aumengapa engkau menangis ?Ay wofa lalu menunjukkan jarinya ke tengah laut sambil berkata Aulihatlah perahu-perahu di sana, orang tuaku dan semua keluargaku pergi meninggalkan aku sendirianAy. Gadis itu pun merasa iba mendengar hal itu. Kemudian wofa menceritakan semua kejadian yang ia alami hari itu dan mereka pun saling berkenalan, dan ternyata gadis itu bernama AuLONKILIAy. Dan longKili pun menceritakan bahwa ia juga hidup seorang diri, setelah perkenalan itu wofa lalu mengajak longkili untuk pergi tinggal di kampungnya. Setelah mereka sampai di kampung. Wofapun melakukan semua amanat yang di sampaikan neneknya tadi. Mereka menangkap belalang- belalang kemudian diikatkannya belalangbelalang itu pada tiris gudang mereka lalu gudang-gudang yang lain yang ada di kampung itu mereka bakar maka Semua gudang terbakar habis kecuali gudang tempat tinggal mereka. Kemudian bekas gudang-gudang yang terbakar itu, mereka jadikan kebun mereka. kampung kamengmane Wofa dan longkii hidup bersahabat hingga dewasa. Seiring berjalannya waktu wofa dan lonkili yang tadinya mereka bersahabat sekarang mereka menjadi sepasang suami istri dan mereka dikaruniai empat orang anak, tiga orang laki-laki dan seorang perempuan. Anak-anak mereka belum memiliki namanya masing-masing. Wofa sebagai suami tidak tahu harus memberi nama apa kepada anak-anaknya. Karena ia ditinggal keluarganya sejak ia masih kecil sehingga nama- nama dari keturunannya dia tidak tau. Kemudian Wofa mengatur strategi untuk mengetahui isi hati istrinya (Lonkil. Di suatu pagi Wofa terbaring kaku bagaikan sesosok mayat. Istrinya memanggil untuk membangunkannya karena hari sudah pagi dan matahari sudah terbit. Tetapi Wofa masih tidur dan berpura-pura sudah Wofa menahan napas yang panjang saat istrinya mencoba menggoyang-goyang tubuh Wofa namun Wofa tidak ada reaksi dan tetap berbaring bagai sesosok mayat. Istrinya Lonkili dengan Spontan berkati AuOh suami saya sudah meninggal dunia Au Istrinya pun menangis. Ia menangis dengan suara yang keras sambil berkata :AyDai Maolang. Tuli yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Maolang. Maolang. Api MaolangAy! Sekarang kalian tidak punya bapak lagi. Bapak kalian telah pergi untuk selamanya. Setelah Lonkili mengucapkan kata-kata itu. Wofapun kemudian terbangun dari Purapura Matinya. Kemudian Ia pun memberi nama kepada Keempat anaknya ( Dai Maolang. Tuli Maolang. Maolang. Api Maolan. Melihat Wofa yang Terbangun dari tidur panjangnya. Longkili Istrinya Sangat terkejut tetapi merasa kesal karena ia telah ditipu oleh suaminya Wofa. Akibat dari kejadian itu Lonkili Kemudian menaruh dendam terhadap suaminya Wofa. Wofa merasa niat dan caranya itu baik, tetapi Tidak untuk istrinya Longkili Karena merasa ia di permainkan. Ia benar-benar benci terhadap Wofa suaminya atas kejadian itu. Akhirnya di suatu pagi. Saat wofa sedang mengasa parang di bawa gudang tempat tinggal mereka , ia mendengar anak bungsunya menangis karena lapar dan haus. Cukup lama anak itu menangis walaupun istri bersama Keempat anaknya berada di dalam gudang tempat tinggal mereka. Wofa lalu meneriaki istirinya dan berkata Auanak ada menangis tuAy, tepi istirahat diam dan tidak membalas. Anak itu menangis sejadi-jadinya yang membuat Wofa emosi dan berkata kepada istri AuLonkili , sebentar saya potong kamu dengan parang ini. Tetapi istrinya tetap diam dan tidak menjawab. Anak itu pun semakin menangis. Wofapun kemudian naik ke dalam gudang tempat tidur mereka, untuk melihat apa yang sedang Dan ternyata istrinya Longkili sedang menjahit ulang bulu burungnya yang sudah lama ditinggalkan, dan beberapa bagian dari tubuhnya termasuk tangan sudah berubah menjadi bulu burung elang. Ternyata sejak pagi istrinya sudah menjahit bulu-bulu pada tubuhnya kembali sehingga tidak menghiraukan anaknya yang menangis. Dan begitu Wofa sudah sampai di gudang tempat tinggal mereka. Istrinya Longkili langsung terbang meninggalkan Wofa suaminya dan Keempat anaknya. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Gambar: Wofa Dan Patung Batu Lonkili Atau Batu Elang Lonkili terbang ke arah timur tempat dari mana Ia datang. Ketika ia sampai di atas sebuah batu besar, iya membalikan pandangannya ke tempat suami dan anak-anaknya Karena anaknya yang bungsu menangis. Dan seketika itu juga ia pun berubah menjadi Batu Menyerupai Elang Tempat Lonkili dinamaiAuKiligafunaAy Artinnya Muka burung. Dari saat itu hingga sekarang oleh KESIMPULAN Cerita rakyat Wofa dan Longkili adalah cerminan dari nilai-nilai budaya dan moral masyarakat Alor Timur Laut. Kisah ini mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan pentingnya hubungan harmonis antara manusia, keluarga, dan lingkungan. Sebagai bagian dari warisan budaya, cerita ini perlu dilestarikan untuk memberikan pelajaran hidup kepada generasi mendatang. SARAN Pendidikan Karakter: Kisah Wofa dapat dijadikan contoh untuk menanamkan nilainilai karakter seperti tanggung jawab, hormat pada orang tua, dan pentingnya hidup yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Pelestarian Budaya: Perlu diupayakan dokumentasi cerita rakyat seperti ini melalui buku atau media digital agar tidak hilang ditelan zaman. Pemanfaatan Potensi Lokal: Pesan nenek Wofa tentang memanfaatkan kekayaan alam secara bijaksana dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal di masyarakat modern. DAFTAR PUSTAKA