Widiastuti, dkk / Tropical Animal Science 7. :16-29 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 Tropical Animal Science. Mei 2025, 7. :16-29 DOI: 10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas KEANEKARAGAMAN JENIS HIJAUAN SEBAGAI SUMBER PAKAN TERNAK PADA BERBAGAI ZONA AGROEKOLOGI DI KABUPATEN BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA FORAGE SPECIES DIVERSITY AS A SOURCE OF ANIMAL FEED IN VARIOUS AGROECOLOGICAL ZONES IN BANTUL DISTRICT SPECIAL REGION OF YOGYAKARTA Lusia Komala Widiastuti1*. Kusuma Adhianto1. Bayu Andri Atmoko2 1Jurusan Peternakan. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Indonesia 2Pusat Riset Peternakan. Badan Riset dan Inovasi Nasional. Indonesia *E-mail korespondensi: lusiakomala@fp. ABSTRAK Kambing merupakan salah satu ruminansia kecil yang berkontribusi signifikan dalam sistem peternakan rakyat dan berperan dalam meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan di Indonesia. Ketersediaan hijauan sebagai komponen utama pakan kambing biasanya bergantung pada kondisi bentang alam dan perbedaan zona agroekologi. Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki tiga zona agroekologi yang berbeda yaitu daerah perbukitan, dataran rendah, dan daerah pesisir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi keragaman pakan ternak di setiap zona agroekologi di Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta yang dapat digunakan sebagai informasi dan ilmu pengetahuan terkait dengan keanekaragaman hijauan pakan yang menjadi ciri khas dari masing-masing zona Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan survei, yang mencakup observasi dan pencatatan jenis pakan di lingkungan tempat tinggal peternak, serta wawancara langsung dengan peternak kambing di tiga zona agroekologi: pesisir, dataran rendah, dan perbukitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing zona agroekologi memiliki jenis hijauan pakan yang khas, tergantung pada faktor-faktor seperti kemiringan lahan, jenis tanah, dan Zona dataran rendah menunjukkan keanekaragaman hijauan pakan tertinggi dibandingkan zona lainnya. Keanekaragaman hijauan di berbagai zona agroekologi adalah gambaran dari ketersediaan bahan pakan lokal dan potensi pemanfaatannya oleh peternak, yang nantinya dapat mempengaruhi manajemen pemberian pakan oleh peternak sesuai dengan kondisi lingkungan dari masing-masing zona agroekologi di Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta. Kata kunci: Hijauan pakan. Kambing. Zona agroekologi Widiastuti, dkk / Tropical Animal Science 7. :16-29 ABSTRACT Goats are one of the small ruminants that contribute significantly to the smallholder livestock system and play a role in increasing the income of rural communities in Indonesia. Forage availability as the main component of goat feed usually depends on landscape conditions and different agroecological Bantul Regency. Special Region of Yogyakarta, has three different agroecological zones: hilly areas, lowland, and coastal areas. This study aims to determine the diversity of forage in various agroecological zones in Bantul Regency. Yogyakarta Special Region as a basis for making policies for developing livestock populations based on the potential of available forage. The research was conducted using a survey method by observing and inventorying the environment around the farmer's residence and interviewing goat farmers in the agroecological zones of coastal areas, lowland, and hilly areas. The results showed that each agroecological zone has a distinctive type of forage, depending on factors such as land slope, soil type, and The lowland zone showed the highest forage diversity compared to other zones. The availability of varied forage as a source of animal feed can affect the productivity of goats, which is an important component of the smallholder farming system in Bantul Regency. Keywords: Forage. Goats. Agroecological zones PENDAHULUAN Kontribusi kecil lebih peternakan rakyat dan 90% peternakan di Indonesia masih berbasis peternakan rakyat. Ternak kambing dianggap penting dalam komponen usaha tani (Budisatria et al. , 2. Hal ruminansia kecil seperti domba dan kambing memberikan peran penting sebagai mata pendapatan masyarakat serta digunakan sebagai tabungan (Haenlein dan Ramirez. Budisatria dan Udo, 2013. Central Statistic Agency, 2015. Mhlanga et al. , 2. Kambing memiliki beberapa keunggulan seperti membutuhkan lebih sedikit pakan, lebih mampu mencerna serat (Desiere et al. pemeliharaan yang luas, kidding interval yang pendek, tenaga kerja yang dibutuhkan sedikit, kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan dan pakan yang terbatas, serta multiguna sebagai ternak penghasil daging dan susu. Kambing dapat dipelihara dengan baik oleh anggota keluarga seperti ibu dan anak-anaknya pemeliharaan yang sederhana (Widiastuti et , 2. Dalam mendukung pengembangan usaha ternak kambing, pakan yang terdiri dari hijauan dan konsentrat menjadi komponen utama bagi kebutuhan nutrient pada ternak kambing, terutama hijauan yang berperan penting sebagai sumber serat kasar bagi ternak ruminansia (Koten et al. , 2. Performa ternak dipengaruhi oleh kualitas hijauan, yaitu kandungan nutrien yang dimiliki oleh hijauan tersebut (Cleland et al. Permasalahan yang sering terjadi dalam pemeliharaan ternak kambing salah (Suwignyo et al. , 2012. Aryanto et al. , 2. akibat adanya perbedaan unsur wilayah. Ketersediaan mempengaruhi pemberian hijauan oleh peternak, di mana peternak rakyat skala kecil yang umumnya mengandalkan ketersediaan hijauan di lingkungan sekitar tempat tinggal dan biasanya suatu wilayah biasanya memiliki keanekaragaman pakan yang Widiastuti, dkk / Tropical Animal Science 7. :16-29 sesuai dengan kondisi bentang alamnya yang diklasifikasikan sebagai zona agroekologi. Basri et al. mengklasifikasikan zona agroekologi berdasarkan kemiringan lahan dan sistem pertanian yang ada di dalamnya yaitu zona I . aerah pegunungan atau perbukitan yang sangat curam dengan kemiringan >40%) yang mencakup hutan lindung dan hutan produksi. zona II . aerah perbukitan yang curam dengan kemiringan 16Ae40%) yang terdiri dari sistem perkebunan monokultur atau campuran. zona i . aerah perbukitan yang landai dan dataran rendah dengan kemiringan 8Ae15%) yang terdiri dari tanaman semusim yang diusahakan bersama tanaman tahunan. dan zona IV . aerah dataran rendah dengan kemiringan <8%) yang dapat ditanam sebagian besar tanaman Dengan agroekologi ini tentunya mendukung penyebaran ternak kambing di berbagai Indonesia keanekaragaman bentang alamnya. Salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Kabupaten Bantul yang masyarakatnya banyak beternak kambing dengan luas wilayah sekitar 15,91%. Berdasarkan karakteristik bentang alamnya. Kabupaten Bantul terbagi menjadi tiga zona agroekologi yaitu dataran rendah di wilayah membentang di wilayah timur dan barat, serta kawasan pesisir yang membentang di bagian selatan (Budisatria, 2006. Widiastuti. Populasi kambing cenderung lebih tinggi di daerah perbukitan meskipun keanekaragaman pakan relatif rendah (Tabel Hal ini disebabkan oleh kemampuan adaptif kambing yang tinggi. Selain itu, keanekaragaman pakan hijauan di daerah perbukitan biasanya cenderung lebih disukai kambing karena banyak didominasi oleh tanaman leguminosa pepohonan yang memang banyak tumbuh di daerah perbukitan (Budisatria, 2. Faktor-faktor ini menjadikan kambing sebagai pilihan ternak utama di lahan marginal seperti Tabel 1. Populasi kambing berdasarkan kecamatan di Kabupaten Bantul pada 2019 dan 2020 Populasi Kambing (Eko. Kategori Zona Kecamatan Agroekologi Srandakan Daerah pesisir Sanden Daerah pesisir Kretek Daerah pesisir Pundong Dataran rendah Bambanglipuro Dataran rendah Pandak Dataran rendah Bantul Dataran rendah Jetis Dataran rendah Imogiri Daerah perbukitan Dlingo Daerah perbukitan Pleret Daerah perbukitan Piyungan Daerah perbukitan Banguntapan Dataran rendah Sewon Dataran rendah Kasihan Daerah perbukitan Pajangan Dataran rendah Sedayu Dataran rendah Jumlah (Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Bantul, 2. Widiastuti, dkk / Tropical Animal Science 7. :16-29 Kabupaten Bantul sendiri memiliki tiga zona agroekologi yang diklasifikasikan menjadi wilayah perbukitan . ona II dan . , dataran rendah . ona IV), dan daerah pesisir . ona IV) (Gambar . yang sebagian besar didominasi oleh peternak kambing skala kecil. Perbedaan zona agroekologi mempengaruhi vegetasi hijauan pakan yang tumbuh di dalamnya. Sarwanto & Prayitno . dan Sarwanto et al. mempunyai varietas pakan yang berbeda dan perlu dikaji potensinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi keragaman pakan ternak di setiap zona agroekologi di Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta yang dapat digunakan sebagai informasi dan ilmu pengetahuan terkait dengan keanekaragaman hijauan pakan yang menjadi ciri khas dari masingmasing zona agroekologi. Secara umum, kondisi kemiringan lahan di Kabupaten Bantul sangat beragam. Pengelompokan kemiringan lahan di wilayah ini meliputi lima kategori: datar, landai, agak curam, curam, dan sangat Sebagian besar area Kabupaten Bantul merupakan lahan datar yang tersebar di bagian selatan, tengah, dan utara. Jika dipetakan menurut kecamatan. Dlingo dan Imogiri kemiringan dari curam hingga sangat curam paling luas, sedangkan Sewon dan Banguntapan didominasi oleh lahan datar. Untuk kemiringan lahan datar hingga agak curam tersebar berada di Kecamatan Pajangan dan Kecamatan Kasihan. Kelas kemiringan lahan curam tersebar di sebagian Piyungan (Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Bantul, 2. Desa Sendangsari Kecamatan Pajangan memiliki kemiringan lahan relatif datar sampai landai . dengan kemiringan kurang dari 8% dan ketinggian antara 25Ae50 meter di atas permukaan air laut dan mencakup 60% dari luas wilayah Kecamatan Pajangan (Nugroho, 2. MATERI DAN METODE Lokasi penelitian ditentukan secara purposive sampling yaitu penentuan lokasi secara sengaja berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan klasifikasi zona agroekologi yaitu daerah pesisir, dataran rendah, dan daerah Kecamatan Sanden Srandakan mewakili zona agroekologi Kecamatan Pajangan mewakili zona agroekologi dataran rendah, serta Kecamatan Dlingo dan Imogiri perbukitan (Ilustrasi . Pertimbangan pemilihan lokasi ini berdasarkan klasifikasi zona agroekologi yaitu kemiringan lahan dan sistem tanaman pangan yang berbeda sehingga kecamatan tersebut dijadikan lokasi penelitian. Selain itu, penentuan lokasi ditetapkan pada kecamatan yang Penelitian dilakukan dengan metode inventarisasi di lingkungan sekitar tempat tinggal peternak serta wawancara secara langsung ke peternak kambing yang ada di zona agroekologi daerah pesisir, dataran rendah, dan daerah perbukitan. Data kemudian dianalisis secara deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Kabupaten Bantul terletak secara astronomis pada koordinat 07A44A04AAe 08A00A27A LS dan 110A12A34AAe110A31A08A BT. Wilayahnya mencakup dataran tengah, perbukitan di bagian timur dan barat, serta zona pesisir di selatan (Pemerintah Kabupaten Bantul, 2. Luas total Kabupaten Bantul adalah 514. 049 mA, setara dengan 15,90 % dari luas Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Topografinya terbagi menjadi lahan datar seluas 40 % dan perbukitan seluas 60 %, yang sebagian besar kurang subur. Secara rinci, di barat membentang perbukitan memanjang utaraAe selatan seluas 89,86 kmA. di tengah Widiastuti, dkk / Tropical Animal Science 7. :16-29 terhampar dataran dan landai subur seluas 210,94 kmA. sedangkan di timur terdapat kawasan landai hingga terjal seluas 206,05 kmA yang kondisinya lebih baik daripada di barat. Sementara itu, di selatan, wilayah pantai berpasir dan semiselektif laguna meliputi Kecamatan Srandakan. Sanden, dan Kretek. Ilustrasi 1. Peta kemiringan lereng di Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia (Widiastuti, 2. Dalam sektor pertanian, pemanfaatan lahan diarahkan untuk sawah atau ladang, pemukiman keluarga. Berdasarkan hasil observasi, rata-rata kepemilikan lahan sawah pada zona agroekologi daerah pesisir 620 m2, dataran rendah seluas 844,44 m2, dan daerah perbukitan seluas 350 m2, sedangkan rata-rata kepemilikan lahan perkebunan pada zona agroekologi daerah pesisir seluas 700 m2, dataran rendah 550 m2, dan di daerah perbukitan 064,62 m2. Peternak di zona agroekologi daerah perbukitan memiliki areal persawahan yang lebih sedikit dan kepemilikan lahan perkebunan yang lebih luas. Begitupun sebaliknya, pada zona agroekologi daerah pesisir dan dataran rendah, kepemilikan areal sawah lebih tinggi jika dibandingkan dengan lahan perkebunan. Hal ini disebabkan karena zona agroekologi daerah pesisir dan dataran rendah memiliki karakteristik lahan yang sesuai untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan. Widiastuti, dkk / Tropical Animal Science 7. :16-29 Tabel 2. Keanekaragaman hijauan pakan pada zona agroekologi yang berbeda di Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta Zona Agroekologi Daerah Pesisir Dataran Rendah Daerah Perbukitan Daun tanaman dan semak Allium cepa Terminalia catappa L. Swietenia mahagoni Durio zibethinus Swietenia mahagoni Mangifera indica Cnidoscolus aconitifolius Artocarpus heterophyllus Artocarpus heterophyllus Zingiber zerumbet Cnidoscolus aconitifolius Manihot utilisima Manihot utilisima Zingiber zerumbet Pilea melastomoides Pterocarpus indicus Ceiba pentandra Gliricidia sepium Muntingia calabura L. Manilkara zapota Ipomoea batatas Muntingia calabura L. Hibiscus tiliaceus L. Acalypha siamensis 10 Gliricidia sepium Gliricidia sepium 11 Leucaena leucocephala Leucaena leucocephala 12 Calliandra sp. Rumput, limbah pertanian, dan lain-lain Native grass Brachiaria mutica Brachiaria humidicola Setaria sphacelata . Widiastuti, dkk / Tropical Animal Science 7. :16-29 . Gambar 1. Keanekaragaman pakan di daerah pesisir: Allium cepa . Durio zibethinus . Cnidoscolus aconitifolius . Zingiber zerumbet . Manihot utilisima . Pterocarpus indicus . Muntingia calabura L. Ipomoea batatas . Hibiscus tiliaceus L. Gliricidia sepium . Leucaena leucocephala . Native grass . Jenis hijauan pakan yang diberikan oleh peternak kambing baik di daerah pesisir, dataran rendah, maupun daerah perbukitan bervariasi. Peternak di dataran rendah mempunyai jenis pakan yang relatif lebih banyak . jenis paka. dibandingkan dengan daerah pesisir . dan daerah perbukitan . yang tersaji pada Tabel Keanekaragaman hijauan pakan ini disebabkan oleh perbedaan kemiringan masing-masing agroekologi yang menyebabkan adanya perbedaan vegetasi, di mana pertumbuhan suatu vegetasi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kesuburan tanah, jenis tanah, dan musim. Hal ini didukung oleh Yamani . , pertumbuhan suatu vegetasi didukung oleh kesuburan tanah yang nantinya akan mempengaruhi kandungan unsur hara, di mana kesuburan tanah bergantung pada jenis tanah. Jenis tanah bervariasi yang dipengaruhi juga oleh perbedaan altitude dan slope yang mempengaruhi jenis vegetasi yang tumbuh. Jenis vegetasi yang banyak berada di daerah pesisir adalah tanaman pemecah (Maroeto dan Sasongko, 2004. Suryanto dan Prasetyawati, 2. Produksi rambanan yang berasal dari tanaman pemecah angin sangat melimpah dan hijauan tersebut sangat cocok sebagai pakan kambing (Utomo, 2. Tanaman pemecah angin yang terdapat di daerah pesisir yaitu glirisidae (Gliricidia sepiu. (Gambar 1. dan lamtoro (Leucaena leucocephal. (Gambar . Tanaman glirisidae merupakan salah satu pakan utama bagi ternak kambing di daerah pesisir. Produksi daun glirisidae berkisar antara 1,3Ae2,6 kg/potong/pohon atau sekitar 40 ton/ha/tahun dengan interval waktu pemotongan rata-rata tiga bulan (Utomo, 2. Pada dataran rendah dan pesisir . ona IV) didominasi oleh tanaman pertanian dan juga pemanfaatan rumput sebagai pakan Hal ini juga didukung oleh Susanti dan Marhaeniyanto . bahwa peternak di lokasi dengan ketinggian lebih tinggi lebih banyak memanfaatkan daun tanaman sebagai sumber pakan ternak kambing, sedangkan pada lokasi dengan ketinggian yang lebih rendah juga memanfaatkan daun tanaman, rumput-rumputan, dan limbah Widiastuti, dkk / Tropical Animal Science 7. :16-29 . Gambar 2. Keanekaragaman pakan di dataran rendah: Terminalia catappa L. Swietenia mahagoni . Artocarpus heterophyllus . Cnidoscolus aconitifolius . Zingiber zerumbet . Ceiba pentandra . Manilkara zapota . Muntingia calabura L. Acalypha siamensis . Gliricidia sepium . Leucaena leucocephala . Calliandra sp. Brachiaria mutica . Widiastuti, dkk / Tropical Animal Science 7. :16-29 Zona agroekologi dataran rendah memiliki keanekaragaman hijauan pakan yang paling tinggi dibandingkan dengan dua zona agroekologi lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh kemiringan lahan dan perbedaan kondisi lingkungan dan ekologi dari masing-masing zona agroekologi. Faktor yang pertama yaitu kondisi tanah yang lebih subur di dataran rendah membuat keanekaragaman hijauan pakan lebih tinggi dibandingkan dengan dua zona agroekologi lainnya . aerah perbukitan dan daerah pesisi. Menurut Lal . dan Chalise et al. , dataran rendah memiliki tanah yang lebih subur karena proses sedimentasi dan akumulasi bahan organik yang lebih tinggi seperti kandungan N. P, dan K. Hengl et al. dan Bhandari et al. menambahkan bahwa dataran rendah dengan kandungan organik yang beragam vegetasi hijauan pakan. Selain itu, kondisi tanah di dataran rendah cenderung memiliki pH yang lebih netral dan kandungan nutrisi yang optimal untuk pertumbuhan hijauan pakan. Pada zona agroekologi daerah perbukitan, tanah sering mengalami erosi akibat kemiringan lahan yang tinggi . ona II dan . sehingga menyebabkan hilangnya lapisan tanah yang Sementara itu, di zona agroekologi daerah pesisir, salinitas atau kadar garam yang terlarut dalam tanah lebih tinggi dan menghambat pertumbuhan vegetasi hijauan pakan yang lebih beragam. Oleh sebab itu, di daerah pesisir Kabupaten Bantul lebih didominasi tanaman dengan perakaran tunggang seperti lamtoro, glirisidae dan tidak ada rerumputan seperti rumput odot, rumput gajah, dan lain-lain. Faktor yang kedua yaitu ketersediaan Ketersediaan air merupakan faktor keanekaragaman hijauan pakan. Zona agroekologi dataran rendah umumnya memiliki akses yang lebih baik terhadap sumber air seperti sungai, danau, dan air Dataran rendah di Kabupaten Bantul didominasi oleh areal persawahan yang dikelilingi oleh irigasi yang mengalir dari arah utara (Gunung Merapi di Kabupaten Sleman. Daerah Istimewa Yogyakart. ke arah Selatan . esisir Pantai kecamatan Kretek. Daerah Istimewa Yogyakart. , berbagai vegetasi pakan yang disukai kambing seperti rerumputan, leguminosa, glirisidae, dan sebagainya. Lasota dan Blonska . memaparkan bahwa dataran rendah biasanya cenderung memiliki sistem drainase alami yang baik dengan aliran sungai atau danau yang menyediakan air secara konsisten. Pada zona agroekologi daerah perbukitan, biasanya terjadi erosi tanah akibat kemiringan lahan yang curam sehingga mengurangi kemampuan tanah untuk menahan air (Garcia-Tejero et al. Daerah perbuktian juga memiliki kedalaman tanah yang dangkal dan tipis, sehingga kapasitas menyimpan air lebih rendah (Nyssen et al. , 2. Oleh karena itu, keanekaragaman hijauan pakan di daerah perbukitan lebih rendah dibandingkan dengan dua zona agroekologi lainnya. Daerah pesisir biasanya menghadapi tantangan terkait dengan ketersediaan air karena kondisi tanah yang sebagian besar berpasir memiliki kemampuan menahan air yang rendah (Mathiventhan et al. , 2. Oleh karena itu, hijauan pakan berbentuk rumput tidak banyak berkembang di daerah Faktor yang ketiga yaitu pengaruh dari aktivitas manusia dan pengelolaan Menurut Macdicken . , dataran rendah lebih mudah diakses untuk budidaya tanaman pakan ternak seperti rumput-rumputan, pengembangan sistem pertanian intensif. Hal ini didukung oleh kemiringan lahan yang rendah pada zona agroekologi ini . ona IV) sehingga banyak peternak yang memiliki areal persawahan yang memiliki beberapa vegetasi hijauan pakan yang tumbuh di sepanjang sisi areal persawahan. Setelah melakukan aktivitas pertanian, pada umumnya peternak mencari rumput yang ada di sekitar areal persawahan yang Widiastuti, dkk / Tropical Animal Science 7. :16-29 dimiliki untuk nantinya diberikan ke ternak Sementara itu, pada daerah perbukitan Kabupaten Bantul banyak dimanfaatkan untuk penanaman tanaman dimanfaatkan sebagai area wisata. Pada daerah pesisir Kabupaten Bantul, banyak dilakukan aktivitas penambangan pasir. Hal ini sesuai dengan pendapat Nahdi et al. bahwa daerah perbukitan dan pesisir seringkali dimanfaatkan untuk kegiatan non-pertanian . ekreasi dan pertambanga. atau mengalami degradasi akibat overgrazing atau penggembalaan yang berlebihan. Faktor yang keempat yaitu adaptasi spesies terbatas di lingkungan ekstrim. Grigore et al. memaparkan bahwa hanya sedikit spesies tanaman yang mampu beradaptasi dengan kondisi ekstrim seperti salinitas tinggi di daerah pesisir dan kondisi tanah yang berbatu di daerah perbukitan. Sebaliknya, zona agroekologi dataran rendah menyediakan habitat yang lebih AuramahAy bagi banyak spesies tanaman sehingga mendukung keanekaragaman dibandingkan dengan dua zona agroekologi Pada saat musim kemarau, peternak di dataran rendah dan daerah pesisir harus memanfaatkan hijauan apapun yang masih tumbuh dan tidak mengalami kekeringan pemanfaatan limbah pertanian . rops by Tanaman yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak di dataran rendah dan daerah pesisir lebih bervariasi seperti pemanfaatan tanaman pemecah angin, daun dari tanaman merambat . bi jalar dan daun bawang mera. , dan daun dari pepohonan di lingkungan sekitar tempat tinggal. Beberapa peternak di daerah perbukitan juga mengaku kesulitan mencari pakan saat musim kemarau, namun peternak masih dapat memanfaatkan daun-daun dari pepohonan di sekitar tempat tinggal dan lahan perkebunan. Berdasarkan perbedaan zona agroekologi, pada daerah perbukitan . ona I. II, dan . banyak dikembangkan tanaman perkebunan dan hijauan yang banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak yaitu daun dari pepohonan seperti daun mahoni, daun nangka, dan daun mangga. Widiastuti, dkk / Tropical Animal Science 7. :16-29 . Keanekaragaman pakan di daerah perbukitan: Swietenia mahagoni . Mangifera indica . Artocarpus heterophyllus . Manihot utilisima . Pilea melastomoides . Gliricidia sepium . Brachiaria humidicola . Setaria sphacelate . Pada memanfaatkan hijauan pakan yang ada di perkebunan yang mereka miliki. Hal ini masyarakat pedesaan yang memiliki ternak biasanya berprofesi sebagai petani dan persawahan atau perkebunan. Lahan pekarangan yang dimiliki peternak belum penanaman hijauan pakan ternak, sebagian besar hanya ditanami pepohonan yang menghasilkan buah seperti pohon mangga, nangka, dan pisang di mana daun dari pepohonan tersebut juga dimanfaatkan peternak untuk diberikan sebagai pakan kambing Bligon. KESIMPULAN Keanekaragaman ternak di Kabupaten Bantul sangat dipengaruhi oleh kondisi agroekologi, yang terbagi menjadi zona pesisir, dataran rendah, dan perbukitan. Setiap zona memiliki jenis hijauan pakan yang khas, tergantung pada faktor-faktor seperti kemiringan lahan, jenis tanah, dan musim. Zona Keanekaragaman hijauan di berbagai zona ketersediaan bahan pakan lokal dan potensi pemanfaatannya oleh peternak, yang nantinya dapat mempengaruhi manajemen pemberian pakan oleh peternak sesuai dengan kondisi lingkungan dari masingmasing zona agroekologi di Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta. DAFTAR PUSTAKA