TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685-1660 Hubungan Pengetahuan dan Sikap Orangtua terhadap Kejadian Stunting Wahyu Gito Putro1*. Aulia Ratna Sari Anissa2. Fresthy Astrika Yunita3. Maelia Unayah4. Tri Rahyuning Lestari5 1,2Fakultas Kedokteran. Universitas Muhammadiyah Semarang 3Sekolah Vokasi. D3 Kebidanan. Universitas Sebelas Maret 4Fakultas Ilmu Kesehatan. D3 Keperawatan. Universitas Bhamada Slawi 5S1 Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Dharma Husada Tangerang Email: wahyugitoputro@unimus. id1*, auliaratnasarianissa07@gmail. com2, festhy@staff. Maeliaunayah76@gmail. com4, trilestari100@gmail. Abstract Stunting remains a critical public health issue in Indonesia, with a prevalence of 21. 6% in 2022. This study aims to analyze the relationship between parental knowledge and attitudes toward stunting management in Tanjungmas. Semarang, given its severe long-term impacts on physical growth, cognitive development, and disease susceptibility. A cross-sectional design was employed, surveying 30 parents of stunted children. Results revealed that while 96. 7% of respondents exhibited positive attitudes, 90% lacked understanding of stuntingAos long-term consequences. Statistical analysis found no significant correlation between knowledge and positive stunting prevention behavior . =0. , indicating that knowledge alone is insufficient to drive behavioral Socioeconomic status, healthcare access, and family environment emerged as stronger determinants of parental behavior. The study concludes that holistic interventions addressing structural barriersAisuch as poverty and healthcare inequitiesAiare essential alongside education. Community-based programs should integrate contextual solutions to improve nutritional practices. Further research is recommended to explore the gap between maternal knowledge and practical childcare behaviors. Keyword: Stunting. Parental Knowledge. Attitudes Abstrak Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan prevalensi mencapai 21,6% pada tahun 2022. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap orang tua terhadap penanganan stunting di Tanjungmas. Semarang, mengingat dampak serius stunting seperti gangguan pertumbuhan, perkembangan kognitif, dan kerentanan terhadap penyakit. Metode penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan survei terhadap 30 orang tua anak stunting. Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki sikap positif, namun 90% kurang memahami dampak jangka panjang stunting. Analisis statistik menemukan tidak ada hubungan signifikan antara pengetahuan dan sikap . = 0,. , mengindikasikan bahwa peningkatan pengetahuan saja tidak cukup untuk mengubah perilaku. Faktor sosioekonomi dan budaya berperan lebih besar dalam praktik pencegahan stunting. Simpulan penelitian menekankan perlunya pendekatan holistik dalam intervensi stunting yang tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga mengatasi hambatan struktural seperti kemiskinan serta melibatkan komunitas secara aktif untuk hasil yang berkelanjutan. Kata Kunci: Stunting. Pengetahuan Orangtua. Sikap Pendahuluan Stunting merupakan masalah gizi yang masih tinggi di berbagai negara salah satunya Indonesia . Kejadian stunting pada balita perlu ditangani dengan serius karena dampak dari kejadian stunting dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan fisik, perkembangan motorik dan verbal sang anak, menghambat kecerdasan anak, rentan terhadap penyakit baik penyakit menular maupun tidak menular, produktivits menjadi semakin rendah pada saat anak memasuki usia dewasa, dan berpeluang berisiko overweight dan obesitas. Jika overweight dan obesitas tidak segera ditangani, dalam jangka panjang akan meningkatkan risiko penyakit degenerative . World Health Organization (WHO) tahun 2022 menyatakan angka kejadian stunting mencapai 148,1 juta . Di Indonesia pada tahun 2022 prevalensi stunting sebesar 21,6% dimana hal ini belum memenuhi target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2024 . Prevalensi Stunting Provinsi Jawa Tengah berdasarkan data SSGI dan SKI di tahun 2023 yaitu 20,7% belum sesuai dengan target yaitu 3,4 per tahun sampai dengan 2024 TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685-1660 diharapkan menjadi 14% . Berdasarkan data PKP Puskesmas Bandarharjo . Stunting terbanyak pada wilayah Puskesmas Bandarharjo terdapat pada Kelurahan Tanjungmas dengan jumlah 106 kasus. Tingginya prevalensi tersebut menandakan stunting masih menjadi masalah yang cukup serius karena akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak . Pengetahuan yang tidak memadai, kurangnya pengertian tentang kebiasaan makan yang baik, serta pengertian yang kurang mengenai stunting menentukan sikap dan perilaku ibu dalam menyediakan makanan untuk anaknya termasuk jenis dan jumlah yang tepat agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Sedangkan sikap seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor umur, pekerjaan, pendidikan dan paritas. Jika sebagian dari responden memiliki sikap yang negatif, makan tindakan dan perilakunya akan cenderung negatif, sehingga masalah gizi pada anak akan terjadi . Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Utari, 2. didapatkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pengetahuan ibu balita terhadap stunting serta terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara sikap ibu balita terhadap stunting di wilayah kerja puskesmas Kuta Baro . Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Budianto, 2. dimana ditemukan bahwa terdapat hubungan pengetahuan dan sikap ibu tentang stunting terhadap pola pemberian nutrisi yang menentukan gizi anak . Namun adapula penelitian yang menyebutkan bahwa tidak terdapat hubungan pengetahuan dan sikap ibu terhadap stunting . , dimana disebutkan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan baik belum tentu menghasilkan sikap yang positif. Stunting merupakan masalah yang masih banyak terjadi di negara indonesia salah satunya di Semarang. Jawa Tengah. Tingginya kasus stunting di Puskesmas Bandarharjo menandakan bahwa upaya pencegahan dan penanganan stunting belum berjalan secara optimal. Stunting dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain pengetahuan dan sikap orang tua. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya masih terdapat perbedaan hasil antara pengetahuan dan sikap terhadap kejadian stunting. Berdasarkan pemaparan diatas maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis antara tingkat pengetahuan dan sikap dalam pengelolaan stunting pada anak di Kelurahan Tanjungmas. Kota Semarang. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi upaya promotif dan preventif dalam mengurangi angka kejadian stunting serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Metode Penelitian ini sebagai penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional menerapkan metode deskriptif observasional. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai penelitian yang dilakukan dengan mengamati kondisi yang terjadi melalui observasi langsung. Penelitian dilakukan di wilayah kelurahan tanjungmas dengan kejadian stunting terbanyak di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo. Populasi penelitian ini adalah semua orangtua yang memiliki anak Pada laporan PKP Puskesmas Bandarharjo, sebanyak 30 anak stunting terdata di wilayah tanjungmas . Hal tersebut mempengaruhi pengambilan sampel dalam penelitian ini. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 orang, yang berarti sampel yang digunakan adalah total sampling. Teknik sampling yang digunakan yaitu Cluster Sampling. artinya peneliti membagi populasi menjadi klaster atau kelompok yang terbentuk secara alami. Kemudian, seluruh klaster yang dipilih secara acak dimasukkan ke dalam sampel. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah kuesioner untuk mengukur pengetahuan orang tua yang memiliki anak stunting. Instrument tersebut membahaas mengenai pengetahuan dan sikap terhadap stunting 30 item secara keseluruhan. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas . Sementara untuk analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPSS yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik menggunakan analisis univariat, dan mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan menggunakan analisis bivariat. TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685-1660 Hasil dan Pembahasan Hasil Karakteristik Responden. Berikut hasil berdasarkan karakteristik responden yang terlihat pada tabel 1 dibawah. Tabel 1. Karakteristik Responden Variabel Frekuensi Persentase (%) Remaja Akhir . - 25 tahu. Dewasa Awal . - 35 tahu. Dewasa Akhir . -45 tahu. Pendidikan terakhir SMP SMA Pekerjaan Ibu rumah tangga Bekerja Pengetahuan Baik (>75 %) Cukup . Ae 74 %) Kurang (<55%) Sikap Positif Negatif Berdasarkan tabel 1 karakteristik responden, mayoritas responden berada dalam kategori Dewasa Awal . - 35 tahu. sebanyak 60%, sementara usia paling sedikit yaitu Lansia Awal . - 55 tahu. sebanyak 3,3%. Dari segi tingkat pendidikan, mayoritas responden memiliki pendidikan terakhir SMP 46,7%, diikuti oleh SMA 36,7%, dan SD 16,7%. Berdasarkan pekerjaan, kelompok ibu rumah tangga mendominasi dengan 73,3% sementara 8% merupakan pekerja. Dari aspek pengetahuan, sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik 46,7%, sementara 43,3% memiliki pengetahuan cukup, dan 10% memiliki pengetahuan kurang. Dari segi sikap 96,7% responden menunjukkan sikap positif dan 3,3% memiliki sikap negatif. Hubungan Pengetahuan dan Sikap. Berikut hasil berdasarkan hubungan pengetahuan dan sikap orangtua terhadap kejadian stunting yang terlihat pada tabel 2 berikut. Tabel 2. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Orangtua Terhadap Kejadian Stunting Pengetahuan Baik Cukup Kurang Total Perilaku Positif 96,7% Perilaku Negatif 3,3% Total Koefisien korelasi . P value -0,190 0,315 Berdasarkan Tabel 2, mayoritas responden dengan pengetahuan baik memiliki perilaku postif sebanyak 92,9% namun terdapat 7,1% yang memiliki perilaku negatif. Responden dengan pengetahuan cukup memiliki perilaku positif sebanyak 100%. Sementara itu responden dengan pengetahuan kurang memiliki perilaku positif sebanyak 75%. Data tersebut, terlihat bahwa meskipun pengetahuan responden baik tetapi masih ada responden yang memiliki sikap negatif. Sedangkan semua responden yang memiliki pengetahuan kurang memiliki perilaku yang positif. Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan yang responden miliki tidak mempengaruhi sikap yang diambil oleh reponden dalam menangani pengelolaan Hasil uji korelasi Rank Spearman menunjukkan nilai p = 0,315, yang berarti tidak tedapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan perilaku responden . < 0,. Selain itu, nilai koefisien korelasi . = - 0,190 menunjukkan hubungan yang sangat lemah antara kedua Hal ini mengindikasikan bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh orang tua atau keluarga TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685-1660 yang memiliki anak stunting tidak mempengaruhi sikap orang tua atau keluarga dalam penanganan stunting. Pembahasan Karakteristik Responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat mengenai stunting di Kelurahan Tanjungmas bervariasi. Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik . ,7%), sementara 43,3% memiliki pengetahuan cukup, dan 10% memiliki pengetahuan kurang. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan pemahaman mengenai stunting terutama terkait dampak jangka panjang dari stunting itu sendiri. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa sebanyak 90% responden menjawab salah pada pertanyaan mengenai cara dampak jangka panjang dari stunting terhadap anak, di mana mereka tidak mengetahui apa saja dampak negatif dari stunting jika tidak segera Selain itu, masih banyak responden yang kurang paham bagaimana cara keluarga untuk mengetahui jika anak mengalami stunting. Rendahnya pengetahuan ini dapat menyebabkan tingkat morbiditas pada anak-anak yang mengalami stunting meningkat. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh NiAomah & muniroh bahwa anak yang mengalami stunting mayoritas memiliki orang tua atau keluarga dengan pengetahuan baik daripada orang tua atau keluarga dengan pengetahuan yang kurang dan cukup. Penelitian lain yang dilakukan oleh Harahap et al, menyebutkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu terhadap kejadian stunting . Tingkat pengetahuan ibu yang tinggi tidak menjamin memiliki balita dengan status gizi yang normal. Ibu yang memiliki pengetahuan yang baik diharapkan mampu mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari. Namun, perilaku selain dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan juga dipengaruhi oleh faktor lainnya. Misalnya sosio ekonomi, sosio budaya, dan lingkungan . Ibu yang memiliki pengetahuan yang baik harus diikuti dengan sikap, keterampilan, dan kemauan, serta praktik yang membawa perbaikan gizi balita. Jika ibu memiliki pengetahuan yang baik namun memiliki sikap dan kemauan yang buruk, maka hal ini dapat menyebabkan anak kekurangan gizi dan mengalami stunting . Penelitian ini menemukan bahwa sikap dari orang tua atau keluarga yang memiliki anak stunting mayoritas bersikap positif dengan persentase 96,7% dan 3,3% memiliki sikap negatif. Sikap positif ini dapat dinilai dari hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden rutin melakukan pemeriksaan fisik ke posyandu, keluarga juga setuju untuk memberikan makanan bergizi untuk mendukung masa pertumbuhan dan perkembangan anak, keluarga tetap berusaha membujuk anak untuk makan meskipun anak menolak, serta keluarga juga sangat setuju bahwa penyuluhan stunting sangat penting untuk keluarga. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh NiAomah & muniroh bahwa ibu dengan sikap yang psitif belum tentu memiliki balita dengan masalah stunting yang lebih kecil daripada ibu dengan sikap negatif. Hal ini bisa jadi dikarenakan meskipun sikap orang tua atau keluarga positif, pada keluarga miskin terdapat keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga sikap orang tua ataupun keluarga tidak memengaruhi terjadinya masalah stunting . Stunting merupakan gambaran kekurangan gizi pada balita dalam kurun waktu yang relatif Indeks TB/U menggambarkan status gizi balita masa lampau. Secara umum, tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu, tingkat pengetahuan ibu tentang gizi, dan sikap dengan masalah stunting pada balita keluarga miskin. Ada banyak faktor yang memengaruhi terjadinya masalah stunting di luar faktor tersebut, diantaranya adalah status gizi ibu balita ketika Ibu hamil yang mengalami kurang gizi akan mengakibatkan janin yang dikandung juga mengalami kekurangan zat gizi. Kekurangan zat gizi pada kehamilan yang terjadi terus menerus akan melahirkan anak yang mengalami kurang gizi. Kondisi ini jika berlangsung dalam kurun waktu yang relatif lama akan menyebabkan anak mengalami kegagalan dalam pertumbuhan . TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685-1660 Berdasarkan temuan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa meskipun mayoritas masyarakat di Kelurahan Tanjungmas memiliki tingkat pengetahuan yang baik atau cukup tentang stunting, masih terdapat celah signifikan dalam pemahaman dampak jangka panjang dan deteksi dini stunting pada anak. Hal ini mengindikasikan bahwa program edukasi selama ini mungkin belum menyentuh aspek-aspek kritis stunting secara mendalam. Sikap positif yang dominan di kalangan orang tua . ,7%) patut diapresiasi, tetapi tidak serta-merta berkorelasi dengan penurunan kasus stunting. Temuan ini memperkuat bukti bahwa pengetahuan dan sikap saja tidak cukup tanpa dukungan faktor eksternal seperti akses ekonomi, ketersediaan pangan bergizi, dan layanan kesehatan yang memadai. Keterbatasan sumber daya pada keluarga miskin menjadi penghambat utama dalam menerapkan pengetahuan gizi, sekalipun kesadaran mereka Hubungan Pengetahuan dan Sikap. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan spearman rank, ditemukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap orang tua maupun keluarga yang memiliki anak stunting dengan pengelolaan stunting dengan p Ae value sebesar 0,086 . < 0,. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mutingah & Rokhaidah yang menyebutkan bahwa secara statistik tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan perilaku pencegahan stunting . value = 0,. Pengetahuan baik yang dimiliki seseorang tidak dapat memastikan sikap maupun perilakunya, karena pengetahuan juga tidak dapat memastikan seperti apa pola hidup yang dijalani seseorang tersebut. Kondisi ekonomi yang tidak mendukung walaupun pengetahuan ibu sudah baik akan mempengaruhi kemampuannya untuk menerapkan pola hidup yang sehat . Tidak adanya hubungan dari kedua variabel dalam penelitian ini dapat disebabkan karena terdapatnya faktor lain yang memberi pengaruh pada perilaku pencegahan stunting. Berdasarkan teori lawrence green, faktor pengetahuan termasuk faktor predisposisi yang dapat mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang, namun terdapat faktor lain juga yaitu faktor pendukung seperti tersedianya fasilitas kesehatan serta faktor pendorong seperti dukungan keluarga, teman, serta petugas kesehatan . Jurnal lain menjelaskan bahwa faktor pendapatan, budaya dan pola asuh orang tua juga mempengaruhi perilaku pencegahan stunting. Hal ini disebabkan oleh orang tua dengan pendapatan yang cukup mampu untuk memenuhi kebutuhan makan anaknya, begitu juga pola asuh orang tua dalam memberi makan pada anak sangat mempengaruhi status gizi, pertumbuhan serta kesehatan anak sehingga anak dapat terhindar dari stunting. Sementara itu, nilai budaya yang bertentangan dengan anjuran kesehatan seperti pembatasan pola makan ibu hamil serta pemberian MPASI dini dapat membuat seorang ibu berperilaku kurang baik dan meningkatkan resiko anak mengalami stunting . Sikap positif yang dimiliki ibu tidak terlepas dari pengetahuan atau informasi yang telah diperoleh dan pengetahuan yang dimiliki ibu sangatlah baik atau dalam kategori tinggi sehingga hal tersebut membentuk sikap positif atau penilaian ibu yang baik terhadap kejadian stunting. Menurut Haines, dkk. Sikap ibu terhadap stunting adalah persepsi ibu mengenai dampak stunting terhadap balita yang dapat menghasilkan sikap positif atau negatif dari ibu berdasarkan informasi yang diterima. Selain itu, menurut Gerungan . dalam Suharyat . sikap terbentuk dari beberapa komponen diantaranya adalah kemampuan kognitif. Kognitif merupakan komponen sikap yang berfungsi untuk membuat penilaian kepada suatu objek yang berasal dari luar yang akan menghasilkan sebuah nilai yang akan dikombinasi dari informasi yang telah diterima dan afektif merupakan perasaan yang diberikan kepada suatu hal yang diterima berdasarkan hasil penilaiannya . Hasil penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa pengetahuan dan sikap orang tua atau keluarga, meskipun penting, belum tentu secara langsung memengaruhi perilaku pengelolaan dan pencegahan stunting. Temuan tidak adanya hubungan signifikan secara statistik menegaskan bahwa upaya penanggulangan stunting tidak dapat hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan dan pembentukan sikap positif saja. Peneliti berpandangan bahwa dalam konteks masyarakat dengan keragaman ekonomi, sosial, dan budaya, faktor-faktor eksternal seperti pendapatan keluarga, akses terhadap fasilitas TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685-1660 kesehatan, serta dukungan sosial dan budaya, justru memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan praktik pencegahan stunting. Kesimpulan Penelitian ini mengungkapkan bahwa sebagian besar responden . sia 26Ae35 tahun, mayoritas perempuan, dan berpendidikan minimal SMP) memiliki sikap positif terhadap penanganan stunting meskipun pemahaman mereka tentang dampak jangka panjang stunting masih rendah . % salah menjawab pertanyaan terkai. Analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dan perilaku positif dalam pencegahan stunting . =0,. , mengindikasikan bahwa pengetahuan saja tidak cukup untuk mengubah sikap atau tindakan. Faktor lain seperti status sosial ekonomi, akses layanan kesehatan, dan lingkungan keluarga memiliki pengaruh lebih besar dalam membentuk perilaku responden. Untuk meningkatkan efektivitas intervensi stunting, diperlukan pendekatan holistik yang tidak hanya fokus pada edukasi, tetapi juga memperkuat dukungan praktis dan mengatasi hambatan struktural seperti kemiskinan dan ketidaksetaraan akses kesehatan. Program penyuluhan harus dirancang untuk meningkatkan pemahaman mendalam tentang konsekuensi stunting sekaligus melibatkan komunitas dalam penerapan solusi berbasis konteks lokal. Selain itu, penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi lebih jauh peran pengetahuan ibu dalam praktik nyata perawatan gizi anak. Daftar Pustaka