Vol. No. 2, 2025, 156-163. Homepage: https://ejurnal. id/jbd Analasis Sintasan dan Pertumbuhan Kerang Pada Sistem Integrated Agriculture Aquakulture (IAA) Model Floating-Bed Berbasis GIS Andrian Dwi Putra1. Arnold Kabangga2. Heriansah3. Nursyahran4. Is Arianto Pratama5 1,2,3,4,5Institut Teknologi dan Bisnis Maritim Balik Diwa Email correspondence*: andrices037@gmail. ABSTRACT Fish farming activities in ponds produce waste in the form of feed residues and metabolic products such as urine and feces. minimize the accumulation of these residual nutrients, an Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA) system is applied that combines organisms of different trophic levels: fed organisms . ish, shrim. , organic extractive organisms . ea cucumbers, shellfish, sea urchin. , and inorganic extractive organisms . This study aims to evaluate the influence of floating-bedbased integrated cultivation system on the survival and growth of kijing clams (Corbicula sp. The experimental design used a Group Random Design (RAK) with nine units of experimental ponds at the People's Hatchery Unit (UPR) Sipurennu. Soppeng Regency, for 90 days. Three treatments were tested based on floating-bed moving time intervals: A . o displacemen. B . -day replacemen. , and C . -day replacemen. The main parameter observed was Absolute Weight Growth (PBM). The results showed that the highest PBM was found in treatment B . , while the lowest was in treatment A . The ANOVA test showed significant differences between treatments (P<0. , indicating that the frequency of displacement of extractive species affects the growth rate. In conclusion, the Integrated Agriculture-Aquaculture (IAA) system with a floating-bed model has a significant impact on the survival and growth of kijing mussels through the management of ecological utilization of aquaculture waste. Keywords: Floating-Bed. GIS. Growth. IAA. Stuttgart. Squirrel PENDAHULUAN Budidaya ikan di perairan darat seperti tambak umumnya mengadopsi pendekatan intensif yang mengandalkan pakan buatan sebagai sumber utama makanan bagi ikan yang Namun, budidaya ikan dalam tambak akan menghasilkan limbah, termasuk sisa pakan yang tidak terkonsumsi dan sisa-sisa dari proses metabolisme . eperti urin dan fese. Sisa pakan dan feses tersebut akan terurai melalui proses dekomposisi membentuk senyawa nutrien, seperti ammonia (NH. , ammonium (NH. , nitrat (NO. , dan posfat (PO. , (Sinaga et al. , 2. Temuan yang diungkapkan oleh (Marganof et al. , 2. bahwa secara umum hanya sekitar 70 hingga 75% dari jumlah pakan yang diberikan kepada ikan yang benar-benar Sementara itu, sisanya sekitar 25 hingga 30% dapat terlepas dan mencemari badan perairan. Selanjutnya sekitar 15 sampai 30% dari nitrogen dan fosfor dalam pakan akan diretensikan dalam daging ikan dan selebihnya terbuang ke badan perairan. Limbah dari pakan ini selain dapat menurunkan kualitas air, juga menjadi pemborosan pakan. Upaya yang dilakukan untuk meminimalisir penumpukan nutrien sisa kegiatan budidaya adalah penerapan teknologi Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA) yang menggabungkan organisme dari beberapa trofik level. Tropik level berbeda pada sistem IMTA, yaitu organisme yang diberi pakan . dang dan ika. , organisme ekstraktif partikel organik, misalnya teripang, kerang, landak laut, serta organisme ekstraktif anorganik terlarut, misalnya rumput laut, (Chopin et al. , 2. Tiga kelompok utama spesies ekstraktif, yaitu: . suspension feeders, seperti tiram dan kerang, . deposit feeders, seperti landak laut dan teripang, dan . penyerap nutrient terlarut, seperti rumput laut dan jenis tumbuhan lain, (Buck & Langan. Teknologi IMTA merupakan teknologi yang berwawasan lingkungan karena memiliki keunggulan yang dapat meminimalisir limbah, (Aliah, 2. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa limbah hasil budidaya berupa sisa pakan dan feses, baik dalam bentuk organik maupun anorganik sebagian 158 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 156-163 Homepage: https://ejurnal. id/jbd tersuspensi di kolom air. Oleh karena itu, keberadaan organisme suspension feeder atau fillter feeder, seperti kerang sangat penting untuk memanfaatkan limbah dalam air, (Lander et al. Penggunaan kerang sebagai salah satu organisme dalam sistem IMTA memiliki berbagai keunggulan, antara lain sebagai organisme pemakan partikel mampu menyaring semua bahan terlarut dalam perairan, (Ningsih et al. , 2. Karakteristik ekologis kerang sebagai filter feeder memungkinkannya sebagai bahan mitigasi limbah organik, selain merupakan bahan pangan yang bernilai ekonomis, (Kabangnga & Zulkhairiyah, 2. Kerang kijing (Pilsbryoconcha exili. merupakan salah satu jenis kerang yang berpotensi sebagai penyerap limbah. Jenis kerang air tawar ini adalah organisme filter feeder yang hidup di dasar perairan dan memakan bahan-bahan organik sisa dekomposisi,(Yulianto et al. , 2. Kijing mampu menyaring partikel berukuran 0,1 Ae 50. 0 m dari badan air dan pada ukuran partikel > 4. 0 m mampu memfiltrasi sampai 100%, (Putra et al. , 2. Kijing air tawar dapat memanfaatkan sisasisa makanan yang tidak dimakan oleh ikan serta dapat berfungsi menjadi biofilter, (Jayanthi et al. , 2022. Sri-uam et al. Selain itu, kijing mampu menyaring fitoplankton dan material tersuspensi lainnya (Arduini et al. , 2023. Santoso & Sunadji, 2. serta memiliki kemampuan mengakumulasi logam berat yang ada pada lingkungan perairan. Pada budidaya sistem IMTA dengan mengombinasi biota akuatik dan tumbuhan seperti padi atau lebih dikenal dengan Integrated Agriculutre-Aquaculture dimana pada prosesnya pakan diberikan kepada organisme yang yang bersifat feed Pakan merupakan sumber utama yang sangat menentukan jumlah nutrien yang tersedia bagi organisme lain, (Putri et al. , 2. Pada penelitian ini, kerang kijing (Pilsbryoconcha exili. dipelihara dengan sistem Integrated Agriculutre-Aquaculture (IAA) bersama ikan nila (Oreochromis niloticu. sebagai organisme yang diberi pakan, kerang air tawar (Pilsbryoconcha exili. sebagai penyerap nutrien terdeposit, dan tanaman padi (Oryza sativ. sebagai penyerap nutrien Oleh karena itu, jenis pakan yang diberikan ke ikan nila organisme yang diberi pakan sangat menentukan ketersediaan makanan yang dapat diserap oleh organisme kerang kijing. Sebagai indikator keberadaan kerang kijing dalam sistem budidaya terintegrasi perlu analisis tentang sintasan dan pertumbuhan kerang sebagai manifestasi dari pemanfaatan nutrien dalam sistem budidaya terintegrasi berbasis teknologi UAV-GIS. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh durasi perpindahan floating-bed terhadap pertumbuhan kerang E ISSN: 3032-3177 yang dipelihara dalam sistem kolam melalui pengukuran morfometrik dan bobot kerang. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan acak kelompok (RAK), (Muktiniati et al. , 2022. Pedrosa et al. Weber & Skillings, 2018. Wu & Hamada, 2. yang terdiri atas tiga perlakuan dan tiga ulangan pada sembilan plot kolam, yaitu perlakuan A tanpa perpindahan floating-bed selama pemeliharaan . , perlakuan B dengan perpindahan interval 10 hari, dan perlakuan C dengan perpindahan interval 20 hari, dengan dasar pertimbangan bahwa perubahan nutrien perairan memerlukan waktu untuk bertransformasi dari bentuk organik ke anorganik. Pendekatan ini sejalan dengan praktik penelitian akuakultur eksperimental yang memanfaatkan variasi perlakuan manajemen budidaya dan kemudian dianalisis menggunakan uji sidik ragam pada taraf kepercayaan 95%, (Andriani et al. , 2023. Panasani et , 2. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli hingga September di kolam Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Sipurennu milik mitra penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran langsung pertumbuhan dan bobot kerang pada floating-bed, meliputi pengukuran dimensi cangkang . anjang, lebar, dan teba. serta penimbangan berat total dan berat basah daging kerang, mengikuti praktik standar morfometri dan hubungan panjangAeberat pada bivalvia untuk menilai pertumbuhan dan persentase daging, (Amalia et al. , 2023. Moruf, 2020. Zhang et al. , 2018, Selain parameter biologi, kualitas air berupa amoniak, nitrat, dan fosfat dianalisis di laboratorium untuk menggambarkan dinamika nutrien dalam kolam, sebagaimana lazim dilakukan pada studi kualitas air dan sistem budidaya intensif maupun terintegrasi, (Nataliah et al. , 2022. Ramli et al. , 2. Pengambilan sampel dilakukan setiap 10 hari pada sore hari . 00 WITA) dan seluruh data dicatat secara harian, kemudian diinput serta dikelola menggunakan Microsoft Excel. Teknik analisis data diawali dengan uji asumsi statistik parametrik menggunakan uji ShapiroAeWilk dan uji Levene . >0,. untuk memastikan normalitas dan homogenitas ragam, sebelum dilakukan analisis ragam (ANOVA) guna menguji pengaruh perlakuan durasi perpindahan floating-bed. Apabila terdapat perbedaan nyata pada taraf signifikansi 95% (P<0,. , analisis dilanjutkan dengan DuncanAos Multiple Range Test (DMRT) menggunakan perangkat lunak SPSS versi 25. pendekatan yang banyak digunakan dalam penelitian akuakultur untuk membedakan respons pertumbuhan E ISSN: 3032-3177 159 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 156-163 Homepage: https://ejurnal. id/jbd dan kualitas air antar perlakuan, (Andriani et al. , 2023. Fasya et , 2023. Panasani et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Sistem Integrated Agriculture Aquaculture (IAA) berkembang sebagai pendekatan inovatif dalam pengelolaan sumber daya perairan yang mengintegrasikan kegiatan budidaya perikanan dengan komponen pertanian secara simultan dan berkelanjutan, (Ramli et al. , 2. Model ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien, meminimalkan limbah, serta memperkuat ketahanan produksi melalui siklus ekologis yang saling mendukung antara organisme akuatik dan komponen pertanian. Salah satu bentuk implementasi IAA yang mulai banyak dikaji adalah penggunaan sistem floating-bed, yang berfungsi tidak hanya sebagai media budidaya, tetapi juga sebagai pengendali distribusi nutrien dan kualitas perairan. Dalam akuakultur, sistem ini dinilai potensial untuk mendukung pertumbuhan dan sintasan organisme filter feeder seperti kerang, yang secara ekologis berperan dalam menyaring partikel organik dan memanfaatkan nutrien terlarut dalam perairan, (Goda et al. , 2024. Putri et al. , 2023. Santoso & Sunadji, 2. Namun demikian, efektivitas sistem floating-bed dalam mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup kerang sangat dipengaruhi oleh strategi pengelolaan, khususnya durasi dan frekuensi perpindahan media floating-bed selama masa Perpindahan media diduga memengaruhi dinamika nutrien, ketersediaan pakan alami, serta stabilitas kualitas air, yang secara langsung berdampak pada respons fisiologis dan pertumbuhan organisme budidaya, (Lothmann & Sewilam, 2022. Tabrett et al. , 2. Selain itu, integrasi pendekatan spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS) menjadi penting untuk mendukung pemetaan lokasi, pengelolaan ruang kolam, dan analisis lingkungan secara lebih komprehensif dalam sistem budidaya terintegrasi. Oleh karena itu, kajian mengenai sintasan dan pertumbuhan kerang pada sistem IAA model floating-bed berbasis GIS menjadi relevan untuk menghasilkan informasi ilmiah yang dapat mendukung pengembangan praktik budidaya berkelanjutan dan berbasis ekosistem. Hasil penelitian mengenai perpindahan spesies ekstraktif terhadap laju pertumbuhan kerang kijing selama 90 hari dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1: Pertumbuhanan Bobot Mutlak (PBM) Sumber: hasil analisis penelitian Gambar 1 menunjukkan Pertumbuhan Bobot Mutlak (PBM) tertinggi terjadi pada perlakuan B, yaitu sebesar 117,6 Nilai pertumbuhan terendah ditemukan pada perlakuan A sebesar 31,5 gr. Data ini menunjukkan bahwa perpindahan spesies ekstraktif yang dilakukan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan bobot mutlak. Berdasarkan uji Analysis of variance (ANNOVA) diketahui bahwa pertumbuhan bobot mutlak pada Sistem Integrated Agriculture Aquaculture (IAA) model floating-bed terhadap kerang kijing memberikan pengaruh nyata (P<0,. terhadap laju pertumbuhan kerang kijing. Pertumbuhan adalah proses pertambahan volume dan jumlah sel sehingga ukuran tubuh biota menjadi lebih besar. Bobot merupakan pertambahan berat ikan yang hidup pada akhir pemeliharaan sehingga menjadi salah satu faktor penentu tingkat keberhasilan produksi kegiatan budidaya. Berdasarkan data pengambilan sampel 10 hari yang diperoleh bahwa terjadi peningkatan bobot kerang kijing (Pilsbryoconcha exili. disetiap minggunya pada setiap pakan Energi makanan yang tersedia nampaknya melebihi kebutuhan metabolisme kerang kijing sehingga terjadi peningkatan bobot secara terus menerus. Pertumbuhan yang semakin meningkat karena indikasi pakan yang diserap menjadi energi masih tersisa sehingga digunakan untuk pertumbuhan, (Putra et al. , 2. Adanya pertumbuhan selama pemeliharaan memberikan indikasi bahwa energi yang diperoleh dari pakan masih ada tersisa untuk pertumbuhan setelah digunakan dalam memenuhi kebutuhan untuk hidup. Pertambahan bobot akan terjadi bila jumlah nutrien yang diserap lebih besar dari pada yang dibutuhkan untuk pemeliharaan tubuhnya. Energi makanan yang tersedia nampaknya melebihi kebutuhan metabolisme kerang kijing sehingga terjadi peningkatan bobot secara terus menerus. Pertumbuhan yang semakin meningkat karena indikasi pakan yang diserap menjadi energi masih tersisa sehingga digunakan untuk pertumbuhan. Pemanfaatan nutrien oleh kerang kijing (Pilsbryoconcha exili. pada penelitian sistem IMTA ini dapat dijelaskan dengan memulai pada aliran nutrien. Pakan yang diberikan ke ikan nila sebagai biota yang diberikan pakan atau feed spesies, tidak semuanya dikomsumsi sehingga akan ada sisa pakan yang mengendap ke dasar perairan. Selain itu, pakan yang dikomsumsi ikan nila sebagian akan diekskresikan menjadi feses dan urine, feses akan mengendap ke dasar sedangkan urine akan langsung diserap oleh padi. Sisa-sisa bahan organik maupun anorganik inilah, baik dalam bentuk partikel maupun yang sudah terurai akan diserap oleh kerang kijing (Pilsbryoconcha exili. melalui proses filtrasi secara nonselektif untuk digunakan dalam proses metabolisme dan pertumbuhan. Pemanfaatan pakan dari bahan alami juga akan sangat menekan biaya produksi sehingga penggunaan pakan komersil sebagai jenis pakan utama sangat mendukung kegiatan produksi karena harganya yang sangat murah dan mudah di dapatkan namun memiliki kandungan protein yang E ISSN: 3032-3177 160 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 156-163 Homepage: https://ejurnal. id/jbd sangat tinggi sehingga sangat baik untuk pertumbuhan kerang kijing. Pertumbuhan yang diukur pada penelitian ini adalah pertumbuhan bobot mutlak selama 90 hari pemeliharaan. Pertambahan bobot organisme dipengaruhi oleh jenis pakan yang diberikan, apabila jenis pakan yang diberikan memiliki kualitas yang baik, serta dapat memenuhi kebutuhan protein, jumlah yang dibutuhkan mencukupi, dan kondisi lingkungan yang mendukung maka akan sangat mempengaruhi laju pertumbuhan yang tinggi. Sebaliknya jika jenis pakan yang diberikan memiliki kualitas yang buruk, tidak memenuhi kebutuhan protein keraang kijing, jumlah yang diberikan tidak mencukupi, serta kondisi lingkungan yang buruk akan menghambat laju pertumbuhan organisme budidaya, (Putra et al. Pakan merupakan aspek eksternal penting sebab pakan merupakan masukan gizi dan energi dari luar yang menunjang kehidupan organisme. Jumlah dan kualitas pakan yang tersuspensi dan terlarut akan menentukan kinerja filtrasi kerang kijing (Pilsbryoconcha exili. sebagai filter feeder untuk asupan energi yang dibutuhkan untuk hidup dan tumbuh. Cepat lambatnya suatu pertumbuhan akan sangat dipengaruhi oleh jenis pakan yang diberikan ke biota yang dibudidayakan, apabila biota mendapatkan pakan sesuai dengan yanng dibutuhkan dan disukai maka pertumbuhan akan terus meningkat begitupun dengan laju filtrasi kerang kijing yang akan terus menerus menyerap pakan atau partikel tersebut. Pertumbuhan yang relatif tinggi pada sistem IMTA diduga dapat disebabkan oleh dampak sistem budidaya IMTA yang dapat menciptakan kualitas air yang berkualitas dan mendukung tumbuh kembangnya kerang kijing. Air yang berkualitas merupakan faktor kunci yang sangat erat hubungannya dengan pertumbuhan. Pertumbuhan kerang kijing pada penelitian ini juga didukung sistem IMTA yang Sistem IMTA dapat menciptakan kualitar air yang berkualitas dan mendukung tumbuh kembangnya kerang kijing. Air yang berkualitas merupakan faktor kunci yang sangat erat hubungannya denga pertumbuhan. Pada sistem IMTA dapat mencegah terjadinya penurunan kualitas air karena limbah yang berupa sisa pakan dan kotoran sudah dimanfaatkan oleh filter feeder, (Tian et al. Sisa pakan dan feses ikan nila dan lobster yang berbentuk partikel dan bahan organik yang tersuspensi dapat dimanfaatkan oleh kerang kijing (Pilsbryoconcha exili. yang bersifat filter feeder. Seperti pada budidaya lainnya, pakan komersil merupakan item biaya utama dalam produksi budidaya. Sebagian besar studi berkesimpulan bahwa pakan buatan berkontribusi lebih 50% dari total biaya produksi sehingga mempengaruhi profitabilitas, (Samy-Kamal et al. , 2. Selain itu, pengaruh negatif limbah pakan . isa pakan dan fese. telah menjadi isu utama untuk akuakultur berkelanjutan, (Dauda et al. Sementara itu, pakan buatan adalah keniscayaan dalam meningkatkan produksi budidaya. Pertumbuhan pada semua fase umumnya ditentukan oleh jumlah nutrien yang disediakan melalui pakan, (Irhayyim et al. , 2020. Zaniboni et al. , 2. Fenomena ekonomi, ekologi, dan biologi yang kompleks dari pakan buatan sampai saat ini menuntut alternatif pemanfaatan sumber pakan yang lain. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa buangan limbah pakan pada budidaya ikan nila. Montanhini Neto & Ostrensky . melaporkan ikan nila hanya mengasimilasi 35% Nitrogen dan 28% Posfor dari pakan, selebihnya menjadi feses, urine, dan sisa pakan. Sementara itu, pada (Sri-uam et al. , 2. , ikan nila hanya mengasimilasi 38% N dan 31% P, selebihnya terbuang sebagai limbah. Limbah nutrien dapat berdampak negatif pada ikan dan lingkungan (Dauda et al. , 2. serta pemborosan pakan. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa penggunaan kerang sebagai filter feeder berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan spesifik (P<0. namun tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup (Safaringga et al. , 2. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penggunaan jenis pakan komersil akan sangat mempengaruhi laju filtrasi kerang kijing dan apabila laju filtrasi kerang tinggi maka akan berdampak pada pertumbuhannya yang juga tinggi, dengan menggunakan pakan komersil yang bersumber dari limbah dengan harga yang sangat terjangkau maka perbandingan akan terlihat dengan sangat signifikan karena ada beberapa perlakuan yang digunakan sehingga akan ada beberapa hasil yang kita dapatkan dan kita dapat melihat jenis pakan komersil apakah sangat mempengaruhi pertumbuhan bobot mutlak kerang. Cepat lambatnya suatu pertumbuhan akan sangat dipengaruhi oleh jenis pakan yang diberikan ke biota yang dibudidayakan, apabila biota mendapatkan pakan sesuai yang dibutuhkan dan disukai maka pertumbuhan akan terus meningkat begitupun dengan laju filtrasi kerang kijing yang akan terus menerus menyerap pakan atau partikel tersebut. IV. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penerapan sistem Integrated Aquaculture Agriculture (IAA) dengan model floatingbed berpengaruh nyata terhadap sintasan dan pertumbuhan kerang melalui penempatan spesies yang bersifat ekstraktif. Sistem IAA mampu meningkatkan kelangsungan hidup kerang serta mendorong pertumbuhan yang ditunjukkan oleh peningkatan signifikan pada parameter morfometrik, meliputi panjang, lebar, dan bobot cangkang selama masa Keberhasilan sistem ini menunjukkan bahwa integrasi komponen akuakultur dan pertanian dalam satu kesatuan ekosistem budidaya dapat mengoptimalkan pemanfaatan nutrien terlarut, menekan akumulasi limbah organik, serta memperbaiki kualitas lingkungan perairan kolam. Selain itu, penerapan model floating-bed berkontribusi terhadap stabilitas kondisi perairan dan ketersediaan pakan alami bagi kerang, sehingga mendukung pertumbuhan yang Dengan demikian, sistem IAA berbasis floating-bed berpotensi dikembangkan sebagai strategi budidaya ramah lingkungan yang aplikatif dan berkelanjutan, khususnya dalam pengelolaan E ISSN: 3032-3177 161 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 156-163 Homepage: https://ejurnal. id/jbd akuakultur terpadu pada skala pembenihan maupun produksi. REFERENSI