Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: DimaSTIKa e-ISSN: 3109-1148 Vol. No. Tahun 2025. Hal. 176Ae184 Komparasi Karakter Keagamaan Siswa Reguler dan Siswa MaAohad pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MAN Kendal Ahmad Munadirin1*. Putry Mardiana2. Faraqna Algadavi Aulia Ahmad3. Anis AoUllalah4. SoniAo Zakiyah Darojah5. Muhammad Arfi Husni6 1,2,3,4,5,6Sekolah Tinggi Islam Kendal Email Corespondensi: Ahmadmunadirin@stikkendal. *Corespondensi Author Abstrak MAN Kendal memiliki ciri khas tersendiri karena di samping pembelajaran reguler, juga terdapat maAohad sebagai wadah pembinaan keagamaan siswa. Hal ini menimbulkan adanya dua kelompok siswa, yaitu reguler dan maAohad, dengan karakter keagamaan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan bagaimana karakter keagamaan terbentuk melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) pada kedua kelompok tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa reguler cenderung hanya mengandalkan pembelajaran formal di kelas, sementara siswa maAohad mendapatkan tambahan penguatan berupa pembiasaan ibadah dan kontrol akhlak di asrama. Perbedaan terlihat jelas pada pemahaman agama, sikap religius, praktik ibadah, dan akhlak Temuan ini menegaskan bahwa integrasi antara PAI formal dan pendidikan maAohadiyyah memberikan kontribusi lebih besar dalam membentuk karakter keagamaan siswa. Kata kunci: Pendidikan Agama Islam, karakter keagamaan, siswa reguler, siswa maAohad. Abstract MAN Kendal has a unique characteristic because, in addition to regular learning, it also provides a maAohad (Islamic boarding syste. as a place for religious development. This creates two groups of students, namely regular and maAohad, with different religious characters. This study aims to compare how religious character is shaped through Islamic Religious Education (PAI) learning in both groups. This research used a descriptive qualitative approach with observation, interview, and documentation This is an open access article under the CCAeBY-SA license http://creativecommons. org/licenses/bysa/4. Komparasi Karakter Keagamaan Siswa Reguler dan Siswa MaAohadA. The results show that regular students rely only on formal classroom learning, while maAohad students receive additional reinforcement through religious habituation and moral control in the dormitory. Differences are clearly seen in religious understanding, attitudes, worship practices, and daily morals. These findings emphasize that the integration of formal PAI and maAohadiyyah education contributes more significantly to shaping studentsAo religious character. Keywords: Islamic Religious Education, religious character, regular students, maAohad PENDAHULUAN Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kendal merupakan salah satu madrasah negeri yang memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri dibandingkan dengan madrasah lainnya. Keunikan ini terletak pada adanya sistem pendidikan ganda, yakni pendidikan reguler sebagaimana madrasah pada umumnya, dan pendidikan berbasis asrama melalui maAohad. MaAohad hadir sebagai lembaga pembinaan keagamaan yang menekankan pada penguatan ibadah, pembinaan akhlak, serta pendalaman ilmu agama melalui kegiatan-kegiatan keislaman. Dengan adanya sistem ini, siswa MAN Kendal terbagi menjadi dua kelompok, yaitu siswa reguler dan siswa maAohad. Kedua kelompok ini mendapatkan kurikulum yang sama dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), namun memiliki pengalaman, pola pembinaan, dan pembiasaan keagamaan yang berbeda. Fenomena inilah yang menarik untuk diteliti. Pada satu sisi, siswa reguler mendapatkan pembelajaran PAI yang cukup melalui kelas formal, lengkap dengan kurikulum yang terstruktur dan guru yang kompeten. Namun, aktivitas keagamaan mereka di luar kelas lebih bergantung pada lingkungan keluarga dan masyarakat. Sementara itu, siswa maAohad bukan hanya mendapatkan pembelajaran formal di kelas, tetapi juga merasakan kehidupan berasrama yang membiasakan ibadah berjamaah, kajian kitab, pembinaan disiplin, serta pengawasan akhlak sehari-hari. Hal ini menjadikan siswa maAohad lebih intens dalam menjalani pendidikan agama yang bersifat menyeluruh, baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. 1 Anshori. AuPembelajaran PAI dan Implikasinya terhadap Religiusitas Siswa. Ay Jurnal Pendidikan Islam, vol. 9, no. : 145Ae160. Ahmad Munadirin, dkk Jika menengok penelitian sebelumnya, banyak kajian yang membahas peran PAI dalam meningkatkan religiusitas siswa di sekolah dan madrasah. 2 Sebagian besar penelitian tersebut menekankan pada strategi pembelajaran, peran guru, atau model kurikulum yang digunakan. Namun, masih jarang penelitian yang secara khusus mengkaji perbedaan antara siswa reguler dan siswa maAohad dalam satu lembaga pendidikan negeri. Di sinilah letak research gap penelitian ini. Integrasi pendidikan formal madrasah dengan sistem maAohad memang sudah lama menjadi praktik di pesantren atau madrasah swasta, tetapi di madrasah negeri seperti MAN Kendal, hal ini masih relatif baru dan jarang diteliti secara komparatif. Kebaruan . penelitian ini adalah penekanan pada perbandingan karakter keagamaan antara siswa reguler dan siswa maAohad dalam lingkup pembelajaran PAI di madrasah negeri. Dengan kata lain, penelitian ini tidak hanya mengkaji efektivitas pembelajaran PAI secara umum, tetapi juga melihat bagaimana sistem maAohad mampu memberikan penguatan karakter keagamaan yang berbeda dibandingkan dengan siswa reguler. Penelitian ini diharapkan mampu menjelaskan kontribusi unik maAohad dalam mendukung keberhasilan pembelajaran PAI dan membentuk generasi yang religius serta berakhlak mulia. Urgensi penelitian ini terlihat dari dua sisi. Pertama, dari sisi akademik, penelitian ini memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pendidikan agama Islam, khususnya terkait model integrasi madrasah dan maAohad. Kedua, dari sisi praktis, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan oleh guru PAI, pengelola maAohad, maupun kepala madrasah dalam merancang program pembinaan yang lebih tepat sasaran. Mengingat pentingnya pembentukan karakter keagamaan siswa dalam menghadapi tantangan zaman, hasil penelitian ini juga relevan sebagai bahan evaluasi kebijakan pendidikan Islam di madrasah negeri yang memiliki sistem asrama. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan gambaran empiris, tetapi juga rekomendasi praktis untuk memperkuat peran PAI dalam membina generasi muslim yang berilmu, beriman, dan berakhlak karimah. 2 Kurniawan. AuEfektivitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Religius. Ay Jurnal Tarbiyah, vol. 27, no. : 77Ae92. 3 Nata. Abuddin. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010. Komparasi Karakter Keagamaan Siswa Reguler dan Siswa MaAohadA. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian adalah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kendal. Subjek penelitian terdiri dari siswa reguler dan siswa maAohad. Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama, yaitu: . observasi terhadap kegiatan pembelajaran PAI dan aktivitas keagamaan siswa, . wawancara dengan guru PAI, pengelola maAohad, serta beberapa siswa, dan . dokumentasi berupa jadwal kegiatan, tata tertib, serta catatan pembinaan Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahapan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan memilah informasi penting yang relevan dengan fokus penelitian. Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi deskriptif untuk memudahkan Sedangkan penarikan kesimpulan dilakukan dengan menghubungkan temuan-temuan di lapangan dengan teori yang telah dikaji sebelumnya. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi, baik triangulasi sumber maupun triangulasi metode. Dengan demikian, data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan validitas dan reliabilitasnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan usaha sadar untuk membentuk peserta didik agar menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Dalam konteks pendidikan formal di madrasah. PAI mencakup pembelajaran AlQurAoan Hadis. Akidah Akhlak. Fikih, serta Sejarah Kebudayaan Islam. Semua komponen ini berperan dalam menanamkan nilai-nilai Islam secara menyeluruh baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Konsep karakter keagamaan dalam kajian pendidikan Islam dapat dipahami sebagai seperangkat sikap, keyakinan, dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. Indikator karakter keagamaan antara lain pemahaman agama, sikap religius, 4 Nata. Abuddin. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010. Ahmad Munadirin, dkk praktik ibadah, serta akhlak sehari-hari. 5 Al-Ghazali menekankan bahwa inti dari pendidikan akhlak adalah tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa, sehingga pendidikan tidak hanya menekankan aspek intelektual tetapi juga dimensi spiritual. 6 Sementara itu. Ibnu Miskawaih berpendapat bahwa akhlak dapat dibentuk melalui pembiasaan, yakni latihan terus-menerus dalam berperilaku baik hingga menjadi karakter MaAohad sebagai lembaga berbasis asrama berfungsi untuk memperkuat pembinaan agama Islam melalui berbagai kegiatan seperti shalat berjamaah, kajian kitab kuning, halaqah, dzikir bersama, hingga pembiasaan bahasa Arab. Sistem pendidikan maAohadiyyah telah lama dikenal dalam tradisi pesantren, namun keberadaannya di madrasah negeri seperti MAN Kendal menjadi hal yang relatif baru dan unik. Dengan adanya maAohad, siswa tidak hanya belajar agama di kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman religius yang lebih intens melalui pembiasaan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan penelitian Suryadi yang menegaskan bahwa maAohad berperan penting dalam membentuk disiplin ibadah dan mengontrol akhlak Teori-teori diatas menekankan bahwa pembentukan karakter keagamaan siswa dipengaruhi oleh proses pembelajaran PAI di kelas sekaligus lingkungan pendidikan nonformal seperti maAohad. Integrasi keduanya diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya memahami ajaran Islam secara teoritis, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian di MAN Kendal memperlihatkan adanya perbedaan yang signifikan antara siswa reguler dan siswa maAohad dalam hal karakter keagamaan. Perbedaan ini muncul meskipun kedua kelompok siswa sama-sama mengikuti kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) yang seragam. Dengan kata lain, konteks pendidikanAireguler yang berbasis keluarga dan sekolah, serta maAohad yang 5 Kurniawan. AuEfektivitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Religius. Ay Jurnal Tarbiyah, vol. 27, no. : 77Ae92. 6 Al-Ghazali. IhyaAo Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Fikr, 2005 7 Ibnu Miskawaih. Tahdzib al-Akhlak wa Tathhir al-AAoraq. Kairo: Dar al-MaAoarif, 2011. 8 Suryadi. AuPeran MaAohad dalam Pembentukan Disiplin Religius Siswa Madrasah Aliyah. Ay Jurnal Pendidikan Islam Nusantara, vol. 4, no. : 89Ae104. Komparasi Karakter Keagamaan Siswa Reguler dan Siswa MaAohadA. berbasis asrama dan pembiasaan intensifAimembentuk pengalaman religius yang Pemahaman Keagamaan (Kogniti. Siswa reguler menguasai konsep PAI sesuai kurikulum kelas, seperti akidah, fikih dasar, dan akhlak, namun terbatas pada aspek teoritis. Sebaliknya, siswa maAohad memiliki pemahaman lebih dalam melalui kegiatan tambahan: kajian kitab TaAolim al-MutaAoallim setelah Maghrib, halaqah rutin, dan penggunaan bahasa Arab dalam percakapan. Observasi selama PPL menunjukkan siswa maAohad aktif bertanya dalam kajian kitab, sementara siswa reguler pulang ke rumah setelah jam sekolah. Hal ini sejalan dengan penelitian Zain9 dan Fahmi10 yang menekankan pentingnya kurikulum maAohad sebagai sarana tafaqquh fi al-din yang lebih intensif. Sikap Religius dan Disiplin (Afekti. Siswa reguler menunjukkan religiusitas yang baik, namun lebih bergantung pada kebiasaan keluarga dan pengaruh lingkungan luar sekolah. Sebaliknya, siswa maAohad terlatih disiplin lewat pembiasaan shalat berjamaah, pengawasan ketat, dan rutinitas asrama. Selama PPL, peneliti mengamati bahwa siswa maAohad terbiasa berjamaah Subuh di mushala, sedangkan sebagian siswa reguler sering terlambat mengikuti dhuha di sekolah. Temuan ini konsisten dengan studi Suryadi yang menyatakan maAohad efektif menumbuhkan disiplin religius11. Penelitian lain tentang manajemen pendidikan Islam terbaru juga menegaskan bahwa tata kelola asrama berperan besar dalam pembentukan sikap religious. Praktik Ibadah (Psikomoto. Praktik ibadah siswa reguler lebih terbatas pada shalat wajib, tadarus AlQurAoan, dan kegiatan sekolah. Sementara itu, siswa maAohad terbiasa dengan ibadah tambahan: tahajud, dhuha, dzikir malam, dan latihan khutbah. Selama observasi, siswa maAohad dibangunkan untuk tahajud dan dilatih membaca doa bersama 9 Zain. AuPerbandingan Karakter Religius antara Siswa Reguler dan Santri MaAohad. Ay Jurnal Pendidikan Islam Modern, vol. 6, no. : 210Ae225. 10 Fahmi. AuKonsep dan Proses Pengembangan Kurikulum Ma'had Aly. Ay Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, vol. 5, no. : 101Ae118. 11 Suryadi. AuPeran MaAohad dalam Pembentukan Disiplin Religius Siswa Madrasah Aliyah. Ay Jurnal Pendidikan Islam Nusantara, vol. 4, no. : 89Ae104. Ahmad Munadirin, dkk sebelum tidur. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sobari dkk, bahwa kegiatan maAohad dapat menumbuhkan konsistensi ibadah melalui pembiasaan berkesinambungan 12. Akhlak Islami (Perilaku Sosia. Dari sisi akhlak, siswa reguler umumnya sopan dan taat aturan, tetapi pengaruh lingkungan luar sering lebih kuat. Sebaliknya, siswa maAohad menunjukkan adab khas pesantren: menghormati guru, hidup sederhana, menjaga etika berbicara, dan disiplin antre. Contoh nyata yang diamati saat PPL adalah siswa maAohad menundukkan pandangan ketika berbicara dengan guru, lebih tertib saat antre makan, dan jarang melanggar aturan asrama. Hal ini memperkuat teori Ibnu Miskawaih tentang pembentukan akhlak melalui pembiasaan 13, serta didukung studi Tambak yang menekankan pentingnya program pembinaan karakter berbasis praktik nyata. Bekal Keagamaan dan Kaderisasi Siswa reguler memiliki bekal cukup untuk praktik ibadah harian, sedangkan siswa maAohad lebih siap tampil sebagai kader dakwah, imam, maupun guru ngaji. Misalnya, setiap Jumat malam siswa maAohad diminta latihan khutbah dan membaca Al-QurAoan di depan jamaah. Hal ini memberikan kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam berperan di masyarakat. Penelitian Aspiyah menegaskan bahwa integrasi kurikulum pesantren di madrasah berfungsi sebagai laboratorium kaderisasi keagamaan yang efektif. Analisis dan Korelasi Temuan Integrasi pendidikan formal dan maAohadiyyah terbukti memberi dampak Siswa reguler memperoleh bekal akademik yang memadai, tetapi kurang dalam konsistensi ibadah dan penguatan akhlak. Siswa maAohad mendapat nilai tambah dari pembiasaan intensif sehingga membentuk religiusitas lebih kuat. Hal 12 Sobari. Malisi. , and Y. Khalfiah. AuPenanaman Karakter Religius Mahasiswa Baru Melalui Kegiatan Keagamaan di Ma'had al-JamiAoah. Ay Jurnal Manajemen Pendidikan Islam (JUMIN), vol. 3, no. : 1Ae12. 13 Ibnu Miskawaih. Tahdzib al-Akhlak wa Tathhir al-AAoraq. Kairo: Dar al-MaAoarif, 2011. 14 Tambak. AuPengembangan Program Pembinaan Karakter Religius di Madrasah. Ay Journal of Islamic Education Studies, vol. 12, no. : 55Ae72. 15 Aspiyah. AuIntegrasi Kurikulum Pesantren di Madrasah: Analisis Implementasi di Madrasah Aliyah. Ay Al-Madrasah: Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, vol. 8, no. : 45Ae60. Komparasi Karakter Keagamaan Siswa Reguler dan Siswa MaAohadA. ini sejalan dengan Al-Ghazali yang menekankan pentingnya dimensi spiritual dalam pendidikan16, dan Nata yang menegaskan bahwa pendidikan Islam bertujuan membentuk pribadi utuh: berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. SIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa keberadaan maAohad di MAN Kendal memberikan nilai tambah penting dalam pembentukan karakter keagamaan siswa. Siswa reguler dan siswa maAohad sama-sama mengikuti kurikulum Pendidikan Agama Islam, namun pengalaman keagamaan yang mereka peroleh berbeda. Siswa reguler cenderung memperoleh bekal keagamaan pada aspek kognitif melalui pembelajaran formal, sementara siswa maAohad mendapatkan penguatan lebih menyeluruh melalui pembiasaan ibadah, disiplin, dan pengawasan akhlak di lingkungan asrama. Integrasi pendidikan formal dengan sistem maAohadiyyah terbukti melahirkan peserta didik yang lebih utuh dalam aspek pemahaman agama, sikap religius, praktik ibadah, dan akhlak Islami. Temuan ini memperlihatkan bahwa pengembangan model pendidikan madrasah berbasis maAohad dapat menjadi strategi efektif dalam memperkuat pendidikan agama Islam di lembaga pendidikan negeri. Ke depan, gagasan penelitian ini membuka peluang bagi kajian lanjutan dengan pendekatan kuantitatif atau komparatif di madrasah lain yang memiliki sistem serupa. Daftar Pustaka