BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal Volume 5 Nomor 1. January 2026 E-ISSN: 2807-7857. P-ISSN: 2807-9078 Pola Pengasuhan Orang Tua Muslim Suku Jawa dan Dayak pada Anak Usia Dini Di RA Al-Azhar Palangka Raya Alfi Bismillah1*. Muzakki2. Aghnaita3 1,2,3 Universitas Islam Negeri Palangka Raya. Indonesia Received: November 2nd, 2025. Revised: December 24th, 2026. Accepted: January 2nd, 2026. Published: January 2nd 2026 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pola pengasuhan orang tua Muslim dari Suku Jawa dan Suku Dayak terhadap anak usia dini di RA Al-Azhar Palangka Raya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan Informan penelitian terdiri atas 20 orang tua yang memiliki anak di kelompok B, yang berasal dari latar belakang budaya Jawa dan Dayak. Analisis data dilakukan melalui proses kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan menggunakan triangulasi untuk menjamin keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua Suku Jawa cenderung menekankan aspek kasih sayang dan penanaman norma sosial dalam pengasuhan anak, sedangkan orang tua Suku Dayak lebih menekankan keterlibatan anak dalam aktivitas adat. Temuan ini menunjukkan bahwa latar belakang budaya berperan penting dalam membentuk pola pengasuhan serta proses pembentukan karakter dan identitas sosial anak usia dini. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis komparatif lintas budaya dalam konteks pendidikan anak usia dini, yang memberikan kontribusi empiris bagi pengembangan praktik pengasuhan dan pendidikan yang sensitif terhadap keberagaman budaya di Indonesia. Kata kunci: anak usia dini, budaya, pola pengasuhan, suku Dayak, suku Jawa Abstract This study aims to compare the parenting patterns of Muslim parents from the Javanese and Dayak tribes in early childhood in RA Al-Azhar Palangka Raya. The research uses a descriptive qualitative approach, with data collection techniques including observation, interviews, and documentation. The research informants consisted of 20 parents whose children were in group B and who had Javanese and Dayak cultural backgrounds. Data analysis is carried out through data condensation, data presentation, and drawing conclusions using triangulation to ensure data validity. The results of the study show that Javanese parents tend to emphasize affection and the cultivation of social norms in childcare. In contrast. Dayak parents place greater emphasis on childrenAos involvement in traditional activities. These findings show that cultural background plays an essential role in shaping parenting patterns and the process of shaping early childhood social character and identity. The novelty of this research lies in its crosscultural comparative analysis of early childhood education, which makes an empirical contribution to the development of culturally sensitive parenting and educational practices in Indonesia. Keywords: early childhood, culture, parenting patterns. Dayak. Javanese Copyright . 2026 Alfi Bismillah. Muzakki. Aghnaita * Correspondence Address: Email Address: alfibismillah24@gmail. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Alfi Bismillah. Muzakki, & Aghnaita Pendahuluan Pasal 28 B ayat 2 UUD 1945 menyatakan bahwa Ausetiap anak memiliki hak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang, serta berhak dilindungi dari kekerasan dan diskriminasiAy (Rahimah, 2. Negara telah menetapkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang menegaskan bahwa Auorang tua memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anakAy. Orang tua juga berperan sebagai penanggung jawab utama dalam pengasuhan anak (Dhiu et al. , 2. Menjadikannya sebagai pilar penting dalam perkembangan anak. Pola pengasuhan memiliki peranan penting dalam membangun dasar perkembangan anak. Ini mencakup berbagai aspek, termasuk interaksi sehari-hari dan lingkungan belajar di rumah yang memengaruhi kemajuan anak (Putra, 2. Pembentukan anak-anak menjadi individu yang unggul tentu bergantung pada cara mereka dididik melalui pengasuhan dari orang tua serta sistem pendidikan formal dan nonformal (Faz, 2. Pola asuh orang tua adalah proses interaksi yang terjadi antara orang tua dan anak, yang terwujud melalui pemeliharaan, pendidikan, disiplin, dan bimbingan untuk mencapai kedewasaan (Achmadi et al. , 2. Anak merupakan amanah bagi orang tua dan generasi penerus cita-cita. Dalam AlQurAoan disebutkan, "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (At-Tahrim: . Pendidikan agama adalah dasar yang harus diberikan kepada anak sejak usia dini, dan peran orang tua sangat penting dalam mendidik anak (Nahdliyyah. Menanamkan nilai-nilai Islami kepada anak sejak usia dini bertujuan untuk mempersiapkan anak menghadapi berbagai tantangan di masa depan (Norhikmah et al. Pendidikan anak usia dini mencakup stimulasi bagi anak sejak lahir hingga usia delapan tahun (Ervina et al, 2. Usia dini adalah waktu krusial untuk perkembangan anak, yang dipengaruhi oleh gaya pengasuhan (Indrawati & Muthmainah, 2. Peran aktif keluarga, khususnya orang tua, sangat penting untuk perkembangan anak di bawah usia lima tahun (Muzakki et al. , 2. Al-Qur'an mengandung nilai-nilai penting, sementara Indonesia memiliki tradisi yang kaya, yang kadang dapat menyebabkan benturan antara keduanya. Namun, proses pribumisasi Islam . tau Al-Qur'a. telah berhasil mengintegrasikan tradisi lokal dengan ajaran Islam tanpa mengubah inti nilai-nilai tersebut. Ini menunjukkan bahwa Islam dan budaya lokal dapat berkolaborasi tanpa saling merugikan, menciptakan harmoni bersama. Dalam konteks pengasuhan, hal ini memungkinkan orang tua untuk mendidik anak-anak mereka dengan memadukan nilai-nilai Islam dan tradisi lokal, sehingga menghasilkan generasi yang memiliki identitas yang kuat dan seimbang (Muntoha et al. , 2. Model pengasuhan orang tua merupakan salah satu faktor eksternal yang berperan dalam mendidik anak untuk mencapai prestasi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa keberhasilan anak juga dipengaruhi oleh motivasi yang diberikan melalui penerapan model pengasuhan orang tua (Fitri & Masyithoh, 2. Pengasuhan mencakup interaksi antara orang tua dan anak dalam memenuhi berbagai kebutuhan, seperti kebutuhan fisik, psikologis, pendidikan, dan norma sosial di lingkungan sekitar (Dzikro & Karyamah. Pengasuhan dan pendidikan yang baik dari keluarga sangat penting untuk membentuk kepribadian anak (Meilanda et al. , 2. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pengasuhan adalah proses yang mendukung perkembangan anak melalui interaksi dan mencakup pendidikan, perawatan, serta bimbingan. Pola asuh melibatkan disiplin, komunikasi, keterlibatan emosional, dan pengaturan lingkungan, yang berdampak pada keberhasilan anak. Orang tua cenderung mempertahankan pemahaman tradisional mengenai cara membesarkan anak. Ketika anak menerima pola asuh yang baik dari orang tua, anak cenderung menerapkan cara serupa dalam mendidik anak. Pada proses pengasuhan, orang tua akan mengikuti cara atau kebiasaan yang dianut oleh masyarakat di sekitarnya (Fitri & BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Pola Pengasuhan Orang Tua Muslim Suku Jawa dan Dayak pada Anak Usia Dini Di RA Al-Azhar Palangka Raya Masyithoh, 2. Orang tua di Indonesia, dalam berbagai budaya, menunjukkan perilaku pengasuhan yang dipengaruhi oleh tradisi. Banyak dari orang tua menyadari bahwa nilainilai budaya tradisional berperan penting dalam cara mereka mengasuh anak. Kesadaran ini terlihat dalam praktik pengasuhan yang mereka lakukan, yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai budaya kepada anak-anak (Alfaeni & Rachmawati, 2. Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa orang tua seringkali mengikuti cara tradisional dalam mengasuh anak, yang memengaruhi cara mereka mendidik anak Di Indonesia, nilai-nilai budaya sangat berperan dalam praktik pengasuhan, di mana orang tua berusaha menanamkan nilai-nilai tersebut kepada anak-anak mereka. Budaya memiliki peran yang sangat penting dan tidak boleh diabaikan. Latar belakang budaya orang tua dan lingkungan keluarga memengaruhi cara pengasuhan diterapkan di dalam keluarga. Setiap orang tua memiliki pendekatan yang unik dalam menerapkan pengasuhan, yang dipengaruhi oleh pendidikan, budaya, sistem sosial, agama, dan berbagai faktor lainnya (Dzikro & Karyamah, 2. Indonesia dianugerahi sebagai negara majemuk karena keragamannya yang unik. Terdapat banyak ras, suku, bahasa, etnis, agama, dan pulau di Indonesia. Hasil sensus pada tahun 2010 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 1. 300 suku. Selain itu, diakui secara resmi ada enam agama dan sekitar 2. 500 jenis bahasa. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Indonesia dikenal sebagai bangsa multikultural (Masliyana, 2. Indonesia, terdapat banyak suku dengan pola pengasuhan yang berbeda. Pengasuhan dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan nilai-nilai yang dianut masyarakat (Syaropah & Widjayatri, 2. Menurut J. Powel, budaya yang mengakar dalam masyarakat adalah tradisi yang memiliki nilai mendalam dan diwariskan secara turun-temurun (Ahmad. Berbagai aspek perkembangan anak, termasuk fisik, kognitif, sosial, dan emosional, dipengaruhi oleh cara pengasuhan yang diterapkan (Indrawati & Muthmainah, 2. Situmorang pada penelitiannya menyoroti pola pengasuhan yang berlandaskan budaya Jawa, yang menekankan nilai-nilai hormat dan keharmonisan (Situmorang et al. , 2. Namun, pada penelitian ini hanya fokus membahas bagaimana pola pengasuhan yang diterapkan Suku Jawa saja dan belum menjelaskan perbedaan pola pengasuhan Suku Jawa dengan Suku-suku lainnya. Pada Suku Dayak. Syaropah & Widjayatri mengungkapkan bahwa pola pengasuhan pada anak usia dini di suku Dayak dengan membawa anak-anak ke berbagai acara tersebut, orang tua suku Dayak berupaya menanamkan nilai-nilai budaya lokal dan identitas sosial sejak dini (Syaropah & Widjayatri, 2. Namun, fokus penelitian ini tidak secara mendalam mengkaji pola pengasuhan suku Dayak dalam konteks perbandingan dengan suku Jawa, yang menjadi celah penelitian yang ingin diisi oleh studi Penelitian sebelumnya umumnya lebih berfokus pada satu suku atau membahas pola pengasuhan secara umum tanpa melakukan perbandingan yang sistematis. Karena itu, pemahaman mengenai perbedaan pola pengasuhan antara Suku Jawa dan Suku Dayak masih Penelitian ini berupaya mengatasi kekurangan tersebut dengan menawarkan analisis komparatif yang mendalam mengenai kedua suku yang berbeda, sehingga diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh tentang pengasuhan berbasis budaya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah tersebut dan memberikan wawasan baru tentang bagaimana nilai-nilai budaya dari masing-masing suku berkontribusi pada perkembangan anak. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi kesempatan untuk meneliti perbedaan pola pengasuhan antara suku Dayak asli Kalimantan dan suku Jawa yang merupakan pendatang. Penelitian ini berfokus pada perbandingan pola pengasuhan orang tua suku Jawa dan suku Dayak pada anak usia dini di RA Al-Azhar Palangka Raya. Dengan menggunakan sampel orang tua yang memiliki anak di kelompok BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Alfi Bismillah. Muzakki, & Aghnaita B . sia 5-6 tahu. , penelitian ini diharapkan dapat mengungkap perbedaan dan kesamaan dalam metode pengasuhan yang diterapkan oleh kedua suku tersebut. Tinjauan Pustaka Berbagai penelitian menunjukkan bahwa setiap keluarga memiliki metode pengasuhan yang unik, yang sering diwariskan dari generasi sebelumnya (Susmiarni et al. Pola pengasuhan ini penting dalam memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis anak, berkontribusi pada perkembangan karakter dan kecerdasan (Humaini & Safitri, 2. Model pengasuhan orang tua juga menjadi faktor eksternal yang berpengaruh pada prestasi anak (Fitri & Masyithoh, 2. Pengasuhan yang baik tercipta melalui hubungan emosional yang kuat antara orang tua dan anak, sehingga anak merasa dihargai dan percaya Selain itu, keteladanan orang tua sesuai ajaran Islam, seperti tanggung jawab dan empati, berperan penting dalam membimbing anak (Zenaida et al. , 2. Pola pengasuhan anak usia dini sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. (Situmorang et al. , 2. mengidentifikasi bahwa pola pengasuhan budaya Jawa menekankan nilai menghormati dan memelihara Orang tua suku Jawa umumnya lebih fokus pada kasih sayang dan ketegasan sambil mengajarkan nilai-nilai komunikasi yang sopan. Namun, penelitian ini tidak membahas perbandingan pola pengasuhan tersebut dengan suku Dayak, menciptakan celah yang patut diteliti lebih lanjut. Dalam konteks yang berbeda, (Syaropah & Widjayatri, 2. menunjukkan bahwa pola pengasuhan di suku Dayak cenderung bersifat permisif dan demokratis, di mana anak diberikan keleluasaan dalam batas tertentu. Budaya Dayak mungkin menawarkan nilai-nilai komunitas yang lebih menekankan kemandirian dan Sayangnya, studi tersebut tidak menganalisis perbandingan secara mendalam dengan pola pengasuhan suku Jawa, yang merupakan area penelitian yang seharusnya dikaji dengan lebih seksama. Pendekatan pengasuhan berbasis budaya memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan karakter dan perilaku anak. Dengan meneliti pola pengasuhan orang tua suku Jawa dan Dayak secara komparatif, penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan baru mengenai bagaimana nilai-nilai budaya masing-masing suku mempengaruhi proses pengasuhan dan perkembangan anak, misalnya melalui partisipasi anak dalam acara adat di suku Dayak dan pengajaran norma dalam keluarga Jawa (Indrawati & Muthmainah, (Rachmawati, 2. mengidentifikasi empat nilai budaya utama yang membentuk pola pengasuhan di Indonesia: ketuhanan, jati diri manusia, pelestarian alam, dan gotong Meskipun demikian, studi-studi seperti Situmorang . dan Syaropah & Widjayatri . hanya membahas pola pengasuhan dalam konteks masing-masing suku tanpa membandingkannya secara langsung. Hal ini menimbulkan kekurangan pemahaman mengenai perbedaan mendasar antara pola pengasuhan Suku Jawa dan Suku Dayak, yang sangat relevan dalam pendidikan anak usia dini. Seiring dengan itu, penelitian ini ingin menunjukkan bahwa meskipun suku Jawa umumnya memiliki lebih banyak interaksi dengan masyarakat luar, sementara suku Dayak berpegang teguh pada adat dan tradisi lokal, kedua suku tersebut memiliki tujuan yang sama: mendidik anak-anak dengan baik. Temuan ini diharapkan dapat membawa kontribusi signifikan terhadap pengembangan pendidikan anak dan dukungan bagi kebijakan sosial yang lebih inklusif serta sensitif terhadap keberagaman budaya di Indonesia. Tinjauan pustaka ini menggarisbawahi bahwa meskipun telah ada banyak penelitian mengenai pola pengasuhan berdasarkan budaya, studi ini menawarkan pendekatan unik dengan membandingkan secara langsung pola pengasuhan dari suku Jawa dan Dayak. Dengan menambahkan dimensi baru ini, penelitian ini tidak hanya mengisi gap dalam literatur yang BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Pola Pengasuhan Orang Tua Muslim Suku Jawa dan Dayak pada Anak Usia Dini Di RA Al-Azhar Palangka Raya ada tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang pengasuhan anak dalam konteks multikultural Indonesia. Metode Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif untuk memahami pola pengasuhan orang tua dari suku Jawa dan Dayak pada anak usia dini di RA Al Azhar Palangka Raya. Metode penelitian kualitatif ini menghasilkan data dalam bentuk deskriptif, yang diperoleh melalui pengamatan, baik dalam bentuk tulisan, lisan, maupun perilaku subjek penelitian. Hasil deskriptif atau naratif muncul dari eksplorasi dan pemahaman peneliti terhadap lingkungan sosial yang diteliti (Waruwu, 2. Penelitian direncanakan berlangsung selama 2 bulan terhitung dari Oktober 2025 dan dilaksanakan di RA Al-Azhar Palangka Raya, yang terletak di Jl. Galaxy I No. Menteng. Kec. Jekan Raya. Kota Palangka Raya. Kalimantan Tengah 74874. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada statusnya sebagai lembaga pendidikan anak usia dini yang memiliki keragaman suku, terutama suku Jawa dan Dayak. Informan penelitian berjumlah 20 orang tua yang memiliki anak kelompok B . sia 5Ae6 tahu. , terdiri atas 10 orang tua suku Jawa dan 10 orang tua suku Dayak. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan mempertimbangkan keterlibatan langsung orang tua dalam pengasuhan serta kesesuaian latar belakang suku dengan fokus Kriteria pemilihan informan berdasarkan dari orang tua yang memiliki anak di kelas kelompok B. Orang tua Muslim/ah. Kedua orang tuanya bersuku Jawa, dan Kedua orang tuanya bersuku Dayak. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semiterstruktur, dan dokumentasi. Instrumen penelitian berupa pedoman observasi dan pedoman wawancara yang disusun oleh peneliti berdasarkan kajian teori pola pengasuhan dan nilai-nilai budaya. Validitas data dijaga melalui penerapan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif Miles. Huberman, dan Saldana (Miles et al. , 2. yang meliputi proses reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan pengujian kesimpulan untuk memperoleh pemahaman yang utuh mengenai persamaan dan perbedaan pola pengasuhan orang tua suku Jawa dan Dayak pada anak usia dini. Hasil Dan Pembahasan Hasil pengamatan langsung dirumah anak yang terdaftar di RA Al-Azhar Palangka Raya memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai pola pengasuhan orang tua dari suku Jawa dan Dayak. Observasi ini bertujuan untuk mengamati interaksi sehari-hari antara orang tua dan anak, serta bagaimana nilai-nilai budaya diimplementasikan dalam praktik pengasuhan mereka. Di rumah orang tua suku Jawa, suasana yang hangat dan penuh kasih sayang sangat Anak-anak tampak akrab dan nyaman berkomunikasi dengan orang tua mereka. Dalam setiap kegiatan, orang tua mengajarkan penerapan norma dan adat. Misalnya, saat waktu makan, anak-anak diberi tahu untuk membiarkan orang tua mereka mengambil makanan terlebih dahulu. Di rumah orang tua suku Dayak, orang tua mendorong anak untuk aktif berpartisipasi dan berkolaborasi dengan sepupu atau teman-teman dalam bermain. Ini mengajarkan anak tentang pentingnya gotong royong dan kerja sama. Misalnya, saat anak bermain, orang tua seringkali mengingatkan mereka untuk saling membantu, seperti berbagi Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengasuhan orang tua suku Jawa dan Dayak pada anak usia dini sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya yang dipegang oleh masingmasing suku. Dalam konteks suku Jawa, pola pengasuhan yang diterapkan cenderung menekankan kasih sayang, kelembutan, dan ketegasan. Selaras dengan pendapat BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Alfi Bismillah. Muzakki, & Aghnaita Handayani. Pola pengasuhan yang baik sangat penting untuk mendukung perkembangan karakter dan sosialisasi anak (Handayani, 2. Tabel 1. Pola Pengasuhan Berbasis Nilai Budaya pada Suku Jawa dan Dayak Nilai Pengasuhan Berbasis Budaya Pola Pengasuhan Suku Jawa Contoh Kegiatan Sehari-hari (Jaw. Pola Pengasuhan Suku Dayak Nilai Ketuhanan Menanamkan nilai religius doa sebelum dan sesudah Anak diajarkan sebelum makan makan, sebagai Menekankan pelibatan anak dalam kegiatan Saat duduk di Mengajarkan sopan santun, menunggu Nilai Jati Diri hingga orang tua Manusia lebih mengambil makanan dulu sebelum mereka Anak diajarkan Mengajarkan Nilai Pelestarian tempatnya dan Alam Lingkungan Selama Melibatkan keluarga, anak Nilai Gotong keluarga inti diajarkan untuk Royong dan dan Keterlibatan Masyarakat sehari-hari. menjamu tamu. Menekankan identitas sosial acara adat. Contoh Kegiatan Sehari-hari (Daya. Anak dilibatkan untuk upacara Salah satu nya kegiatan Tolak Bala. Anak diajarkan membantu saat kegiatan gotong Membantu kegiatan prosesi tolak bala Anak bermain di alam. Mengajarkan seperti di hutan sambil diajarkan melalui aktivitas luar ruang. Anak dilibatkan dalam kegiatan Komunitas besar dan masyarakat pentingnya kerja Hasil wawancara yang dilakukan pada November 2025, bersama dengan beberapa orang tua dari Suku Jawa juga menegaskan terkait dengan pola pengasuhan yang diterapkan ketika berada dirumah. Orang tua berinisial P yang memiliki Suku Jawa mengatakan bahwa: AuSaya selalu mengajarkan anak-anak tentang nilai budaya Jawa, terutama soal menghormati orang tua, kalau di Jawa itu kami bilangnya "unggah-ungguh" itu jadi kaya tatakrama ke orang tua itu harus yang sopan gitu. saya juga mengenalkan pentingnya sopan santun, jadi mereka belajar cara ngomong yang baik sama orang yang lebih tua kaya orang tua, guru sama orang-orang yang baru dikenal. Saya BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Pola Pengasuhan Orang Tua Muslim Suku Jawa dan Dayak pada Anak Usia Dini Di RA Al-Azhar Palangka Raya mengenalkan juga kegiatan kegiatan tradisi budaya sama anak, sering dikenalkan lewat kegiatan sehari-hari. Nah misalnya, menjelang hari-hari besar, saya selalu kasih tahu mereka tentang tradisi-tradisi yang ada, supaya mereka ngerti makna di balik perayaan tersebutAy. Orang tua berinisial K yang memiliki Suku Jawa pada wawancara juga mengatakan bahwa: AuKegiatan Brokohan sama Aqiqah penting banget menurut saya sebagai orang tua, karena nolong kami orang tua supaya bisa mengenalkan tradisi dan tradisional sama Brokohan, kami nyiapin perlengkapan buat bentuk syukur karna kelahiran sama mengundang keluarga, teman-teman, tetangga buat silaturahmi juga buat ngasih doaAy. Orang tua berinisial R yang memiliki Suku Jawa pada wawancara juga menyatakan bahwa: AuAda juga namanya tradisi selapan. Selapan itu acara 35 hari setelah kelahiran. Selapan tu termasuk momen penting buat bersyukur dan jadi harapan supaya bayi sehat, sambil mengundang keluarga besar untuk ngasih sedekah. Jadi, pengasuhan di suku Jawa ni gak hanya tentang aspek fisik, tapi juga spiritual yang penting untuk membentuk karakter anakAy. Hasil wawancara diatas didukung juga dengan beberapa penelitian yang mengatakan bahwa. Budaya yang ada di wilayah Jawa menekankan pentingnya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, budaya Jawa juga sangat menghargai kesederhanaan dan sopan santun (Alifuddin & Setyawan, 2. Pada masyarakat Suku Jawa, orang tua mengajarkan anak-anak sejak dini mengenai standar dan ekspektasi perilaku yang sesuai dengan budayanya. Contohnya, anak diajarkan tentang tatakrama . opan santu. dalam kehidupan sehari-hari, seperti tidak mengeluarkan suara keras saat makan, mendahulukan orang yang lebih tua untuk mengambil makanan, mengucapkan salam, berjabat tangan saat bertemu orang dewasa, membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan, serta memanggil saudara atau kerabat sesuai urutan keluarga . nggah-unggu. Tujuan dari pengajaran ini adalah agar anak-anak dapat memiliki keterikatan yang kuat dengan budaya di masa depan (Diananda, 2. Masyarakat Jawa, memulai pengasuhan sejak masa kehamilan, di mana ibu diharuskan mematuhi berbagai pantangan untuk melindungi janin. Hal ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa interaksi awal antara orang tua dan anak sangat mempengaruhi perkembangan anak (Susmiarni et al. , 2. Ritual-ritual seperti Brokohan dan Aqiqah, yang dilaksanakan saat kelahiran, berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai religius dan tradisional. Proses ini mencerminkan sikap hormat dan kerukunan yang merupakan dua prinsip utama dalam budaya Jawa (Situmorang et al. , 2. Sebagai contoh, dalam ritual Brokohan, berbagai perlengkapan disiapkan sebagai ungkapan syukur atas kelahiran anak, yang menunjukkan bahwa pengasuhan di suku Jawa tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga dengan nilai-nilai spiritual yang mendalam. Hasil wawancara yang dilakukan pada November 2025, bersama dengan beberapa orang tua dari Suku Dayak juga menegaskan terkait dengan pola pengasuhan yang diterapkan ketika berada dirumah. Orang tua berinisial N yang memiliki Suku Dayak mengatakan bahwa: AuNilai dari budaya dayak yaitu bagaimana cara kita menghormati atau menyayangi tumbuh tumbuhan, tidak menyakiti hewan dan makhluk hidup lainnya. Mengajarkan kepada mereka untuk harus mencintai alam semesta dan lingkungan kita. Pembelajaran nya pada anak usia dini yang kami kenalkan disini, salah satunya dari kegiatan menjaga lingkungan tadi, harapannya menjadikan tumbuhnya rasa tanggung jawab pada diri anak itu sendiri untuk menjaga lingkunganAy. Orang tua berinisial M yang memiliki Suku Dayak pada wawancara juga menyatakan bahwa: AuKegiatan yang sering melibatkan anak usia dini yaitu tradisi tolak bala. Dimana kami bikin kue serabi, dimasak lalu dibawa ketika sore pada menjelang magrib dan dibawa BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Alfi Bismillah. Muzakki, & Aghnaita ke masjid atau ketanah luas bersama air teh, kopi dan air putih dalam 1 nampan kemudian tradisi membaca doa. Budaya yang dikenalkan ke anak melalui kegiatan ini adalah anak-anak bisa tau bahwa tolak bala adalah salah satu kegiatan tahunan yang rutin dilaksanakan oleh masyarakat dayak sebagai bentuk menolak bala yang ada di Harapannya anak anak yang ikut melaksanakan kegiatan sendari kecil, akan tetap melestarikan tradisi tolak bala nanti hingga mereka dewasa, sehingga kegiatan tumur temurun dari leluhur ini bisa diteruskan ke generasi generasi berikutnya. Ay. Orang tua berinisial A yang memiliki Suku Dayak pada wawancara juga menyatakan bahwa: AuKami memang melaksanakan ritual bepalas bidan pada saat melahirkan anak. Yang pertama namanya selamatan bepalas mentah, itu kami mensyukuri selamatnya ibu dan Setelah itu bepalas bidan, itu kami percaya kalau kami tidak terhutang dengan si bidan saat kami melahirkan di bantu beliau. Di kegiatan palas bidan ini, kegiatan nya sama-sama saling memalas, biasanya kami pakai telur ayam, nah dipalas ditangan, dikepala supaya hubungan antara ibu, anak, dan bidan tapi tetap dingin seperti telur dan gak akan pernah panas. Kegiatan ini dilakukan memang setiap ada kelahiran dan biasanya akan ditambah doa selamat, sebagai keselamatan untuk ibu, bayi, dan juga Ritual bepalas bidan tidak bisa ditinggalkan menurut kami. Karna kalau kegiatan ini ditinggalkan ada rasa tidak enak dan kami merasa tidak sesuai sama tradisi dari nenek moyang kami dari dulu. Makanya jarang sekali masyarakat di kampung tidak melaksanakan bepalas bidan. Tradisi ini istilah nya juga sebagai bentuk menghargai nenek moyang kami duluAy. Hasil wawancara diatas didukung juga dengan beberapa penelitian terdahulu yang menjelaskan bahwa, adat istiadat merupakan pedoman hidup yang berisi norma dan nilai yang mengatur tata kehidupan masyarakat Dayak, sehingga mereka dikenal sebagai Belom Bahadat atau hidup beradat (Widen, 2. Menurut Rachmaniar, orang tua memberikan perhatian, menetapkan peraturan, mendisiplinkan, memberikan hadiah dan hukuman, serta merespons keinginan anak. Selama proses pengasuhan, sikap, perilaku, dan kebiasaan orang tua akan selalu diamati, dinilai, dan ditiru oleh anak. Hal ini akan secara sadar atau tidak sadar diserap oleh anak dan menjadi kebiasaan anak seiring dengan perkembangan anak (Rejeki, 2. Pengasuhan berbasis budaya berfungsi tidak hanya untuk membentuk karakter individu, tetapi juga untuk memperkuat ikatan sosial di dalam komunitas (Rachmawati, 2. Anak-anak diajak menghadiri upacara adat, seperti pesta pernikahan dan acara turun tanah, yang berfungsi untuk mensosialisasikan nilai-nilai budaya lokal. Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya belajar dari orang tua tetapi juga dari lingkungan sosial mereka, yang mendukung perkembangan sosial dan emosional mereka. Larangan atau pamali yang diterapkan kepada ibu hamil dan setelah kelahiran dalam budaya Dayak, seperti larangan untuk menyembelih ayam atau duduk di atas daun, mencerminkan kepercayaan masyarakat yang kuat terhadap pengaruh tindakan terhadap kesehatan dan keselamatan bayi (Jeferson, 2. Ritual-ritual seperti Bakunut dan Mandui Baya juga menunjukkan bahwa pengasuhan suku Dayak sangat terkait dengan nilai-nilai spiritual dan komunitas. Hal ini sejalan dengan teori etnoparenting yang menyatakan bahwa pengasuhan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai lokal yang berbeda dari pola pengasuhan mainstream (Alfaeni & Rachmawati, 2. Dari hasil ini, dapat disimpulkan bahwa pola pengasuhan berbasis budaya tidak hanya berfungsi untuk membentuk karakter anak, tetapi juga untuk membangun identitas budaya Baik orang tua suku Jawa maupun Dayak mengadopsi pendekatan yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang diyakini, yang selanjutnya memengaruhi perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengasuhan BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Pola Pengasuhan Orang Tua Muslim Suku Jawa dan Dayak pada Anak Usia Dini Di RA Al-Azhar Palangka Raya yang sensitif terhadap budaya dalam mencapai pengembangan anak yang optimal dan harmonis, sesuai dengan konteks sosial dan budaya mereka. Simpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa pola pengasuhan orang tua Muslim dari suku Jawa dan Dayak di RA Al-Azhar Palangka Raya dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya masingmasing. Orang tua suku Jawa mengutamakan kasih sayang dan norma, sedangkan orang tua suku Dayak lebih fokus pada keterlibatan anak dalam acara adat. Implikasinya, pengasuhan berbasis budaya berkontribusi signifikan terhadap perkembangan sosial dan emosional anak, sehingga kebijakan sosial dan pendidikan harus menghormati keberagaman budaya. Keterbatasan penelitian ini meliputi sampel kecil dan fokus pada dua suku, yang membatasi generalisasi hasil. Kontribusi ilmiah penelitian ini terletak pada pentingnya pengasuhan berbasis budaya dalam pendidikan Islam anak usia dini, memberikan wawasan untuk pengembangan praktik pengasuhan yang lebih sensitif dan relevan terhadap nilai-nilai lokal. Referensi