257 INOVASI : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat. Vol. No. 2, 2025 Pelatihan Tari Tradisional Bagi Kelompok Kerja Guru (KKG) di Kecamatan Mangarabombang Sebagai Upaya Peningkatan Kompetensi dan Pelestarian Budaya Jamilah1. Nurachmy Sahnir2. Rahma3. Miftahul Jannah4. Erna Setianingsih5 Fakultas Seni dan Desain. Universitas Negeri Makassar Email: Jamilah@unm. Abstrak. Pelestarian seni tari tradisional di tingkat sekolah dasar menghadapi berbagai tantangan, terutama keterbatasan kompetensi guru dalam mengajarkan materi tari yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Program Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam memahami gerak dasar tari tradisional Sulawesi Selatan dan menerapkan strategi pembelajaran seni tari yang kreatif dan menyenangkan. Mitra kegiatan adalah Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus VI Kecamatan Mangarabombang yang terdiri dari guru sekolah dasar. Materi pelatihan mencakup pemahaman gerak dasar, teknik koreografi sederhana, dan model pembelajaran seni tari untuk jenjang SD. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan partisipasi aktif guru, meningkatnya pemahaman tentang teknik dasar tari tradisional, serta kemampuan menyusun pola ajar tari sederhana untuk siswa SD. Secara keseluruhan, pelatihan ini memberikan kontribusi nyata dalam mendukung kompetensi guru serta memperkuat upaya pelestarian budaya lokal melalui jalur pendidikan dasar. Kata kunci: Tari tradisional. Kompetensi guru. KKG, pelestarian budaya. Pendidikan Dasar PENDAHULUAN Seni tari tradisional merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya yang tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga menjadi media pewarisan identitas dan nilai-nilai sosial di Pelestarian seni tari melalui jalur pendidikan dasar menjadi sangat penting karena anak-anak berada pada tahap perkembangan yang responsif terhadap pembentukan karakter Menurut Hermansyah & Wibowo . , pelibatan siswa dalam pembelajaran seni tradisional sejak dini mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya lokal sekaligus memperkuat kompetensi kreatif dan apresiatif mereka . Temuan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan seni tidak sekadar aktivitas ekstrakurikuler, tetapi juga sarana transfer nilai budaya yang efektif. Namun, upaya pelestarian seni tari di sekolah dasar tidak lepas dari tantangan yang cukup kompleks. Salah satu masalah utama yang sering ditemukan adalah keterbatasan kompetensi guru dalam mengajarkan seni tari tradisional. Hal ini sejalan Lestari & Widodo . yang menyebutkan bahwa sebagian besar guru SD tidak memiliki latar belakang pendidikan seni sehingga mengalami kesulitan dalam memahami teknik tari, menyusun koreografi, maupun mengimplementasikan strategi pembelajaran yang tepat . Temuan serupa dijelaskan oleh Suryana dan Hartati . bahwa guru kelas cenderung merasa kurang percaya diri mengajar tari karena minimnya pelatihan profesional yang berfokus pada seni budaya lokal . Kondisi ini juga terjadi di Kabupaten Takalar, khususnya Kecamatan Mangarabombang. Guru-guru yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus VI menyampaikan bahwa selama ini mereka sangat jarang mendapatkan pelatihan terkait seni tari tradisional. Padahal. Pelatihan Tari Tradisional Bagi Kelompok Kerja Guru (KKG) di Kecamatan A 258 kebutuhan penguatan kompetensi guru sangat mendesak, terutama untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan persiapan siswa dalam lomba seni seperti Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Keterbatasan fasilitas, minimnya sumber belajar, dan kurangnya dukungan pelatihan menyebabkan pembelajaran seni tari di sekolah kurang optimal. Berbagai studi PKM sebelumnya menunjukkan bahwa pelatihan tari berbasis budaya lokal memberikan dampak positif terhadap peningkatan keterampilan guru. Misalnya, hasil pengabdian yang dilakukan oleh Rachman et al. menunjukkan bahwa pelatihan tari tradisional bagi guru SD mampu meningkatkan pemahaman mereka terhadap teknik gerak dasar dan memberi kepercayaan diri dalam menyusun materi ajar tari . Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian Santoso & Dewi . yang menjelaskan bahwa guru yang mengikuti pelatihan seni budaya cenderung lebih kreatif dalam mengemas pembelajaran dan mampu menyesuaikannya dengan karakteristik siswa . Dengan demikian, pelatihan tari tradisional dipandang sebagai bentuk intervensi yang efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran seni budaya. Selain aspek estetis dan pedagogis, pelatihan seni tari juga berperan dalam memperkuat pelestarian budaya lokal secara lebih luas. Studi Abdillah . menegaskan bahwa keterlibatan guru sebagai agen pelestari budaya memiliki dampak jangka panjang karena guru berperan sebagai penyampai pengetahuan kepada generasi muda dalam konteks pendidikan formal . Pendidikan berbasis budaya lokal juga sejalan dengan arah kebijakan Merdeka Belajar dan penguatan Profil Pelajar Pancasila, yang menekankan pentingnya kreativitas, gotong royong, dan identitas kebudayaan sebagai fondasi karakter siswa. Universitas Negeri Makassar (UNM), melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, memiliki peran strategis dalam menjawab kebutuhan tersebut. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Terpadu, perguruan tinggi dapat berkolaborasi langsung dengan kelompok guru untuk memberikan pelatihan berbasis riset, keterampilan praktik, dan pendampingan akademik. Pelaksanaan PKM berupa AuPelatihan Tari Tradisional bagi Kelompok Kerja Guru (KKG) di Kecamatan MangarabombangAy merupakan bentuk kontribusi nyata dalam meningkatkan kompetensi guru sekaligus memperkuat upaya pelestarian budaya lokal Sulawesi Selatan. Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam tentang gerak dasar tari tradisional Sulawesi Selatan, teknik penyusunan koreografi sederhana untuk anak sekolah dasar, serta strategi pembelajaran seni yang kreatif, aktif, dan menyenangkan. Dengan peningkatan kompetensi guru, diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman belajar seni yang lebih bermakna sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal. Hal ini selaras dengan rekomendasi Putri & Setyawan . yang menekankan bahwa pembelajaran seni berbasis budaya lokal akan lebih efektif apabila guru memiliki keterampilan praktik yang memadai . Secara keseluruhan, urgensi pelatihan ini terletak pada dua aspek utama: Dengan demikian, pelatihan tari tradisional bagi guru KKG di Kecamatan Mangarabombang bukan hanya menjawab kebutuhan pembelajaran sekolah dasar, tetapi juga memainkan peran strategis sebagai upaya revitalisasi budaya daerah. 259 INOVASI : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat. Vol. No. 2, 2025 METODE YANG DIGUNAKAN Program Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan pada 14 Mei 2025 di SDN 113 Inpres Laikang. Kecamatan Mangarabombang. Kabupaten Takalar. Peserta kegiatan adalah guru-guru yang tergabung dalam KKG Gugus VI, dengan fokus peningkatan kompetensi dalam pembelajaran seni tari tradisional. Metode pelaksanaan kegiatan dibagi ke dalam tiga tahap: tahap persiapan, . tahap pelaksanaan, dan . tahap evaluasi. Tahap Persiapan Kegiatan ini diawali dengan beberapa langkah strategis berikut: Koordinasi dengan Mitra . Melakukan pertemuan dengan pengurus KKG dan pihak sekolah. Menentukan kebutuhan pelatihan, jumlah peserta, sarana, serta kesiapan lokasi Penyusunan Modul Pelatihan Menyusun materi pelatihan yang mencakup: Gerak dasar tari tradisional Sulawesi Selatan . Teknik koreografi sederhana untuk siswa sekolah dasar . Strategi pembelajaran seni tari yang kreatif sesuai tahap perkembangan anak . Menyusun panduan praktik bagi peserta untuk memudahkan transfer pengetahuan. Penyusunan Instrumen Observasi dan Evaluasi Menyiapkan instrumen untuk mengukur efektivitas kegiatan, terdiri atas: Lembar observasi partisipasi peserta . Rubrik penilaian kemampuan praktik tari . Tes pemahaman materi dasar tari Instrumen ini digunakan pada akhir kegiatan untuk menilai capaian peserta. Pembentukan Tim Instruktur . Menetapkan tim pelatih dari dosen Fakultas Seni dan Desain UNM. Pembagian tugas meliputi penyampaian materi, demonstrasi teknik tari, pendampingan praktik, serta evaluasi. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan praktik langsung, demonstrasi, tutoring, dan diskusi partisipatif. Kegiatan inti terdiri atas tiga sesi utama: Sesi 1. Pengenalan Gerak Dasar Tari Tradisional Sulawesi Selatan Kegiatan meliputi: Penjelasan teori dasar mengenai makna, filosofi, dan karakteristik gerak tradisional. Demonstrasi gerakan oleh tim instruktur. Latihan langsung oleh peserta secara berulang untuk memperkuat pemahaman. Observasi gerakan peserta dan pemberian umpan balik terkait ketepatan teknik dan Pelatihan Tari Tradisional Bagi Kelompok Kerja Guru (KKG) di Kecamatan A 260 Sesi 2. Teknik Koreografi Sederhana untuk Siswa SD Materi dalam sesi ini mencakup: Penjelasan prinsip dasar koreografi . esesuaian irama, repetisi, variasi gerak, dan pola Contoh penyusunan pola lantai dasar yang mudah diterapkan pada siswa SD. Latihan menyusun rangkaian gerak pendek secara berkelompok. Presentasi hasil koreografi peserta dan diskusi untuk memperbaiki komposisi gerak. Sesi 3. Strategi Pembelajaran Seni Tari yang Kreatif Kegiatan ini mencakup: Diskusi berbagai model pembelajaran seni tari yang sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar. Simulasi pembelajaran tari . icro teachin. yang dipandu instruktur. Penyusunan komponen pembelajaran seperti tujuan, langkah-langkah, dan media dalam LKPD atau RPP sederhana. Sesi tanya jawab terkait permasalahan guru dalam praktik pembelajaran di sekolah. Tahap Evaluasi Evaluasi kegiatan dilakukan secara menyeluruh dengan metode berikut: Observasi Partisipasi Peserta Menilai keterlibatan guru selama pelatihan, termasuk: Keseriusan mengikuti latihan . Keaktifan bertanya . Kemampuan bekerja sama dalam kelompok Tes Pemahaman Materi Peserta diberikan tes singkat untuk mengukur pemahaman terkait: Gerak dasar tari . Prinsip koreografi . Strategi pembelajaran seni Penilaian Kemampuan Praktik Melalui rubrik penilaian, instruktur menilai: Ketepatan gerak dasar . Keluwesan dan ekspresi . Kemampuan menyusun dan menyajikan koreografi pendek . Kesiapan guru menerapkan pembelajaran di kelas 261 INOVASI : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat. Vol. No. 2, 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat berupa pelatihan tari tradisional bagi guru-guru Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus VI Kecamatan Mangarabombang menunjukkan dampak yang luas dan signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran seni tari di sekolah dasar. Sejak awal kegiatan, antusiasme peserta terlihat dari kehadiran penuh seluruh guru yang telah terdaftar, serta tingginya keterlibatan dalam setiap rangkaian aktivitas. Hal ini menegaskan bahwa kebutuhan penguatan kompetensi dalam bidang seni tari masih sangat mendesak di kalangan guru sekolah dasar, terutama di wilayah yang memiliki kekayaan budaya lokal seperti Takalar. Keterlibatan aktif para guru dalam pelatihan ini juga sejalan dengan temuan Jamilah & Sahnir . yang menjelaskan bahwa keikutsertaan tenaga pendidik dalam kegiatan seni berbasis lokal merupakan salah satu indikator kesadaran kolektif masyarakat pendidikan dalam menjaga keberlanjutan budaya daerah. Gambar 1. Antusias Guru Mengikuti Kegiatan Dari sisi implementasi teknis, kegiatan pelatihan menggunakan pendekatan praktik langsung yang memungkinkan guru mempelajari gerak tari tradisional melalui observasi, imitasi, dan koreksi instruktur secara langsung. Metode ini terbukti sangat efektif karena sebagian besar peserta mampu mengikuti demonstrasi gerak dasar tari Sulawesi Selatan dengan cukup baik. Gerakan seperti posisi tangan, pola lantai, dan sikap tubuh yang menjadi karakter utama tari tradisional Sulawesi Selatan dapat ditirukan oleh peserta dengan tingkat akurasi yang terus meningkat selama sesi berlangsung. Peningkatan ini menunjukkan efektivitas pelatihan berbasis praktik, sebagaimana dijelaskan Jamilah . bahwa penguasaan teknik dasar merupakan landasan utama bagi kreativitas dan kemampuan mengajarkan tari secara Setelah mendapatkan umpan balik langsung, guru mampu memperbaiki postur tubuh, ketepatan ritme, serta keluwesan gerak, sehingga menghasilkan kualitas performa awal yang menunjukkan perkembangan signifikan. Selain aspek teknis, pemahaman peserta tentang nilai-nilai filosofis gerakan tari juga berkembang pesat. Melalui penjelasan instruktur mengenai makna gerak tertentu, seperti sikap tangan yang merepresentasikan penghormatan atau langkah kaki yang menggambarkan Pelatihan Tari Tradisional Bagi Kelompok Kerja Guru (KKG) di Kecamatan A 262 kelembutan dan keteguhan, guru mulai memahami bahwa tari tradisional tidak hanya sekadar aktivitas motorik, tetapi juga mengandung simbol budaya yang perlu diwariskan kepada siswa. Hal ini sangat sesuai dengan pandangan Jamilah . dalam kajiannya Signifikansi Gerakan Tari Tradisional dalam Ritme Kehidupan Sosial, bahwa setiap gerak dalam tari tradisional merupakan representasi dari pengalaman sosial, struktur nilai, dan cara hidup masyarakat. Dengan demikian, pemahaman guru terhadap filosofi gerak memperkuat kemampuan mereka untuk menanamkan nilai budaya pada siswa melalui media seni tari. Gambar 2. Diberikan Pengetahuan Gerak Dasar Tari Sulsel Kemajuan signifikan juga terlihat pada kemampuan guru dalam menyusun koreografi sederhana yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak sekolah dasar. Pada sesi kedua pelatihan, guru dilatih merangkai koreografi menggunakan prinsip-prinsip dasar seperti repetisi, kesesuaian irama, variasi, dan pola lantai sederhana. Hasilnya, hampir semua kelompok peserta mampu menyusun koreografi berdurasi pendek yang terdiri atas bagian pembukaan, inti, dan penutup. Keberhasilan ini sangat penting mengingat banyak guru sebelumnya mengaku kesulitan menyusun materi ajar tari yang menarik dan mudah diterapkan di kelas. Hal ini sejalan dengan temuan Jamilah dkk. yang menegaskan bahwa penyederhanaan materi tari merupakan strategi efektif dalam proses pelatihan dan pembelajaran tari tradisional, terutama ketika menyasar peserta didik sekolah dasar. Koreografi sederhana yang dihasilkan para guru dapat menjadi materi awal yang siap dipraktikkan di sekolah masing-masing. Selain peningkatan keterampilan teknis, pelatihan ini juga memberikan dampak besar pada pemahaman pedagogis peserta. Melalui sesi diskusi dan micro teaching, guru mulai memahami bagaimana memilih pendekatan pembelajaran yang tepat dalam mengajarkan tari kepada siswa sekolah dasar. Sebelum pelatihan, guru cenderung mengandalkan metode demonstrasi sederhana dan kurang melakukan inovasi. Setelah mengikuti pelatihan, peserta mulai menyusun langkah-langkah pembelajaran yang lebih kreatif dengan mengintegrasikan metode project-based learning, pendekatan kontekstual, hingga pembelajaran berbasis permainan yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran pedagogis yang signifikan. Temuan ini diperkuat oleh analisis Jamilah . , bahwa pendidikan seni tari yang efektif harus menghubungkan praktik gerak dengan konteks budaya, nilai kultural, serta pengalaman sosial peserta didik. Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan motorik guru, tetapi juga menumbuhkan 263 INOVASI : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat. Vol. No. 2, 2025 pemahaman mendalam tentang bagaimana tari dapat digunakan sebagai media pendidikan karakter dan pelestarian budaya. Gambar 3. Praktek Keterampilan Teknis Gerak Dasar Tari Pelatihan ini juga berkontribusi pada peningkatan kesadaran guru akan peran strategis mereka dalam menjaga keberlanjutan seni tradisional di lingkungan sekolah. Banyak guru menyatakan bahwa pelatihan ini membuka wawasan mereka mengenai pentingnya pembelajaran tari sebagai bagian dari pelestarian identitas budaya lokal. Mereka melihat bahwa tari tradisional dapat berfungsi sebagai sarana penanaman nilai, pengembangan karakter, dan pembentukan identitas budaya sejak usia dini. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Jamilah . , yang menyatakan bahwa guru merupakan agen utama dalam membangun kesinambungan budaya karena merekalah yang mentransformasikan nilai-nilai budaya melalui pembelajaran formal kepada generasi muda. Dengan demikian, kompetensi guru dalam bidang seni tari tidak hanya berdampak pada ranah pedagogis, tetapi juga menjadi tulang punggung pelestarian budaya lokal dalam jangka panjang. Secara keseluruhan, pelatihan ini menunjukkan keberhasilan dalam tiga dimensi utama: peningkatan keterampilan teknis guru dalam menguasai gerak dasar tari tradisional, . peningkatan kemampuan kreativitas dalam menyusun koreografi sederhana, dan . penguatan pemahaman pedagogis terkait strategi pembelajaran seni tari yang efektif, kreatif, dan berorientasi pada pelestarian budaya. Dengan melihat dampak positif ini, program pelatihan tari tradisional di KKG Mangarabombang dapat dinilai sebagai intervensi edukatif yang efektif dan relevan. Untuk keberlanjutan program, perlu penguatan melalui pendampingan reguler dan pelatihan lanjutan agar guru dapat terus memperkaya kemampuan mereka serta mengembangkan pembelajaran tari tradisional yang inovatif dan kontekstual di sekolah masing-masing. KESIMPULAN Pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat berupa pelatihan tari tradisional bagi guru-guru Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus VI Kecamatan Mangarabombang telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi guru dalam pembelajaran seni tari di sekolah dasar. Pelatihan yang mengkombinasikan pendekatan demonstrasi, praktik Pelatihan Tari Tradisional Bagi Kelompok Kerja Guru (KKG) di Kecamatan A 264 langsung, dan diskusi partisipatif ini berhasil meningkatkan pemahaman guru mengenai teknik dasar gerak tari tradisional Sulawesi Selatan, penyusunan koreografi sederhana, serta penerapan strategi pembelajaran yang kreatif dan sesuai karakteristik siswa. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa guru mampu menirukan gerak dasar dengan lebih tepat, memahami makna filosofis gerak, serta menyusun rangkaian tari yang sederhana namun efektif untuk digunakan dalam pembelajaran. Selain itu, pelatihan ini memperkuat kepercayaan diri guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran seni tari secara lebih variatif. Peningkatan kompetensi ini sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya lokal melalui jalur pendidikan, sehingga guru dapat berperan sebagai agen pelestari budaya di sekolah. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini efektif dalam memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi guru serta mendukung upaya revitalisasi dan pelestarian seni tari tradisional Sulawesi Selatan. Ke depan, pelatihan lanjutan dan pendampingan berkelanjutan perlu dilakukan untuk memperkuat kemampuan guru dalam mengembangkan karya tari kreasi anak dan memperluas penerapan pembelajaran seni budaya di berbagai sekolah dasar di Kabupaten Takalar dan wilayah sekitarnya. DAFTAR PUSTAKA