PENGARUH TECHNOSTRESS TERHADAP WORK-FAMILY CONFLICT PEGAWAI BAGIAN KEUANGAN DENGAN DIGITAL LITERACY SEBAGAI VARIABEL MEDIASI : STUDI KASUS DI ORGANISASI PERANGKAT DAERAH KABUPATEN INDRAGIRI HILIR Yesi Yandra Nitami1. Adolf Bastian2. Agus Seswandi3 Universitas Lancang Kuning Jln. Yos Sudarso Km 08 Rumbai Telp. 52581 Fax. E-mail : yesiyandra29@gmail. com (Korespondin. Abstract: This study examines the effect of technostress on workAefamily conflict (WFC) among 154 civil servants in financial units of OPD Indragiri Hilir Regency, with digital literacy as a mediating variable, grounded in HobfollAos Conservation of Resources theory . Technostress, arising from systems such as SIPD and e-budgeting, is identified as a key stressor in public sector digital transformation. Using a quantitative approach with purposive sampling, data were analyzed through PLS-SEM via SmartPLS 4. Results show technostress positively affects WFC (=0. , negatively affects digital literacy (=-0. , while digital literacy negatively influences WFC (=-0. , indicating complementary partial mediation . ndirect effect=0. The findings underline technostress risks to psychological wellbeing and family balance, while digital literacy functions as a protective factor. Strengthening digital literacy training and digital wellbeing policies is recommended. Keywords: Technostress. Work-Family Conflict. Digital Literacy. Complementary Partial Mediation. Conservation Of Resources Theory. Civil Servants Di tengah pandemi COVID-19, transformasi digital di sektor publik Indonesia menjadi Sebagai pemerintah daerah bergegas mengadopsi sejumlah aplikasi pengelolaan keuangan berbasis IT, seperti Sistem Informasi Pemerintah Daerah( SIPD), e-budgeting, dan e-Monev. Mempercepat proses kerja, pengelolaan keuangan, dan memperkuat pemerintahan semuanya telah dicapai dengan menggunakan alat-alat ini. Technostress yang dialami oleh anggota aparatur sipil negara (ASN), khususnya mereka yang bekerja di sektor keuangan yang sehari-hari banyak konsekuensi menakutkan yang mengintai di Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi baru dapat membuat orang mengalami banyak tekanan mental, sebuah fenomena yang dikenal sebagai technostress (Tarafdar et al. , 2. Tekanan tersebut muncul melalui lima dimensi utama: technooverload yang membuat pegawai merasa menambah beban dan kecepatan tugas, techno-invasion teknologi merembes ke kehidupan pribadi hingga menghilangkan batas antara waktu kerja dan istirahat, techno-complexity yang menimbulkan rasa frustrasi akibat sistem yang terlalu rumit, techno-insecurity yang memunculkan kekhawatiran akan tersingkir oleh rekan yang lebih terampil secara digital serta techno-uncertainty yang menciptakan ketidaknyamanan karena perubahan sistem yang terus-menerus dan sulit diprediksi. Di lingkungan birokrasi tingkat daerah seperti Kabupaten Indragiri Hilir, technostress terasa lebih berat karena infrastruktur digital masih dalam tahap pengembangan, pendampingan pengguna sering kurang memadai, dan target implementasi dari pemerintah pusat harus diselesaikan dalam waktu singkat. Konflik muncul antara pekerjaan dan kehidupan Pengaruh Technostress Terhadap Work-Family Conflict Pegawai Bagian Keuangan Dengan Digital Literacy Sebagai Variabel Mediasi : Studi Kasus Di Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Indragiri Hilir (Yesi Yandra Nitami. Adolf Bastian. Agus Seswand. keluarga sebagai akibat dari efek tekanan ini pada pekerjaan dan kehidupan keluarga. Menurut (Greenhaus & Beutell, 1. , konflik kerja-keluarga (WFC) terjadi ketika kemampuan individu untuk menjaga keseimbangan kehidupan kerja yang sehat terganggu karena tuntutan persaingan dari kehidupan profesional dan pribadi mereka. Karena pejabat publik di era modern masih memiliki mentalitas "selalu aktif" yang mendarah daging, mereka sering merasa peringatan aplikasi, atau permintaan data di luar jam kerja formal, yang memperburuk konflik ini. Hasil riset empiris dari (Spagnoli et al. , 2. selama masa pandemi serta (Peya et al. , 2. pada karyawan bidang teknologi informasi menguatkan bahwa technooverload dan techno-invasion menjadi pendorong utama WFC, karena menciptakan limpahan negatif. kelelahan dari pekerjaan digital ikut terbawa ke rumah, mengurangi waktu berkualitas bersama keluarga, dan pada akhirnya merusak kesejahteraan psikologis secara keseluruhan. Namun, ada harapan dari konsep digital literacy sebagai benteng perlindungan. (Eshet-Alkalai, 2. , yang memperluas gagasan (Gilster, 1. , menyatakan bahwa digital literacy bukan sekadar keterampilan dasar mengoperasikan perangkat, melainkan kemampuan menyeluruh yang meliputi aspek kognitif . emahami dan menganalisis informasi digita. , teknis . enggunakan alat secara optima. , sosial-emosional . engelola komunikasi dan interaksi darin. , serta etis . enjaga privasi dan keamanan informas. Karyawan dengan kemampuan literasi digital yang baik biasanya lebih efektif dalam mengoperasikan teknologi dengan cara yang memanfaatkannya dengan lebih efektif dan terarah, misalnya melalui pengelolaan batas . oundary notifikasi, atau penerapan prinsip "right to Penelitian (Zhang et al. , 2. membuktikan bahwa kompetensi digital yang memadai dapat secara nyata menekan tingkat Jurnal Daya Saing (Vol. XII. No. 1 Februari 2. bertambahnya work-family conflict, karena individu menjadi lebih efisien dan tidak mudah tertekan oleh tuntutan teknologi. Jika dilihat melalui lensa kerangka teoritis Konservasi Sumber Daya Hobfoll tahun 1989, sudut pandang ini menjadi lebih Waktu, energi, dan kemampuan untuk fokus hanyalah beberapa dari sumber daya penting yang selalu diupayakan untuk diperoleh, dilestarikan, dan dijaga oleh orang-orang, menurut gagasan tersebut. Technostress berfungsi sebagai stressor berkepanjangan yang mengancam sumber daya tersebut, menyebabkan pengurasan dan memicu loss spiral proses kehilangan sumber daya yang semakin cepat jika tidak Sebaliknya, digital literacy menjadi personal resource yang tangguh, dengan penguasaan digital yang baik, seseorang dapat memanfaatkan teknologi secara lebih hemat, mengurangi waktu terbuang pada pekerjaan berulang, serta membangun pemisahan yang tegas antara ranah kerja dan pemburukan konflik peran. Sedikit sekali pembahasan tentang bagaimana ketiga gagasan ini berhubungan dengan ASN di unit keuangan daerah Indonesia, meskipun topik ini telah dibahas secara luas dalam literatur internasional, khususnya dalam konteks sektor swasta dan negara maju. Variabel lokal, seperti infrastruktur yang tidak memadai, pelatihan yang tidak teratur, budaya yang sangat hierarkis, dan ekspektasi ketersediaan yang konstan, semuanya berkontribusi pada ciriciri berbeda yang hanya mendapat sedikit perhatian akademis hingga saat ini. Mengingat semakin pentingnya penerapan sistem keuangan digital di organisasi perangkat daerah (OPD) kabupaten Indragiri Hilir, penelitian ini mengisi kesenjangan pengetahuan yang signifikan dengan berfokus pada ASN dalam setting ini. Mengingat penjelasan sebelumnya, artikulasi pertanyaan yang berkaitan dengan penyelidikan ini melipui : . Apakah dampak technostress pada ketidaksesuaian antara kewajiban profesional dan tanggung ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengaruh Technostress Terhadap Work-Family Conflict Pegawai Bagian Keuangan Dengan Digital Literacy Sebagai Variabel Mediasi : Studi Kasus Di Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Indragiri Hilir (Yesi Yandra Nitami. Adolf Bastian. Agus Seswand. jawab keluarga di antara personel aparatur sipil negara dalam unit keuangan? . Apakah technostress memengaruhi digital literacy? . Apakah digital literacy memengaruhi work-family conflict? . Apakah kemahiran dalam teknologi digital bertindak sebagai variabel mediasi dalam korelasi antara technostress dan perselisihan antara tanggung jawab profesional dan kewajiban keluarga? Dengan fokus pada Divisi Keuangan ASN OPD Kabupaten Indragiri Hilir, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara empiris dampak technostress terhadap interaksi antara kewajiban kerja dan keluarga dengan mengkaji peran literasi digital sebagai variabel moderasi dalam hubungan tersebut. sementara juga memberikan prioritas utama pada kesejahteraan dan keseimbangan kehidupan kerja pegawai sektor publik dan ditindaklanjuti untuk mendorong transformasi METODE Penelitian metodologi kuantitatif yang mencakup elemen deskriptif sekaligus kausal, dengan menerapkan desain cross-sectional untuk tujuan akuisisi data. Pengumpulan data dijalankan lewat purposive sampling, artinya responden diseleksi berdasarkan kecocokan dengan kriteria populasi, yakni ASN di bagian keuangan yang secara aktif memanfaatkan sistem digital. Kuesioner dibagikan secara online kepada sekitar 200 ASN yang memenuhi syarat, melalui koordinasi dengan pimpinan OPD dan kanal komunikasi resmi internal, selama rentang waktu dua bulan pada Akhirnya, terkumpul 154 kuesioner yang lengkap dan dapat diproses lebih lanjut, dengan tingkat pengembalian yang cukup memuaskan. HASIL Analisis SEM-PLS Menggunakan SmartPLS 4. 0, studi ini SEM-PLS analisis ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara technostress, digital literacy, dan work-family conflict Jurnal Daya Saing (Vol. XII. No. 1 Februari 2. (WFC). Pendekatan SEM-PLS dipilih serbaguna, kemudahan pemrosesan data dari sampel yang relatif sedikit, dan kapasitas untuk menangani model yang rumit. Dengan menggunakan validitas konvergen, validitas diskriminan, dan reliabilitas komposit, model luar dievaluasi untuk menguji validitas dan reliabilitas konstruk pada langkah pertama penyelidikan Analisis data menunjukkan bahwa semua konstruksi model studi memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas yang telah ditetapkan sebelumnya. Masing masing dari tiga set indikator technostress dengan lima, literasi digital dengan enam, dan konflik keluarga kerja dengan delapanterbukti asli. Saling ketergantungan variabel kemudian dievaluasi dengan menjalankan model bagian dalam. Temuan menunjukkan hubungan yang jelas antara tekanan teknologi dan konflik kerja-keluarga, meskipun lemah. Di sisi lain, digital literacy berfungsi sebagai mediator yang signifikan, yang mengurangi efek negatif technostress terhadap work-family conflict. Pengujian Outer Model Hasil analisis Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEMPLS), yang mengevaluasi model luar, menunjukkan bahwa model yang digunakan dalam penelitian ini memenuhi persyaratan reliabilitas dan validitas untuk analisis Hasil dari tes tersebut adalah sebagai berikut: Validitas konvergen Ada nilai faktor pemuatan lebih dari 0,7 untuk semua pengukuran yang terkait dengan setiap konstruksi: technostress, literasi digital, dan konflik keluarga kerja. Dapat disimpulkan bahwa metrik tersebut memiliki validitas konvergen yang cukup. Jadi, metrik dapat meringkas struktur yang diukur dengan sangat akurat. ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengaruh Technostress Terhadap Work-Family Conflict Pegawai Bagian Keuangan Dengan Digital Literacy Sebagai Variabel Mediasi : Studi Kasus Di Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Indragiri Hilir (Yesi Yandra Nitami. Adolf Bastian. Agus Seswand. Validitas diskriminan Penilaian legitimasi diskriminan berusaha untuk memastikan bahwa setiap konstruksi dalam model secara empiris memfasilitasi identifikasi fenomena unik dan mengurangi risiko tumpang tindih yang Semua tanda-tanda menunjukkan sangat relevan koneksi untuk membangun yang harus diuji, menurut cross loadings tes temuan. Tidak ada indikasi yang menunjukkan besar beban pada konstruksi lainnya dari target yang membangun. Sejak penelitian ini model melekat erat dengan kriteria diletakkan keluar oleh PLS-SEM metode, itu berikut bahwa validitas diskriminan telah berhasil dicapai. Untuk konvergen, kita tidak hanya melihat loading faktor indikator, tapi kita juga menghitung AVE untuk setiap struktur. Jika nilai Ave konstruk lebih dari batas minimal kriteria 0,5 untuk semua diperiksa konstruksi, maka konstruksi dianggap memiliki validitas Konvergen dalam PLS-SEM. Di bawah ini adalah tabel yang berisi semua nilai Ave Tabel 2. Nilai Fornell Lacker Criterion Digital Literacy (M) Digital Literacy (M) Technostress (X) Work Family Conflict (Y) Technostress (X) Work Family Conflict (Y) Sumber : Data diolah . Secara menyeluruh. Hasil penilaian yang diterapkan dengan menggunakan kriteria FornellAeLarcker menegaskan bahwa ketiga konstruk yaitu Digital Literacy. Technostress, dan Work-Family Conflict semuanya telah memenuhi syarat validitas Nilai composite reliability pada setiap konstruk dalam penelitian ini semuanya melampaui ambang batas minimum 0,7, yang mengindikasikan bahwa konsistensi internal yang baik serta layak untuk dipercaya sebagai alat ukur. Secara keseluruhan, temuan dari pengujian outer model membuktikan bahwa model pengukuran dalam penelitian ini telah memenuhi standar validitas dan reliabilitas yang diperlukan, sehingga memungkinkan dilanjutkannya analisis lebih mendalam terhadap inner model untuk menguji hubungan dan interaksi antarvariabel latent. Tabel 1. Nilai AVE Konstruk Konstruk Technostress Digital Literacy Work-family Conflict Average Variance Extracted (AVE) Sumber : Data diolah . Dapat ditentukan bahwa ketiga pengukuran yang cukup baik, karena semuanya memiliki nilai AVE yang melebihi tingkat minimal yang disarankan, menurut temuan penelitian. Dalam studi ini, validitas diskriminan juga diuji dengan memanfaatkan kriteria Fornell-Larcker. Metode ini ditujukan untuk memastikan bahwa setiap konstruk dalam model benar-benar bersifat otonom dan tidak tumpang tindih secara signifikan dengan konstruk-konstruk lainnya. Jurnal Daya Saing (Vol. XII. No. 1 Februari 2. Pengujian Inner Model Berdasarkan penelitian oleh (Hair Jr et al. , 2. evaluasi terhadap inner model mencakup beberapa pengujian kunci guna mengetahui tingkat kekuatan serta kualitas hubungan antar-konstruk di dalam model struktural, yang meliputi: pengujian Path Coefficient, pengujian Goodness of Fit, serta pengujian hipotesis. Uji Path Coefficient Di tahap ini, kami melakukan penilaian terhadap kekuatan serta tingkat antar-konstruk dengan mengandalkan nilai path coefficient dan statistik t yang diperoleh lewat prosedur Path coefficient berfungsi untuk menggambarkan arah pengaruh positif ataukah negatif sekaligus mengukur ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengaruh Technostress Terhadap Work-Family Conflict Pegawai Bagian Keuangan Dengan Digital Literacy Sebagai Variabel Mediasi : Studi Kasus Di Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Indragiri Hilir (Yesi Yandra Nitami. Adolf Bastian. Agus Seswand. seberapa besar intensitas pengaruh tersebut di antara berbagai konstruk. Sedangkan statistik t digunakan untuk mengonfirmasi apakah hubungan itu memang signifikan secara Temuan dari pengujian path coefficient mengungkap bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara variabel-variabel latent dalam model struktural yang diuji. Dampak antara technostress dan work family conflict, baik secara langsung maupun melalui digital literacy sebagai perantara, terbukti signifikan. Nilai t-statistik yang tercatat pada setiap jalur hubungan dalam model semuanya melebihi nilai kritis 1,96, yang mengindikasikan bahwa terdapat hubungan yang kuat dan signifikan secara statistik antara variabel-variabel latent yang diuji. Uji Goodness of fit Ukuran utama yang dipakai di sini adalah koefisien determinasi, yaitu nilai RA atau R-square. Berdasarkan panduan (Hair Jr et al. , 2. Semakin besar nilai RA yang diperoleh, semakin tinggi pula kemampuan model struktural dalam menerangkan variasi atau fenomena yang menjadi fokus penelitian. Tabel 3. Nilai R-Square Digital Literacy (M) Work Family Conflict (Y) R-square R-square adjusted Sumber : Data Olahan, 2025 Skor R-square serta R-square adjusted menggambarkan bahwa model Structural Equation Modeling (SEM) yang dibangun telah memiliki kekuatan penjelasan yang cukup baik terhadap variasi fenomena yang menjadi objek penelitian. Tabel 4. Nilai QApredict Digital Literacy (M) Work Family Conflict (Y) QApredict RMSE MAE Sumber : Data diolah . Penilaian kecocokan model yang dilakukan dengan menggunakan nilai QA dan Jurnal Daya Saing (Vol. XII. No. 1 Februari 2. RA menunjukkan bahwa model struktural dalam studi ini memiliki kemampuan prediksi yang cukup memadai. Nilai RA yang cukup tinggi menunjukkan bahwa model ini dapat menjelaskan sebagian besar variasi pada variabel endogen dengan baik, sedangkan nilai QA yang positif menunjukkn bahwa model ini memiliki kemampuan prediksi yang baik terhadap data atau pengamatan yang tidak termasuk dalam Uji Hipotesis Melalui mengidentifikasi adanya pola hubungan yang cukup signifikan dan kuat antara technostress, tingkat kemampuan baca tulis digital, serta tingkat pertentangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan rumah Kecemasan yang ditimbulkan oleh informasi digital yang meluap-luap, pelanggaran privasi yang disebabkan oleh berbagai teknologi, atau pengenalan alat keseimbangan pekerjaan dan kehidupan keluarga adalah contoh dari apa yang dikenal sebagai technostress. Analisis matematis menunjukkan bahwa koefisien jalur mencapai 0,399 (Statistik-t 3,460. nilaip 0,. , menunjukkan bahwa menyulap tanggung jawab profesional dan pribadi seseorang menjadi lebih menantang seiring dengan naiknya level technostress. Selain technostress juga sangat memengaruhi kemampuan literasi digital secara negatif. Koefisien jalur menunjukkan angka Ae0,600 . -statistik 6,730. p-value 0,. , yang berarti orang yang mengalami tekanan teknologi tinggi cenderung kesulitan dalam memahami, menggunakan, mengatur, dan menilai teknologi dengan baik. Technostress dengan demikian menjadi penghalang besar bagi karyawan untuk meningkatkan keterampilan digital mereka. Sebaliknya, ketika literasi digital cukup tinggi, justru menjadi semacam ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengaruh Technostress Terhadap Work-Family Conflict Pegawai Bagian Keuangan Dengan Digital Literacy Sebagai Variabel Mediasi : Studi Kasus Di Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Indragiri Hilir (Yesi Yandra Nitami. Adolf Bastian. Agus Seswand. penahan yang efektif. Koefisien jalur Ae0,449 . -statistik 3,826. p-value 0,. membuktikan bahwa orang yang mahir menggunakan teknologi biasanya mengalami konflik kerja-keluarga yang lebih rendah. Mereka lebih mudah membuat pembatasan yang jelas antara jam kerja dan waktu bersama keluarga, meski segala sesuatu kini terhubung melalui perangkat digital. Dari sisi mediasi, literasi digital penghubung parsial. Technostress ternyata tidak hanya berdampak langsung terhadap konflik antara pekerjaan dan keluarga, tetapi juga memberikan pengaruh tidak langsung melalui perantaraan penurunan literasi digital, di mana besarnya efek tidak langsung tersebut mencapai 0,269 . engan nilai t-statistik 3,315 dan p-value 0,. Jadi, sebagian dampak buruk technostress terjadi karena orang menjadi kurang andal dalam mengelola teknologi terlebih dahulu. Intinya, penelitian ini menegaskan bahwa technostress berbahaya baik secara langsung maupun melalui jalur literasi digital yang melemah. Untuk itu, perusahaan sebaiknya mulai menerapkan langkahlangkah pencegahan yang lebih lengkap, misalnya mengurangi beban kerja berbasis digital yang berlebihan, rutin mengadakan pelatihan keterampilan digital, dan membuat aturan yang benar-benar mendukung keseimbangan hidup karyawan di tengah kemajuan teknologi yang semakin cepat. PEMBAHASAN Hasil evaluasi inner model pada penelitian ini membuka pemahaman yang lebih dalam tentang dinamika hubungan antara technostress, work-family conflict (WFC), serta literasi digital di kalangan aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Indragiri Hilir. Penemuan utama menegaskan bahwa literasi digital berperan sebagai mediator yang signifikan dalam meredam pengaruh negatif technostress terhadap terjadinya konflik antara pekerjaan dan Interpretasi atas temuan ini dapat dilakukan dengan mengaitkannya pada Jurnal Daya Saing (Vol. XII. No. 1 Februari 2. membandingkannya dengan hasil-hasil studi sebelumnya, serta memikirkan implikasi praktisnya baik bagi pengembangan teori maupun bagi kebijakan di lingkungan kerja, khususnya pada sektor publik yang sedang menjalani proses transformasi digital yang Pengaruh Technostress terhadap WorkFamily Conflict Hasil dari pengujian penelitian ini berpengaruh signifikan dan positif terhadap frekuensi konflik kerja-keluarga. Temuan ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya, seperti (Pey, 2. dan (Vayre & Vonthron, 2. , yang keduanya menemukan bahwa tekanan teknologi, seperti kelebihan teknologi dan invasi teknologi, dapat mengganggu keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Menurut Greenhaus dan Beutell . , technostress terjadi ketika para pekerja mengalami tuntutan teknologi yang sangat Akibatnya, mereka kehilangan waktu dan tenaga yang mungkin lebih baik dihabiskan bersama keluarga. Akibatnya, konflik antara pekerjaan dan keluarga semakin intensif. Dalam perspektif teori Conservation of Resources (COR) yang diperkenalkan oleh (Hobfoll, 1. technostress dianggap sebagai bentuk ancaman serius terhadap sumber daya pribadi individu, seperti waktu yang tersedia, energi fisik dan mental, serta kemampuan untuk mempertahankan fokus dan perhatian. Ketika orang berhadapan dengan stres yang tinggi dari penggunaan teknologi, mereka akan mengalami deplesi sumber daya, yang berujung pada kelelahan fisik dan mental. Hal ini mengurangi kemampuan mereka untuk memenuhi tuntutan dari pekerjaan maupun keluarga. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan manajerial yang memperhatikan keseimbangan antara beban kerja yang berkaitan dengan teknologi dan kualitas hidup pribadi karyawan. ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengaruh Technostress Terhadap Work-Family Conflict Pegawai Bagian Keuangan Dengan Digital Literacy Sebagai Variabel Mediasi : Studi Kasus Di Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Indragiri Hilir (Yesi Yandra Nitami. Adolf Bastian. Agus Seswand. Pengaruh Digital Literacy terhadap WorkFamily Conflict Temuan memberikan pengaruh negatif dan signifikan terhadap work-family conflict. Hal ini mengindikasikan bahwa pegawai yang memiliki kemampuan literasi digital lebih tinggi cenderung lebih mahir dalam mengelola penggunaan teknologi secara efisien, sehingga mampu meminimalkan gangguan yang timbul antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi atau Penelitian oleh (Zhang et al. , 2. dan (Siddiq & Scherer, 2. mengonfirmasi bahwa literasi digital yang baik berfungsi sebagai penghalang terhadap Technostress, membantu individu mengatasi tantangan teknologi, dan meminimalkan dampak negatifnya terhadap kehidupan pribadi Dalam konteks ini. Literasi digital tidak sekadar meliputi kemampuan teknis dalam mengoperasikan perangkat maupun aplikasi, melainkan juga mencakup aspek sosial-emosional memungkinkan seseorang untuk mengolah berkomunikasi dengan lancar di lingkungan daring, serta mempertahankan keseimbangan yang sehat antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi. (Eshet-Alkalai, 2. Dengan kemampuan literasi digital yang memadai, seseorang menjadi lebih mampu menetapkan batasan yang tegas antara urusan pekerjaan dan kehidupan keluarga, sekaligus meminimalkan berbagai gangguan yang muncul akibat penggunaan teknologi, sehingga pada akhirnya dapat menurunkan tingkat konflik antara pekerjaan dan keluarga . ork-family conflic. Peran Mediasi Digital Literacy Penelitian ini turut mengungkap bahwa literasi digital memainkan peran krusial sebagai variabel mediator dalam hubungan antara technostress dan konflik antara pekerjaan dengan kehidupan keluarga . ork-family Temuan Jurnal Daya Saing (Vol. XII. No. 1 Februari 2. menegaskan bahwa literasi digital berperan technostress terhadap kehidupan pribadi pegawai, berkat kemampuan yang lebih baik dalam menguasai dan mengelola teknologi sehari-hari. Kesimpulan tersebut selaras dengan hasil studi yang dilakukan oleh Park dan Kim . serta Shu et al. , yang sama-sama menemukan bahwa peningkatan literasi digital mampu menurunkan tingkat technostress melalui pemanfaatan teknologi yang lebih efisien dan efektif. Ketika individu memiliki keterampilan yang memadai untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi yang cepat, sehingga mereka lebih mudah mempertahankan keseimbangan yang sehat antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi sehari-hari. Secara teoritis, penemuan dalam penelitian ini memberikan sumbangan Conservation of Resources (COR) melalui pengintegrasian literasi digital sebagai salah satu bentuk sumber daya pribadi yang Literasi digital ini memungkinkan memanfaatkan teknologi dengan cara yang lebih efisien dan terkendali. Dengan demikian, literasi digital berperan sebagai sumber daya pelindung yang mampu mengurangi kehilangan atau deplesi sumber daya lain yang disebabkan oleh technostress, sehingga pada akhirnya turut meredam tingkat konflik antara tanggung jawab pekerjaan dan kehidupan keluarga. SIMPULAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji sifat hubungan antara technostress dan konflik keluarga kerja (WFC) di aparatur sipil negara (ASN) kabupaten Indragiri Hilir, dengan penekanan pada kesulitan yang dihadapi oleh instansi pemerintah daerah saat mereka menjalani transformasi digital. Tingkat literasi digital seseorang kehidupan kerja, menurut temuan pengujian ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengaruh Technostress Terhadap Work-Family Conflict Pegawai Bagian Keuangan Dengan Digital Literacy Sebagai Variabel Mediasi : Studi Kasus Di Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Indragiri Hilir (Yesi Yandra Nitami. Adolf Bastian. Agus Seswand. odel Sederhananya, ketika ASN memiliki kemampuan literasi digital yang kuat, mereka lebih mampu menangani tuntutan yang datang dengan teknologi, memungkinkan mereka untuk menjaga keseimbangan kehidupan kerja yang sehat dan meminimalkan perselisihan. Temuan sepenuhnya selaras dengan prediksi yang telah diuraikan pada bagian pendahuluan, memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konflik antara pekerjaan dan keluarga . ork-family conflic. Pengaruh buruk technostress terhadap kehidupan pribadi serta keluarga pegawai ternyata sangat berkaitan erat dengan semakin tingginya tingkat work-family conflict yang dialami. Lebih dari itu, literasi digital terbukti berperan sebagai mediator yang cukup efektif dalam meredam dampak negatif tersebut. Pegawai dengan kemampuan literasi digital yang lebih tinggi cenderung lebih terampil dalam mengelola teknologi sehari-hari, sehingga mampu mengurangi berbagai bentuk gangguan yang muncul antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Kesimpulan ini sekaligus memperkuat landasan teori Conservation of Resources (COR), yang menekankan bahwa individu secara alami melindungi sumber daya pribadinya, dalam konteks ini, literasi digital berfungsi sebagai mengurangi kehilangan sumber daya . esource depletio. akibat tekanan dari Kajian ini sangat selaras dengan tujuan awal, yaitu menemukan cara untuk membuat aparatur sipil negara (ASN) lebih fleksibel dalam menghadapi tekanan teknologi dan membantu anggotanya mencapai keseimbangan kehidupan kerja yang lebih baik. Untuk mengatasi lebih lanjut berbagai konsekuensi negatif yang berasal dari transformasi digital sektor pemerintah yang cepat, penelitian ini menambah pengetahuan kita tentang kebutuhan kritis Jurnal Daya Saing (Vol. XII. No. 1 Februari 2. pengembangan literasi digital. Walaupun penelitian ini telah berhasil mengungkap adanya hubungan yang signifikan antara technostress, literasi digital, dan work-family conflict, hasil-hasil yang diperoleh justru membuka peluang luas untuk eksplorasi lebih lanjut. Studi di masa depan dapat menggali faktor-faktor tambahan yang berpotensi memoderasi atau memediasi hubungan tersebut, seperti implementasi kebijakan kerja yang lebih fleksibel, maupun perbedaan karakteristik antar sektor yang mungkin memengaruhi interaksi dinamis antara ketiga variabel utama ini. Penelitian selanjutnya juga bisa melibatkan konteks atau budaya kerja yang berbeda untuk memperluas pemahaman mengenai penerapan literasi digital dalam mengelola Technostress di tempat kerja yang semakin dipengaruhi oleh teknologi. Dalam dunia yang serba cepat dengan kemajuan teknologi yang konstan saat ini, menjadi melek online lebih dari sekadar mengetahui cara menggunakan itu adalah kemampuan penting untuk sukses di tempat kerja dan dalam Temuan penelitian ini memiliki implikasi dunia nyata yang seharusnya memotivasi organisasi, terutama yang berada di sektor publik, untuk membuat kesejahteraan digital daripada peningkatan efisiensi melalui teknologi. Ini akan membantu karyawan menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka secara berkelanjutan. DAFTAR RUJUKAN Eshet. Digital literacy: A conceptual framework for survival skills in the digital era. Journal of hypermedia, 13. , 93-106. Greenhaus. , & Beutell. Sources of conflict between work and family roles. Academy of management review, 10. , 76-88. ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengaruh Technostress Terhadap Work-Family Conflict Pegawai Bagian Keuangan Dengan Digital Literacy Sebagai Variabel Mediasi : Studi Kasus Di Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Indragiri Hilir (Yesi Yandra Nitami. Adolf Bastian. Agus Seswand. Hobfoll. Conservation of resources: a new attempt at conceptualizing stress. American psychologist, 44. , 513. Netemeyer. Boles. , & McMurrian, . Development and validation of workAefamily conflict and familyAework conflict scales. Journal of applied psychology, 81. Peya. Dorronsoro. , & Ruiz. Sustainable optimization using electric vehicles. Sustainable Cities and Society, 105. Spagnoli. Molino. Molinaro. Giancaspro. Manuti. , & Ghislieri. Workaholism and technostress during the COVID19 emergency: The crucial role of the leaders on remote working. Frontiers in psychology, 11, 620310. Tarafdar. Tu. Ragu-Nathan. , & Ragu-Nathan. The impact of technostress on role stress and productivity. Journal of management information systems, 24. , 301-328. Tarafdar. Cooper. , & Stich. The technostress trifecta techno eustress, techno distress and design: Theoretical directions and an agenda for research. Information systems journal, 29. , 6-42. Zhang. Wang. , & Das. WorkAefamily conflict on sustainable creative performance: Job crafting as a mediator. Sustainability, 12. Zhao. Lynch Jr. , & Chen. Reconsidering Baron and Kenny: Myths and truths about mediation Journal of consumer research, 37. , 197-206 Jurnal Daya Saing (Vol. XII. No. 1 Februari 2. ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356