Jurnal Planta Simbiosa Volume 2. April 2020 Uji Respon Dosis Pupuk Kalium terhadap Tiga Galur Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill. ) di Lahan Politeknik Negeri Lampung Response of Potassium Dose to Three Lines of Tomato (Lycopersicum esculentum Mill. ) in Politeknik Negeri Lampung Diah Tri Ambarwati1. Eka Erlinda Syuriani1, dan Onny Chrisna Pandu Pradana1* Jurusan Budidaya Tanaman Pangan Politeknik Negeri Lampung. Jl. Soekarno Hatta No 10 Rajabasa Bandar Lampung 35144. Indonesia Diterima 17 Desember 2019 Diterima 9 Maret 2020 ABSTRAK Politeknik Negeri Lampung telah merakit beberapa galur tomat yang bertujuan untuk mendapatkan galur harapan, beberapa galur tersebut diantaranya adalah hasil persilangan tomat Lokal Lampung dengan Varietas Amigo (Lokal x Amig. dan persilangan tomat Lokal Lampung dengan Gondol (Lokal x Gondo. telah dikarakterisasi dengan keunggulan kemampuan adaptasi dilapangan mencapai 98% dan memiliki potensi hasil 10Ai14 ton per hektar. Pemupukan diberikan untuk mencukupi kebutuhan hara tanaman yang tidak dapat disediakan oleh tanah. Kalium memegang peran relatif banyak dan penting pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman tomat dan tanaman lainnya seperti proses pembukaan dan menutupnya stomata yang dipengaruhi oleh kandungan CO2 dan proses fotosintesis. Secara signifikan berbagai status K tanah berdasarkan ketersediaan K tanah galur dan dosis pupuk K terhadap pertumbuhan tanaman tomat. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2017 Ae Januari 2018 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor. Faktor pertama yaitu galur tomat, faktor kedua yaitu dosis pupuk K yang terdiri dari 4 taraf dosis yaitu 0 kg/ha, 150 kg/ha, 200 kg/ha dan 250 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan galur dan dosis memberikan pengaruh terhadap diameter buah tertinggi dan bobot per buah tertinggi. Kata kunci: tomat, galur, dosis pupuk K ABSTRACT Politeknik Negeri Lampung has assembled several tomato lines aimed obtaining new tomatos lines, some of them are the result of the crossing of Lampung Local tomatoes with Amigo Varieties (Local x Amig. and Lampung Local tomato crosses with Gondol (Local x Gondo. had been characterized by superior ability field adaptation reaches 98% and has a potential yield of 10-14 tons per hectare. Fertilization is given to supplay of plant nutrients that cannot be provided by the Potassium plays a relatively large and important role in the growth and development of tomatoes and other plants such as the process of opening and * korespondensi: onnypradana@polinela. onnypradana@polinela. idng@polinela. Jurnal Planta Simbiosa Volume 2. April 2020 closing the stomata which is influenced by the CO2 content and photosynthesis. Significantly various soil K status based on the availability of K soil strain and K fertilizer dosage on the growth of tomato plants. This research was conducted in September 2017 - January 2018 using a two-factor Randomized Block Design (RCBD). The first factor is tomato lines, the second factor is the dose of K fertilizer consisting of 4 dosage levels, namely 0 kg / ha, 150 kg / ha, 200 kg / ha and 250 kg / ha. The results showed that tomatos lines and dosage combination had the highest effect on fruit diameter and highest weight per fruit. Keywords: tomatoes, lines. K dose of fertilizer Salah satu faktor yang dapat PENDAHULUAN Produksi tomat di Indonesia Untuk pertumbuhan dan hasil yang baik, tahun 2011 yaitu dari 18. 420 ton maka diperlukan pemupukan yang 601 ton (BPS,2. Tanaman tomat membutuhkan Namun hara yang lengkap dan tepat, salah tahunnya mengalami peningkatan satunya adalah pemberian hara K. Secara khusus fungsi pupuk kalium bagi tanaman adalah membantu Pada masalah yang sering dihadapi petani tomat di Indonesia adalah teknologi kabohidrat, metabolisme air dalam budidaya, mulai tanaman, absorpsi hara, transpirasi, dari pemilihan pengendalian hama dan penyakit sampai pasca-panen. Sebagian besar pembesaran ukuran dan warna buah, serta berpengaruh pada kuantitas menggunakan cara bercocok tanam dan kualitas hasil tanaman. Kalium yang sangat sederhana dan hanya Indonesia asal-asalan terhadap penggunaan pupuk yang likopen, dan menurunkan klorofil. hanya menggunakan pupuk NPK Pemberian pupuk K yang berlebihan saja (Nonnecke, 1. mengakibatkan terhambatnya proses Jurnal Planta Simbiosa Volume 2. April 2020 potensi hasil 232,80 g per tanaman mengakibatkan sulitnya penyerapan dengan jumlah produksi 8. 918,86 Kg/ha (Juniarti, 2. N-K Sedangkan, pemberian pupuk K Efisiensi diperlukan bertujuan untuk menekan Kalium pertumbuhan kuncup terhenti dan mati, pertumbuhan tanmaan lemah, daun tua meunjukkan nekrosis, buah muda rontok, ukuran buah kecil, penentuan dosis rekomendasi pupuk warna buah kehijauan, rasa buah K yang efektif dan efisien sangat kurang mengandung asam (Uexkull. Dinas Pertanian pada tahun 2011 efisiensi pemupukan (Indarwati dan untuk tanaman sayuran dan dosis Haryanto, 2. Amisnaipa et al. anjuran penggunaan pupuk pada . dalam Juniari . , telah tanaman tomat adalah 150 Kg/ha terbukti bahwa secara signifikan Urea, 300 Kg/ha TSP, 200 Kg/ha berbagai status K tanah berdasarkan KCL. ketersediaan K tanah memengaruhi PT. Petrokimia Galur A (Lokal x Amig. , tinggi dan bobot buah panen tomat, galur B . ocal x Gondo. dan galur bahkan menjadi faktor pembatas C (Lokal x Permat. merupakan Inceptisol merupakan salah satu jenis tanah yang banyak digunakan masing-masing dikarakteristik dengan keunggulan Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis optimum Tanah adalah lokal Lampung yang telah pupuk K pada ke-empat galur tomat mencapai 10-14 ton per hektar. yang memiliki respon pertumbuhan Untuk pembanding menggunakan dan hasil produksi yang tinggi. galur Lokal Hijau yang memiliki Jurnal Planta Simbiosa Volume 2. April 2020 BAHAN DAN METODE dua faktor, dengan faktor pertama Penelitian ini dilakukan pada galur A (Lokal x Amig. , galur B tanggal 20 September 2017 - 30 (Lokal x Gondo. , galur C (Lokal x Januari Permat. , dan galur D (Lokal x Politeknik Hija. Faktor kedua adalah empat Laboratorium Negeri Lahan Analisis Lampung. Bahan taraf dosis pupuk Kalium dengan dosis 0 kg/ha, 150 kg/ha, 200 kg/ha, adalah 4 galur tomat yaitu, galur A 250 kg/ha dan diulangi sebanyak ( Lokal x Amigo ), galur B ( Lokal x tiga kali. Data dianalisis dengan Gondol ), galur C ( Lokal x Tabel Sidik Ragam, dan bila ada Permat. , dan galur D ( Lokal x perbedaan maka diuji lanjut dengan Hija. , pupuk K 0 kg/ha, 150 kg/ha, menggunakan Uji DMRT (Duncan kg/ha Multipel Range Tabe. pada taraf diapliksikan 0,5 dosis pada 15 hari Variabel yang di amati pada setelah tanam dan 45 hari setelah tanam, tanah, pupuk kandang dan tanaman . Diameter buah . , pasir dengan perbandingan 1:1:1 Jumlah buah pertanaman . , digunakan untuk media persemaian. Rata-rata bobot perbuah . dan Bahan Serapan hara (%). kg/ha. Tinggi analisis tanah yaitu (N) tanah 1 gram. CuSO4. Na2SO4 1 gram. Asam sulfat HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan tomat pada fase (H2S. 10 ml, aquades NaOH 40% 250 ml, nesel a 1 ml, nesel b 1 ml, (K) HCL 10 ml, tanah 5 gram, (P) NaHCO3 20 ml, aquades 200 ml, tanaman berbunga, sedangkan pada . ereaksi P) Amominumfanadad 3,5 ml dan Amoniummulida 3,5 ml, sedangkan untuk analisis jaringan tanaman 1 ml sampel dan 9 ml H2SO4. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Jurnal Planta Simbiosa Volume 2. April 2020 Tabel 2. Pengaruh galur terhadap tinggi tanaman Tabel 1. Rekapitulasi analisis ragam pengaruh galur dan dosis K Variabel Galur Dosis Interaksi Pengam (G) (D) (G*D) Tinggi Diamete r buah Jumlah Rerata Keterangan : tn = Tidak berbeda nyata pada = 0,05, * = Berbeda nyata pada = 0,05 Dari analisis ragam (Tabel 1 ) alur memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap variabel pengamatan yaitu diameter buah, dan rata-rata bobot perbuah, sedangkan pada (%) Perlakuan (Galu. Tinggi Nilai Tanama Duncan n . 3,04 58,22 a 1,472 57,89 a 1,595 2,93 58,03 a 1,546 58,33 a 10,60 Keterangan: angka pada kolom yang diikuti huruf yang sama, tidak berbeda nyata pada DMRT ( = 0,. 6,34 Tabel 3. Pengaruh dosis K terhadap tinggi tanaman No Perlakuan Tinggi Nilai (Dosis K) Tanaman Duncan . 57,53 a 1,595 57,97 a 1,546 58,84 a 3 58,13 a 1,472 Keterangan: angka pada kolom yang diikuti huruf yang sama, tidak berbeda nyata pada DMRT ( = 0,. Analisis variabel pengamatan tinggi tanaman dan jumlah buah pertanaman tidak Penggunaan galur dan dosis tidak berpengaruh dosis K berpengaruh nyata terhadap terhadap tinggi tanaman (Tabel . variabel pengamatan rata-rata bobot berpengaruh nyata pada variabel perbedaan galur dan dosis tidak tanaman pada galur A (Lokal x Amig. , galur B (Lokal x Gondo. Terdapat galur C (Lokal x Permat. , galur D antara galur dan dosis berpengaruh (Lokal x Hija. dengan taraf dosis nyata pada variabel pengamatan 0 Kg/ha, 150 Kg/ha, 200 Kg/ha, dan bobot per buah dan diameter buah. 250 Kg/ha. Salah satu faktor yang Jurnal Planta Simbiosa Volume 2. April 2020 Tabel 5. Pengaruh dosis K terhadap jumlah buah per tanaman rendahnya tinggi tanaman adalah faktor lingkungan yang tidak bisa Saat berlangsung, pada lokasi penelitian Perlakuan (Dosis K) Jumlah buah/tanam an . 42,54 a Nilai Duncan 3,967 42,62 a 3,775 42,15 a 4,091 43,58 a menyebabkan kurangnya pasokan air untuk mengairi lahan. Fase sekitar 4-8 MST (Kurnia, 2. Keterangan: angka pada kolom yang diikuti huruf yang sama, tidak berbeda nyata pada DMRT ( = 0,. Menurut Gardner et al. mengatakan ketersediaan air sangat tanaman, air juga sebagai pelarut unsur hara . roses nitrifikasi dalam tana. medium reaksi kimia, zat pelarut organik maupun anorganik sebagai penggalak pembelahan sel tanaman, bahan baku fotosintesis dan sebagai pendingin permukaan Tabel 4. Pengaruh galur terhadap jumlah buah per tanaman Perlakua Jumlah Nilai buah/tanam Dunca (Galu. 41,25 a 3,967 40,81 a 4,091 43,32 a 3,775 45,48 Keterangan: angka pada kolom yang diikuti huruf yang sama, tidak berbeda nyata pada DMRT ( = 0,. Analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan galur dan dosis tidak berpengaruh terhadap jumlah buah per tanaman (Tabel . pada data yang diperoleh menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan galur berbeda nyata terhadap jumlah buah per tanaman pada galur A (Lokal x Amig. , galur B (Lokal x Gondo. , galur C (Lokal x Permat. , galur D (Lokal x Hija. dengan taraf dosis 0 Kg/ha, 150 Kg/ha, 200 Kg/ha, dan 250 Kg/ha. Salah adalah faktor lingkungan yang tidak bisa dikendalikan seperti kurangnya lama penyinaran. Saat penelitian berlangsung pada lokasi penelitian kurangnya intensitas cahaya. Hal ini diduga menyebabkan hasil yang Jurnal Planta Simbiosa Volume 2. April 2020 Menurut Vincent E. et al. intensitas cahaya rendah dan terbesar terdapat pada galur B (Lokal suhu malam kurang dari 10 AC atau x Gondo. sebesar 2,87 cm dengan taraf dosis 200 kg/ha, sebaliknya AC menyebabkan gugur buah awal. Pada analisis ragam bahwa terendah terdapat pada galur D (Lokal x Hija. sebesar 2,48 cm dengan taraf dosis perlakuan galur dan dosis pupuk K 250 kg/ha. Diameter yang dihasilkan oleh tiap perlakuan menunjukan diameter buah. Hal ini disebabkan pengaruh yang berbeda-beda Tabel perlakuan galur dan dosis pupuk K Respon diameter buah pada dosis berkaitan dengan penambahan dosis 0 kg/ha pada galur A (Lokal x pupuk K. Amig. , galur B (Lokal x Gondo. , galur C (Lokal x Permat. dan galur Tabel 6. Pengaruh galur dan dosis K terhadap diameter buah Perlakuan Galur*Dosis Nilai Nilai Tengah Duncan Perlakuan 2,875 a 2,875 ab 0,129 2,725 bc 0,135 2,723 bc 0,140 2,701 bc 0,143 2,699 bc 0,145 2,679 bcd 0,147 2,649 bcde 0,148 2,642 0,149 2,640 bcde 0,150 10 D3 2,591 cde 0,151 11 C2 2,547 def 0,152 12 C3 2,525 ef 0,152 13 C4 2,523 ef 0,153 14 D2 2,484 0,153 2,359 g 0,154 16 A3 Keterangan: A (Lokal x Amig. B (Lokal x Gondo. C (Lokal x Permat. D (Lokal xHija. 1=0 Kg/ha, 2=150 Kg/ha, 3=200 Kg/ha, 4=250 Kg/ha. D (Lokal x Hija. memberikan pengaruh tidak berbeda nyata. Pada pemberian dosis pupuk 150 kg/ha berbeda nyata pada setia Pemberian kg/ha diameter buah terbesar terdapat pada galur B (Lokal x Gondo. Pemberian dosis pupuk diatas rekomendasi 250 kg/ha pada diameter buah terbesar dimiliki pada galur A (Lokal x Amig. dan galur B (Lokal x Gondo. sedangkan galur A (Lokal x Amig. , galur B (Lokal x Gondo. berbeda Dari hasil uji lanjut DMRT nyata dengan galur C (Lokal x taraf 5% dapat dilihat (Tabel . Jurnal Planta Simbiosa Volume 2. April 2020 Permat. dan galur D (Lokal x (Lokal x Gondo. sebesar 17,84 g Hija. dengan taraf 200 kg/ha. Hal ini disebabkan perlakuan sebaliknya bobot per buah terendah galur dan dosis pupuk K berkaitan terdapat pada galur D (Lokal x Hija. sebesar 8,18 g dengan taraf pupuk K. Semakin besar diameter dosis 150 kg/ha. buah maka akan semakin tinggi juga bobot buah. Unsur hara K juga Tabel 7. Pengaruh galur dan dosis K terhadap bobot per buah berperan dalam pembesaran diameter Perla G*D Hendarjati . 17,072 a 1,434 mengatakan hal ini disebabkan juga 16,959 a 1,507 karena unsur hara yang diserap 14,648 b 1,554 14,461 b 1,588 13,817 bc 1,614 13,688 bcd 1,634 13,584 bcd 1,650 apabila terlalu banyak unsur hara 13,255 bcd 1,663 yang tersedia maka tanaman tidak 13,127 bcde 1,674 mampu menyerap semua unsur hara 12,683 cdef 1,683 12,536 cdef 1,691 2,525 ef 1,697 2,523 ef 1,703 2,484 fg 1,708 2,359 g 1,712 Hal tanaman akan mempengaruhi besar Nilai Tengah Perlakuan 17,844 a Nilai Dunca disalurkan kebuah sehingga akan mempengaruhi besar kecilnya hasil diameter dan tebal buah, namun memasuki fase generatif. Hasil uji lanjut DMRT taraf 5% terdapat nilai R-Square variabel bobot per buah adalah 92% artinya sebagian besar variabel per buah dipengaruhi oleh perlakuan galur dan dosis yang diberikan. Tabel 7. menunjukkan bahwa bobot per buah tertinggi terdapat pada galur B Keterangan: A (Lokal x Amig. B (Lokal x Gondo. C (Lokal x Permat. D (Lokal xHija. 1=0 Kg/ha, 2=150 Kg/ha, 3=200 Kg/ha, 4=250 Kg/ha. Jurnal Planta Simbiosa Volume 2. April 2020 Berdasarkan faktor interaksi tanaman tomat yang semakin tinggi. dosis pupuk yang diberikan terhadap Hal ini sesuai dengan fungsi K ke- empat galur tersebut pada sebagai aktivator sejumlah enzim pemberian dosis pupuk 0 kg/ha bobot per buah pada galur A (Lokal tumbuh pada jaringan meristem x Amig. , sehingga mempercepat pembelahan (Lokal x Gondo. , dan galur C (Lokal x Permat. utama (Havlin et al. , 1. sedangkan bobot perbuah terendah Analisis jaringan tanaman pada terdapat pada galur D (Lokal x Hija. Pada pemberian dosis problematik unsur hara tanaman dan pupuk 150 kg/ha bobot per buah tertinggi dimiliki pada galur B melalui penetapan tingkat kritis (Lokal x Gando. Pemberian dosis pada pemberian pupuk rekomendasi 200 kg/ha bobot per buah tertinggi dimiliki oleh galur B (Lokal x memonitor status hara tanaman Gondo. Dosis diatas rekomendasi permanen, atau yang secara praktis 250 kg/ha bobot per buah tertinggi disebut crop logging (Soemarno, dimiliki oleh galur C (Lokal x Permat. Hasil Hal ini disebabkan perlakuan galur dan dosis pupuk K berkaitan analisis jaringan tanaman memiliki pupuk K. Pupuk K berpengaruh Tingkatan tanaman tomat terbagi tiga bagian (<1,. rendah, . ,5-. cukup dan meningkatkan bobot buah panen. (>. Pada perlakuan galur Semakin tinggi status hara K tanah. A (Lokal x Amig. , galur B maka kebutuhan tanaman akan hara (Lokal x Gondo. , galur C (Lokal x Permat. dan galur D (Lokal x Pemberian Hija. Jurnal Planta Simbiosa Volume 2. April 2020 dosis pupuk kg/ha, kg/ha, 200 kg/ha dan 250 kg/ha menunjukkan tingkat serapan hara kekurangan unsur hara. tergolong rendah. Tabel 8. Serapan unsur hara Perlakuan KESIMPULAN Pada Serapan Hara g L-. 0,000292 % Analisis Tanah Rendah antara perlakuan galur A (Lokal x 0,000215 % Rendah Amig. , (Lokal 0,00024 % Rendah Gondo. , (Lokal 0,000188 % Rendah Permat. , dan galur D (Lokal x 0,00024 % Rendah Hija. dengan taraf dosis 0 Kg/ha, 0,000248 % Rendah 0,000226 % Rendah 0,000232 % Rendah 0,000229 % Rendah 0,000217 % Rendah x Gondo. 15,98 g. Respon dosis 0,00024 % Rendah pupuk K terbaik terdapat pada 0,00024 % Rendah variabel bobot per buah pada galur 0,000208 % Rendah D (Lokal x Hija. dengan taraf dosis 0,000206 % Rendah 250 kg/ha . ,9 . 0,000138 % Rendah 0,000228 % Rendah Hal ini berkaitan dengan analisis tanah sebelumnya yaitu K yang tersedia pada tanah sebesar 4,26 150 Kg/ha, 200 Kg/ha, 250 Kg/ha terhadap diameter buah dan bobot Keterangan: A (Lokal x Amig. (Lokal x Gondo. C (Lokal x Permat. D (Lokal x Hija. , 1= dosis 0 g/ha, 2= dosis 150 g/ha, 3= dosis 200 g/ha, 4= dosis 250 g/ha Perlakuan memberikan respon terbaik terhadap diameter buah pada galur B (Lokal DAFTAR PUSTAKA