Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Early Literacy Skills through Interactive Learning in RA Al Muttaqiin: A Classroom Action Research Roudotul Djanah1. Ainun Fina2 1 RA Al Muttaqiin 2 RA Tapas Al-Falah Correspondence: roudotuldjanah20@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Interactive Classroom Action Research, education. RA Al Muttaqiin, reading skills, writing skills. ABSTRACT This study aims to explore the effectiveness of interactive learning strategies in enhancing early literacy skills at RA Al Muttaqiin. Early literacy development is crucial for young children as it lays the foundation for future academic success. However, many children in early childhood education face challenges in developing reading and writing skills due to traditional teaching methods that do not fully engage them. Interactive learning, which encourages active participation, collaboration, and handson activities, has been shown to be an effective approach for fostering better literacy skills. This research investigates how interactive learning methods can be applied in RA Al Muttaqiin to improve students' early literacy The study employs a Classroom Action Research (CAR) methodology, implemented in two cycles. Each cycle includes planning, action, observation, and reflection, allowing for continuous improvement based on the findings. Data collection includes student assessments, classroom observations, and teacher interviews to evaluate the impact of interactive learning on literacy skills. The research specifically focuses on children's ability to recognize letters, develop vocabulary, and improve their reading and writing skills through engaging and interactive activities. The findings of this study indicate that interactive learning significantly improves children's early literacy skills. Students demonstrated higher levels of engagement, improved letter recognition, and greater enthusiasm for reading and writing tasks. Additionally, collaborative activities provided a positive learning environment, fostering peer interaction and social development. These results suggest that incorporating interactive learning into the curriculum at RA Al Muttaqiin can effectively enhance early literacy outcomes. This research provides valuable insights for educators at RA Al Muttaqiin and other early childhood institutions, emphasizing the importance of interactive learning in promoting early literacy development. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan anak usia dini (PAUD) memegang peran yang sangat penting dalam membentuk dasar kecerdasan dan keterampilan sosial anak. Salah satu aspek utama dalam PAUD adalah pengembangan literasi, yang mencakup kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan literasi pada anak usia dini sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar mereka di tingkat yang lebih tinggi. Oleh karena itu, penting untuk memfokuskan perhatian pada pengembangan keterampilan literasi sejak dini, khususnya pada usia 4 hingga 6 tahun. Di RA Al Muttaqiin, pengembangan keterampilan ini masih menjadi tantangan besar, mengingat banyaknya siswa yang belum sepenuhnya dapat mengenali huruf atau membaca dengan lancar (Budi, 2. Dalam konteks ini, pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran menjadi faktor penentu. Pembelajaran yang hanya mengandalkan ceramah atau metode konvensional sering kali tidak Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 mampu menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak-anak. Hal ini dapat menyebabkan ketidakterlibatan siswa dalam kegiatan belajar, yang pada akhirnya menghambat pengembangan kemampuan literasi mereka. Oleh karena itu, diperlukan metode yang lebih interaktif dan menyenangkan agar anak-anak dapat terlibat aktif dalam proses belajar membaca dan menulis (Dewi, 2. Interaktif learning adalah pendekatan yang mengedepankan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan masalah dan berkolaborasi dengan temantemannya. Dalam konteks literasi anak usia dini, interaktif learning dapat berupa berbagai aktivitas yang melibatkan gerakan, gambar, dan permainan yang merangsang minat anak dalam mengenal huruf, angka, dan kata. Metode ini telah terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar anak-anak (Slamet, 2. Pembelajaran interaktif memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan keterampilan literasi dengan cara yang menyenangkan. Dalam kegiatan seperti bermain sambil belajar, anak dapat mengenal huruf dan angka melalui permainan yang melibatkan penggunaan alat peraga, gambar, atau media digital. Hal ini tidak hanya mengurangi rasa bosan anak terhadap pelajaran, tetapi juga meningkatkan keterlibatan mereka dalam kegiatan belajar, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pemahaman mereka terhadap konsep-konsep literasi (Tariq, 2. RA Al Muttaqiin sebagai lembaga pendidikan anak usia dini diharapkan dapat mengimplementasikan pendekatan interaktif learning dalam pengajaran literasi. Meskipun sudah ada beberapa upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa, masih terdapat tantangan dalam menciptakan suasana belajar yang optimal. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan sumber daya, baik dari segi alat dan media pembelajaran maupun keterampilan guru dalam menggunakan metode interaktif secara Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bagaimana penerapan metode interaktif dapat meningkatkan kemampuan literasi di RA Al Muttaqiin (Yuliana, 2. Selain tantangan sumber daya, tantangan lain yang dihadapi adalah kesulitan anak dalam mengenali huruf dan menghubungkannya dengan suara yang benar. Beberapa anak di RA Al Muttaqiin menunjukkan kesulitan dalam memahami hubungan antara simbol huruf dan bunyi yang dihasilkan. Hal ini dapat menghambat kemampuan mereka dalam membaca dan menulis dengan lancar. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih konkret dan menyenangkan untuk membantu mereka memahami konsep ini melalui aktivitas yang melibatkan pengulangan, permainan, dan berbagai alat bantu visual (Kurniawan, 2. Salah satu strategi dalam pembelajaran interaktif adalah penggunaan media visual dan auditory yang dapat menarik perhatian anak. Dengan melibatkan indera penglihatan dan pendengaran, anak dapat mengingat dan memahami informasi dengan lebih baik. Misalnya, melalui kartu huruf yang diiringi dengan suara atau lagu, anak-anak dapat mengasosiasikan huruf dengan bunyi yang lebih mudah diingat. Selain itu, menggunakan alat peraga yang menarik seperti boneka atau papan tulis interaktif dapat meningkatkan motivasi anak untuk terlibat dalam pembelajaran (Lestari, 2. Peran guru dalam pembelajaran interaktif sangat penting untuk memastikan bahwa metode ini diterapkan dengan efektif. Guru harus mampu merancang aktivitas yang menarik dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak, serta mengelola dinamika kelas agar setiap anak dapat berpartisipasi aktif. Selain itu, guru juga perlu memberikan umpan balik yang konstruktif dan menyemangati anak-anak dalam proses belajar mereka. Penggunaan teknik pengajaran yang variatif dan kreatif akan semakin mempermudah siswa dalam memahami konsep literasi (Rina. Pendekatan interaktif juga dapat mendorong anak untuk belajar bersama teman-temannya, yang pada gilirannya memperkuat keterampilan sosial mereka. Kolaborasi dalam kelompok Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 kecil memungkinkan anak untuk berbagi pengetahuan dan saling membantu dalam memahami Kegiatan kelompok ini juga dapat meningkatkan rasa percaya diri anak, karena mereka merasa didukung oleh teman-teman mereka dalam proses pembelajaran. Hal ini menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung perkembangan sosial anak secara bersamaan dengan peningkatan keterampilan literasi (Fitria, 2. Di sisi lain, teknologi juga dapat berperan besar dalam mendukung pembelajaran literasi melalui pendekatan interaktif. Penggunaan aplikasi edukasi yang dirancang khusus untuk anak usia dini dapat membantu memperkenalkan huruf, kata, dan kalimat dengan cara yang lebih Teknologi memungkinkan anak untuk belajar melalui permainan yang menantang dan menyenangkan, serta memberikan kesempatan untuk melatih keterampilan literasi secara mandiri di luar jam sekolah (Hadi, 2. Namun, meskipun teknologi dapat menjadi alat bantu yang efektif, penggunaan teknologi dalam pembelajaran harus diimbangi dengan kegiatan yang mengutamakan interaksi sosial dan komunikasi antara anak-anak. Teknologi seharusnya digunakan untuk melengkapi, bukan menggantikan, interaksi langsung antar anak dan guru. Oleh karena itu, penting untuk menemukan keseimbangan antara penggunaan teknologi dan interaksi tatap muka agar proses pembelajaran tetap bersifat menyeluruh (Sari, 2. Evaluasi terhadap penerapan pembelajaran interaktif di RA Al Muttaqiin menjadi bagian penting dari penelitian ini. Dengan mengumpulkan data melalui observasi kelas, wawancara dengan guru, dan tes literasi siswa, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana metode ini dapat meningkatkan kemampuan literasi anak-anak. Evaluasi ini juga akan membantu dalam merancang strategi yang lebih efektif dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah PAUD (Slamet, 2. Kolaborasi antara guru dan orang tua juga menjadi faktor penting dalam kesuksesan pembelajaran literasi. Orang tua yang aktif mendukung kegiatan belajar anak-anak mereka di rumah akan mempercepat perkembangan literasi anak. Orang tua dapat terlibat dengan membantu anak-anak mereka berlatih membaca atau menulis, atau bahkan dengan menyediakan lingkungan yang kaya akan bahasa, seperti membaca buku bersama atau bermain permainan bahasa di rumah (Budi, 2. Dengan demikian, pembelajaran literasi di RA Al Muttaqiin memerlukan pendekatan yang lebih dinamis dan interaktif. Penggunaan metode yang memadukan berbagai teknik dan alat pembelajaran yang menarik diharapkan dapat membantu anak-anak mengembangkan kemampuan literasi dengan cara yang menyenangkan dan efektif. Dengan penelitian ini, diharapkan dapat ditemukan strategi yang lebih baik untuk mendukung pengembangan literasi anak-anak di RA Al Muttaqiin dan lembaga pendidikan anak usia dini lainnya. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk mengeksplorasi penerapan pembelajaran interaktif dalam meningkatkan keterampilan literasi anak di RA Al Muttaqiin. PTK dipilih karena memberikan ruang untuk melibatkan guru dan siswa secara langsung dalam proses perbaikan pembelajaran. PTK terdiri dari beberapa siklus yang melibatkan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi, memungkinkan peneliti untuk mengevaluasi efektivitas tindakan yang diambil dan membuat penyesuaian yang diperlukan selama proses pembelajaran (Budi, 2. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada siklus pertama, peneliti bersama dengan guru merancang serangkaian aktivitas interaktif yang melibatkan penggunaan media visual, permainan, dan diskusi kelompok untuk mengajarkan keterampilan literasi dasar seperti mengenal huruf dan kata. Setiap siklus dilaksanakan selama empat minggu, dengan evaluasi Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 yang dilakukan di akhir setiap siklus untuk mengidentifikasi keberhasilan dan tantangan yang dihadapi dalam penerapan metode ini (Dewi, 2. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan guru, dan tes keterampilan literasi Observasi dilakukan untuk memantau tingkat keterlibatan anak selama kegiatan pembelajaran interaktif, serta untuk melihat bagaimana mereka berinteraksi dengan temanteman mereka dan bagaimana mereka mengaplikasikan keterampilan literasi yang dipelajari. Wawancara dengan guru bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan dalam mengimplementasikan pembelajaran interaktif dan untuk mendapatkan masukan tentang strategi pengajaran yang digunakan (Slamet, 2. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menggambarkan perkembangan keterampilan literasi siswa selama penerapan pembelajaran interaktif. Data dari observasi, wawancara, dan tes siswa akan dianalisis untuk menilai peningkatan keterampilan literasi mereka dalam membaca, menulis, dan mengenali huruf. Refleksi yang dilakukan di akhir setiap siklus akan digunakan untuk merancang tindakan perbaikan yang lebih efektif pada siklus berikutnya, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran lebih lanjut (Tariq. Penelitian ini juga melibatkan kolaborasi dengan orang tua siswa untuk mendukung pembelajaran literasi di rumah. Orang tua akan diberikan informasi mengenai kegiatan yang dilakukan di kelas dan diminta untuk membantu anak-anak mereka mengulang materi di Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat perkembangan literasi anak, serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih konsisten antara rumah dan sekolah. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, penerapan pembelajaran interaktif di RA Al Muttaqiin menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan siswa. Sebelum penerapan metode ini, banyak siswa yang cenderung pasif dalam kegiatan belajar bahasa Indonesia. Namun, setelah diterapkan pembelajaran yang melibatkan permainan, visualisasi, dan interaksi antar siswa, banyak anak yang mulai aktif berdiskusi dan berpartisipasi dalam aktivitas. Kegiatan yang melibatkan kartu huruf, gambar, dan lagu-lagu sederhana membantu mereka untuk lebih tertarik dan merasa nyaman dalam proses pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran interaktif dapat menarik perhatian anak-anak dan meningkatkan partisipasi mereka dalam proses pembelajaran (Budi, 2. Selain itu, pembelajaran interaktif juga memperlihatkan peningkatan dalam kemampuan mengenal huruf dan kata pada anak-anak. Sebagian besar siswa yang sebelumnya kesulitan dalam mengenali huruf, mulai dapat mengenali lebih banyak huruf setelah melakukan kegiatan yang melibatkan permainan dan media visual. Misalnya, saat menggunakan kartu huruf yang diiringi dengan suara atau lagu, anak-anak lebih cepat mengingat bentuk huruf dan suara yang Pembelajaran yang menyenangkan dan berulang membuat anak-anak lebih mudah mengasosiasikan huruf dengan suara, yang pada akhirnya meningkatkan kemampuan membaca dasar mereka (Sari, 2. Namun, dalam siklus pertama, beberapa siswa masih mengalami kesulitan dalam menghubungkan huruf dengan suara. Beberapa anak, meskipun sudah terlibat dalam kegiatan interaktif, tetap kesulitan dalam menyebutkan suara yang tepat untuk setiap huruf. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran literasi pada anak usia dini membutuhkan waktu dan pengulangan yang cukup agar dapat tercapai pemahaman yang optimal. Meskipun kegiatan pembelajaran sangat membantu, beberapa siswa yang membutuhkan pendekatan lebih intensif atau bantuan lebih individual tetap mengalami hambatan dalam menguasai materi (Slamet. Tantangan lainnya yang ditemukan pada siklus pertama adalah pengelolaan dinamika Sebagian kelompok menunjukkan ketidakseimbangan dalam partisipasi, dengan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 beberapa siswa yang lebih dominan mengarahkan diskusi, sementara siswa lainnya lebih pasif. Hal ini mengindikasikan perlunya perencanaan yang lebih matang dalam pembagian peran di dalam kelompok. Untuk mengatasi masalah ini, guru perlu memberikan instruksi yang lebih jelas tentang peran setiap anggota kelompok dan memberikan pengawasan lebih intensif agar semua siswa mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pembelajaran (Tariq, 2. Dalam siklus kedua, beberapa perbaikan dilakukan berdasarkan hasil refleksi dari siklus Guru mulai merancang tugas yang lebih terstruktur dan memberikan peran yang lebih spesifik dalam setiap kelompok. Hal ini terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan semua anggota kelompok, dengan lebih banyak siswa yang aktif berpartisipasi dalam diskusi dan tugas kelompok. Dengan adanya pembagian peran yang lebih jelas, dinamika kelompok menjadi lebih seimbang, dan setiap siswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan literasi mereka dengan lebih baik. Perbaikan ini menunjukkan bahwa pengelolaan yang baik dalam pembelajaran kooperatif dapat mengoptimalkan partisipasi siswa (Yuliana. Selain peningkatan keterlibatan, siklus kedua juga menunjukkan kemajuan yang lebih besar dalam kemampuan menulis anak-anak. Di dalam kelompok, anak-anak mulai berlatih menulis kata-kata sederhana yang mereka pelajari selama aktivitas membaca dan mendengarkan. Dalam tugas kelompok, mereka diminta untuk menulis kata-kata yang telah mereka pelajari dengan bantuan teman-temannya. Dengan cara ini, mereka tidak hanya belajar menulis, tetapi juga berbagi ide dan strategi dalam menyusun kalimat, yang memperkuat pemahaman mereka terhadap materi (Kurniawan, 2. Siklus kedua juga menunjukkan perkembangan signifikan dalam keterampilan berbicara siswa. Aktivitas yang melibatkan presentasi kecil dalam kelompok memberikan kesempatan bagi siswa untuk berbicara di depan teman-temannya. Dalam kegiatan ini, mereka diminta untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok atau menceritakan kembali cerita yang mereka buat. Kegiatan berbicara ini tidak hanya meningkatkan keterampilan verbal mereka, tetapi juga membantu mereka mengorganisir ide-ide dan meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam menggunakan bahasa Indonesia secara lisan (Lestari, 2. Selain keterampilan berbicara, pembelajaran interaktif juga memberikan dampak positif dalam keterampilan sosial siswa. Anak-anak yang sebelumnya cenderung lebih tertutup dalam kelompok, mulai menunjukkan peningkatan dalam komunikasi dan kerjasama dengan temanteman sekelas mereka. Dalam diskusi kelompok, mereka belajar untuk mendengarkan, memberi pendapat, dan menghargai pandangan orang lain. Hal ini penting untuk perkembangan sosial mereka, karena keterampilan sosial yang baik akan mendukung kemampuan mereka dalam berkolaborasi di berbagai situasi kehidupan (Rina, 2. Namun, meskipun ada peningkatan dalam keterampilan sosial, beberapa siswa masih menunjukkan kecenderungan untuk kurang terlibat dalam diskusi kelompok. Beberapa anak lebih memilih untuk mendengarkan daripada berbicara, terutama ketika berada di kelompok yang lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mendorong keterlibatan maksimal dalam pembelajaran interaktif, diperlukan pendekatan yang lebih mendalam dan perhatian lebih pada siswa yang cenderung lebih pemalu. Guru perlu menciptakan suasana yang lebih nyaman agar setiap siswa merasa dihargai dan terdorong untuk aktif berbicara (Fitria, 2. Pada siklus kedua, penggunaan teknologi mulai diperkenalkan dalam pembelajaran. Guru menggunakan aplikasi pendidikan yang dirancang untuk anak-anak usia dini, seperti permainan mengenal huruf dan kata melalui gambar dan suara. Penggunaan aplikasi ini terbukti memperkaya pengalaman belajar anak-anak, dengan banyak siswa menunjukkan minat yang lebih tinggi ketika menggunakan teknologi. Hal ini memberikan gambaran bahwa teknologi dapat menjadi alat bantu yang efektif dalam pembelajaran interaktif, asalkan digunakan dengan bijaksana dan mendukung tujuan pembelajaran (Hadi, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Meski teknologi memberi dampak positif, ada tantangan dalam penggunaan perangkat ini, yaitu terbatasnya akses dan fasilitas yang ada. Beberapa siswa mengalami kesulitan dalam mengakses aplikasi karena keterbatasan perangkat yang tersedia. Oleh karena itu, meskipun teknologi menawarkan peluang yang besar untuk pembelajaran interaktif, penggunaan teknologi perlu disesuaikan dengan kondisi dan sumber daya yang tersedia di sekolah (Sari. Evaluasi hasil pembelajaran pada siklus kedua menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan literasi siswa. Anak-anak yang sebelumnya kesulitan dalam membaca dan menulis kini menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Mereka dapat mengenali lebih banyak huruf, mengingat bunyi huruf dengan lebih tepat, dan mulai menyusun kata-kata Peningkatan ini tidak hanya terlihat pada kemampuan akademik, tetapi juga pada keterampilan sosial dan keterampilan berbicara mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran interaktif dapat meningkatkan tidak hanya aspek kognitif, tetapi juga keterampilan sosial dan emosional anak (Slamet, 2. Secara keseluruhan, penerapan pembelajaran interaktif di RA Al Muttaqiin terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan literasi anak-anak. Pembelajaran yang melibatkan berbagai metode, seperti penggunaan alat peraga, media visual, dan teknologi, berhasil menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menarik bagi siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interaktif learning dapat menjadi pendekatan yang sangat bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan literasi anak usia dini, terutama dalam aspek membaca, menulis, dan berbicara. CONCLUSION Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan pembelajaran interaktif dalam meningkatkan keterampilan literasi anak usia dini di RA Al Muttaqiin. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari siklus pertama dan kedua, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran interaktif memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perkembangan keterampilan literasi siswa, khususnya dalam aspek membaca, menulis, dan berbicara. Pembelajaran yang melibatkan aktivitas yang menyenangkan, seperti permainan, media visual, dan kolaborasi dalam kelompok, terbukti dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan mengurangi rasa jenuh yang sering dialami pada pembelajaran konvensional. Pada siklus pertama, meskipun terdapat tantangan dalam pengelolaan dinamika kelompok dan beberapa siswa yang kesulitan dalam mengenali huruf, pembelajaran interaktif telah berhasil menciptakan lingkungan yang lebih aktif dan menyenangkan. Anak-anak mulai menunjukkan minat yang lebih besar terhadap materi bahasa Indonesia, berpartisipasi dalam diskusi, dan terlibat dalam tugas-tugas kelompok. Hal ini membuktikan bahwa metode interaktif dapat merangsang keterlibatan anak dalam pembelajaran yang pada akhirnya mempercepat proses pemahaman literasi dasar mereka. Pembelajaran berbasis aktivitas seperti ini membuat mereka lebih mudah mengenali huruf dan kata, serta mulai mengaitkan bunyi dengan simbol huruf yang bersangkutan. Namun, tantangan terkait dengan pengelolaan dinamika kelompok yang tidak seimbang dalam partisipasi anggota masih terlihat pada siklus pertama. Beberapa siswa yang lebih dominan mengarahkan diskusi, sementara yang lain kurang aktif. Untuk mengatasi masalah ini, pada siklus kedua, guru melakukan perbaikan dengan merancang peran yang lebih jelas dalam Pembagian tugas yang lebih terstruktur dan pengawasan yang lebih intensif membantu menciptakan kelompok yang lebih seimbang, memungkinkan setiap anak untuk berkontribusi lebih aktif dalam pembelajaran. Perbaikan ini berhasil meningkatkan keterlibatan seluruh anggota kelompok, membuat proses pembelajaran lebih produktif. Selanjutnya, pembelajaran interaktif juga terbukti meningkatkan keterampilan menulis dan berbicara anak-anak. Dalam siklus kedua, kegiatan yang melibatkan presentasi kelompok atau Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 penulisan kata-kata sederhana memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengasah keterampilan berbicara mereka, sekaligus meningkatkan keterampilan menulis mereka. Dengan mempraktikkan penulisan dan berbicara di depan teman-teman mereka, anak-anak menjadi lebih percaya diri dan mampu mengorganisir ide mereka dengan lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa melalui pembelajaran kooperatif dan interaktif, siswa tidak hanya mengembangkan keterampilan literasi akademik, tetapi juga keterampilan sosial yang sangat penting untuk kehidupan mereka di luar sekolah. Pembelajaran interaktif juga memberi dampak positif dalam pengembangan keterampilan sosial siswa. Mereka belajar untuk bekerja sama, mendengarkan teman, berbagi ide, dan memberikan umpan balik dalam diskusi kelompok. Kemampuan untuk berkolaborasi dan berkomunikasi secara efektif sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan dalam proses pembelajaran di sekolah. Proses ini juga menunjukkan bahwa kemampuan sosial dan akademik saling berhubungan dan saling mendukung dalam perkembangan anak-anak. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran interaktif merupakan metode yang efektif dalam meningkatkan keterampilan literasi anak di RA Al Muttaqiin. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan hasil belajar akademik, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan bermakna bagi siswa. Meskipun ada beberapa tantangan dalam implementasinya, seperti pengelolaan dinamika kelompok dan perbedaan tingkat kemampuan siswa, pembelajaran interaktif terbukti dapat mengatasi banyak hambatan yang ada dalam pembelajaran literasi. Oleh karena itu, pembelajaran interaktif dapat terus dikembangkan dan diadaptasi agar lebih efektif dalam membantu anak-anak mengembangkan keterampilan literasi mereka dengan cara yang menyenangkan, kolaboratif, dan memotivasi. REFERENCES