e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Suriadi. Fitrah dalam Perspektif al-QurAoan FITRAH DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN (KAJIAN TERHADAP AYAT-AYAT AL-QURAN) Suriadi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas Kalimantan Barat suriadisambas@gmail. Abstract The religion of Islam as the religion of fitrah, is not only in accordance with the instinct of human religiosity, but also in accordance with even the development of its nature, including mansuia resources that will bring to its wholeness and personal perfection. This personal perfection which in Islamic education is called the human al-kamil, or perfect man. By nature, humans have found tauhid, though still in the immaterial realm . pirit real. From that understanding, it can be understood that human nature is a tendency to know, or to seek God. This can be found in the consensus between God and the spirits who later became the general constitution. The consensus begins with God's question to the spirit, is not I your Lord? . hey answe. surely you are our god, we are witnesses. Humans are creatures because they are influenced by innate . asic human potentia. and environment. This is one of the essence of human being. Keywords: Fitrah. Al-QurAoan Submit: 7 Agustus 2018 Accepted: 16 Oktober 2018 Publish: 25 Desember 2018 PENDAHULUAN Allah telah menciptakan semua makhluknya berdasarkan fitrahnya. Tetapi fitrah Allah untuk manusia, berupa potensi dan kreativitas yang dapat dibangun dan membangun, yang memiliki kemungkinan berkembang dan meningkat sehingga kemampuannya jauh melampaui kemampuan fisiknya. Pengertian fitrah sangat beragam. Meskipun demikian, kalau potensi dan kreativitas tersebut tidak dibangun dan tidak dikembangkan, niscaya ia kurang bermakna Oleh karena itu potensi dan kreativitas manusia perlu dibangun dan Keberagaman itu dikarenakan oleh pemilihan sudut makna. Fitrah dapat difahami dari sudut etomologis . , termonologis . bahkan makna kontkes dalam pemahaman dalam suatu ayat . Secara etimologis, asal kata fitrah berasal dari bahasa Arab, yaitu fithrah )A (AAjamaknya fithar )A(AA, yang suka diartikan perangai, tabiat, kejadian, asli, agama, ciptaan. (Langgulung, 1985, . Menurut M. Quraish Shihab, istilah fitrah diambil dari akar kata al-fithr yang berarti MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 08 No. 02 Juli-Desember 2018 143 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Suriadi. Fitrah dalam Perspektif al-QurAoan Dari makna ini kemudian lahir makna-makna lain, antara lain pencipta atau kejadian (Shihab, 1996: . Dalam gramatika bahasa Arab, kata fitrah sewazan degan kata fi'lah, yang artinya alibtida', yaitu menciptakan sesuatu tanpa contoh. Dalam al-Maarif al-Islamiyah dan Nahjul Balaghah, dan kitab-kitab lain, sebagaimana dikutip oleh Muthari, ditegaskan bahwa Allah tidak pernah mencontoh dalam penciptaan yang dilakukannya. Oleh karena itu. Allah menciptakan manusia merupakan suatu karya yang tanpa contoh dan tidak meniru karya sebelumnya. Fi'lah dan fitrah adalah bentuk masdar . yang menunjukkan arti keadaan. Demikian pula menurut Ibn al-Qayyim dan Ibnu Katsir, karena fithir artinya menciptakan, maka fitrah berarti keadaan yang dihasilkan dari penciptaan itu. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu AoAbbas, fitrah adalah awal mula penciptaan manusia. Sebab lafadz fitrah tidak pernah dikemukakan oleh al-Quran dalam konteksnya, selain yang berkaitan dengan manusia (Muthahhari, 1989: 6-. Makna fitrah yang berarti penciptaan merupakan makna yang lazim dipakai dalam penciptaan manusia, baik penciptaan fisik . l-jis. , maupun fsikis . n-naf. Pemaknaan penciptaan pada kata fitrah biasanya disejajarkan dengan kata al-'amr, al-bad', al-ja'l, al-khalq, al-shum'u, dan al-nasy'. Semua term tersebut secara umum memiliki makna yang sama yakni Akan tetapi untuk menggeneralisasi proses penciptaan manusia menurut para ahli lebih tepat digunakan kata fitrah. Di samping cakupannya luas, yang mencakup semua term di atas, fitrah juga menunjukan kekhasan penciptaan manusia, baik penciptaan pisik, psikis, maupun psiko-pisik (Mujib, 1999: . Dalam kamus Al-Munawwir, kata fitrah diartikan dengan naluri . (Munawwir, 1993, . Kemudian Mahmud Yunus mengatakan, kata fitrah diartikan sebagai agama, ciptaan, perangai, kejadian asli (Yunus, 1973, . Dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI), kata fitrah diartikan dengan sifat asli, bakat, pembawaan perasaan keagamaan. (Purwadarminto, 1998, . MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 08 No. 02 Juli-Desember 2018 144 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Suriadi. Fitrah dalam Perspektif al-QurAoan Selain itu. Lusi Makluf mengatakan, kata fitrah diartikan dengan agama, sunnah, kejadian, tabiat (Ma'kluf, 619-. Dalam kamus Indonesia-Inggris. John Echols dan Hasan Sadili, mengartikan fitrah dengan natural, tendency, disposition, character. (Echols dan Shadily: 1994, . Dan Kamus Arab-Melayu mengartikan fitrah dengan agama, sunnah, mengadakan, perangai, semula jadi, kejadian . (Marbawi, 1350 H: . Fitrah manusia berbeda dengan watak atau tabi'at, juga berbeda dengan naluri/garizah. Watak atau tabi'at adalah sifat dasar, seperti kalimat watak oksigen adalah mudah terbakar. Jadi watak adalah karakteristik yang terdiri dari pada bentuk, dan materi . Inilah yang merupakan watak atau tabi'at suatu benda. Sedangkan naluri atau garizah adalah sifat dasar. Sifat dasar ini bukan muktasabah . ukan diperole. Misalnya, anak kuda begitu lahir langsung bisa berdiri. Semut, meskipun binatang kecil namun mampu mengumpulkan makanan. Inilah yang disebut naluri atau garizah. Dalam naluri tidak terdapat kesadaran yang penuh. Untuk binatang, fitrah ini disebut naluri. Fitrah sama dengan watak . abi'a. dan naluri ini juga bukan diperoleh melalui usaha . Bukan pula karena khuduri . Istilah fitrah lazimnya untuk manusia, naluri lazimnya untuk hewan, dan watak lazimnya untuk benda. (Muthari: 17-. Secara terminologis . , terdapat beberapa pengertian fitrah yang dikemukakan oleh para ahli. Masing-masing pengertian yang dikemukakan memiliki sudut pandang yang berbedabeda. Misalnya pengertian yang dikemukakan oleh Raghib al-Ashfahani, fitrah adalah, mewujudkan atau mengadakan sesuatu menurut kondisinya yang dipersiapkan untuk melakukan perbuatan tertentu . l-Ashfahani, 1972: . Pengertian yang dikemukakan oleh Al-Ashfahani ini masih bersifat umum, karena ia mengemukakan fitrah sebagai sesuatu, sedangkan sesutau itu masing bersifat umum. Sesuatu itu bisa bermakna disposisi . l-isti'dy. , karakter . l-thab'. , sifat . l-sifa. , atau konstitusi . Kemudian fitrah juga dikatakan dipersipakan untuk melakukan perbuatan tertentu. MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 08 No. 02 Juli-Desember 2018 145 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Suriadi. Fitrah dalam Perspektif al-QurAoan Perbuatan tertentu ini juga masih bersifat umum, entah berupa berfikir, berbuat, atau berperasaan, semuanya masing bersifat umum dan belum jelas. Oleh karenanya perlu dicarikan pengertian lain. Ibn Mandzur memberikan definisi bahwa fitrah adalah kondisi konstitusi dan karakter yang dipersiapkan untuk menerima agama (Mandzur: . Dalam pengertian yang kedua ini fitrah dianggap sebagai suatu kondisi . konstitusi dan watak manusia. Pengertian ini kelihatannya membatasi pengertian yang pertama. Konstitusi manusia memiliki watak pisik dan psikis. Demikian juga dengan watak manusia memiliki kondisi baik dan buruk. Kondisi ini telah ada sejak awal kejadian manusia. Tujuan konstitusi dan watak manusia ini adalah agar manusia mampu menerima agama. Sedang agama yang sesuai dengan fitrah manusia adalah al-Islam. Maka dengan demikian setiap manusia yang dilahirkan memiliki potensi untuk menerima agama. Muhammad Ibn Asyur yang dikutif oleh M. Quraisy Shihab mendefinisikan fitrah adalah, suatu sistem yang diwujudkan oleh Allah pada setiap makhluk. Fthrah yang khusus untuk manusia adalah apa yang diciptakan Allah padanya, yang berkaitan dengan jasad dan akal . (Shihab, 1996: . Pengertian fitrah yang dikemukakan oleh Asyur ini mencakup totalitas apa yang ada di alam dan manusia. Fitrah yang ada pada manusia merupakan substansi yang memiliki organisasi konstitusi yang dikendalikan oleh sistem tertentu. Sistem yang dimaksud terstruktur dari jasad dan ruh. Masing-masing komponen ini memiliki dasar, natur, watak dan cara kerja sendiri. Semua komponen itu bersifat potensial yang diciptakan Allah sejak awal penciptaanya. Potensi yang ada dalam diri manusia ini perlu mendapatkan aktualisasi, salah satunya dengan melalui pendidikan Islam. Pemaknaan fitrah secara nasabi diambil dari beberapa ayat dan hadits Nabi. Pemaknaan secara nasabi ini kemudian memunculkan keragaman makan fitrah. Para ahli mengatakan fitrah bisa berarti suci . l-thuh. , fitrah bermakna potensi berislam . l-din al-Islym. , fitrah bermakna MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 08 No. 02 Juli-Desember 2018 146 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Suriadi. Fitrah dalam Perspektif al-QurAoan pengakuan keesaan Allah . auhid Alla. , fitrah bermakna kondisi selamat . l-Salama. dan kosistensi . l-Istiqyma. , fitrah bermakna ketulusan . l-Ikhlals. , fitrah bermakna suatu kondisi untuk menerima kebenaran . l-isti'dyd li qabyl al-ha. , fitrah juga bermakna potensi dasar yang dimiliki oleh manusia atau perasaan untuk beribadah . yu'ur li al-ubudiya. Fitrah juga bermakna ketetapan atau taqdir asal manusia mengenai kebahagiaan . l-sa'ada. dan kesengsaraan . l-syaqawa. hidup, dan fitrah bermakna tabiat atau watak asli manusia . habiiyah al-insy. (Mujib: . Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, baik etimologi, termonologi, maupin nasabi, dapat ditarik kesimpulan bahwa fitrah adalah wujud organisasi dinamis, yang terdapat dalam diri manusia dan terdiri dari sistem psikopisik yang dapat menimbulkan tingkah laku. Sistem tersebut memiliki citra yang unik . isalnya al-Isla. yang telah ada sejak awal Rumusan tersebut memiliki tiga elemen pokok, yaitu: Fitrah merupakan suatau organisasi dinamis yang ada pada diri manusia. Dikatakan orgnaisasi karena dalam diri manusia terdiri atas sistem-sistem psikopisik yang dapat menimbulkan tingkah laku, baik tingkah laku lahir maupun tingkah laku bathin. Dikatakan dinamis, karena fitrah yang potensial dapat berkembang untuk mencapai kesempurnaan hidupnya. Fitrah memiliki suatau citra esensi yang diciptakan oelh Allah sejak awal penciptaanya. Citra esensi manusia ini bersifat unik melebihi makhluk-makhluk lain, seperti fitrah berislam, berbudaya dan lain-lain. Fitrah manusia memiliki dasar, watak, sifat, dan cara kerja yang khas, semuanya masih bersifat potensial yang perlu diaktulisasikan menurut kondisi aslinya. FITRAH DALAM PANDANGAN MUFASIRIN Dari beberapa ayat al-Qur'an yang berkaitan dengan fitrah sebagaimana yang dikemukakan di atas, dalam penulis tidak akan membahas atau mengkaji . satu-persatu, akan tetapi hanya akan mempokuskan diri pada satu ayat saja, yakni surat al-Rum ayat ke-30. MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 08 No. 02 Juli-Desember 2018 147 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Suriadi. Fitrah dalam Perspektif al-QurAoan Dari sekian banyak ayat al-Qur'an yang berbicara tentang fitrah, hanya satau ayat yang secara sarih menyebutkan kata fitrah, yakni ssurat al-Rum ayat 30. Dalam ayat tersebut Allah SWT berfirman: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Alla. , . etaplah ata. fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah, . agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat tersebut mengatakan, bahwa fitrah bermakna kesucian, yaitu kesucian jiwa dan rohani. Fitrah di sini adalah fitrah Allah yang ditetapkan kepada manusia, yaitu bahwa manusia sejak lahir dalam keadaan suci, dalam artian tidak mempunyai dosa (Al-Qurthubi: 5. Sementara Ibnu Katsir mengartikan fitrah dengan mengakui ke-Esa-an Allah atau tauhid. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Katsir bahwa manusia sejak lahir telah membawa tauhid, atau paling tidak ia berkecenderungan untuk meng-Esa-kan Tuhannya, dan berusaha terus mencari untuk mencapai ketauhidan tersebut (Katsir, 1981: . Mufasir lain seperti al-Thabari mengatakan bahwa makna fitrah adalah murni atau alikhly, sebab manusia sejak lahir telah membawa berbagai sifat, salah satunya adalah kemurnian atau keikhlasan dalam menjalankan aktivitas. (Al-Thabari: . Pendapat ini didukung oleh Hamka, ia berkata bahwa fitrah adalah rasa asli murni dalam jiwa yang belum dimasuki pengaruh dari yang lainnya (Hamka, 192: . Sedangkan al-Maraghi mengatakan bahwa fitrah mengandung arti kecenderungan untuk menerima kebenaran. Sebab secara fitri, manusia cenderung dan berusaha mencari serta menerima kebenaran walaupun hanya bersemayam dalam hati kecilnya . Adakalanya manusia telah menemukan kebenaran, namun karena faktor eksogen yang mempengaruhinya, maka manusia berpaling dari kebenaran yang diperoleh (Al-Maraghi: . Fitrah juga dapat berarti potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan bermaAorifat kepada Allah Swt. Makna fitrah seperti ini kebanyakan diungkapkan oleh para MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 08 No. 02 Juli-Desember 2018 148 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Suriadi. Fitrah dalam Perspektif al-QurAoan filosof dan fuqaha. Para filosof aliran empirisme memandang bahwa aktivitas fitrah sebagai tolok ukur pemaknaannya. Sedangkan para fuqaha memandang haliah manusia merupakan cermin dari jiwanya, sehingga hukum diterapkan menurut apa yang terlihat, bukan dari hakikat di balik perbuatan tersebut. Pada sisi lain, fitrah juga bisa berarti ketetapan atau kejadian asal manusia mengenai kebahagiaan dan kesesatannya. Pendapat ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Abbas. Ka'ab bin Qurodi. Abu Sa'id al-Khudriy, dan Ahmad bin Hanbal. Mereka mengatakan bahwa manusia lahir dengan ketetapannya, apakah ia nanti menjadi orang yang bahagia ataukah menjadi orang yang sesat. Semua itu bergantung pada ketetapan yang diperoleh sejak manusia lahir. Ketetapan manusia selanjutnya disebut dengan fitrah, yang tidak dapat dipengaruhi oleh kondisi eksogen apa pun termasuk proses pendidikan. Apabila ketetapan asalnya baik, proses kehidupannya akan selalu baik walaupun pada awal perbuatannya sesat. Demikian juga sebaliknya, apabila ketetapan asalnya sesat, ia akan menjadi orang yang sesat walaupun ia beraktivitas seperti orang baik (Al-Qurthubi: 5. Pendapat di atas juga didukung oleh Nurcholis Madjid, ia mengatakan bahwa fitrah berarti kejadian asal yang suci pada manusia, itulah yang memberikan kemampuan bawaan dari lahirnya dan intuisi untuk mengetahui yang benar dan yang salah, sejati dan palsu. Pada fitrah, secara inheren terdapat kecenderungan alami manusia dan alam kejadiannya sendiri (Madjid, 1992: . Selanjutnya, fitrah juga bisa bermakna tabiat alami yang dimiliki manusia. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh al-Qurthubi bahwa manusia lahir dengan membawa perwatakan . yang berbeda-beda. Watak itu dapat berupa jiwa pada anak atau hati sanubarinya yang dapat menghantarkan pada ma'rifat kepada Allah (Al-Qurthubi: 5. Mufasir lainnya seperti Sayyid Quthub mengatakan, bahwa fitrah merupakan jiwa kemanusiaan yang perlu dilengkapi dengan tabiat beragama, antara fitrah kejiwaan manusia dan tabiat beragama merupakan relasi yang utuh, mengingat keduanya ciptaan Allah pada diri MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 08 No. 02 Juli-Desember 2018 149 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Suriadi. Fitrah dalam Perspektif al-QurAoan manusia sebagai potensi dasar yang memberikan hikmah, mengubah diri ke arah yang lebih baik, mengobati jiwa yang sakit, dan meluruskan diri dari rasa keberpalingan (Quthub: . Lebih lengkap al-Ghazali mengartikan bahwa fitrah merupakan dasar bagi manusia yang diperolehnya sejak lahir dengan memiliki keistimewaan-keistimewaan sebagai berikut: Beriman kepada Allah SWT. Kemampuan dan kesediaan untuk menerima kebaikan dan keturunan atau dasar kemampuan untuk menerima pendidikan dan pengajaran. Dorongan ingin tahu untuk mencari hakikat kebenaran yang berujud daya untuk berpikir. Dorongan biologis yang berupa syahwat, nafsu, dan tabiat. Kekuatan-kekuatan lain dan sifat-sifat manusia yang dapat dikembangkan dan dapat disempurnakan (Zainuddin, 1991: 66-. Sedangkan Ibnu Taymiyah sebagaimana dikutip oleh Muhaimin dan Abul Mujib membagi fitrah manusia menjadi dua macam, yaitu: Fitrah al-MunAzzalah, yaitu fitrah luar yang masuk pada diri manusia. Fitrah ini berupa petunjuk al-QurAoan dan al-Sunnah yang digunakan sebagai kendali dan pembimbing bagi fitrah al-Garzah. Fitrah al-Garzah, yaitu firah inheren dalam diri manusia yang memberi daya akal, yang berguna untuk mengembangkan potensi dasar manusi (Muhaimin dan Mujib, 1993: . Mahmud Yunus mengartikan fitrah dengan agama dan kejadian. Maksudnya adalah bahwa agama Islam ini bersesuaian dengan kejadian manusia, sedangkan kejadiannya itu tidak berubah. Kalau sekiranya kita biarkan manusia itu berpikir dengan pikirannya yang waras, niscaya pada akhirnya ia akan sampai kepada agama Islam. Tetapi karena manusia itu terpengaruh oleh adat istiadat dan pergaulannya, maka ia menjadi terjauh dari agama Islam. Pendeknya agama Islam itu bersesuaian dengan pikiran yang waras dan akal yang sempurna (Yunus: 340-. MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 08 No. 02 Juli-Desember 2018 150 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Suriadi. Fitrah dalam Perspektif al-QurAoan Di samping alasan tersebut, ada lagi alasan lain mengenai fitrah berarti agama, yaitu karena manusia diciptakan untuk melaksanakan agama . Hal ini dikuatkan oleh firman Allah dalam surat al-Dzariyat ayat 56. Muhammad Quraisy Shihab, mengatakan bahwa kata firah terambil dari kata faara yang berarti mencipta. Maksudnya adalah mencipta sesuatu pertama kali/tanpa ada contoh sebelumnya. Dengan demikian kata fitrah dapat juga dipahami dalam arti asal kejadian atau bawaan sejak lahir (Shihab, 2006: . Sayyid Quthub mengatakan bahwa fitrah adalah jiwa kemanusiaan yang perlu dilengkapi dengan tabiat beragama. Antara fitrah kejiwaan manusia dengan tabiat beragama merupakan relasi yang kuat. Mengingat keduanya ciptaan Allah pada diri manusia sebagai potensi dasar manusia yang memberikan hikmah, mengubah diri ke arah yang lebih baik, mengobati jiwa yang sakit dan meluruskan diri dari rasa keberpalingan (Quthub: . Sedangkan 'Abdullah Yusuf 'Ali menafsirkan fitrah dengan istilah agama yang lurus . tandard religio. atau al-Dyn al-Qayyim. Maksudnya adalah bahwa manusia sebenarnya sejak lahir sudah dibekali atau berpotensi memiliki agama yang lurus seperti halnya agama Ibrahim yang hanyf. Akan tetapi, oleh karena manusia berinteraksi dengan lingkungan alam sekitarnya, adakalanya manusia berbuat tidak baik. Oleh karena itu, tugas para guru agama atau para ulama untuk meluruskan manusia agar kembali ke dalam agama yang lurus atau agama tauhid/Islam dan kembali kepada Allah SWT yang Maha Esa. Fitrah Allah tersebut tetap dan tidak akan berubah sesuai dengan ketentuan-Nya (Ali, 1989: 1015-1. Berdasarkan pembahasan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa makna fitrah dalam pandangan para mufasir itu bermacam-macam. Namun, dari sekian banyak pendapat sebagaimana tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan fitrah di sini adalah potensi untuk menjadi baik dan sekaligus potensi untuk menjadi buruk, potensi untuk menjadi muslim dan untuk menjadi musyrik. Potensi tersebut tidak diubah. Maksudnya, potensi untuk menjadi baik ataupun menjadi buruk tersebut tidak akan diubah oleh Allah. Fitrah manusia ini dibawa sejak MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 08 No. 02 Juli-Desember 2018 151 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Suriadi. Fitrah dalam Perspektif al-QurAoan lahir dan terus mengalami perkembangan seiring dengan semakin berkembangnya akal manusia dan pada akhirnya manusia akan mengakui bahwa Tuhan itu ada sehingga mereka akan kembali kepada Tuhannya. Oleh karena itu, di sinilah betapa pentingnya mempertahankan fitrah dan sekaligus mengembangkannya bagi kehidupan manusia yang lebih baik. Berkembangnya fitrah dalam diri manusia sangat tergantung pada masukan dari wahyu yang mempengaruhi jiwa manusia. Dalam hal ini, baik buruknya fitrah manusia akan tergantung pada kemampuan manusia itu sendiri dalam berinteraksi dengan ajaran Islam. Sesungguhnya melalui pendidikan itulah maka fithrah yang merupakan potensi dasar manusia dapat dihantarkan pada tumbuhnya kreativitas dan produktivitas, serta komitmen terhadap nilai-nilai ilahiyah dan insaniyah. Hal tersebut dapat dilakukan melalui pembekalan kemampuan dari lingkungan pendidikan yang ada di sekitarnya secara terpola. Sampai di sini bisa diambil kesimpulan bahwa manusia mempunyai potensi fithrah berbuat baik, terutama fithrah beragama atau beriman, bahkan potensi tersebut sudah dianggap sebagai kebutuhan spiritual manusia. Melihat begitu pentingnya kedudukan pendidikan dalam upaya membimbing dan memelihara potensi fithrah manusia sejak dini, maka dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan Islam yakni membentuk manusia menjadi hamba Allah (Aoabdully. dan sebagai wakil Allah . , pencapaiannya hanya dapat dilakukan dengan cara mengembalikan fithrah manusia sebagai al-hanyf. MENGUNGKAP MAKNA FITRAH DALAM AL-QUR'AN Dalam al-Qur'an istilah fitrah disebutkan sebanyak 20 kali, terdapat dalam 17 surat dan dalam 19 ayat, kata fitrah ini muncul dalam berbagai bentuknya. Ada dalam bentuk madhi, fiil mudhari, isim fail, isim maful dan isim mashdar. Dalam bentuk fi'il madi sebanyak 9 kali, dimana fitrah berarti menciptakan, menjadikan. Kemudian dalam bentuk fi'il mudari' sebanyak 2 MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 08 No. 02 Juli-Desember 2018 152 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Suriadi. Fitrah dalam Perspektif al-QurAoan kali, yang berarti pecah, terbelah. Dalam bentuk isim fa'il sebanyak 6 kali yang berarti menciptakan, yang menjadikan. Dalam bentuk isim maf'ul sebanyak 1 kali yang berarti pecah. Dan dalam bentuk isim madar sebanyak 2 kali yang berarti tidak seimbang (Byqi: 522. Masing-masing ayat yang memuat term fitrah memiliki bentuk, kategori, subjek, objek, aspek dan makna tersendiri. Untuk lebih jelas, berikut ini penulis sajikan mengenai term fitrah dalam al-Quran: Tabel: I Berbagai Term Fitrah yang Terdapat dalam al-Quran Term Fitrah Surat dan Ayat Bentuk Kata Subjek Ayat Objek Ayat Arti Ayat a al-An'am : 79 Fiil Mydi Allah Langit Bumi Penciptaan a al-Rum : 30 Fiil Mydi Allah Manusia Penciptaan AAIOA Hud : 51 Fiil Mydi Allah Manusia Penciptaan AAIOA Yasin : 22 Fiil Mydi Allah Manusia Penciptaan AAIOA Al-Zukhruf : 27 Fiil Mydi Allah Manusia Penciptaan AAIA Thaha : 72 Fiil Mydi Allah Manusia Penciptaan AAEIA Al-Isra : 51 Fiil Mydi Allah Manusia Penciptaan AANIA Al-Anbiya : 56 Fiil Mydi Allah Langit-Bumi Belah AOAIA Maryam : 90 Fiil Mudhori Allah Langit Belah AOAIA Al-Syura : 11 Fiil Mudhori Allah Langit Belah AIAA Al-Infithar : 1 Fiil Mydi Allah Langit-Bumi Penciptaan a Al-Syura : 11 Ismu Fyil Allah Langit-Bumi Penciptaan a Al-Anam : 14 Ismu Fyil Allah Langit-Bumi Penciptaan a Ibrahim : 10 Ismu Fyil Allah Langit-Bumi Penciptaan a Fathir : 1 Ismu Fyil Allah Langit-Bumi Penciptaan a Ysusuf : 101 Ismu Fyil Allah Langit-Bumi Penciptaan a Al-Jumar : 46 Isim Mashdar Allah ------ ----- AAOA Al-Rum : 30 Jamak Allah Langit Belah AIIA NA Al-Mujjamiil : Ismu Fyil Allah Langit Belah MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 08 No. 02 Juli-Desember 2018 153 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Suriadi. Fitrah dalam Perspektif al-QurAoan Dari tabel tersebut dapat diketahui, bahwa semua kata fitrah dalam al-Quran muncul dalam bentuk fiil mydhi, mudhori, isim fyil, jamak dan mashdar. Subjek fitrah adalah Allah karena hanya Dia Dzat al-Fathir . sejak awal tanpa adanya contoh terlebih dahulu. Objek fitrah adalah manusia, langit dan bumi. Dari sini dapat dipahami bahwa fitrah berkaitan dengan alam baik secara makro . angit bum. maupun secara mikro . Penjelasan mengenai fitrah pada tebel di atas terlihat masih sangat umum, oleh karenanua perlu adanya penspesifikasian. Maksudnya lebih spesifikasi lebih menggambarkan konsep fitrah yang khusu dikaitkan dengan manusia sebagai inti kosmis, dan sasaran Tabel: II Berbagai Term Fitrah Objek Manusia di dalam al-Quran No. Term Fitrah a AA AAIA AOA AAIA AOA AAIA AOA AAIA a AEIA Surat dan Ayat Ayat Objek al-Rum: 30 Manusia secara umum Hud : 51 Yasin : 22 Al-Zukhruf : 27 Aspek Kata pertama tunggal Kata pertama tunggal Kata pertama tunggal Thaha : 72 Kata pertama jamak Al-Isra : 51 Kata ganti orang kedua Psikis Psiko-pisik Psiko-pisik Psiko-pisik Psiko-pisik Psiko-pisik Korelasi Ayat Agama Hanif (Isla. Tidak meminta upah dakwah mengajak menyembah Allah Tidak meminta upah dakwah mengajak menyembah Allah Beribadah atau menyembah Allah Keimanan Ahli sihir terhadap kebenaran yang berasal dari Allah Orang-orang musyrik yang tidak percaya akan kebangkitan hari akhir Manusia dalam pandangan al-Quran, memiliki dua tugas dan kedudukan yang utama, yaitu sebagai khalifah Allah dan Aoabdullah. Keduanya agaknya sejalan dengan dua tahapan kehidupan, yaitu kehidupan di dunia dan di akhirat. Sesuai dengan doktrin tauhyd. Tuhan adalah pencipta alam semesta ini, termasuk manusia. Tuhan juga yang menentukan perjalanan manusia, yang tidak hanya berakhir pada kehidupan di dunia semata, melainkan berlanjut pada kehidupan Agar kedudukannya sebagai khalifah Allah di dunia ini memiliki keterkaitan dengan MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 08 No. 02 Juli-Desember 2018 154 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Suriadi. Fitrah dalam Perspektif al-QurAoan keberlangsungan hidupnya di akhirat, maka manusia dituntut untuk bersikap pasrah, tunduk, dan patuh secara mutlak kepada Allah, yang disebut Aoibadah (Zayadi: 2005: . Tugas manusia yang utama, selain sebagai khalifah, memang Aoibadah. Al-Razi sebagaimana dikutip oleh Ahmad Zayadi, menyatakan bahwa manusia tidak akan dapat menanggung beban tugasnya sebagai khalifah jika dalam dirinya tidak terbentuk perasaan tunduk, patuh, pasrah . yang total kepada Allah. Dengan kata lain, usaha manusia untuk membangun (Aoimara. alam semesta di dunia, dalam kedudukannya sebagai khalifah, tidak dapat ditunaikan bila ia syirik terhadap-Nya. Sikap syirik atau ingkar kepada-Nya, akan menyebabkan kerusakan alam. Ibadah sendiri lebih dari sekedar tugas, karena sesungguhnya ibadah merupakan kebutuhan sejati Sejak awalnya, manusia telah dibekali unsur vital yang disebut fithrah, yang intinya kecenderungan tauhidullah dan beribadah kepada-Nya. Al-Fakhr al-Razi dalam Ahmad Zayadi mengatakan, bahwa secara umum al-khalifah adalah orang yang menggantikan orang lain dan ia menempati tempat serta kedudukannya. Seorang khalifah adalah orang yang menggantikan orang lain, menggantikan kedudukannya, kepemim-pinannya atau kekuasaannya. Selanjutnya Quraish Shihab mengatakan bahwa kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud as. , bertalian dengan kekuasaan mengolah wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Ilahi yang mengajarkan kepadanya al-hikmah dan ilmu pengetahuan. Disebutnya istilah kekhalifahan yang dikaitkan dengan upaya Tuhan yang mengajarkan al-hikmah dan ilmu pengetahuan sebagaimana disebutkan itu memberikan petunjuk yang jelas tentang adanya kaitan yang erat antara pelaksanaan fungsi kekhalifah-an dengan pendidikan dan pengajaran. Yaitu untuk dapat melaksanakan fungsi kekhalifahan itu seseorang perlu dibekali pendidikan. peribadi seseorang atau diwujudkan dalam bentuk otoriter atau diktator. Untuk lebih menegaskan fungsi kekhalifahan, manusia di muka bumi ini dapat dilihat misalnya ayat-ayat dibawah ini. MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 08 No. 02 Juli-Desember 2018 155 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Suriadi. Fitrah dalam Perspektif al-QurAoan A aEI AaOCa a a a aA a AA EaA a A aO a a aA a aA aON aaO EacaO aaEa aEI aEaA. Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu di atas sebagian . ang lai. beberapa derajat. (Al-'Anam: . a A Aa aII aEA aa aEaO aN aEA aNA a AA AaO EaA a aN aaO EacaO aaEa aEI aEaA Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir maka baginya . kekafirannya menimpa dirinya sendiri. (Fathir: . Ayat-ayat tersebut di samping menjelaskan kedudukan manusia di alam raya ini sebagai khalifah dalam arti yang luas, juga memberikan isyarat kepada kita tentang perlunya sikap moral atau etika yang harus ditegakkan dalam melaksanakan kekhalifahannya itu. Quraish Shihab, misalnya mengatakan bahwa hubungan antar manusia dengan alam atau hubung-an antara penakluk yang yang ditaklukan, atau antara tuan dengan hambanya, tetapi hubungan dalam ketundukkan kepada Allah SWT. Karena kalaupun manusia mampu mengelola . , namun hal tersebut bukan akibat kekuatan yang dimilikinya, tetapi akibat Tuhan menundukkannya untuk manusia. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Musa AsyAoari, menurutnya bahwa tugas seorang khalifah sebagai pengganti yang memegang kekuasaan, pada dasarnya mengandung implikasi moral, karena kepemimpinan dan kekuasaan yang dimiliki seorang khalifah dapat disalah gunakan untuk kepentingan mengejar kepuasan hawa nafsunya, atau sebaliknya juga dapat dipakai untuk kepentingan menciptakan kesejahteraan hidup bersama. Oleh karena itu, kepemimpinan dan kekuasaan manusia harus tetap diletakan dalam kerangka eksistensi manusia yang bersifat sementara, sehingga dapat dihindari dari kecenderungan pemutlakan kepemimpinan atau kekuasaan, yang akibatnya dapat merusak tatanan dan harmoni kehidupan. Selanjutnya, terdapat pula persyaratan yang bersifat teknis dan keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang khalifah. Hal ini dapat dilihat dari isyarat yang terkandung dalam Qs. alMUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 08 No. 02 Juli-Desember 2018 156 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Suriadi. Fitrah dalam Perspektif al-QurAoan Baqarah ayat 30-31. Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa Nabi Adam telah diangkat sebagai khalifah di muka bumi dan Ia kemudian diberikan pengajaran. Hal ini mengisyaratkan bahwa seorang khalifah perlu memiliki pengetahuan, keterampilan, mental yang dewasa serta Kemampuan lebih yang dimiliki. Adam yang digambarkan dengan kemampuannya mengungkapkan nama-nama . l-Asm. benda dan kemampuannya mengungkapkan nama-nama tersebut dihadapan malaikat, yang keseluruhan-nya ini dapat diartikan sebagai kemampuan yang bersifat konseptual, justru menjadi salah satu modal yang melandasi Nabi Adam as. Dengan kata lain, karena Adam memiliki kemampuan yang bersifat konseptual yang dihasilkan melalui pendidikan, itulah yang menjadi kunci kesuksesannya sebagai khalifah. Hal ini mengandung pengertian bahwa sebagai khalifah perlu memiliki pendidikan yang cukup. Sejalan dengan uraian tersebut di atas. Hasan Langgulung mengatakan, bahwa manusia yang dianggap sebagai khalifah Allah tidak dapat memegang tanggungjawab sebagai khalifah, kecuali kalau ia diperlengkapi dengan potensi-potensi yang membolehkan berbuat demikian, lebih lanjut Langgulung mngatakan bahwa al-Quran menyatakan adanya beberapa ciri yang dimiliki manusia untuk mampu melaksanakan fungsi kekhalifahanya itu. Cciri-ciri tersebut antara lain dari segi fithrahnya yang baik dari sejak awal. Ia tidak mewarisi dosa karena Adam meninggalkan surga. Ciri lainnya yang bersifat fisik. Al-Qur'an mengetahui kebutuhankebutuhan biologikal ini mungkin dapat berdampingan dengan fithrah yang baik itu. Keduanya tanpa menimbulkan masalah. Kedua hal inilah yang mendukung tugas kekhalifah-an manusia. Fungsi kekhalifahan manusia ini, lebih disebabkan oleh karena manusia dijadikan sebagai ahsani taqwim . he best moul. , yaitu sebaik-baik bentuk, dan dengan bentuk yang baik ini dalam arti makhluk Allah yang paling sempurna, manusia akan mampu memerankan fungsi Dalam penciptaannya tidak dijumpai cacat dan kekurangan, dan dengan kesempurnaan penciptaannya ini sesungguhnya bertujuan agar dapat menjaga fungsi kemanusiannya sendiri sesuai dengan yang dipolakan oleh Allah. MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 08 No. 02 Juli-Desember 2018 157 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Suriadi. Fitrah dalam Perspektif al-QurAoan SIMPULAN Islam adalah agama yang sempurna. Islam adalah agama suatu kenikmatan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Islam adalah satu-satunya agama yang diridloi Allah. Islam suatu agama yang diturunkan . aca: diberika. kepada Nabi Muhammad dan umatnya. Selanjutnya Allah memperkenalkan diri-Nya bahwa Dia yang telah menciptakan manusia. Manusia dalam pandangan al-Quran, memiliki dua tugas dan kedudukan yang utama, yaitu sebagai khalifah Allah dan Aoabdullah. Keduanya agaknya sejalan dengan dua tahapan kehidupan, yaitu kehidupan di dunia dan di akhirat. Sesuai dengan doktrin tauhyd. Tuhan adalah pencipta alam semesta ini, termasuk manusia. DAFTAR PUSTAKA