Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 184-194 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Studi Kasus Analisis Perilaku Korban Bullying dan Penanganya di Sekolah Menengah Atas this is an open access article distributed under the creative commons attribution license cc-by-nc-4. 0 A2020 by author . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. 0/ ). (Received: Oktober-2024. Reviewed: November-2024. Accepted: November-2024. Available online: Desember-2024. Published: Desember-2. Nurhidayah Ramadhani. S1* Suciani Latif2 Akhamd Harum3 Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Makassar Email: nurhidayahrs12@gmail. Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Makassar Email: suciani. latif@unm. Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Makassar. Email: akhmad. harum@unm. Abstract. The aim of this research is to find out: Description of the behavior of victims of bullying, factors that cause problematic behavior in victims and efforts to deal with behavioral problems of victims of bullying at SMAN 2 Jeneponto. The approach used in this research is a qualitative approach with a clinical case study type of research. Data collection uses interviews and observations. The data sources in this research are the subject (SS), classmates and guidance and counseling teachers. The results of this research show that: . Description of the forms of behavior of victims of bullying, namely the behavior of withdrawing from their new environment, difficulty forming/building relationships in friendships. Not confident. Difficult to express the feelings experienced. The factors that cause the behavior of victims of bullying in SS subjects are internal factors: the SS subject's lack of self-control, wrong perceptions and being shy. for external factors: caused by family and peers. Efforts are made to deal with behavioral problems of victims of bullying using behavioral contract After the intervention was given. SS subjects were slowly able to reduce behavior that was considered problematic. Keywords: Impact of Bullying Victim Behavior. Behavioral Contracts Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: Gambaran perilaku korban bullying. Faktor yang menyebabkan timbulnya perilaku bermasalah pada korban serta Upaya penanganan masalah perilaku korban bullying di SMAN 2 Jeneponto. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus klinis. Pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Sumber data dalam penelitian ini yaitu subjek (SS), teman kelas dan guru BK. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: . Gambaran bentuk-bentuk perilaku korban bullying yakni perilaku menarik diri dari lingkungan barunya. Sulit membentuk/membangun hubungan dalam pertemanan. Tidak percaya diri. Sulit mengekspresikan perasaan yang dialami. Faktor yang menyebabkan perilaku korban bullying pada subjek SS yaitu faktor internal: kurangnya kontrol diri subjek SS, persepsi yang salah dan memiliki sifat pemalu. Adapun faktor eksternal: disebabkan oleh lingkup keluarga dan teman sebaya. Upaya yang dilakukan dalam menangani masalah perilaku korban bullying 184 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 184-194 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. menggunakan teknik kontrak perilaku. Setelah intervensi diberikan, maka subjek SS secara perlahan dapat mengurangi perilaku yang dianggap Kata Kunci: Dampak Perilaku Korban Bullying. Kontrak Perilaku PENDAHULUAN Dalam lingkup pendidikan, siswa berhak mendapatkan perlindungan di sekolah. Seorang siswa membutuhkan rasa aman dan nyaman di sekolah agar dapat belajar dengan baik. Sekolah pun mempunyai tanggung jawab untuk membantu perkembangan optimal siswa. Termasuk melindungi siswanya dari perilaku tidak menyenangkan seperti bullying. Perundungan atau bullying adalah perilaku tidak menyenangkan baik secara verbal, fisik, ataupun sosial di dunia nyata maupun dunia maya yang membuat seseorang merasa tidak nyaman, sakit hati dan tertekan baik dilakukan oleh perorangan ataupun kelompok (Supriyatno et al. , 2. Hal inilah yang perlu sekolah berikan kepada siswa untuk mendukung proses belajar mengajar serta situasi yang kondusif di lingkungan sekolah. Namun tidak sedikit kasus yang temui, siswa menjadi korban bullying dari teman di sekolahnya. Bullying tidak hanya dilakukan dengan kekerasan, melainkan bisa juga dilakukan dengan mengejek, memaki, menghakimi dan menggosipi orang lain. Dan beberapa korban bullying memiliki karakter yang berbeda dengan yang lainnya, seperti selalu cemas, tidak percaya diri, dan memiliki kemampuan bersosialisasi yang kurang. Tindakan bullying mengakibatkan konsentrasi siswa berkurang, kehilangan percaya diri, stress dan sakit hati, trauma berkepanjangan, membalas bullying, merasa tidak berguna, kasar dan dendam, berbohong dan takut kesekolah (Wibowo et al. , 2. Hasil studi yang dilakukan National Youth Violence Prevention Resource Center Sanders juga menunjukkan bahwa bullying dapat membuat remaja merasa cemas dan ketakutan, mempengaruhi konsentrasi belajar di sekolah dan menuntun mereka untuk menghindari sekolah (Yuliani, 2. Fenomena perilaku bullying terjadi dimulai dari perencanaan pelaku yang berperan aktif untuk mengambil posisi yang lebih tinggi dan kuat dengan mengganggu teman di sekolahnya. Berdasarkan fakta yang ada, perilaku bullying sudah menjadi ancaman yang serius bagi perkembangan anak dan menjadi penyebab potensial kekerasan di sekolah (Permata & Nasution, 2. Berdasarkan data awal di SMAN 2 Jeneponto pada hari kamis tanggal 23 Februari 2023, melalui wawancara bersama guru bimbingan dan konseling yang ada di sekolah. Terdapat siswa pindahan kelas XI yang pernah menjadi korban bullying di sekolah sebelumnya. Hal tersebut sejalan dengan hasil wawancara dengan salah satu guru mata pelajaran yang mengajar di kelas XI. Membenarkan bahwa siswa tersebut seringkali terlihat menyendiri dari teman-teman se-kelasnya, bahkan ketika proses pembelajaran berlangsung dengan metode diskusi dan tanya jawab disekolah, siswa tersebut kebanyakan diam dan tidak membaur ke teman se kelasnya. Hasil observasi pada subjek (SS) selama proses pembelajaran berlangsung pada hari Jumat, 24 Februari 2023 di SMAN 2 Jeneponto. Diketahui bahwa ternyata benar subjek terlihat kurang berinteraksi dengan teman-teman di kelasnya bahkan selama proses pembelajaran dengan metode diskusi dan tanya jawab. Subjek (SS) terlihat kurang percaya diri di lingkungan barunya, bahkan terlihat lebih kaku pada saat diberi kesempatan oleh guru untuk menyampaikan argumentasi atau pendapatnya pada saat proses diskusi di kelas berlangsung. Dari beberapa bentuk perilaku yang ditunjukkan oleh subjek (SS), maka dapat dikatakan bahwa perilaku korban tersebut 185 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 184-194 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. sangat berdampak pada proses pembelajaran di kelas, karena ketidaknyamanan yang dirasakan oleh korban saat berada di lingkungan barunya. Dan juga keterbukaan diri korban di sekolah barunya cenderung tertutup. Wardah, . berpendapat bahwa keterbukaan diri adalah hubungan interaksi seseorang yang didasari oleh perasaan tulus, penerimaan kepada orang lain yang tulus, dan rasa empati membuat hubungan menjadi lebih akrab. Dampak lain yang dialami korban bullying adalah berbagai macam gangguan yang meliputi kesejahteraan psikologis yang rendah dimana korban akan merasa takut, rendah diri, tidak nyaman, merasa tidak berharga, menarik diri dari pergaulan, dan bisa juga berdampak pada nilai akademik yang akan menurun karena sulit berkonsentrasi dalam belajar bersama dengan lingkungan barunya di sekolah. Samsudi & Muhid . , pun berpendapat bahwa Bullying merupakan permasalahan serius yang harus dicegah dan dihilangkan di lingkungan dunia pendidikan. Akibat dari bullying adalah gangguan psikis bahkan fisik. Para korban bullying sangat rentan atau trauma saat menghadapi kehidupan yakni menjalankan aktivitas keseharian, sekolah dll. Di sekolah sebelumnya, subjek (SS) sering mendapatkan Bullying verbal dari teman-teman se Menurut Ani & Nurhayati . bahwa bullying verbal sering kali dianggap tidak terlalu berbahaya, selain karena dampaknya tidak terlihat secara fisik, orang-orang yang melakukannyapun seringkali tidak menyadari telah melakukan bullying verbal. Padahal, bullying verbal dapat menimbulkan dampak buruk yang cukup besar terhadap kesehatan mental dan perkembangan psikologis seseorang. Bullying verbal bahkan memiliki dampak yang lebih besar dan buruk dibandingkan dengan bullying fisik, karena sifatnya yang tersembunyi dan melukai aspek mental dan psikologis seseorang, yang akan lebih sulit disembuhkan dibanding luka fisik. Azmi et al. , . , juga berpendapat bahwa siswa yang mengalami bullying verbal cenderung rendah diri, mereka susah untuk bersosialisasi, minder, khawatir dengan masa depan dan mereka merasa tidak berguna. Penelitian Onyekuru dan Ugwu dalam Radhiah, . juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara pelaku bullying dengan korban bullying yang mengalami kecemasan sosial. Seseorang yang mengalami kecemasan sosial memiliki persamaan yaitu mereka merasa bahwa dirinya tidak berdaya karena tidak memiliki . dan tidak mampu untuk mempertahankan dirinya . Inilah salah satu yang menyebabkan terjadinya perilaku bullying di sekolah. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah perilaku korban bullying yang dialami oleh subjek (SS) di SMAN 2 Jeneponto dapat dilakukan dengan pemberian layanan bimbingan dan konseling. Penelitian ini berfokus pada permasalahan yang dialami oleh subjek (SS) maka perlu diadakan pendalaman kasus telebih dahulu untuk mengeksplorasi lebih dalam terkait perilaku subjek dan menentukan penanganan yang tepat. fokus permasalahannya mengenai perilaku korban bullying sebagai studi kasus karena dianggap penting untuk dikaji dan menarik bagi peneliti. Karena telah banyak didapatkan masalah bullying dalam lingkup sekolah dan masih dianggap sepeleh dalam penanganannya. Padahal masalah bullying ini memiliki dampak negatif yang sangat fatal jika dibiarkan terus menerus baik itu kepada pelaku bullying apalagi terhadap Penelitian ini dilakukan agar dapat menambah wawasan dan saran praktis bagi pihak sekolah terkhusus kepada guru bimbingan dan konseling yang ada di sekolah. Oleh karena itu, calon peneliti tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang perilaku apa saja yang subjek (SS) timbulkan dilingkungan sekolah, serta apa faktor penyebab terjadinya trauma pada subjek (SS) dan bagaimana upaya penanganan trauma yang korban bullying alami di lingkungan barunya. 186 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 184-194 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus klinis, yang dipilih berdasarkan relevansi dengan permasalahan yang diteliti. Lokasi penelitian ini dilakukan di SMAN 2 Jeneponto, yang beralamat di Jalan Daud Dg. Lili No. Tanetea. Kelurahan Bontotangnga. Kecamatan Tamalatea. Kabupaten Jeneponto. Provinsi Sulawesi Selatan. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh melalui data primer dan data sekunder. Data primer merupakan informasi langsung mengenai perilaku korban bullying, yang diperoleh dari individu yang menjadi subjek penelitian (SS). Pemilihan subjek ini didasarkan atas pertimbangan bahwa SS mengalami trauma sosial akibat bullying di sekolah sebelumnya, dan direkomendasikan oleh guru BK serta guru mata pelajaran untuk memperoleh bantuan dalam menyesuaikan diri di lingkungan sekolah yang baru. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari literatur, bahan bacaan, dan dokumen terkait perilaku bullying dan upaya penanganannya, guna memberikan pemahaman teoritis yang mendalam terhadap permasalahan yang diteliti. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi dan wawancara. Rancangan penelitian ini mengikuti model studi kasus sebagaimana dijelaskan oleh Daruma . alam Syam, 2. , yang mencakup beberapa tahap, yaitu: . Identifikasi kasus, yakni menemukan subjek yang mengalami permasalahan dan memerlukan bantuan. Identifikasi masalah, yang dilakukan melalui wawancara dengan guru BK, guru mata pelajaran, dan teman sebaya untuk memahami karakteristik permasalahan. Diagnosis, yaitu menentukan penyebab permasalahan berdasarkan data latar belakang trauma subjek. Prognosis, yakni merencanakan tindakan berdasarkan hasil diagnosis. Pelaksanaan tindakan, yaitu pemberian bantuan secara tepat, baik oleh peneliti maupun oleh pihak yang kompeten. Evaluasi, untuk menilai efektivitas tindakan yang diberikan terhadap kondisi subjek. Tindak lanjut, yang diserahkan kepada guru BK untuk memantau perkembangan subjek dalam jangka waktu tertentu. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Reduksi data dilakukan dengan menyeleksi dan memfokuskan data dari hasil observasi dan wawancara agar lebih bermakna dan terperinci. Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi sistematis agar memudahkan pembacaan dan penarikan makna. Tahap akhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi, di mana data yang telah dianalisis diinterpretasikan untuk menemukan arti penting dan makna yang sesuai dengan tujuan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Gambaran perilaku korban bullying pada subjek SS di SMAN 2 Jeneponto Gambaran diri subjek. Subjek ini berinisial SS, yang merupakan siswa pindahan yang terdaftar di SMAN 2 Jeneponto, yang saat ini duduk dibangku kelas XI. Subjek berusia 18 tahun, berjenis kelamin perempuan dengan tinggi badan 155 cm, berat badan 45kg, bentuk wajah bulat dan berkulit kuning langsat. SS merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara, kedua kakaknya berjenis kelamin laki-laki. Gambaran perilaku subjek SS di sekolah barunya SMAN 2 Jeneponto Subjek (SS) teridentifikasi memiliki perilaku trauma dari dampak bullying yang dialami di lingkungan pertemanannya. Gambaran terkait dengan bentuk-bentuk perilaku dari dampak bullying yang dilakukan oleh subjek SS di SMAN 2 Jeneponto dapat dilihat pada tabel berikut: 187 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 184-194 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Tabel 1. Gambaran Bentuk-Bentuk Perilaku dari Dampak Bullying yang dialami Subjek SS No. Aspek Perilaku Menarik diri dari lingkungan barunya Sulit membentuk atau membangun hubungan dalam pertemanan Lingkungan sekolah Tidak percaya diri Sulit mengekspresikan perasaan yang Faktor penyebab timbulnya perilaku dari dampak bullying pada korban (SS) di SMAN 2 Jeneponto Timbulnya perilaku dari dampak bullying pada korban dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor-faktor penyebab perilaku bermasalah pada subjek SS dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Faktor-faktor penyebab perilaku korban bullying No Faktor Penyebab Deskripsi Faktor Internal Kurangnya kontrol diri Hal ini menunjukkan bahwa subjek tidak mampu memahami dan mengelola hal negatif yang dialami. Subjek mengalami kecemasan berlebihan, merasa rendah diri, kurang percaya diri, perasaan takut yang berkelanjutan yang menyebabkan subjek kesulitan menjalin hubungan pertemanan yang baik. Persepsi yang salah subjek masih berpikiran bahwa teman barunya itu akan sama dengan teman di sekolah sebelumnya yang akan membully dan menyakitinya. Itulah alasan mengapa subjek lebih memilih menutup diri dan membatasi interaksi dengan teman sekelasnya 188 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 184-194 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Faktor Eksternal Pemalu Sulit untuk beradaptasi atau sulit lingkungan barunya di sekolah, hal ini terjadi karena adanya dampak dari bullying di sekolah Keluarga Kurangnya komunikasi yang harmonis dengan keluarga yang menyebabkan subjek terusterusan diam menyembunyikan hal-hal yang ia alami Teman sebaya Menurunnya kemampuan sosial emosional dalam beradaptasi dengan lingkungan baru, karena merasa tidak mendapat support dengan teman sebaya nya. Upaya penanganan perilaku dari dampak bullying yang dialami subjek Adapun intervensi yang dipilih peneliti untuk menangani masalah perilaku yang bermasalah pada subjek SS adalah dengan menggunakan teknik kontrak perilaku . ehavior contrac. yang berasal dari pendekatan behavioristik. Tabel 3. Identifikasi Perilaku Dengan Analisis A-B-C A (Anteceden. B (Behavio. C (Consequence. Kurangnya control diri Persepsi yang salah Pemalu Menarik diri dari lingkungan barunya Kurangnya support dari Sulit membentuk atau membangun membuat subjek memilih hubungan dalam pertemanan menutup diri dan merasa Tidak percaya diri Sulit mengekspresikaan perasaan hubungan keluarga yang kurang harmonis yang dialami Ket: Antecedent (A): Situasi atau peristiwa yang terjadi sebelum perilaku mucul . encetus perilak. Behavior (B) : Perilaku yang diamati atau diukur . erilaku yang dipermasalahka. Consequence (C): Kondisi/ situasi yang memperkuat terjadinya perilaku tersebut. 189 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 184-194 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Tabel 4. Penanganan Perilaku dari Dampak Bullying yang dialami Subjek SS Tahap Pelaksanaan Intervensi Kondisi Pra Intervensi Tahap I (Perkenalan dan rasionalisasi Kegiata. Menarik diri dari lingkungan. Kondisi Pasca Intervesi Bisa membaur dengan lingkungan yang baru. Tahap II (Identifikasi Tingkah Laku yang akan diubah dengan Analisis A-B-C) Tahap i (Menentukan Tingkah Laku yang akan Tahap IV Mampu berteman atau Sulit membangun hubungan dalam membangun hubungan dalam pertemanan yang baru. pertemanan yang baru. Tidak percaya diri Lebih percaya diri (Menentukan Penguatan yang akan digunakan dan Menulis Kontra. Tahap V (Pemberian Reinforcemen. Tahap VI (Evaluasi dan Tindak Lanju. Sulit mengekspersikan perasaan yang dialami Mampu mengekspresikan perasaan yang dialami Pembahasan Gambaran Bentuk-Bentuk Perilaku Korban Bullying Bullying merupakan suatu tindakan untuk menyakiti orang lain dan menyebabkan seseorang menderita dan mengganggu ketenangan seseorang. Korban yang di-bully biasanya anak yang pendiam dan anak yang susah bergaul dengan teman di sekitarnya . lfa, et al, 2. Bullying merupakan suatu tindakan untuk menyakiti orang lain dan menyebabkan seseorang menderita dan mengganggu ketenangan seseorang. Korban yang di-bully biasanya anak yang pendiam dan anak yang susah bergaul dengan teman di sekitarnya Bullying akan berdampak terhadap kondisi psikososial siswa, siswa yang mendapat tindakan bullying secara terus menerus akan mengakibatkan siswa tidak percaya diri, cenderung menutup diri 190 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 184-194 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. karena memiliki perasaan takut yang disebabkan dari tindakan bullying itu, terlebih menarik diri dari lingkungan teman sebayanya, tentu saja menghambat siswa untuk berkembang baik dalam belajar maupun bersosialisasi terhadap lingkungan sekitarnya. Coloroso (Derma Putri, 2. juga menyatakan bahwa korban bullying akan merasa tidak nyaman, takut, rendah diri, serta tidak berharga, penyesuaian sosial yang buruk dimana korban merasa takut ke sekolah bahkan tidak mau sekolah. Hal ini sejalan dengan perilaku subjek SS di sekolah yang mengacu pada dampak dari perlakuaan bullying yang pernah dialami oleh subjek di sekolah sebelumnya. Ini bisa menjadi pemicu perilaku subjek SS yang akan terus menerus. Berdasarkan dengan hasil penelitian yang telah didapatkan terhadap subjek SS yang menunjukkan bahwa terdapat bentukbentuk perilaku dari dampak bullying di sekolah sebelumnya yakni : . Subjek menarik diri dari lingkungan barunya, hal ini disebabkan karena subjek takut akan mendapatkan perlakuan yang sama seperti di sekolah sebelumnya. Subjek SS sulit membentuk/membangun hubungan dalam pertemanan. Subjek merasa tidak percaya diri di lingkungan barunya, sebagai siswa pindahan. Subjek sulit mengekspresikan perasaan yang dialami. Faktor Penyebab Timbulnya Perilaku Dari Dampak Bullying Pada Subjek Faktor penyebab perilaku dari dampak bullying pada subjek memiliki dua faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal penyebab perilaku dari dampak bullying pada subjek SS yang pertama adalah kurangnya kontrol diri dalam hal ini subjek masih kurang mengontrol dirinya dalam hal ketakutan yang berlebih, tidak percaya diri, dan selalu memilih menjauh dari teman-temannya. Faktor lainnya yaitu persepsi yang salah, subjek SS selalu beranggapan bahwa teman di lingkungan barunya akan melakukan hal yang sama dengan teman yang di sekolah sebelumnya, yang membuat subjek masih terus-terusan menutup diri untuk akrab dengan lingkungan barunya dan faktor terakhir yaitu sifat pemalu dari subjek, semejak menjadi korban bullying di sekolah sebelumnya, subjek merasa kehilangan kepercayaan diri dirinya. Faktor internal rendah dan kurangnya kepercayaan diri pada siswa di sekolah dapat menjadikannya di-bully dengan tidak memiliki kepercayaan diri dia akan terlihat lemah dan tidak berani untuk melawa Terjadinya bullying menimbulkan perasaan yang beragam melanda korban subjek mengalami minder, lebih pemalu dan semakin menjadi anak yang pendiam (Putri et al. , 2. Adapun faktor eksternalnya adalah tepengaruh dengan keadaan keluarganya. Najah et al. , . menjelaskan bahwa peran orangtua dalam lingkungan keluarga yang menjadi faktor paling penting dalam tumbuh dan perkembangan anak, dan akan berdampak pada perilaku subjek ketika lingkungan keluarga kurang harmonis dan kurang perhatian. Diannita et , . juga berpendapat bahwa peran orang tua sangat penting dalam meminimalisir timbulnya perilaku negatif pada anak, pengawasan terhadap kegiatan anak, keluarga sebagai tempat pertama dan teraman untuk berkeluh kesah, serta memberikan panutan yang baik untuk mendidik anaknya. Dimana subjek SS memiliki keluarga yang sudah tidak lengkap, subjek merupakan anak yatim piatu dan saat ini tinggal bersama neneknya. Subjek tidak memiliki tempat untuk bercerita bahkan mendapatkan kasih saying yang utuh dari orangtuanya. Hal inilah yang menjadi salah satu dampak dari bullying yang dialami oleh subjek SS sehingga mendukung perilakunya di lingkungan barunya. Faktor lain yang mempengaruhi perilaku korban bullying adalah teman sebaya, karena remaja lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sebaya sebagai sebuah kelompok dibandingkan dengan keluarga. Bahri, . berpendapat bahwa teman sebaya sangat berpengaruh terhadap perilaku siswa, yang mana siswa dapat melakukan perilaku yang buruk dan menyimpang karena faktor lingkungan temannya yang kurang baik. Permata & Nasution, . juga mengemukakan 191 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 184-194 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. bahwa teman sebaya akan mempengaruhi perilaku temannya, hanya saja kembali kepada persepsi masing-masing individus sehingga sikap dan perilaku dapat terpengaruh dari tekanan teman sebaya yang merupakan suatu dorongan individu untuk melakukan tindakan. Pendapat tersebut sejalan dengan yang subjek alami, subjek merasa kurang mendapat dorongan atau support dari teman-teman barunya di sekolah. Subjek SS kurang mendapatkan kenyamanan secara fisik dan psikologis yang diberikan orang lain baik seperti teman sebayanya. Berdasarkan dari penjelasan diatas, peneliti memperkuat atau mengkonfirmasi dari penelitian sebelumnya bahwa faktor-faktor yang memengaruhi perilaku Bullying remaja yang paling dominan mencakup faktor seperti kepribadian, faktor keluarga termasuk harmonisasi keluarga, pola asuh, dan dukungan orang tua dan juga faktor dari teman sebayanya. Upaya Penanganan Perilaku Korban Bullying Berangkat dari hal tersebut, sesuai dengan pandangan behavioristik bahwa perilaku muncul karena adanya stimulusstimulus yang kemudian direspon oleh individu itu sendiri. Perilaku yang muncul tergantung dari stimulus-stimulus yang Setiawan (Ariandini & Hidayati, . menjelaskan bahwa behavioristik adalah teori perkembangan perilaku yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respon subjek terhadap rangsangan. Teori belajar behavioristik menekankan pada perubahan tingkah laku serta sebagai akibat interaksi antara stimulus dan respon. Upaya yang dilakukan untuk mengurangi perilaku dari dampak bullying yang dialami oleh subjek SS yaitu teknik kontrak perilaku yang berasal dari pendekatan Behavioristik yang berdasar pada prinsip operant conditioning. F Skinner mengatakan bahwa tingkah laku dikontrol berdasarkan pada prinsip operant conditioning yang memiliki asumsi bahwa perubahan tingkah laku diikuti dengan konsekuensi. Peneliti mengobservasi perilaku subjek SS setelah memperoleh intervensi/ perlakuan teknik kontrak perilaku, kemudian mencatat atau memberi tanda cek pada pedoman observasi aspek-aspek perilaku yang muncul pada subjek SS setelah diberikan teknik kontrak perilaku. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Lestari et al. , . bahwa dengan menggunakan kontrak perilaku mengajarkan perilaku baru, mengurangi perilaku yang tidak diinginkan, atau meningkatkan perilaku yang diharapkan oleh subjek. Berdasarkan hal tersebut, terlihat bahwa telah terjadi perubahan perilaku pada subjek SS, dimana SS sudah mampu mengurangi perilaku dari dampak bullying yang dialami dan mencapai keberhasilan yang diharapkan, karena dalam konseling ini subjek didukung untuk dapat menciptakan kondisi baru yang lebih adaptif dalam belajar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan teknik kontrak perilaku dapat membantu siswa dalam mengurangi perilaku dari dampak bullying yang dialami korban. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Gambaran terkait dengan bentuk-bentuk perilaku korban bullying (SS) di sekolah barunya diantaranya yaitu: . Menarik diri dari lingkungan barunya, hal ini disebabkan karena subjek takut akan mendapatkan perlakuan yang sama seperti di sekolah sebelumnya. Sulit membentuk/membangun hubungan dalam pertemanan. Tidak percaya diri. Sulit mengekspresikan perasaan yang dialami. Adapun faktor yang menyebabkan timbulnya perilaku bermasalah pada korban bullying (SS) pada siswa terdapat dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya disebabkan oleh persepsi subjek yang salah, sering merasa bahwa dirinya akan diperlakukan sama di lingkungan sekolah sebelumnya. 192 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 184-194 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Sehingga timbulnya beberapa masalah pada subjek. Sedangkan faktor eksternalnya disebabkan oleh lingkup keluarga dan teman sebaya. Sealin itu upaya yang dilakukan dalam menangani masalah perilaku korban bullying pada subjek SS adalah dengan memberikan layanan konseling menggunakan pendekatan behavioristik dengan teknik kontrak perilaku. Teknik kontrak perilaku terdiri dari 6 tahap, yaitu perkenalan dan rasionalisasi kegiatan, identifikasi tingkah laku yang akan diubah dengan analisis ABC, menentukan tingkah laku yang akan diubah, menentukan penguatan yang akan digunakan dan menulis kontrak, pemberian reinforcement, serta evaluasi dan tindak lanjut. Setelah intervensi diberikan, maka subjek SS secara perlahan dapat mengurangi perilaku yang dianggap bermasalah. Saran