Journal of Science and Clinical Pharmacy Research (JSCPR) Vol. No. Februari 2025 Original Article KAJIAN HUBUNGAN RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DENGAN LUARAN KLINIS DI PUSKESMAS MALALAK PERIODE APRIL -JUNI Zakiah Nurfitri1. Tika Afriani2. Ariesta Kirana Efmisa3 1,2,3 Mohammad Natsir University,Bukittinggi Jln. Tan Malaka RT 01 RW 05 Kel. Bukit Canggang Kayu Ramang Kec. Guguak Panjang Bukittinggi Email: Zakianurfitri7@gmail. com, tika. afriani91@gmail. com, ariesta. kiranaefmisa@gmail. Journal of Science and Clinical Pharmacy Research. Vol. 1 No. 1 Edisi Februari 2025 Hal 12-23 https://journal. id/index. php/JSCPR Received: 20 Oktober 2024 :: Accepted: 15 Januari 2025 :: Published: 01 Februari 2025 Abstrak Hipertensi adalah keadaan dimana terjadinya peningkatan tekanan darah yang melebihi batas normal yaitu tekanan darah sistolik melebihi 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan rasionalitas penggunaan obat antihipertensi dengan luaran klinis di Puskesmas Malalak Periode April - Juni 2024. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan rancangan Cross Sectional dengan pendekatan Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien hipertensi di Puskesmas Malalak periode April - Juni 2024 yaitu sebanyak 104 rekam medis pasien. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 104 rekam medis pasien. Hasil pada penelitian ini didapatkan karakteristik pasien berdasarkan rekam medik mayoritas berjenis kelamin perempuan 64 pasien . ,5%),usia paling banyak rentang yaitu 41-60 tahun sebanyak 73 pasien . ,2%), diagnosa hipertensi stage 1 sebanyak 59 pasien . ,7%) dan golongan obat Calcium channel blocker (CCB) sebanyak 38 pasien . ,5%) dengan terapi obat Amlodipin. Rasionalitas penggunaan obat antihipertensi menunjukkan 100% tepat pasien, tepat indikasi 100%, tepat obat 93,3% dan tepat dosis 99%. Pasien yang menerima terapi antihipertensi yang rasional sebanyak 96 pasien . ,3 %) dan hasil luaran klinis berupa tercapainya target tekanan darah pasien sebanyak 97 pasien . ,3 %). Penelitian ini menggunakan analisa statistik chi-ssquare menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan pada rasionalitas penggunaan obat antihipertensi dengan luaran klinis yaitu dengan nilai p < 0,05. Kajian Hubungan Rasionalitas Penggunaan Obat Antihipertensi Dengan Luaran Klinis Di Puskesmas Malalak Periode April -Juni 2024 Kata Kunci : Hipertensi, rasionalitas obat antihipertensi , luaran klinis Abstract Hypertension is a condition where there is an increase in blood pressure that exceeds normal limits, namely systolic blood pressure exceeding 140 mmHg and diastolic blood pressure more than 90 mmHg. The purpose of this study was to determine the relationship between the rational use of antihypertensive drugs and clinical outcomes at the Malalak Health Center for the April - June 2024 period. The research method used is a quantitative method with a Cross Sectional design with a restrospective The population in this study were all hypertensive patients at the Malalak Health Center for the period April - June 2024, namely 104 patient medical records. The sample in this study were 104 patient medical records. The results in this study showed that the characteristics of patients based on medical records were mostly female 64 patients . 5%), the most age range was 41-60 years as many as 73 patients . 2%), stage 1 hypertension diagnoses as many as 59 patients . 7%) and Calcium channel blocker (CCB) drug groups as many as 38 patients . 5%) with Amlodipine drug The rational use of antihypertensive drugs showed 100% correct patient, 100% correct indication, 93. 3% correct drug and 99% correct dose. Patients who received rational antihypertensive therapy were 96 patients . 3%) and clinical outcomes in the form of achieving patient blood pressure targets were 97 patients . 3%). This study using chi-square statistical analysis showed that there was a significant relationship in the rational use of antihypertensive drugs with clinical outcomes, namely with a p value <0,05. Keywords: Hypertension, rationality of anti hypertensive drugs, clinical outcomes Pendahuluan Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang paling umum di negara berkembang seperti Indonesia, hipertensi juga dikenal sebagai penyakit tekanan darah Hipertensi adalah keadaan dimana terjadinya peningkatan tekanan darah yang melebihi batas normal yaitu tekanan darah sistolik melebihi 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan interval lima menit dalam keadaan istirahat atau tenang (Wirakhmi & Novitasari, 2. Berdasarkan data WHO tahun 2021, diperkirakan terdapat 1,28 miliar orang dewasa di seluruh dunia menderita hipertensi. Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar tahun JSCPR Nurfitri. Zakiah,*Afriani. Tika,** Efmisa. Ariesta Kirana,*** 2018 prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1%. Prevalensi kejadian hipertensi di Sumatera Barat yakni 25,16% dengan jumlah 176. 169 kasus yang terdeteksi melalui pengukuran tekanan darah. Prevalensi hipertensi di Kabupaten Agam berada di urutan ke-2 dengan jumlah penderita 210. 922 jiwa . ,07%) (Kementerian Kesehatan RI. Penggunaan obat dikatakan rasional berdasarkan WHO adalah apabila pasien mendapatkan pengobatan sesuai dengan kebutuhan klinisnya, dalam dosis dan waktu yang adekuat serta dengan biaya yang minimal. Penggunaan obat antihipertensi yang rasional pada pasien hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas dari penyakit hipertensi serta untuk mencapai target tekanan darah tetap normal yaitu <150/90 mmHg untuk pasien hipertensi usia >60 tahun dan <140/90 mmHg untuk pasien hipertensi usia <60 tahun. Adapun evaluasi yang diperlukan pada rasionalitas penggunaan obat berupa tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis. Penggunaan obat tidak rasional dapat menyebabkan hipertensi semakin parah dan komplikasi lainnya (Laura et al. , 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mpila & Lolo . mengenai Hubungan Rasionalitas Penggunaan Obat Antihipertensi Terhadap outcome Klinis Pasien Hipertensi di Klinik Imanuel Manado menunjukkan dari 90 rekam medis pasien 100% tepat indikasi, 95,56% tepat pasien, 93,33% tepat obat dan 100% tepat dosis. Pasien yang menerima terapi antihipertensi yang rasional sebanyak 80 pasien . ,89%) dan 88 pasien . ,78%) mencapai outcome klinis, didapatkan hubungan yang signifikan pada rasionalitas penggunaan obat anti hipertensi dengan outcome klinis berupa tercapainya target tekanan darah pada pasien hipertensi. Puskesmas Malalak merupakan salah satu dari 23 puskesmas yang berada di Kabupaten Agam yang membawahi 17 Jorong. Dimana penyakit hipertensi berada di urutan pertama dari kelompok penyakit terbesar selama beberapa tahun. Puskesmas Malalak memiliki jumlah kasus hipertensi yang terus meningkat dibuktikan dengan data kasus hipertensi yang tercatat selama 2 tahun terakhir, yaitu tahun 2022 . , tahun 2023 . , sedangkan pada tahun 2024 dari bulan Januari sampai bulan Juli didapatkan data sebanyak 343 kasus hipertensi. Hipertensi yang tidak diatasi dengan benar akan memperlambat pencapaian target tekanan darah. Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Hubungan Rasionalitas Penggunaan Obat Antihipertensi dengan Luaran Klinis di Puskesmas Malalak Periode April - Juni 2024. JSCPR Kajian Hubungan Rasionalitas Penggunaan Obat Antihipertensi Dengan Luaran Klinis Di Puskesmas Malalak Periode April -Juni 2024 Metode Penelitian Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Puskesmas Malalak pada bulan Agustus-September Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional untuk mengetahui hubungan rasionalitas penggunaan obat antihipertensi dengan luaran klinis di puskesmas malalak. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Lembar pengumpulan data, data rekam medik pasien . enis kelamin, usia, tekanan darah, terapi, jumlah obat, aturan pakai, diagnosis, tekanan darah setelah menerima terap. dan beberapa Pustaka/literature/ Guidelines seperti Join National Comunitte 8 ( JNC Vi ) dan Panduan Praktis Klinis 2014. Teknik Pengumpulan Data Pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada rekam medis pasien untuk data periode bulan April-Juni 2024. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan Teknik sampling jenuh, yaitu peneliti mengambil semua populasi dalam penelitian ini dijadikan sampel. Yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis Data Data diperoleh dari rekam medis dianalisis kerasionalannya, meliputi tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, kemudian dihubungkan dengan luaran klinis yang berupa target tekanan darah. Penggunaan obat antihipertensi dikatakan rasional jika keempat kriteria tepat terpenuhi, jika salah satu atau lebih kriteria tidak terpenuhi,maka disebut tidak rasional. Pada pengukuran tekanan darah sistolik dan diastolic . diperoleh pada saat pasien mengambil obat setiap bulannya. Target tercapainya tekanan darah dilihat berdasarkan guidline JNC Vi. Hasil dan Pembahasan JSCPR Nurfitri. Zakiah,*Afriani. Tika,** Efmisa. Ariesta Kirana,*** Data yang diambil secara retrospektif dari rekam medis pasien di Puskesmas Malalak sebanyak 104 sampel yang memenuhi kriteria inklusi (Tabel . Hasil penelitian menunjukkan pasien berjenis kelamin laki-laki sebanyak 40 orang . ,5 %) sedangkan perempuan 64 orang . ,5%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien hipertensi yang datang ke puskesmas malalak periode April-Juni 2024 berjenis kelamin Perempuan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mahardika et. , . yang dilakukan di Rumah Sakit X Tahun 2022 didapatkan hasil bahwa responden terbanyak penderita hipertensi berdasarkan jenis kelamin adalah perempuan sebanyak 53 pasien . ,63%) dan laki-laki sebanyak 44 pasien . ,4 %). Hal ini disebabkan oleh adanya efek perlindungan estrogen yang terjadi pada wanita menunjukkan adanya kekebalan wanita selama masa premenopause. Akibatnya, hormon estrogen, yang melindungi pembuluh darah selama masa premenopause, akan secara bertahap hilang (Nuraeni et al. , 2. Penurunan hormon estrogen dapat meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular (Garwahusadaand Wirjatmadi, 2. Dalam penelitian ini, usia dikategorikan menjadi 2 yaitu usia 18-40 sebanyak 31 orang . ,8%) dan usia 41-60 sebanyak 73 orang . ,2%). Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang berusia 41-60 tahun lebih banyak dari pada yg berusia 18-40 Penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya (Mila et al. ,2. data yang didapatkan yaitu usia 25-35 tahun sebanyak 6 . ,06 %) pasien, usia 36-45 tahun sebanyak 11 . ,94 %) pasien, usia 46-45 tahun sebanyak 35 . ,2 %) pasien. Usia 5560 tahun 33 . ,8 %) pasien. Usia 41-60 tahun lebih banyak mengalami hipertensi karena perubahan yang terjadi pada jantung dan pembuluh darah seiring bertambahnya usia, maka tekanan darah meningkat, yang menyebabkan hipertensi (Tandililing et al. , 2. Dengan bertambahnya usia, elastisitas arteri berkurang, pembuluh darah menjadi kaku dan Ini disebabkan oleh struktur dan fungsi pembuluh darah perifer yang berubah seiring bertambahnya usia, yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah seiring bertambahnya usia (Aryzki et al. , 2. Menunjukkan Golongan terapi obat yang digunakan di puskesmas Malalak menggunakan obat tunggal dan kombinasi. Obat hipertensi tunggal yang paling banyak digunakan adalah golongan Calsium Channel Bloker (CCB) yaitu amlodipin sebesar 38 . ,5%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alnadia et al. yang menyatakan pemberian obat antihipertensi puskesmas singkawang utara II periode januari-juni 2019 paling banyak menggunakan obat golongan CCB yaitu amlodipine sebanyak 62 pasien . ,84 %) dari 110 pasien. Obat amlodipin dapat JSCPR Kajian Hubungan Rasionalitas Penggunaan Obat Antihipertensi Dengan Luaran Klinis Di Puskesmas Malalak Periode April -Juni 2024 mengatasi hipertensi yang bekerja dengan cara menghambat ion kalsium masuk ke dalam vaskularisasi otot polos dan otot jantung. Amlodipin merupakan agen terapeutik yang efektif dalam penurunan tekanan darah dan memiliki selektivitas tinggi dibandingkan dengan antihipertensi yang lain (Nuke et al. ,2. Tabel 1. Sosiodemografi Pasien Hipertensi di Puskesmas Malalak Variabel Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Usia Terapi Antihipertensi ACEi ACEi Diuretik CCB CCB ACEi CCB Diuretik Diurectik N= 104 Frekuensi Persentase % Diperoleh data yang sesuai dengan klasifikasi hipertensi JNC Vi terdiri dari tekanan darah hipertensi stage 1 140-159 mmHg /90-99 mmHg sebanyak 59 . ,7%), dan hipertensi stage 2 Ou 160/100 mmHg sebanyak 45 . ,3%). Pada penelitian ini didapatkan mayoritas pasien hipertensi stage 1. Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ekaningtyas et al. , . yang didapatkan bahwa mayoritas pasien berada dalam kategori Hipertensi Stage 1 sebanyak 62 pasien . ,62 %). Hipertensi stage 2 sebanyak 45 paien . ,83 %), sedangkan prehipertensi sebanyak 26 pasien . ,55 %). Pada pasien hipertensi dengan tekanan darah diastolik Ou 160 mmHg dan sistolik Ou 100 mmHg membutuhkan terapi kombinasi untuk menurunkan tekanan darah dan mempertahankannya, mengurangi efek samping obat dan mengurangi efek Usia pasien menentukan pilihan obat dalam hal ini. Tekanan darah umumnya akan meningkat secara bertahap seiring bertambahnya usia. Menurut tatalaksana pengobatan hipertensi JNC Vi dan panduan praktik Klinis, tidak hanya pengobatan farmakologi yang diberikan, tetapi juga terapi non farmakologi berupa perubahan gaya hidup (Musnelina,2. JSCPR Nurfitri. Zakiah,*Afriani. Tika,** Efmisa. Ariesta Kirana,*** Tabel 2. Pasien hipertensi berdasarkan tekanan darah pada Pasien di Puskesmas Malalak Tekanan Darah Hipertensi Stage 1 Hipertensi Stage 2 Total Frekuensi Persentase (%) Evaluasi Rasionalitas Antihipertensi Penggunaan obat dikatakan rasional bila pasien menerima obat yang sesuai dengan kebutuhannya untuk periode waktu yang adekuat dengan harga yang paling murah. Tujuan dari penggunaan obat yang rasional adalah untuk memastikan bahwa pasien mendapatkan obat yang sesuai dengan kebutuhannya dalam jangka waktu yang cukup dan dengan biaya yang terjangkau (Kemenkes R1, 2. Dalam penelitian ini, penggunaan antihipertensi dianggap masuk akal jika memenuhi empat kriteria ketepatan: Tepat pasien. Tepat indikasi. Tepat obat, tepat dosis. Tepat Pasien Ketepatan pasien yang dimaksudkan bahwa respons individu terhadap efek obat sangat beragam, sehingga beberapa kondisi pasien harus dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk memberi obat kepada pasien. Obat harus aman dan efektif (Kemenkes R1, 2. Berdasarkan Tabel 3 Menunjukkan bahwa dari 104 rekam medik pasien di puskesmas Malalak diperoleh penggunaan obat antihipertensi 100 % tepat pasien. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Alnadira et,al . tentang evaluasi rasionalitas dan efek samping obat antihipertensi di puskesmas singkawang Utara II periode Januari-Juni tahun 2019 didapatkan hasil penelitian penggunaan obat antihipertensi 100% tepat pasien. Dalam evaluasi rasionalitas berdasarkan tepat pasien, pasien diberi obat yang sesuai dengan kondisinya tidak menimbulkan Ketepatan penggunaan dievaluasi dengan membandingkan kontraindikasi obat yang diberikan dengan kondisi pasien menurut Untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan atau efek samping yang disebabkan oleh penggunaan obat tersebut, ketepatan pasien dilakukan (Untari et al. Tepat Indikasi Ketepatan indikasi yang dimaksudkan bahwa setiap obat memiliki spektrum terapi yang spesifik. Hipertensi, diobati dengan antihipertensi. Oleh karena itu, obat ini JSCPR Kajian Hubungan Rasionalitas Penggunaan Obat Antihipertensi Dengan Luaran Klinis Di Puskesmas Malalak Periode April -Juni 2024 hanya disarankan untuk diberikan kepada individu dengan gejala dan hasil pemeriksaan yang menunjukkan tekanan darah tinggi (Kemenkes R1, 2. Berdasarkan Tabel 3 Menunjukkan bahwa dari 104 rekam medik pasien di Puskesmas Malalak diperoleh penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Malalak 100 % tepat Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ekaningtyas et,al 2021 tentang evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi di Puskesmas kolongan kabupaten Minahasa Utara didapatkan bahwa evaluasi penggunaan obat antihipertensi dari 133 rekam medis 100% tepat indikasi. Berdasarkan penilaian ketepatan indikasi, dilihat apakah pasien memerlukan pengobatan antihipertensi sesuai dengan pemeriksaan tekanan darahnya. Menurut evaluasi ketepatan indikasi, dari literatur JNC Vi untuk pasien yang menderita hipertensi diberikan terapi antihipertensi golongan ACEI. CCB. ARB, diuretik, dan kombinasi hipertensi stage 1 dengan tekanan darah mencapai 140/90 mmHg maupun hipertensi stage 2 dengan tekanan darah Ou 160/100 mmHg. Tepat Obat Ketepatan obat berarti keputusan untuk terapi yang dibuat setelah diagnosis dilakukan dengan benar. Kelas lini terapi, jenis, dan kombinasi obat yang tepat untuk pasien hipertensi menentukan dosis antihipertensi yang tepat. (Kemenkes RI, 2. Pilihan obat harus sesuai dengan spektrum penyakit. Berdasarkan Tabel 3 Menunjukkan bahwa dari 104 rekam medik pasien di Puskesmas Malalak diperoleh penggunaan obat antihipertensi berdasarkan tepat obat sebanyak 97 pasien . ,3 %) tepat obat dan sebanyak 7 pasien . ,7%) tidak tepat obat. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Mpila et al. , . di klinik imanuel manado mendapatkan hasil tepat obat sebanyak 84 pasien . ,3 %) dan tidak tepat obat sebanyak 6 Pasien . ,67 %). Pemberian obat dikatakan tepat jika penggunaan obat antihipertensi yang tepat sesuai dengan pemilihan jenis obat, diagnosis, maupun kombinasi obat yang digunakan. Menurut JNC Vi dan Panduan Praktik Klinis, hipertensi stage 1 diobati dengan terapi tunggal seperti ACEI. ARB. CCB, atau diuretik tiazid, sedangkan hipertensi stage 2 diobati dengan terapi kombinasi. Tidak tepatnya Obat antihipertensi yang diberikan karena adanya pemberian obat yang tidak sesuai dengan kriteria hipertensi. Ketidaktepatan pemberian obat tersebut sebanyak 7 pasien hipertensi stage 2 menerima terapi Tunggal. Menurut JNC Vi dan Panduan Praktik Klinis hipertensi stage 2 kurang memiliki efek penurunan tekanan darah dengan satu macam obat, maka untuk mendapatkan efek terapi yang diinginkan yaitu JSCPR Nurfitri. Zakiah,*Afriani. Tika,** Efmisa. Ariesta Kirana,*** menggunakan tahap awal dengan memberikan terapi kombinasi. Pemberian kombinasi obat antihipertensi dapat menurunkan tekanan darah dengan sedikit efek samping. Tepat Dosis Ketepatan dosis yaitu dosis, cara dan lama pemberian obat sangat berpengaruh terhadap efej terapi obat, pemberian dosis yang berlebihan, khususnya untuk obat dengan rentang terapi yang sempit akan sangat beresiko timbulnya efek samping, sedangklan dosis yang terlalu kecil tidak menjamin tercapainya kadar terapi yang diharapkan (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa dari 104 rekam medik pasien di Puskesmas Malalak diperoleh penggunaan obat antihipertensi didapatkan tepat dosis sebanyak 103 pasien . %) dan sebanyak 1 pasien . %) tidak tepat dosis. Pada penelitian ini mayoritas evaluasi rasionalitas obat antihipertensi adalah tepat dosis, namun terdapat 1 pasien yang tidak tepat dosis. Hal ini dikarenakan obat yang diberikan adalah golongan CCB yaitu amlodipine 10 mg yang diberikan 2x1. Menurut JNC Vi untuk jumlah dosis per hari amlodipine 10 mg yaitu 1x1. Jika pasien mendapatkan obat antihipertensi yang tidak sesuai atau tidak tepat dosis atau tidak sesuai standar, ini dapat berdampak buruk pada pasien, jadi efek terapi yang diinginkan tidak sesuai akan menimbulkan komplikasi dan efek samping (Laura et al. Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Nuke et,al . dengan hasil mayoritas evaluasi penggunaan obat antihipertensi adalah tepat dosis sebanyak 234 pasien . ,14%) sedangkan yang tidak tepat dosis sebanyak 5 pasien . ,86%). Tepat dosis dilihat dari kesesuaian dari pemberian dosis obat antihipertensi dengan rentang dosis terapi. Dosis merupakan satu aspek yang penting dalam menentukan efikasi obat, apabila dosis yang diberikan terlalu rendah atau dibawah rentang terapi maka efek yang diharapkan tidak akan tercapai, namun sebaliknya jika dosis yang diberikan terlalu tinggi maka akan beresiko pasien mengalami overdosis. Dosis yang tepat adalah kesesuaian obat antihipertensi yang diberikan kepada pasien. Obat antihipertensi diberikan dalam rentang dosis minimal dan dosis per hari yang disarankan. Efek samping sangat mungkin terjadi jika obat diberi dosis yang berlebihan. Sebaliknya, dosis yang terlalu kecil tidak akan memiliki efek terapi yang diinginkan (Kemenkes RI. Tabel 3. Evaluasi rasionalitas penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Malalak Kriteria Tepat . =pasie. Tidak Tepat . =pasie. JSCPR Kajian Hubungan Rasionalitas Penggunaan Obat Antihipertensi Dengan Luaran Klinis Di Puskesmas Malalak Periode April -Juni 2024 Tepat Pasien Tepat Indikasi Tepat Obat Tepat Dosis Luaran Klinis Diharapkan ada hasil klinis yang meningkatkan kualitas hidup pasien hipertensi setelah penggunaan obat antihipertensi yang rasional. Sebagaimana direkomendasikan oleh JNC Vi . , hasil klinis dari pengobatan hipertensi adalah penurunan tekanan Rekomendasi ini terdiri dari target tekanan darah < 140/90 mmHg untuk individu di bawah 60 tahun yang memiliki diabetes melitus atau penyakit ginjal kronis pada semua usia, dan target tekanan darah < 150/90 mmHg untuk individu di atas 60 Berdasarkan Tabel 4 Menunjukkan bahwa dari 104 rekam medik pasien di Puskesmas Malalak diperoleh sebanyak 97 pasien . ,3 %) tercapai target luaran klinis penggunaan obat antihipertensi dan 7 pasien . ,7 %) tidak tercapai target luaran klinis penggunaan obat antihipertensi. Tabel 4. Luaran Klinis Pada pasien hipertensi di Puskesmas Malalak Luaran Klinis Tercapai <140/90 mmHg Tidak Tercapai >140/90 mmHg Total Frekuensi Persentase (%) Hubungan Rasionalitas Penggunaan Obat Antihipertensi Uji statistik chi-square digunakan untuk memeriksa apakah ada atau tidaknya hubungan antara penggunaan obat antihipertensi dan hasil klinis tekanan darah. Berdasarkan Tabel 5 Menunjukkan bahwa terdapat 94 pasien menerima terapi antihipertensi yang rasional dan mencapai target tekanan darah sedangkan terdapat 2 pasien tidak mencapai target tekanan darah. Penggunaan obat antihipertensi yang tidak rasional dan mencapai target tekanan darah sebanyak 3 pasien sedangkan terdapat 5 pasien yang menerima terapi antihipertensi yang tidak rasional dan tidak mencapai target tekanan darah. Hasil uji statistik hubungan antara rasionalitas penggunaan obat antihipertensi dengan luaran klinis menunjukkan nilai signifikansi 0,000 . < 0,. , sehingga dapat disimpulkan Ho ditolak, artinya terdapat hubungan JSCPR Nurfitri. Zakiah,*Afriani. Tika,** Efmisa. Ariesta Kirana,*** yang signifikan pada rasionalitas penggunaan obat antihipertensi dengan luaran klinis berupa tercapainya target tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Malalak. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mpila et al. Hasil uji statistik hubungan antara rasionalitas penggunaan obat antihipertensi dengan outcome klinis menunjukkan nilai signifikansi 0,000 . < 0,. terdapat hubungan yang signifikan pada rasionalitas penggunaan obat antihipertensi dengan outcome klinis berupa tercapainya target tekanan darah pada pasien hipertensi di Klinik Imanuel Manado. Tabel 5. Hubungan Rasionalitas Penggunaan obat antihipertensi dengan luaran klinis Rasionalitas penggunaan obat anti Hipertensi Rasional Tidak Rasional Total Luaran Klinis Tercapai Tidak Tercapai Total Kesimpulan Rasionalitas penggunaan obat antihipertensi menunjukkan 100 % tepat pasien, 100 % tepat indikasi, 93,3 % tepat obat, 99 % tepat dosis. Pasien yang menerima terapi antihipertensi yang rasional sebanyak 92,3 % dan pasien yang mencapai luaran klinis berupa tercapai target tekanan darah sebanyak 93,3 %. Berdasarkan analisis Uji statistik chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan pada rasionalitas penggunaan obat antihipertensi dengan luaran klinis yaitu berupa tercapainya target tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas malalak. Saran