SOSFILKOM Volume XV Nomor 02 Juli-Desember 2021 RIVALITAS BONEK DAN AREMANIA DALAM PERSPEKTIF KOMUNIKASI Ahmad Yusron Universitas Muhammadiyah Cirebon Abstrak Supporter merupakan bagian penting dalam sebuah perhelatan pertandingan sepak bola. Bisa dikatakan supporter merupakan pemain keduabelas sebuah tim sepak bola. Fenomena dari supporter dalam dunia persepakbolaan Indonesia adalah munculnya fanatisme yang pada akhirnya fanatisme ini menciptakan rivalitas. Hal tersebut dapat dilihat dari rivalitas antara Bonek dan Aremania. Penelitian ini bertujuan untuk mencari gambaran rivalitas Bonek dan Aremania dalam perspektif komunikasi. Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Dalam hal ini data informasi bersumberkan dari informasi dokumentasi, catatan-catatan dan sebagainya. Hasil yang di dapat dalam penelitian ini adalah bahwa fenomena dukung mendukung merupakan fenomena yang pasti terjadi dalam dunia persepakbolaan. Para pendukung tersebut memiliki julukan tersendiri. Pesan dalam rivalitas antara pendukung Persebaya dan Arema banyak didominasi pesan-pesan yang menunjukkan rasa kebencian kedua belah pihak. Media rivalitas kedua supporter secara garis besar menggunakan dua media yakni media konvensional dan media digital. Media-media yang digunakan dalam mengekspresikan rivalitas memiliki dampak dalam menyebarkan rivalitas antar generasi dan memelihara rivalitas tersebut. Kata Kunci : Aremania. Bonek. Sepak Bola. Komunikasi Abstract Supporters are an important part of a football match. It can be said that a supporter is the twelfth player of a football team. The phenomenon of supporters in the world of Indonesian football is the emergence of fanaticism which in the end this fanaticism creates rivalry. This can be seen from the rivalry between Bonek and Aremania. This study aims to find a picture of the rivalry between Bonek and Aremania from a communication perspective. The method in this research is a qualitative method with a literature study approach. In this case, the information data is sourced from documentation information, records, and so on. The results obtained in this study are that the support phenomenon is a phenomenon that must occur in the world of football. These supporters have their nicknames. Messages in the rivalry between Persebaya and Arema supporters are dominated by messages that show the hatred of both parties. In general, the rivalry media of the two supporters uses two media, namely conventional media and digital media. The media used to express rivalry have an impact in spreading rivalry between generations and maintaining that rivalry. Keyword : Aremania. Bonek. Football. Communication PENDAHULUAN Sepak bola merupakan olahraga terpavorit di dunia termasuk Indonesia. Olahraga ini tidak hanya digandrungi oleh kaum pria saja, termasuk juga kaum Di Indonesia sepak bola tidak hanya dimainkan oleh kelompok usia tertentu saja, melainkan dimainkan oleh segala usia mulai dari anak-anak hingga Begitupun dengan kelas sosial. Diterbitkan oleh FISIP UMC olahrga ini tidak hanya dimainkan oleh kelas sosial tertentu, melainkan di mainkan seluruh kelas sosial. Fenomena Indonesia sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka. Hal ini ditandai dengan lahirnya klub-klub sepak bola yang masih eksis lebih dari 100 tahun. Melansir dari liputan6. com pada 25 Desember 2018. Makassar Voetbal Bond, atau sekarang | 72 SOSFILKOM Volume XV Nomor 02 PSM Makassar merupakan kesebelasan tertua di Indonesia yang lahir pada pada 2 November 1915. Aktivitas kegiatan persepekbolaan di Indonesia melalui turnamen dimulai sejak tahun 1919. Kegiatan turnamen sepak bola di Indonesia mengalami perubahan, di antaranya jenis turnamen yang diikuti oleh tim sepak bola adalah Liga Indonesia. Liga Indonesia sendiri merupakan gabungan kompetisi antara klub sepak bola persyarikatan dan liga sepak bola utama atau Galatama. Beberapa tim yang selalu langganan mengikuti liga Indonesia di antaranya Persib. Persija. Arema Malang. Persebaya. PSM Makassar. Persipura Jayapura dan lainnya. Sajian tentang persepakbolaan di Indonesia tidak hanya tertuju pada tim itu Supporter dalam dunia sepak bola merupakan bumbu penyedap sebuah Dalam Sepakbola tidak dapat lepas dari peran suporter yang sering disebut pemain kedua belas dari tim kesebelasan (Dekama. Artinya, kehadiran supporter Muamar Kadafi, . menyatakan, kehadiran supporter di lapangan, semakin menambah tontonan yangmenarik dan ragaan yang atraktif. Ironisnya, dalam persepakbolan di Indonesia justru berbanding terbalik dengan makna sportivitas dalam pertandingan sepak bola itu sendiri. Fakta mengenai perkembangan Indonesia, perkembangannya mengarah ke arah yang Persaingan antara supporter pun pada akhirnya tak dapat dihindari dan Diterbitkan oleh FISIP UMC Juli-Desember 2021 seringkali mewarnai perjalanan panjang pertandingan sepak bola di Indonesia. Rivalitas berlebihan yang ditunjukkan oleh tiap supporter klub sepak bola yang akhirnya menimbulkan konflik antara supporter klub sepak bola itu sendiri. Konflik yang ditimbulkan tersebut tidak hanya dapat merusak fasilitas yang ada dalam stadion, bahkan kerusakan juga dapat terjadi di luar stadion. Seperti sering terjadinya tawuran antara supporter klub sepak bola yang tidak jarang hanya disebabkan oleh hal-hal sepele yang hanya dipicu oleh beberapa orang saja. Salah satu bentuk rivalitas dalam dunia persepakbolaan di Indonesia di antaranya adalah rivalitas pendukung Persebaya yang disebut Bonek dan pendukung Arema atau yang disebut dengan Aremania. Rivalitas kedua pendukung tersebut telah terekam dalam media yang mengakibatkkan kerugian materiil dan menelan korban jiwa. Berdasarkan gambaran latar belakang, maka rumusan dalam riset ini adalah bagaimana rivalitas pendukung Persebaya dalam hal ini Bonek dan pendukung Arema dalam hal ini Aremania dalam perspektif komunikasi. Penelitian Relevan Yusuf Adam Hilman: Judul: Motif dan Kelembagaan Konflik Supporter Sepak Bola pada Aremania. Jurnal Studi Kultural Volume II No. 1 Januari 2017. Hasil: Perilaku konflik yang terjadi Aremania Bonekmania, memiliki cerita yang panjang dan penuh lika liku, dengan berbagai macam bentuk konflik, oleh karena itu rivalitas | 73 SOSFILKOM Volume XV Nomor 02 tersebut harus dibentengi dengan pemahaman dan juga kesadaran kolektif yang sifatnya positif dari masing supporter agar tidak tindakanAtindakan konyol dan anarkis, terhadap rivalnya, terlebih lagi terhadap orang yang tidak tahu menahu terhadap persoalan yang sedang Pujiyono dan Mulyanto Judul: Urgensi Iintegrasi Nilai Local Wisdom Dalam Konflik Suporter Sepakbola. Jurnal Yustisia Vol. 3 No. 1 Januari - April 2014. Hasil: Faktor-faktor dikategorikan menjadi 2 . faktor yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dalam diri supporter diantaranya: . Sikap yang belum dewasanya supporter. Suporter yang konsumsi minuman keras. Tingkat pendidikan. Sifat massa yang tersulut kemarahan akan mudah sekali diikuti teman lainnya. Anak-anak muda yang masih menonjolkan sisi emosional dan masih labil. Adapun faktor eksternal yang berasal dari luar diri supporter, meliputi: . Wasit yang tidak adil. Kondisi pemain. Kondisi di lapangan seperti dendam masa lalu, gerakan Amalia Ulfah Sandra. Eri Radityawara Hidayat. Arief Budiarto Diterbitkan oleh FISIP UMC Juli-Desember 2021 Judul: Resolusi Konflik antara Suporter Persib dan Persija dari Perspektif Sosiokultural. Jurnal Al-Adyan Volume 6 Nomor Hasil: pertama dinamika konflik selama ini yang terjadi dari awal hingga sekarang sangat naik-turun. Di tahun-tahun 2001, 2002, 2011, 2012, 2013, 2014, 2016, 2017 merupakan tahun- tahun yang menunjukan tingkat eskalasi cukup tinggi dan bahkan ada yang mencapai eskalasi tertinggi dengan kekerasan fisik. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya deindividuasi pada suporter. Di tahun 2010 halhal yang menjadi akselerator konflik tidak hanya di lapangan saja melainkan hadirnya media menyebarkan api konflik menjadi Kehadiran media sosial masa kini dalam konflik ini bisa sebagai provokasi ataupun trigger. Kedua. Upaya-upaya penyelesaian sudah dilaksanakan, di tahun 2004 hingga 2011 upaya tersebut dilakukan namun menguap begitu Upaya yang dilakukan tidak memberikan efek terhadap konflik Viking The Jakmania. Perdamaian masih hanya dibatas permukaan atas belum menyentuh Berdasarkan hasil analisis kerangka dinamis pencegahan dan resolusi konflik terlihat bahwa dalam penyelesaian ini sinergitas antar aktor, pemangku kepentingan serta | 74 SOSFILKOM Volume XV Nomor 02 politik penguasa belum berjalan dengan baik. Masih kurangnya hal konflik tersebut dan juga konflik ini belum menjadi perhatian bagi penanganannya lambat dan kurang Hukum yang hadir dalam menangani konflik ini masih belum efektif, masih belum memberikan efek jera, dan juga belum ada kebijakan-kebiajakan mengatur suporter sepak bola. METODE PENELITIAN Dalam supporter merupakan bagian penting dalam kesebelasan sepak bola. Supporter Wicaksono, . menyatakan supporter adalah bagian penting dalam dunia sepakbola, karena fungsi utama supporter adalah sebagai penyemangat tim sepakbola dalam sebuah pertandingan. Peranan supporter di Indonesia pun tidak kalah pentingnya dari ke-11 pemain yang berlaga di lapangan. Para supporter dengan berbagai atributnya turut serta memberikan Mulai dengan nyanyian, tarian, yel-yel serta atribut lain seperti bendera, kaos yang mirip dengan yang dipakai oleh tim kesayangan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, diakses Juli 2021 menyatakan arti kata suporter adalah orang yang memberikan dukungan, sokongan dan sebagainya . alam pertandingan dan Konsekuensi pertandingan sepak bola adalah rivalitas. Diterbitkan oleh FISIP UMC Juli-Desember 2021 yang rivalitas tersebut melibatkan tim melainkan juga antar supporter. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, diakses Juli 2021 menyatakan arti Rivalitas antar suporter seringkali menimbukan konflik. Dalam kaitan ini konflik tidak hanya terjadi dalam lingkungan pertandingan tapi merambah pada media lainnya di antara media Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, diakses Juli 2021 menyatakan arti kata konflik Rivalitas dalam dunia sepak bola tidak hanya terjadi pada saat pertandingan rivalitas dapat terjadi baik pada lingkungan nyata maupun dunia maya. Begitupun dengan bentuk rivalitas dalam dunia sepak bola bukan hanya dalam bentuk bentrokan fisik, tetapi dapat terjadi juga dengan hate speach atau ujaran kebencian. Hate speach dalam rivalitas dunia sepak bola disampaikan melalui alat-alat komunikasi baik media konvensional seperti halnya media luar ruang maupun media digital. Rivalitas antar supporter dapat dikaji melalui komunikasi. Alat kaji komunikasi terkait dengan rivalitas dapat dilihat dari paradigma Lasswell. Model komunikasi dari Harold Lasswell ini dianggap oleh pakar komunikasi sebagai salah satu teori komunikasi yang paling komunikasi . Menurut Harold Laswell yang dikutip oleh Deddy Mulyana dengan menjawab pertanyaanpertanyaan berikut: who, says what, in which channel, to whom, with what effect atau siapa, | 75 SOSFILKOM Volume XV Nomor 02 mengatakan apa, dengan saluran apa. Berdasarkan model Lasswell, who memiliki makna kelompok yang terlibat dalam rivalitas. Says what menunjukkan makna pesan apa yang disampaikan dalam sebuah rivalitas tersebut. In which channel menunjukan mkana saluran komunikasi apa yang menujukkan rivalitas tersebu. whom menunjukan sasaran pesan dalam rivalitas tersebut. With what effect menunjukkan dampak apa yang diakibat dari rivalitas tersebut. Riset ini menggunakan metode penelitian kualititatif. Menurut Creswell . mendefinisikan metode penelitian kualitatif sebagai suatu pendekatan atau penelusuran untuk mengeksplorasi dan Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan desk study. Dalam kaitan ini informasi dicari dari data dokumentasi berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, agenda, dan HASIL PENELITIAN Profil Bonek dan Aremania Dalam Indonesia selain terjadi perputaran ekonomi dan politik yang begitu masif . yatmika, 2. memunculkan fenomena sosial yakni fanatisme suporter. Mereka tergabung dalam suatu kelompok dengan membangun identitas dan ciri yang khas. Di antara kelompok suporter yang fenomenal adalah Bonek dan Aremania. Kehadiran kelompok-kelompok supporter yang memiliki fanatisme yang berlebihan dalam pandangan sosiologi dinamakan gejala sosial. Menurut Soerjono Diterbitkan oleh FISIP UMC Juli-Desember 2021 Soekanto Sosiologi: Suatu Pengantar . , gejala sosial merupakan masalah sosial yang lingkungan masyarakat. Dapat diartikan juga, bahwa gejala sosial adalah fenomena permasalahan sosial dalam masyarakat. Bonek merupakan kelompok yang hadir secara alamiah. Mereka disatukan dalam satu ikatan emosional kecintaan terhadap Persebaya. Menurut catatan Suci Rahayu . dalam tulisannya di com Bonek lahir pada medio 1987 pada saat kompetesi perserikatan 19871988. Momentum Bonek Persebaya berhasil lolos ke babak 12 besar untuk melawan Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Karno Senayan. Pada zaman itu, bukanlah hal yang biasa suporter tamu ikut mengawal perjuangan tim kebanggan saat berntanding di kandang lawan. Namun, suporter Persebaya Surabaya yang terlanjur tenggelam dalam euforia dengan mantap mengawal perjuangan Bajul Ijo. Bisa dibilang pendukung Persebaya adalah pelopor gerakan suporter mendukung di kandang lawan, atau yang kini biasa disebut away di kalangan suporter (Suci Rahayu, 2. Dalam catatan Suci Rahayu . istilah Bonek adalah istilah yang dinyatakan oleh Dahlan Iskan. Dahlan Iskan saat itu geleng-geleng kepala melihat banyaknya pendukung Persebaya Surabaya di luar Senayan. Lalu dia berceletuk dengan menyebut mereka Bonek atau orang yang Bondo Nekat. Lebih lanjut menurut Suci Rahayu. Sumber literasi yang berbeda menyebut julukan Bonek pertama kali dicetuskan oleh Wakil Ketua | 76 SOSFILKOM Volume XV Nomor 02 DPRD Jawa Timur. Purnomo Kasidi, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Persebaya Surabaya. Kala itu, dia melihat banyak suporter berhamburan di halaman hotelnya menginap. Lantas. Purnomo Kasidi memiliki reaksi yang sama seperti Dahlan Iskan dan menyebut mereka Bonek, dalam artian nekat datang tanpa bondo . atau bondo pas-pasan sehingga harus tidur tanpa penginapan. Dalam perjalannya Bonek seolah tidak bisa terlepaskan dalam dunia Bonek menjelma menjadi kelompok sosial yang memberikan dukungan bagi Persebaya dan memberikan identitas bagi siapa saja yang memiliki fanatisme terhadap Persebaya. Artinya Bonek sudah menjadi ikon nasional Indonesia Persebaya Aremania pendukung fanatik Arema Malang. Aremania merupakan ikon nasional yang telah mewarnai dunia persepakbolaan di Indonesia. Menurut tulisan Agung Prima menyebutkan Aremania berawal dari jaket yang digunakan Ovan Tobing pada tahun 1994 yang bertuliskan Aremania. Ovan Tobing sendiri merupakan salah satu pendiri dari dari klub Arema. Tenarnya Aremania tidak berbeda dengan Bonek diawali dari beragam tindakan-tindakan Setiap pertandingan Arema di Malang senantiasa menimbulkan keributan, baik Arema itu menang ataupun kalah. Setiap kali perhelatan pertandingan Arema Ovan Tobing senantiasa berurusan dengan pihak Suporter Arema menjadi terkenal atas brutalisme antara waktu Diterbitkan oleh FISIP UMC Juli-Desember 2021 Arema berdiri dan pertengahan tahun 1990-an. Ada kekerasan antara suporter walaupun Arema menang atau kalah. Pada waktu itu beberapa geng pemuda merupakan para suporter Arema. Setiap kampung memiliki geng sendiri (Purnomo. Sekitar pertengahan tahun 1990-an suporter Arema mulai berubah. Citra negatif terhadap suporter Arema ada sampai sekarang tetapi selama beberapa tahun yang lalu Aremania pernah diakui sebagai suporter Indonesia terbaik. Hal tersebut tidak terlepas dari strategi Strategi komunikasi menjadi sesuatu hal yang penting dalam sebuah organisasi . yatmika, 2. Pada waktu ribuan suporter ke Jakarta untuk putaran Delapan Besar Ligina VI Ketua Umum PSSI Agum Gumelar terkesan oleh penampilan suporter Arema di Stadion Senayan. Dia mengakui Aremania sebagai suporter kreatif, sportif dan atraktif. samping itu PSSI pernah mengundang Yuli Sugianto . irigen suporter Arem. untuk mewakili suporter Indonesia. Selama Ligina VII sering diakui oleh suporter klub lain sebagai guru suporter lain (Purnomo. Pesan dalam Rivalitas Bonek dan Aremania Hate speach merupakan pesan yang mewarnai rivalitas antara Bonek dan Aremania. Menurut Masyhur Effendi dalam Margareth Brown Sica dan Jeffrey Beall menyatakan bentuk hate speech atau ujaran kebencian seperti minoritas tertentu, dengan berbagai latar belakang dan sebab baik berdasarkan ras, | 77 SOSFILKOM Volume XV Nomor 02 gender, etnis, kecacatan, kebangsaan, agama, orientasi seksual atau karakteristik Dalam dunia hukum ujaran kebencian . ate speec. merupakan perkataan, perilaku, tulisan, dan pertunjukan yang dilarang karena dapat menimbulkan terjadinya aksi tindakan kekerasan dan sikap prasangka buruk dari pelaku pernyataan tersebut ataupun korban dari tindakan tersebut. Sedangkan penggunaan dan penerapan ujaran kebencian dalam dunia internet disebut Hate site, kebanyakan dari situs ini menggunakan Forum Internet dan berita untuk mempertegas suatu sudut pandang tertentu (Sutan Remy Syahdeini, 2. Ujaran kebencian adalah semua bentuk ekspresi, verbal atau tertulis, yang kebencian berdasarkan pada intoleransi atau juga atas dasar agama (Pylmadyttir & Kalenikova, 2. Ujaran kebencian ini pada umumnya disebarkan melalui media sosial dan dengan cepat dapat menyebar, sehingga menimbulkan informasi yang keliru, dan pada akhirnya menimbulkan prasangka yang salah. Hal ini terjadi karena negara terlambat memberikan respon melalui regulasi-regulasinya bagi teknologi-informasi, terutama media sosial yang menjadi penyemaian berbagai ujaran kebencian (Bank, 2. Pesan Rivalitas antara Bonek dan Aremania, dituangkan dalam bentuk lagu, yel yel dan sebagainya. Salah pesan rivalitas tertuang dalam lagu yang berjudul Viking Bonek Bernyanyi Lagu Untuk Aremania yang diupload 17 April 2018 https://w. com/watch?v=UOYh Diterbitkan oleh FISIP UMC Juli-Desember 2021 7ea4LYo. Syair yang menunjukkan rivalitas adalah: AuSiapa bilang Indonesia Arema . Indonesia miliki kita bersama, siapa bilang Indonesia Arema . , itu orang yang tak pernah sekolahAy. Lagu lainnya yang mengisyaratkan hate speach dalam rivalitas tertuang dalam yel-yel pertandingan saat pertandingan derby Jawa Timur 6 Mei 2018. Yel-yel Arema suporternya banci banci kalau siang kalau malam arewaria arema jancok dibunuh saja. Yel yel ini dapat ditelusuri di https://w. com/watch?v=eFzGXzw6LE. Tidak hanya Bonek saja yang menunjukkan rivalitas melalui pesan hate Hal yang sama pun dilakukan oleh Aremania. Beberapa syair lagu yang di https://w. com/watch?v=Gvncx 4fo1IU yang telah ditonton 273. diupload 28 November 2018. Bunyi syairnya: arema arema singo edan, singo edan aremania, sekarang Arema Menang. Bonek Fu** you nyolong gorengan Bonek Bonek Baji****. Selain menggunakan pesan verbal, rivalitas Bonek Aremania ditunjukkan hate speach non verbal. Dalam sebuah https://w. com/watch?v=5Ei_iT I2wbY pada tanggal 14 Agustus 2020 memperlihatkan oknum supporter Bonek membagikan pisang ke mobil berplat malang sembari menirukan suara monyet. Oknum Bonek tersebut juga menirukan suara monyet lalu, dilanjutkan dengan mengendarai kendaraan plat N adalah | 78 SOSFILKOM Volume XV Nomor 02 AuBedhes Malange ucul,Ay teriak oknum Bonek tersebut. Contoh hate speach yang disajikan di atas sebagaian kecil saja, tidak ubahnya gunung es. Masih banyak sekali, lagu atau yel yel yang mengisyaratkan kebencian dalam rivalitas antara Bonek dan Aremania. Fenomena hate speach dalam rivalitas antara pendukung Bonek dan Aremania dalam tinjauan teori komunikasi dapat dianalisis berdasarkan teori stimulus Pendekatan teori stimulus-response ini beranggapan bahwa tingkah laku sosial dapat dimengerti melalui suatu analisa dari stimuli yang diberikakan dan dapat mempengaruhi reaksi yang spesisfik dan penghargaan sesuai dengan reaksi yang Menurut Hosland. Janis dan Kalley . beranggapan bahwa proses dari perubahan sikap adalah serupa dengan proses belajar. Dalam kaitan rivalitas berdasarkan teori stimulus respon ditunjukkan dengan adanya sikap dan prilaku yang saling berbalas antara kedua suporter. Semakin besar pesan-pesan kebencian kepada satu kelompok ke kelompok lain, maka sikap kebencian akan semakin besar pula. Ketika supporter Bonek memiliki lagu-lagu atau yel-yel yang mengisyaratkan kebencian kebencian terhadap Aremania, maka akan Diterbitkan oleh FISIP UMC Juli-Desember 2021 direspon pula dengan kebencian Aremania terhadap Bonek, begitupun sebaliknya. Media Rivalitas Bonek dan Aremania Rivalitas antara Bonek dan Aremania secara garis besar menggunakan dua media. Pertama media konvensional . dan media digital. Kata konvensional dalam kamus umum bahasa Indonesia, dapat diartikan sebagai menurut apa yang sudah menjadi kebiasaan. Sehingga, media konvensional disebut pula sebagai media tradisional atau yang lebih dulu ambil bagian dalam masyarakat seperti media surat kabar, majalah, radio, film, dan televisi, media luar ruang atau media lainnya sebagai saluran komunikasi. Media digital adalah media yang kontennya berbentuk gabungan data, teks, suara, dan berbagai jenis gambar yang disimpan dalam format digital dan disebarluaskan melalui jaringan berbasis kabel optic broadband, satelit dan sistem gelombang mikro (Flew, 2. Beberapa media konvensional sebagai sarana menyalurkan pesan rivalitas di antaranya adalah media luar ruang yang tergambarkan dalam aksi vandalisme. | 79 SOSFILKOM Volume XV Nomor 02 Juli-Desember 2021 Gambar 1 : Rivalitas Sumber Kompasiana 21 Agustus 2021 Dari gambar di atas sangat jelas sekali rivalitas antara Bonek dan Aremania. Hal ini dapat dilihat dari tulisan Arema a** salam sakit jiwa jan***. Selain coretan di dinding rivalitas ini merambah pada media lainnya seperti halnya kaos. Gambar 2 Kaos Supporter Hal menarik dari kaos sebagai media yang menggambarkan rivalitas adalah di jualnya kaos tersebut secara terang-terangan. Beberapa online shop seperti buka lapak, lazzada, shopee secara terbuka memajang Diterbitkan oleh FISIP UMC kaos tersebut di website. Adapun kata kuncinya adalah kaos rasis. Selain kaos, media rivalitas antara Bonek dan Aremania di sampaikan melalui syal. | 80 SOSFILKOM Volume XV Nomor 02 Juli-Desember 2021 Gambar 3 : syal Sama halnya dengan kaos syal ini dapat dibeli di online shop seperti buka lapak, lazzada, shopee dengan kata kunci syal rasis. Tentunya media konvensional yang merupakan ekpresi rivalitas antara Bonek dan Aremania selain kaos dan syal masih banyak media konvensional yang digunakan seperti halnya spanduk, pamflet dan lain-lain. Media rivalitas Bonek dan Arema yang sering mengisi ruang publik adalah media digital. Dalam kaitan platform media sosial merupakan platform yang paling digunakan sebagai ekspresi rivalitas Setiap detik kita senantiasa dapat melihat mendengar cuitan atau status yang bernada rivalitas. Dan untuk mendapatkan gambaran rivalitas kedua supporter yakni sangat sederhana. Dengan menuliskan pencarian dengan menyebutkan kata-kata kasar tentang Bonek atau Aremania maka akan mendapatkan data informasi tersebut. Gambar 4 Laman Facebook Diterbitkan oleh FISIP UMC | 81 SOSFILKOM Volume XV Nomor 02 Terlepas dari akun tersebut apakah memang benar dari pendukung fanatik atau orang-orang yang memiliki kepentingan memancing di air keruh, setidaknya fakta ini dapat dijadikan sandaran fenomena rivalitas Bonek dan Aremania. Tentunya akun-akun media sosial yang menggambarkan rivalitas sangat banyak sekali. Hal ini disebabkan setiap individu supporter merupakan kalangan milineal yang tentunya tidak ada hambatan Suporter Bonek maupun Aremania bergerak sendiri-sendiri dalam Berdasarkan pengamatan di laman resmi Persebaya Arema, sedikitpun yang mengekspresikan rivalitas Rivalitas Bonek dan Aremania terus bergejolak dalam media sosial, diduga disebabkan tidak adanya penegakan Sementara ini jarang sekali ditemukan berita informasi ujaran-ujaran kebencian kedua supporter yang diproses secara hukum yang ditemukan di media massa kita. Begitupun dengan orang yang membuat, mempromosikan, menjual dan mengenakan kaos atau syal yang mengarah permasalahan hukum. Efek Media Komunikasi dalam Rivalitas Bonek Aremania Media komunikasi rivalitas baik media konvensional maupun digital merupakan alat propaganda dalam melegitimasi semangat rivalitas menjadi Pada akhirnya media tersebut menjadi sarana enkulturasi budaya Enkulturasi sebagai suatu konsep, secara harfiah dapat diartikan sebagai Diterbitkan oleh FISIP UMC Juli-Desember 2021 proses pembudayaan, enkulturasi mengacu ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Koentjaraningrat. Dengan tersebut, budaya rivalitas akan selalu diturunkan dari generasi ke generasi. khirnya rivalitas tersebut menjadi sebuah konflik antar kelompok. Selain menjadi alat enkulturasi media komunikasipun menjadikan rivalitas Bonek dan Aremania Berdasarkan wilayahnya rivalitas kedua kelompok ini tidak hanya berfokus di Surabaya dan Malang. Rivalitas ini berkembang ke wilayah-wilayah lainnya. Selama proses pembudayaan terus menerus dilakukan maka konflik antar kelompok tersebut terus mengkristal. Pada akhirnya konflik terbuka sering terjadi tidak hanya ketika mereka bertemu dalam dukungan pertandingan, tetapi dalam momen lainnya konflik akan terjadi. Dengan situasi budaya konflik yang telah mengkristal, mereka melakukan tindakan kekerasan yang kadang di luar nalar. Semisal membunuh orang dikarenakan orang tersebut menggunakan simbol kelompok seperti halnya kaos atau topi. Maka tidak heran jika memasuki kawasan-kawasan tertentu baik di Surabaya atau Malang harus memperhatikan simbol-simbol yang Merujuk pada konsep enkulturasi, menunjukkan bahwa apa yang terjadi sekarang antara Bonek dan Aremania, adalah proses pembudayaan konflik yang mengekspresikan rivalitas. | 82 SOSFILKOM Volume XV Nomor 02 KESIMPULAN DAN SARAN Dari uraian yang telah disajikan, berdasarkan catatan-catatan data sekunder dapat disimpulkan: Fenomena dukung mendukung merupakan fenomena yang pasti Para pendukung Pesan dalam rivalitas antara pendukung Persebaya dan Arema banyak didominasi pesan-pesan yang menunjukkan rasa kebencian kedua belah pihak. Media rivalitas kedua supporter secara garis besar menggunakan konvensional dan media digital. DAFTAR PUSTAKA Agung Prima. Sejarah Aremania. Berawal dari Jaket Ovan Tobing. Amalia Ulfah Sandra dkk. Resolusi Konflik antara Suporter Persib dan Persija Perspektif Sosiokultural. [J] Jurnal Al-Adyan Volume 6 Nomor 2 2019. Bank. Regulating Hate Speech Online. International Review of Law. Computers & Technology, 24. , 233Ae239. https://doi. org/10. 1080/13600869. Creswell. John W. Research Design Qualitative. Quantitative. Mixed Methods Approaches. Edition. Terjemah. Achmad Fawaid. Research Design Pendekatan Kualitatif. Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Dyatmika. , 2015. TAYANGAN TELEVISI DAN SEPAK BOLA Diterbitkan oleh FISIP UMC Juli-Desember 2021 Media-media yang digunakan dalam mengekspresikan rivalitas generasi dan memelihara rivalitas Atas permasalahan rivalitas yang terjadi antara pendukung Persebaya dalam hal ini Bonek dan pendukung Arema dalam hal ini Aremania perlu dicarikan solusi. antara solusi penting adalah penegakan hukum terkait dengan ujaran kebencian. Selain itu, perlu kesadaran bersama kedua belah pihak bahwasannya esensi sebuah pertandingan sepak bola adalah sportivitas. Sepak bola ada suportivitas bukan kebanggan pada kelompok supporter. DI INDONESIA: TINJAUAN EKONOMI POLITIK MEDIA PADA PENYIARAN TELEVISI INDONESIA. Konvergensi: jurnal ilmiah ilmu komunikasi, 1. Dyatmika. , 2018. Strategi Komunikasi Penerimaan Mahasiswa Baru di Universitas Muhammadiyah Cirebon. SOSFILKOM: Jurnal Sosial. Filsafat dan Komunikasi, 12. , pp. https://w. com/watch?v=eFzGXzw6LE. https://w. com/watch?v=Gvncx https://w. com/watch?v=5Ei_iT I2wbY https://kbbi. Kadafi. Muamar. Konflik AntarSupporter Sepakbola Meruntuhkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia. Artikel: STIMIK AMIKOM Yogyakarta. | 83 SOSFILKOM Volume XV Nomor 02 Koentjaraningrat. Manusia dan Kebudayaan Di Indonesia. Jakarta: Djambatan. MarAoat. Sikap Manusia Perubahan serta Pengukuran Jakarta: Ghalia Indonesia. Masyhur Effendi. Dimensi/Dinamika Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional Internasional. Jakarta: Ghalia Indonesia. Pylmadyttir. , & Kalenikova. Hate Speech: An Overview And Recommendations