UNITY: Journal of Community Service Vol. 2 No. July 2025, pp. E-ISSN 3089-2937 Sosialisasi dan Edukasi Hak Disabilitas melalui Program Mini Project Ramah Difabel di Desa Sidomulyo Kabupaten Sleman Shabila Aulia . Fajar Noor . 1Universitas Negeri Yogyakarta. Indonesia *shabila. aulia8@gmail. ARTICLE INFO Article history a. Received Juni 04, 2025 Revised Juni 08, 2025 Accepted Juli 16, 2025 Published Juli 22, 2025 Keywords Disability Rights Community Education Inclusive Society Mini Project Community Service Kata Kunci Disabilitas Edukasi Masyarakat Hak Difabel Mini Project Inklusi Social ABSTRACT Persons with disabilities often face barriers in gaining recognition and protection of their rights within The low level of public awareness remains a major obstacle to creating an inclusive and disabilityfriendly environment. This community service project aims to enhance awareness and understanding among residents of Sidomulyo Village. Sleman Regency, regarding the rights of persons with disabilities through a participatory mini project approach. The method consisted of initial observation, interactive socialization, development of educational media . osters and video. , and participatory evaluation. The results indicate a significant increase in public knowledge of disability rights, as evidenced by the pre- and post-activity questionnaire. Furthermore, a local resident group was formed to continue promoting inclusive education in the community. The mini project approach proved to be an effective and practical method for fostering community-based social awareness. It is hoped that this activity can be replicated in other regions with appropriate contextual adaptations. Penyandang disabilitas seringkali menghadapi tantangan dalam memperoleh pengakuan dan perlindungan atas hak-haknya di tingkat masyarakat. Rendahnya tingkat pemahaman masyarakat menjadi hambatan utama dalam mewujudkan lingkungan yang inklusif dan ramah disabilitas. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan warga Desa Sidomulyo. Kabupaten Sleman, terhadap hak-hak disabilitas melalui pendekatan mini project partisipatif. Metode pelaksanaan meliputi observasi awal, sosialisasi interaktif, pembuatan media edukatif . oster dan vide. , serta evaluasi Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat terhadap isu disabilitas, tercermin dari hasil kuisioner pre dan post kegiatan. Selain itu, terbentuk kelompok warga yang berkomitmen untuk melanjutkan edukasi inklusi di lingkungan sekitar. Mini project terbukti sebagai metode efektif dan aplikatif dalam menumbuhkan kesadaran sosial berbasis komunitas. Diharapkan kegiatan ini dapat direplikasi di wilayah lain dengan penyesuaian konteks lokal. License by CC-BY-SA Copyright A 2025. The Author. How to cite: Aulia. , & Noor. , . Sosialisasi dan Edukasi Hak Disabilitas melalui Program Mini Project Ramah Difabel di Desa Sidomulyo Kabupaten Sleman. UNITY: Journal of Community Service, 2. , 16-20. https://doi. org/10. 70716/unity. PENDAHULUAN Lingkungan masyarakat yang inklusif merupakan fondasi penting dalam menjunjung tinggi hak penyandang Convention on the Rights of Persons with Disabilities secara jelas menggarisbawahi pentingnya perlindungan terhadap aksesibilitas dan partisipasi penuh penyandang disabilitas di semua aspek kehidupan (UN, 2. Namun, di banyak komunitas lokal Indonesia, pemahaman publik masih terbatas terkait hak-hak tersebut sehingga muncul kebutuhan mendesak akan intervensi edukatif berbasis komunitas yang dapat meningkatkan kesadaran dan mengubah Studi Hasan dkk. menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas mampu memberdayakan penyandang disabilitas dari aspek ekonomi, sosial, dan budaya. Temuan ini sangat relevan untuk pelaksanaan mini project di Desa Sidomulyo yang bertujuan meningkatkan literasi masyarakat mengenai hak disabilitas dan memperkuat inklusivitas UNITY: Journal of Community Service Vol. No. July 2025, pp. Selain itu, meta-analisis Soojung Chae dkk. dalam International Journal of Disability. Development and Education menemukan bahwa intervensi berbasis kontak langsung dengan penyandang disabilitas secara signifikan dapat meningkatkan sikap positif masyarakat terhadap mereka . ffect size d = 1. Mini project yang melibatkan interaksi langsung diharapkan menghasilkan efek serupa dalam masyarakat Desa Sidomulyo. Penelitian Park dan Kim . pada mahasiswa program fisioterapi membuktikan bahwa program edukasi kesadaran disabilitas secara signifikan dapat menurunkan prasangka dan meningkatkan sikap positif terhadap penyandang disabilitas. Hal ini mengilustrasikan bahwa edukasi persuasif menjadi strategi efektif, terutama jika disampaikan secara sistematis dan berkelanjutan dalam konteks masyarakat umum. Dalam konteks Indonesia. Fitria dkk. melalui program psikoedukasi partisipatif di SMA Muhammadiyah 1 Malang berhasil menurunkan sikap negatif terhadap siswa penyandang disabilitas. Kegiatan ini sejalan dengan kebutuhan Desa Sidomulyo yang membutuhkan edukasi inklusif di tingkat masyarakat untuk membangun kesadaran dan penerimaan yang lebih baik. Soleh dkk. menyoroti rendahnya pengetahuan masyarakat tentang fiqh disabilitas, dimana pemahaman hukum agama terhadap kebutuhan penyandang disabilitas masih minim. Oleh karena itu, program pengabdian juga perlu mendekatkan hak-hak disabilitas dari perspektif budaya dan agama yang berlaku di masyarakat agar lebih mudah diterima dan dipahami. Penelitian Arifputri dkk. tentang pemberdayaan siswa tunarungu melalui pelatihan kewirausahaan menegaskan pentingnya keterlibatan penyandang disabilitas sebagai subjek aktif, bukan hanya objek kegiatan Oleh sebab itu, mini project dirancang untuk melibatkan penyandang disabilitas lokal secara langsung agar mereka dapat menjadi agen perubahan di komunitasnya sendiri. Hasil riset Bessaha dkk. dalam Disability Studies Quarterly memperlihatkan bahwa metode participatory action research (PAR) di kampus mampu mengangkat suara penyandang disabilitas dan menciptakan perubahan sistemik terhadap lingkungan. Metode reflektif semacam ini dapat diterjemahkan dan diadaptasi dalam pelaksanaan mini project di desa sehingga warga turut berperan aktif dalam proses perubahan sosial. Laporan World Report on Disability (WHO & World Bank, 2. menyatakan bahwa salah satu rekomendasi utama untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas adalah dengan meningkatkan pemahaman publik melalui pendidikan dan kampanye yang berkelanjutan. Oleh karena itu, program mini project diarahkan untuk memenuhi rekomendasi global tersebut dalam skala lokal dengan pendekatan yang sesuai kondisi desa. Pendekatan berbasis komunitas yang kolaboratif dan kontekstual menjadi kunci keberhasilan program pengabdian Inisiatif seperti Lingkar Sosial memperlihatkan bahwa dukungan dari berbagai pemangku kepentingan dapat menghasilkan program inklusi yang berkelanjutan. Desa Sidomulyo memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan sebagai model pengabdian yang efektif dan replikatif. Mini project yang menggunakan media visual seperti poster dan video edukatif dapat menyampaikan informasi secara atraktif dan mudah dipahami oleh berbagai kelompok usia. Penelitian Chae dkk. menegaskan efektivitas penggunaan media visual sebagai bagian dari intervensi edukasi inklusif yang mampu menjangkau audiens luas secara Edukasi dan sosialisasi yang dilakukan secara interaktif, bukan sekadar ceramah, terbukti efektif dalam menurunkan stigma negatif. Park dan Kim . menegaskan bahwa partisipasi aktif audiens dalam membuat dan mendiskusikan materi edukasi meningkatkan pemahaman dan sikap positif secara signifikan. Dalam mini project ini, warga diajak menjadi pelaku sekaligus penerima manfaat edukasi. Desa Sidomulyo yang terletak di wilayah semi-perkotaan dekat dengan beberapa institusi pendidikan tinggi menjadi lokasi strategis untuk memadukan tenaga mahasiswa dan praktisi pendidikan khusus dalam pelaksanaan mini project. Pendekatan partisipatif yang didukung data sosial lokal diyakini dapat memperkuat relevansi dan dampak program. Selain itu. Soleh dkk. juga menunjukkan bahwa rekognisi spiritual dan komunal terhadap penyandang disabilitas dapat meningkatkan penerimaan masyarakat. Oleh karena itu, sosialisasi dan edukasi disabilitas perlu dikontekstualisasikan secara budaya lokal Desa Sidomulyo agar lebih mudah diterima oleh warga. Secara keseluruhan, kombinasi antara intervensi berbasis komunitas, kontak langsung, penggunaan media edukatif partisipatif, dan kontekstualisasi budaya, yang diwujudkan dalam mini project, memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Desa Sidomulyo terhadap hak-hak penyandang disabilitas. Hal ini didukung oleh bukti empiris dari studi internasional maupun nasional, sekaligus menjawab kebutuhan lokal secara tepat. Dengan demikian, pengabdian masyarakat yang memfokuskan pada sosialisasi dan edukasi hak disabilitas melalui mini project ini diharapkan dapat menjadi model yang dapat direplikasi dan disesuaikan dengan kondisi wilayah lain demi mewujudkan masyarakat yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas. Aulia & Noor (Sosialisasi dan Edukasi Hak Disabilitas melalui ProgramA) UNITY: Journal of Community Service Vol. No. July 2025, pp. METODE PELAKSANAAN Lokasi dan Waktu Pelaksanaan pengabdian masyarakat ini dilakukan di Desa Sidomulyo. Kabupaten Sleman, yang memiliki karakteristik masyarakat semi-perkotaan dengan tingkat kesadaran sosial yang beragam. Kegiatan berlangsung selama tiga bulan, dari Januari hingga Maret 2025. Sasaran dan Partisipan Sasaran pengabdian adalah masyarakat umum Desa Sidomulyo, meliputi tokoh masyarakat, ibu-ibu kader posyandu, pemuda, serta penyandang disabilitas setempat. Sebanyak 50 orang dipilih sebagai partisipan dengan teknik purposive sampling untuk memastikan keterwakilan kelompok. Pendekatan Pengabdian ini menggunakan pendekatan partisipatif dengan konsep Mini Project Ramah Difabel. Pendekatan ini mengintegrasikan proses sosialisasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam bentuk kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif warga. Tahapan Pelaksanaan Identifikasi Awal dan Penggalian Data Dilakukan melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terfokus (FGD) untuk mengetahui tingkat pemahaman masyarakat tentang hak-hak penyandang disabilitas serta hambatan yang dihadapi. Sosialisasi dan Edukasi Hak Disabilitas Dilaksanakan dalam bentuk workshop dan diskusi interaktif yang melibatkan narasumber ahli dan tokoh Materi disusun berdasarkan regulasi nasional serta dikontekstualisasikan dengan budaya lokal Sidomulyo. Pengembangan Media Edukasi Partisipan diajak membuat media edukasi seperti poster dan video pendek yang bertujuan menyebarkan pesan inklusivitas dan hak disabilitas kepada masyarakat luas secara efektif. Evaluasi dan Refleksi Dilakukan dengan pemberian kuesioner pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan sikap peserta. Sesi refleksi dilakukan secara kelompok untuk mendiskusikan hasil kegiatan dan perencanaan tindak lanjut. Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif berupa kuesioner yang diberikan sebelum dan sesudah kegiatan, sedangkan data kualitatif diperoleh dari wawancara, observasi partisipatif, dan dokumentasi kegiatan. Analisis Data Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif menggunakan perbandingan skor pre-test dan post-test untuk melihat peningkatan pemahaman peserta. Data kualitatif dianalisis secara tematik untuk memahami dinamika dan persepsi peserta selama kegiatan berlangsung. Validitas Data Validitas data dijaga dengan melakukan triangulasi teknik pengumpulan data serta validasi isi melalui diskusi dengan narasumber dan peserta kegiatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengabdian masyarakat ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman dan kesadaran masyarakat Desa Sidomulyo terhadap hak-hak penyandang disabilitas. Berdasarkan data kuesioner pre-test dan posttest yang diisi oleh 50 partisipan, rata-rata skor pemahaman meningkat dari 45,6 pada pre-test menjadi 78,9 pada posttest. Hal ini mengindikasikan bahwa program mini project ramah difabel yang dilaksanakan efektif dalam mengubah pengetahuan masyarakat tentang aspek hukum, sosial, dan budaya terkait disabilitas. Temuan ini sejalan dengan studi Park dan Kim . yang menyatakan bahwa edukasi berbasis partisipasi aktif dapat meningkatkan sikap positif terhadap penyandang disabilitas secara signifikan. Selain peningkatan kuantitatif, evaluasi kualitatif melalui wawancara dan diskusi kelompok juga memperlihatkan perubahan persepsi yang positif. Sebelum kegiatan, sebagian besar peserta mengaku memiliki keterbatasan pemahaman serta rasa takut atau canggung dalam berinteraksi dengan penyandang disabilitas. Setelah mengikuti sosialisasi dan terlibat dalam pembuatan media edukasi, peserta mengaku lebih terbuka dan memiliki empati yang Hal ini mengonfirmasi temuan Soojung Chae dkk. yang menekankan pentingnya kontak langsung sebagai strategi pengurangan stigma. Partisipasi aktif masyarakat dalam pembuatan media edukasi seperti poster dan video pendek ternyata menjadi faktor penting dalam memperkuat pemahaman. Proses kreatif ini tidak hanya menambah pengetahuan teknis, tetapi Aulia & Noor (Sosialisasi dan Edukasi Hak Disabilitas melalui ProgramA) UNITY: Journal of Community Service Vol. No. July 2025, pp. juga membangun rasa kepemilikan terhadap program. Sebagian peserta bahkan mengungkapkan keinginan untuk melanjutkan penyebaran informasi melalui media sosial dan kegiatan komunitas lain. Hal ini konsisten dengan prinsip pemberdayaan yang diuraikan oleh Hasan dkk. , bahwa partisipasi aktif adalah kunci keberlanjutan program pengabdian masyarakat. Kegiatan sosialisasi yang melibatkan tokoh disabilitas lokal sebagai narasumber juga memberikan dampak psikologis yang kuat bagi peserta. Kehadiran mereka memberikan contoh nyata dan inspirasi, sekaligus menghilangkan stereotip negatif yang selama ini melekat pada penyandang disabilitas. Metode ini mengadopsi pendekatan berbasis pengalaman langsung yang terbukti efektif menurut Bessaha dkk. Narasumber tidak hanya menyampaikan informasi, tapi juga menceritakan pengalaman hidup yang membuat pesan lebih mengena dan bermakna. Hasil evaluasi kuantitatif juga menunjukkan bahwa aspek sosial budaya lokal yang dikaitkan dalam materi sosialisasi sangat membantu dalam meningkatkan penerimaan masyarakat. Peserta menyatakan bahwa materi yang disesuaikan dengan budaya Sidomulyo membuat mereka lebih mudah memahami dan menerima konsep hak disabilitas. Pendekatan kontekstual ini sesuai dengan temuan Soleh dkk. yang menegaskan bahwa penguatan nilai budaya lokal dapat memperkuat program inklusivitas. Lebih lanjut, refleksi kelompok yang dilakukan pada akhir kegiatan mengungkapkan sejumlah hambatan yang masih harus diatasi untuk mencapai masyarakat yang benar-benar inklusif. Di antaranya adalah kurangnya sarana fisik yang ramah difabel di beberapa fasilitas umum desa, serta masih terbatasnya pengetahuan sebagian warga terhadap regulasi yang melindungi hak penyandang disabilitas. Hal ini membuka ruang bagi program lanjutan yang lebih komprehensif, termasuk advokasi kebijakan dan pembangunan infrastruktur. Dalam perspektif pemberdayaan, pelibatan penyandang disabilitas dalam seluruh rangkaian kegiatan memberikan dampak positif tidak hanya bagi mereka, tetapi juga bagi masyarakat luas. Keterlibatan ini menciptakan dialog dua arah yang memperkuat solidaritas sosial dan mengurangi diskriminasi. Arifputri dkk. menekankan pentingnya menjadikan penyandang disabilitas sebagai agen perubahan dalam program pemberdayaan, yang terlihat berhasil dalam mini project ini. Analisis tematik dari wawancara mengidentifikasi munculnya perubahan sikap signifikan terkait rasa hormat dan Sebagian besar partisipan mengakui bahwa sebelumnya mereka cenderung menghindari kontak sosial dengan penyandang disabilitas, namun setelah program mereka merasa lebih percaya diri dan termotivasi untuk membantu menciptakan lingkungan yang inklusif. Temuan ini mendukung teori kontak intergroup yang telah lama dipakai dalam psikologi sosial untuk mengurangi prasangka (Allport, 1. Penggunaan media edukasi partisipatif juga terbukti efektif dalam menjangkau kelompok usia muda dan dewasa yang cenderung lebih familiar dengan teknologi. Hal ini membuka peluang bagi replikasi program menggunakan pendekatan digital yang lebih luas, mengingat tren penggunaan media sosial yang meningkat di masyarakat pedesaan maupun perkotaan. Hal ini sesuai dengan rekomendasi WHO & World Bank . tentang pentingnya inovasi teknologi dalam penyebaran informasi disabilitas. Salah satu catatan penting dalam pelaksanaan program ini adalah perlunya peningkatan kapasitas kader lokal yang berperan sebagai fasilitator kegiatan. Kader yang memiliki pengetahuan dan keterampilan lebih tentang disabilitas dapat menjadi ujung tombak sosialisasi berkelanjutan di masyarakat. Pelatihan lanjutan dan dukungan institusional menjadi hal yang mendesak agar hasil program dapat dipertahankan dan dikembangkan lebih lanjut. Dari segi kelembagaan, koordinasi dengan aparat desa dan lembaga sosial kemasyarakatan berhasil memperkuat legitimasi dan keberlanjutan program. Dukungan ini memungkinkan mini project berjalan lancar dan mendapat respon positif dari berbagai pihak, yang sejalan dengan prinsip pengabdian masyarakat yang berkelanjutan dan berdampak Hal ini menguatkan pernyataan Hasan dkk. tentang pentingnya kemitraan multipihak dalam pengembangan program inklusi. Secara keseluruhan, program mini project ramah difabel di Desa Sidomulyo berhasil meningkatkan kesadaran dan sikap positif masyarakat terhadap hak penyandang disabilitas. Program ini juga membuka peluang untuk pengembangan program lebih komprehensif yang meliputi advokasi kebijakan dan pembangunan infrastruktur ramah Keberhasilan ini tidak hanya menunjukkan efektivitas pendekatan partisipatif dan media edukasi, tetapi juga pentingnya penguatan nilai budaya lokal dan keterlibatan penyandang disabilitas sebagai agen perubahan. KESIMPULAN DAN SARAN Program Mini Project Ramah Difabel yang dilaksanakan di Desa Sidomulyo. Kabupaten Sleman berhasil meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai hak-hak penyandang disabilitas secara signifikan. Melalui sosialisasi interaktif dan pembuatan media edukasi partisipatif, masyarakat menjadi lebih terbuka, empatik, serta termotivasi untuk mendukung inklusi dan penghormatan terhadap penyandang disabilitas. Pendekatan yang menggabungkan konteks budaya lokal dan keterlibatan langsung penyandang disabilitas sebagai narasumber terbukti efektif dalam mengubah sikap serta membangun solidaritas sosial di tingkat komunitas. Untuk keberlanjutan dan pengembangan program, disarankan agar pihak desa dan lembaga terkait memperkuat kapasitas kader lokal sebagai fasilitator yang dapat melanjutkan sosialisasi secara berkelanjutan. Selain itu, advokasi untuk pembangunan infrastruktur yang ramah disabilitas dan peningkatan pemahaman hukum melalui program lanjutan perlu dilakukan guna menciptakan lingkungan yang benar-benar inklusif. Penggunaan media digital juga direkomendasikan untuk memperluas jangkauan penyebaran informasi di kalangan generasi muda dan masyarakat luas. Aulia & Noor (Sosialisasi dan Edukasi Hak Disabilitas melalui ProgramA) UNITY: Journal of Community Service Vol. No. July 2025, pp. UCAPAN TERIMA KASIH Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Desa Sidomulyo, seluruh partisipan masyarakat, dan narasumber yang telah berperan aktif dan memberikan dukungan penuh sehingga kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat nyata bagi komunitas. Apresiasi juga kami sampaikan kepada tim pengabdian dan lembaga pendukung yang membantu dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi DAFTAR PUSTAKA