Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2025 ISSN: 2721-1533 ANALISIS GEJALA FONOLOGIS PADA PEMEROLEHAN BAHASA ANAK USIA 4 TAHUN: KAJIAN PSIKOLINGUISTIK Sulisthya Dewi1. Decinta Nesa Karisma2. Sundawati Tisnasari3 Pendidikan Bahasa Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Jalan Ciwaru Raya No. Serang. Banten. Indonesia Email: sulisthadewi27@gmail. com, cintaa. nesa@gmail. sundawati_tisnasari@untirta. ABSTRAK: Penelitian ini secara mendalam menganalisis gejala fonologis yang terjadi pada proses pemerolehan bahasa seorang anak perempuan berusia 4 tahun. Sopia Almahira, dengan menggunakan pendekatan psikolinguistik yang berorientasi pada metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi penutur dan perekaman ujaran langsung pada anak tersebut dalam interaksi sehari-hari, yang kemudian dianalisis secara cermat untuk mengidentifikasi pola penghilangan dan perubahan fonem dalam ujarannya. Hasil analisis menunjukkan adanya berbagai contoh penghilangan dan perubahan fonem yang signifikan, termasuk penghilangan kata "mobil" menjadi "obil" dan perubahan kata "mandi" berubah menjadi "badi," menunjukkan adanya kesulitan yang dialami anak dalam menguasai produksi fonem-fonem tertentu dalam bahasa Indonesia. Fenomena ini diinterpretasikan sebagai indikasi dari kesulitan yang umum dialami anak usia 4 tahun dalam menguasai alat-alat artikulasi dan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan sekitar. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman bagaimana anak-anak memperoleh bahasa dari sudut pandang psikolinguistik, menghubungkan aspek kognitif, biologis, dan lingkungan dalam perkembangan bahasa. Hasilnya bisa menemukan masalah dalam pertumbuhan bahasa dan menjadi landasan untuk menciptakan intervensi pendidikan yang sesuai. Kajian ini menunjukkan betapa pentingnya memahami perkembangan fonologi pada anak usia dini, menekankan peran lingkungan keluarga dan interaksi sosial dalam pembentukan pola ujaran. Hasil penelitian data sebanyak 47 ujaran yang dianalisis secara detail, memberikan gambaran yang komprehensif pada pemahaman proses pemerolehan fonologi bahasa Indonesia pada anak usia 4 tahun. KATA KUNCI: Fonologis. pemerolehan bahasa. ABSTRACT: This study deeply analyzes the phonological symptoms that occur in the language acquisition process of a 4-year-old girl. Sopia Almahira, using a psycholinguistic approach oriented towards descriptive qualitative methods. Data collection was carried out through observation of speakers and recording of direct speech from the child in daily interactions, which were then carefully analyzed to identify patterns of phoneme deletion and changes in her speech. The results of the analysis showed various examples of significant phoneme deletion and changes, including the deletion of the word "mobil" to "obil" and the change of the word "mandi" to "badi," indicating the difficulties experienced by the child in mastering the production of certain phonemes in Indonesian. This phenomenon is interpreted as an indication of the common difficulties experienced by 4-year-old children in mastering articulation tools and is also influenced by environmental factors. This study contributes to the understanding of how children acquire language from a psycholinguistic perspective, connecting cognitive, biological, and environmental aspects in language development. The results can find problems in language growth and become a basis for creating appropriate educational interventions. This study shows how important it is to understand the development of phonology in early childhood, emphasizing the role of the family environment and social interaction in the formation of speech patterns. The results of the study of data on 47 utterances that were analyzed in detail, provide a comprehensive picture of the understanding of the process of acquiring Indonesian phonology in 4-year-old children. KEYWORDS: Phonology. Language acquisition. Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2025 ISSN: 2721-1533 Diterima: DD-MM-y Direvisi: DD-MM-y Disetujui: DD-MM-y Dipublikasi: DD-MM-y Pustaka : Kutipan menggunakan APA : Baker. Judul Artikel. frasa: Jurnal bahasa, sastra dan pengajarannya 16. , 1-10. igunakan untuk memudahkan penulis lain mengutip artikel in. DOI : 10. 36232/frasaunimuda. PENDAHULUAN Bahasa berperan sebagai alat komunikasi baik dalam konteks pribadi maupun kelompok untuk mencapai suatu tujuan dalam berinteraksi sehingga kesepakatan dapat Bahasa juga sebagai sarana utama bagi seseorang untuk berkomunikasi dan menunjukkan apa yang mereka pikirkan atau rasakan. Hal tersebut dapat terjadi karena pada dasarnya semua aktivitas manusia di dunia ini selalu berkaitan dengan bahasa. Proses di mana anak-anak memperoleh keterampilan berbahasa, pada saat mereka mulai belajar bahasa, dan bagaimana mereka memahami arti kata-kata. Maka dari itu, dinamika pemerolehan bahasa pada anak menjadi pembahasan yang menarik. Anak yang berbicara tidak jelas atau sulit ditangkap oleh lawan tutur dalam istilah psikologi disebut mengalami gangguan fonologis. Gangguan fonologis ini bisa disebabkan oleh faktor usia yang mengakibatkan alat bicara atau otot-otot yang digunakan untuk berbicara belum sepenuhnya matang atau berkembang dengan sempurna. Gangguan perkembangan fonologis juga mencakup ketidakmampuan untuk mengucapkan satu atau beberapa huruf. Sering kali terjadi penghilangan atau perubahan huruf yang diujarkan oleh anak. Ketidakmampuan untuk membentuk kata-kata dan memahami makna kata-kata akan mengakibatkan komunikasi yang tidak lancar. Perubahan fonem yang diujarkan oleh Sopia Almahira sangat berbeda dari kosakata Kesulitan dalam mengucapkan kosakata yang mudah bagi orang dewasa tetapi sulit bagi anak membuat orang dewasa kesulitan mengartikan ucapannya. Anakanak pada usia ini sukar mengucapkan kombinasi kosakata tertentu. Kebiasaan dan lingkungan, termasuk peran aktif orang tua, terutama ibu, berpengaruh pada perkembangan bahasa anak. Anak harus dibiasakan mengucapkan kosakata yang benar agar tidak salah melafalkan kata yang sebenarnya. Psikolinguistik merupakan bidang ilmu yang menggabungkan antara psikologi yang berarti menelaah proses akal atau pikiran seseorang yang terlihat dalam perilaku, kemudian linguistik yaitu proses berpikir secara umum menggunakan bahasa sebagai syarat pentingnya (Rohayati, 2. Dalam hal ini, pemerolehan bahasa pada anak akan lebih optimal jika dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Hasil dari pemerolehan yang optimal ini dapat mempengaruhi bahasa yang dihasilkan oleh anak. Faktor yang termasuk dalam kategori lingkungan mencakup peran orang tua, adanya sarana pendukung dalam proses pembelajaran bahasa, serta kehadiran individu terdekat bagi anak, seperti saudara, kerabat, atau anggota keluarga yang lebih tua. Pemerolehan bahasa, khususnya dalam aspek fonologi, sudah dimulai ketika anak mulai belajar bahasa pertama mereka yaitu bahasa ibu. Proses pemerolehan fonologi ini akan Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2025 ISSN: 2721-1533 terus berlangsung seiring dengan tahap-tahap perkembangannya. Pemerolehan bahasa adalah proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya . ative languag. (Dardjowidjojo, 2012:. Sejalan dengan pendapat (Saadillah, 2. Pemerolehan bahasa atau akusisi bahasa merupakan sebuah proses yang berlangsung dalam pikiran anak-anak saat mereka memperoleh bahasa pertama atau bahasa ibu. Dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa adalah proses anak memperoleh suatu bahasa secara alami dalam menguasai bahasa ibu. Anak-anak yang berusia 4 tahun masih dalam tahap penguasaan pelafalan. Mereka sering kali mengalami kesulitan dan menunjukkan penghilangan atau perubahan fonem, bahkan ketidakmampuan melafalkan bunyi tertentu. Ketidakakuratan dalam bicara, termasuk hilangnya dan perubahan fonem, disebabkan oleh lingkungan yang meniru ucapan orang dewasa yang masih sulit diujarkan bagi anak . isalnya "kerudung" menjadi "dudung"). Faktor kebiasaan ini dapat mempengaruhi pemahaman anak dan menghasilkan ujaran tidak sempurna yang bisa mengubah arti. Orang tua berperan aktif, terutama ibu yang dapat berpengaruh pada perkembangan bahasa anak, karena anak berinteraksi melalui komunikasi atau mengucap kata-kata yang didapatkan dari percakapan sehari-hari. Sehingga anak harus dibiasakan mengucapkan kosakata yang benar agar tidak salah melafalkan kata yang sebenarnya. Selain lingkungan, perkembangan kognitif seorang anak juga mempengaruhi dalam proses pemerolehan bahasa. Hal ini bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari, anak dalam tingkat usia yang sama sering berbeda dari segi penguasaan bahasa maupun dari segi pengucapan bunyi-bunyi bahasa. Perbedaan tersebut terjadi karena penguasaan bahasa sangat erat hubungannya dengan perkembangan kognitif dan sosial anak. Faktanya, pada usia 4 tahun alat bicara belum sepenuhnya dikuasai, menyebabkan variasi bunyi yang terlihat saat berinteraksi. Oleh karena itu, penulis berencana untuk meneliti fenomena fonologis dalam bahasa Indonesia pada anak-anak berusia 4 tahun. Penelitian ini membahas mengenai pemerolehan bahasa pada anak yang berusia 4 tahun, dengan fokus penghilangan dan perubahan fonem yang terjadi sebagai fase krusial dalam perkembangan bahasa dan pemahaman bunyi secara bertahap. Kajian mengenai pemerolehan bahasa masuk dalam wilayah kajian psikolinguistik. Sudut pandang psikolinguistik, penelitian ini signifikan karena mengaitkan pembelajaran bahasa anak dengan perkembangan kognitif dan biologis individual. Hasil penelitian ini juga memiliki potensi untuk mengidentifikasi hambatan dalam pertumbuhan bahasa dan dapat dijadikan dasar untuk pendidikan. Penelitian mengenai pemerolehan bahasa pada anak yang diteliti oleh Sona Stefania, , . yang menganalisis pemerolehan fonologis pada anak usia 3-4 tahun di Paud Kasih Kecamatan Pancur Batu. Kabupaten Deli Serdang. Sumatera Utara 20353 dengan hasil analisisnya yaitu anak usia 3-4 tahun sudah mampu berkomunikasi dengan lawan tuturnya menggunakan kalimat yang sederhana. Pemerolehan mampu berkomunikasi dengan lawan tuturnya menggunakan kalimat-kalimat sederhana. Pemerolehan fonologis pada anak subjek SP . orang anak yang telah menguasai Sebagian besar Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2025 ISSN: 2721-1533 fonem konsonan, namun ada juga beberapa fonem yang belum dapat dilafalkan secara sempurna seperti /c/ yang seharusnya /s/, /l/ yang seharusnya /r/ dan terdapat pula beberapa fonem yang hilang dalam sebuah kata seperti . yang seharusnya . Selanjutnya Irdina Maziyatun & Ani Rakhmawati . yang menganalisis pemerolehan bahasa pada anak TK Al Hidayah Kuripan Cilacap: analisis kompetensi psikolinguistik dengan hasil analisisnya yaitu anak-anak di TK Al Hidayah Kuripan sudah memiliki kemampuan untuk memahami makna kata sesuai konteks . , mengucapkan bunyi bahasa dengan proses substitusi dan penyederhanaan . , membentuk kata dengan imbuhan dan reduplikasi . , serta menghasilkan struktur kalimat berupa kalimat deklaratif, imperatif, dan interogatif . Meskipun begitu, kemampuan tersebut masih dalam tataran sederhana yang memiliki keterbatasan kosakata dan kerap ditemukan kesalahan gramatika serta ketidaksesuaian Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan pengaruh bahasa ibu . ahasa Jaw. ditemukan pada beberapa aspek, seperti penggunaan kata tidak baku dan partikel khas. Selain itu terdapat penelitian yang dilakukan oleh Ardhia Nadin, dkk. , . yang menganalisis pemerolehan bahasa anak usia 3-4 tahun pada tataran fonologi . anguage acquisition of 3-4 year old children at the phonological leve. , hasil penelitian menunjukkan bahwa pola-pola perkembangan bahasa anak usia dini ditandai penghilangan atau penggantian fonem . , perkembangan bertahap dari kalimat sederhana ke kalimat kompleks . dan preferensi terhadap makna denotatif yang relevan dengan lingkungan sosial . Interaksi sosial dan lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak, sehingga stimulasi yang tepat sangat penting untuk mengoptimalkan kemampuan berbahasanya. Rumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana gejala fonologis yang terjadi pada anak, seperti penghilangan fonem, dan perubahan fonem dalam pengucapan kosakata yang diucapkan oleh anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penghilangan dan perubahan fonem yang diujarkan oleh anak usia 4 tahun. Manfaat dari penelitian ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai pemerolehan bahasa pada anak. Penelitian ini juga bisa memberikan manfaat bagi orang tua agar mereka dapat memahami kata-kata yang diucapkan oleh anak-anak mereka. Dengan pemahaman orang tua terhadap ucapan anak, anak akan merasa bahagia. Komunikasi yang sehat akan terbangun di antara orang tua dan anak. Anak-anak akan merasakan ikatan emosional yang lebih kuat dengan orang tua mereka. Hal tersebut akan memberikan kontribusi pada perkembangan psikologis anak yang lebih positif. METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan gejala fonologis sebagai landasan teoritis penelitian ini, yang digunakan untuk mengungkapkan penyimpangan atau perubahan dalam pengucapan bunyi bahasa yang terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif ini digunakan agar peneliti memiliki gambaran terkait hasil pengumpulan data yang telah dilakukan, melalui observasi secara langsung kepada anak yang dijadikan objek Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2025 ISSN: 2721-1533 penelitian tentang ujaran yang diucapkan oleh subjek penelitian(Fiantika et al. , 2. Pengumpulan data pada penelitian yaitu menggunakan metode simak. Metode simak dilakukan untuk mengumpulkan data gejala fonologis pemerolehan bahasa pada anak usia 4 tahun. Metode simak yang digunakan dapat menghasilkan teknik dasar sadap. Peneliti menggunakan teknik tersebut untuk mencatat dan merekam ujaran anak pada saat melakukan observasi secara alami dalam interaksi sosial dan perkembangan kognitif anak, serta wawancara dengan orang tua terkhusus ibunya. Durasi dan frekuensi perekaman disesuaikan untuk memperoleh data yang tepat. Selanjutnya, data yang telah didapatkan dicatat dan direkam menggunakan teknik lanjutan yaitu, catat dan rekam (Mahsun, 2. Jika dilakukan pencatatan, peneliti dapat juga melakukan Merekam ujaran anak-anak untuk analisis yang lebih mendalam dan untuk menghindari kesalahan dalam pengamatan. Mengidentifikasi berbagai jenis kesalahan dalam fonologi, seperti penghilangan dan perubahan pada fonem. Hasil dari analisis ini akan disajikan dalam bentuk laporan yang terstruktur. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti pada anak bernama Sopia Almahira dengan memberikan rangsangan dan mengajak berbicara serta wawancara dengan ibu dari sang anak. Peneliti menemukan 47 data ujaran yang diucapkan oleh oleh anak tersebut. Data-data tersebut peneliti masukan ke dalam tabel berikut. Data Ujaran Tabel 1. Penghilangan Fonem Ujaran Terjemahan Satuan fonem yang lesap /m/ /r/ /n/ /l/ leyl /h/ /s/ /j/ /r/ Berdasarkan tabel di atas menunjukkan adanya proses fonologi pada sejumlah Setiap kosakata mengalami modifikasi penghilangan fonem. Pada tabel 1 terdapat 6 kosakata yang diperoleh. Pada data 1, terjadi penghilangan fonem seperti pada kata obil yang berasal dari Fonem /m/ di awal kata dihilangkan, mengubah pengucapan menjadi obil, namun dengan maksud yang sama. Pada data 2, kosakata merah menjadi meah. Fonem /r/ di tengah kata dihilangkan, mengubah pengucapan menjadi meah, tetapi maksudnya sama. Pada data 3, kosakata nulis menjadi uis. Fonem /n/ dan /l/ di awal dan tengah kata dihilangkan, mengubah pengucapan menjadi uis, namun dengan maksud yang sama. Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2025 ISSN: 2721-1533 Pada data 4, kosakata leher menjadi leyl. Fonem /h/ di tengah kata dihilangkan, mengubah pengucapan menjadi leyl, namun dengan maksud yang sama. Pada data 5, kosakata baskom menjadi bakom. Fonem /s/ di tengah kata dibilang, mengubah pengucapan menjadi bakom, namun maksudnya tetap sama. Pada data 6, kosakata jari menjadi ai. Fonem /j/ dan /r/ di awal dan tengah kata dihilangkan, mengubah pengucapan menjadi ai, namun dengan maksud yang sama. Tabel 2. Perubahan Fonem /m/ /n/ /s/ /n/ /d/ /o/ /k/ /m/ /n/ /g/ /k/ /u/ /k/ Perubahan /b/ /j/ /e/ /p/ /p/ /t/ /o/ /p/ tidak boleh /u/ /l/ /n/ /g/ /e/ /l/ /b/ /e/ /r/ /d/ /b/ /g/ /t/ /i/ /d/ /a/ /k/ /o/ /l/ /e/ /y/ /y/ /n/ /y/ Ganteng tidak mau /n/ /t/ /n/ /g/ /k/ /r/ /r/ /p/ /i/ /a/ /j/ /b/ /k/ /e/ /r/ /s/ /e/ /l/ /k/ /l/ /r/ /t/ /i/ /d/ /a/ /k/ /k/ /e/ /m/ /r/ /r/ /j/ /r/ /r/ /r/ /r/ /r/ /r/ /t/ /k/ /y/ /m/ /l/ /y/ /e/ /y/ /d/ /t/ /y/ /y/ /y/ /e/ /n/ /h/ /i/ /p/ /y/ /l/ /n/ /y/ /l/ /y/ /y/ /l/ /y/ /y/ Ujaran Terjemahan Satuan fonem yang lesap Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2025 ISSN: 2721-1533 /r/ /r/ /r/ /r/ /r/ /r/ /g/ /a/ /l/ /l/ /r/ /r/ /m/ /y/ /y/ /y/ /y/ /y/ /y/ /e/ /m/ /b/ /y/ /b/ Berdasarkan tabel di atas menunjukkan adanya proses fonologi pada sejumlah Setiap kosakata mengalami modifikasi perubahan fonem. Pada tabel 2 terdapat 41 kosakata yang diperoleh. Pada data 1, kosakata mandi menjadi badi. Pada kata tersebut mengalami perubahan fonem /b/ di awal kata, sehingga pengucapan menjadi badi. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 2, kosakata sendok menjadi jejep, terdapat perubahan fonem /j/ /e/ /p/ di semua kata yang diucapkan, sehingga pengucapan menjadi jejep. Perbedaan kosakata yang diujarkan oleh anak ini menyebabkan orang dewasa kesulitan mengartikan ujaran tersebut, tetapi maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 3, kosakata mangkuk menjadi patop, terdapat perubahan fonem /p/ /t/ /o/ /p/ di semua kata yang diucapkan, sehingga pengucapan menjadi patop. Perbedaan kosakata yang diujarkan oleh anak ini menyebabkan orang dewasa kesulitan untuk mengartikan ujaran tersebut, tetapi maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 4, kosakata pulang menjadi peyay, terdapat perubahan fonem /e/ dan /y/ di semua kata yang diucapkan, sehingga pengucapan menjadi peyay. Perbedaan kosakata yang diujarkan oleh anak ini menyebabkan orang dewasa kesulitan mengartikan ujaran tersebut, tetapi maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 5, kosakata belanja menjadi banja, terdapat pelepasan fonem /e/ dan /l/ di awal kata, sehingga pengucapan menjadi banja. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 6, kosakata berdiri menjadi yiyi, terdapat perubahan fonem /y/ di semua kata yang diucapkan, sehingga pengucapan menjadi yiyi. Perbedaan kosakata yang diujarkan oleh anak ini menyebabkan orang dewasa kesulitan untuk mengartikan ujaran tersebut, tetapi maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 7, kosakata bangun menjadi nanun, terdapat perubahan fonem /n/ di awal kata, sehingga pengucapan menjadi nanun. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 8, kosakata tidak boleh menjadi beyeh, terdapat perubahan fonem /y/ di semua kata yang diucapkan, sehingga pengucapan menjadi beyeh. Perbedaan kosakata yang diujarkan oleh anak ini menyebabkan orang dewasa kesulitan mengartikan ujaran tersebut, tetapi maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2025 ISSN: 2721-1533 Pada data 9, kosakata ganteng menjadi tateng, terdapat perubahan fonem /t/ di awal kata, sehingga pengucapan menjadi tateng. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 10, kosakata tangan menjadi kakay, terdapat perubahan fonem /k/ dan /y/ di semua kata yang diucapkan, sehingga pengucapan menjadi kakay. Perbedaan kosakata yang diujarkan oleh anak ini menyebabkan orang dewasa merasa kesulitan untuk mengartikan ujaran tersebut, tetapi maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 11, kosakata kuning menjadi muning, terdapat perubahan fonem /m/ di awal kata, sehingga pengucapan menjadi muning. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 12, kosakata air menjadi ail, terdapat perubahan fonem /l/ di akhir kata, sehingga pengucapan menjadi ail. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih mudah melafalkan AuelAy daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 13, kosakata perut menjadi peyut, terdapat perubahan fonem /r/ di tengah kata, sehingga pengucapan menjadi peyut. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih fasih mengucapkan huruf Y daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 14, kosakata pinjam menjadi enjem, terdapat perubahan fonem /e/ di awal kata sehingga pengucapan menjadi enjem. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 15, kosakata jambu menjadi yamu, terdapat perubahan fonem /y/ di awal kata, sehingga pengucapan menjadi yamu. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 16, kosakata kerudung menjadi dudung, terdapat perubahan fonem /d/ di awal kata, sehingga pengucapan menjadi dudung. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf Pada data 17, kosakata sekolah menjadi tayah, terdapat perubahan fonem /t/ /y/ di Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2025 ISSN: 2721-1533 semua kata yang diucapkan, sehingga pengucapan menjadi tayah. Perbedaan kosakata yang diujarkan oleh anak ini menyebabkan orang dewasa kesulitan mengartikan ujaran tersebut, tetapi maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 18, kosakata bolong menjadi boyoy, terdapat perubahan fonem /y/ di tengah kata, sehingga pengucapan menjadi boyoy. Perbedaan kosakata yang diujarkan oleh anak ini menyebabkan orang dewasa merasa kesulitan untuk mengartikan ujaran tersebut, tetapi maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 19, kosakata piring menjadi piying, terdapat perubahan fonem /y/ di tengah kata, sehingga pengucapan menjadi piying. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih fasih mengucapkan huruf Y daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 20, kosakata tidak mau menjadi emun, terdapat perubahan fonem /e/ dan /n/ di semua kata yang diucapkan, sehingga pengucapan menjadi emun. Perbedaan kosakata yang diujarkan oleh anak ini menyebabkan orang dewasa kesulitan mengartikan ujaran tersebut, tetapi maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 21, kosakata adek menjadi adeh, terdapat perubahan fonem /h/ di akhir kata sehingga pengucapan menjadi adeh. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 22, kosakata belok menjadi bilok, terdapat perubahan fonem /i/ di tengah kata, sehingga pengucapan menjadi bilok. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 23, kosakata ayam menjadi ayap, terdapat perubahan fonem /p/ di akhir kata, sehingga pengucapan menjadi ayap. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 24, kosakata ember menjadi embey, terdapat perubahan fonem /y/ di akhir kata, sehingga pengucapan menjadi embey. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih fasih mengucapkan huruf Y daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 25, kosakata cilor menjadi cilol, terdapat perubahan fonem /l/ di akhir kata, sehingga pengucapan menjadi cilol. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih mudah melafalkan AuelAy daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2025 ISSN: 2721-1533 oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 26, kosakata jangan menjadi nyangan, terdapat perubahan fonem /n/ dan /y/ di awal kata, sehingga pengucapan menjadi nyangan. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 27, kosakata sisir menjadi sisil, terdapat perubahan fonem /r/ di akhir kata, sehingga pengucapan menjadi sisil. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih mudah melafalkan AuelAy daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 28, kosakata guru menjadi guyu, terdapat perubahan fonem /y/ di tengah kata, sehingga pengucapan menjadi guyu. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih fasih mengucapkan huruf Y daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 29, kosakata kiri menjadi kiyi, terdapat perubahan fonem /y/ di tengah kata, sehingga pengucapan menjadi kiyi. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih fasih mengucapkan huruf Y daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 30, kosakata surga menjadi sulga, terdapat perubahan fonem /l/ di tengah kata, sehingga pengucapan menjadi sulga. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih mudah melafalkan AuelAy daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 31, kosakata tidur menjadi tiduy, terdapat perubahan fonem /y/ di akhir kata, sehingga pengucapan menjadi tiduy. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2025 ISSN: 2721-1533 fasih mengucapkan huruf Y daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 32, kosakata bakar menjadi bakay, terdapat perubahan fonem /y/ di akhir kata, sehinga pengucapan menjadi bakay. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya saja pengucapannya yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih fasih mengucapkan huruf Y daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 33, kosakata sarang menjadi sayang, terdapat perubahan fonem /y/ di tengah kata, sehingga pengucapan menjadi sayang. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya saja pengucapannya yang berbeda. Walau terkadang orang dewasa keliru dalam mengartikan apa yang diucapkan oleh anak tersebut, karena terdapat kata sayang dalam KBBI yang memiliki arti AuperhatianAy. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih fasih mengucapkan huruf Y daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 34, kosakata lurus menjadi luyus, terdapat perubahan fonem /y/ di tengah kata, sehingga pengucapan menjadi luyus. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih fasih mengucapkan huruf Y daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 35, kosakata berapa menjadi beyapa, terdapat perubahan fonem /y/ di tengah kata, sehingga pengucapan menjadi beyapa. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih fasih mengucapkan huruf Y daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 36, kosakata kotor menjadi kotoy, terdapat perubahan fonem /y/ di akhir kata, sehingga pengucapan menjadi kotoy. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Walau terkadang orang dewasa keliru dalam mengartikan apa yang diucapkan oleh anak tersebut, karena terdapat kata lebay dalam Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2025 ISSN: 2721-1533 KBBI yang memiliki arti AuberlebihanAy. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih fasih mengucapkan huruf Y daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 37, kosakata lebar menjadi lebay, terdapat perubahan fonem /y/ di akhir kata, sehingga pengucapan menjadi lebay. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih fasih mengucapkan huruf Y daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 38, kosakata kering menjadi keying, terdapat perubahan fonem /y/ di tengah kata, sehingga pengucapan menjadi keying. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih fasih mengucapkan huruf Y daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 39, kosakata gatal menjadi embet, terdapat perubahan fonem /g/ /a/ /l/ di semua kata yang diucapkan, sehingga pengucapan menjadi embet. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Pada data 40, kosakata lari menjadi yai, terdapat perubahan fonem /y/ di awal kata, sehingga pengucapan menjadi yai. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Anak yang diteliti lebih fasih mengucapkan huruf Y daripada huruf R. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf tersebut. Pada data 41, kosakata rambut menjadi babut, terdapat perubahan fonem /r/ dan /m/ di awal kata, sehingga pengucapan menjadi babut. Meski demikian, maksudnya tetap sama hanya pengucapannya saja yang berbeda. Dalam penelitian ini, lidah seorang anak menunjukkan kekakuan saat mengucapkan fonem dan /R/. Huruf R terbukti jauh lebih sulit diucapkan oleh anak-anak dibandingkan dengan huruf lainnya. Ketidakmampuan seorang anak mengucapkan huruf R disebabkan oleh kesulitan anak dalam menangkap serta mengamati cara gerakan lidah saat mengucapkan huruf Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2025 ISSN: 2721-1533 KESIMPULAN Penelitian ini menganalisis gejala fonologis, khususnya penghilangan dan perubahan fonem, pada ujaran anak usia 4 tahun bernama Sopia Almahira. Analisis 47 data ujaran Sopia Almahira menunjukkan pola penghilangan dan perubahan fonem yang signifikan pada anak usia 4 tahun. Analisis data menunjukkan adanya pola penghilangan fonem . isalnya, penghilangan fonem "/m/" dalam "mobil" menjadi "obil") dan juga perubahan fonem . isalnya, perubahan fonem "mandi" yang berubah menjadi "badi"). Perubahan-perubahan ini menyebabkan penyimpangan arti kata. Meskipun penelitian ini fokus pada satu individu, penting untuk dicatat bahwa faktor lingkungan, interaksi dengan orang tua dan kebiasaan berbicara di lingkungan sekitar, memainkan peran penting dalam perkembangan fonologi anak. Kesulitan anak dalam mengucapkan kombinasi fonem tertentu juga menjadi salah satu faktor penyebab. Melalui pendekatan yang tepat, anak-anak dapat meningkatkan keterampilan bahasa mereka dengan baik. Hal ini akan mendukung mereka dalam berinteraksi dan menciptakan hubungan yang DAFTAR PUSTAKA