Jurnal Komputer Multidisipliner Vol. 8 No. Desember 2025 ISSN: 24559633 SISTEM PEWARISAN GENDING GENDER WAYANG GAYA DESA SIBANG GEDE : KAJIAN METODE PENDIDIKAN I Gede Kristya Dika Santana1. I Wayan Karja2. I Gede Mawan3 Institut Seni Indonesia Denpasar E-mail: kristydika@gmail. com1, wayankarja@isi-dps. id2, gedemawan@isi-dps. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sistem pewarisan gending gender wayang gaya Desa Sibang Gede dengan menitikberatkan pada penerapan metode digunakan dalam konteks transfer di Tradisi gending gender wayang merupakan bagian penting dari warisan budaya Bali yang memiliki nilai filosofis, estetis, dan spiritual yang tinggi. Dalam era modern, pelestarian seni ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk minimnya minat generasi muda dan keterbatasan ruang praktik. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan pendidikan yang sistematis dan adaptif agar pewarisan nilai-nilai seni tradisi ini tetap berkelanjutan di lingkungan pendidikan formal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi di lingkungan masyarakat desa Sibang Gede. Dalam proses pewarisan, diterapkan metode demonstrasi . , latihan berulang . , penugasan, hingga evaluasi performatif untuk memperkuat kompetensi siswa dalam memainkan gending gender wayang. seniman berperan sebagai fasilitator sekaligus model praktik yang menjadi acuan dalam pembelajaran. Penekanan pada aspek teknik, ekspresi musikal, dan pemahaman konteks budaya menjadi bagian dari strategi pedagogis yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode pendidikan formal dalam pembelajaran gending gender wayang mampu meningkatkan pemahaman teknis, keterampilan bermain, serta kesadaran budaya generasi muda. Meskipun demikian, efektivitas metode ini sangat dipengaruhi oleh motivasi generasi muda, ketersediaan sarana, dan dukungan kelembagaan. Kajian ini menyarankan perlunya penguatan generasi muda dalam seni tradisi di masyarakat agar pewarisan seni budaya tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh dimensi etis dan spiritual dari tradisi itu sendiri. Kata Kunci Ai Pewarisan. Gending Gender Wayang. Sibang Gede. Metode Pendidikan. PENDAHULUAN Gending gender wayang merupakan salah satu bentuk warisan seni musik tradisional Bali yang memiliki kedalaman estetika dan nilai spiritual tinggi. Sebagai bagian dari upacara keagamaan dan pertunjukan wayang kulit Bali, gending ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian ajaran moral dan spiritual. tengah perkembangan zaman dan arus globalisasi, pelestarian seni ini menghadapi tantangan serius, seperti menurunnya minat generasi muda dan semakin terpinggirkannya ruang ekspresi seni tradisi di tengah masyarakat modern. Oleh karena itu, pewarisan gending gender wayang memerlukan pendekatan pendidikan yang adaptif dan strategis untuk memastikan keberlanjutan eksistensinya. Desa Sibang Gede di Kabupaten Badung merupakan salah satu wilayah yang masih mempertahankan gaya khas dalam memainkan gending gender wayang. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun baik melalui jalur informal dalam lingkungan keluarga dan komunitas, maupun melalui jalur formal seperti sekolah. Dalam konteks pendidikan formal, strategi pembelajaran memainkan peran penting dalam proses transfer pengetahuan musikal. Penerapan metode seperti demonstrasi, drill . atihan berulan. , diskusi, serta evaluasi performatif menjadi bagian dari pendekatan pedagogis yang dapat mengakomodasi kebutuhan siswa dalam memahami dan menguasai gending gender wayang secara teknis dan kontekstual. Menurut Sudarsana . , "pendidikan seni di sekolah tidak hanya bertujuan mengembangkan keterampilan, tetapi juga membentuk apresiasi budaya dan karakter siswa. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Ki Hadjar Dewantara yang menekankan bahwa pendidikan harus berakar pada kebudayaan nasional dan membentuk manusia seutuhnyaAijasmani, rohani, dan sosial (Dewantara, 2. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji bagaimana metode pendidikan di sekolah, khususnya yang berkaitan dengan demonstrasi dan latihan, dapat dimanfaatkan secara efektif dalam sistem pewarisan gending gender wayang gaya Sibang Gede. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pedagogis yang digunakan dalam pembelajaran seni tradisional di sekolah, serta mengevaluasi efektivitasnya dalam mentransfer nilai, teknik, dan makna budaya kepada generasi muda. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis studi kasus. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai proses manajemen pembelajaran seni karawitan serta pengaruhnya terhadap peningkatan kemampuan emosional siswa. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti untuk mengamati fenomena secara alami dan memahami makna di balik interaksi yang terjadi dalam konteks pembelajaran seni tradisional (Moleong, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Lembaga Masyarakat dalam Pewarisan Gending Gender Wayang Gaya Desa Sibang Gede Lembaga masyarakat memegang peran penting dalam pewarisan seni tradisional, termasuk gending gender wayang gaya Desa Sibang Gede. Dalam konteks masyarakat Bali, lembaga adat seperti banjar, sekaa, dan pura menjadi pusat aktivitas budaya yang memiliki fungsi sosial dan edukatif secara turun-temurun. Pewarisan seni gender wayang tidak hanya dilakukan melalui jalur keluarga atau pendidikan formal, tetapi juga melalui struktur sosial budaya yang hidup di tengah masyarakat. Di Desa Sibang Gede, banjar adat secara aktif memfasilitasi kegiatan seni budaya melalui agenda rutin seperti pelatihan karawitan, upacara adat, dan pertunjukan wayang yang melibatkan generasi muda. Dalam kegiatan tersebut, para tetua adat dan seniman senior memainkan peran sebagai pembina atau mentor. Mereka tidak hanya mentransfer teknik musikal, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai etika dan spiritual yang melekat dalam tradisi gender wayang. Seperti yang dijelaskan oleh Bandem & deBoer . Auseni pertunjukan Bali tidak dapat dipisahkan dari struktur sosial dan sistem kepercayaan masyarakatnya, karena keduanya saling menopang dan memperkuat. Ay Selain banjar, sekaa gender sebagai organisasi kelompok seni lokal juga menjadi medium efektif dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya. Sekaa ini umumnya terdiri atas anak-anak muda yang dibina secara intensif oleh seniman-seniman senior desa. Latihan dilakukan secara berkala, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan seperti Galungan dan Kuningan. Dalam proses ini, pembelajaran berlangsung secara alami dan kontekstual melalui praktik langsung, pengulangan . , dan pengamatan . Metode ini sejalan dengan konsep learning by doing yang disebutkan oleh Kolb . dalam teori pembelajaran eksperiensial, di mana pengetahuan dibangun melalui pengalaman langsung. Peran lembaga masyarakat juga tampak dalam bentuk kolaborasi antara desa adat dan lembaga pendidikan. Beberapa tokoh masyarakat di Desa Sibang Gede turut menjadi narasumber dalam pembelajaran di sekolah, atau bahkan menjalin kemitraan dengan guru karawitan dalam merancang program ekstrakurikuler berbasis seni lokal. Hal ini memperkuat kesinambungan antara pendidikan formal dan lingkungan sosial budaya masyarakat. Sebagaimana ditegaskan oleh Suarta . Aukolaborasi antara lembaga adat dan pendidikan modern sangat penting untuk membangun kesadaran budaya generasi muda secara holistik. Ay Dengan demikian, keberadaan dan peran aktif lembaga masyarakat di Desa Sibang Gede menjadi elemen krusial dalam sistem pewarisan gending gender wayang. Dukungan kelembagaan berbasis adat dan budaya ini bukan hanya menjaga eksistensi kesenian, tetapi juga memperkuat identitas lokal dan solidaritas sosial antarwarga desa. Penerapan Metode Pendidikan dalam Pembelajaran Gending Gender Wayang di Desa Sibang Gede Dalam upaya melestarikan gending gender wayang gaya Desa Sibang Gede, metode pendidikan memainkan peranan penting, terutama ketika seni ini diajarkan baik melalui jalur formal di sekolah maupun nonformal di lingkungan masyarakat. Pembelajaran gending tidak hanya difokuskan pada penguasaan teknik musikal, tetapi juga pada pewarisan nilai-nilai budaya dan spiritual yang melekat pada tradisi tersebut. Untuk itu, pendekatan yang digunakan harus mampu mengakomodasi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik. Beberapa metode pendidikan yang diterapkan secara umum di Desa Sibang Gede meliputi metode demonstrasi, drill . atihan berulan. , imitasi, praktik langsung, dan pendekatan partisipatif. Metode demonstrasi sering digunakan oleh guru maupun pelatih untuk memperlihatkan teknik memainkan instrumen gender yang benar, termasuk nuansa dinamika dan tempo yang khas dalam gaya Sibang Gede. Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengamati secara langsung, yang kemudian dilanjutkan dengan metode drill, yakni latihan berulang pada motif-motif tertentu agar terbentuk ketepatan motorik dan memori musikal. Menurut Sudjana . Aumetode demonstrasi sangat efektif dalam mengajarkan keterampilan praktis karena menggabungkan aspek visual, verbal, dan kinestetik peserta didik. Ay Di samping itu, pembelajaran berbasis imitasi dan praktik langsung menjadi fondasi utama dalam mentransfer pengetahuan secara tradisional. Para siswa atau penabuh pemula akan duduk berdampingan dengan guru atau seniman senior, mengikuti secara langsung pola-pola gending dengan meniru . sembari menerima koreksi spontan. Pola ini mengandung unsur pendidikan kontekstual . ontextual teaching and learnin. , di mana proses belajar terjadi dalam lingkungan nyata dan relevan secara budaya. Seperti dikemukakan oleh Subroto . Aupembelajaran seni yang kontekstual memungkinkan peserta didik mengalami langsung nilai-nilai budaya yang tidak tertulis. Ay Penerapan metode tersebut juga didukung oleh evaluasi performatif, baik dalam bentuk penampilan di acara adat maupun uji kemampuan teknis di kelas. Evaluasi ini tidak hanya mengukur keterampilan teknis siswa, tetapi juga membangun rasa tanggung jawab, kepercayaan diri, serta kemampuan kolaboratif dalam ansambel. Kegiatan seperti ini sekaligus berfungsi sebagai wahana aktualisasi seni dan penguatan karakter, sejalan dengan prinsip pendidikan holistik yang menekankan pembentukan kepribadian seutuhnya (Dewantara, 2. Dengan demikian, metode pendidikan dalam pembelajaran gending gender wayang di Desa Sibang Gede merupakan perpaduan antara pendekatan tradisional dan pedagogis Strategi ini terbukti mampu menjembatani kebutuhan pelestarian seni lokal dengan tuntutan sistem pendidikan kontemporer. Keberhasilan penerapan metode ini sangat bergantung pada keterlibatan aktif guru, dukungan komunitas, serta semangat belajar dari peserta didik itu sendiri. Dinamika Pewarisan di Tengah Tantangan Sosial Budaya Proses pewarisan gending gender wayang di Desa Sibang Gede tidak terlepas dari berbagai dinamika sosial budaya yang berkembang seiring dengan perubahan zaman. Tradisi yang dulunya diwariskan secara turun-temurun melalui jalur keluarga dan komunitas kini menghadapi tantangan dalam mempertahankan eksistensinya di tengah pengaruh modernisasi, perkembangan teknologi digital, dan pergeseran orientasi generasi muda terhadap budaya lokal. Dalam kondisi ini, pewarisan seni tidak lagi semata-mata bergantung pada sistem tradisional, tetapi harus bersaing dengan berbagai bentuk hiburan dan gaya hidup baru yang cenderung lebih praktis dan instan. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah menurunnya minat generasi muda terhadap seni tradisi, termasuk gending gender wayang. Banyak remaja lebih tertarik pada musik modern, media sosial, dan teknologi digital dibandingkan mempelajari seni tradisional yang menuntut proses panjang dan ketekunan. Menurut Suardana . Augenerasi muda saat ini mengalami krisis identitas budaya karena dominasi budaya global yang menggeser nilai-nilai lokal dalam kehidupan sehari-hari. Ay Di sisi lain, minimnya apresiasi terhadap seni tradisional juga terjadi akibat kurangnya ruang edukatif dan promosi yang menarik bagi kalangan muda. Tantangan lainnya datang dari perubahan struktur sosial dan ekonomi masyarakat. Kegiatan pertanian dan kehidupan komunal yang dahulu mendukung waktu dan ruang untuk praktik seni, kini mulai tergantikan oleh pola kerja yang lebih individualistik dan terikat pada sistem kerja formal. Hal ini berdampak pada berkurangnya waktu luang masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas kesenian, termasuk pelatihan gending. Selain itu, beberapa keluarga tidak lagi menempatkan pelatihan seni sebagai bagian dari prioritas pendidikan anak, karena lebih fokus pada bidang akademik dan ekonomi. Seperti dikemukakan oleh Hadi . Aupewarisan budaya sering kaltergeseroleh tekanan ekonomi dan sistem pendidikan yang tidak memberi ruang cukup bagi seni tradisi. Ay Namun demikian, di tengah tantangan tersebut, muncul pula berbagai upaya adaptif dan inovatif dari masyarakat lokal dan tokoh seni di Desa Sibang Gede. Beberapa strategi yang mulai diterapkan antara lain: integrasi pembelajaran gending ke dalam program ekstrakurikuler sekolah, pelibatan seniman lokal sebagai guru tamu, serta penyelenggaraan festival budaya desa yang melibatkan generasi muda. Pendekatan kolaboratif ini menunjukkan bahwa pewarisan seni tidak bersifat statis, melainkan dapat bertransformasi mengikuti perkembangan sosial budaya yang ada. Hal ini sejalan dengan pendapat UNESCO . bahwa living heritage hanya akan bertahan jika diwariskan secara aktif dan kontekstual di lingkungan masyarakat yang terus berubah. Dengan kata lain, dinamika pewarisan gending gender wayang gaya Sibang Gede menunjukkan bahwa pelestarian budaya tradisional memerlukan strategi yang adaptif, kolaboratif, dan partisipatif. Keterlibatan berbagai pihak, keluarga, komunitas, dan pemerintah desa menjadi kunci untuk memastikan seni tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dalam kerangka zaman yang terus bergerak. KESIMPULAN Gending gender wayang gaya Desa Sibang Gede merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang memiliki nilai estetika, spiritual, dan pendidikan yang tinggi. Pewarisan seni ini tidak hanya bergantung pada jalur tradisional, tetapi kini semakin memerlukan pendekatan yang sistematis melalui pendidikan formal dan dukungan Penerapan metode pendidikan seperti demonstrasi, drill, dan praktik langsung di sekolah maupun di lingkungan masyarakat terbukti efektif dalam mentransfer keterampilan teknis dan nilai budaya kepada generasi muda. Namun demikian, pewarisan gending gender wayang dihadapkan pada tantangan sosial budaya yang kompleks, mulai dari menurunnya minat generasi muda hingga tekanan modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat. Dalam situasi ini, sinergi antara lembaga pendidikan, komunitas adat, keluarga, dan tokoh seni lokal menjadi sangat penting untuk menjaga keberlanjutan tradisi ini. Strategi pewarisan perlu dirancang secara adaptif dan partisipatif agar tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan esensi budaya yang terkandung di dalamnya. Melalui pendekatan pendidikan yang kontekstual dan kolaboratif, gending gender wayang gaya Desa Sibang Gede tidak hanya dapat dilestarikan, tetapi juga diberdayakan sebagai media pembentukan karakter, identitas budaya, dan jembatan antar generasi. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pemikiran bagi pengembangan kebijakan pendidikan seni dan pelestarian budaya lokal di masa depan. DAFTAR PUSTAKA