JURNAL SAINS PEMASARAN INDONESIA Volume 25. No. Desember 2025, halaman 38-58 PENGARUH GREEN TRUST. GREEN SATISFACTION. DAN PERCEIVED VALUE TERHADAP REPURCHASE INTENTION (Studi Kasus: Generasi Z Pengguna Produk The Body Shop di Kota Jakart. Azliya Nakhla1 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tangerang Selatan. Indonesia azliyanakhlaa09@gmail. Dr. Moch. Noviadi Nugroho. Pd. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tangerang Selatan. Indonesia adienugroho@uinjkt. Dr. Otong Suhyanto. Si. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tangerang Selatan. Indonesia suhyanto@uinjkt. ABSTRACT Generation Z's concern for environmental sustainability is undeniable. The skincare and cosmetics sector in Indonesia has adopted green marketing strategies in response to this. One of the stores is The Body Shop companies that frequently uses this strategy. This study analyzes the effects of perceived value, green trust, and green satisfaction on repurchase intent among Generation Z consumers in Jakarta. A quantitative methodology was used to gather data from 100 specially chosen participants who completed an online The Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) technique was employed to examine the data. The outcomes demonstrate that the three variables have a considerable and favorable impact on repurchase intention, both separately and in combination. According to these findings, marketing strategies should be in line with sustainability ideals in order to increase consumer loyalty among Generation Z, who prioritize ethics and environmental responsibility while making decisions. Keywords: Green trust, green satisfaction, perceived value, repurchase intention. Generation Z Jurnal Sains Pemasaran Indonesia AuFIRST AUTHOR NAMEAy ET AL. INTRODUCTION Isu keberlanjutan lingkungan telah menjadi perhatian global, termasuk di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang pesat, urbanisasi yang masif, serta peningkatan konsumsi masyarakat telah menyebabkan lonjakan signifikan dalam produksi limbah, terutama limbah plastik sekali pakai yang berasal dari sektor rumah tangga dan industri. Sebagai negara berkembang. Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah secara efektif. Berdasarkan data tahun 2020. Indonesia diklasifikasikan sebagai negara dengan jumlah timbulan sampah terbesar kelima di dunia, yakni mencapai sekitar 65,2 juta ton (Ahdiat, 2. Salah satu faktor yang menyebabkan masalah pengelolaan sampah menjadi lebih buruk adalah kesadaran masyarakat tentang pentingnya daur ulang. Tingkat partisipasi rumah tangga dalam kegiatan daur ulang masih sangat rendah, yakni 1,2% saja, sementara metode pembakaran tetap menjadi pilihan dominan dengan persentase mencapai 66,8% (Widowati, 2. Mengingat bahwa sekitar setengah dari kemasannya terbuat dari plastik, industri kosmetik adalah salah satu sektor yang berkontribusi besar terhadap timbulan limbah plastik. Sayangnya, karena keterbatasan infrastruktur daur ulang yang tersedia, sebagian besar limbah tersebut belum tertangani dengan baik (Putri. Kesadaran konsumen untuk beralih ke produk ramah lingkungan juga meningkat seiring dengan meningkatnya keprihatinan terhadap krisis lingkungan di seluruh dunia. Salah satu contohnya adalah peningkatan minat konsumen Indonesia terhadap produk berkelanjutan sebesar 112% dari 2019 hingga 2020 (Unilever, 2. Firmansyah . merujuk pada temuan penelitian yang dilaksanakan WWF Indonesia melalui kolaborasi dengan Nielsen mengungkapkan, sebanyak 63% konsumen di Indonesia menunjukkan kesiapan untuk membayar lebih barang-barang yang mendukung prinsip keberlanjutan. Generasi Z adalah kelompok terbesar di Indonesia dan mewakili 27,94% dari total populasi (Rakhmah, 2. Generasi ini dikenal sangat peduli dengan masalah sosial dan lingkungan. Mereka juga memilih merek yang sesuai dengan prinsip dan prinsip pribadi mereka. Namun, meskipun Generasi Z menunjukkan sikap positif terhadap konsumsi berkelanjutan, hal tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku nyata yang di mana ditandai bahwa 64% dari Generasi Z menyatakan bersedia membayar lebih untuk produk ramah lingkungan (Ribeiro dkk. , 2. , tetapi hanya 38% yang benar-benar melakukan pembelian (Responsesource, 2. Fenomena ini dikenal sebagai attitudebehaviour gap, yaitu kesenjangan antara sikap dan perilaku aktualnya dalam konteks konsumsi berkelanjutan (Wintschnig, 2. Jurnal Sains Pemasaran Indonesia AuFIRST AUTHOR NAMEAy ET AL. Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, banyak perusahaan menerapkan strategi green marketing, yakni pendekatan pemasaran yang mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan ke dalam produk, proses, dan komunikasi bisnis (Rahayu, 2. Strategi ini mencakup penggunaan bahan baku ramah lingkungan, pengurangan emisi dan limbah, serta edukasi konsumen mengenai pentingnya konsumsi yang berkelanjutan. The Body Shop adalah salah satu merek yang secara aktif mengadopsi strategi keberlanjutan melalui inisiatif seperti, agenda mengajak konsumen untuk mengembalikan kemasan kosong produk ke toko terdekat dan kampanye #KerenTanpaNyampah. Hal ini bertujuan untuk mendorong pelanggan untuk mengikuti perilaku konsumsi yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab. Keberhasilan strategi green marketing dapat dievaluasi melalui indikator repurchase intention atau niat beli ulang konsumen terhadap produk berkelanjutan. Tiga komponen utama yang dianggap berpengaruh terhadap niat pembelian kembali adalah sebagai berikut: kepercayaan hijau . epercayaan konsumen terhadap klaim keberlanjutan yang disampaikan oleh produ. , kepuasan hijau . ingkat kepuasan yang dirasakan konsumen berdasarkan kinerja produk dalam aspek ekologi. , dan nilai persepsi . enilaian konsumen terhadap kegunaan produk dilihat dari keseimbangan antara manfaat yang diterima dan beban yang ditanggung untuk mendapatkankanny. Ketiga variabel ini relevan dalam membentuk loyalitas konsumen, terutama Generasi Z, yang selektif terhadap merek berdasarkan nilai pribadi dan sosial. Meskipun variabel tersebut telah banyak diteliti, sebagian besar penelitian sebelumnya bersifat parsial dan belum difokuskan pada konteks konsumen Generasi Z di wilayah metropolitan Indonesia seperti Jakarta. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, studi ini dibertujuan untuk mengkaji bagaimana green trust, green satisfaction, dan perceived value berpengaruh terhadap repurchase intention pada Generasi Z pengguna produk The Body Shop di Kota Jakarta LITERATURE REVIEW Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavio. Theory of Planned Behavior (TPB), dikembangkan oleh Ajzen, dapat membantu kita memahami bagaimana niat dibentuk terkait dengan perilaku atau keputusan tertentu. Menurut Theory Planned Behavior (TPB), tiga elemen utama mempengaruhi keinginan seseorang untuk melakukan suatu tindakan: pandangan atau penilaian seseorang terhadap suatu tindakan yang akan dilakukan . ersonal attitud. , pengaruh sosial yang berasal dari harapan atau tuntutan lingkungan terhadap perilaku individu . ubjective norm. , dan persepsi individu tentang seberapa besar mereka memiliki kendali atas perilaku tersebut . erceived behavioral contro. (Mahyarni, 2. Dalam ranah perilaku konsumsi produk ramah lingkungan. TPB digunakan untuk menjelaskan keputusan Jurnal Sains Pemasaran Indonesia AuFIRST AUTHOR NAMEAy ET AL. pembelian, termasuk repurchase intention. Faktor psikologis dan sosial memainkan peran penting dalam pembentukan niat beli ulang . epurchase intentio. Oleh karena itu. TPB menjadi relevan karena konstruk seperti green trust, green satisfaction, dan perceived value mencerminkan aspek psikologis yang memengaruhi repurchase intention (Abraham dkk. , 2. Kepercayaan Hijau (Green Trus. Green trust merujuk pada tingkat kepercayaan konsumen terhadap suatu barang maupun layanan yang mana dipersepsikan mendukung prinsip ramah lingkungan dan Kepercayaan . sendiri merujuk pada keyakinan individu bahwa pihak lain akan bertindak sesuai dengan harapannya. Dalam pemasaran berkelanjutan, kepercayaan hijau sangat penting karena menunjukkan bahwa pelanggan percaya bahwa suatu produk atau layanan dapat diandalkan dan berkomitmen terhadap kelestarian lingkungan (Chrysna, 2. Imbayani . , menyebutkan bahwa dimensi pengukuran green trust mencakup empat aspek utama, yakni klaim lingkungan, reputasi merek, kinerja lingkungan, serta komitmen perusahaan terhadap praktik-praktik yang mendukung perlindungan lingkungan. Dimensi-dimensi ini menjadi acuan dalam menilai sejauh mana konsumen mempercayai bahwa suatu perusahaan benar-benar menjalankan praktik yang berkelanjutan. Studi menjelaskan bahwa kepercayaan hijau meningkatkan keinginan pembelian kembali dan tingkat kepercayaan konsumen terhadap keberlanjutan produk. Mada . menemukan bahwa green trust terhadap komitmen lingkungan perusahaan meningkatkan loyalitas terhadap produk hijau. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Cahyanti dan Ekawati . , keyakinan hijau berfungsi sebagai penghubung antara persepsi seseorang tentang nilai ramah lingkungan dan keinginan untuk melakukan pembelian ulang. Hasil menunjukkan bahwa jika konsumen merasa puas terhadap suatu produk, kecenderungan untuk melakukan pembelian ulang akan meningkat. Dengan demikian, kepercayaan hijau dianggap sebagai faktor utama dalam penelitian ini dan memiliki peran strategis dalam memengaruhi keinginan untuk membeli Kembali produk. Kepuasan Hijau (Green Satisfactio. Green satisfaction adalah kepuasan konsumen ketika produk ramah lingkungan memenuhi atau melampaui ekspektasi mereka (Dedy, 2. Secara umum, kepuasan . mengacu pada perasaan individu yang muncul dari hasil evaluasi terhadap kinerja suatu produk dibandingkan dengan harapannya (Supadmi, 2. Dalam konteks konsumsi berkelanjutan, green satisfaction bukan hanya mengacu pada manfaat fungsional produk, melainkan juga mencakup kontribusi produk terhadap kelestarian Green satisfaction dapat diukur melalui beberapa indikator utama, yaitu kinerja produk hijau . reen product performanc. , kualitas layanan hijau . reen service Jurnal Sains Pemasaran Indonesia AuFIRST AUTHOR NAMEAy ET AL. , dan kepuasan pelanggan hijau . reen customer satisfactio. (Astuti, 2. Dimensi ini menggambarkan sejauh mana perusahaan mampu memenuhi ekspektasi konsumen terhadap aspek lingkungan, selain kualitas dan manfaat produk itu sendiri. Studi Dedy . menemukan bahwa green satisfaction berkontribusi signifikan terhadap peningkatan loyalitas konsumen. Temuan ini diperkuat oleh hasil penelitian Rahmi dkk. , bahwa green satisfaction meningkatkan repurchase intention, terutama untuk produk yang menggunakan strategi pemasaran berbasis keberlanjutan. Dengan demikiran, green satisfaction memainkan perarnan penting dalam meningkatkan repurchase intention konsumen sehingga penting dianalisis sebagai salah satu variabel dalam penelitian ini. Nilai Persepsi (Perceived Valu. Perceived value (Nilai Perseps. mengacu pada penilaian yang dilakukan oleh pembeli terhadap suatu barang atau jasa secara keseluruhan, dengan mempertimbangkan sejauh mana nilai yang didapatkan sebanding dengan pengeluaran, waktu, maupun usaha yang telah digunakan selama proses pembelian. Perceived value mencakup gabungan dari manfaat fungsional, emosional, dan sosial yang diperoleh, dibandingkan dengan seluruh biaya yang terkait, seperti harga, akuisisi, transportasi, instalasi, dan risiko performa produk yang tidak sesuai harapan (Lunarindiah, 2. Menurut Zaufariyanto et al. , perceived value terdiri dari empat dimensi utama. Pertama, nilai emosional, yaitu persepsi perasaan positif yang timbul akibat pengalaman menggunakan produk. Kedua, nilai sosial, yang mencerminkan sejauh mana produk meningkatkan citra atau status sosial penggunanya. Ketiga, nilai kualitas atau performa, yaitu persepsi konsumen terhadap kualitas dan kinerja produk yang diterima. Keempat, nilai untuk uang . alue for mone. , yaitu sejauh mana manfaat produk dianggap sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Studi Novitasari dkk. menemukan bahwa perceived value berperan penting dalam meningkatkan repurchase intention terhadap produk ramah lingkungan. Penelitian serupa oleh Fauziyah . dan Rakhmawati . mengungkapkan ketika konsumen merasakan nilai yang tinggi dari suatu produk, maka kecenderungan mereka untuk membeli produk tersebut lagi. Pembelian Kembali (Repurchase Intentio. Repurchase intention menggambarkan niat atau dorongan pelanggan untuk mengulangi keputusan kembali membeli di masa depan apabila kepuasan yang mereka alami disertai dengan kepercayaan terhadap produk atau layanan yang diberikan, sesuai dengan ekspektasi serta kebutuhan mereka maka niat untuk membeli kembali ini memiliki pengaruh besar untuk membentuk dan mempertahankan ikatan yang terus terjalin antara konsumen dengan perusahaan sehingga akan berdampak pada keuntungan dan kesuksesan perusahaan. Beberapa faktor yang memengaruhi repurchase intention Jurnal Sains Pemasaran Indonesia AuFIRST AUTHOR NAMEAy ET AL. antara lain mencakup tingkat kepuasan konsumen, preferensi terhadap merek, pengalaman yang diperoleh selama menggunakan produk atau layanan, serta pertimbangan harga yang ditawarkan (Chandra, 2. Dalam mengukur repurchase intention, terdapat empat indikator utama yang digunakan, yaitu niat untuk melakukan transaksi ulang . ransactional intentio. , niat untuk merekomendasikan produk kepada orang lain . eferential intentio. , niat untuk tetap memilih merek yang sama . referential intentio. , serta niat untuk mengeksplorasi varian lain dari produk yang sama . xplorative (Gumilang et al. , 2. Studi Penelitian oleh Hanifah dan Ariyanti . menunjukkan bahwa repurchase intention konsumen terhadap produk yang dipilih pelanggan sebab dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan terhadap komitmen lingkungannya . reen trus. , kepuasan yang dirasakan atas kinerja produknya dalam aspek keberlanjutan . reen satisfactio. , serta evaluasi konsumen atas nilai yang diperoleh sebanding dengan usaha yang telah di berikan . erceived valu. Studi oleh Fauziyah . dan Dedy . juga menemukan bahwa konsumen yang memiliki kepercayaan hijau . reen trus. dan kepuasan hijau . reen satisfactio. terhadap produk hijau lebih cenderung untuk memilih produk yang sama kembali. Pernyataan tersebut semakin diperkuat dengan temuan dari Cahyanti . , yang menemukan bahwa perceived value berkontribusi terhadap terbentuknya loyalitas pelanggan serta munculnya niat untuk melakukan pembelian kembali terhadap merek yang berorientasi pada kelestarian lingkungan. RESEARCH METHOD Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan empat variabel utama, yaitu green trust (X. , green satisfaction (X. , perceived value (X. , dan repurchase intention (Y). Pengumpulan data dilakukan dengan memanfaatkan kuesioner sebagai alat utama dalam memperoleh informasi. Subjek penelitian difokuskan pada Generasi Z berusia 18-28 tahun yang menggunakan produk The Body Shop di Kota Jakarta. Total populasi secara keseluruhan tidak dapat diketahui secara pasti, mengingat cakupannya yang sangat luas dan ketiadaan data spesifik mengenai jumlah pengguna. Dengan demikian, jumlah sampel ditentukan melalui perhitungan menggunakan rumus Cochran, menghasilkan total 100 responden. Kuesioner disebarkan secara daring melalui Google Form, yang disusun merujuk pada indikator teoritis masing-masing Penelitian ini menerapkan teknik purposive sampling, di mana sampel dipilih secara sengaja sesuai dengan karakteristik yang relevan dengan tujuan penelitian, di mana responden dipilih secara sengaja berdasarkan kriteria-kriteria khusus yang dianggap selaras dengan fokus dan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini. Pemilihan responden dalam penelitian ini didasarkan pada pertimbangan kriteria tertentu. Jurnal Sains Pemasaran Indonesia AuFIRST AUTHOR NAMEAy ET AL. Responden merupakan konsumen yang selalu atau setidaknya pernah membeli satu kali produk The Body Shop . Responden merupakan konsumen Generasi Z berusia 18-28 tahun yang berdomisili di wilayah administratif Kota Jakarta . Responden memiliki minat dan ketertarikan kuat pada produk-produk The Body Shop. Dalam studi ini digunakan pendekatan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM-PLS), yakni sebuah teknik statistik multivariat dimanfaatkan untuk menangani permasalahan penelitian yang kompleks serta mampu menganalisis model yang melibatkan variabel laten yang diukur melalui variabel manifes (Sayyida, 2. Alasan pemilihan metode SEMPLS dalam penelitian ini didasarkan pada keunggulannya dalam menguji hubungan kompleks antar variabel, baik yang bersifat independen, dependen, maupun yang berperan sebagai variabel mediasi. Green Trust (X. Green Satisfaction (X. Repurchase Intention (Y) Perceived Value (X. Gambar 1. 1 Model Penelitian Hipotesis pada Gambar 1. 1 yaitu: H1: Green trust memiliki dampak positif dan signifikan terhadap repurchase intention H2: Green satisfaction memiliki dampak positif dan signifikan terhadap repurchase H3: Perceived value memiliki dampak positif signifikan terhadap repurchase intention H4: Green trust, green satisfaction, dan perceived value secara simultan memiliki dampak positif dan signifikan terhadap repurchase intention DATA ANALYSIS AND DISCUSSIONS Karakteristik Responden Jurnal Sains Pemasaran Indonesia AuFIRST AUTHOR NAMEAy ET AL. Responden penelitian ini merupakan Generasi Z asal domisili Kota Jakarta serta merupakan pengguna produk The Body Shop, dengan rentang usia antara 18-28 tahun. Penelitian ini melibatkan sebanyak 100 responden yang dijadikan sebagai sampel. Table 1. 1 Usia Usia Frekuensi Presentase (%) 18 Tahun 19 Tahun 20 Tahun 21 Tahun 22 Tahun 23 Tahun 24 Tahun 25 Tahun 26 Tahun 27 Tahun 28 Tahun Total Sumber: Pengolahan Data Primer 2025 Merujuk pada data usia dalam tabel 1. 1 dan diperoleh 100 partisipan, diperoleh distribusi usia yang bervariasi: sebanyak 5% responden berusia 18 tahun, 6% berusia 19 tahun, 8% berusia 20 tahun, 20% berusia 21 tahun, 30% berusia 22 tahun, 17% berusia 23 tahun, masing-masing 2% berusia 24 dan 25 tahun, 3% berusia 26 tahun, 4% berusia 27 tahun, serta 3% berusia 28 tahun. Dari data tersebut dapat diidentifikasi bahwa kelompok usia terbanyak berada pada usia 22 tahun, yang mencakup 30 responden atau 30% dari total sampel. Table 1. 2 Jenis Kelamin Jenis Frekuensi Presentase (%) Kelamin Laki-laki Perempuan Total Sumber: Pengolahan Data Primer 2025 Mengacu pada data tabel 1. 2, bahwa sebanyak 10 responden . %) merupakan laki-laki, sementara mayoritas responden, yaitu 90 orang . %), perempuan. Jurnal Sains Pemasaran Indonesia AuFIRST AUTHOR NAMEAy ET AL. Berdasarkan temuan tersebut, responden perempuan merupakan kelompok yang paling mendominasi dalam studi ini. Table 1. 3 Asal Domisili Domisili Frekuensi Jakarta Pusat Jakarta utara Jakarta Timur Presentase (%) Jakarta Selatan Jakarta Barat Kepulauan Seribu Total Sumber: Pengolahan Data Primer 2025 Data tabel 1. 3, menunjukkan terdapat 14% responden berasal dari Jakarta Pusat, 11% dari Jakarta Utara, 30% dari Jakarta Timur, 31% dari Jakarta Selatan, 13% dari Jakarta Barat, dan 1% berasal dari wilayah Kepulauan Seribu. Dengan kata lain, responden yang berdomisili di Jakarta Selatan merupakan kelompok terbanyak dalam studi ini, yakni sebesar 31% atau 31 individu dari total responden yang terlibat. Table 1. 4 Frekuensi Pembelian Produk The Body Shop (Ou 1 kal. Frekuensi pembelian (Ou 1 kal. Frekuensi Presentase (%) Tidak Total Sumber: Pengolahan Data Primer 2025 Merujuk pada data karakteristik dalam tabel 1. 4, keseluruhan partisipan dalam studi ini diketahui telah memiliki pengalaman sebagai konsumen produk The Body Shop, dengan tingkat pembelian minimal satu kali (Ou 1 kal. Hal ini ditunjukkan oleh seluruh responden yang menyatakan pernah melakukan pembelian, yakni sebanyak 100 responden dengan presentase sebesar 100% dari total responden. Table 1. 5 Jumlah Pembelian dalam Enam Bulan Terakhir Jumlah Pembelian 1 kali 2 kali Frekuensi Presentase (%) Jurnal Sains Pemasaran Indonesia AuFIRST AUTHOR NAMEAy ET AL. > 3 kali Total Sumber: Pengolahan Data Primer 2025 Merujuk pada data yang diperoleh diketahui terdapat 27 orang . %) melakukan pembelian sebanyak satu kali, 30 orang . %) melakukan pembelian sebanyak dua kali, dan 43 responden . %) melakukan pembelian lebih dari tiga kali (> 3 kal. Dari data ini diketahui bahwa mayoritas dalam penelitian ini memiliki frekuensi pembelian melebihi tiga kali, yakni terdapat 43 orang . % ) dari total keseluruhan responden. Pengukuran Outer Model Tahapan awal dalam data dianalisis melalui pendekatan Structural Equation Modeling yang diimplementasikan menggunakan teknik Partial Least Squares (SEMPLS) adalah evaluasi yang bertujuan menilai sejauh mana instrumen dalam kuesioner memenuhi kriteria validitas serta reliabilitas melalui perangkat lunak SmartPLS versi 4. sebagai alat bantu analisis. (Ghozali, 2. Table 2. 1 Outer Loading Indikator Green Satisfaction GS 1 GS 2 GS 3 GS 4 GS 5 GS 6 GS 7 GS 8 GS 9 GS 10 GS 11 GS 12 GS 13 GS 14 GT 1 GT 2 GT 3 0,837 0,794 0,750 0,769 0,822 0,833 0,859 0,878 0,833 0,770 0,747 0,765 0,857 0,843 Green Trust Perceived Value Repurchase Intention 0,790 0,835 0,843 Jurnal Sains Pemasaran Indonesia AuFIRST AUTHOR NAMEAy ET AL. GT 4 GT 5 GT 6 GT 7 GT 8 GT 9 GT 10 GT 11 GT 12 GT 13 GT 14 GT 15 GT 16 PV 1 PV 2 PV 3 PV 4 PV 5 PV 6 PV 7 PV 8 PV 9 PV 10 PV 11 PV 12 PV 13 PV 14 RI 1 RI 2 RI 3 RI 4 RI 5 RI 6 RI 7 RI 8 RI 9 RI 10 RI 11 RI 12 RI 13 0,709 0,773 0,708 0,709 0,800 0,701 0,727 0,820 0,884 0,708 0,745 0,790 0,891 0,793 0,869 0,878 0,873 0,767 0,832 0,742 0,868 0,789 0,774 0,824 0,843 0,796 0,827 0,842 0,821 0,832 0,779 0,778 0,829 0,882 0,879 0,829 0,730 0,792 0,792 0,821 Jurnal Sains Pemasaran Indonesia AuFIRST AUTHOR NAMEAy ET AL. RI 14 RI 15 RI 16 0,815 0,792 0,817 Sumber: Pengolahan Data Primer 2025 Merujuk pada tabel 2. 1, seluruh nilai pada setiap variabel menunjukkan angka > 0,70. Setiap indikator terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap representasi variabel laten, sehingga instrumen dinyatakan telah memenuhi standar validitas konvergen. Table 2. 2 AVE Variabel Average Variance Extracted (AVE) 0,608 Green Trust Green Satisfaction 0,660 Perceived Value 0,674 Repurchase 0,665 Intention Sumber: Pengolahan Data Primer 2025 Temuan penelitian menunjukkan bahwa seluruh variabel memiliki nilai Average Variance Extracted (AVE) yang melebihi angka 0,5. Hal ini menandakan bahwa masingmasing konstruk telah memenuhi syarat validitas konvergen yang diperlukan dalam proses pengujian model pengukuran. Table 2. 3 HTMT Variabel Green Satisfaction Green Trust Perceived Value Repurchase Intention Green Satisfaction Green Trust Perceived Value 0,786 0,719 0,805 0,807 0,831 0,848 Repurchase Intention Sumber: Data olahan peneliti . Hasil pengujian Heterotrait-Monotrait Ratio (HTMT) dalam tabel 2. 3 mengindikasikan seluruh konstruk memiliki HTMT< 0,90. Temuan ini mengindikasikan setiap variabel Jurnal Sains Pemasaran Indonesia AuFIRST AUTHOR NAMEAy ET AL. memperoleh validitas diskriminan yang memadai, dengan ditinjau dari nilai cross loading, kriteria Fornell-Larcker, maupun HTMT. Dengan demikian, proses evaluasi dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya dalam pengujian outer model. Table 2. 4 CronbachAos Alpha and Composite Reliability Variabel Cronbach's Alpha 0,960 Composite Reliability 0,964 Green Satisfaction Green Trust 0,956 0,961 Perceived Value 0,963 0,966 Repurchase 0,966 0,969 Intention Sumber: Pengolahan Data Primer 2025 Tabel 2. 4 mengindikasikan seluruh konstrruk dalam penelitian ini memiliki nilai > 0,70. Hal ini mengindikasikan mengindikasikan semua konstruk telah memenuhi syarat reliabilitas internal yang dianggap baik dalam konteks pengukuran, sehingga instrumen yang digunakan memiliki tingkat keandalan tinggi dalam mengukur variabel-variabel yang Inner Model Table 2. 5 R-Square (RA) Variabel R-Square R-Square Adjusted 0,787 Repurchase 0,794 Intention Sumber: Pengolahan Data Primer 2025 Berdasarkan data yang disajikan dalam Tabel 2. Adjusted R-Square untuk variabel repurchase intention menunjukkan angka 0,787. Artinya, sekitar 78,7% perubahan atau variasi dalam niat pembelian ulang dapat dijelaskan oleh tiga faktor utama dalam penelitian ini, yaitu green trust (X. , green satisfaction (X. , dan perceived value (X. Adapun sebesar 21,3% variabilitas lainnya berasal dari faktor eksternal yang berada di luar cakupan model yang digunakan dalam penelitian ini. Uji Hipotesis Table 2. 6 Path Coefficient Jurnal Sains Pemasaran Indonesia AuFIRST AUTHOR NAMEAy ET AL. Hubungan Sampel Asli (O) GS -> RI GT -> RI PV -> RI 0,280 0,235 0,459 Rata-rata sampel (M) Standar (STDEV) Tstatistic (|O/STDEV|) 0,281 0,089 3,149 0,244 0,111 2,115 0,454 0,108 4,248 Sumber: Pengolahan Data Primer 2025 P values 0,002 0,034 0,000 Uji Hipotesis Pertama: Green Trust (X. Terhadap Repurchase Intention (Y) Pengujian ini menunjukkan bahwa nilai p-value dengan nilai 0,034 < 0,05, dan nilai t-statistic sebesar 2,115 > nilai t-tabel 1,96. Oleh sebab itu, menandakan secara statistik, terdapat pengaruh signifikan antara green trust dan niat pembelian ulang . epurchase intentio. Dengan kata lain. HCACA ditolak dan HCaCA diterima. Sebagaimana dinyatakan oleh nilai original sample senilai 0,235. Maka dari itu bahwa semakin besar kepercayaan konsumen terhadap komitmen suatu produk terhadap aspek ramah lingkungan, maka semakin tinggi pula kecenderungan mereka kembali membeli produk tersebut di masa depan. Uji Hipotesis Kedua: Green Satisfaction (X. Terhadap Repurchase Intention (Y) Hasil analisis menunjukkan bahwa p value yang diperoleh adalah 0,002, yang secara signifikan < 0,05. Selain itu, nilai t-statistik sebesar 3,149 > nilai t-tabel sebesar 1,96. Temuan ini mengindikasikan bahwa HCACC ditolak, sementara HCaCC Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa green satisfaction memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat konsumen untuk melakukan pembelian ulang . epurchase intentio. Dengan nilai original sample sebesar 0,280 menunjukkan adanya pengaruh positif. Artinya, semakin tinggi kepuasan konsumen terhadap elemen keberlanjutan dan kepedulian lingkungan dari suatu produk, maka semakin besar kemungkinan mereka untuk membeli kembali produk tersebut di masa mendatang Uji Hipotesis Ketiga: Perceived Value (X. Terhadap Repurchase Intention (Y) Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai p value sebesar 0,000 < 0,05. Selain itu, nilai t-statistik sebesar 4,248 > nilai t-tabel sebesar 1,96. Temuan ini mengindikasikan bahwa HCACE ditolak, dan HCaCE dapat diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perceived value memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat pembelian ulang . epurchase intentio. Dengan nilai original sample sebesar 0,459 menunjukkan arah hubungan yang positif. Artinya, semakin besar nilai yang dirasakan konsumen terhadap suatu produk baik dari segi manfaat, kualitas, maupun relevansinya terhadap kebutuhan dan harapan mereka semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk melakukan pembelian ulang. Temuan ini Jurnal Sains Pemasaran Indonesia AuFIRST AUTHOR NAMEAy ET AL. menegaskan bahwa persepsi konsumen terhadap nilai total suatu produk memainkan peran penting dalam membentuk keputusan pembelian di masa Table 2. 7 Pengaruh Simultan Variabel R-Square R-Square Adjusted 0,787 Repurchase 0,794 Intention Sumber: Pengolahan Data Primer 2025 Analisis koefisien determinasi (R-Squar. digunakan untuk mengevaluasi seberapa besar kontribusi kolektif dari green trust, green satisfaction, dan perceived value dalam menjelaskan variabel repurchase intention Analisis ini membantu melihat sejauh mana ketiga variabel independen tersebut mampu menjelaskan perubahan pada niat konsumen untuk melakukan pembelian ulang. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan aplikasi SmartPLS versi 4. diperoleh hasil R-Square dengan nilai 0,794 dan Adjusted R-Square senilai 0,787. Ini berarti bahwa sebesar 79,4% variasi dalam Niat pembelian ulang dapat diinterpretasikan melalui pengaruh dari ketiga faktor utama, yaitu kepercayaan terhadap aspek ramah lingkungan . reen trus. , kepuasan terhadap keberlanjutan produk . reen satisfactio. , dan nilai yang dirasakan konsumen terhadap produk tersebut . erceived valu. Sementara itu, sisanya sebesar 20,6% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar model penelitian ini. Mengacu pada pedoman yang dikemukakan oleh Hair, nilai R-Square yang melebihi angka 0,75 diklasifikasikan sebagai memiliki daya prediktif yang kuat. Oleh karena itu, menunjukkan bahwa ketiga variabel secara simultan berpengaruh signifikan terhadap niat konsumen untuk melakukan pembelian ulang. CONCLUSIONS AND SUGGESTIONS Penelitian ini menemukan bahwa green trust, green satisfaction, dan perceived value berperan signifikan dalam memengaruhi repurchase intention di kalangan Generasi Z pengguna produk The Body Shop di Kota Jakarta. Kepercayaan konsumen terhadap komitmen perusahaan dalam menjaga lingkungan, kepuasan yang dirasakan dari penggunaan produk yang berkelanjutan, serta persepsi positif terhadap nilai produk secara keseluruhan, menjadi elemen kunci dalam membentuk loyalitas konsumen, yang tercermin melalui niat mereka untuk melakukan pembelian ulang. Jurnal Sains Pemasaran Indonesia AuFIRST AUTHOR NAMEAy ET AL. Temuan ini mencerminkan bahwa Generasi Z merupakan kelompok konsumen yang menunjukkan tingkat kepedulian yang tinggi terhadap isu-isu lingkungan serta nilai-nilai yang berkaitan dengan keberlanjutan, cenderung memberikan perhatian besar pada integritas perusahaan, performa lingkungan produk, dan pengalaman emosional dalam mengkonsumsi produk. Ketika merek seperti The Body Shop berhasil memenuhi ekspektasi tersebut melalui komunikasi keberlanjutan yang konsisten, penyedia layanan yang berkualitas, serta penawaran produk yang aman dan beretika, maka tingkat repurchase intention akan meningkat secara signifikan. Temuan dalam penelitian ini konsisten dengan hasil studi terdahulu yang dilakukan oleh Mada dkk. Dina Fauziyah . Novitasari dkk. Asep Dedy . , dan Zahra dkk. serta Cahyanti dkk. yang menegaskan bahwa green trust, green satisfaction, dan perceived value terhadap produk-produk ramah lingkungan memiliki kontribusi penting dalam mempengaruhi repurchase intention. Selain itu, model yang terdapat pada penelitian ini memperkuat kerangka teoritis Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1. , mengemukakan sikap terhadap repurchase intention berkembang melalui komponen kepercayaan, kepuasan, serta persepsi terhadap kontrol atas perilaku . erceived behavioral contro. , yang semuanya dipengaruhi oleh evaluasi terhadap nilai yang mereka rasakan. Implementasi strategi yang mengintegrasikan ketiga variabel tersebut terbukti mampu membangun loyalitas konsumen secara berkelanjutan, khususnya di kalangan Generasi Z. Loyalitas ini tidak hanya tercermin dalam perilaku membeli kembali, namun demikian, juga dalam bentuk penyebaran word of mouth, pengalaman sosial, layanan pelanggan yang responsif serta pengakuan atas integritas merek. Berdasarkan hasil yang diperoleh, perusahaan seperti The Body Shop disarankan untuk terus memperkuat komunikasi nilai-nilai keberlanjutan kepada konsumen, menjaga kualitas produk dan layanan, serta mengembangkan inovasi yang tetap sesuai pada prinsip keberlanjutan lingkungan. Guna memperdalam pemahaman secara kontekstual dan praktis dalam ranah pemasaran berkelanjutan, disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk mempertimbangkan eksplorasi variabel tambahan yang berpotensi memengaruhi repurchase intention yaitu, brand image, kepedulian terhadap lingkungan . nvironmental concer. , serta pandangan terhadap kontrol perilaku . erceived behavioral contro. Penambahan variabel-variabel tersebut diharapkan mampu memperkaya model penelitian serta memberikan wawasan yang lebih menyeluruh dalam merumuskan strategi pemasaran berkelanjutan di masa yang akan datang. REFERENCES