p-ISSN: 2620-8563. e-ISSN: 2621-1521 Suharyani et al. Review: Berbagai Metode Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Boraks dalam Sampel Makanan Journal of Pharmacopolium. Vol. No. , . Suharyani et al. /Journal of Pharmacopolium. Volume 4. No. Desember 2021, 162-173 Available online at Website: http://ejurnal. stikes-bth. id/index. php/P3M_JoP REVIEW: ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF HIDROKUINON DALAM SEDIAAN KOSMETIKA Ine Suharyani1,2*. Nina Karlina1. Nur Rahmi1. Dhia Zahra Salsabila1. Nur Annisa1. Amaliaputri Sadira1. Sri Yuli Astuti1. Yuni Rahmasari1 Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon. Jl. Cideng Indah No. Kertawinangun. Kedawung. Cirebon. Jawa Barat 45153 Department Farmasetika dan Teknologi Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Padjadjaran. Jln. Raya Bandung-Sumedang Km. 21 Jatinangor. Kab. Sumedang 45363 *Corresponding author: inesuharyani25@gmail. Received: 13-Dec-2021. Revised: 20-Dec-2021. Accepted: 28-Dec-2021. Available online: 31-Dec-2021 ABSTRACT Hydroquinone is a mercury compound derived from benzene, has the chemical formula C6H6O2 and is classified as very toxic. The mechanism of action of hydroquinone as a skin lightener is by inhibiting the enzymatic oxidation of tyrosine to 3, 4-dihydroxyphenylalanine (DOPA), inhibiting the activity of the tyrosinase enzyme in melanocytes and reducing the amount of melanin directly. The purpose of the review is to analyze the hydroquinone content both qualitatively and quantitatively in cosmetic samples. The journal search method was carried out on the website https://scholar. com with the keyword "hydroquinone analysis" and published within the last 10 Qualitative analysis can be carried out using the color reaction method and Thin Layer Chromatography while the Quantitative Analysis can be performed using the Titration Series. UV-Vis Spectrophotometry. High Performance Liquid Chromatography. TLC-Densitometer, and Gas Chromatography-Mass Spectroscopy. The best method that can be used for qualitative analysis is thin layer chromatography, while quantitatively is High Performance Liquid Chromatography. Keywords: hydroquinone, qualitative analysis, quantitative analysis, spectrophotometry,chromatography ABSTRAK Hidrokuinon merupakan suatu senyawa merkuri turunan benzena, memiliki rumus kimia C6H6O2 dan tergolong sangat beracun. Hidrokuinon sebagai pencerah kulit, bekerja melalui mekanisme penghambatan oksidasi enzimatik tirosin menjadi 3,4-dihydroxyphenylalanine (DOPA), menghambat aktivitas enzim tirosinase dalam melanosit dan mengurangi jumlah melanin secara langsung. Tujuan review untuk menganalisis kandungan hidrokuinon baik secara Kualitatif maupun Kuantitatif pada sampel kosmetik. Metode pencarian jurnal dilakukan pada website https://scholar. com dengan kata kunci Auanalisis hidrokuinonAy dan terbit dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Analisis Kualitatif dapat dilakukan dengan metode reaksi warna dan Kromatografi Lapis Tipis sedangkan Analisis Kuantitatif dapat dilakukan melalui metode Titrasi Serimetri. Spektrofotometri UV-Vis. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. KLT-Densitometer, dan Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa. Metode paling baik yang dapat digunakan untuk analisis secara kualitatif yaitu kromatografi lapis tipis, sedangkan secara kuantitatif yaitu Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Kata kunci: hidrokuinon, analisis kualitatif, analisis kuantitatif, spektrofotometri, kromatografi, reaksi warna. Suharyani al. Analisis Kualitatif dan A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2021 . PENDAHULUAN Hidrokuinon merupakan suatu senyawa merkuri turunan benzena, memiliki rumus kimia C6H6O2 dan tergolong sangat beracun. Hidrokuinon sebagai pencerah kulit, bekerja melalui mekanisme penghambatan oksidasi enzimatik tirosin menjadi 3,4-dihydroxyphenylalanine (DOPA), menghambat aktivitas enzim tirosinase dalam melanosit dan mengurangi jumlah melanin secara langsung (Zuidhoff. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui Peraturan Nomor KH. tanggal 11 Juni 2009 melarang penggunaan hidrokuinon pada sediaan kosmetik. Sementara itu, hidrokuinon hanya diperbolehkan penggunanya untuk tujuan pengobatan, sehingga hanya dapat diperoleh dengan resep dokter. Namun kenyataanya banyak produk kosmetika yang mengandung hidrokuinon beredar di masyarakat. Hidrokuinon merupakan salah satu zat yang memiliki aktivitas sebagai pemutih kulit, tetapi mempunyai efek samping yang merugikan jika digunakan dalam waktu yang cukup lama. Penggunaan hidrokuinon dalam pengobatan melalui pengawasan dokter dengan rekomendasi konsentrasi sebesar 24%, dan penggunaannya disarankan tidak lebih dari 6 bulan (Gul et al. , 2. Untuk itu telah banyak dilakukan analisis hidrokuinon pada produk kosmetik yang beredar untuk mengetahui apakah produk tersebut mengandung hidrokuinon atau tidak. Analisis ini dilakukan baik secara Kualitatif maupun Kuantitatif. Analisis secara Kualitatif dapat dilakukan dengan metode reaksi warna, dan Kromatografi Lapis Tipis. Sedangkan analisis secara kuantitatif dapat dilakukan melalui metode titrasi Serimetri. Spektrofotometri UV-VIS. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), dan Kromatografi Gas Ae Spektroskopi Massa (KG-MS). METODE PENELITIAN Pencarian jurnal dilakukan pada website https://scholar. dengan kata kunci AuAnalisis HidrokuinonAy. Pada penulisan review jurnal ini ditulis dengan menggunakan teknik studi pustaka dengan prosedur sebagai berikut: Gambar 1. Metode pemilihan jurnal Suharyani al. Analisis Kualitatif dan A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2021 . METODE ANALISIS HIDROKUINON Analisis Kualitatif Analisis kualitatif merupakan suatu analisis untuk mengidentifikasi zat, gugus fungsi, dan/atau senyawa tertentu yang terdapat dalam suatu sampel. Analisis kualitatif ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan suatu analit dalam suatu sampel (Gholib & Rohman, 2. Analisis Hidrokuinon secara Kualitatif dapat dilakukan melalui uji warna dan dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Tabel 1. Metode Analisis Hidrokuinon secara Kualitatif Metode Sampel Pereaksi Larutan FeCl3 1% Reagen Benedict Referensi Reaksi Warna Krim (Yulia, 2. Kromatografi Lapis Tipis Krim Fase gerak berupa Methanol:Kloroform . Kromatografi Lapis Tipis Krim Fase gerak berupa campuran 8 ml Toluena dan 2 ml Asam Asetat Glasial (Astuti et al. Kromatografi Lapis Tipis Krim (Harimurti et , 2. Reaksi Warna Krim Kromatografi Lapis Tipis Krim Fase gerak berupa campuran 8 ml Toluena dan 2 ml Asam Asetat Glasial Reagen Benedict Larutan FeCl3 Larutan O-fenantrolin Fase gerak berupa : N-heksan dan Aseton . Kloroform:Metanol . Toluena:Asam Asetat Glasial . (Yulia, 2. (Sarah, 2. (Sarah, 2. Reaksi Warna Reaksi warna dapat dilakukan dengan tiga pereaksi, yaitu FeCl3. Benedict dan o-Fenantrolin. Sampel FeCl3 1% BenedictAos O-Fenantrolin Warna Hijau Warna Merah Kompleks Merah Gambar 1. Bagan reaksi warna hidrokuinon Analisis hidrokuinon dengan metode reaksi warna dilakukan dengan menggunakan pereaksi seperti FeCl3 . Benedict, dan O-fenantrolin. Hidrokuinon jika ditambahkan FeCl3 menghasilkan senyawa kompleks(Chakti et al. , 2. Senyawa kompleks yang terbentuk karena adanya atom O pada hidrokuinon yang bereaksi FeCl3 dalam suasana asam menghasilkan warna hijau. Reaksi ini merupakan reaksi reduksi oksidasi yang ditandai dengan adanya perubahan warna dari suatu senyawa. Reaksi yang terjadi antara hidrokuinon dan FeCl3 adalah sebagai berikut (Musiam et al. , 2. C6H6O2 . Fe3 Ie C6H4O2 . Fe2 Reaksi yang terjadi menggunakan benedictAos reagent adalah reduksi Ae oksidasi (Damodaran K, 2. Suharyani al. Analisis Kualitatif dan A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2021 . Hidrokuinon merupakan senyawa golongan fenol. Senyawa fenol, jika disimpan di udara terbuka akan mudah teroksidasi. Terjadinya oksidasi senyawa ini ditandai dengan perubahan warna karena pembentukan hasil oksidasi (Hart, 1. Sampel direaksikan dengan benedictAos reagent lalu menghasilkan warna merah menandakan adanya gugus fenol (Carissa, 2. Reaksi antara hidrokuinon dengan benedictAos reagent yaitu sebagai berikut (Sanjaya. Restyana. Ismillayli, 2. C6H6O2 Cu2 Ie C6H4O2 Cu . Hidrokuinon jika direaksikan dengan 0-fenantrolin akan membentuk senyawa kompleks besi(II)-fenantrolin yang memiliki warna merah-jingga. Reaksi yang terjadi yaitu reaksi redoks, hidroquinon akan mereduksi besi . menjadi besi (II) yang membentuk kompleks besi(II)-fenantrolin ketika bereaksi dengan fenantrolin (Alqibthiyah, 2. Gambar 2. Pembentukan Kompleks Besi(II)-Fenantrolin Kromatografi Lapis Tipis Kromatografi Lapis Tipis (KLT) adalah salah satu bentuk kromatografi planar. Kromatografi ini berbeda dengan kromatografi kolom yang menggunakan kolom kemas sebagai fase diam. KLT menggunakan fase diam berupa lapisan bahan yang seragam dan tersebar merata pada permukaan bidang datar yang dialasi dengan plat kaca, alumunium, atau plastik (Gholib & Rohman, 2. Uji analisis kualitatif juga dapat menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan teknik kromatografi yang sederhana untuk memisahkan senyawa kimia, biokimia, maupun memeriksa kemurnian produk. Kelebihan metode pemisahan dengan KLT yaitu dapat memisahkan hampir semua senyawa, hemat biaya, dan pemisahan dapat dilakukan dalam waktu yang singkat (Rosamah, 2. Parameter yang digunakan sebagai dasar untuk identifikasi pada KLT adalah nilai Rf. Suatu senyawa dinyatakan identik jika memiliki nilai Rf yang sama. Untuk mengkonfirmasi hasil identifikasi dapat digunakan lebih dari satu fase gerak dan berbagai macam pereaksi semprot (Gholib & Rohman. Suharyani al. Analisis Kualitatif dan A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2021 . Tabel 2. Analisis Kualitatif dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis Fase diam dan Fase Fase diam : silika gel Fase gerak: campuran methanol:kloroform . dibuat sebanyak 5 Pembuatan sampel dan baku pembanding - Sampel krim 0,1 g dilarutkan dengan etanol 96% sebanyak 5 ml. - Pembanding (Hidrokuino. 0,1g dilarutkan dengan etanol 96% sebanyak 8 ml. Sampel krim 1,25 g ditambahkan 3 tetes HCl Fase diam: silika gel 4N dan etanol sebanyak 5 ml lalu dipanaskan Fase gerak: campuran sambil sesekali diaduk, kemudian disaring toluene:asam asetat menggunakan kertas saring yang sudah glacial . dibuat ditambahkan natrium sulfat untuk mengangkat sebanyak 10 ml. lemak, dimasukkan ke dalam labu ukur 25 ml dan ditambahkan etanol sampai 25 ml. - Hidrokuinon 25 mg dilarutkan dengan etanol di labu ukur sampai 25 ml. - Sampel krim 2g dilarutkan dengan etanol 96% di Fase diam: lempeng labu ukur sampai 15ml, lalu dihomogenkan diatas KLT GF254 penangas air selama 10 menit, kemudian Fase gerak: campuran dimasukkan ke penangas es sampai terpisah lilin N-heksana:aseton . dan fase cair, lalu disaring, filtrat digunakan untuk kloroform:metanol analisis KLT. - Hidrokuinon 2 g dilarutkan dengan etanol 96% toluena:asam asetat di labu ukur sampai 15ml, lalu dihomogenkan glacial . diatas penangas air selama 10 menit, kemudian dimasukkan ke dalam penangas es sehingga terpisah lilin dan fase cair, lalu disaring, filtrat digunakan untuk analisis KLT. Deteksi Bercak Penotolan Penotolan kapiler/mikro berskala 1 l. Penotolan menggunakan tabung hematokrit/microsyring e dengan volume 25 l. dengan pipa kapiler yang berjarak 1,5 cm sementara jarak antar noda adalah 2,5 cm Lampu UV 254 nm Lampu UV lampu UV 254 nm Berdasarkan tabel diatas, beberapa jurnal memiliki perbedaan prosedur dalam analisis kualitatif menggunakan metode KLT. Beberapa perbedaan prosedur yaitu pada pembuatan sampel dan baku pembanding, penggunaan fase gerak, dan pada volume penotolan. Di samping itu, ada beberapa persamaan diantaranya, dalam penggunaan pelarut pada sampel yang menggunakan pelarut polar berupa etanol, dan pada fase gerak digunakan campuran pelarut nonpolar dan polar. Persamaan lainnya yaitu tahapan setelah penotolan pada plat KLT, selanjutnya plat dimasukkan ke dalam chamber yang berisi fase gerak yang sudah dijenuhkan. Setelah itu, plat diangkat dan dibiarkan mengering. Hasil yang diperoleh diamati di bawah sinar UV, kemudian fluorosensinya dibandingkan dengan standar hidrokuinon dan dihitung faktor retensi atau nilai Rf dari masing-masing Hasil positif hidrokuinon ditandai dengan terbentuknya warna gelap atau terdapat bercak hitam pada silica gel saat diamati di bawah sinar UV. Fase diam yang digunakan dalam KLT berupa penjerap yang memiliki molekul penyusun berukuran kecil dengan diameter sekitar 10 Ae 30 m. Silika Gel merupakan salah satu penjerap yang banyak digunakan dalam KLT. Plat silika umumnya digunakan untuk analisis asam amino, hidrokarbon, vitamin, dan alkaloid. Selain itu digunakan juga plat KLT. Plat KLT dibuat dengan cara melapiskan bahan penjerap di atas permukaan lapisan gelas, kaca atau aluminium dengan tebal sekitar 250 m. Arti dari lempeng KLT GF254 yaitu ditambah bahan yang berfluoresensi seperti silikat teraktivasi mangan, seng pada panjang gelombang eksitasi senyawa berfosforesensi yang ditambahkan (Gholib & Rohman, 2. Fase gerak umumnya ialah campuran 2 pelarut organik karena daya elusi campuran kedua pelarut ini sedemikian rupa dapat mudah diatur sehingga pemisahan zat-zat yang dianalisis dapat terjadi secara optimal. Beberapa petunjuk yang bisa digunakan untuk memilih dan optimasi fase gerak yaitu (Gholib & Rohman, 2. - Harus memiliki kemurnian sangat tinggi. Hal ini disebabkkan KLT memiliki sistem yang sensitif. Suharyani al. Analisis Kualitatif dan A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2021 . Daya elusi dari fase gerak harus diatur agar nilai Rf berada pada rentang 0,2-0,8 agar pemisahan terjadi secara maksimal. - Pemisahan yang menggunakan fase diam bersifat polar seperti silika gel, maka polaritas fase gerak yang digunakan akan mempengaruhi nilai Rf. Penambahan pelarut agak polar seperti dietil eter ke dalam pelarut yang bersifat non polar seperti metil benzena akan menaikkan nilai Rf secara - Pelarut ionik dan polar lebih baik digunakan sebagai campuran pelarut untuk fase geraknya. Penotolan sampel pada kromatografi lapis tipis dikatakan optimal apabila sampel ditotolkan dengan ukuran bercak yang sangat kecil dan sempit. Penotolan yang kurang tepat dapat menyebabkan melebarnya bercak dan terjadi puncak ganda (Gholib & Rohman, 2. Untuk tujuan identifikasi diameter bercak yang direkomendasikan 3 mm untuk volume sampel sampai 1 l. Konsentrasi sampel 0,1 % - 1 % dengan banyaknya sampel 1 g - 20 g (Adamovics, 1. Bercak pada KLT dapat dideteksi baik dengan pereaksi kimia maupun secara fisika. Deteksi bercak secara kimia dapat dilakukan dengan cara menyemprotkan pereaksi sehingga bercak menjadi terlihat jelas. Beberapa pereaksi yang dapat digunakan antara lain ninhidrin, asam sulfat, rhodamin B, 2,7-fluorescein. Cara fisika dilakukan dengan menggunakan sinar radioaktif dan fluoresensi sinar Lempeng KLT dengan meletakkan plat yang disinari dengan lampu ultraviolet yang memiliki panjang gelombang 254 tau 366 untuk menampakkan pelarut sebagai bercak gelap atau bercak yang berfluoresensi pada dasar fluoresensi yang seragam (Gholib & Rohman, 2. Berikut ini adalah keuntungan lain kromatografi lapis tipis yaitu (Gholib & Rohman, 2. - Metode ini sering digunakan untuk analisis baik kualitatif maupun kuantitatif - Identifikasi dari komponen yang dipisahkan dapat dilakukan melalui fluoresensi, penambahan pereaksi warna, atau radiasi sinar ultraviolet. - Pada KLT dapat dilakukan elusi baik secara menurun . , menaik . , atau secara 2 dimensi. - Penentuan kadar pada metode ini akan lebih baik karena konsentrasi diukur terhadap masingmasing komponen merupakan bercak diam. Analisis Kuantitatif Analisis kuantitatif merupakan suatu metode untuk menentukan konsentrasi analit di dalam suatu sampel. Analisis kuantitatif dapat dilakukan secara konvensional seperti titrimetri maupun instrumental seperti spektrofotometri dan kromatografi (Gholib & Rohman, 2. Analisis Hidrokuinon secara kuantitatif dapat dilakukan dengan metode sebagai berikut: Tabel 3. Metode Analisis Hidrokuinon Secara Kuantitatif Metode Titrasi Serimetri Spektrofotometer UV-Vis KLT-Densitometer Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Bahan yang digunakan H2SO4 0,1 N. Indikator Difenilamin Serium (IV) Sulfat 0,1 N Standar Hidrokuinon Etanol 96% Metanol Methanol Kloroform Metanol p. Standar Hidrokuinon Etanol 95% p. a Floroglusin p. a NaOH Toluen. Asam asetat glasial. HCL 4N. Etanol Natrium Sulfat. Silika gel GF 254 Methanol Metanol Alat Spektrofotometer UV-Vis (Genesys 10S) Spektrofotometer UV-Vis (Shimadz. Spektrofotometer UV (AMTAST AMV . Spektrofotometer UV-Vis (Cintra 101 ) Densitometer (Camag TLC Scanner . HPLC Dionex . Kolom analitik C18, membran filter 0,2 m, syringe filter 0,2 m Kolom RP 18 Referensi (Astuti et , 2. (Arifiyana et al. (Yulia, (Yuan, (Sarah, (Harimurti et al. (Rahmi, (Sukmawat i et al. Suharyani al. Analisis Kualitatif dan A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2021 . Kromatografi Gas Spektrometri Massa Etanol Sodium Sulfat Kromatografi Gas Spektrometri Massa (Pangesti Jamaluddin , 2. Titrasi Serimetri Serimetri adalah penetapan kadar reduktor dengan menggunakan larutan serium (IV) sulfat sebagai titran . Titrasi ini hanya dapat dilakukan pada kondisi asam, hal ini disebabkan pada kondisi netral akan terbentuk endapan serium (IV) hidroksida atau dalam bentuk garamnya. Larutan serium(IV) sulfat pada kondisi asam sulfat encer merupakan oksidator kuat dan cenderung lebih stabil daripada larutan kalium permanganat, jika asam sulfat memiliki jumlah yang cukup untuk menghindari hidrolisis serta pengendapan dalam bentuk garam basanya (Gholib & Rohman, 2. Keunggulan dari serium (IV) sulfat sebagai larutan titran yaitu (Gholib & Rohman, 2. - Larutannya dalam asam sulfat atau asam nitrat tahan cahaya atau pemanasan. - Dapat dipakai untuk penetapan sampel yang mengandung klorida, karena tidak mengoksidir klorida asal konsentrasi klorida dibawah 1 M. - Dapat dipakai untuk berbagai sampel karena sifat oksidasi yang kuat. - Reaksi redoks yang terjadi sangat sederhana. Ce4 e Ie Ce3 Kekurangan dari serium (IV) sulfat yaitu harganya mahal dan dengan beberapa zat reaksinya lambat seperti dengan As2O3 membutuhkan katalisator. Gambar 3. Bagan Analisis Titrasi Serimetri Spektrofotometri UV-Vis Spektrofotometri UV-Vis sering digunakan untuk menganalisis sampel baik yang berbentuk gas/uap maupun larutan. Sampel yang akan dianalisis harus dibuat dalam bentuk larutan jernih. Syarat pelarut yang digunakan dalam spektrofotometri uv-vis diantaranya: Dapat melarutkan sampel dengan baik Tidak memiliki gugus kromofor dan tidak berwarna Tidak berinteraksi dengan analit Memiliki kemurnian yang tinggi (Suhartati, 2. Spektrofotometri UV-Vis merupakan instrumen spektrofotometer yang memakai radiasi elektromagnetik ultraviolet pada panjang gelombang 190-380 nm dan sinar tampak pada panjang gelombang 380-780 nm. Prinsip kerja spektrofotometri UV-Vis adalah adanya penyerapan sinar UV- Suharyani al. Analisis Kualitatif dan A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2021 . Vis oleh gugus-gugus molekul yang dapat menyebabkan transisi yang berbeda dengan tingkat energi elektronik molekul tersebut (Suhartati, 2. Untuk melakukan analisis kuantitatif menggunakan Spektrofotometri UV-Vis ada beberapa hal yang harus dipersiapkan, antara lain: Tabel 4. Analisis Kuantitatif dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis Pembuatan Sampel krim 25mg dilarutkan dengan metanol dalam labu ukur 50ml, di dapat konsentrasi 500 ppm Pembuatan larutan baku Hidrokuinon 5mg dilarutkan dengan metanol dalam labu ukur 100 ml, kemudian diencerkan di dalam labu ukur sampai 50ml sehingga di dapat konsentrasi 10ppm. Larutan baku hidrokuinon 10 ppm diencerkan menjadi beberapa konsentrasi yaitu 0,02 . 0,04 . 0,06 . 0,08 . 0,10 . 0,20 . 0,30 ppm dalam labu ukur 50ml. Pengukuran gelombang maksimum Digunakan larutan baku hidrokuinon dengan konsentrasi 0,08ppm, didapatkan serapan maksimum pada 293 nm yang sebelumnya dilakukan kalibrasi menggunakan metanol sebagai blanko. Penetapan Larutan baku dan larutan sampel dianalisis dengan menggunakan Spektro. Absorbansi diukur secara spektrofotometri ultraviolet pada panjang gelombang 293 nm. Penetapan kadar hidrokuinon dapat dihitung dengan menggunakan persamaan regresi linear y= bx a yang diperoleh melalui kurva baku hidrokuinon. Pengukuran panjang gelombang maksimum dilakukan karena pada panjang gelombang maksimum kepekaan juga terjadi secara maksimum karena perubahan absorbansi untuk setiap satuan absorbansi yang paling besar. Jika terjadi pengukuran ulang, kesalahan akibat pemasangan ulang panjang gelombang akan kecil sekali. Kelebihan metode analisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis antara lain (Anita Ratna Ningrum, - Panjang gelombang suatu sinar berwarna putih lebih mudah terseleksi. - Cara yang sederhana - Mampu mendeteksi konsentrasi analit yang sangat kecil. Kelemahan metode analisis menggunakan Spektrofotometer UV-Vis antara lain: - Perbedaan pH, suhu dan zat pengganggu dalam larutan sampel akan mempengaruhi absorpsi - Metode ini hanya dapat dilakukan pada rentang daerah ultraviolet yaitu dengan panjang gelombang >185 nm - Terbatas penggunaannya untuk gugus fungsional dengan elektron valensi yang memiliki energi eksitasi yang rendah - Sinar yang digunakan harus monokromatis Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Kromatografi merupakan salah satu teknik pemisahan secara fisik dari beberapa campuran Pemisahan terjadi berdasarkan pada perbedaan distribusi masing-masing analit yang dapat terpisah pada fase diam dengan adanya pengaruh dari fase gerak. Fase gerak yang digunakan dapat berupa zat cair maupun gas, sementara fasa diam dapat berupa zat padat maupun zat cair (Dachriyanus. Untuk melakukan analisis menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi, ada beberapa hal yang harus disiapkan, antara lain: Tabel 5. Analisis Kuantitatif dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Suharyani al. Analisis Kualitatif dan A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2021 . Fase Gerak Campuran air dan methanol dengan perbandingan 40:60 Metanol - Air . :45 Scan maks Larutan baku hidroquinon 10 ppm. Scan pada panjang gelombang 200-400 nm Diperoleh maks 295 nm Larutan Standar Hidrokuinon Dibuat larutan baku 20, 30, 40, 50 dan 60 ppm. Masing-masing larutan kemudian diinjeksikan pada KCKT dengan maks 295 nm Preparasi Krim Krim dibilas dengan fase gerak lalu di vorteks kemudian dipanaskan diatas waterbath. Dinginkan lalu ditambah fase gerak dan dilakukan sentrifugasi dan KCKT digunakan untuk analisis senyawa yang tidak mudah menguap. Untuk fase normal . aitu fase diam yang lebih polar daripada fase gera. , kemampuan hasil elusi meningkat dengan kenaikan tingkat polaritas dari pelarut yang digunakan. Sementara itu, untuk KCKT yang menggunakan sistem fase terbalik . aitu fase diam yang kurang polar daripada fase gera. , kemampuan daya elusi akan menurun dengan adanya peningkatan polaritas pelarut. Hasil analisis berupa kurva kalibrasi konsentrasi vs AUC atau waktu retensi digunakan untuk mengukur kadar Hidrokuinon yang ada dalam sampel uji. Waktu retensi larutan uji dibandingkan dengan larutan baku. Jika waktu retensi larutan uji sama dengan waktu retensi pada larutan baku menandakan bahwa sampel uji tersebut positif mengandung hidrokuinon. Keunggulan metode analisis kuantitatif dengan menggunakan KCKT adalah metode ini mampu melakukan pemisahan secara cepat, efisien, dan resolusi tinggi, sehingga dapat memisahkan sekaligus menetapkan kadar lebih dari satu zat aktif dalam sampel dengan hasil yang optimal (Gholib Ganjar & Rohman, 2. KLT-Densitometri KLT-densitometer merupakan suatu cara untuk analisis secara kuantitatif dari suatu analit yang sudah dipisahkan dengan KLT. Densitometer dapat diaplikasikan baik secara serapan maupun Gangguan yang utama pada sistem serapan dan fluoresensi adalah fluktuasi noise namun pada sistem fluoresensi gangguan lebih rendah (Gholib & Rohman, 2. Gambar 4. Analisis dengan metode KLT-Densitometri Suharyani al. Analisis Kualitatif dan A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2021 . Uji analisis kualitatif dengan metode KLT dapat diteruskan dengan menggunakan densitometer untuk mengetahui kadar kandungan hidrokuinon pada sampel. Hasil positif hidrokuinon pada plat KLT dimasukkan ke dalam alat densitometer dan bercak dilihat pada panjang gelombang 254 nm. Namun, validasi untuk metode KLT-Densitometri ini masih belum tersedia untuk analisis kualitatif dan Untuk itu, analisis kuantitatif untuk mengukur kadar hidrokuinon dihitung dengan membandingkan luas AUC dari sampel dan luas AUC dari kontrol positif dikalikan dengan kadar hidrokuinon pada kontrol positif. Keuntungan analisis menggunakan metode KLT-Densitometer antara lain (Najib, 2. - Menggunakan fase gerak yang sedikit. - Waktu yang relatif lebih singkat . - Dapat dilakukan penetapan kadar beberapa sampel secara simultan. Kromatografi Gas-Spektrometri Massa Kromatografi gas merupakan teknik pemisahan dinamis untuk mengidentifikasi maupun penetapan konsentrasi senyawa organik yang mudah menguap baik dalam bentuk tunggal maupun Pemisahan pada kromatografi gas berdasarkan titik didih senyawa dimana solut yang mudah menguap akan terelusi berdasarkan pada peningkatan titik didihnya. Fase gerak yang berupa gas akan membawa atau memindahkan komponen uap menuju fase diam, lalu mengantarkannya pada detektor (Gholib Ganjar & Rohman, 2. Fase gerak yang digunakan adalah suatu gas . elium, hidrogen, atau nitroge. dengan kemurnian tinggi dan terbebas dari komponen yang dapat merusak fase diam atau mengurangi sensitifitasnya seperti, hidrokarbon, uap air, atau oksigen. Fase diam yang banyak dipakai adalah kolom kapiler karena dapat memberikan harga jumlah lempeng teori (N) yang sangat besar (E300000 lempen. (Gholib Ganjar & Rohman, 2. Kromatografi gas sebagai instrumen fisiko-kimia banyak digunakan untuk analisis instrumental, dengan alasan yaitu kecepatan atau tekanan aliran fase gas terkontrol, uap sampel mudah tercampur dengan fase gas, terdapat 13 macam detektor yang dapat dipakai, dan dapat dikombinasikan dengan instrumen fisiko-kimia lain seperti GC-MS (Mulja, 1. Analisis spektrum massa suatu senyawa organik, tidak hanya memperhatikan massa ion molekul (M. M mapun massa fragmen-fragmen saja, tetapi juga diperhitungkan dari massa fragmen yang hilang dari spektrum. Massa fragmen ini mempengaruhi penentuan suatu struktur molekul, karena akan memprediksi kehilangan massa ini berhubungan dengan massa yang hilang dari senyawa yang dianalisis (Suhartati, 2. Kromatografi gas dapat digabungkan dengan spektrometer massa . ebagai detekto. yang disebut dengan GC-MS . as chromatography-mass spectrometr. Pada metode ini, eluen yang keluar dari kolom GC akan diteruskan pada instrumen MS dan menghasilkan spektrum massa untuk tiap (Gholib Ganjar & Rohman, 2. Spektrometer massa ini akanemberikan informasi data mengenai struktur kimia senyawa sudah maupun yang belum diketahui. Spektrometer massa dapat membantu memonitor ion tunggal atau beberapa ion khas yang terdapat pada suatu analit dengan cara mengaktifkan batas deteksi masingmasing ion (Gholib Ganjar & Rohman, 2. Sampel yang akan dilakukan uji dilarutkan terlebih dahulu dengan pelarut. Pelarut yang dipilih yaitu pelarut polar karena dapat berikatan dengan senyawa hidroksil dan menyebabkan senyawa tersebut sulit teroksidasi dalam udara terbuka. Kromatografi Gas-Spektrometri Massa (GC-MS) dapat menganalisis senyawa yang tidak terurai ketika diuapkan dan, memilih resolusi dan spesifik, fleksibel, sensitivitas yang tinggi, efisien. Kromatografi gas-Spektrometri Massa dapat menganalisis secara kualitatif dan kuantitatif secara bersamaan sehingga efektif dan efisien (Pangesti & Jamaluddin, 2. Hasil analisis dari GC kemudian diteruskan ke dalam instrumen MS sehingga didapatkan data dari massa molekul relatif suatu sampel. Massa molekul relatif hidrokuinon adalah 110 (Pangesti & Jamaluddin, 2. Suharyani al. Analisis Kualitatif dan A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2021 . KESIMPULAN Berdasarkan penelitian review artikel analisis kualitatif hidrokuinon pada kosmetik yang paling baik adalah dengan menggunakan metode KLT (Kromatografi Lapis Tipi. karena pemisahan komponen dilakukan dengan pereaksi warna, fluoresensi dan radiasi sinar uv sehingga ketepatan komponen lebih baik yaitu berupa bercak yang tidak bergerak. Analisis kuantitatif hidrokuinon yang paling baik adalah dengan menggunakan metode KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tingg. karena efisiensi dan resolusi tinggi sehingga hasil analisis yang didapatkan lebih optimal. DAFTAR PUSTAKA