JVK 7 . JVK JURNAL VOKASI KESEHATAN http://ejournal. poltekkes-pontianak. id/index. php/JVK FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN SCABIES PADA SANTRI Novita Damayanti1. Marsaid2. Kissa Bahari3. Nurul Hidayah4 nC 1,2,3,4 Jurusan Keperawatan. Poltekkes Kemenkes Malang. Malang. Jawa Timur . Indonesia Info Artikel Sejarah Artikel: Diterima 4 Oktober Disetujui 31 Januari Di Publikasi 31 Januari Keywords: Faktor-Faktor. Scabies. Santri. Abstrak Penyakit scabies adalah penyakit yang disebabkan oleh tungau yang mengakibatkan kerusakan pada kulit dan gangguan kenyamanan akibat rasa gatal. Banyak faktor yang berkontibusi terjadinya kejadian scabies pada santri di Pondok. Penyakit scabies ini dapat mempengaruhi kenyamanan aktifitas dalam menjalani kehidupan sehari-hari diantaranya penderita mudah lelah dan gelisah karena rasa gatal, perasaan malu karena timbulnya scabies dan dapat mempengaruhi penampilannya, penderita merasa terganggu dalam proses belajar, prestasi belajar menurun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian scabies di Pondok Pesantren X Kabupaten Malang. Desain penelitian menggunakan korelasional melalui pendekatan cross sectional. Penelitian ini melibatkan 90 santri yang diambil secara simple random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner dan observasi langsung. Analisis data menggunakan uji Chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan hubungan antara faktor pengetahuan tentang scabies, perilaku personal hygiene dan kondisi sanitasi lingkungan dengan kejadian scabies terdapat hubungan yang signifikan . = 0,. Penelitian ini dapat disimpulkanbahwa semakin rendah tingkat pengetahuan tentang scabies, perilaku personal hygiene dan kondisi sanitasi lingkungan maka semakin tinggi angka kejadian scabies. Peneliti menyarankan untuk mencegah penularan scabies maka perlu meningkatkan pengetahuan tentang scabies, perilaku personal hygiene dan kondisi sanitasi lingkungan santri. FACTORS RELATED TO THE EVENT OF SCABIES ON SANTRI Abstract Scabies is a disease caused by mites that cause damage to the skin and discomfort due to itching. Many factors contribute to the occurrence of scabies in students at the Islamic Boarding School. This scabies disease can affect the comfort of activities in living everyday life, including sufferers getting tired and restless because of itching, feeling embarrassed because of the emergence of scabies and can affect their appearance, sufferers feel disturbed in the learning process, and decreased learning The purpose of this study was to determine the factors related to the occurrence of scabies at the X Islamic Boarding School in Malang Regency. The research design used correlation through a cross-sectional approach. This study involved 90 students who were taken by simple random sampling. Data collection techniques used questionnaires and direct observation. Data analysis using Chi square. The results of this study indicate a significant relationship between knowledge factors about scabies, personal hygiene behavior and environmental sanitation conditions with the incidence of scabies . = 0. This study can be concluded that the lower the level of knowledge about scabies, personal hygiene behavior and environmental sanitation conditions, the higher the incidence of scabies. Researchers suggest that to prevent the transmission of scabies, it is necessary to increase knowledge about scabies, personal hygiene behavior and environmental sanitation conditions of students. A2025 Poltekkes Kemenkes Pontianak Alamat korespondensi : Poltekkes Kemenkes Malang. Malang . Indonesia Email: novitadamayanti441@gmail. ISSN 2442-5478 Jurnal Vokasi Kesehatan Volume 11 Nomor 1, hlm. Pendahuluan Penyakit scabies merupakan masalah kesehatan masyarakat terutama di negara berkembang dan wilayah yang beriklim tropis seperti di Indonesia. Penyakit scabies disebabkan oleh tungau yang mengakibatkan kerusakan pada kulit dan gangguan kenyamanan akibat rasa gatal. Penyakit scabies bukan merupakan penyakit yang mematikan namun scabies kronis dan berat dapat menimbulkan komplikasi berupa pus atau nanah yang cukup bahaya (Sutejo. Penyakit scabies ini dapat mempengaruhi kenyamanan aktifitas dalam menjalani kehidupan sehari-hari diantaranya penderita mudah lelah dan gelisah karena rasa gatal, perasaan malu karena timbulnya scabies dan dapat mempengaruhi penampilannya, penderita merasa terganggu dalam proses belajar, prestasi belajar menurun (Luthfa & Nikmah, 2. Faktor yang terkait dengan tingginya angka kejadian penyebab terjadinya scabies adalah personal hygiene yang buruk dan sanitasi lingkungan yang buruk atau kurang baik (Luthfa & Nikmah, 2. Jumlah penderita scabies di dunia lebih dari 300 juta setiap tahun dengan angka yang bervariasi di setiap negara (Sungkar, 2. Secara global Prevalensi scabies di negara berkembang lebih tinggi dari di negara maju. Di beberapa negara berkembang prevalensi penyakit scabies dilaporkan 6-27% populasi umum dan cenderung lebih tinggi terjadi pada anak usia sekolah dan remaja (Ihtiaringtyas et al. , 2. Pada tahun 2014 angka kejadian scabies bervariasi mulai dari 0,30%-0,46% IACS (Ridwan et al. , 2. Berdasarkan data Depkes RI scabies di Indonesia menunjukkan data terakhir yang didapat tercatat prevalensi scabies di Indonesia tahun 2015 yakni 3,9 Ae 6 %. di Indonesia kelainan scabies menempati urutan ke-3 dari 12 penyakit kulit tersering di Indonesia dan Penyakit kulit yang banyak dijumpai di Indonesia (Luthfa & Nikmah, 2. Salah satu lingkungan dengan prevalensi dan insiden scabies yang tinggi di Indonesia adalah pondok pesatren (Isa MaAorufi, 2. , hal ini dibuktikan prevalensi scabies di sebuah pesantren Jakarta Timur adalah 51,6% (Ratnasari & Sungkar, 2. Dan prevalensi kejadian scabies di Pesantren Jakarta Selatan adalah 68% (Soedarman. Provinsi Jawa Timur terdapat 72. ,2%) dari jumlah penduduk 36. 500 jiwa yang menderita scabies (Puspita et al. , 2. Prevalensi scabies di Jawa Timur pada tahun 2010 sebesar 18,20% dan pada tahun 2011 sebesar 20,05% (Rahmi et al. , 2. Menurut laporan dari Puskesmas Jabung bulan Januari yang menderita scabies terdapat 32 orang laki-laki dan 19 orang perempuan. Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 9 November 2021 di Pondok Pesantren X Kabupaten Malang menurut laporan dari pokestren bulan oktober 2021 di peroleh informasi bahwa kejadian scabies 3 bulan terakhir di Pondok Pesantren X Kabupaten Malang yaitu 55 orang serta dilakukan survey pada 1 pengurus pondok dan 8 santri bahwa santri masih kurang menjaga kebersihan diri seperti sering menaruh pakaian kotor di lemari dan secara umum kondisi lingkungan yang kurang bersih. Penyakit scabies disebabkan oleh hewan sejenis tungau atau kutu yang menyebabkan ruam dan kemerahan dikulit yang menyerang pada komunitas yang padat terutama pada santri yang kurang menjaga kebersihan, sanitasi lingkungan yang kurang baik, perilaku yang kurang baik (Saputra et al. , 2. Personal hygiene yang buruk dan sanitasi lingkungan yang buruk menjadi faktor tingginya angka kejadian penyebab penyakit scabies (Luthfa & Nikmah, 2. Menurut hasil penelitian (M et al. , 2. tentang faktor yang berkontribusi dalam kejadian scabies yaitu Pengetahuan, rendahnya tingkat personal hygiene, kondisi lingkungan dan kontak dengan penderita scabies yang mendukung untuk berkembangnya scabies seperti kepadatan hunian, sanitasi yang tidak baik, dan akses air bersih yang Faktor yang berhubungan dengan kejadian scabies kurang menjaga kebersihan, sanitasi lingkungan yang kurang baik, perilaku yang kurang baik (Saputra et al. , 2. Penyakit scabies bukan merupakan penyakit yang mematikan akan tetapi penyakit scabies ini dapat mempengaruhi kenyamanan aktifitas dalam menjalani kehidupan sehari-hari diantaranya penderita mudah lelah dan gelisah karena rasa gatal pada malam hari sehingga tidur menjadi terganggu, perasaan malu karena timbulnya scabies dapat mempengaruhi penampilannya, penderita merasa terganggu dalam proses belajar, prestasi belajar menurun (Luthfa & Nikmah, 2. Secara umum di Pondok Pesantren X Kabupaten Malang dalam hal penerapan sanitasi lingkungan masih kurang baik hal ini dapat dilihat dari bak kamar mandi masih dengan model tradisional . anya dibatasi dengan tembo. , tempat wudu digunakan untuk bersama, lingkungan yang kurang bersih. Penyakit scabies dapat dicegah dengan cara menjaga kebersihan, melakukan personal hygiene dengan baik dan menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat . Maka sebagai edukator, perawat bisa memberi pengetahuan tentang pentingnya kebersihan dan perilaku kebersihan diri yang dapat menyebabkan scabies. Menurut Kustantie . mengatakan bahwa penyakit scabies dapat dicegah dengan cara tidak bertukar pakaian, tidak bergantian handuk dan menjaga kebersihan Berdasarkan uraian latar belakang diatas Jurnal Vokasi Kesehatan Volume 11 Nomor 1, hlm. dapat disimpulkan bahwa perlu dilakukan riset untuk mengidentifikasi kejadian scabies di Pondok Pesantren X Kabupaten Malang. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian scabies pada santri di Pondok Pesantren X Kabupaten Malang. Sebagai peneliti di bidang keperawatan, petugas kesehatan terutama perawat diharapkan mampu mengidentifikasi masalah penelitian, menerapkan metode dan prinsip penelitian, serta memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan pelayanan dan pendidikan keperawatan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan pondok dan 8 santri bahwa santri masih kurang menjaga kebersihan diri seperti sering menaruh pakaian kotor di lemari dan secara umum kondisi lingkungan yang kurang bersih. Penyakit scabies dapat dicegah dengan cara menjaga kebersihan, melakukan personal hygiene dengan baik dan menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat . Maka sebagai edukator, perawat bisa memberi pengetahuan tentang pentingnya kebersihan dan perilaku kebersihan diri yang dapat menyebabkan Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel, dan narasi. Karakteristik Responden Tabel 4. 1 Distribusi Frekuensi Karakterstik Umum Responden Karakteristik Usia Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Pendidikan SMP 36,25 SMA 58,75 Metode Desain dalam penelitian ini menggunakan korelasional dengan jenis penelitian cross-sectional. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data primer yang dianalisis, selanjutnya digunakan untuk mencari faktor yang berhubungan dengan kejadian scabies pada santri di Pondok Pesantren X Kabupaten Malang. Populasi dan target dalam penelitian ini adalah seluruh santri di Pondok Pesantren X Kabupaten Malang yang berjumlah kurang lebih 900 santri. Sedangkan untuk sampel pada penelitian ini menggunakan rumus yamane dengan jumlah sampel didapatkan 90 santri di Pondok Pesantren X Kabupaten Malang yang akan dijadikan responden penelitian sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Penelitian ini menggunakan probability sampling dengan teknik pengambilan simple random sampling. Variabel yang diteliti adalah variabel dependen kejadian scabies dengan variabel independen . aktor pengetahuan tentang scabies, perilaku prsonal hygiene dan konsisi sanitasi lingkunga. Penelitian ini menggunakan instrumen atau alat pengumpulan data yaitu menggunakan kuesioner yang sudah diuji validitas dan reabilitas. Data diolah melalui proses editing, coding, processing, dan cleaning data, yang selanjutnya dilakukan analisis data secara univariat . istribusi frekuens. , dan bivariat . hi-squar. Berdasarkan tabel 4. 1 karakteristik pada penelitian di pondok pesantren X Kabupaten Malang karakteristik responden berdasarkan usia responden tertinggi berusia 12 tahun dengan 27 responden . %) , responden berusia 14 tahun . ,2%) dan yang terkecil responden dengan usia 18 tahun 9 responden . %). Karakteristik responden bedasarkan jenis kelamin responden berjenis kelamin perempuan paling banyak menjadi responden di dalam penelitian ini dengan 51 responden . ,7%) dan responden lakilaki berjumlah 39 responden . ,3%). Karakteristik responden bedasarkan pendidikan, pendidikan responden paling tinggu yaitu SMP dengan 61 responden . pendidikan SMA 29 responden . ,2%). Analisis Univariat Analisis univariat pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari variabel dependen yaitu kejadian scabies terhadap pengetahuan, perilaku personal hygiene dan kondisi sanitasi lingkungan. Tabel 4. 2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan FaktorFaktor yang Berhubungan dengan Kejadia Scabies Variabel Kategori Pengetahuan Baik Cukup Kurang 30 33,3 5 5,6 Jurnal Vokasi Kesehatan Volume 11 Nomor 1, hlm. Perilaku Personal Hygiene Baik Cukup Kurang 25 27,7 20 22,3 Kondisi Sanitasi Lingkungan Baik Cukup Kurang 35 27,5 25 3,8 30 68,8 Dukungan Baik Cukup Kurang 35 38,8 25 27,2 Tidak scabies Scabies Kejadian Scabies Total scabies yaitu , hubungan tingkat pengetahuan dengan kejadian scabies, hubungan tingkat perilaku personal hygine dengan kejadian scabies, hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian scabies dengan menggunakan uji chi-square dengan nilai p = valueO= 0,05 yang diperoleh hasil sebagai berikut Tabel 4. 3 hasil Analisis Bivariat Variabel Tidak Scabies Scabies Value Baik 10 11,1 0,000 Cukup 30 33,3 Kurang Perilaku Personal Hygiene Baik 0,000 Cukup 25 27,8 Kurang 20 22,2 Kondisi Sanitasi Lingkungan 0,000 Baik 35 38,9 0 10 11,1 15 16,7 Cukup 30 33,3 Kurang Total 13 16,3 67 83,8 Bedasarkan tabel 4. 2 hasil penelitian dengan 90 responden menunjukkan tingkat pengetahuan para santri dan santriwati Pondok Pesantren X Kabupaten Malang terhadap kejadian scabies dalam kategori baik dengan 55 reponden . ,1%), dengan kategori tingkat penegtahuan cukup 30 responden . ,3%) dan yang paling kecil dengan kategori kurang dengan 5 responden . ,6%) Berdasarkan tabel 4. 2 hasil penelitian dengan 90 responden menunjukkan tingkat perilaku personal hygiene yang dilakukan para santri dan santriwati pondok pesantren X Kabupaten Malang dalam kategori perilaku personal hygiene baik dengan 45 reponden . % , dengan kategori perilaku personal hygiene cukup 25 responden . ,7%) dan yang terkecil perilaku personal hygiene kurang dengan 20 responden . ,3%). Berdasarkan tabel 4. 2 hasil penelitian dengan 90 responden menunjukkan tingkat sanitasi lingkungan tempat tinggal atau asrama para santi dan santriwati pondok X Kabupaten Malang dalam kategori tingkat sanitasi lingkungan baik dengan 35 reponden . ,8%), dengan kategori tingkat sanitasi lingkungan cukup 25 responden . ,2%), dan yang terkecil perilaku tingkat sanitasi lingkungan kurang dengan 30 responden . %). Berdasarkan tabel 4. 2 hasil penelitian dengan 90 responden menunjukkan kejadian penyakit scabies yang pada santri dan santriwati pondok pesantren X Kabupaten Malang didapatkan hasil responden dengan scabies sebersar 45 responden . %), dan 45 responden . %) tidak menderita penyakit scabies. Analisis Bivariat Hubungan faktor-faktor mempengaruhi terjadinya scabies dengan kejadian Berdasarkan pengetahuan dengan hasil uji statistik Chi Square diperoleh nilai p-value 0,000 menunjukkan hasil penelitian dengan tingkat pengetahuan yang cukup lebih beresiko terkena scabies dengan presentase 33,3%, bedasarkan hasil uji chi square menunjukkannilai signifikan p value=0,000O=0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kejiadan scabies. Hasil pada indikator perilaku personal hygiene diperoleh nilai p-value 0,000 menunjukkan hasil penelitian dengan tingkat perilaku personal hygiene cukup lebih beresiko terkenal scabies dengan presentase27,8%, bedasrakan hasil uji chi square menunjukkan nilai signifikan p value =0,000O=0,05 dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antar perilaku personal hygiene dengan kejadian scabies. Hasil pada indikator kondisi sanitasi lingkungan diperoleh nilai p-value 0,000 menunjukkan hasil penelitian dengan tingkat kondisi sanitasi lingkungan kurang lebih beresiko terkenal scabies dengan presentase33,3%, berdasarkan hasil uji chi square menunjukkan nilai signifikan p value=0,000O=0,05dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian scabies. Jurnal Vokasi Kesehatan Volume 11 Nomor 1, hlm. Pembahasan Pengetahuan. Perilaku Personal Hygiene Dan Kondisi Sanitasi Lingkungan pada santri di Pondok Pesantren X Kabupaten Malang. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan di Pondok Pesantren X Kabupaten Malang dengan jumlah 90 responden didapatkan hasil tingkat pengetahuan para santri - santriwati terhadap pengetahuan tentang penyakit scabies baik dengan hasil 55 responden . ,1%). Hasil penelitian ini diperoleh dari pengisian kueisioner dan didapatkan sebagian sudah mengetahui scabies, penyebab, cara penularan dan penyebarannya. Pengetahuan ini didapatkan dari santri yang pernah dan yang tidak pernah dan menderita scabies. Pengetahuan tentang scabies merupakan faktor pendahulu dalam terwujudnya sikap dan perilaku seseorang karena pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang, setelah memiliki pengetahuan maka akan terbentuk suatu sikap yaitu kesiapan atau kesediaan untuk melakukan tindakan selanjutnya agar terwujut suatu perilaku yang baik (Hilma & Ghazali. Menurut peneliti rendahnya pengetahuan pada santri disebabkan oleh kurangnya informasi yang diterima di Pondok Pesantren X Kabupaten Malang. Pengetahuan dapat diketahui jika seseorang telah berhubungan dengan objek tersebut yang mana sebagian besar pengetahuan dapat diperoleh dari melihat dan mendengar karena pengetahuan awal pengenalan dari suatu objek yang diamati, sehingga jika pengetahuan kurang baik terhadap suatu objek maka akan mempengaruhi perilaku yang akan Masi banyak santri yang tidak tahu cara penularan scabies yang berdampak pada kontinuitas penyakit scabies dikalangan santri (Husna et al. , 2. Selama dipondok pesantren santri tidak diperbolehkan menggunakan media elektronik dan jarang bahkan hampir tidak pernah diadakan penyuluan tentang penyakit kulit seperti scabies di pondok Pesantren X Kabupaten Malang, jadi santri tidak bisa mengakses informasi dan menerima informasi secara terstruktur tentang penyakit kulit scabies. Bedasarkan penelitian yang sudah di lakukan di pondok pesantren X Kabupaten Malang dengan jumlah 90 responden didapatkan hasil perilaku personal hygine para santri - santriwati di pondok pesantren X Kabupaten Malang baik dengan hasil 45 responden . %). Menurut Notoatmodjo . personal hygiene adalah tindakan untuk meminimalkan terjangkitnya penyakit terutama yang berhubungan dengan kebersihan diri yang buruk. Kebersihan diri yang buruk akan mempermuda tubuh terserang berbagai penyakit kulit seperti penyakit scabies. Menurut peneliti hasil penelitian diperoleh dari kueisioner terhadap responden dikatakan memiliki perilaku personal hygiene yang kurang jika salah satu atau lebih tidak sesuai dengan indikator, sehingga didapatkan sebagian besar santri kurang memperhatikan kebersihan seperti mandi minimal 2 kali sehari, saling meminjam pakaian serta alat pribadi lainnya. Seperti yang diungkapkan Muslih . bahwa kejadian scabies lebih tinggi terjadi pada responden yang tidak menjaga kebersihan dan saling bertukar barang perbadi. Personal hygiene lainnya yang didapatkan masih kurang adalah kebersihan pakaian, karena sebagian santri biasa melakukan pinjam-meminjam pakaian dan merenam baju dijadikan satu dengan temannya, kebiasaan tersebut juga yang memperparah penularan penyakit kulit scabies. Berdasarkan penelitian yang sudah di lakukan di pondok pesantren X Kabupaten Malang dengan jumlah 90 responden didapatkan hasil kondisi sanitasi lingkungan tempat tinggal para santri santriwa baik dengan hasil 35 responden . ,8%). Sanitasi lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup perumahan, penyediaan air bersih dan lainnya. Banyak tercapainya kesehatan lingkungan. Perilaku kurang baik merubah eksosistem dan timbul masalah sanitasi lingkungan yang dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit terutama scabies (SaAoadatin & Ismail, 2. Kondisi sanitasi lingkungan dipondok tidak bersih, membuat penyebaran penyakit scabies pada santri semakin banyak seperti kelembapan, ventilasi pencahayaan dan kepadatan hunian, terdapat 12 kamar tiap kamar terdiri dari 29-35 santri jumlah santri melebihi kapasitas, di masing-masing kamar terdapat ventilasi tetapi jarang dibuka jadi sinar matahari dan udara tidak bisa langsung masuk kedalam ruangan, hal tersebut membuat kamar menjadi lembab yang membuat penyakit scabies lebih mudah berkembang biyak hal ini sejalan dengan penelitian kuspriyanto . ruangan yang lembab bukan faktor yang berdiri sendiri tampa sebab lain juga dipengaruhi oleh sebab lain yaitu kondisi ventilasi ruangan, tikat kepadatan ruangan, intensitas sinar matahari yang masuk dalam ruangan dan sebagainya. Kejadian Scabies Pada Santri Pondok Pesantren X Kabupaten Malang. Bedasarkan penelitian yang sudah di lakukan di pondok pesantren X Kabupaten Malang dengan jumlah 90 responden di dapat hasil kejadian scabies pada santri - santriwati 45 responden . % ) yang diperoleh dari data kesehatan pesantren dan kueisioner dan pemeriksaan kulit santri berdasarkan gejala klinis penyakit yang diduga menderita scabies dan 45 responden . %) tidak menderita penyakit Scabies merupakan penyakit gatal-gatal yang disebabkan oleh hewan sejenis tungau atau kutu yang Jurnal Vokasi Kesehatan Volume 11 Nomor 1, hlm. dapat menyebabkan ruam dan kemerahan pada kulityang menyerang pada komunitas padat seperti di pondok pesantren, banyak faktor yang dapat menyebabkan penyakit scabies antara lain kurangnya kebersihan diri para santri, pengetahuan santri terhadap penyakit scabies dan kondisi sanitasi lingkungan yang tidak bersih (Saputra et al. , 2. terdapat 4 tanda utama penyakit scabies menuru sunkar . yaitu pruritus nokturnal yaitu gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tungau, penyakit scabies menyerang manusia secara berkelompok atau tinggal bergerumbul, adanya terowongan pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan dan pada ujung terwongan ditemukan papul atau vesikel. Tempat predileksinya antara lain seperti jari-jari tangan, pergelangan tangan dan lain-lain, dan menemukan tungau. Menurut pengakuan responden, scabies di pondok pesantren X Kabupaten Malang berlangsung cepat karena secara tidak mereka sadari dapat berpindah melalui kontak langsung seperti tidur yang berdekatan, berjabat tangan dengan penderita scabies, ataupun secara tidak langsung seperti meminjam baju dan merendam baju yang disatukan dengan baju penderita. Seperti yang dijelaskan handoko . bahwa transmisi atau perpindahan scabies antar penderita dapat berlangsung melalui kontak langsung misalnya berjabat tangan, tidur bersama. Selain itu juga dapat melalui kontak tidak langsung . elalui bend. , misalnya handuk, bantal, sprei dan lain-lain. Penanganan scabies di Pondok Pesantren X Kabupaten Malang hanya dengan pengobatan terhadap penderita, dan itupun jika mendapat laporan langsung dari Selain itu kasus scabies tidak didata secara rutin dan aktif oleh petugas kesehatan pesantren. Sehingga tidak terdapat gambaran masalah scabies yang jelas dan tidak pernah dikalukan pencegahan secara menyeluruh oleh petugas kesehatan pondok seperti yang diterapkan Wardana . bahwa pencegahan scabies pada manusia dapat dilakukan dengan cara menghindari kontak langsung dengan penderita dan pencegahan menggunakan barangbarang penderita secara bersama. Tingkat pengetahuan rendah cenderung memiliki prevalensi scabies lebih tinggi dibandingkan dengan orang dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi (Aminah, 2. Hasil penelitian Ulfa juga menjelaskan adanya hubungan antara pengetahuan dengan kejadian skabies di wilayahkerja Puskesmas Soropia bahwa pengetahuan sangat penting dalam pencegahan penularanscabies, jika pengetahuan santri tentang penyakit scabies kurang, prevalensi kejadian scabies meningkat. Sebaliknya apabila kanprevalensi penyakit skabies (Ulfa, 2. Menurut (Ratnasari & Sungkar, 2. menunjukkan adanya hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dengan angka kejadian scabies. Pengetahuan akanscabies merupakan hal penting yang dapat mempengaruhi kejadian scabies karena pengetahuan akan membentuk tindakan seseorang dalam menyikapi penyakit tersebut. Akibat pengetahuan yang kurang, santri menjadi kurang dalam menjaga kebersihan diri dan bersikap kurang baik, umur juga bisa berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang apabila semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi pula pengetahuannya karena umur juga mempengaruhi tingkat kesehatan seseorang karena orang yang lebih dewasa cenderung mepunyai kesadaran dan pengetahuan lebih untuk melakukan pola hidup sehat yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak (Ihtiaringtyas et al. , 2. Sehingga scabies lebih mudah menular, sedangkan santri yang memiliki pengetahuan yang baik akanlebih berhati-hati dalam bertindak guna mencegah suatu penyakit seperti scabies. Dapat disimpulkan dari beberapa peneliti diatas bahwa pengetahuan memiliki peranan dalammembentuk tindakan seseorang,dalamhal ini tindakan pencegahanpenyebaran penyakit scabies. Dariberbagai penelitan menunjukkan carayang dibandingkan dengan carayang tidak berdasarkan Orang dengan tingkat pengetahuan scabieslebih tinggi karena belum cukupnya informasi mengenai penyakit skabies sehingga tidakdapat melindungi diri dari scabies. Yaitu kurangnya informasi yang didapat di pondok X Kabupaten Malang tentang penyakit scabies, karena pondok pesantren belum memiliki kelompok khusus, yang bertugas memberikan informasi tentang kesehatan an penyuluhan informasi terkait penyakit scabies. Hal inisesuai dengan hasil penelitian ini bahwa tingkat pengetahuan memengaruhi angka kejadian scabies. Hubungan Pengetahuan Dengan Kejadian Scabies Pada Santri Di PondokPesantren X Kabupaten Malang. Hasil analisis Chi Square menunjukkan bahwa indikator faktor pengetahuan terdapat hubungan yang signifikan dengan variabel kejadian scabies. penelitian ini sejalan dengan penelitian Aminah yang mendapatkan hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dengan kejadian scabies. Jurnal Vokasi Kesehatan Volume 11 Nomor 1, hlm. Hubungan Tingkat Perilaku Personal Hygiene Dengan Kejadian Scabies Pada Santri Di Pondok Pesantren X Kabupaten Malang. Hasil peneliti mengatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku personal hygine dengan kejadian scabies. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Parman . menunjukkan bahwa ada hubungan perilaku personal hygiene dengan kejadian scabies karena perilaku personal hygiene merupakan suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang. Pemeliharaan personal hygiene diperlukan untuk kenyamanan individudan kesehatan. Buruknya perilaku personal hygiene mengakibatkan penyakit scabiesmenular dengan cepat. Tinggal bersama dengan sekelompok orang seperti di pondok pesantren beresiko mudah tertular berbagai penyakit, khususnya penyakit scabies. Penularan dapat terjadi bila kebersihan pribadi tidak dijaga dengan baik Hal ini membuat baiknya perilaku personal hygiene santri Berdasarkan hasil yang didapat, personal hygiene dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti perawatantempat tidur dan sprei (Parman, 2. Penelitian Vetronela . juga menunjukkan ada hubungan perilaku personal hygiene dengan kejadian scabies pada penghuniAsrama Mahasiswa Kabupaten Kubu Raya kurangnya kesadaran penghuni asrama upayapencegahan penyakit scabies yang masihkurang dimiliki penghuni asrama hal itu juga menjadialasan tingginya kejadian scabies. Sedangkan Penelitaian yang dilakukan Effendi . terdapat hubungan yang bermakna dengan kejadian scabies. Personal hygiene perorangan merupakan salahsatu usaha untuk mencegah terjadinya penakit scabies, tenaga kesehatan di puskesmas diharapakan dapat meningkatkan faktor-faktor mempengaruhi kejadian scabies. Pada penelitian ini, diketahui bahwa salah satu indikator personal hygiene berupa kebersihan pakaian, kasur, sprei menunjukkan bahwa santri sering menggunakan peralatan pribadi milik teman, ketika istirahat siang santri sering tidur disembarang tempat tidur milik teman tidak perduli itu milik siapa, dari personal hygiene yang susah diterapkan seperti pinjam meminjam pakaian merupakan yang sangat sulit dihilangkan di pesantren karena menurut beberapa santri jika ia tidak meminjamkan pakaiannya kepada teman dianggap Dan sangat disayangkan banyak diantara santri yang kurang memperhatikan kebersihan handuk dan pakaian sehabis dicuci digantung dikamar mandi, inilah beberapa faktor personal hygiene yang menjadi pemicu timbulnya penyakit scabies atau penyakit kulit lainnya pada santri. Menurut peneliti dapat disimpulkan bahwa perilaku personal hygiene pada usia remaja sangatlah harus diperhatikan, personal hygine yang buruk akan menyebabkan pengaruh yang buruk sampai dewasa nanti, personal hygine untuk para santri yang jauh dari orang tua lebih ditekankan dengan tidak memakai handuk, pakaian serta peralatan pribadi lainnya secara bergantiandapat menyebabkan penyakit scabies cepat menyebar. Hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian scabies pada santri di Pondok Pesantren X Kabupaten Malang. Hasil dari peneliti dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian scabies. Berdasarkan penelitian Utami . di Pondok Pesabtren Abdur Rohman Kabupaten Lalat, hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara santinasi lingkungan dengan kejadian scabies. Sedangkan dalam penelitian terebut variable yang paling dominan adalah kebersihan badan dan sanitasi Penelitian yang dilakukan oleh suci . terdapat hubungan antara kepadatan penghuni, kelembaban udara, pencahayaan alami, suhu, dan sanitasi lingkungan santri terhadap kejadian penyakit scabies di Pondok Pesantren Qotrun Nada CipayungDepok. Dan karakteristik yang paling mempengaruhi kejadian penyakit scabies adalah perilaku santri dan sanitasi lingkungan. Bedasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ramdhani . Faktor kebersihan lingkungan, sanitasi lingkungan dan umur santri berhubungan dengan penularan scabbies. Sanitasi lingkungan adalah faktor paling dominan yang berpengaruh terhadap penularan penyakit scabies di Pondok Pesantren An Nawawi. Menurut peneliti dapat disimpulkan bahwa Sanitasi lingkungan yang buruk juga merupakan faktor yang dapat menyebabkan penularan penyakit scabies lebih cepat karena sanitasi lingkungan yang tidak bersih membuat perkembangan penyakit tersebut lebih cepat salah satunya tidak ada sumber cahaya yang Pondok pesantren biasanya satu ruangan akan di isi oleh banyak santri maka sebaiknya untuk membuat sanitasi di ruang santr Penutup Bersadarkan penelitian yang berjudul AuFaktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Scabies pada santri di pondok X Kabupaten MalangAy didapatkan kesimpulan bahwa Santri dengan tingkat pengetahuan dan perilaku personal hygiene yang kurang merupakan salah satu penyebab timbulnya penyakit scabies, akibat pengetahuan kurang santri menjadi kurang dalam menjaga kebersihan diri dan bersikap kurang baik sehingga penyakit scabies Jurnal Vokasi Kesehatan Volume 11 Nomor 1, hlm. Praktik Pencegahan Skabies Yang Dipersepsikan Oleh Remaja Santri Dayah. JIM FKep, 3. , 10Ae16. http://w. id/FKep/article/view/862 mudah menular karena pengetahuan menentukan suatu tindakan seseorang terhadap penyakit. Sanitasi lingkungan yang buruk juga merupakan faktor yang dapat menyebabkan penularan penyakit scabies lebih cepat karena sanitasi lingkungan yang tidak bersih membuat perkembangan penyakit tersebut lebih cepat salah satunya tidak ada sumber cahaya yang cukup. Pondok pesantren biasanya satu ruangan akan di isi oleh banyak santri maka sebaiknya untuk membuat sanitasi di ruang santri secara maksimal. Sebagian besar santri yang berpengetahuan tentang scabies cukup sebanyak 33,3%, perilaku personal hygiene cukup sebanyak 27,8 % dan yang sanitasi lingkungan kurang sebanyak 33,3% sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan. Perilaku Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan pada santri di pondok pesantren X Kabupaten Malang dengan kejadian scabies,artinya bahwa semakin rendahnya tingkat pengetahuan, perilaku personal gygiene dan kondisi sanitasi lingkuangan maka semakin tinggi pula kejadian scabies. Harlim. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Kulit Dan Kelamin Dasar Diasnostik Dermatologi (Edisi . FK UKI. Hilma. , & Ghazali. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Skabies Di Pondok Pesantren Mlangi Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta. Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan Indonesia, 6. , 148Ae157. https://doi. org/10. 20885/jkki. Husna. Joko. , & Selatan. Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Kejadian Skabies Di Indonesia : Literatur Review Factors Related To The Incidence Of Scabies In Indonesia : Literature Review Health penyakit yang berhubungan dengan air ( 2011 ) menyatakan bahwa terdapat. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 11. , 29Ae39. https://doi. org/10. 47718/jkl. Ucapan Terima Kasih Ibadurrahmi. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Penyakit Skabies Pada Santri Di Pondok Pesantren Qotrun Nada Cipayung Depok Februari Tahun 2916. Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents, 10. , 33Ae45. Ucapan terima kasih diberikan kepada pihak Poltekkes Kemenkes Malang. Pondok Pesantren X Kabupaten Malang, tim peneliti dan pihak yang telah membantu penelitian ini hingga selesai. Ihtiaringtyas. Mulyaningsih. , & Umniyati. Faktor Risiko Penularan Penyakit Skabies pada Santri di Pondok Pesantren An Nawawi Berjan Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Balaba: Jurnal Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara, 83Ae90. https://doi. org/10. 22435/blb. Daftar Pustaka