JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 30-37, 2019 p-ISSN. 2443-115X e-ISSN. PENGARUH BRIEF COUNSELING FARMASIS TERHADAP AKTIVITAS FISIK DAN HASIL TERAPI PASIEN HIPERTENSI RAWAT JALAN DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM RSUD ULIN BANJARMASIN Submitted : 12 Februari 2019 Edited : 15 Mei 2019 Accepted : 25 Mei 2019 Saftia Aryzki. Noverda Ayuchecaria. Anna Khumaira Sari Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin Email : saftiaaryzki. h@gmail. ABSTRACT According to Riskesdas . the prevalence of hypertension in South Kalimantan Province is 30. 4%, this means around 1,145,536 people. Risk factors are occupation of less physical activity 26. 1% and residents> 10 years consuming less vegetables and fruits. The government invites the entire community to carry out a movement of healthy living people by doing physical activities, consuming vegetables and fruits and checking health regularly. The purpose of this study was to determine the effect of Brief Counseling of Pharmacists on Physical Activity and Therapeutic Results of Hypertensive Patients Outpatient in the Internal Medicine Polyclinic of Ulin Hospital. Banjarmasin. The quasi-experimental study used a prospective two-group pretest and posttest design. Patients were grouped randomly into two groups, namely the group that received the intervention in the form of a pharmacist / researcher briefing and group without intervention . followed for one month. Sampling using co-executive sampling method that meets the inclusion and exclusion criteria. The study was conducted at the internal medicine clinic at Ulin Banjarmasin Public Hospital in the period January-March 2018. The instrument used is International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). The results of physical activity data analysis in the control group with the Wilcoxon Test which showed data had a significant difference . <0. , while in the treatment group with the Wilcoxon Test which showed data did not have a significant difference . > 0. Analysis of blood pressure data in the control group with the Wilcoxon Test which showed data had a significant difference . <0. , while in the treatment group with the Wilcoxon Test which showed data had a significant difference . <0. Keywords : Hypertension. Brief Counseling. Physical Activity PENDAHULUAN Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi penyebab utama kematian secara global. Data WHO menunjukkan bahwa dari 57 juta kematian yang terjadi di dunia pada tahun 2008, sebanyak 36 juta atau hampir dua pertiganya disebabkan oleh PTM. Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang menjadi masalah kesehatan yang sangat serius saat ini yaitu tekanan darah tinggi/ hipertensi. Tekanan darah AKADEMI FARMASI SAMARINDA JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 30-37, 2019 tinggi/ hipertensi adalah keadaan yang ditandai dengan terjadinya peningkatan tekanan darah didalam arteri. Hipertensi merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Sebanyak 1 milyar orang di dunia atau 1 dari 4 orang dewasa menderita penyakit ini. Bahkan, diperkirakan jumlah penderita hipertensi akan meningkat menjadi 1,6 milyar menjelang tahun Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2013 melaporkan bahwa hipertensi adalah suatu kondisi berisiko tinggi yang menyebabkan sekitar 51% dari kematian akibat stroke dan 45% dari jantung koroner. Menurut Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2013 di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2013 prevalensi hipertensi sebesar 30,4%, ini berarti sekitar 1. orang mengalami hipertensi. Faktor resiko perilaku penyebab terjadi PTM adalah pendudukan kurang melakukan aktivitas fisik sebanyak 26,1%, penduduk >10 tahun minum minuman beralkohol sebanyak 4,6%, penduduk usia >15 tahun merokok sebanyak 36,3% dan penduduk >10 tahun kurang mengkonsumsi sayur dan buah. Saat ini pemerintah mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan gerakan masyarakat hidup sehat dengan melakukan aktivitas fisik, konsumsi sayur dan buah serta memeriksa kesehatan secara berkala. Dalam hal ini peran serta tenaga kesehatan sangatlah penting, salah satunya dengan mengubah perilaku masyarakat untuk melakukan aktivitas Pendekatan yang lebih komprehensif dan intensif diperlukan guna mengubah perilaku sehingga pengontrolan tekanan darah secara optimal dapat tercapai. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan partisipasi aktif para profesional kesehatan khususnya farmasis yang melaksanakan praktek profesinya pada setiap tempat pelayanan kesehatan. Farmasis dapat bekerja sama dengan profesional kesehatan lain dalam memberikan konseling dan edukasi kepada pasien mengenai hipertensi, memonitor respon pasien melalui farmasi komunitas. AKADEMI FARMASI SAMARINDA SAFTIA ARYZKI Peranan penting dari farmasis untuk meningkatkan kesadaran pasien untuk mengubah perilaku pasien, dengan memberikan edukasi tentang penyakit yang sedang dialami kepada pasien dan keluarga, meningkatkan motivasi kepada pasien dalam menjalani pengobatan. Metode konseling sudah banyak dilakukan, diantaranya pada program perilaku pasien dalam aktivitas fisik. Penelitian yang telah dilakukan Aryzki . dengan kesimpulan brief counseling Au5AAy oleh farmasis secara positif dapat mengubah kebiasaan aktivitas fisik secara signifikan . <0,. pada kelompok perlakuan pasien hipertensi di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Dengan adanya metode konseling ini, maka dapat membantu program pemerintah dalam mencapat tujuan masyarakat hidup sehat. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuasi-eksperimental menggunakan rancangan penelitian two group pretest and postest dengan pengambilan data pasien secara prospektif. Pasien dikelompokkan secara acak menjadi dua kelompok yang berbeda, yaitu kelompok yang mendapat intervensi berupa brief counseling dari farmasis/peneliti dan kelompok tanpa intervensi . yang diikuti selama satu bulan untuk mengamati perubahan perilaku pasien dalam melakukan aktivitas fisik dan hasil terapi . enurunan tekanan dara. Teknik dalam memberikan konseling dengan konseling singkat . rief counselin. yang dijabarkan dalam strategi 5A yaitu. Assess. Advise. Agree. Assist dan Arrange. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini dengan menggunakan kuisioner. Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung. Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga disebut angket berisi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh responden. JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 30-37, 2019 Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan persepsinya. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode counsecutive sampling dengan simple random yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan oleh peneliti. Adapun kriteria inklusi adalah pasien berusia 18-65 tahun dan bersedia mengikuti penelitian. Sedangkan kriteria eksklusi adalah hamil, buta dan tuli, hanya keluarga pasien dan tidak hadir pada kunjungan kedua. Penelitian ini dilakukan di poliklinik penyakit dalam RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari-Maret Tahun 2018. Kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner aktivitas fisik. Jumlah aktivitas fisik yang dilakukan diukur dengan menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Analisis statistik dan pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program SPSS HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan di poliklinik penyakit dalam RSUD Ulin Banjarmasin SAFTIA ARYZKI periode januari-februari 2018. Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien hipertensi yang datang ke RSUD Ulin Banjarmasin dengan jumlah 242 populasi. sedangkan sampel pada penelitian ini adalah bagian dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 64 sampel dengan 32 sampel sebagai kelompok kontrol dan 32 sampel sebagai kelompok intervensi. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pasien berusia 18-60 tahun dan bersedia mengikuti penelitian. Sedangkan untuk kriteria ekslusi adalah hamil, tuli dan tuli, hanya keluarga pasien serta tidak hadir pada kunjungan kedua. Dari 242 populasi ada 182 pasien ekslusi yang terdiri dari 35 pasien tidak bersedia, 52 pasien karena usia >65 tahun, 31 pasien hanya keluarga, 62 pasien terlewatkan dan 2 sampel mengundurkan diri pada kelompok intervensi saat pengambilan data kunjungan kedua sehingga pada kelompok kontrol harus dikurang 2 sampel. Karakteristik sampel pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1. Karakteristik subjek penelitian pasien hipertensi di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Ulin Banjarmasin Karakteristik Pasien Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Usia < 45 tahun > 45 tahun Pendidikan 0-9 tahun > 9 tahun Pekerjaan Tinggi Rendah Jenis Pembayaran BPJS Umum Kelompok Kontrok N = 30 Kelompok Perlakuan N = 30 0,296 0,690 0,440 0,442 0,563 Keterangan : Pekerjaan Tinggi : Pegawai Negri Sipil (PNS). Swasta. Wiraswasta. Pekerjaan Rendah : Ibu Rumah Tangga (IRT). Buruh. Petani/Buruh Tani. AKADEMI FARMASI SAMARINDA JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 30-37, 2019 SAFTIA ARYZKI * = Terdapat perbedaan bermakna . <0,. antara kelompok perlakuan dengan Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat . yang mengatakan prevalensi karakteristik subjek penelitian pasien hipertensi meningkat seiring dengan hipertensi di poliklinik penyakit dalam bertambahnya usia Hal ini disebabkan RSUD Ulin Banjarmasin. Berdasarkan karena perubahan alami pada jantung, karakteristik jenis kelamin dapat dilihat pembuluh darah dan kadar hormon dapat bahwa pada kelompok kontrol dan perlakuan meningkatkan tekanan darah seiring dengan sama-sama jumlah pasien perempuan lebih bertambahnya usia. Semakin tua usia. Pada kelompok kontrol jenis kejadian tekanan darah tinggi . kelamin laki-laki sebanyak 10 pasien semakin tinggi. Hal ini dikarenakan pada . ,3%) dan jenis kelamin perempuan usia tua terjadi perubahan struktural dan sebanyak 20 pasien . ,7%). Sedangkan fungsional pada sistem pembuluh darah untuk kelompok perlakuan jenis kelamin perifer yang bertanggung jawab pada laki-laki sebanyak 14 pasien . ,7%) dan perubahan tekanan darah yang terjadi pada jenis kelamin perempuan sebanyak 16 usia lanjut. ,3%). Hal ini sesuai dengan Karakteristik pendidikan pasien pada penelitian Dimeo, et all . yang kelompok kontrol dan kelompok perlakuan menemukan bahwa jumlah penderita untuk pedidikan 0-9 tahun secara berturuthipertensi perempuan lebih banyak daripada turut 12 pasien . %) dan 15 pasien . %), . laki-laki . Ini dikarenakan perempuan kemudian diikuti pendidikan >9 tahun mengalami menopause, yang pada kondisi sebanyak 18 pasien . %) dan 15 pasien tersebut terjadi perubahan hormonal, yaitu . %). Berdasarkan penelitian Alhaiqa, et terjadi penurunan perbandingan estrogen all . menyatakan bahwa ada hubungan Tingginya risiko terkena hipertensi pada peningkatan pelepasan renin, sehingga dapat pendidikan yang rendah, kemungkinan memicu peningkatan tekanan darah. disebabkan kurangnya pengetahuan pada Pada karakteristik usia pasien, pasien yang berpendidikan rendah terhadap kategori pasien dibagi menjadi 2 kelompok kesehatan dan sulit atau lambat menerima yaitu usia < 45 tahun dan usia > 45 tahun. yang diberikan oleh Pembagian kelompok usia ini didasarkan petugas kesehatan sehingga berdampak pada pembagian kategori usia menurut Organisasi perilaku/pola hidup sehat. Menurut Aryzki Kesehatan Dunia (WHO) . Pada usia < 45 . pendidikan merupakan salah satu tahun merupakan masa remaja akhir faktor yang mempengaruhi pengetahuan, sebelum memasuki masa lanjut awal. Pada semakin tinggi pendidikan seseorang maka kelompok kontrol pasien dengan usia < 45 akan berpengaruh terhadap pengetahuan tahun sebanyak 3 pasien . %) dan dengan yang baik pula. Hasil Riskesdas tahun usia >45 tahun sebanyak 27 pasien . %). 2013 dalam Badan Penelitian dan Sedangkan untuk kelompok perlakuan Pengembangan Kesehatan . pasien dengan usia < 45 tahun sebanyak 4 menyatakan bahwa penyakit hipertensi pasien . ,3%) dan dengan usia >45 tahun . ekanan darah tingg. cenderung tinggi pada sebanyak 26 pasien . ,7%). Dari data pendidikan rendah dan menurun sesuai tersebut dapat dilihat bahwa pada kelompok pendidikan. kontrol ataupun perlakuan lebih banyak pada Tingginya risiko terkena hipertensi pada kelompok usia >45 tahun. Hasil penelitian pendidikan yang rendah, kemungkinan ini sesuai dengan pernyataan Junaedi dkk. disebabkan karena kurangnya pengetahuan AKADEMI FARMASI SAMARINDA JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 30-37, 2019 pada seseorang yang berpendidikan rendah terhadap kesehatan dan sulit atau lambat menerima informasi . yang diberikan oleh petugas sehingga berdampak pada perilaku/pola hidup sehat. Berdasarkan pekerjaan pasien, pasien dengan kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dengan pekerjaan tinggi (PNS, swasta dan wiraswast. secara berturut-turut sebanyak 17 pasien . ,7%) dan 14 pasien . ,7%) sedangkan untuk pekerjaan rendah . idak bekerja, buruh, petani/buruh tani dan IRT) sebanyak 13 pasien . ,3%) dan 16 pasien . ,3%). Berdasarkan penelitian Aryzki . menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan . =0,. Pembagian kategori pekerjaan ini didasarkan pada tingkat stres yang didapatkan oleh pasien dari pekerjaan pasien. Stres dalam bekerja dapat meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung yang menstimulasi aktivitas saraf simpatis untuk pengeluarkan hormon adrenalin yang menyebabkan jantung berdenyut lebih cepat dan menyebabkan penyempitan pembuluh darah perifer yang dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan darah. Hasil dari uji analisis yang dilakukan pada data karakteristik pasien hipertensi dapat dilihat bahwa antara kelompok kontrol dan SAFTIA ARYZKI perlakuan diperoleh tidak ada perbedaan yang signifikan . >0,. pada jenis kelamin . , usia . , pendidikan . , pekerjaan . dan jenis pembayaran . Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa karakteristik pasien antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan Berdasarkan penelitian Aryzki . didapatkan hasil bahwa umur, pendidikan, pekerjaan. IMT, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kebiasaan olahraga, asupan natrium, asupan kalium, asupan lemak berhubungan secara statistik dengan tekanan darah. Pada pengambilan data kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan. Sedangkan pada kelompok perlakuan diberikan intervensi brief counseling. Teknik mudah dalam memberikan konseling salah satunya dengan konseling singkat . rief counselin. yang dijabarkan dalam strategi 5A yaitu. Assess. Advise. Agree. Assist dan Arrange. Konseling singkat memiliki beberapa kelebihan yaitu efisiensi waktu dan lebih praktis karena sudah ada penilaian terhadap kondisi pasien. Pada brief counseling 5A praktisi mengembangkan partnership dengan pasien dan bertukar informasi untuk memfasilitasi pengambilan keputusan pasien, pasien berhak menentukan pengobatan yang ia pilih. Tabel 2. Penilaian Terhadap Data Awal Pasien terhadap Aktivitas Fisik dan Tekanan Darah Data Awal (Pr. Aktifitas Fisik Ringan Sedang Berat Tingkat Hipertensi Normal Prehitertensi HT st. HT st. Kelompok Kontrol N = 30 Kelompok Perlakuan N = 30 0,366 0,066 0,733 0,001 0,566 0,333 0,828 AKADEMI FARMASI SAMARINDA JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 30-37, 2019 SAFTIA ARYZKI Keterangan: * = Terdapat perbedaan bermakna . <0,. antara kelompok perlakuan dengan Faktor yang dapat mempengaruhi kategori ringan sebanyak 2 pasien . ,7%), tekanan darah adalah aktivitas fisik. kategori sedang sebanyak 25 pasien . ,3%) Kurangnya aktifitas fisik meningkatkan dan kategori benar sebanyak 3 pasien . %). Berdasarkan analisis data aktifitas fisik pada meningkatkan risiko kelebihan berat badan. kelompok kontrol dengan Wilcoxon Test Orang yang kurang melakukan aktivitas fisik yang menunjukkan data memiliki perbedaan juga cenderung mempunyai frekuensi yang signifikan . <0,. Sedangkan denyut jantung yang lebih tinggi sehingga analisis data aktifitas fisik pada kelompok otot jantungnya harus bekerja lebih keras perlakuan dengan Wilcoxon Test yang pada setiap kontraksi. Makin keras dan menunjukkan data tidak memiliki perbedaan sering otot jantung harus memompa, makin yang signifikan . >0,. Dari analisis data besar tekanan yang dibebankan pada yang telah dilakukan dapat dikatakan bahwa arteri. Peningkatan tekanan darah yang intervensi yang dilakukan oleh farmasis disebabkan oleh aktivitas yang kurang akan dapat memberikan hasil yang positif bagi menyebabkan terjadinya komplikasi seperti pasien hipertensi, pasien melakukan penyakit jantung koroner, gangguan fungsi aktivitas fisik yang akhirnya akan membantu ginjal, stroke dan sebagainya. Berdasarkan pasien untuk mencapai keberhasilan dalam penelitian Sihombing . , secara umum Penelitian ini sejalan dengan lansia yang tidak melakukan aktivitas fisik penelitian terkait yang dilakukan oleh Karim HST hasil penelitian ini menunjukkan (Hipertensi Sistolik Terisolas. yaitu dengan bahwa ada hubungan antara aktifitas fisik angka kejadian sebesar 2,336 kali beresiko dengan kejadian hipertensi, sebanyak 64,4% . terkena hipertensi . Hipertensi Sistolik responden yang memiliki aktivitas fisik Terisolasi yaitu hipertensi yang terjadi ringan menderita hipertensi, sedangkan ketika tekanan sistolik mencapai 140 mmHg 100% responden yang beraktifitas fisik atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang sedang tidak hipertensi. Hasil penelitian dari 90 mmHg. Jadii tekanan diastolik masih sejalan dengan pernyataan Junaedi dkk. dalam kisaran normal sedangkan tekanan . mengatakan bahwa seseorang yang sistolik cenderung tinggi. tidak aktif memiliki frekuensi denyut Secara sederhana, jumlah aktivitas jantung lebih tinggi sehingga otot jantung fisik yang dilakukan dapat diukur dengan harus bekerja lebih keras pada saat kontraksi International Physical sehingga menyebabkan kenaikan tekanan . Activity Questionnaire (IPAQ) . Kuesioner darah. ini mengukur semua aktivitas fisik di waktu Berdasarkan analisis data tekanan santai, pekerjaan rumah, aktivitas fisik yang darah pada kelompok kontrol dengan berhubungan dengan pekerjaan atau Wilcoxon Test yang menunjukkan data memiliki perbedaan yang signifikan pergerakan/transport dalam tujuh hari . <0,. Sedangkan analisis data tekanan . Berdasarkan tabel 3, data darah pada kelompok perlakuan dengan kunjungan kedua . pada kelompok Wilcoxon Test yang menunjukkan data kontrol aktivitas fisik pada kategori ringan, memiliki perbedaan yang signifikan sedang dan berat terdapat jumlah pasien . <0,. Dari data tersebut dapat dilihat yang sama yaitu 10 pasien . ,3%). bahwa dengan melakukan aktivitas fisik Sedangkan pada kelompok perlakuan pada maka akan membantu dalam mengontrol AKADEMI FARMASI SAMARINDA JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 30-37, 2019 tekanan darah pasien sehingga tujuan dari pengobatan dapat tercapai. Penelitian juga berolahraga memiliki faktor risiko lebih rendah untuk menderita penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi. Orang yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30- 50% daripada yang Oleh karena itu, latihan fisik antara 3045 menit sebanyak >3x/hari penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi. Salah satu bentuk latihan fisik adalah dengan Prinsip terpenting dalam olahraga bagi orang yang menderita hipertensi adalah mulai dengan olahraga ringan yang dapat berupa jalan kaki ataupun berlari-lari kecil. Olahraga teratur dengan modifikasi diet telah terbukti berhubungan dengan penurunan tekanan darah yang signifikan lebih besar di keduaya . istolik dan diastoli. SBP . 5 mm H. dan DBP . 4 mm H. bila dibandingkan hanya dengan pengaturan pola makan di antara pasien hipertensi. Studi meta-analisis yang dilakukan random terhadap penderita hipertensi, terbukti bahwa latihan aerobik secara teratur dapat menurunkan tekanan darah dengan rata-rata 4/3 mmHg. Beberapa penderita RH di Amerika dan Afrika, 16 minggu bersepeda stasioner 3 kali seminggu terbukti mampu mengurangi tekanan darah sebesar 7/5 mmHg. Studi random lain juga membuktikan bahwa latihan aerobik pada 50 penderita hipertensi selama 8-12 minggu mampu menurunkan tekanan darah sebesar 12/7mmHg. 15 Berdasarkan pengamatan fisik/olahraga harus dimasukkan pada pendekatatan terapi RH. Pemerintah juga telah menghimbau untuk seluruh masyarakat agar melakukan aktifitas fisik setiap hari nya dengan program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). GERMAS merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh SAFTIA ARYZKI komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. GERMAS secara nasional dimulai dengan berfokus pada tiga kegiatan, yaitu: . Melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari, . Mengonsumsi buah dan sayur. Memeriksakan kesehatan secara rutin. SIMPULAN Pasien dengan kelompok perlakuan yang telah diberikan intervensi dengan melakukan aktivitas fisik dapat membantu keberhasilan terapi. DAFTAR PUSTAKA