Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 KOMPETENSI PROFESIONAL GURU (Studi Kualitatif di Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu Nurul Fikri Boarding School Bogo. Wahyu Bhekti Prasojo1. Nurhadi2. Ilma Nur Aqila3 1,2,3 Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok ABSTRACT This study aims to examine: . the professional competence of teachers at SMP Islam Terpadu Nurul Fikri Boarding School Bogor. the supporting and inhibiting factors affecting teacherAos professional competence at the school. the solutions that have been implemented to enhance teacherAos professional Professional competence is a crucial aspect in improving the quality of education, encompassing mastery of subject matter, the ablitu to design, implement, ang evaluate the teaching and learning process effectively and This research is motivated by observations indicating that while many teachers have demonstrated strong professional competence, there are still shortcomings, particularly in the utillisation of Learning Management Systems (LMS), the development of teaching modules, and the achievent of supervision The study employs a qualitative-descriptive approach, using data collection techniques such as observation, in-depth interviews, and documentation. The findings reveal that, in general, the teachers at this school exhibit good professional However, several inhibiting factors remain, including a lack of advanced training, limited time for professional development, and constraints in mastering educational technology. The solutiosimplementes by the school include enhancing internal training, conducting regular supervision, providing mentoring in the development of teaching materials, and fostering a culture of continuous learning among teachers. This study is expected to contribute to the improvement of teacher quality and the overall enhancement of educational standards. Keywords: teacher competences, professional competence, swot analysis. LATAR BELAKANG Pendidikan, menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, adalah upaya sadar untuk mengembangkan potensi peserta didik secara holistik, mencakup aspek spiritual, intelektual, moral, dan keterampilan, guna membentuk manusia yang berakhlak mulia dan bermanfaat bagi masyarakat. Guru memiliki peran sentral sebagai fasilitator utama dalam proses pembelajaran, bertugas menggali dan mengoptimalkan potensi siswa agar menjadi individu yang beretika dan mampu berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai garda terdepan pendidikan, guru menjadi komponen kunci dalam menentukan mutu pendidikan, yang pada akhirnya memengaruhi kemajuan bangsa. Dalam proses pembelajaran, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga membentuk karakter siswa agar memahami peran mereka Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 sebagai manusia. Guru profesional diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang bermakna, kreatif, dan dinamis, sehingga menginspirasi siswa untuk aktif Kompetensi profesional, sebagaimana diatur dalam PP No. 19 Tahun 2005, mencakup penguasaan materi secara mendalam dan kemampuan membimbing siswa sesuai standar nasional pendidikan, yang diperkuat oleh UU No. 14 Tahun 2005 tentang peran guru sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Dalam perspektif Islam, profesi guru dianggap mulia, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, yang disebut sebagai pendidik Al-QurAoan, dalam Q. Al-Baqarah: 129, menyatakan, acIa aO ea e AaO aN eI aa A A aO eEa eE aIa aOOa aEaO aN eI uaIacEa a eIa eEa aOa eE aEaO aIA a AOUE aI eI aN eI OaeEaOA a a AEa eO aN eI OaaEa aOOaa aE aI aN aI eE aEA (Artinya: AuYa Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab suci dan hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha BijaksanaA. Ayat ini menegaskan bahwa pendidik tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak mulia. Hadis Nabi Muhammad SAW juga menekankan pentingnya peran guru dalam menyebarkan kebaikan. AEaO aO se AaEaNa aIe aE e a Aa a aE aNA a A aI eI a acEA: AEac aIA a a acE cEEA a aAO s a a aO cEEA a ANEEA a AEa eO aN aOA a AEaOA a A eINa Ca aE aA e AA a A eaI a a eOA Terjemahan hadits di atas dalam bahasa Indonesia kurang lebih: AuBarang siapa menunjukkan kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannyaAy. Hadis ini relevan bagi guru, yang melalui pengajaran ilmu dan akhlak, memperoleh pahala dari kebaikan yang dilakukan siswa. Dengan demikian, guru memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk generasi yang berilmu dan berakhlak mulia, sesuai dengan nilai-nilai Islam dan tujuan pendidikan nasional. Tantangan era revolusi industri 4. 0 menuntut guru untuk lebih profesional, tidak hanya menguasai materi keilmuan, tetapi juga teknologi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan dinamika siswa serta perkembangan zaman. Kurangnya profesionalisme guru dapat menyebabkan pembelajaran yang kurang menarik, berdampak pada menurunnya kualitas pendidikan. Oleh karena itu, guru harus terus mengembangkan kompetensi profesional melalui pembelajaran berkelanjutan, perancangan strategi pengajaran yang tepat, dan penilaian yang menggali aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. SMPIT Nurul Fikri Boarding School Bogor, berlokasi di bawah Gunung Salak, menerapkan konsep SMART (Sholeh. Muslih. Cerdas. Mandiri. Terampi. untuk membentuk profil pelajar yang selaras dengan tujuan pendidikan nasional dan nilai-nilai Islam. Observasi awal pada November 2024 menunjukkan bahwa sebagian besar guru di sekolah ini memiliki pemahaman baik tentang kompetensi profesional, namun terdapat kekurangan dalam perencanaan dan pelaksanaan Capaian supervisi Sistem Manajemen Pembelajaran (LMS) hanya 59,5% dari target 65%, dan Learning Observation hanya 65% dari target 76%, menunjukkan adanya celah yang perlu diperbaiki. Abu Husayn Muslim bin Hajaj al Naisabury,tt. Shahih muslim. Daar al Turats al Arab. Juz i hlm. 1506 no. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompetensi profesional guru di SMPIT Nurul Fikri Boarding School Bogor melalui pendekatan SWOT, dengan mengidentifikasi kekuatan seperti kualifikasi akademik dan metode pembelajaran yang mendukung visi SMART, kelemahan seperti ketidaksesuaian perencanaan dan pelaksanaan, peluang untuk memanfaatkan pelatihan dan teknologi guna meningkatkan kualitas pendidikan, serta ancaman seperti tekanan standar tinggi dan beban administratif, untuk merumuskan solusi yang mendukung pembentukan generasi berilmu, berakhlak, dan siap berkontribusi bagi bangsa sesuai standar nasional. KAJIAN LITERATUR Kompetensi Guru Kompetensi guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan dalam bentuk perilaku cerdas dalam menjalankan profesinya, jelas bahwa seorang guru dalam menjalankan profesinya. Jelas bahwa seorang guru dituntut memiliki kompetensi atau kemampuan dalam ilmu yang dimiliknya, kemampuan penguasaan mata pelajaran, kemampuan berinteraksi sosial baik dengan sesama peserta didik maupun dengan sesama guru dan kepala sekolah, bahkan dengan masyarakat luas. Hal ini sejalan dengan pandangan Makmun bahwa: setiap kompetensi pada dasarnya mempunyai 6 unsur yaitu: . performance, penampilan sesuai dengan profesinya. subject component, penguasaan bahan/subsansi pengetahuan dan keterampilan teknis sesuai bidang profesinya. proses, kemampuan intelektual seperti berpikir logis, pemecahan masalah, kreatif. adjusment, penyesuaian diri. Sikap, nilai dan kepribadian. Berdasarkan kutipan di atas dapat dinyatakan bahwa kompetensi guru merujuk pada kemampuan dan kualitas yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk mengjajar dan membimbing siswa secara efektif sehingga mereka dapat mencapai potensi maksimal mereka. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, guru harus memiliki 4 jenis kompetensi diantaranya kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Seorang dikatakan guru profesional apabila telat memenuhi keempat kompetensi berikut. Kompetensi Pedagogik Kompetensi pedagogik merupakan kompetensi utama yang harus dimiliki oleh seorang guru karena kompetensi ini berkaitan langsung dengan peserta didik. Berdasarkan PP No. 19 Tahun 2005 bahwa kompetensi pedagogik merupakan kemaampuan yang berkenaan dengan pemahaman peserta didik dan pengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Mulyasa mengatakan bahwa kompetensi pedagogik yaitu menguasai dan memahami karakter serta mengidentifikasi potensi dan kesulitan belajar siswa. Guru harus mampu mengembangkan kurikulum sehingga mampu membuat Feralya Novauli. Kompetensi Guru dalam peningkatan prestasi belajar pada SMP Negri dalam Kota Banda Aceh. Jurnal Administrasi Pendidikan. Vol. No. 1, 2015, hlm. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 rancangan pembelajaran yang menarik dan memanfaatkan teknologi dan informasi untuk kepentingan pendidikan. Secara rinci masing-masing elemen kompetensi pedagogik tersebut dapat dijabarkan, sebagai berikut: . Memahami peserta didik. Merancang . Melaksanakan pembelajaran. Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran. Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan sebagai potensi yang dimilikinya. Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Kepribadian merupakan landasan utama bagi perwujudan diri sebagai guru yang efektif baik dalam melaksanakan tugas profesionalnya di lingkungan pendidikan dan di lingkungan kehiduopan lainnya. Dapat dimaknai bahwa seorang guru harus mampu mewujudkan pribadi yang efektif. Karakteristik kepribadian yang terkait dengan keberhasilan seprang guru dalam menjalankan profesinya mencakup fleksibilitas kognitid dan keterbukaan Fleksibilitas kognitif, atau kemampuan untuk berpikir dan bertindak secara simultan dan tepat dalam situasi tertentu, merupakan aspek penting dari kepribadian seorang guru. Guru yang fleksibel biasanya ditandai dengan kemampuan berpikir dan beradaptasi yang terbuka. Selain itu, mereka memiliki daya tahan terhadap penutupan prematur dari ranah kreatif dalam pengamatan dan Kompetensi Sosial Merupakan kemampuan guru sebagai makhluk sosial dalam berinteraksi dengan orang lain, kompetensi ini berhubungan dengan kemampuan guru sebagai anggota masyarakat dan makhluk sosial, meliputi. kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi. kemampuan guru dalam menjamin komunikasi dengan pemimpin. kemampuan guru berkomunikasi dengan orang tua belajar. kemampuan guru berkomunikasi dengan masyarakat. Kompetensi Profesional Kemampuan guru dalam penguasaan materi pelajaran secara luas dan Proses belajar dan hasil belajar peserta didik bukan saja ditentukan oleh sekolah, pola, struktur, dan isi kurikulumya akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing, guru yang kompeten akan lebih mampu memciptakan lingkungan belajar yang efektif, menyenangkan, dan Sopamena. Syafruddin Kaliky, 2020. Peta Kompetensi Guru dan Mutu Pendidikan Maluku. Ambon LP2M IAIN Ambon, hlm. Pinton Setya Mustafa, 2024. Profesi Keguruan untuk Mahasiswa Pnedidikan dan Keguruan. Mataram : Anggota Ikatan Penerbit Indonesia, hlm. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 akan lebih mampu mengelola kelasnya, sehingga belajar peserta didik berada pada tingkat optimal. Kompetensi Profesional Guru Pengertian Kompetensi Profesional Guru Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan mereka membimbing peserta didik dalam menguasai materi yang diajarkan. Guru yang bermutu dan profesional menjadi tuntutan masyarakat seiring dengan tuntutan persyaratan kerja yang semakin kuat mengikuti kemajuan era globalisasi. Untuk membentuk guru profesional tentunya sangat tergantung pada banyak hal yaitu guru sendiri, pemerintah, masyarakat, dan orang tua. Berdasarkan kenyataan yang ada, pemerintah telah mengupayakan berbagai hal diantaranya dengan adanya sertifikasi guru. Dengan adanya program sertifikasi tersebut, kualitas mengajar guru akan lebih baik. Maka dari itu, sebagai guru pendidik yang profesioanal tentunya memiliki kemampuan kompetensi yang tinggi, sikap yang baik, serta tanggung jawab yang mencerminkan teladan yang baik bagi peserta didik dan untuk masyarakat. Untuk meningkatkan profesionalisme seorang guru dapat dilakukan dengan beberapa upaya, salah satunya dengan supervisi yang dilakukan oleh supervisor dan dengan cara yang lain seperti senantiasa dalam meningkatkan kedisiplinan, penyediaan fasilitas yang memadai, melakukan penataran, dan dengan mengadakan beberapa seminar dan pelatihan-pelatihan. Guru sebagai seorang pendidik yang profesional harus memiliki pengetahuan dan kemampuan yang sesuai dengan runtunan profesi yang disandangnya. Keprofesionalan seorang guru sangat dituntut dalam melaksanakan tugasnya. Berbicara mengenai kompetensi profesional berarti berbicara tentang sebarapa guru dapat memberikan pelayanan pembelajaran terhadap peserta Karena kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang menghubungan isi materi pembelajaran dengan memanfaatkan menggunakan teknologi komunikasi dan informasi serta memberikan bimbingan kepada peserta didik yang sesuai dengan standar nasional. 8 Maka dari itu, sebagai seorang guru dituntut harus memiliki wawasan yang luar serta penguasaan mengenai konsep teoritik, mampu memilih model, strategi, dan metode yang tepat dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Guru dapat dinilai profesional ketika dia melakukan pengembangan wawasan dan ilmu, mampu menalaah secara krisis, serta kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi. Guru yang profesional adalah guru yang melakukan proses Hendrita, dkk,2023. Pendidikan dan Pelatihan Kompetensi Manajerial Guru. Yogyakarta : Tanah Air Beta, hlm. Syarifah Widya Ulfa dkk. Kompetensi profesional guru dalam proses pembelajaran. Jurnal Publikasi Riset Ilmu Pendidikan dan Bahasa. Vol. No. 2024, hlm. Wisnami. Implikasi Guru Profesional dalam pembentukan karkter siswa. Jurnal Tarbawi. Vol. No. 1, 2018, hlm. Indah Hari Utami dan Aswatun Hasanah. Kompetensi Profesional Guru dalam Penerapan Pembelajaran Tematik di SD Negeri Magueoharjo 1 Yogyakarta, hlm. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 belajar sebagai sumber penghasilah kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakaoan yang memenuhi standar prinsip-prinsip profesional yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai berikut: Memiliki bakat, minat panggilan jiwa dan idealisme Memiliki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugasnya Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya Mematuhi kode etik profesi Memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan tugas Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya Memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secaraberkelanjutan Memperbaiki perlindungan hukum dalam melaksankan tugas profesionalnya Memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum. Guru profesional tidak hanya mengajar dan mengejar keterselesainya materi pelajaran saja, namun harus dapat mewujudkan kompetensi siwa dari apa yang telah Guru profesional tidak hanya mampu mengajar bagi siswanya, melainkan dirinya juga menjadi bagian dari masyarakat belajar. Dalam artian dirinya tidak hanya puas dengan kemampuan yang dimilikinya melainkan juga mampu meningkatkan kemampuan agar tujuan pembelajaran dan pendidikan terwujud sebagai bentuk pertanggung jawaban dan komitmennya terhadap Menurut Sanjaya, profesionalitas guru meliputi: Penguasaan landasan kependidikan, dalam kompetensi ini termasuk: Memahami tujuan pendidikan Mengetahui fungsi sekolah masyarakat Mengenal prinsip-prinsip prsikologi pendidikan Pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan yang meliputi pemahaman tentang perkembangan siswa, pemahaman tentang teori belajar dan Pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan yang meliputi pemahaman tentang perkembangan siswa, pemahaman tentang teori-teori belajar dan Kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber Kemampuan dalam melakukan evaluasi pembelajaran. Kemampuan dalam menyusun program pembelajaran. Kompetensi profesional guru yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru dalam perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran. Guru bertugas untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran, untuk itu guru dituntut mampu menyampaikan bahan pelajaran. Syarifah, op. , hlm. Nurfuadi, 2021. Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam dalam Manajemen Mutu Pendidikan. Jawa Tengah : Lutfi Gilang, hlm. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 Kompetensi atau kemampuan professional yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan aspek:11 Dalam menyampaikan pembelajaran, guru mempunyai peranan dan tugas sebagai sumber materi yang tidak pernah kering dalam mengelola proses Kegiatan mengajarnya harus disambut oleh siswa sebagai suatu seni pengelolaan proses pembelajaran yang diperoleh melalui latihan, pengalaman, dan kemauan belajar yang tidak pernah putus. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, keaktifan siswa harus selalu diciptakan, dan berjalan terus dengan menggunakan metode dan strategi mengajar yang tepat. Guru menciptakan suasana yang dapat mendorong siswa untuk bertanya, mengamati, mengadakan esksperimen, serta menemukan fakta dan konsep yang benar. Di dalam pelakasnan proses pembelajaran, guru harus memperhatikan prinsip-prinsip didaktik metodik sebagai ilmu keguruan. Dalam hal evaluasi, secara teori dan praktik guru harus dapat melaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin diukurnya. Sebagaimana yang tercantum pada pasal 8 UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bahwa guru wajib memiliki : kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan Rohani, serta memiliki kemampun untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Karakteristik Guru Profesional12 Sehat Jasmani dan Rohani Dalam menjalankan tugas pengajaran, kondisi fisik serta mental yang memungkinkan dapat membuat seorang guru lebih mudah dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik. Karena seorang pendidik merupakan petugas lapangan dalam hal pendidikan sehingga kesehatan jasmani adalah faktor yang akan menentukan lancar dan tidaknya pendidikan. Menguasai Kurikulum Seorang pendidik atau guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran hendaknya mengacu pada kurikulum yang berlaku atau yang telah ditetapkan oleh Kurikulum yang dimaksud adalah serangkaian rencana dari pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Menguasai Materi yang diajarkan Dalam sebuah pembelajaran, penguasaan materi seorang pendidik sangat berpengaruh pada penyampaian informasi kepada peserta didik. Karena apabila pendidik tidak menguasai materi yang dia sampaikan maka dalam penyampaian materi atau informasi tidak dapat dilakukan secara efektif. Wahyu Bhekti Prasojo. Masfarmawati Muslim & Sutija. Upaya Peningkatan Profesionalisme Guru. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam El Madrasa Sekolah Tinggi Agama Islam Al Qudwah. Vo. 4 No. 2 2024, hlm 59. Anggun Gunawan dan Irsyad. Guru Profesional. Makna dan Karakteristik. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora. Vol. No. 2, 2023, hlm. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 Terampil menggunakan berbagai Metode Pembelajaran Metode pengajaran merupakan salah satu unsur penting dalam penyampaian materi pembelajaran kepada peserta didik untuk lebih giat dalam belajar dan juga dapat lebih mudah memahami apa yang disampaikan pendidik. Selain metode, kondisi, suasana kelas serta psikologis anak juga harus diperhatikan oleh seorang pendidik. METODOLOGI Pendekatan Kwalitatif Untuk memperoleh data, fakta, dan informasi yang akan mengungkapkan dan menjelaskan permasalahan dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendeskripsikan permasahalan dan fokus penelitian. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menekankan pada pemahaman mengenai masalah-masalah dalam kehidupan social berdasarkan kondisi realitas atau natural setting yang holistis, kompleks, dan rincingan. Penelitian yang menggunakan induksi yang mempunyai tujuan penyusunan konstruksi teori atau hipotesis melalui pengungkapan fakta merupakan penelitian yang menggunakan paradigma Menurut Suryomo, penelitian kualitatif merupakan penelitian ymg digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh soal yang tidak dapat dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kuantitatif. Teknik Pengumpulan Data Adapun teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah dengan menggunakan teknik sebagai berikut: Observasi Observasi atau yang disebut juga dengan pengamatan meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh indra jadi, observasi merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan panca indra disertai dengan pencatatan secara perinci terhadap objek penelitian. Wawancara Wawancara merupakan proses komunikasi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab anatara peneliti dengan subjek penelitian. Wawancara dilakukan peneliti dengan alasan agar peneliti mampu mengajukan pertanyaan dengan bertatap muka langsung pada partisipan. Dengan penggunaan teknik wawancara, partisipan juga lebih bisa menyampaikan informasi secara langsung sehingga peneliti mampu mendapatkan jawaban yang lebih rinci dan pertanyaanpertanyaan yang diajukan peneliti kepada partisipan. Eko Murdiyanto, 2020. Metode Penelitian Kualitatif Yogyakarta : katalog dalam terbitan, hlm. Abdul Fattah. Metode Penelitian kualitatif. Bandung : reduksi hlm. Anggy Giri Prawiyogiy dkk. Penggunaan Media Big Book untuk Menumbuhkan Minat Baca Siswa di Sekolah Dasar. Jurnal BASICEDU. Vol. No. 1, 2021, hlm. Zhahara, dkk. Pengelolaan LKP Pada Masa Pandemi COVID-10. Jurnal Of Lifelong Learning. Vol. No. 1, 2021, hlm. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 Teknik Dokumentasi Teknik dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data penelitian melalui sejumlah dokumen . nformasi yang dikomentasika. berupa dokumen tertulis maupun dokumen terekam. Dokumen tertulis dapat berupa arsip, catatan harian, autobiografi, memorial, kumpulan surat pribadi, kliping dan sebagainya. Sementara dokumen terekam dapat berupa film, kaset rekaman, mikrofilm, foto dan Metode Analisis Swot Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata analisis diartikan sebagai proses pemecahan masalah atau pemasalahan yang dimulai dengan akan kebenarannya dan dapat juga diartikan sebagai pengkajian terhadap suatu persitiwa . indakan, hasil pemikiran dan sebagainy. Adapun kata SWOT merupakan singkatan dari Strengths . Weakness . Opprtunities . , dan Treaths . Untukkekuatan dan kelemahan berasal dari lingkungan internal sedangkanpeluang dan hambatan, berasaldarilingkunganeksternal. Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk menrumuskan strategi. Metode perencanaan strategi yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan . , kelemahan . , peluang . , dan ancaman . Analisis SWOT mencakup upaya-upaya untuk mengenali kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang menentukan Menurut Fadilah dan Weriantoni, analisis SWOT pada dasarnya merupakan teknik identifikasi berbagai faktor dan unsur penentu pembangunan suatu institusi secara sistematis. Menurut Abdussamad dan Amala, teknik analisis SWOT bertujuan untuk melakukan evaluasi kondisi lingkup kegiatan bersangkutan yang selanjutnya dapat pula digunakan untuk merumuskan strategi pembangunan institusi yang lebih tepat sesuai kondisi dan potensi institusi berangkutan. Dari beberapa pengertian di atas, dapat dipahami bahwa analisis SWOT adalah strategi yang dilakukan untuk memecahkan masalah dalam dunia pendidikan dengan melihat kekuatan dan kelemahan dari lingkungan internal dan peluang serta hambatan dari lingkungan eksternal. Analisis SWOT dapat diterapkan pada berbagai sitiasi, termasuk produk individual, seluruh organisasi, atau seluruh industri. Ini termasuk alat yang fleksibel yang diadaptasi agar sesuai dengan kebutuhan situasi. Ada beberapa metode untuk melakukan analisis SWOT, termasuk sesi curah individu, diskusi kelompok, dan Yang penting adalah mengumpulkan kelompok pemangku kepentingan Ibid, hlm. Zuhud Suriono. Analisis SWOT dalam identifikasi Mutu Prndidikan. Jurnal Of Education. Vol. No. 3, 2021, hlm. Mashuri dan Dwi Nurjannah. Analis SWOT sebagai startegi meningkatkan daya saing. Jurnal Perbankan Syariah. Vo. No. 1, 2020, hlm. Deradjat Mahadi Sasoko dan Imam Mahrudi. Teknik Analisis SWOT dalam sebuan Perencanaan Jurnal perspektif. Vol. No. 1, 2023, hlm. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 yang beragam, termasuk karyawan, pelanggan dan pakar eksternal untuk memberikan pandangan menyeluruh tentang posisi perusahaan. Dalam bidang pendidikan analisis SWOT dapat digunakan untuk mengetahui kelebihan, kekurangan sumber daya pendidik pada sebuah lembaga pendidikan. Dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan guru, maka kepala sekolah dapat membuat dan menyusun serta menugaskan guru sesuai dengan kemampuannya. Analisis SWOT juga dapat digunakan untuk menganalisis kelemahan dan kekurangan peserta didik bagi guru yang hendak mengetahui dan mengidentifikasi kekuatan atau kelebihan, kekurangan atau kelemahan peserta didik. Dengan demikian guru dapat memberikan materi pelajar sesuai dengan kondisi serta potensi peserta didiknya. Data yang digunakan dalam melakukan analisis SWOT dengan pendekatan kualitatif adalah data yang dideskripsikan berupa kata-kata dan bukan berupa angka, metode yang digunakan dapat berupa wawancara mendalam, dokumentasi dan observasi. Suatu data yang akurat dan valid menjadi faktor terpenting dalah keberhasilan analisis. Dari data yang diperoleh kemudian disistematisasikan dalam bentuk table SWOT yang kemudian dirumuskan kebijakan-kebijakan startegis yang harus dilakukan oleh lembaga. Adapun langkah-langkah analisis SWOT: Pengumpulan data. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan menghadirkan semua stakeholder lembaga. Untuk menganalisis kompetensi profesional guru dalam sebuah lembaga dapat dilakukan dengan wawancara secara mendalam, dokumentasi dan observasi. Pertanyaan dirancang secara terbuka dan kontekstual agar responden merasa nyaman berbagi wawasan tanpa merasa diinterogasi dengan istilah teknis. Ini bertujuan untuk: Menjaga Alur Alami: Istilah SWOT . ekuatan, kelemahan, peluang, ancama. adalah kerangka analisis untuk peneliti, bukan bahasa sehari-hari Jika kamu langsung bertanya, "Apa kekuatan organisasi ini?" responden mungkin bingung atau memberikan jawaban yang kaku. Fokus pada Pengalaman dan Persepsi: Penelitian kualitatif bertujuan memahami perspektif responden secara mendalam. Pertanyaan yang terbuka memungkinkan mereka menceritakan pengalaman atau pandangan yang secara alami mencerminkan elemen SWOT tanpa harus disebutkan secara Menghindari bias: Pertanyaan yang terlalu spesifik ke arah SWOT bisa memengaruhi jawaban responden, membuat mereka merasa harus "mengisi" kategori tertentu, bukan menjawab berdasarkan pengalaman mereka. Melakukan analisis SWOT dengan bantuan matriks SWOT-K. Untuk menentukan strategi yang harus dilakukan sebagai pedoman dan kerangka program pengembangan lembaga pendidikan. Diantaranya dengan menggunakan strategi sebagai berikut: strategi SO (Strenght-oppotrunity strategy, strategi WO (Weakness Rachman Zainuri dan Pompong Budi Setiadi. Analisis SWOT dalam Manajemen Keuangan Perusahaan. Jurnal Maneksi. Vol. No. 1, 2023, hlm. Arif Hidayat. Analisis SWOT Kompetensi Guru dalam persiapan implementasi kurikulum di MI sekecamatan Bobotsari Purbalingga, (Tesis Universitas Islam Negeri Purbalingga 2. , hlm. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 -opportunity strategy, strategi ST . trenght-threaths strategy, dan strategi WT . eakness-strateg. ANALISIS SWOT KOMPETENSI PROFESIONAL GURU SMPIT NURUL FIKRI BOARDING SCHOOL BOGOR Kualifikasi Akademik Guru SMPIT Nurul Fikri Boarding School Bogor: Berikut adalah analisis SWOT berdasarkan hasil wawancara mengenai kualifikasi akademik seorang guru di SMPIT Nurul Fikri Boarding School Bogor. Strengths (Kekuata. Standar Kualifikasi Akademik Tinggi: Semua guru diwajibkan memiliki minimal gelar S1 yang linear dengan mata pelajaran yang diampu, memastikan kesesuaian latar belakang pendidikan dengan tugas . Seleksi Berbasis Lulusan PTN: Preferensi terhadap lulusan perguruan tinggi negeri (PTN) menunjukkan standar akademik yang ketat dan kualitas input guru yang tinggi. Kesempatan Pengembangan Akademik: Guru diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan formal (S. maupun informal melalui pelatihan internal dan eksternal, seperti pelatihan Bahasa Inggris, kurikulum, dan penyediaan diferensiasi. Pelatihan Reguler dan Terstruktur: Pelatihan internal (SMP dan SDMO) serta eksternal (JSIT, penerbit, presentasi jurna. mendukung peningkatan kualifikasi akademik dan profesionalisme guru. Fokus pada Kesesuaian Bidang: 90-100% guru memiliki kualifikasi akademik yang sesuai dengan bidang pengajaran, meningkatkan validitas dan profesionalisme pengajaran. Evaluasi Komprehensif: Kualifikasi akademik tidak hanya dinilai dari ijazah, tetapi juga dari kemampuan pedagogik, hasil supervisi, dan bahkan tes psikologi untuk memastikan kelayakan guru. Weaknesses (Kelemaha. Ketidaksesuaian Kualifikasi Tenaga Kependidikan: Beberapa tenaga kependidikan . on-gur. memiliki latar belakang akademik yang tidak sesuai dengan jobdesk, seperti lulusan Bahasa Inggris atau perikanan yang bekerja di bagian tata usaha. Tantangan Adaptasi Guru: Guru diharuskan beradaptasi dengan inovasi dan strategi pembelajaran baru . ontoh: VTR-GO, grafik organize. , yang mungkin memerlukan waktu bagi beberapa guru untuk mencapai standar yang diharapkan. Ketergantungan pada Pelatihan: Meskipun pelatihan tersedia, beberapa guru mungkin masih memerlukan waktu untuk menguasai strategi pengajaran atau memperbarui pengetahuan akademik mereka, terutama untuk materi spesifik. Zuhud, op. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 Opportunities (Peluan. Akses Pelatihan Eksternal: Keterlibatan dalam pelatihan eksternal, seperti dari JSIT, penerbit, atau presentasi jurnal, memberikan peluang untuk memperluas wawasan akademik dan profesional guru. Pengembangan Formal dan Informal: Kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan pelatihan rutin . nternal dan eksterna. memungkinkan guru meningkatkan kualifikasi akademik secara . Kolaborasi Antar Guru: Diskusi kelompok berdasarkan bidang . eperti Science dan Manior. dan program seperti Teacheric memungkinkan guru berbagi pengetahuan dan memperkaya kualifikasi akademik. Inovasi Pembelajaran: Pelatihan strategi pembelajaran (VTR-GO, grafik organizer, soft skill. memberikan peluang untuk mengintegrasikan pendekatan modern dalam pengajaran, meningkatkan kualitas akademik. Dukungan Kebijakan Pemerintah: Standar kualifikasi akademik yang selaras dengan kebijakan pemerintah dapat dimanfaatkan untuk memperkuat legitimasi dan profesionalisme guru. Threats (Ancama. Tuntutan Standar Tinggi: Standar kualifikasi akademik yang ketat . inimal S1, linear, lulusan PTN, kemampuan Bahasa Inggri. dapat menjadi tekanan bagi guru baru atau yang masih beradaptasi. Validitas Data Akademik: Ketidaksesuaian antara ijazah dan mata pelajaran yang diampu . eskipun jarang terjadi di kalangan gur. dapat memengaruhi persepsi validitas profesionalisme. Keterbatasan Waktu untuk Pengembangan: Intensitas pelatihan dan ekspektasi untuk terus memperbarui pengetahuan akademik . membaca ulang materi kulia. mungkin sulit bagi guru dengan beban kerja tinggi. Persaingan Eksternal: Interaksi dengan guru dari luar NF melalui pelatihan eksternal dapat menciptakan tekanan untuk terus meningkatkan kualifikasi akademik agar tetap kompetitif. Sertifikasi Pendidik SMPIT Nurul Fikri Boarding School Bogor: Berikut adalah analisis SWOT berdasarkan hasil wawancara mengenai sertifikasi pendidik di SMPIT Nurul Fikri Boarding School Bogor. Strengths (Kekuata. Kepatuhan terhadap Regulasi Pemerintah: Sekolah mengikuti regulasi pemerintah melalui sistem Dapodik untuk pengajuan NUPTK sebagai prasyarat sertifikasi pendidik (PPG), menunjukkan komitmen terhadap standar nasional. Progres Sertifikasi Guru: Sekitar 20-30% guru sudah tersertifikasi atau dalam proses menuju sertifikasi, menunjukkan adanya upaya peningkatan kompetensi professional. Kemudahan Proses Sertifikasi: Pemerintah telah mempermudah proses sertifikasi pendidik, terutama menjelang tenggat waktu 2026, memberikan peluang lebih besar bagi guru untuk memperoleh sertifikasi. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 Pengalaman Sertifikasi yang Terstruktur: Guru yang telah mengikuti PPG, seperti Ibu Rina Putri Anggini, menjalani proses yang terorganisir . es akademik, kuliah online, ujian kinerj. , yang mendukung peningkatan kompetensi profesional. Dukungan Sistem Internal: Sekolah memiliki sistem untuk mendorong guru yang telah mengajar lebih dari 5 tahun untuk memperoleh sertifikasi, meskipun dorongan ini belum terlalu kuat. Weaknesses (Kelemaha. Persentase Sertifikasi Masih Rendah: Hanya 8 dari 24 guru di SMP yang telah tersertifikasi, menunjukkan bahwa mayoritas guru belum memenuhi standar sertifikasi pendidik karena usia sekola yang relatif muda . Proses Sertifikasi yang Panjang dan Kompleks: Proses sertifikasi memakan waktu lama . inimal 2-3 tahun pengalaman mengajar untuk PPG dalam jabata. dan melibatkan tahapan administrasi yang rumit, menyulitkan beberapa guru. Kurangnya Dorongan Internal: Dorongan untuk memperoleh sertifikasi belum terlalu kuat di NFBS, terutama bagi guru dengan pengalaman kurang dari 5 tahun atau latar belakang non-pendidikan. Keterbatasan Guru Non-Pendidikan: Guru dengan latar belakang nonpendidikan menghadapi jalur sertifikasi yang berbeda dan lebih menantang dibandingkan guru lulusan pendidikan. Ketidakpastian Administrasi: Beberapa guru belum terdaftar di Dapodik meskipun sudah mengajar selama 3 tahun, menghambat proses pengajuan sertifikasi. Opportunities (Peluan. Kebijakan Pemerintah yang Mendukung: Pemerintah terus meningkatkan akses dan kemudahan sertifikasi pendidik menjelang 2026, memberikan peluang bagi lebih banyak guru untuk tersertifikasi. Program PPG yang Fleksibel: Adanya PPG online memudahkan guru untuk mengikuti sertifikasi tanpa mengganggu tugas mengajar secara . Kerja Sama Eksternal: Kerja sama dengan pihak lain untuk sertifikasi berbasis student-centered learning dapat meningkatkan kualitas kompetensi profesional guru. Prioritas Berdasarkan Masa Mengajar: Guru dengan masa mengajar lebih lama mendapatkan prioritas untuk sertifikasi, memberikan peluang bagi guru senior di NFBS. Standar Profesionalisme: Sertifikasi pendidik sebagai standar minimal kompetensi profesional dapat meningkatkan reputasi sekolah dan kualitas pengajaran secara keseluruhan. Threats (Ancama. Tenggat Waktu 2026: Kewajiban seluruh guru tersertifikasi pada 2026 dapat menjadi tekanan, terutama bagi guru baru atau yang belum terdaftar di Dapodik. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 Proses Administrasi yang Rumit: Tahapan administrasi seperti pengajuan NUPTK dan persyaratan masa mengajar dapat menghambat guru untuk segera mengikuti PPG. Keterbatasan Guru Baru: Guru dengan pengalaman mengajar kurang dari 2-3 tahun menghadapi kendala dalam memenuhi syarat PPG dalam . Perbedaan Jalur Sertifikasi: Guru dengan latar belakang non-pendidikan menghadapi proses sertifikasi yang lebih kompleks, yang dapat memperlambat pencapaian sertifikasi. Kurangnya Kesadaran atau Motivasi: Beberapa guru mungkin kurang memahami proses atau manfaat sertifikasi yang dapat menghambat Kode Etik Profesi Guru Dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru Berikut adalah analisis SWOT berdasarkan hasil wawancara mengenai kode etik profesi guru dalam meningkatkan profesionalisme guru di SMPIT Nurul Fikri Boarding School Bogor. Strengths (Kekuata. Integrasi Nilai Islam dalam Kode Etik: Kode etik di SMPIT Nurul Fikri diperkuat oleh nilai-nilai Islam, seperti menutup aurat dan kejujuran profesional, yang selaras dengan visi sekolah Islam. Sistem Supervisi yang Ketat: Supervisi berkala . Google Classroom. Learning Walk. Learning Observatio. memastikan penerapan kode etik dan standar profesionalisme, dengan feedback mendalam untuk guru yang di bawah standar. Budaya Disiplin dan Tanggung Jawab: Guru diwajibkan masuk kelas tepat waktu, tidak ada jam kosong, dan tanggung jawab membimbing siswa secara menyeluruh, mencerminkan profesionalisme tinggi. Pendekatan Kepala Sekolah yang Proaktif: Kepala sekolah aktif memberikan pengingat dan pendekatan personal kepada guru yang menyimpang dari kode etik, sekaligus mengapresiasi prestasi guru. Sosialisasi Kode Etik yang Teratur: Kode etik disosialisasikan melalui morning briefing, rapat mingguan, dan instruksi dari SDMO, memastikan pemahaman dan penerapan yang konsisten. Kesesuaian dengan Kurikulum Merdeka: Penerapan kode etik mendukung pelaksanaan kurikulum merdeka dengan menyesuaikan kegiatan seperti P5 sesuai konteks sekolah, menunjukkan fleksibilitas dan profesionalisme. Budaya Organisasi yang Kuat: Kode etik berbasis nilai yayasan . iddiyah, ukhuwah, iman, takwa. SMART, khidma. dan SOP pegawai menjadi landasan kuat untuk menjaga profesionalisme. Weaknesses (Kelemaha. Kurangnya Pembahasan Kode Etik Nasional: Kode etik guru secara nasional jarang dibahas secara eksplisit, sehingga penilaian penerapannya lebih berfokus pada profil lembaga. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 Keterbatasan Waktu Sosialisasi: Sosialisasi kode etik melalui morning briefing terbatas oleh waktu dan agenda lain, sehingga pembahasan mendalam sering tertunda hingga dua bulan. Penerapan Tidak Konsisten: Tidak semua aspek kode etik dijalankan secara menyeluruh oleh semua guru, terutama dalam situasi tertentu seperti keperluan pribadi. Fokus pada Kode Etik Lembaga: Kode etik lebih berorientasi pada aturan yayasan dan SMP, yang mungkin kurang menyelaraskan dengan standar kode etik profesi guru secara nasional. Opportunities (Peluan. Penguatan Nilai Islam dalam Profesionalisme: Nilai-nilai Islam yang menjadi ciri khas sekolah dapat terus diintegrasikan ke dalam kode etik untuk memperkuat identitas dan profesionalisme guru. Peningkatan Supervisi dan Feedback: Sistem supervisi yang sudah berjalan dapat diperluas untuk memastikan penerapan kode etik secara lebih konsisten, dengan pelatihan khusus untuk guru yang membutuhkan. Adaptasi Kurikulum Merdeka: Fleksibilitas dalam menyesuaikan kegiatan seperti P5 dengan konteks sekolah dapat menjadi model untuk penerapan kode etik yang kontekstual dan relevan. Sosialisasi yang Lebih Intensif: Morning briefing dan rapat mingguan dapat dimanfaatkan untuk membahas kode etik nasional secara lebih mendalam, meningkatkan kesadaran guru. Penguatan Budaya Khidmah: Nilai khidmah dapat terus dikembangkan sebagai landasan kode etik untuk memperkuat komitmen guru terhadap profesionalisme dan pelayanan. Threats (Ancama. Potensi Penyimpangan Kode Etik: Meskipun jarang, keperluan pribadi atau faktor di luar kendali dapat menyebabkan pelanggaran kode etik, seperti keterlambatan atau ketidakpatuhan. Kurangnya Keselarasan dengan Standar Nasional: Fokus pada kode etik lembaga dapat menyebabkan kurangnya perhatian terhadap standar kode etik nasional, yang berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian dengan regulasi pemerintah. Keterbatasan Waktu dan Prioritas: Banyaknya agenda sekolah dapat mengurangi waktu untuk sosialisasi kode etik secara mendalam, berpotensi melemahkan pemahaman dan penerapan. Tantangan Konsistensi Penerapan: Budaya disiplin yang ketat . isalnya, tidak ada jam koson. dapat menjadi tekanan bagi guru, terutama dalam situasi tak terduga, yang berpotensi memengaruhi kepatuhan terhadap kode etik. Kemampuan Guru Di SMPIT Nurul Fikri Boarding School Bogor Menguasai Metode Pembelajaran Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai pihak di SMPIT Nurul Fikri Boarding School Bogor, berikut adalah analisis terkait kemampuan guru dalam Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 menguasai metode pembelajaran berbasis SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. untuk meningkatkan kompetensi profesional guru. Strengths (Kekuata. Fleksibilitas dalam Penerapan Metode Pembelajaran: Guru diberi kebebasan untuk memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan kebutuhan siswa, seperti VTR (Visual Thinking Routin. TPS. KWL, inquiry, cooperative learning, dan student-centered learning, memungkinkan variasi yang kontekstual. Sistem Supervisi yang Komprehensif: Supervisi RPP. LMS, modul ajar. Learning Walk, dan Learning Observation dilakukan secara rutin untuk memastikan metode pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa dan standar sekolah. Integrasi Nilai SMART: Metode pembelajaran diintegrasikan dengan nilai-nilai SMART (Sholeh. Muslih. Cerdas. Mandiri. Terampi. , yang memperkaya proses pembelajaran dengan nilai-nilai karakter. Pendekatan Berbasis Kebutuhan Siswa: Guru menyesuaikan metode dengan karakteristik siswa . isalnya, kinestetik, visual, atau audi. melalui observasi awal dan informasi dari guru BK, meningkatkan efektivitas pembelajaran. Penggunaan Assessment untuk Evaluasi: Guru menggunakan berbagai bentuk assessment, seperti checking for understanding, debat, dan ujian kinerja, untuk memastikan pemahaman siswa terhadap materi. Pendekatan Kolaboratif dan Inovatif: Banyak guru menerapkan metode collaborative learning, grouping, dan student-centered learning, yang mendorong partisipasi aktif dan keterlibatan siswa. Peningkatan Hasil Pembelajaran: Penggunaan metode yang bervariasi telah terbukti meningkatkan pemahaman, keterlibatan, dan kemampuan kritis siswa, terutama setelah penyesuaian metode. Weaknesses (Kelemaha. Ketergantungan pada Penguasaan Materi Guru: Jika guru belum sepenuhnya menguasai materi, penerapan metode pembelajaran bisa kurang efektif untuk kasus tertentu. Tantangan Penyesuaian Metode: Beberapa guru awalnya menggunakan metode konvensional . yang kurang efektif sebelum beralih ke metode student-centered, menunjukkan adanya proses adaptasi yang memakan waktu. Variasi Kemampuan Siswa: Perbedaan gaya belajar dan tingkat pemahaman siswa . isalnya, antara siswa laki-laki dan perempua. memerlukan penyesuaian metode yang tidak selalu mudah dilakukan. Keterbatasan Konsistensi Penerapan: Tidak semua metode pembelajaran yang direncanakan selalu sesuai dengan pelaksanaan di kelas, terutama jika materi tidak mendukung metode tertentu. Opportunities (Peluan. Pengembangan Metode Inovatif: Kebebasan memilih metode pembelajaran memberikan peluang untuk terus mengembangkan Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 pendekatan baru, seperti VTR atau metode berbasis teknologi, yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Pelatihan dan Supervisi Berkelanjutan: Supervisi rutin dan pelatihan . eperti PDT) dapat digunakan untuk memperkenalkan metode pembelajaran terbaru dan meningkatkan keterampilan guru. Personalisasi Pembelajaran: Informasi dari guru BK tentang gaya belajar siswa dapat dimanfaatkan untuk menciptakan metode pembelajaran yang lebih personal dan efektif. Kolaborasi Antar Guru: Sharing pengalaman antar guru tentang metode pembelajaran dapat memperkaya strategi pengajaran dan meningkatkan . Integrasi Nilai Karakter: Penguatan nilai SMART dalam pembelajaran memberikan peluang untuk mengembangkan pendekatan holistik yang tidak hanya fokus pada akademik tetapi juga karakter siswa. Threats (Ancama. Ketidaksesuaian Metode dengan Materi: Risiko memilih metode yang tidak sesuai dengan materi dapat mengurangi efektivitas pembelajaran. Tantangan Adaptasi Guru Baru: Guru baru atau yang masih beradaptasi mungkin kesulitan menguasai metode pembelajaran yang bervariasi, terutama metode inovatif seperti VTR atau student-centered learning. Heterogenitas Siswa: Perbedaan gaya belajar dan kemampuan siswa dapat menyulitkan guru dalam memilih metode yang efektif untuk seluruh kelas. Tekanan Supervisi: Supervisi yang ketat, meskipun mendukung profesionalisme, dapat menjadi tekanan bagi guru jika hasil pembelajaran tidak sesuai harapan. Kemampuan Guru SMPIT Nurul Fikri Boarding School Bogor dalam Mengembangkan Kurikulum Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai narasumber di SMPIT Nurul Fikri Boarding School Bogor, berikut adalah analisis kemampuan guru dalam mengembangkan kurikulum dengan pendekatan SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. Pembahasan ini juga mencakup aspek evaluasi dan penilaian sebagai bagian integral dari pengembangan kurikulum. Strengths (Kekuata. Sistem Pengelolaan Kurikulum yang Terstruktur: Menurut Ibu Erna Maryati, sekolah menggunakan Learning Management System (LMS) dan Google Classroom untuk mengelola pengumpulan dokumen kurikulum seperti program semester, kisi-kisi soal, media pembelajaran, dan daftar nilai. Sistem ini terstruktur dengan jadwal bulanan . reak dow. , yang memudahkan guru dalam merencanakan dan memantau implementasi kurikulum. Sinergi melalui MGMP: untuk mensinergikan materi antar guru di setiap Ini memastikan integrasi dan konsistensi materi yang diajarkan, memperkuat kualitas kurikulum. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 Pemberian Feedback yang Konstruktif: sekolah memberikan feedback jika perencanaan modul ajar guru tidak sesuai dengan kurikulum. Proses ini membantu guru memperbaiki dan menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan siswa. Penilaian Berbasis KKTP: guru menetapkan Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran (KKTP) sebagai acuan evaluasi. Penilaian mencakup tiga jenis (Assessment for Learning. Assessment as Learning. Assessment of Learnin. , yang memungkinkan pendekatan evaluasi yang komprehensif dan beragam. Kreativitas dalam Instrumen Penilaian: seperti menggunakan rubrik penilaian dengan gradasi nilai yang jelas, esai untuk mendorong siswa berpikir kritis. Ada juga yang menerapkan penilaian berbasis performa seperti esai dan video, yang disesuaikan dengan pengetahuan siswa. Pendekatan ini menunjukkan kemampuan guru dalam merancang instrumen penilaian yang relevan dan mendukung pembelajaran. Weaknesses (Kelemaha. Ketidaksesuaian Rencana dan Pelaksanaan: sering kali rencana kurikulum yang tertulis di kalender akademik tidak sesuai dengan pelaksanaan di lapangan, sehingga memerlukan penyesuaian. Hal ini dapat mengganggu konsistensi implementasi kurikulum. Keterbatasan dalam Mengakomodasi Seluruh Materi: contohnya dalam mata pelajaran olahraga, tidak semua materi dapat diakomodasi dalam penilaian akhir karena keterbatasan seperti fasilitas . isalnya, renan. Hal ini menunjukkan tantangan dalam merancang kurikulum yang . Ketergantungan pada Sistem Digital: Meskipun LMS dan Google Classroom memudahkan pengelolaan, ketergantungan pada teknologi dapat menjadi kelemahan jika terjadi kendala teknis atau jika guru kurang mahir menggunakan platform tersebut. Opportunities (Peluan. Pemanfaatan Teknologi: potensi peralihan ke teknologi yang lebih canggih di masa depan. Ini membuka peluang untuk pengembangan kurikulum yang lebih dinamis dan interaktif dengan memanfaatkan platform digital yang lebih mutakhir. Penguatan Kolaborasi Antar Guru: MGMP, memberikan peluang untuk meningkatkan kolaborasi antar guru dalam merancang kurikulum yang Hal ini dapat memperkaya konten dan pendekatan . Pendekatan Penilaian yang Beragam: Penggunaan tiga jenis penilaian (Assessment for Learning. Assessment as Learning. Assessment of Learnin. memberikan peluang untuk mengevaluasi siswa secara holistik, termasuk melalui penilaian teman sebaya dan pengayaan/remedial. Integrasi dengan Nilai Lokal: penggunaan konten NF IS (Nurul Fikri Islamic Schoo. dalam kurikulum 2013. Ini membuka peluang untuk Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 mengembangkan kurikulum yang relevan dengan nilai-nilai lokal dan kebutuhan siswa di lingkungan sekolah berasrama. Proyek Kolaboratif: adanya proyek akhir yang berkolaborasi dengan pelajaran lain. Ini memberikan peluang untuk mengembangkan kurikulum interdisipliner yang lebih menarik dan aplikatif. Threats (Ancama. Perubahan Kebijakan Kurikulum: Ketidaksesuaian antara rencana dan pelaksanaan dapat diperparah oleh perubahan kebijakan kurikulum nasional atau internal sekolah, yang memerlukan adaptasi cepat dari . Keterbatasan Sumber Daya: Keterbatasan fasilitas terutama dalam mata pelajaran olahraga, dapat menghambat implementasi kurikulum yang ideal, terutama untuk mata pelajaran yang membutuhkan sarana khusus. Beban Kerja Guru: Pengumpulan dokumen bulanan melalui LMS dan keharusan untuk terus menyesuaikan kurikulum dapat meningkatkan beban kerja guru, yang berpotensi menurunkan kualitas pengembangan . Ketidakseragaman Pemahaman Kurikulum: Meskipun ada rapat kerja . untuk menyosialisasikan kurikulum, masih ada risiko bahwa beberapa guru tidak sepenuhnya memahami atau menerapkan kurikulum dengan benar, terutama jika feedback tidak diimplementasikan dengan Kemampuan Guru dalam Menyusun Perencanaan Pembelajaran Berikut adalah analisis kemampuan guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran menggunakan pendekatan SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. Analisis ini mengintegrasikan pernyataan narasumber untuk mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang memengaruhi kompetensi guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran yang efektif. Strengths (Kekuata. Perencanaan yang Terstruktur dan Komprehensif: perencanaan pembelajaran disusun di awal semester melalui program semester yang mencakup komponen seperti Capaian Pembelajaran. Tujuan Pembelajaran. Alur Tujuan Pembelajaran, media, alat evaluasi, dan Profil Pelajar Pancasila sesuai Kurikulum Merdeka. Struktur ini memberikan panduan jelas bagi guru untuk merancang pembelajaran yang terarah. Sistem Supervisi yang Efektif: bahwa supervisi dilakukan melalui tiga tahap . erencanaan, pelaksanaan, evaluas. dengan rubrik penilaian yang mencakup modul ajar. LMS, dan Learning Observation. Supervisi ini dilakukan secara terjadwal . ulanan untuk LMS dan Learning Observatio. , memastikan perencanaan sesuai standar dan memberikan feedback untuk perbaikan. Dukungan Fasilitas yang Memadai: sekolah menyediakan fasilitas lengkap seperti TV, laptop untuk setiap guru, dan sumber belajar yang Ini mendukung guru dalam merancang dan melaksanakan perencanaan pembelajaran dengan baik. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 Integrasi Nilai dan Tujuan Khusus: perencanaan mencakup nilai-nilai SMART (Sholeh. Muslih. Cerdas. Mandiri. Terampi. dan rencana tindak lanjut untuk siswa berbakat istimewa atau di bawah KKM. Hal ini menunjukkan pendekatan holistik dalam perencanaan yang tidak hanya berfokus pada akademik tetapi juga karakter dan kebutuhan individu . Internalisasi Instrumen Supervisi: pemahaman terhadap instrumen penilaian telah terinternalisasi melalui pengalaman dan pembacaan berulang, sehingga memudahkan penyusunan perencanaan yang sesuai dengan standar. Weaknesses (Kelemaha. Ketidaksempurnaan Pengisian LMS: terutama dalam memberikan feedback seperti ucapan motivasi . ontoh: "congratulation" atau "mabruk"). Hal ini menunjukkan kurangnya ketelatenan dalam memenuhi semua komponen perencanaan, yang dapat memengaruhi kualitas pembelajaran. Multi-Tafsir dalam Instrumen Supervisi: redaksi instrumen supervisi sering kali menimbulkan multi-tafsir, menyebabkan perbedaan persepsi antar guru tentang apa yang dianggap memenuhi standar. Hal ini dapat menghambat konsistensi dalam penyusunan perencanaan. Ketidaksesuaian Rencana dan Pelaksanaan: sering kali rencana di RPP atau Google Classroom tidak sesuai dengan pelaksanaan di kelas karena ekspektasi yang terlalu tinggi atau jadwal sekolah yang padat. Hal ini dapat mengurangi efektivitas pembelajaran dan membuat siswa sulit memahami materi. Kurangnya Persiapan Awal: beberapa guru mengakui bahwa di awal mengajar, ia jauh dari target karena menggunakan gaya ajar sendiri tanpa perencanaan matang. Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya disiplin dalam menyusun perencanaan dapat mengganggu kualitas pembelajaran. Opportunities (Peluan. Pemanfaatan Teknologi (LMS dan Google Classroo. : penggunaan LMS dan Google Classroom untuk mengelola perencanaan Dengan perkembangan teknologi, ada peluang untuk mengadopsi platform yang lebih canggih untuk meningkatkan efisiensi dan interaktivitas perencanaan. Pelatihan dan Feedback Berkelanjutan: feedback dari supervisi dan pelatihan saat rapat kerja . membantu guru memperbaiki Peluang ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kompetensi guru melalui pelatihan rutin yang lebih terfokus. Pendekatan Berbasis Profil Pelajar Pancasila: Integrasi Profil Pelajar Pancasila dalam perencanaan memberikan peluang untuk merancang pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada akademik tetapi juga pengembangan karakter siswa. Kolaborasi Antar Guru: hasil pemetaan supervisi dibahas dalam pelatihan mingguan . ekan ke-2 dan ke-4 setiap bula. Ini membuka Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 peluang untuk kolaborasi antar guru dalam menyusun perencanaan yang lebih terpadu dan efektif. Fokus pada Student Service: supervisi LMS berorientasi pada pelayanan Pendekatan ini dapat menjadi peluang untuk terus meningkatkan perencanaan yang berpusat pada kebutuhan siswa. Threats (Ancama. Jadwal Sekolah yang Padat: jadwal sekolah yang padat sering kali menyebabkan pencapaian pembelajaran tidak sesuai harapan. Hal ini dapat mengganggu pelaksanaan perencanaan yang telah disusun dengan . Beban Administratif Guru: Pengisian LMS setiap pekan, memerlukan ketelatenan dan waktu. Beban administratif ini dapat mengurangi fokus guru pada persiapan dan pelaksanaan pembelajaran. Persepsi Berbeda tentang Instrumen: Multi-tafsir dalam instrumen supervisi berpotensi menyebabkan inkonsistensi dalam penyusunan perencanaan, yang dapat memengaruhi kualitas pembelajaran secara . Kurangnya Konsistensi Pelaksanaan Supervisi: Meskipun supervisi dilakukan secara terjadwal. Learning Observation hanya dilakukan sebulan sekali agar tidak terlalu sering mengunjungi kelas. Hal ini dapat menjadi ancaman jika pengawasan terhadap pelaksanaan perencanaan kurang intensif. KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN Kesimpulan Berikut adalah kesimpulan yang mencakup kualifikasi akademik, kode etik profesi guru, metode pembelajaran, pengembangan kurikulum, dan perencanaan pembelajaran di SMPIT Nurul Fikri Boarding School Bogor: Strengths (Kekuata. Kualifikasi Akademik Tinggi: Standar minimal S1 linear, preferensi lulusan PTN, dan pelatihan terstruktur mendukung kompetensi profesional guru. Kode Etik Berbasis Nilai Islam: Integrasi nilai-nilai Islam, supervisi ketat, dan budaya disiplin memperkuat profesionalisme guru. Fleksibilitas Metode Pembelajaran: Kebebasan memilih metode seperti VTR, cooperative learning, dan integrasi nilai SMART meningkatkan efektivitas pembelajaran. Sistem Pengelolaan Terstruktur: Supervisi efektif, sinergi MGMP, feedback konstruktif, dan fasilitas memadai mendukung pengembangan kurikulum dan perencanaan pembelajaran. Weaknesses (Kelemaha. Ketidaksesuaian dan Adaptasi: Ketidaksesuaian kualifikasi tenaga kependidikan, keterbatasan waktu sosialisasi kode etik, ketergantungan pada penguasaan materi, dan ketidaksesuaian rencana-pelaksanaan menjadi tantangan. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 Kurangnya Pembahasan Standar Nasional: Kode etik nasional kurang dibahas, berpotensi menyebabkan ketidaksesuaian dengan regulasi . Keterbatasan Sumber Daya dan Konsistensi: Keterbatasan sumber daya, pengisian LMS yang tidak sempurna, dan multi-tafsir instrumen menghambat penerapan metode dan perencanaan. Proses Adaptasi Guru Baru: Guru baru menghadapi tantangan dalam menguasai metode inovatif dan menyesuaikan dengan kebutuhan siswa yang beragam. Opportunities (Peluan. Pemanfaatan Pelatihan dan Teknologi: Pelatihan eksternal, internal (PDT), dan teknologi dapat meningkatkan kualifikasi akademik, metode pembelajaran, dan perencanaan kurikulum. Kolaborasi dan Sinergi: Kolaborasi antar guru melalui MGMP dan sharing session memperkaya strategi pengajaran dan pengembangan . Fokus pada Nilai Karakter: Integrasi nilai SMART dan Profil Pelajar Pancasila memberikan peluang untuk pendekatan pembelajaran holistik. Kebijakan Pemerintah yang Mendukung: Kebijakan seperti Kurikulum Merdeka dan kemudahan sertifikasi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan profesionalisme. Threats (Ancama. Standar Tinggi dan Persaingan: Standar akademik dan kode etik yang tinggi, serta persaingan eksternal, dapat menekan guru, terutama yang . Ketidaksesuaian dengan Standar Nasional: Fokus pada kode etik lembaga berisiko tidak selaras dengan standar nasional, memengaruhi legitimasi profesional. Heterogenitas dan Ketidaksesuaian Metode: Perbedaan gaya belajar siswa dan ketidaksesuaian metode dengan materi dapat mengurangi efektivitas pembelajaran. Beban Kerja dan Administrasi: Jadwal padat, beban administratif, dan perubahan kebijakan dapat menghambat konsistensi penerapan metode, kurikulum, dan perencanaan pembelajaran. Saran-saran Berdasarkan kesimpulan mengenai kualifikasi akademik, kode etik profesi guru, metode pembelajaran, pengembangan kurikulum, dan perencanaan pembelajaran di SMPIT Nurul Fikri Boarding School Bogor, berikut adalah saran dan rekomendasi yang disusun berdasarkan empat poin SWOT: Memanfaatkan Kekuatan (Strength. Optimalisasi Kualifikasi Akademik dan Sistem Supervisi: Manfaatkan standar S1 linear dan preferensi lulusan PTN dengan memperluas akses pelatihan lanjutan . ormal ke S2 dan informal melalui webina. untuk semua guru, termasuk tenaga kependidikan, guna menyelaraskan kualifikasi mereka dengan jobdesk. Supervisi yang sudah ketat dapat Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 diperkuat dengan pelaporan digital untuk meningkatkan efisiensi dan . Penguatan Nilai Islam dan SMART: Integrasikan nilai-nilai Islam dan SMART secara lebih eksplisit dalam setiap RPP dan modul ajar untuk memastikan semua guru secara konsisten menerapkannya dalam pembelajaran, sehingga memperkuat identitas sekolah. Peningkatan Fleksibilitas Metode Pembelajaran: Dorong guru untuk terus bereksperimen dengan metode inovatif seperti VTR dan collaborative learning melalui sesi sharing best practices antar guru, yang dapat dijadwalkan secara rutin untuk memperkaya strategi pengajaran. Perkuat Struktur Pengelolaan Kurikulum: Manfaatkan sinergi MGMP dan feedback konstruktif dengan membuat panduan standar pengembangan kurikulum yang mencakup nilai SMART dan Profil Pelajar Pancasila, sehingga memudahkan guru dalam perencanaan dan Mengatasi Kelemahan (Weaknesse. Penanganan Ketidaksesuaian dan Adaptasi: Adakan pelatihan khusus untuk tenaga kependidikan yang memiliki kualifikasi tidak linear, fokus pada pengembangan keterampilan relevan dengan tugas mereka. Untuk guru baru, sediakan program mentoring intensif selama 6-12 bulan pertama untuk mempercepat adaptasi terhadap metode pembelajaran dan standar sekolah. Pembahasan Kode Etik Nasional: Sisipkan pembahasan kode etik profesi guru nasional dalam agenda morning briefing atau pelatihan PDT secara berkala, dengan mengundang narasumber eksternal dari Dinas Pendidikan untuk menyelaraskan standar lembaga dengan regulasi . Peningkatan Konsistensi Penerapan: Sediakan template LMS yang lebih sederhana dan panduan penggunaan instrumen supervisi yang jelas untuk mengurangi multi-tafsir dan memastikan kesesuaian antara rencana dan pelaksanaan pembelajaran. Dukungan untuk Guru Baru: Berikan pelatihan intensif tentang metode pembelajaran inovatif . eperti student-centered learnin. dan workshop penguasaan materi untuk guru baru, dengan pendampingan langsung dari guru senior atau supervisor. Memaksimalkan Peluang (Opportunitie. Pemanfaatan Teknologi dan Pelatihan: Maksimalkan penggunaan platform digital seperti Google Classroom dan LMS dengan pelatihan teknologi berbasis AI untuk membantu guru merancang metode pembelajaran yang interaktif dan personal. Manfaatkan pelatihan eksternal dari JSIT atau penerbit untuk memperbarui pengetahuan kurikulum dan metode. Meningkatkan Kolaborasi Antar Guru: Jadwalkan sesi MGMP tematik setiap bulan untuk membahas metode pembelajaran spesifik . VTR atau inquiry-based learnin. dan bagikan hasilnya melalui platform internal sekolah untuk memperluas dampak kolaborasi. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Nurhadi. Ilma Nur Aqila Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 1 : Januari Ae Juni 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 25 - 49 Fokus pada Profil Pelajar Pancasila dan Nilai Karakter: Kembangkan modul pembelajaran berbasis Profil Pelajar Pancasila yang terintegrasi dengan nilai SMART, dengan melibatkan guru lintas mata pelajaran untuk menciptakan proyek interdisipliner yang mendukung Kurikulum Merdeka. Manfaatkan Kebijakan Pemerintah: Dorong lebih banyak guru untuk mengikuti PPG online atau pelatihan sertifikasi dengan memfasilitasi proses administrasi . isalnya, pendaftaran NUPTK) dan menyediakan waktu khusus untuk persiapan, sehingga memenuhi target sertifikasi Mengelola Ancaman (Threat. Menangani Tekanan Standar Tinggi: Adakan sesi konseling atau sharing session bulanan dengan kepala sekolah untuk membantu guru mengelola tekanan akibat standar akademik dan kode etik yang tinggi, serta berikan penghargaan untuk prestasi guru guna meningkatkan motivasi. Sinkronisasi dengan Standar Nasional: Bentuk tim khusus untuk memetakan keselarasan kode etik yayasan dengan standar nasional, dan adakan pelatihan reguler untuk memastikan guru memahami dan mematuhi regulasi pemerintah tanpa mengorbankan identitas sekolah. Mengatasi Heterogenitas Siswa: Kembangkan panduan penyesuaian metode pembelajaran berdasarkan gaya belajar siswa . inestetik, visual, audi. melalui kolaborasi dengan guru BK, dan sediakan pelatihan bagi guru untuk mengelola kelas dengan kebutuhan beragam. Reduksi Beban Kerja dan Administrasi: Sederhanakan proses administrasi dengan otomatisasi . isalnya, aplikasi pengisian LMS) dan atur ulang jadwal supervisi agar tidak membebani guru, serta sediakan asisten administratif untuk membantu tugas-tugas non-pengajaran. DAFTAR PUSTAKA