49 Ferdi Gultom. Sugeng Harianto LUNTURNYA SEKTOR PERTANIAN Jurnal Analisa Sosiologi DI PERKOTAAN Januari 2022, 11 . : 49-72 Ferdi Gultom1. Sugeng Harianto2 Abstract The agricultural sector is an important sector for food security in Indonesia. However, the government only focused on development through the industrial sector, that agriculture faded away due to the entry of the modern sector through the central state-satellite relationship. This can be seen in the increasingly widespread conversion of agricultural land in urban areas. This study aims to describe how the decline of the agricultural sector in urban areas. This research uses a literature study approach. Data is obtained from news sources, to journals that explain the development of the industrial sector that shifts agricultural land. The data were analyzed using the Miles and Huberman model. The data are classified according to the problem formulation, then reduced to an understandable conclusion. This study uses dependency theory to help analyze the data. Dependency theory was chosen because it can explain the underdevelopment of satellite countries due to the modern sector. The results of this study indicate that the agricultural sector in urban areas is fading, due to the decrease in agricultural land, due to the widespread conversion of land for industry, infrastructure, and settlements. The regeneration of farmers has decreased, due to the lack of interest in becoming a farmer. Keywords: Agricultural Sector. Urban. Addiction. Fade Abstrak Sektor pertanian merupakan sektor penting untuk ketahanan pangan di Indonesia. Tapi, pemerintah hanya berfokus pada pembangunan melalui sektor industri, sehingga pertanian luntur akibat masuknya sektor modern melalui hubungan negara pusat-satelit. Hal tersebut terlihat alih fungsi lahan pertanian yang sering terjadi di perkotaan. Penelitian ini bertujuan menggambarkan bagaimana lunturnya sektor pertanian di perkotaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kepustakaan. Data didapatkan melalui sumber berita, hingga jurnal yang menjelaskan pembangunan sektor industri yang menggeser lahan pertanian. Analisis data menggunakan menggunakan Model Miles dan Huberman. Data diklasifikasikan sesuai dengan rumusan masalah, kemudian direduksi menjadi kesimpulan yang dapat dipahami. Penelitian ini menggunakan teori ketergantungan untuk membantu menganalisis data. Teori ketergantungan dipilih sebab dapat menjelaskan keterbelakangan negara satelit dikarenakan sektor modern. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sektor pertanian di perkotaan semakin luntur, karena lahan pertanian yang semakin berkurang, karena maraknya alih fungsi lahan untuk industri, infrasturkur, dan pemukiman. Regenerasi petani menurun, akibat tidak ada minat menjadi petani. Kata Kunci: Sektor Pertanian. Perkotaan. Ketergantungan. Luntur 1,2,3, Program Studi Sosiologi Universitas Kristen Satya Wacana 352017026@student. Jurnal Analisa Sosiologi PENDAHULUAN Masalah pertanian merupakan masalah yang terus ada di Indonesia dalam kaitannya dengan pembangunan ekonomi. Mengingat bahwa Indonesia merupakan negara agraris yang sebenarnya mengandalkan sektor Indonesia memiliki lahan pertanian cukup luas. Sekitar 191,09 juta Ha adalah luas daratan Indonesia, dan sebesar 95,90 juta ha . ,19%) berpotensi untuk digunakan sebagai pertanian. Lahan untuk pertanian tersedia seluas 34,58 juta ha (Ketersediaan 2. Dengan lahan pertanian yang cukup luas tersebut. Indonesia sebenarnya mampu melakukan pembangunan ekonomi lewat sektor pertanian. Lahan pertanian sekarang ini semakin sempit, terutama lahan pertanian di perkotaan. Hal tersebut dikarenakan beralih fungsunya lahan pertanian menjadi lahan untuk industri. Alih fungsi lahan tersebut bukan tanpa sebab. Adanya modernisasi membuat segala aspek kehidupan manusia Modernisasi selalu diikuti dengan adanya industrialisasi, (Suwarsono, 2006, dalam Jamaludin 2. Nilai-nilai tradisional harus bergeser menjadi nilai-nilai modern secara total. Modernisasi adalah jawab dari masalah yang dihadapi oleh manusia sekaligus dapat membantu manusia dalam berbagai aktivitas. Masalah yang dihadapi manusia seperti naiknya jumlah penduduk, mengakibatkan terus bertambahnya kebutuhan, baik macam, corak, jumlah, maupun kualitasnya. Masalah tersebut dapat diatasi dengan merubah fungsi, pengelolaan sekaligus perihal kepemilikan lahan pertanian. Lahan pertanian biasanya mengalami alih fungsi menjadi lahan industri modern, pemukiman dan Lahan pertanian di daerah perkotaan selalu mengalami alih fungsi, sebab area perkotaan merupakan pusat industri, sehingga banyak para investor menggunakan lahan pertanian sebagai lahan industrinya. Kawasan industri biasanya berada di daerah yang topografinya datar. Daerah tersebut juga menjadi kawasan lahan persawahan, sehingga lahan persawahan tersebut harus mengalami alih fungsi menjadi lahan industri. Hal tersebut Jurnal Analisa Sosiologi . menjadi sekunder . ndustri barang dan jas. Beralihnya fungsi lahan pertanian menjadi lahan industri tidak selalu menjadi jawaban atas masalah perekonomian di Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa luas lahan baku sawah terus menurun sekitar A 000 ha/tahun (Supriyatno 2. Alih fungsi lahan pertanian justru memunculkan masalah baru, layaknya efek domino yang merubah segala aspek lainnya. Selain berdampak pada lingkungan, alih fungsi lahan pertanian memunculkan masalah ketahanan pangan Indonesia. Hal tersebut dikarenakan telalu intensnya negara Indonesia berhubungan dengan negara Negara Indonesia memang menjadi negara agraris yang seharusnya sektor pertanian sebagai perekonomian sentral. Namun, negara Indonesia terlalu fokus pada pembangunan industri, seperti pabrik-pabrik, pariwisata, property, dan lainnya. Hal tersebut membuka jalan bagi kapitalis masuk ke Indonesia. Sektor-sektor industri menekankan pada sumber daya manusia (SDM), modal atau investasi, dan teknologi sebagai sebuah sistem modern yang terus dilangsungkan oleh kapitalis. Sistem modern tersebut memang diharapkan dapat membantuk pertumbuhan ekonomi Indonesia, namun jika tidak beriringan dengan pembangunan pertanian, maka akan memunculkan masalah serius bagi ekonomi Indonesia. Selain masalah ekonomi, alih fungsi lahan pertanian dapat menyebabkan masalah sosial baru. Masyarakat mengalami transformasi dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Masyarakat petani terpaksa harus bekerja di sekor industri, sebab lahan pertanian mereka harus dialih Terlebih petani buruh yang tidak memiliki lahan, dengan keterbatasan modal dan pendidikan mereka, harus bersaing untuk mendapatan pekerjaan di sektor industri. Sektor industri yang sangat menekankan pada sumber daya manusia (SDM), modal atau investasi, dan teknologi, justru memarginalisasikan petani. Petani yang termarginalisasi sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Masyarakat petani yang minim modal tidak mampu bersaing dengan Jurnal Analisa Sosiologi masyarakat perkotaan. Mereka harus mencari alternatif lain, seperti menjadi buruh pabrik, pedagang, dan mengembangkan usaha lainnya di luar sektor pertanian untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhannya. Selain itu, mereka secara sukarela, sengaja atau tidak melakukan migrasi untuk betahan hidup (Umanailo 2. Alih fungsi lahan pertanian di perkotaan menyebabkan kota bergantung pada pedesaan dan kawasan pinggir. Pemenuhan kebutuhan pangan di perkotaan sangat bergantung pada hasil pangan di daerah pedesaan dan kawasan pinggir sebagai daerah pemasok pangan. Selain itu, perkotaan selalu mengimpor beras dari negara lain untuk pasokan pangan. Dalam kutipan berita cnbcindonesia. com (Sandi 2. melaporkan bahwa dari data BPS. Indonesia telah melakukan impor pangan sebesar US$ 6,13 miliar atau setara dengan Rp 88,21 triliun. Baik itu impor, daging, susu, kopi, teh, hingga bahan pangan seperti cabai, bawang putih, lada, kedelai, dan lainnya. Hal tersebut secara umum dapat memunculkan masalah baru, seperti tidak mampunya kota memproduksi bahan pangan sendiri, guna ketahanan pangan. impor bahan pangan yang terlalu intens dapat berdampak pada perekonomian desa dan daerah pinggiran, sebab daerah tersebut merupakan daerah pemasok pangan. Ketergantungan tersebut mengancam ketahanan pangan perkotaan. Sedikit saja ada gangguan pada ketersediaan pasokan bahan pangan, maka jaminan ketahanan pangan kawasan perkotaan akan mengalami goncangan. Malalui kaca mata teori ketergantungan, penjelasan di atas menunjukan bahwa sistem modern telah masuk ke Indonesia. Masuknya sistem tersebut disebabkan adanya hubungan Indonesia dengan negara maju. Sehingga Indonesia Teori ketergantungan menjelaskan bahwa suatu negara mengalami kemunduran disebabkan karena adanya hubungan dengan negara-negara maju. Salah satu seorang pencetus teori ketergantungan Andre Gunder Frank menjelasakan di dunia terdapat dua kelompok negara, yakni negara metropolis maju dan negara satelit terbelakang. Frank ini berasumsi bahwa negara metropolis maju mampu berkembang pesat, sementara negara satelit mengalami keterbelakangan (Martono 2. Hal tersebut dikarenakan sistem kapitalis Jurnal Analisa Sosiologi dunia masuk ke negara satelit melalui sektor modern. Negara satelit layaknya Asapi perahA untuk modal industri kapitalis di negara pusat. Industri kapitalis mengarah pada ekspolitasi negara satelit, sehingga mengalami kemunduran dan negara pusat semakin maju. Besarnya industri kapitalis di negara berkembang berdampak pada eksploitasi lahan, sumber daya alam, dan tenaga kerja negara satelit. Negara satelit hanya akan berkembang pada sektor ekonomi dan industrinya, jika hubungan dengan negara metropolis sangat rendah atau tidak ada sama sekali. Dos Santos salah satu pencetus teori ketergantungan lain menambahkan dari konsep Frank, bahwa negara-negara satelit mejadi bayangan dari negara-negara pusat metropolis. Negara satelit yang menjadi induknya berkembang diikuti dengan perkembangan negara metropolis. Begitu sebaliknya, negara satelit mengalami krisis, sebab negara pusat mengalami krisis. Bagi Dos Santos, negara satelit dapat berkembang, meskipun perkembangan bersifat AuikutanAy (Kasnawi and Ramli n. Dos Santos membagi ketergentungan menjadi 3 (Digdowiseiso 2. , yakni pertama ketergantungan kolonial yang mana negara pusat melakukan dominiasi politik melalui penjajahan kolonial, sehingga hubungan negara Kedua, ketergantungan finansial-industrial, yang mana ketergantungan disebabkan oleh negara pusat yang mengontrol ekonomi negara satelit. Dalam hal ini negara satelit merupakan negara merdeka secara politis, tidak dijajah. Negara pusat melakukan kontrol melalui penanaman modal ke negara satelit, baik secara langsung atau kerja sama dengan pengusaha lokal. Negara satelit mengekspor bahan baku ke negara pusat demi kepentingan negara pusat. Ketiga. Ketergantungan teknologi-industrial, yang mana negara pusat mulai menanamkan modal ke negara satelit dalam kegiatan industri, yang sifatnya monopolistik untuk pasar dalam negara satelit. Dari penjelasan di atas penulis akan menggambarkan bagaimana lunturnya sektor pertanian di perkotaan. Lunturnya sektor pertanian dapat mengancam ketahanan pangan di daerah perkotaan, hingga ketahanan pangan nasional. Terfokusnya wilayah perkotaan pada sektor industri telah AmengamputasiA pertanian sebagai sektor ekonomi primer Indonesia, baik Jurnal Analisa Sosiologi itu karena alih fungsi lahan pertanian atau kurang mandirinya wilayah perkotaan dalam ketahanan pangan. Maka dari itu, peneliti berusaha menjelaskan hal tersebut secara rinci melalui teori ketergantungan. METODE PENELITIAN Metode penelitian kualitatif digunakan sebagai metode penelitian, melalui pendekatan studi pustaka. Studi pustaka merupakan penelitian yang data primer dan sekunder didapatkan melalui sumber kepustakaan (Darmalaksana. Wahyudin, 2. Sumber-sumber kepustakaan dapat berupa jurnal-jurnal, buku, artikel, berita, web internet, dan berbagai sumber yang relevan dengan penelitian ini untuk digunakan sebagai data. Karakteristik sumber berkaitan dengan informasi-informasi yang berisikan tentang masuknya sistem modern yang menggeser pertanian di Misalnya dalam berita mongabay. id (Setyawan 2. yang menjelaskan tranformasi perkebunan apel di Kota Batu menjadi sektor Sehingga menyebabkan lunturnya sektor pertanian di Kota Batu. Selain itu, penggunaan teknologi yang tidak tepat menjadi salah satu faktor semakin hilangnya sektor pertanian di Kota Batu. Selain itu dalam berita com (Pramesti 2. menjelaskan semakin sempitnya lahan pertanian di Kabupaten Sidoarjo, akibat dari peningkatan permintaan lahan pemukiman dan kawasan perdagangan dan jasa serta kawasan industri. Sementara itu. Sidoarjo menjadi daerah yang berkembang pesat dan menjadi daerah penopang ekonomi di bidang ketahanan pangan Kota Surabaya. Teori ketergantungan digunakan untuk mengidentifikasi fenomena ketergantungan negara Indonesia yang berakibat pada lunturnya pertanian, khususnya di wilayah perkotaan. Ketergantungan tersebut menyebabkan perubahan masyarakat agraris menjadi masyarakat industri, baik dari sosial dan ekonominya. Teori ketergantungan didasarkan pada ketergantungan negara satelit pada negara maju, sehingga mengalami kemiskinan. Data yang sudah dikumpulkan dianalisis menggunakan Model Miles dan Huberman. Data didapatkan dengan mengutip jurnal, buku, artikel, dan sumber dokumen lainnya. Data yang sudah terkumpul kemudian direduksi, yang mana tujuannya adalah merangkum, memilih dan memilah hal-hal Jurnal Analisa Sosiologi yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, mencari tema, dan Selanjutnya melakukan penyajian data yang tujuannya agar data dapat terorganisasikan, tersusun pola hubungannya, sehingga akan semakin mudah dipahami (Sugiyono 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Alih Fungsi Lahan Pertanian Akibat Pertumbuhan Penduduk Kebutuhan bertambahnya penduduk, khususnya di perkotaan. Wilayah perkotaan merupakan pusat perekonomian masyarakat, sehingga banyak masyarakat melakukan urbanisasi ke kota. Masyarakat urban memiliki alasan rasional yang membuat mereka pergi dan menetap di kota. Dalam beberapa penelitian menyebutkan bahwa motif utama masyarakat melakukan urbanisasi adalah motif ekonomi. Seperti yang ditunjukan oleh Meitasari dalam penelitiannya (Meitasari 2. menunjukan bahwa sebanyak 28% dari 39 pemuda desa, tertarik untuk urbanisasi. Faktor ekonomi dan pendidikan menjadi alasan utama mereka untuk berurbanisasi. Saija, dkk, dalam penelitiannya melaporkan bahwa faktor pindahnya masyarakat Minangkabau pergi ke Kota Ambon, dikarenakan Kota Ambon dikenal sebagai kota perdagangan. Masyarakat urban Minangkabau memilih menetap di Kota Ambon, sebab merasa sudah berhasil mencapai taraf hidup yang baik (Saija. Titaley, and Angkotasan 2. Selain banyaknya penduduk yang bermigrasi ke kota, jumlah penduduk kota semakin meningkat dikarenakan tingginya angka kelahiran. Seperti Kota Surabaya yang memiliki tingkat kelahiran per kecamatan mencapai 32,585 laporan pada tahun 2019 (BPS 2. Sesuai yang dijelaskan oleh Philip M. Hauser dan Dudley Duncan . bahwa jumlah, persebaran, teritorial dan komposisi penduduk serta perubahan-perubahannya dan sebab-sebabnya dikarenakan peristiwa kelahiran, kematian dan migrasi . erak teritoria. dan mobilitas status (Sonny Harmadi 2. Jurnal Analisa Sosiologi Dalam teori kependudukan atau demografi tingginya jumlah penduduk akan diiringi oleh kebutuhan penduduk yang semakin meningkat. Sementara itu ketersediaan pangan sangat terbatas. Teori Malthus menyebabkan tanah tidak mampu menyediakan hasil pangan. Beban manusia yang semakin meningkat, menyebabkan menurunnya daya dukung tanah (Bidarti 2. Aliran Neo-Malthusian berpendapat lebih radikal. Mereka jumlah manusia yang banyak, menyebabkan sumber daya sangat terbatas dan langka. Lingkungan semakin rusak akibat populasi manusia yang terus meningkat (Alma 2. Jumlah penduduk yang terus meningkat berakibat pada berubahnya fungsi lahan pertanian. Di wilayah perkotaan, jumlah penduduk terus meningkat, sehingga kebutuhan untuk pemukiman harus dipenuhi. Lahanlahan pertanian telah beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pertumbuhan jumlah penduduk menyebabkan daya dukung tanah semakin menurun. lingkungan semakin rusak. Pada artikel yang ditulis oleh Fathonah (Fathonahm 2. Kota Bekasi sudah mengalami proses suburbanisasi. Hal tersebut nampak dari berubahnya lahan-lahan pertanian menjadi kawasan industri. Sekitar 3000 ha dari 69. ha luas lahan sawah yang ada di kota/kabupaten Bekasi beresiko terkonversi lahan yang tinggi. Pedesaan yang ada di kota Bekasi mulai luntur karena dibangunnya perkantoran,perumahan dan sektor industri lainnya. Aktivitas ekonomi dibidang ekonomi dan pembangunan rumah telah menyusutkan lahan pertanian. Dalam berita solo. com (Tribun Network 2. Pemerintah Kabupaten Sragen telah mengubah status lahan dari zona pertanian menjadi kawasan industri dan kota mandiri. Sekitar 1. 300 ha disiapkan bagi investor. Pemkab telah menyediakan dana sebesar Rp. Miliyar yang bersaral dari pinjaman. Hal tesebut dilakukan Pemkab Sragen dalam rangka pembangunan kota, melalui penyediaan Mall Pelayanan Publik, perhotelan, hingga wilayah bisnis. membangun pasar modern dan tradisional yang bersih. Jurnal Analisa Sosiologi Pada penelitian yang dilakukan oleh (Erfrissadona. Sulistyowati, and Setiawan 2. melaporkan bahwa lahan pertanian di Kota Tasikmalaya beralih fungsi. Pertumbuhan arus urbanisasi yang semakin cepat membuat kebutuhan tempat tinggal semakin tinggi. Selain itu, karena banyaknya penduduk mengharuskan adanya fasilitas umum, seperti jalan, pusat perbelanjaan, dan lainnya. Maka dari itu, banyak lahan pertanian beralih fungsi menjadi menjadi perumahan, bandar udara serta fasilitas umum seperti jalan raya. Pada penjelasa di atas wilayah perkotaan semakin padat disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk, baik karena kelahiran dan migrasi. Kota menjadi wilayah konsentrasi berbagai aktivitas di berbagai sektor, sehingga wilayah kota menjadi konsentrasi penduduk. Dengan bertambahnya jumlah penduduk di kota telah menciptakan kepadatan penduduk, sehingga lahan pertanian beralih fungsi menjadi lahan pemukiman, hingga lahan industri. Peningkatan jumlah penduduk di kota mengharuskan tersedianya jumlah lahan untuk pemukiman. Pada akhirnya, lahan pertanian harus dikorbankan untuk tersedianya lahan pemukiman penduduk. Dominasi Sektor Industri Di Perkotaan Konsentrasi industri di perkotaan membentuk masyarakat industri yang mengutamakan sektor industri dalam perekonomiannya. Modernisasi selalu menghadirkan industrialisasi, begitu juga sebaliknya industrialisasi menghadirkan modernisasi. Seperti yang dijelaskan oleh Gunnar Myrdal, bahwa untuk mewujudkan pembangunan, maka perlu mewujudkan industrialisasi melalui pembangunan pabrik-pabrik besar dan modern, yang yang merupakan simbol kemajuan (Rahardjo, 1984. dalam Jamaludin 2. Dengan demikian, alih fungsi lahan pertanian di perkotaan merupakan upaya untuk mewujudkan modernisasi, yang dianggap mampu mencapai pertumbuhan ekonomi. Sektor ekonomi dominan menjadi sumber mata pencaharian penduduk terbesar serta menjadi penyerap tenaga kerja yang Wilayah perkotaan di Indonesia saat ini didominasi oleh sektor industri untuk menjalankan aktivitas ekonomi. Pemerintah Indonesia Jurnal Analisa Sosiologi semakin memperkuat sektor industri dengan membangun industri-industri besar di wilayah perkotaan. Dalam berita kabarbanten. pikiran-rakyat. (Putri 2. menjelaskan bahwa lahan pertanian atau Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) mengalami penyempitan. Hal tersebut dikarenakan adanya kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang menjadikan Kecamatan Kasemen. Kota Serang menjadi kawasan industri. Selain itu dalam berita mongabay. id (Setyawan 2. melaporkan bahwa Kota Batu kehilangan julukan sebagai Kota Apel. Hilangnya julukan tersebut dikarenakan hilangnya pertanian apel. Lahan pertanian apel mengalami alih fungsi lahan. Lahan pertanian beralih fungsi menjadi lahan pemukiman, hingga sektor industri wisata. Jika merujuk data BPS, pada tahun 2010 lahan pangan di Kota Batu seluas 2. 661 hektar lalu pada 2020 menurun tajam menjadi 1. 998 hektar. Kurangnya produktifitas pertanian di Kota Batu menyebabkan para petani merugi, sehingga banyak kasus alih fungsi lahan pertanian. Selain itu, menyusutnya lahan pertanian dikarenakan kurang pekanya kebijakan pemerintah daerah. Perda RTRW sangat tidak peka terhadap ruang dan lingkungan hidup. Begitu juga di Sidoarjo yang mengalami penurunan lahan pertanian. Tercatat bahwa pada tahun 2013-2016 luas lahan pertanian di Kabupaten Sidoarjo semula seluas 18. 000 Ha menjadi 12. 500 Ha. Penurunan tersebut disebabkan permintaan lahan untuk kawasan industri semakin meningkat. Kabupaten Sidoarjo mengalami perubahan alih fungsi lahan yang cepat, mengingat Kabupaten Sidoarjo merupakan daerah yang menopang Kota Surabaya. Pertumbuhan perekonomian yang sangat cepat membuat lahan pertanian di Sidoarjo semakin semakin sempit. Lahan-lahan pertanian beruban menjadi kawasan-kawasan industri, sehingga lahan pertanian semakin menurun. Hal tersebut juga dikarenakan semakin tingginya jumlah penduduk di Sidoarjo. kebutuhan lahan untuk pemukiman juga semakin Wilayah perkotaan tidak hanya didominasi oleh industri-industri besar, yang menarik tenaga kerja di berbagai daerah. Melainkan ditopang oleh usaha masyarakat dalam kegiatan pertumbuhan ekonomi. Dalam Jurnal Analisa Sosiologi penetilan yang dilakukan oleh (Sakmawati 2. memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat di Kelurahan Tamangapa. Kecamatan Manggala. Kota Makassar membuat maraknya alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian. Lahan pertanian yang sangat strategis di sekitar jalan raya membuat pemilik lahan pertanian menjual lahannya, atau menjadikan lahan pertanian ke non pertanian, seperti toko penjual alat tulis, barang campuran, bengkel, salon, apotek, warung makan, penjual coto, usaha percetakan, usaha laundry. TABOX (Tamangapa Bo. dan usaha bahan bangunan seperti usaha pasir dan batu gunung. Dari penjelasaan di atas memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi di perkotaan dan daerah sekitarnya, membuat maraknya alih fungsi Perkotaan menjadi pusat industrialisasi, sehingga pertumbuhan ekonomi semakin meningkat. Pertumbuhan ekonomi, khususnya di perkotaan diwujudkan melalui pembangunan pabrik-pabrik besar dan modern, yang yang merupakan simbol kemajuan untuk pembangunan. Hadirnya pabrik-pabrik Pemilik lahan pertanian memilih untuk merubah lahan pertaniannya menjadi toko-toko dan usaha lainnya. Bahkan menjual lahannya kepada investor atau negara untuk dibangun fasilitas atau industri. Mengingat rumah tangga petani mengalami kemiskinan, oleh sebab itu mereka menjual lahan atau merubah lahan menjadi usaha non pertanian. Oleh sebab itu, lahan pertanian di perkotaan semakin sempit karena maraknya alih fungsi lahan. Minat Profesi Petani Masyarakat Pertumbuhan ekonomi perkotaan membentuk masyarakat menjadi masyarakat industri. Sebagian besar proses industrialisasi berlangsung di daerah perkotaan. Banyak pabrik-pabrik, hingga industri lainnya menarik perhatian masyarakat dearah untuk migrasi ke kota. Sebagaian besar motif masyarakat untuk urbanisasi adalah untuk bekerja dan melanjutkan Hubungan desa-kota bersifat transformasi sosial dan budaya. Masyarakat tradisional memainkan peranan dalam memodernkan struktur Jurnal Analisa Sosiologi sosial dan ekonomi, tetapi sistem-sistem budaya, sikap individu dan tradisi tidak hancur secara keseluruhan. Masyarakat mengalami perubahan dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Hal tersebut akibat dari penerapan berbagai nilai dan teknologi yang menjadi bagian dari proses modernisasi (Munandar Soelaiman, 1998: 93. dalam Jamaludin 2. Menurut Suwarsono . 6, dalam Jamaludin 2. menjelaskan bahwa modernisasi melibatkan perubahan pada hampir segala aspek tingkah laku sosial, termasuk di dalamnya industrialisasi, urbanisasi, diferensiasi, sekularisasi, sentralisasi, dan sebagainya. Modernisasi mengedepankan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang mana akan membantu manusia untuk mencapai kemajuan. Berbagai aspek kehidupan manusia mengalami perubahan kerena adanya modernisasi yang tidak dapat dihindarkan. Mulai dari aspek sosial, budaya, pendidikan, hingga ekonomi. Hadirnya sektor-sektor ekonomi industri di perkotaan menarik perhatian masyarakat di berbagai daerah. Masyarakat urban mengalami perubahan, baik status ekonomi, sosial, dan budayanya. Perubahan tersebut dikarenakan masuknya nilai-nilai modern di berbagai kehidupan masyarakat Masyarakat urban mulai meninggalkan pekerjaan sebelumnya sebagai petani, baik secara terpaksa maupun partisipasi. Dalam berita com (Maslan 2. melaporkan bahwa terdapat seorang pedagang kopi beraman Agus Lenon . yang menjual lahan pertaniannya, akibat desakan ekonomi. Hampir sebagian besar warga di desanya kehilangan lahan bertani. Hal tersebut dikarenakan desakan ekonomi dan derasnya pembangunan, sehingga mereka terpaksa menjual Lahan tersebut berubah menjadi pabrik dan perumahan. Saat ini Agus Lenon menjual makanan dan minuman di pojokkan Jalan Desa Bojongasih. Parakansalak. Sukabumi. Jawa Barat. Alih-alih bertani, hampir 80 persen warga desa pergi ke kota untuk mencari nafkah, baik ke Kota Sukabumi. Bogor, maupun Jakarta. Selain karena kebutuhan ekonomi, alih fungsi lahan disebabkan oleh proyek-proyek pembangunan infrastruktur dan proyek strategis nasional. Jurnal Analisa Sosiologi Seperti proyek-proyek strategis di Jawa Barat yang menggusur lahan Proyek tersebut antara lain pembangunan Bendungan Jatigede di Sumedang. Bandara Internasional Jawa Barat di Majalengka, pembangkit listrik tenaga uap di Indramayu dan Cirebon, serta pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung. Begitu juga yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Banyak proyek stategis nasional yang berhadapan dengan lahan pertanian. Penggusuran lahan pertanian harus dilakukan untuk kepentingan proyek tersebut, seperti pembangunan PLTU Cilacap. Bendungan Bener di Purworejo dan Wonosobo. New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo, jalan tol Yogyakarta-Bawen, jalan tol Yogyakarta-Cilacap, dan tol Yogyakarta-Solo. Semua itu untuk mendukung kebutuhan pariwisata strategis KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasiona. di Borobudur. Proyek tersebut menyebabkan rumah dan lahan pertanian produktif seluas 600 ha harus tergusur. Bagi para petani yang awalnya mendapatkan penghasilan dari pertanian sebesar Rp 50 Ae 80 juta, kini mereka harus bekerja serabutan. Para penduduk yang berprofesi sebagai petani terpaksa menjual lahannya untuk kepentingan proyek Para pemilik lahan pertanian secara terpaksa harus meninggalkan profesi lamanya sebagai petani, sebab keadaan ekonomi yang mendesak . dan derasnya pembangunan proyek-proyek nasional, maupun Modernisasi memaksa nilai-nilai tradisional untuk bertransformasi menjadi nilai-nilai modern. Hal tersebut nampak pada penjelasan di paragraf sebelumnya, yang mana banyak proyek-proyek modern yang merubah fungsi lahan pertanian menjadi industri. Modernisasi juga merubah masyarakat tradisional menjadi masyarakat industri secara partisipasi. Masyarakat tidak secara terpaksa untuk merubah diri, namun secara suka rela untuk memodernisasi struktur kehidupannya. Masyarakat pergi ke kota untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Wijaya, dkk . menunjukan minimnya lapangan pekerjaan di desa membuat para pemuda Desa Tamansari bertekat untuk Sektor pertanian merupakan sektor utama bagi masyarakat Desa Tamansari, namun para pemuda di sana tidak tertarik dengan dunia Jurnal Analisa Sosiologi pertanian, sehingga banyak para pemuda yang tidak produktif. Sektor pertanian tidak menjamin masa depan yang lebih baik, karena penghasilan yang diperoleh sangat sedikit. Para pemuda memutuskan untuk pergi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih besar. Sektor industri yang lebih maju dan luasnya lapangan pekerjaan di kota membuat para pemuda bertekat pergi ke kota. Penelitian yang dilakukan oleh Mulyati . menunjukan hal yang Masyarakat urban asal Jawa Tengah melakukan urbanisasi ke wilayah Tangerang Selatan adalah untuk mendapatkan mata pencaharian yang lebih Hal tersebut dikarenakan kurangnya lapangan pekerjaan di wilayah Jawa Tengah yang sesuai dengan lulusan dan keterampilan masyarakat Bagi mereka yang tidak memiliki sawah atau lahan garapan, dan modal hanya bisa menggarap lahan milik orang lain dengan sedikit Sedangkan untuk melakukan usaha, mereka tidak memiliki Selain itu, tingkat konsumsi di wilayah masyarakat urban sangat rendah, sehingga segmen pasar tidak menjamin penghasilan yang lebih. Para pemuda di Jawa Tengah juga memiliki tingkat minat yang rendah untuk bekerja di sektor pertanian. Zaman yang semakin modern membuat para pemuda meninggalkan sektor pertanian, dan mulai bertekat untuk pergi ke kota-kota besar, seperti di Tangerang Selatan. Bagi mereka, bekerja di kota dapat menjamin kesejahteraan ekonomi. Sesuai yang dijelaskan oleh Susilowati . 6, dalam (Arvianti et al. sektor pertanian semakin ditinggalkan dikarenakan faktor internal dan eksternal. Faktor internal berkaitan dengan kondisi individu atau ketertarikan individu pada sektor pertanian. Faktor-faktor tersebut antara lain: . luas lahan dan status kepemilikan lahan semkin sempit, . sektor pertanian kurang memberikan prestise sosial, kotor, dan berisiko, . kualitas pendidikan dan kesempatan kerja tidak cocok, . presepsi pertanian yang memiliki resiko tinggi, sehingga kurang memberikan jaminan tingkat, stabilitas, dan kontinuitas pendapatan, . minimnya tingkat pendapatan , . tidak berkembangnya usaha nonpertanian dan industri pertanian di desa, . rendahnya pengelolaan usaha tani kepada Jurnal Analisa Sosiologi anak, . belum ada kebijakan insentif khusus untuk petani muda atau pemula, . terbatasnya akses dukungan layanan pembiayaan dan penyuluhan pertanian, . terbatasnya infrastruktur produksi . ir, listrik, jalan, telekomunikas. Hasil keuntungan pendapatan yang didapat oleh rumah tangga petani sangat berpengaruh pada minat anggota rumah tangga petani untuk menjadi Seperti penelitian yang dilakukan oleh (Arimbawa and Rustariyuni 2. menunjukan bahwa pendapatan orang tua petani dapat berpengaruh pada anak petani untuk meneruskan usaha tani. Selain itu, pengaruh dukungan orang tua juga penting. Banyak rumah tangga petani mengharapkan anaknya tidak meneruskan usaha tani, sebab tidak memiliki masa depan yang baik. Para orang tua petani menyekolahkan anaknya dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Hal tersebut ditunjukan pada berita kumparan. com (Kumparan. bahwa terdapat seorang petani bernama Tri Kuntadi yang enggan anaknya menjadi Kuntadi adalah seorang petani yang memiliki lahan garapan seluas 000 meter. Kuntadi memiliki dua anak yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Kuntadi beralasan bahwa menjadi petani sangat tidak enak. sulitnya mencari lahan, pupuk langka, setiap hari harus ke sawah. berhadapan dengan lumpur dan teriknya matahari, dan harus menghadapi harga beras yang anjlok saat panen. Dengan itu. Kuntadi tidak rela jika anaknya menjadi petani. Hal yang sama dialami oleh Nugroho . yang adalah seorang petani hortikultura, yang memiliki luas lahan sekitar 000 meter. Nugroho memiliki dua orang anak yang sudah mengenyam pendidikan tinggi, agar mencapai kehidupan yang lebih baik. Anak pertamanya lulusan Agribisnis UNS sudah bekerja di bagian manajemen sebuah perusahaan apotek. Sedangkan anak keduanya masih menempuh S2 Pariwisata di UGM. Nugroho berusaha agar anaknya mendapatkan pendidikan tinggi. Nugroho tidak merekomendasikan anak-anaknya untuk bekerja sebagai petani, sebab bagi Nugroho pekerjaan sebagai petani bukan pekerjaan yang menjamin. Jurnal Analisa Sosiologi Dari penjelasan di atas terlihat bahwa regenerasi petani semakin menurun akibat kurang diperhatikannya sektor pertanian. Hal tesebut dikarenakan sektor pertanian yang semakin bergeser menjadi sektor industri. Proyek-proyek nasional mengharuskan fungsi lahan pertanian menjadi Selain itu, keterpurukan ekonomi petani memaksa para petani untuk menjual lahan pertaniannya dan meninggalkan pekerjaan sebagai Para petani juga memilih pergi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak . on pertania. Hal tersebut juga didukung oleh para rumah tangga petani yang tidak menginginkan anaknya untuk bekerja sebagai petani. Mereka berusaha untuk menyekolahkan anaknya agar mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Hal tersebut dilakukan supaya anak-anak mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Selain itu, institusi pendidikan di Indonesia mengarahkan pada sektor industri, sehingga individu yang mengenyam pendidikan tinggi, akan semakin rasional dalam memilih pekerjaan (Arvianti et al. (Kamajaya 2. Pembahasan Wilayah Hal tersebut dikarenakan terlalu fokusnya pemerintah Indonesia dalam pembangunan ekonomi di sektor industri. Banyak investorinvestor yang mulai menanamkan modal ke Indonesia. Pabrik-pabrik besar berada di perkotaan menyerap tenaga kerja di berbagai daerah. Hal tersebut menyebabkan terjadinya arus urbanisasi yang kuat. Pada akhirnya lahan di perkotaan tidak hanya digunakan untuk pabrik-pabrik, perusahaan, dan lainnya, melainkan pemukiman penduduk. Banyaknya penduduk di perkotaan mengharusnya tersedianya lahan pemukiman. Hal tersebut membuka usaha properti dan real estate untuk memenuhi kebutuhan lahan Berbagai industri dan usaha tersebut justru melunturkan pertanian di Indonesia, khususnya di area perkotaan. Jika dianalisis dalam teori ketergantungan, pembangunan ekonomi tidak hanya diartikan sebagai industrialisasi, atau peningkatan output dan produktivitas, melainkan lebih pada peningkatan standar hidup bagi setiap penduduk (Martono 2. Negara Indonesia terlalu berhubungan dengan negara maju. Alih-alih untuk AmengamputasiA Jurnal Analisa Sosiologi kemampuan diri negara Indonesia untuk pembangunan secara otonom, melalui sektor pertanian. Hal tersebut nampak pada penjelasan di atas, yang menjelaskan pembangunan ekonomi Indonesia di dasarkan pada sektor Seperti Pemerintah Kabupaten Sragen yang telah mengubah status lahan dari zona pertanian menjadi kawasan industri dan kota mandiri. Selain itu, seperti pada artikel kemenperin. id (Indonesia 2. menyebutkan bahwa RI-UNIDO akan memperkuat kerja sama dengan sektor industri. Selain itu pemerintah akan melakukan kerja sama bilateral, maupun miltilateral dengan negara-negara potensial untuk mefasilitasi perluasan pasar industri nasional, agar mampu bersaing. Pemerintah berupaya kuat untuk menekankan penggunaan teknologi digital sesuai implementasi peta jalan Making Indonesia 4. Hal tersebut dilakukan agar daya saing Indonesia SDM industri, serta perbaikan standar kualitas produk-produk industri kecil Melalui proyek-proyek kerja sama, diharapkan mampu meningkatkan pembangunan ekonomi. Namun demikian, jika penggunaan teknologi tidak tepat guna dan semakin tidak diperhatikannya sektor pertanian, maka pembangunan ekonomi hanya sebuah angan-angan. Justru kerjasama tersebut dapat menguntungkan negara maju. keuntungankeuntungan berpindah ke negara maju dan semakin memiskinkan negara Wilayah pembangunan ekonominya. Banyak sektor industri yang terbangun di Berbagai daerah perkotaan telah menggeser lahan pertanian menjadi lahan industri. Hal tersebut dikarenakan permintaan lahan industri yang semakin tinggi, sedangkan lahan pertanian semakin menyempit. Berkaitan dengan penjelasan di paragraf di atas, lahan pertanian semakin di eksploitasi oleh para pemilik modal, bahkan pemerintah. Pemerintah yang mementingkan infrastruktur, pembangunan ekonomi melalui kerjasama investor, dan proyek-proyek strategis lainnya, menciptakan keterbelakangan masyarakat petani. Sesuai dengan teori ketergantungan yang dijelaskan oleh Frank bahwa negara satelit hanya menjadi Asapi perahA untuk negara pusat. Kemunculan industri-industri di negara satelit mengarah pada munculnya industri kapitalis, yang berdampak pada eksploitasi tanah, sumber daya alam Jurnal Analisa Sosiologi dan tenaga kerja satelit (Martono 2. Tampak jelas pada hasil penemuan di atas bahwa alih fungsi lahan pertanian semakin menghilang karena permintaan untuk lahan industri. Seperti lahan di Sidoarjo yang diminta untuk kawasan industri untuk menopang Kota Surabaya. dan untuk kawasan Hal yang sama terjadi di Kota Batu, yang mana kebun pertanian seperti Apel beralih fungsi menjadi lahan industri pariwisata, seperti Hotel. Villa, dan tempat hiburan lainnya. Eksploitasi tanah tersebut menyebabkan lahan pertanian semakin menurun dan berujung pada lunturnya sektor pertanian di perkotaan. Sektor pertanian pada dasarnya merupakan ekonomi primer di Indonesia. Namun, karena masuknya modernisasi di Indonesia membuat sektor pertanian semakin terpinggirkan. Pembangunan hanya dilakukan di perkotaan pada sektor industrinya, sehingga perekonomian berpusat pada sektor industri. Pertanian semakin di tinggalkan dan para petani harus bertahan hidup dengan bekerja di sektor non pertanian, baik menjadi buruh, pengusaha, berjualan, atau jika memiliki riwayat pendidikan tinggi dapat bekerja di sektor industri yang lebih tinggi. Hadirnya industri-industri yang hadir dengan modernisasi oleh negara pusat hanya mengeksploitasi tenaga kerja negara satelit saja. Hal tersebut hanya akan melemahkan kemampuan produksi pertanian di negara satelit, dikarenakan sistem kapitalisme yang telah masuk (Martono 2. Lemahnya sektor pertanian di Indonesia diakibatkan oleh lemahnya peraturan hukum dan kurang berpihaknya pemerintah pada sektor pertanian. Seperti pada hasil temuan di atas, para petani selalu mengalami keterpurukan, sebab harus merelakan lahannya untuk proyek-proyek Pada (Kumparan. menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah kurang berpihak kepada petani. Seperti yang dialami oleh Nugroho yang merasakan hal tersebut. Ketika harga komoditas pertanian naik, pemerintah berusaha menurunkan dengan cara impor. Tapi ketika harga anjlok, pemerintah tidak hadir untuk menangani hal tersebut. Peraturan yang mengatur keputusan untuk alih fungsi lahan adalah pada pemerintah daerah. Hal tersebut tertuang dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Jurnal Analisa Sosiologi Berkelanjutan. Selain itu di dalam UU Cipta Kerja ada sanksi pidana atau denda bagi pejabat yang memberikan persetujuan tapi tidak sesuai kriteria ketentuan alih fungsi lahan, yaitu dalam Pasal 73 UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Terdapat syarat alih fungsi sawah, yakni memenuhi kajian kelayakan strategis, disusun rencana alih fungsi lahan, dibebaskan kepemilikan haknya, dan harus menyediakan lahan pengganti. Namun demikian, dengan adanya peraturan tersebut masih belum memihak pada sektor pertanian. Pemerintah hanya fokus pada sektor industri saja. Terfokusnya negara pada pembangunan industri dapat melunturkan sektor pertanian. Saat ini Indonesia hanya bertumpu pada modal-modal, baik lokal maupun asing untuk berjalannya aktivitas industri. Banyak para petani yang harus menjual lahannya untuk proyek-proyek nasional. Selain itu, sektor pertanian kurang diperhatikan, sehingga memperburuk keadaan para petani. Pada akhirnya para petani harus meninggalkan pertanian dan beralih ke sektor non pertanian, baik secara terpaksa atau suka rela. Suka rela dalam hal ini adalah mengikuti arus modernisasi. bekerja di sektor modern agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada menjadi Sedangkan secara terpaksa adalah keadaan yang mengharuskan atau mendesak secara ekonomi untuk menjual lahan pertaniannya. Hal tersebut nampak pada hasil temuan di atas. Para rumah tangga petani harus menjual lahan pertaniannya, sebab terpuruknya keadaan ekonominya. Selain itu proyek-proyek nasional juga menggusur lahan pertanian untuk dijadikan infrastruktur, industri, dan lainnya. Keterpurukan profesi sebagai petani juga dibenarkan oleh para petani, sehingga tidak menginginkan profesi sebagai petani diteruskan oleh anak-anaknya. Para petani lebih memilih untuk menyekolahkan anaknya agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Selain itu, lembaga pendidikan di Indonesia hanya berfokus pada bagaimana agar peserta didik dapat bekerja di sektor industri. Dengan demikian, regenerasi petani akan mengalami penurunan, sehingga dapat menimbulkan apa yang disebut sebagai krisis petani. Dalam teori ketergantungan Frank terdapat dua negara, yakni negara pusat . egara-negara metropolis maj. dan negara satelit . egara-negara satelit yang terbelakan. Hubungan negara pusat dan berkembang melahirkan sistem kapitalis berskala global. Hubungan pusat-satelit ini telah Jurnal Analisa Sosiologi menyentuh berbagai sektor negara-negara satelit, sehingga keterbelakangan sektor tradisional justru diakibatkan oleh adanya kontak dengan negara pusat yang membawa sistem kapitalis dunia melalui sektor modern (Kasnawi and Ramli n. Hal tersebut sesuai dengan hasil penjelasan di atas bahwa masuknya sistem kapitalis melalui sektor modern telah membuat sektor tradisional mengalami keterbelakangan. dalam hal ini sektor tradisional adalah sektor pertanian. Dibuktikan dengan semakin terpuruknya keadaan petani, sebab lahan pertanian mereka harus beralih fungsi menjadi proyek-proyek nasional, baik menjadi sarana infrastruktur, sektor industi, dan lainnya. Selain itu, keterpurukan petani akibat sektor modern, mengharusnya petani meninggalkan profesi lamanya sebagai petani, dan bersaing dalam sistem modern. baik menjadi buruh, pekerja serabutan, atau yang memiliki pendidikan tinggi bekerja di sektor industri besar. Hal tersebut juga didukung oleh tingkat motivasi anak untuk menjadi petani. Para petani melihat kondisi menjadi petani tidak menjamin, membuat para rumah tangga petani tidak ingin anaknya meneruskan pekerjaan sebagai Mereka berusaha agar anaknya mendapatkan pendidikan tinggi, dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Seperti yang dijelaskan Frank, bahwa sektor modern merupakan kaki tangan sistem kapitalis dunia yang melakukan eksploitasi terhadap daerah, sehingga sektor yang sekarang menjadi terbelakang. Ekspoitasi tersebut dapat berupa lahan, sumber daya alam, dan tenaga kerja (Martono 2. Dengan demikian, sektor pertanian semakin luntur, sebab lahan petanian dan regenerasi para petani semakin berkurang, sebab masuknya sektor modern. KESIMPULAN Lunturnya sektor petanian bukan tanpa akibat dari adanya Modernisasi berdampingan dengan industrialisasi yang terus menekankan pada pembangunan ekonomi melalui industri-industri besar. Wilayah perkotaan menjadi wilayah yang paling banyak melakukan industrialisasi, sehingga sering terjadi alih fungsi lahan pertanian. Lahan pertanian di perkotaan mengalami penurunan drastis akibat proyek-proyek nasional, atau kepentingan investor. Demikian juga yang terjadi di daerah Jurnal Analisa Sosiologi sekitar kota, yang menjadi daerah penopang, yang mana lahan pertaniannya semakin berkurang sebab permintaan untuk lahan pemukiman dan sektor Hal tersebut disebabkan masuknya sektor modern di Indonesia melalui hubungan Indonesia dengan negara lain. Ketergantungan negara Indonesia dengan teknologi dan modal luar negeri. Terlihat dari beberapa daerah Indonesia melakukan pembangunan kota dengan membuka kawasan Hal tersebut merubah stasus lahan pertanian menjadi lahan industri. Konsentrasi penduduk terhadap perkotaan menciptakan kepadatan Naiknya jumlah penduduk mengakibatkan kebutuhan akan lahan pemukiman semakin meningkat. Pertumbuhan yang begitu cepat akibat kelahiran dan migrasi dapat merusak daya dukung tanah, sehingga merusak Hal tersebut terlihat ketika banyaknya permintaan lahan pemukiman akibat pertumbuhan penduduk yang cepat. Daya dukung tanah semakin berkurang, sebab lahan pertanian semakin berkurang, sehingga akan berdampak pada ketahanan pangan kota secara mandiri. Indonesia terlalu berfokus pada pembangunan sektor industri. Banyaknya industri-industri akan melunturkan pertanian di perkotaan. Akitvitas ekonomi perkotaan didominasi oleh sektor industri, yang akan menyerap tenaga kerja di berbagai daerah. Hal tersebut dapat menyebabkan sektor pertanian semakin terpuruk. Pemerintah tidak berpihak pada sektor pertanian dan hanya berfokus pada sektor industri. sekalipun terdapat undang-undang untuk melindungi sektor pertanian. Para petani secara terpaksa menjual lahan pertaniannya untuk kepentingan pemerintah dan investor, baik untuk pembangunan infrastruktru, hingga industri pabrik. Lunturnya sektor pertanian juga terlihat pada motivasi para pemuda. Banyak rumah tangga petani yang tidak menginginkan anaknya menjadi petani. Pada akhirnya regenerasi petani semakin berkurang. Pada pemuda kini berminat pada sektor industri, terlebih mereka yang mendapatkan pendidikan tinggi akan lebih rasional dalam memilih pekerjaan. sektor pertanian yang tidak menjamin. Masuknya sektor modern terbukti kurang mampu mempertahankan sektor pertaninan. Terlihat dari data yang telah ditampilkan di atas menunjukan semakin lunturnya sektor pertanian, khususnya di perkotaan. Sesuai dengan teori ketergantungan, hubungan negara pusat dan negara Jurnal Analisa Sosiologi satelit akan membuka jalan bagi masuknya sistem kapitalis yang sifarnya Hubungan Jika tendensi ketergantungan tersebut masih dilakukan atau tidak diperbaiki, maka ketahanan pangan di Indonesia akan terancam. DAFTAR PUSTAKA