UPACARA TEING NGASANG DALAM TRADISI MASYARAKAT MANGGARAI DAN SAKRAMEN BAPTIS (Sebuah Pengantar Studi Perbandingan Inisias. Bonifasius Jagom Pascasarjana STFT Widya Sasana. Malang. Email: jagomboni29@gmail. Abstract For the etnic society of Manngarai. West Folres, the presence of child/baby in their family is a gift from God that must be grateful. The thanksgiving ceremony for the presence of the child is called Teing Ngasang. Teing Ngasang is a rite of giving a name to a child who born into the Manggarai For the name is something very valuable. Name is a representation of a person's The "name" actually includes one's identity and behavior patterns. Therefore. Manggarai people always try to avoid actions or behavior that can damage their reputation. The author's focus is to look at the comparison of initiation rites as well as points of equality and difference between the ceremony of Teing Ngasang and Baptist Sacrament in the Catholic Church. In addition, the author will review the points which are donations from the Teing Ngasang ceremony in relation to the Baptist Sacrament. The findings of this comparative study are a change in the meaning of the Teing Ngasang ceremony in the light of Christian Faith. In addition, it is also known that the relations and the awareness of the Supreme Being in the lives of the Manggarai people existed long before Catholicism entered. Keywords: Upacara, ritus, teing ngasang. Manggarai. Sakramen Baptis. Inisiasi PENDAHULUAN Salah satu bentuk kekayaan bumi Nusantara, selain alamnya yang indah dan subur ialah kebudayaan atau tradisinya. Kekayaan tradisi tersebut tidak lain merupakan warisan leluhur yang harus dilestarikan Tradisi yang diwariskan tersebut bukanlan warisan mati, melainkan memiliki seperangkat nilai hidup yang sangat membantu perkembangan masyarakat (Tulus, 2016:. Kesadaran untuk memahami, menghayati dan menjadikan nilai-nilai dalam tradisi tersebut sebagai suatu pegangan hidup merupakan salah satu kebutuhan mendesak yang harus segera ditanggapi oleh orang-orang zaman sekarang. Langkah tersebut harus segera diambil sebagai salah satu usaha untuk mengatasi hanyutnya tradisi atau kebudayaan lokal oleh kebudayaan dan gaya hidup moderen yang terus berkembang dan semakin menjadi-jadi. Masyarakat Manggarai. Flores Barat, tidak terkecuali dalam hal ini, memiliki panggilan dan tuntutan moral yang sama dalam menjaga kelestaraian tradisi atau adat istiadatnya. Masyarakat Manggarai, sebagaimana masyarakat adat suku lain, juga memiliki keanekaragaman. Berbagai tradisi telah menanamkan banyak nilai dan falsafah hidup yang turut mengatur pola hidup masyarakat Manggarai sendiri, baik itu dalam berelasi dengan keluarga, masyarakat atau pun ketika berhadapan dengan masyarakat dari kebudayaan lain. Berbagai tradisi yang ada membuat masyarakat Manggarai tidak bisa mengatur pola hidup dan tingkah lakunya sesuka hati. Masyarakat Manggarai adalah masyarakat yang beradat atau bertradisi. Kehidupan sehari-harinya tidak bisa terlepas dari tradisi yang telah bertahun-tahun diwariskan oleh nenek moyang mereka. Sampai sekarang masyarakat Manggarai masih memegang kuat adat atau tradisinya walaupun harus terus berjuang melawan berbagai pengaruh budaya moderen, yang perlahan-lahan mengikis, memudarkan bahkan menghilangkan eksistensi dari berbagai tradisi yang ada. Salah satu produk kebudayaan atau tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur masyarakat Manggarai ialah tradisi atau ritus teing ngasang, suatu ritus pemberian nama kepada seorang anak . Ritus teing ngasang anak ini mengandung banyak nilai dan yang perlu digali dan dihayati, terutama bagi masyarakat Manggarai sendiri. Tulisan ini hendak mengelaborasi kesejajaran, melalui studi perbandingan, antara upacara teing ngasang anak dengan upacara Sakramen Baptis. II. METODE Penelitian yang mendasari artikel ini adalah penelitian lapangan dalam bentuk wawancara. Semua transkrip data dari wawancara diketik dan disusun menurut tahapan: reduksi data . dentifikasi dan pengkodea. , kategorisasi . etiap kategori diberi nama yang jela. , sintesisasi . encari kaitan antar kategor. dan menyusun hipotesa kerja . enjawab pertanyaan penelitia. Analisis kualitatif melalui tiga proses, yakni mendeskripsikan, mengklarifikasi dan melihat bagaimana konsep-konsep yang muncul itu saling berkaitan satu dengan lainnya. Ini adalah proses siklis, dimana ketiganya saling berhubungan satu dengan yang lain. Sementara itu, data sekunder digali dari berbagi sumber, termasuk dokumen, laporan, publikasi akademis, majalah, dan surat kabar baik cetak maupun online. Data sekunder tersebut dikumpulkan untuk melengkapi data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi, dan menjadi tambahan informasi dalam memformulasikan pertanyaan serta membuka jalan bagi upaya-upaya penambahan data. HASIL DAN PEMBAHASAN Ritus Teing Ngasang Tradisi masyarakat Manggarai memiliki makna yang sangat mendalam terutama perihal membangun relasi dan kepercayaan antar manusia. Tuhan dan alam semesta. Hal ini terungkap dalam berbagai kekayaan, dimana apabila ada seseorang melanggar peraturan adat, maka muncul wanti . toe pecing adat atau toe bae adat . idak mengerti/memahami ada. Tradisi bagi masyarakat Manggarai lebih berperan sebagai penjaga keharmonisan antara keseluruhan tata ciptaan, para leluhur dan wujud tertinggi (Tulus, 2016:. Menurut sumber yang diwawancarai1, berbagai tradisi yang hidup dan berkembang dalam kebudayaan masyarakat Manggarai saat ini merupakan warisan yang sangat berharga dan bersejarah dari para leluhur. Warisan ini diteruskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mengenai kisah/cerita . mengapa muncunl atau adanya suatu ritus teing ngasang, menurut sumber tidak diketahui secara persis atau bahkan memang tidak ada dongeng yang melatar belakangi munculnya ritus tersebut. Sekali lagi, ritus teing ngasang merupakan warisan leluhur yang masih dihidupkan oleh masyarakat Manggarai hingga saat Frans . ttp://sesambate. com/2017/09/) menyebutkan bahwa, untuk menjalankan sebuah upacara, orang Manggarai memiliki panduan baku. Salah satu panduan itu adalah tradisi yang diturunkan oleh nenek moyang melalui peraturan-peraturan baik menyangkut upacara, hewan kurban, waktu pelaksanaan maupun tata kebiasaan lainnya. Kebiasaan itu kerap disebut ruku, sake maupun ceki. Ruku dalam bahasa yang paling mudah, diartikan sebagai kebiasaan, adat istiadat yang ditradisikan turun-temurun. Sake berarti Dalam ujaran sering terdengar sebutan Aulorong ruku agu sake diteAy . engikuti adat kebiasaan kit. Ada juga pernyataan: AunenggoAoo rukun ditenAy . eginilah tradisi kit. Ujaran ini bermakna bahwa orang Manggarai memiliki adat-kebiasaan yang sudah ditradisikan dan menjadi pedoman atau panduan bagi usaha menjalankan kehidupan di dunia ini. Berbagai tradisi yang hidup dan berkembang dalam kebudayaan masyarakat Manggarai mengandung nilai, makna dan refleksi filosofis yang mendalam. Setiap tradisi atau adat istiadat memiliki pesan yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Manggarai, tidak terkecuali juga tradisi teing ngasang anak. Arti dan makna Secara harafiah upacara teing ngasang berarti upacara Aopemberian namaAo. Kata teing memiliki arti, beri, memberi, menyerahkan atau mensahkan. Sedangkan kata ngasang berarti AonamaAo. Pada umumnya, orang Manggarai kerap menyebutkannya hanya dengan kata ngasang anak. Frasa ngasang anak merujuk pada segala dinamika yang dilakukan selama upacara pemberian nama. Upacara pemberian nama ini dilakukan untuk memberikan atau mengabsahkan nama kepada seorang anak yang terlahir dalam keluarga Manggarai dan termasuk dalm rumpun yang menghidupi atau menghayati adat istiadat/tradisi dan kebudayaan Manggarai. Bagi orang Manggarai, nama merupakan AoituAo yang sangat berharga yang di dalamnya jati diri, identitas dan harga diri muncul dan diperlihatkan sebagai representasi dari keseluruhan pribadi atau kemanusiaan Bapak Tomas Lipus atau biasa di sapa Ema Tomas adalah keluarga penulis dan merupakan tetua adat, penutur torok/tudak. uru bicara dalam adat perkawinan Manggara. , dan pernah diwawancarai penulis via telepon seluler, pada 03 Januari 2020. Sudhiarsa & Situmorang . , 2018:. Pandangan filosofis ini menjadikan orang Manggarai selalu berusaha menjaga nama baiknya, dan sebisa mungkin juga menjaga nama baik sesamanya. Maksud dan tujuan Adapun maksud pelaksanaan upacara ini ialah untuk memberikan nama secara adat kepada anak atau bayi yang baru lahir. Upacara ini juga dilakukan untuk mensahkan secara adat nama dari anak yang mungkin sudah diberikan namanya melalui suatu tradisi keagamaan tertentu. Selain itu, upacara ini juga diadakan dengan maksud untuk memberitahukan kepada keluarga dan warga kampung serta menjadi saksi atas pengukuhan nama kepada si anak. Dengan demikian, tujuan dari upacara ini ialah agar anak memiliki identitas yang jelas atau nama yang jelas [. Porong neka saling sasing koe, neka sala ngasang. Dalam perjalanan hidupnya ia harus menjaga identitasnya dengan menjaga nama baik . idak melakukan perbuatan yang menyimpang dari tata aturan adat istiadat orang Manggara. Persiapan dan perlengkapan Upacara teing ngasang dilaksanakan dengan adanya berbagai persiapan yang dilakukan oleh pihak keluarga yang mengadakan upacara. Persiapan tersebut berupa, barang atau bahan pokok yang dibutuhkan selama upacara. Adapun perlengkapan/bahan yang harus disiapak ialah, satu ekor ayam jantan berbulu putih sebagai manuk tudak/torok . yam yang dijadikan kurba. , nasi sebanyak satu genggam tangan pria dewasa untuk dijadikan hang helang . asi untuk para leluhu. , pisau untuk sembelih/memotong leher ayam untuk diambil darahnya, mangkuk . empat simpan darah ayam kurba. , dan tungku api/perapian . ntuk membakar hewan kurban, dimana bagian-bagian tertentu dari ayam kurban akan diambil dan dicampur atau disatukan dengan nasi yang kemudian menjadi hang helang . untuk para leluhur. Waktu pelaksanan Upacara teing ngasang biasanya dilaksanakan pada pagi hari, pada saat matahari terbit . ianjurkan untuk tidak diadakan di atas jam sepuluh pag. , dan pada hari dan tanggal yang telah ditentukan oleh pihak Ketentuan yang unik di sini ialah waktu pelaksanaannya, yakni saat matahari terbit. Menurut keyakinan orang Manggarai, matahari merupakan simbol yang membawa terang atau mampu mengatasi segala kegelapan yang ada di bumi. Selaras dengan arti tersebut, si anak yang akan diberi nama diharapkan bisa seperti matahari yang mampu membawa terang, kebaikan dan kebahagiaan bagi sesama dan mampu melestarikan alam Pihak-pihak yang terlibat Pihak-pihak yang terlibat dalam upacara ini adalah keluarga inti dari si anak . , keluarga dari pihak ayah dan dari pihak ibu, ase kaAoe . eluarga besa. dan paAoang olo ngaung musi . arga kampun. Mereka hadir sebagai saksi bahwa si anak telah diberi nama, dan juga turut mendoakan si anak agar bertumbuh menjadi anak yang baik. Kehadiran mereka selain untuk mendoakan dan menjadi saksi, juga menjadi bukti bahwa seluruh warga kampung atau keluarga besar turut bersukacita atas kehadiran si anak di tengah keluarga. Teing Ngasang dalam Religiositas Lokal Dijelaskan bahwa upacara teing ngasang merupakan salah satu ritus dalam budaya lokal masyarakat Manggarai untuk mensahkan nama kepada seorang anak atau bayi yang baru lahir. Selain itu, tradisi atau upacara teing ngasang juga mengandung kompleksitas nilai dengan makna yang sangat mendalam. Semua ini terwujud dalam untaian AodoaAo yang disusun sedemikian rupa, dengan diksi yang unik dan mengandung makna yang mendalam dari setiap kata yang dipilih tersebut. Termasuk juga memuat maksud dan tujuan, syukur dan harapan serta memohon bimbingan dan pertolongan dari Sang Pencipta langit dan bumi (Mori Jari Dedek tanah agu awan. , roh para leluhur/nenek moyang (Ise Empo ata paAoang be l. , dan juga Alam Semesta, termasuk roh penjaga alam . anah agu awan. Dari rumusan . torok/tudak di atas, diketahui bahwa ada tiga Subjek yang menjadi tujuan kepada siapa kita hendak menyampaiakan doa dan rasa syukur, memohon bimbingan dan berkat bagi anak yang diberi Tiga Subjek tersebut menurut keyakinan adat orang Manggarai, memiliki kuasa dan dapat menjadi pelindung bagi manusia dalam menjalankan hidupnya sehari-hari. Di sini manusia Manggarai selalu memiliki kesadaran untuk menjalin relasi, dan menjaga relasi baik dengan ketiga Subjek tersebut. Ketiga subjek tersebut Pertama. Mori Jari Dedek (Tuhan. Sang Pencipt. Jauh sebelum masuknya agama-agama di Manggarai, manusia Manggarai dahulu sebenarnya sudah memiliki keyakinan/kepercayaan tradisional bahwa alam semesta ini tidak ada dengan sendirinya, melainkan ada Penciptanya, yakni Mori (Tuha. Dalam upacara teing ngasang, doa dan syukur, harapan/permohonan pertama-tama dipanjatkan kepada Mori Jari Dedek prong pape ngasang ame, pape ngasang. Porong neka saling sasing neka sala ngasang, neka kotol, neka tewi, neka peko, neka dopel, meka nenteng. ] Inti dari doa yang dipanjatkan krpada Mori ini ialah suapaya si anak dapat bertumbuh menjadi pribadi yang sehat secara jasmani dan mental, juga agar si anak dikenal dan mengenal keturunan dan keluarga besarnya. Hal ini dilatarbelakangi oleh keyakinan manusia Manggarai bahwa. Mori merupakan pencipta dan asal dari segala sesuatu, termasuk manusia itu sendiri. Mori diyakini memiliki relasi yang dekat, akrab dan hangat dengan manusia [. ai soga kat momang Dite Mori wencu ngasang Pati lite nggaring, tea lite gerak, mangag tein mantar koe. ] Mori merupakan pemberi hidup, karena itu Ia berkuasa atas hidup manusia, dan manusia tidak berarti apa-apa selain berharap sungguh pada kasih dan kuasa-Nya. Kedua. Roh Nenek Moyang (Leluhu. Manusia Manggarai tidak begitu saja melupakan orang-orang yang telah meninggal dunia. Meskipun secara jasmani mereka sudah tidak atau sudah meninggal, namun orang Manggarai percaya bahwa roh mereka masih hidup, hanya saja roh-roh . dari para leluhur tersebut tinggala atau berada di tempat lain. Orang Manggarai menyebut tempat roh tersebut sebagai PaAoang Be Le, dan para nenek moyang yang sudah meninggal disebut Ata PaAoang Be Le. Roh Leluhur patut untuk dihormati karena selama hidup telah berjasa memberikan keturunan. Selain itu mereka juga diyakini dapat menuntu atau membimbing keluarga yang masih hidup agar tidak mengalami marah bahaya atau kecelakaan. Sementara itu dalam konteks upacara teing ngasang. Roh para Leluhur diminta untuk turut membimbing dan menuntun perjalanan hidup dari cucu atau anggota keluarga yang baru lahir. Upacara teing ngasang juga merupakan momen di mana si anak diperkenalkan/diberitahu . , kepada para Leluhur yang sudah lebih dahulu Tujuannya ialah suapa tidak terjadi babang agu langat . upaya roh leluhur tidak merasa asing dengan kehadiran si anak dalam keluarga yang masih hidu. Ketiga. Tanah awang . lam semest. Selain Mori Jari Dedek dan Ata PaAoang Be Le, manusia Manggarai juga percaya bahwa alam semeta . ini merupakan sesuatu yang sakral dam memiliki kekuatan supranatural yang dapat membawa keberutungan dan juga malapetaka. Malapetaka tersebut bergantung pada perbuatan, pola hidup dan relasi antara alam dengan manusia itu sendiri. Relasi yang harmonis akan membawa keberuntungan dan kedamaian dalam hidup, sedangkan relasi atau perbuatan yang tidak baik akan membawa malapetaka. Orang Manggarai juga sangat percaya bahwa di tempat-tempat tertentu yang dianggab AosakralAo terdapat roh penjaga. Dalam konteks upacara teing ngasang, terlihat jelas ada rumusan yang mengakui keberadaan roh penjaga/penunggu ini (. molang toko, mbaru kaeng. , . Nuhu tesi hau beo, hoAoo kin manuk bakok. Molang toko yaitu, ruangan/kamar tidur dan mbaru kaeAoeng . umah tempat tingga. , dua tempat yang dimaksud tidak serta merta mengenai rumah dan kamar tidur sebagaimana yang tampak . , melainkan roh penjaga yang juga diyakini turut menjaga keluarga yang menghuni kamar atau rumah tersebut. Dalam upacara tersebut, roh penunggu diberitahu alasan mengapa ada orang banyak berkumpul di rumah tersebut (Aomeminta izinAo sebagai formalita. Adapun tahap-tahap dari upacara teing ngasang ialah: pertama, menyiapkan semua bahan atau perlengkapan pokok seperti yang sudah diterangkan di atas, termasuk juga menentukan waktu pelaksanana, mengundang ase kae paAoang olo ngaung musi . eluarga besar dalam satu kampun. serta berbagai persiapan untuk menyambut para tamu yang hadir dalam acara tersebut. Dan berbagai persiapan ini dilakukan sebelum hari puncak acara. Kedua, ketika tiba hari yang telah ditentukan, orang-orang yang telah diundang akan datang, dan sebelum memulai acara inti . udak/ toro. , biasanya pihak keluarga menyampaikan sesuatu . aAou rewen. berupa ucapan terima kasih karena sudah berkenan hadir dan memberitahukan maksud dan tujuan acara yang akan diadakan. Ketiga, upacara inti. Upacara inti ditandai dengan mulainya torok/ tudak2 yang dibawakan oleh seorang tetua adat yang dipercayakan. Torok/ tudak dilantunkan sambil memegang manuk lalong bakok . yam jantan berbulu puti. yang menjadi hewan kurban dan disaksikan oleh keluarga atau tamu yang hadrir. Setelah torok/ Torok atau tudak merupakan untaian kata-kata AodoaAo yang disusun sedemikian rupa sehingga terdengar indah dan selaras serta mengandung arti dan makna yang sangat mendalam. Pilihan kata yang digunakan sangat unik, dan biasanya doa ini sudah memiliki rumusannya, sehingga akan sangat terbantu bagi mereka yang tertarik untuk belajar dan memiliki pasion untuk menjadi penutur torok. tudak, hewan kurban tersebut disembelih dan darahnya diambil untuk dioleskan pada kaki dan dahi si anak, sebagai tanda/ simbolis pengukuhan nama . andingkan, materia air dalam upacara pembaptisa. Ayam kurban tersebut disembelih dan biasanya, urat dari ayam kurban tersebut ditunjukan kepada si penutur torok/tudak untuk kemudian dilihat apakah pertanda baik atau pertanda buruk berkaitan dengan nasib/masa depan si anak. Keempat, membuat hang helang. Hang helang biasanya terdiri dari nasi segenggam tangan orang dewasa, dan juga bagian-bagian tertentu dari ayam kurban. Bagian-bagian yang diambil adalah yang terbaik, seperti, lebe leo . ayap kir. , sangkem . , ati . , somong ungkum . agian ujung dad. , dan wai . Campuran nasi dengan bagian-bagian terbaik dari ayam kurban disebut hang helang, persembahan terbaik dari upacara teing ngasang tersebut kepada mori jari dedek, ata paAoang be le . rwah leluhu. dan molang toko, mbaru kaeAoeng . oh penjaga tanah/ ruma. Selesainya pemberian hang helang, menandakan selesainya acara inti dari upacara teing ngasang. Selanjutnya akan diadakan acara makan bersama, sebagai ungkapan rasa syukur atas selesainya acara Di sela-sela sebelum makan bersama biasanya para tamu dan keluarga bersendagurau, berbagi kisah dan pengalaman atau membicarakan hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama. Saat ini upacara teing ngasang biasanya diakhiri dengan ibadat sabda atau doa bersama, tergantung rencana dan kesepakatan dari keluarga yang menyelenggarakan upacara tersebut. Sakramen Baptis dalam Gereja Katolik Pada bagian ini akan dibahas tentang Sakramen Pembaptisan sebagai salah satu sakramen inisiasi dalam Gereja Katolik, selain Sakramen Krisma dan Ekaristi. Pembahasan dibatasi pada Sakramen Pembaptisan saja dengan tujuan untuk membandingkan dengan tradisi teing ngasang. Pengertian Sakramen Pembaptisan Pembaptisan adalah sakramen pertama dan mendasar dalam inisiasi kristiani. Sakramen ini dilayankan dengan cara menyelamkan si penerima ke dalam air atau dengan mencurahkan . idak sekadar memercikka. air ke atas kepala penerima "dalam nama Allah Bapa. Putra dan Roh Kudus " (Mat. Pelayan sakramen ini biasanya seorang uskup, imam atau seorang diakon. Dalam keadaan darurat, siapapun yang berniat untuk melakukan apa yang dilakukan Gereja, bahkan jika orang itu bukanlah seorang Kristiani, dapat membaptis. Pembaptisan membebaskan penerimanya dari dosa asal serta semua dosa pribadi dan dari hukuman akibat dosa-dosa tersebut, dan membuat orang yang dibaptis itu mengambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Allah melalui "rahmat yang menguduskan" . ahmat pembenaran yang mempersatukan pribadi yang bersangkutan dengan Kristus dan Gereja-Ny. Pembaptisan juga membuat penerimanya mengambil bagian dalam imamat Kristus dan merupakan landasan komuni . antar semua orang Kristen. Sakramen Baptis adalah tindakan simbolis yang paling sering disebut dalam perjanjian Baru. Sakramen ini terutama disebut Pembaptisan karena ritus sentral yang dirayakan. Membaptis artinya Aumenenggelamkan ke dalam air. Seseorang yang dibaptis ditenggelamkan ke dalam kematian Kristus dan bangkit bersama-Nya sebagai Auciptaan baruAy . Kor 5:. Sakramen ini juga disebut dengan Aupermandian kelahiran kembali dan pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Tit 3:. dan disebut AupeneranganAy karena yang dibaptis menjadi Auanak terangAy (Kompendium Katekismus Gereja Katolik, 2009:. Materi Baptisan Bahaan atau materi yang terpenting untuk keabsahan baptisan adalah air. Air tersebut berupa air minum, air bersih dan materi yang terkandung dalam air tidak menghalangi sahnya baptisan asalkan bahan lain itu tidak dominan. Selain itu, persaratan utamanya ialah air yang diberkati bukan air biasa. Dalam kasus darurat dan keadaan mendesak lainnya,tetap dituntut adanya air walaupun tidak diberkati. Kalau pelayannya adala imam, maka ia terlebih dahulu memberkati air tersebut sebelum membaptis (Ga I, 2014:. Forma Pembaptisan Forma atau rumusan kata-kata dalam mengukuhkan upacara baptisan berbeda antara Gerja Romawi dan Gereja Timur. Rumusan dalam Gereja Romawi ialah: (. Saya membaptis engkau dalam nama Bapa, dan Putera , dan Roh Kudus. Ay Sedangkan dalam Gereja Timur, rumusanya ialah AuHamba Allah,. engkau dibaptis dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus (Beal, 200:1. Selain materia dan forma sebagai syarat validitas Sakramen Baptis, juga terdapat unsur yang tidak kalah pentingyan yaitu intensi dari pelayan pembaptis. Pelayan pembaptis tidak bisa bertindak seperti robot, karena ia bertindak atas nama Kristus dan Gereja (Ga I 2014:. Kodrat Sakramen Baptis Sakramen Baptis merupakan gerbang sakramen-sakramen, yang perlu untuk keselamatan, baik diterima secara nyata maupun setidak-tidaknya dalam kerinduan, dengan mana manusia dibebaskan dari dosa, dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah serta digabungkan dengan Gereja setelah dijadikan serupa dengan Kristus oleh materi yang tak terhapuskan, hanya dapat diterimakan secara sah dengan pembasuhan air sungguh bersama rumus kata-kata yang diwajibkan (Kan. Kanon ini memuat tiga aspek kanonikal yakni, pertama aspek yuridis yang dihasilkan oleh pembaptisan, kedua pentingnya sakramen baptis dan ketiga daftar hal-hal yang dituntut demi validitas perayaan . Kan. 11,96,204 dan 2. Makna Sakramen baptis Ada dua makna fundamental pada sakramen baptis yakni makna individual Kristologis dan makna individual eklesial ( Zakeus Daeng Lio, 2014:. Pertama, makna individual kristologis. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa melalui baptis, kita pertama-tama diinkorporasikan ke dalam Yesus Kristus (LG 31. AG . Persatuan tersebut berupa persatuan dengan Yesus dalam hal waktu terjadinya: kelahiran kembali melalui iman . AG . dan kelahiran kembali melalui baptis (AG . Pembaptisan adalah adalah dasar hidup Kristiani dan terjadi sekali seumur hidup. Sakramen baptis menjadi suatu pernyataan, pengakuan iman hati yang diungkapkan secara definitif dengan mulut dan secara total dengan tindakan simbolis pembaptisan. Ini merupakan pertama kali seseorang disatukan secara definitif dan riil dengan Yesus (Handoko, 2003:. Kedua, makna Individual eklesial. Melalui ritus inisiasi, sakramen baptis menjadikan orang yang dibaptis sebagai anggota Gereja. Dan hal ini dilaksanakan apabila orang yang dibaptis menyatakan bersedia menjadi anggota jemaat dan kehadirannya serta pernyataannya tersebut diterima oleh jemaat. Ia bersatu selain pertama-tama dengan Yesus Kristus, juga dengan seluruh jemaat yang sudah terlebih dahulu bersatu dengan Yesus Kristus. Wali Baptis dan Nama Baptis Wali Baptis adalah orang yang ditunjuk untuk menjadi orang tua asuh dan dan pembimbing rohani Wali baptis bertugas untuk baptisan dalam menanggapi rahmat Tuhan dan mengembangkan iman baptisan selanjutnya. Wali baptis wajib menegur dan mengarahkan jika baptisan mulai ragu-ragu atau menyimpang dari kehidupan dan ajaran iman Katolik . KHK kan. Wali baptis adalah saksi yang kuat bahwa anak itu telah dipersatukan dengan Kristus dan Gereja-Nya . KGK 1. Nama baptis adalah nama yang akan dipilih untuk nama baptisan dan dianjurkan agar memilih nama yang bercita rasa Kristiani, dan tidak dianjurkan untuk menggunakan nama yang asing. Orangtua, wali baptis dan pastor paroki bertugas untuk mempertimbangkan nama yang tepat untuk anak . Kan. Ritus Teing Ngasang dan Sakramen Baptis: melihat persamaan dan perbedaan Gereja melalui Konsili Vatikan II telah membuka mata terhadap realitas dunia, termasuk tradisi dan Gereja mengajak anggotanya untuk mengadakan dialog dengan dunia sambil tidak melupakan identitas dan tugasnya yaitu mewartakan dan menghadirkan warta gembira tentang Kerajaan Allah itu kepada dunia (Dhogo, 2009:. Adanya berbagai kebudayaan ini merupakan suatu wujud nyata kehadiran Allah yang berkarya untuk kebaikan dan keselamatan manusia. Pertama-tama perlu diketahui bahwa ritus teing ngasang merupakan salah satu ritus dari rangkaian upacara cear cumpe, yakni sebuah upacara yang dilaksanakan pada hari ke-3 atau ke-5 setelah seorang bayi Tujuan dari upacara ini adalah agar ibu dan bayi yang baru lahir bisa berpindah tempat . ebelum upacara ini dibuat, bayi dan sang ibu hanya di dalam kamar saj. Namun ada tujuan yang lebih substansial dari upacara ini, yakni sebagai simbol pengakuan atas keabsahan seorang anak yang baru lahir menjadi anaknya dan ungkapan kesediaan orangtua untuk bertanggungjawab atas anak itu dalam mendidik dan membesarkannya (Regus, 2011:. Perlu diketahui pula bahwa, berbagai ritus dalam upacara cear cumpe ini berbeda-beda di setiap daerah atau suku di Manggarai. Bahakan dalam perkembangannya, tidak semua ritus dalam upacara cear cumpe ini dilaksanakan, seperti yang terjadi sekarang di daerah penulis. Wae Bangka. Lembor. Manggarai Barat. Kebanyakan dalam keluarga segera menyambut kelahiran bayi dengan ritus teing ngasang. Melihat Persamaan Pada bagian ini, penulis akan mengelaborasikan semacam persamaan . itik tem. yang ditemukan dalam upacara teing ngasang dan dengan sakramen baptis. Ada beberapa hal yang membuktikan adanya persamaan atau titik temu dari kedua upacara ini. Ungkapan Syukur. Ungkapan syukur merupakan intensi yang sangat substansial dari kedua upacara ini, selain juga terkandung di sana tujuan inisiasi. Dalam upacara Teing Ngasang ungkapan syukur ini terungkap dalam untaian doa berupa torok/tudak [. kudut nakan teing Ditet Sengaji. ], berarti menyambut, menerima dan atau mensyukuri pemberian dari Tuhan sendiri. Anak yang baru lahir diyakini sebagai pemberian dari Sang Pencipta (Mori Jari Dede. , dan karena merupakan pemberian, maka manusia Manggarai harus mensyukurinya. Begitu pun dengan upacara Sakramen Baptis yang merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Allah yang telah menganugerahkan anak dalam keluarga Kristiani. Anak merupakan buah cinta dari kedua orangtua, yang tidak lain merupakan titipan atau pemberian dari Tuhan Sang Pencipta. Menurut Raharso . , salah satu hakikat perkawinan adalah terbuka pada kelahiran/kehadiran seorang anak. Sebagai Inisiasi. Upacara Teing Ngasang merupakan upacara inisiasi dalam konteks kebudayaan masyarakat Manggarai. Dikatakan inisiasi karena memang upacara ini pada dasarnya merupakan upacara simbolik yang bertujuan mengabsahkan seorang anak atau bayi yang baru lahir ke dalam keanggotaan suatu keluarga dan keanggotaan dari suatu suku atau lingkup masyarakat tempat dimana anak tersebut akan Tujuannya ialah supaya tidak dipertanyakan keabsahan identitasnya. Orang Manggarai meyakini bahwa jika tidak dilakukan upacara Teing Ngasang ini, maka roh-roh nenek moyang dan roh penjaga tanah/kampung akan mempertanyakan identitasnya . abang agu langat lise empo agu iset jaga tan. , bahkan mereka menganggabnya sebagai orang asing, karena belum diperkenalkan melalui upacara teing ngasang ini. Demikian juga dengan upacara Sakramen Baptis. Upacara ini diadakan sebagai upacara simbolik dengan tujuan untuk menginisiasikan seorang anak ke dalam keanggotaan keluarga/anak Allah. Melalui upacara penerimaan Sakramen Baptis ini, anak yang dibatis secara otomatis memperoleh rahmat keselamatan, menjadi anggota tubuh mistik Kristus dan dimasukkan menjadi anggota Gereja . LG 11. bdk Handoko, 2003:. Melalui sakramen Baptis ini, anak dipersatukan dengan Yesus dan semua orang yang bersatu dan mengimani-Nya. Unsur-unsur yang digunakan. Dalam ritus teing ngasang, terdapat dua unsur yang menjadi bagian pokok dalam pelaksanaan ritus tersebut. Unsur yang dimaksudkan di sini ialah unsur forma dan unsur materia. Unsur forma meliputi rumusan kata-kata, sedangkan unsur materia meliputi materi yang digunakan dalam upacara tersebut. Dalam upacara teing ngasang, yang menjadi unsur formanya ialah torok/tudak. Sedangkan unsur materianya adalah seekor ayam jantan berbulu putih . anuk lalong bako. sebagai hewan kurban, nasi . ang helan. yang akan dicampur dengan bagian tertentu dari hewan kurban yang sudah dibakar, pisau untuk memotong hewan kurban. Sementara itu, dalam upacara Sakramen Baptis, juga terdapat unsur forma dan materia. Unsur forma berupa rumusan kata-kata trinitaris- membaptis dalam nama Bapa. Putra dan Roh Kudus (Pidyarto,1993:. Rumusan ini diucapkan sembari menuangkan air baptisan di kepala si anak. Rumusan kata-katanya ialah. Au. ama dari si ana. Aku membaptis engkau, dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Ay. Sedangkan unsur materianya berupa air bersih/jernih. Unsur utama dalam ritus inisiasi. Dalam upacara teing ngasang, ritus yang paling utama dan sakral ialah ketika tetua adat melantunkan tudak/torok . ambil memegang ayam kurba. yang mengandung ungkapan syukur, doa dan harapan bagi pertumbuhan dan masa depan si anak. Ritus utama ini diakhiri dengan penyembelihan ayam kurban, dimana bagian tertentu dari hewan tersebut diambil dan dibakar untuk dijadikan persembahan kepada Sang Pencipta (Mori Jari Dede. , roh para leluhur dan roh penjaga tanah. Darah dari ayam tersebut dioleskan pada dahi dan telapak kaki si anak, sebagai simbol pengabsahan. Sementara itu dalam upacara Sakramen Baptis, momen yang paling sakral ialah ketika imam/diakon mendoakan air baptis, menuangkan/meneteskannya di kepala si anak yang dibaptis sembari mengucapkan rumusan trinitaris. Dalam ritus ini, peran imam sesungguhnya hanyalah instrumen yang melaksanakan kehendak Allah, sedangkan pelayan utamanya adalah Yesus Kristus sendiri. Melihat Perbedaan Dilihat dari konteks atau latar belakang pelaksanaan kedua upacara ini, ada beberapa perbedaan yang Beberapa perbedaan tersebut dapat diterima, halnya kedua upacara ini memang pada dasarnya berasal dari konteks, dimensi atau ruang lingkup yang berbeda. Upacara teing ngasang berasal dari ruang lingkup kebudayaan . asyarakat Manggara. , sedangkan upacara Sakramen Baptis hadir/muncul dari ruang lingkup iman Kristiani. Ruang lingkup pelaksanaan upacara Teing Ngasang dan Baptis. Upacara Teing Ngasang merupakan suatu ritus dari upacara inisiasi yang terbatas pada ruang lingkup kebudayaan/adat istiadat masyarakat Manggarai. Sedangkan Sakramen Baptis sendiri mencakup pada ruang lingkup yang sangat luas, yakni berlaku bagi semua orang di seluruh dunia yang hendak bergabung menjadi anggota Gereja dan menjadi anak-anak Allah. Selain itu, unsur materia dan juga pemaknaan terhadap simbol-simbol yang digunakan sangat Misalnya dalam upacara teing ngasang, pemaknaan terhadap simbol/unsur materia hanya terbatas pada koridor adat setempat, dalam hal ini adat Manggarai. Sedangkan pemakanaan terhadap simbol/unsur materia dari upacara Sakramen Baptis berlaku secara universal atau tidak terbatas pada kelompok masyarakat tertentu. Pemimpin utama upacara. Dalam upacara teing ngasang, pemimpin utamanya adalah tetua adat, kepala suku, atau orang tua yang dipercayakan. Hal ini berbeda dengan upacara Baptis, dimana pemimpin utamanya adalah Yesus Kristus sendiri, sedangkan imam/diakon hanyalah instrumen yang melaksanakan kuasa Allah. Mereka melaksanakan upacara baptis pertama-tama oleh karena kuasa Allah. Sementara itu, penyelenggara dari upacara teing ngasang adalah keluarga yang bersangkutan, sedangkan penyelenggara upacara Baptis adalah otoritas Gereja setempat yang mencakup orang-orang dari latar belakang yang berbedabeda. Sumbangan Upacara Teing Ngasang Setelah melihat beberapa persamaan dan perbedaan dari dua ritus inisiasi ini, ulasan selanjutnya akan memaparkan sumbangan upacara teing ngasang dalam konteks isi ajaran iman kristiani. Hal-hal yang akan diulas ialah dimensi teologal religiusitas lokal, makna baru upacara teing ngasang dalam terang iman Kristiani dan makna/arti sebuah nama. Dimensi Teologal Religiusitas Lokal. Salah satu kepercayaan lokal masyarakat Manggarai ialah bahwa di luar realitas kehidupan manusia yang kelihata, terdapat wujud tertinggi yang menciptakan dan memiliki kuasa atas segala sesuatu. Wujud tertinggi ini dikenal dengan banyak sebutan, yakni Mori. Mori. agu Ngaran. Mori Kraeng. Mori Somba dan lain-lain (Regus, 2011:. Di sini penulis menyebut-Nya Mori Ata Jari Agu Dedek, yang di dalamnya mencakup daya kreasi dan kuasa dari Sang Wujud Tertinggi atau Mori itu Mori Jari Dedek ini diyakini sebagai asal segala sesuatu . angit dan bum. , termasuk berbagai kehidupan di dalamnya. Oleh karena adanya wujud tertinggi ini, maka pola tingkah laku, tutur kata dan perbuatan yang tidak baik harus dihindari, sebab Wujud Tertinggi ini selalu melihat/mengawasi . elo le Mori. Iman Kristiani berusaha mensikronkan ajarannya dengan realitas Wujud Tertinggi dalam kepercayaan lokal orang Manggarai. Wujud Tertinggi yang dikenal sebagai Mori Jari Dedek ini, dimaknai secara baru dalam konteks iman Kristiani, yakni sebagai Allah Yang Menciptakan langit dan bumi serta segala isinya . Kej 1:1-. Oleh karena itu, pemaknaan relasi Teologis (Teologa. dari religiusitas lokal masyarakat Manggarai, yakni dengan Mori Jari Dedek, tidak bisa dimaknai/ditempatkan secara terpisah/berbeda dengan relasi terhadap Allah Sang Pencipta langit dan bumi yang diajarkan dalam konteks iman Kristiani. Mori Jari Dedek adalah sebutan lain dari Allah Sang Pencipta dalam konteks religiusitas orang Manggarai. Dengan demikian, kesadaran adanya Allah Sang Pencipta dalam religiusitas orang Manggarai sesungguhnya sudah ada jauh sebelum Agama Katolik/ajaran Kristiani masuk dalam kehidupan dan kebudayaan orang Manggarai. Makna baru upacara Teing Ngasang. Kehadiran Gereja Katolik di Manggarai merupakan titik awal pertemuan antara Agama dan kebudayaan/adat istiadat orang Manggarai. Pertemuan ini berujung pada peleburan hingga munculnya atau terbentuknya pemaknaan baru dari berbagai ritus adat orang Manggarai, terutama yang berkisar pada keterlibatan Wujud Tertinggi. Mori Jari Dedek. Hal ini tidak terkecuali juga dalam upacara teing ngasang. Jauh Sebelum Agama Katolik masuk dalam kehidupan masyarakat Manggarai, upacara Teing Ngasang kemungkinan besar mengandung unsur magis yang kuat. Hal ini karena, masyarakat belum mengenal adanya Agama Katolik dengan berbagai ajarannya. Dewasa ini, berdasarkan pengamatan penulis ketika menghadiri beberapa upacara teing ngasang, kebanyakan orang Manggarai sudah memahami sungguh siapa Mori Jari Dedek yang disebut sebagai Wujud Tertinggi dalam ritu upacara Teing Ngasang. Wujud tertinggi yang disebut tidak lain ialah Tuhan Allah Yang menciptakan segala sesuatu. Dan perubahan yang sangat jelas ialah dimana dalam upacara Teing Ngasang ini kerap kali diakiri dengan doa dalam rumusan iman Kristiani berupa Ibadat Sabda. Perubahan ini tidak lain ialah karena adanya kesadaran dan pemaknaan baru dari ritus Teing Ngasang dalam kaitannya dengan daya kuasa Mori Jari Dedek. Allah Sang Pencipta. Arti/makna sebuah AonamaAo. Orang Manggarai pada dasarnya sangat menghargai atau menjunjung tinggi makna/arti sebuah nama. Halnya karena nama yang diberikan kepada seseorang tidak diberikan begitu saja, melainkan harus melalui ritus khusus . eing ngasan. dan merupakan salah satu momen sakral dari kesejarahan hidup seseorang. Nama bagi orang Manggarai adalah AoituAo yang sangat berharga yang di dalamnya jati diri, identitas dan harga diri muncul dan diperlihatkan sebagai representasi dari keseluruhan pribadi atau kemanusiaan seseorang . Sudhiarsa & Situmorang. , 2018:. Pandangan filosofis semacam inilah yang kemudian membuat orang Manggarai selalu berusaha menjaga nama baiknya, dan sebisa mungkin juga menjaga nama baik sesamanya. Kemudian dalam kehidupan sehari-hari orang Manggarai selalu menggunakan kalimat kiasan yang memiliki makna untuk tidak mengotori nama baik sendiri dan nama baik orang lain . eka pande wau ngasang atau neka pande wau ngasang dat. jangan mengotori nama baik sendiri dan nama baik orang lain. Lalu dalam kalimat bahasa Latin kita juga mengenal semboyan nomen est omen yang artinya nama adalah jati diri atau harga diri. Jadi menurut saya, semua hal di atas merupakan alasan filosofis mengapa orang Manggarai itu melihat nama sebagai sesuatu yang berati, bernilai dan memiliki makna yang sangat mendalam terutama melalui penghayatannya dalam kehidupan sehari-hari. IV. PENUTUP Pemaknaan baru dari upacara teing ngasang merupakan suatu bentuk perubahan cara pandang. Kehadiran ajaran iman Katolik dalam sejarah kehidupan orang Manggarai membuahkan sesuatu yang bernilai, yakni tersingkapnya suatu kebenaran baru perihal religiusitas lokal orang Manggarai. Wujud Tertinggi yang disebut Mori Jari Dedek memperoleh pemaknaan baru dalam terang ajaran Iman Kristiani, yakni Tuhan Allah yang menciptakan segala sesuatu, asal mula dan yang memiliki kuasa atas segala sesuatu. Sejarah religiusitas lokal orang Manggarai juga menunjukan bahwa kesadaran manusia Manggarai mengenai adanya suatu wujud tertinggi yang menciptakan, berkuasa dan merupakan asal dari segala sesuatu, sesungguhnya sudah ada jauh sebelum masuknya Agama di Manggarai. Kesadaran ini kemudian membentuk kepribadian dan pola laku manusia Manggarai dalam menjalankan hidupnya. Upacara teing ngasang merupakan salah satu ritus dari seluruh kebudayaan orang Manggarai. Namun demikian, melalui ritus tersebut, kita bisa mengetahui bahwa, pertama, bagi orang Manggarai, segala sesuatu yang kita peroleh di dunia ini berada dalam kuasa Mori Jari Dedek. Kedua, adanya kesadaran dalam diri manusia Manggarai bahwa manusia . nak yang dilahirkan dalam keluarga Manggara. hanyalah pemberian dan bukti cinta dari Mori jari Dedek. Oleh karena itu, sudah sepatutnya harus disyukuri, dijaga dan didik untuk menjadi orang yang baik dan mendatangkan berkat bagi banyak orang. Dalam ajaran dantradisi kristiani, doa, harapan dan ungkapan syukur ini diwujudkan dalam tata upacara penerimaan Sakramen Baptis yang mengandung makna substansial sebagai bentuk pengabsahan seorang anak menjadi bagian dari anggota Gereja/ anak Allah dan menjadi bagian dari keluarga kristiani dan masyarakat dalam arti luas. Ketiga, bagi orang Manggarai nama adalah representasi dari seluruh kepribadian seseorang. Karena itu, nama . harus dijaga dan jangan sampai dicemari oleh perbuatan atau pola laku yang tidak baik. Kepustakaan Dokumen Konsili Vatikan II . Hardawiryana. SJ), . Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium. Jakarta: Obor. Jagom. Bonifasius . AuTeing Ngasang: Tradisi Pemberian Nama Orang ManggaraiAy, dalam Mutiaramutiara Terpendam, (Ed. Raymundus Sudhiarsa dan Markus Situmorang. Malang: Seminari Tinggi SVD Surya Wacana. Katekismus Gereja Katolik . Propinsi Gerejani Ende: Percetakan Arnoldus Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonic. AuTentang Pelayan BaptisAy. Jakarta: Obor. Kompendium Katekismus Gereja Katolik . Harry Susant. Konferensi Wali Gereja Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. Nggoro. Adi M. Budaya Manggarai Selayang Pandang. Ende: Nusa Indah Phang. Benny dan Valentinus eds. Minum dari Sumber Air Sendiri Dari Alam Menuju Tuhan. Malang: STFT Widya Sasana. Pidyarto Gunawan. , . Mempertanggungjawabkan Iman Katolik. Malang: Dioma. Regus. Max dan Kanisius Teobaldus Deki eds. Gereja Menyapa Manggarai. Menghirup Keutamaan Tradisi. Menumbuhkan Cinta. Menjaga Harapan. Satu Abad Gereja Manggarai-Flores. Jakarta: Pahressia Institute. Tjatur Raharso. Alfosus . Kesepakatan Nikah dalam Hukum Perkawinan Katolik. Malang: Dioma Sumber Internet Frans. AuBelajar Adat Manggarai, 09 September 2017. Ay Budaya Manggarai Ae Flores. Diakses, 08 Maret 2020. http://sesambate. com/2017/09/. Wikipedia. AuSakramen Katolik, 27 Maret 2019. Ay Ensiklopedia Bebas. Diakses, 10 Maret 2020. https://id. org/wiki/Sakramen_(Katoli. #Pembaptisan. Sumber Wawancara Bapak Tomas Lipus, seorang tetua adat, penutur torok/tudak. uru bicara dalam adat perkawinan Manggara. , dalam wawancara dengan penulis via telepon, pada 03 Januari 2020. Bapak Rofinus Rondom, seorang tokoh adat di Kampung Kondeng-Manggarai Barat, dalam dialog dengan penulis via telepon, pada 27 Desember 2019.