Ahad: Multidisciplinary Journal of Islamic Studies Vol . No. 2025 :99-107. ISSN . 3110-2271 https://journal. id/index. php/ahad/ DOI: https://doi. org/10. 64131/ahad. Studi Kasus Perilaku Maladaptif pada Anak Usia Sekolah Dasar: Analisis Intervensi Sosial di PPSPA Bima Sakti Batu Nurul AnisahA. Sholikhul HudaA. Denok Setiawati3. Najlaytun Naqiyah4 A234Universitas Negeri Surabaya 124011355002@mhs. id, 2240011355011@mhs. 3denoksetiawati@unesa. id, 4najlatunnaqiyah@unesa. Submitted: 20 juli 2025 Accepted: 29 agustus 2025 Published: 15 september 2025 Abstract Childhood is a crucial phase of development in shaping an individual's behavior and However, not all children are able to adapt to the demands of their social environment in an adaptive manner. This study aims to identify maladaptive behaviors in elementary school-aged children, analyze the contributing factors, and examine the social intervention efforts undertaken by child protection agencies. The study employs a qualitative approach using a case study method on a 9-year-old boy (AR) who is undergoing a probationary period at PPSPA Bima Sakti Batu due to exhibiting deviant Data collection techniques include observation, semi-structured interviews, and The results of the study indicate that AR exhibits various forms of maladaptive behavior, such as stealing, truancy, aggressive behavior, using coarse language, and displaying extreme tantrums. The primary causal factors stem from permissive parenting styles and emotional neglect by the parents. At the PPSPA institution. AR also faces difficulties in adaptation, lack of discipline, and social conflicts with peers. The social interventions implemented included social worker accompaniment, rule enforcement, and coordination with family members and relevant government agencies. The conclusion of this study is that maladaptive behavior in children is not only caused by internal factors but is also strongly influenced by interaction patterns within the family and social environment. Effective interventions require a holistic and collaborative approach to ensure that behavioral change processes can occur sustainably. Keywords: Maladaptive behavior, elementary school children, social intervention This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2025 by Author PENDAHULUAN Masa kanak-kanak merupakan tahap perkembangan yang sangat krusial dalam kehidupan manusia. Pada periode ini, anak mengalami kemajuan pesat dalam aspek fisik, kognitif, sosial, dan emosional. Khususnya pada usia sekolah dasar, yang umumnya berkisar antara 6 hingga 12 tahun, anak mulai memasuki fase di mana kemampuan berpikir logis konkret berkembang secara signifikan sebagaimana dijelaskan oleh Piaget dalam tahap operasional konkret (Sasmi & Rahman, 2. Pada masa ini, anak juga mulai lebih aktif melakukan interaksi sosial, tidak hanya dalam keluarga tetapi juga di lingkungan sekolah dengan teman sebaya dan guru, yang berperan penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian. Namun, tidak semua anak dapat menyesuaikan diri secara optimal dengan tuntutan sosial dan lingkungan yang terus berkembang. Beberapa anak justru menunjukkan perilaku yang menyimpang dari norma sosial yang berlaku, seperti ketidakpatuhan, agresivitas, atau ketidakmampuan dalam mengontrol emosi. Perilaku semacam ini dikenal sebagai perilaku maladaptif. Sumanto . menyebutkan bahwa perilaku maladaptif merupakan bentuk respons perilaku yang tidak sesuai dengan harapan lingkungan dan cenderung merugikan individu maupun orang lain di sekitarnya. Perilaku ini menghambat individu dalam beradaptasi secara sehat dengan tuntutan perkembangan sosial dan psikologis. Perilaku maladaptif pada anak usia sekolah dasar dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti berbohong, mencuri, melakukan kekerasan fisik, membangkang, atau menunjukkan tantrum yang berlebihan. Fenomena ini semakin sering ditemukan dalam lingkungan pendidikan dan keluarga, dan jika tidak ditangani dengan pendekatan yang tepat, perilaku tersebut dapat berkembang menjadi gangguan perilaku yang lebih serius seperti Conduct Disorder (CD) dan Oppositional Defiant Disorder (ODD) pada masa remaja (Ayu, 2. Lebih jauh, perilaku ini tidak hanya berdampak pada prestasi akademik dan hubungan sosial anak, tetapi juga pada pembentukan identitas diri serta risiko gangguan psikologis jangka panjang. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa latar belakang keluarga dan pola asuh orang tua memainkan peran besar dalam kemunculan perilaku Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang minim perhatian, mengabaikan kebutuhan emosi anak, memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyimpangan perilaku. Oleh karena itu, penting untuk memahami dinamika perilaku anak secara holistik, termasuk melalui studi kasus langsung di lembaga-lembaga sosial yang menangani anak dengan perilaku menyimpang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam mengenai bentuk-bentuk perilaku maladaptif yang ditunjukkan oleh anak usia sekolah dasar melalui pendekatan studi kasus terhadap seorang anak binaan di lembaga PPSPA Bima Sakti Batu. Melalui pendekatan kualitatif, diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang faktor penyebab, bentuk manifestasi perilaku, serta strategi penanganan yang telah dilakukan oleh lembaga, sebagai dasar untuk menyusun intervensi yang lebih tepat guna bagi anak-anak dengan permasalahan serupa. METHOD Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Studi kasus merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian kualitatif. Creswell . mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai sebuah metode dalam penelitian yang menggunakan kerangka teoritis guna membentuk sebuah studi mengenai makna yang dimiliki oleh individu maupun kelompok tertentu tentang manusia maupun lingkungan sosialnya. Ciri utama studi kasus adalah penelitiannya diawali dengan mengidentifikasi terlebih dahulu sebuah kasus secara spesifik baru kemudian diilustrasikan dan dideskripsikan serta memperlihatkan pemahaman yang lebih luas dan mendalam terhadap kasus yang akan diteliti. Pengambilan sampel dalam penelitian ini digunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang dipilih secara sengaja oleh peneliti dengan berdasarkan pertimbangan tertentu, kriteria tertentu, serta karakteristik spesifik yang relevan dengan tujuan dari penelitian. Sugiyono . Sampel dalam penelitian ini adalah AR, anak berusia 9 tahun yang sedang menjalani tetirah di PPSPA Bima Sakti Batu karena memiliki perilaku maladaptif kompleks sehingga merugikan tidak hanya bagi dirinya tetapi juga lingkungan Teknik pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, observasi serta studi dokumentasi. Wawancara dilakukan secara semistruktur kepada informan inti yaitu pekerja sosial yang bertanggung jawab terhadap AR selama menjalani tetirah di PPSPA Bima Sakti Batu. Observasi dilakukan terhadap AR tentang bagaimana dia menjalani kesehariannya selama di PPSPA, bagaimana dia bersosialisasi dengan temantemannya, bagaimana dia menjalankan tugas dan tanggung jawabnya selama di sana, termasuk kepatuhan dan kesiplinannya dalam menjalani tetirah. Studi dokumentasi ini didapatkan saat melakukan wawancara dengan pekerja sosial mengenai data yang diperoleh dari lembaga DP3AP2KB selaku pihak yang lebih dahulu memberikan penangan kepada AR. Studi dokumentasi tersebut juga dilengkapi dengan hasil case conference yang dilakukan oleh PPSPA dengan melibatkan orang tua. DP3AP2KB, serta psikolog sebagai tenaga ahli yang bekerja sama memberikan fasilitas pendampingan di PPSPA Bima Sakti Batu. Analisis data dilakukan dilakukan menggunakan model analisis interaktif (Milles dan Huberma. dalam Sugiono . yang dilaksanakan dalam dua tahap yaitu pada saat berlangsungnya pengumpulan data dan setelah pengumpulan data. Analisis data dilakukan dengan 3 cara yaitu, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN perilaku maladaptif adalah perilaku yang mangganggu kegiatan sehari-hari, termasuk perilaku yang tidak diterima secara sosial, secara fisik dapat merugikan seseorang, atau mempengaruhi pada pendidikan atau lingkungan tempat tinggal (Romadhona et al. Menurut Yuliani . perilaku maladaptif merupakan perilaku yang membahayakan bagi individu baik secara sosial maupun lingkungan disebabkan karena ketidak mampuan dalam menanggapi atau merespon stimulus pada waktu yang tepat. Subyek penelitian ini adalah seorang anak berinisial AR berumur 9 tahun yang duduk dibangku sekolah dasar kelas 2 disalah satu sekolah dasar di Kediri. Saat data ini diambil AR dititipkan dipetirahan anak PPSPA kota batu karena perilaku maladaptif. Di rumah AR selalu bergaul dengan anakanak yang usianya jauh diatasnya yaitu anak SMP tidak hanya itu saat dirumah AR sering membolos sekolah dan merokok. Saat di rumah AR tidak memdapatkan perhatian penuh dari orang tunya karena ayah AR adalah seorang supir truk dan jarang berada dirumah, sedangkan ibu dari AR lebih cenderung memberikan perhatiannya kepada adik AR yang baru berusia sekitar 3-4 tahunan, inilah penyebab utama AR kurang mendapatkan perhatian dan lebih memilih bergaul dengan anak-anak yang usianya jauh Selama di PPSPA AR sulit beradaptasi dengan lingkungan dan temantemannya, semisal saat ada jam pelajaran AR sering keluar kelas dan bermain sendiri biasanya AR juga sering ke kamar mengis dan saat diwawancarai AR berkata kalau dia kangen dengan orang rua dan adiknya. Selain itu AR juga serting melanggar peraturan dan tidak dislipin saat obevervasi AR pernah kedapatan tidak menggunakan sepatu saat jam pelajaran, tidak memasukkan baju dengan rapid dan juga tidak menggunakan seragam yang tepat. Saat waancara dengan peksos di dinas PPSPA AR pernah sembarangan membuang air besar sehingga kotorannya berceceran di area toilet bahkan sampai didinding toilet. Perilaku maladaptive lainnya yang dilakukan oleh AR adalah suka berkata kotor dan kasar, usil, suka memukul temannya dan tidak jarang hal tersebut sering berujung pada temannya yang tinggal dipeksos, hal hal itu juga yang membuat AR di jauhi oleh teman-temannya karena temantemannya merasa tidak nyaman dengan perilaku AR. AR juga sering merengek dan tantrum tanpa alasan yang jelas dan jika dia sudah tantrum AR menangis dengan keras, tidak bias mengontrol dirinya dan berlarian diarea PPSPA. Berikut merupakan pola karakteristik gangguan perilaku pada AR berdasarkan hasil dari wawancara dan observasi selama di dinas PPSPA BATU. Usia/Kelas Kemampuan Fungsional 9 thn/ 2 Sekolah Dasar Komunikasi : diajak bicara sulit fokus dan mendengarkan Adaptasi : Mengalami kesulitan teman-teman yang lain merasa tidak Interaksi Sosial : Sulit mengikuti peraturan yang ada di dinas PPSPA dan kurang bias mengendalikan diri. Akademik Kesulitan belajar terutama dalam berhitung Ciri CD (Conduct Disorde. Agresif, suka melanggar aturan. Ciri ODD (Opptional Disprde. Defiant Tantrum. Sulit menahan amarah, suka mengganggu temannya, mudah KESIMPULAN Penelitian ini mengangkat fenomena perilaku maladaptif yang terjadi pada anak usia sekolah dasar melalui pendekatan studi kasus terhadap seorang anak berinisial AR yang menjalani masa petirahan di PPSPA Bima Sakti Batu. Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, diketahui bahwa AR menunjukkan berbagai bentuk perilaku maladaptif, seperti mencuri, membolos sekolah, menggunakan kata-kata kasar, melakukan kekerasan terhadap teman sebaya, serta menunjukkan perilaku tidak patuh dan tidak disiplin. Bahkan dalam beberapa kasus. AR menunjukkan gejala tantrum dan perilaku destruktif yang mencerminkan ciri- ciri gangguan perilaku seperti Conduct Disorder (CD) dan Oppositional Defiant Disorder (ODD). Faktor utama yang diduga menjadi penyebab munculnya perilaku maladaptif AR adalah pola asuh yang kurang optimal dalam keluarga, di mana AR mengalami pengabaian emosional dari kedua orang tuanya. Ayah AR jarang berada di rumah karena pekerjaan, sementara ibu AR lebih banyak mencurahkan perhatian kepada adik AR yang sering sakit. Kondisi ini mendorong AR untuk mencari perhatian dan keterlibatan sosial di luar rumah, termasuk bergaul dengan anak-anak yang lebih tua dan berperilaku Selain itu, kurangnya pengawasan dan ketidakkonsistenan dalam pemberian aturan turut memperburuk perilaku AR. Selama masa petirahan di PPSPA. AR mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia sering melanggar aturan, sulit mengikuti jadwal pembelajaran, dan menunjukkan penolakan terhadap Dari aspek interaksi sosial. AR cenderung impulsif, tidak bisa mengontrol emosi, serta sering terlibat konflik fisik dan verbal dengan temantemannya. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan regulasi diri AR masih sangat rendah dan membutuhkan pendampingan secara intensif. Temuan ini memperkuat pernyataan bahwa perilaku maladaptif pada anak usia sekolah dasar tidak semata-mata muncul dari faktor internal seperti ketidakmampuan kognitif atau gangguan neuropsikologis, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan keluarga. Penanganan terhadap kasus seperti ini memerlukan kolaborasi lintas sektor, termasuk lembaga sosial, psikolog anak, guru, serta orang tua. Pendekatan yang digunakan harus bersifat holistik, dengan mempertimbangkan kebutuhan emosional, sosial, dan pendidikan anak. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa: Perilaku maladaptif dapat muncul secara kompleks dan berlapis, dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal anak. Lingkungan keluarga yang tidak mendukung tumbuh kembang anak secara emosional merupakan salah satu penyebab dominan dalam kasus ini. Intervensi sosial melalui lembaga seperti PPSPA sangat penting, namun tetap memerlukan keterlibatan aktif orang tua dan pendamping profesional untuk hasil jangka panjang. Deteksi dini dan intervensi yang tepat sejak gejala awal perilaku menyimpang muncul menjadi sangat krusial untuk mencegah berkembangnya gangguan perilaku yang lebih serius pada masa remaja dan dewasa. DAFTAR PUSTAKA