Ganesha Civic Education Journal Volume 8. Number 1. April 2026, pp. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 DOI: https://doi. org/10. 23887/gancej. Open Access: https://ejournal2. id/index. php/GANCEJ/index NILAI-NILAI DALAM PEMENTASAN CALONARANG BASUR SEBAGAI PENGUATAN KARAKTER WARGA DESA KELIKI DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN I Putu Eka Praditya1 * I Putu Windu Mertha Sujana2 Universitas Pendidikan Ganesha ARTICLE INFO ABSTRAK Article history: Received 24 Februari 2026 Accepted 8 April 2026 Available online 16 April 2026 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui . pemahaman masyarakat Desa Keliki, khususnya generasi muda, terhadap nilai- nilai yang terkandung dalam Calonarang Basur, . peran Calonarang Basur dalam memperkuat karakter warga Desa Keliki, dan . nilai- nilai analitik dalam Kata Kunci: Calonarang Basur sebagai penguatan karakter masyarakat Desa Keliki. Jenis Calonarang Basur. nilai- nilai penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif penguatan karakter Penelitian kualitatif ini melibatkan pengumpulan data dari Keywords: berbagai sumber seperti wawancara, observasi, dan dokumentasi. Subjek Calonarang Basur. dalam penelitian ini adalah tokoh adat, seniman Calonarang, generasi muda, character strengthening serta masyarakat Desa Keliki. Metode pengumpulan data menggunakan instrumen observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap nilai-nilai Calonarang Basur tergolong cukup baik, meskipun masih terdapat sebagian generasi muda yang belum memahami makna filosofis secara mendalam. Calonarang Basur berperan penting dalam memperkuat karakter masyarakat melalui penanaman nilai religius, tanggung jawab, disiplin, kebersamaan, dan penghormatan terhadap norma adat. nilai-nilai analitik yang terkandung dalam Calonarang Basur dapat dimaknai sebagai sarana pendidikan karakter berbasis kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan masyarakat Desa Keliki. ABSTRACT This research aims to determine . the understanding of the Keliki Village community, particularly the younger generation, of the values contained in Calonarang Basur. the role of Calonarang Basur in strengthening the character of the Keliki Village community. the analytical values within Calonarang Basur as a means of character reinforcement for the Keliki Village community. This research employed a qualitative method with a descriptive-analytical approach. The qualitative research involved data collection from various sources, including interviews, observations, and documentation. The research subjects consisted of traditional leaders. Calonarang artists, the younger generation, and the Keliki Village community. Data were collected through observation, in- depth interviews, and documentation. The results indicate that: . the communityAos understanding, particularly among the younger generation, of the values of Calonarang Basur is generally adequate, although some youths have not yet fully comprehended its philosophical meanings. Calonarang Basur plays an important role in strengthening community character through the cultivation of religious values, responsibility, discipline, togetherness, and respect for customary norms. the analytical values contained in Calonarang Basur can be interpreted as a form of character education based on local wisdom that is relevant to the lives of the Keliki Village community. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2026 by Author. Published by Universitas Pendidikan Ganesha. * Corresponding author. E-mail addresses: eka. praditya@student. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Pendahuluan Realitas sosiokultural masyarakat Bali secara ontologis tidak dapat dipisahkan dari integrasi yang absolut antara agama, adat istiadat, dan ritus kesenian yang hidup di tengah-tengah Dalam ekosistem kultural ini, kebudayaan tidak sekadar berfungsi sebagai ekspresi estetika teatrikal yang statis untuk dinikmati, melainkan beroperasi sebagai sebuah sistem pengetahuan dinamis, kurikulum kehidupan, dan strategi adaptasi yang diwariskan secara lisan serta paraktik dari satu generasi ke generasi berikutnya (Mahendra, 2. Salah satu mahakarya warisan budaya yang paling esensial dan sarat akan muatan teologis dalam peradaban masyarakat Bali dan Jawa Timur adalah Calonarang. Dalam berbagai literatur kesejarahan dan susastra tradisional. Calonarang secara konsisten direpresentasikan sebagai figur legendaris yang hidup pada masa keemasan Jawa Hindu, spesifiknya pada era pemerintahan Raja Airlangga, yang kisahnya berkelindan erat dengan unsur magis, supranatural, dan pergolakan spiritual. Meskipun narasi tekstual mengenai Calonarang kerap kali diselimuti oleh kabut mitologis, eksistensinya memiliki signifikansi yang sangat krusial dalam mengonstruksi budaya, merawat ingatan kolektif, dan menjaga keseimbangan sistem kepercayaan masyarakat hingga detik ini. Pertunjukan ini secara fundamental adalah manifestasi visual dari pertarungan kosmis abadi antara kekuatan kebaikan . yang disimbolkan oleh entitas Barong, melawan kekuatan kejahatan atau angkara murka . yang direpresentasikan oleh sosok presensial Rangda (Yuliadi, 2. Namun demikian, dari sekian banyak varian pementasan Calonarang yang tersebar di seluruh pelosok Pulau Dewata, terdapat sebuah entitas budaya yang memiliki kekhasan filosofis, struktural, dan ritualistik yang sangat spesifik, yakni pementasan Calonarang Basur yang hidup, berdenyut, dan dipertahankan dengan gigih oleh masyarakat komunal di Desa Keliki. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar. Desa Keliki sendiri bukan sekadar lokus geografis yang pasif. desa ini memiliki rekam jejak historis yang panjang sebagai kantong pelestarian seni tradisional Bali, mulai dari tradisi seni lukis miniatur, ukiran kayu, hingga pembuatan prasi . omik tradisional di atas daun lonta. yang menuntut tingkat ketelitian dan disiplin yang tinggi. Dalam lanskap desa yang kental dengan aura kesenian ini, pementasan Calonarang Basur mengambil bentuk yang secara diametral berbeda dari pementasan Calonarang di wilayah lain. Jika pementasan di area urban atau destinasi wisata arus utama kini lambat laun mulai tergerus dan lebih menonjolkan unsur dramatik, teatrikal, ketegangan fisik, serta komersialisasi demi memuaskan hasrat pariwisata . ourist gaz. Calonarang Basur di Desa Keliki secara konsisten menitikberatkan esensinya pada aspek ritualistik murni dan kesakralan yang absolut. Keunikan struktural yang paling membedakan adalah absennya penggunaan watangan . osok pemeran Rangda atau mayat yang dimainkan secara spesifik oleh satu individu tertent. Sebaliknya, energi Rangda dalam lakon Basur diambil alih secara komunal dan bergiliran oleh para penari yang mengalami kondisi trance atau kerauhan kolektif, menjadikan pementasan ini sebuah laku spiritual bersama yang sangat interaktif dan Pementasan ini sejatinya memikul fungsi utama sebagai sarana pengruwatan sebuah mekanisme penyucian komunal berskala desa yang bertujuan secara spesifik untuk menetralisasi energi-energi negatif . otoran kosmi. dari lingkungan desa, serta memulihkan harmoni dan keseimbangan absolut antara manusia, bentang alam, dan dunia spiritual (Tri Hita Karan. dalam tubuh lakon Gede Basur itu sendiri, terenkripsi penjabaran filosofis mengenai anatomi sifat manusia yang berakar pada konsepsi Rwa Bhineda sebuah doktrin tentang dualitas kehidupan yang senantiasa saling berlawanan, bergesekan, namun secara ontologis tak terpisahkan dan pada akhirnya saling menyeimbangkan (Gunarta, 2. Lakon ini secara gamblang memotret friksi antara kemiskinan dan kekayaan . irepresentasikan oleh I Made Tanu dan I Gede Basu. , kepandaian yang rendah hati melawan kebodohan yang arogan, serta intrik sosial antara majikan dan abdi, yang pada muaranya memberikan tuntunan moral bahwa kebenaran pada akhirnya akan merestorasi tatanan sosial (Gunarta, 2. Melalui keterlibatan kolektif yang intensif, mulai dari tahap persiapan . , pembuatan sesajen, latihan gamelan, hingga puncak pelaksanaan ritual pengruwatan di tengah malam. Calonarang Basur bertransformasi dari sekadar mitos menjadi sebuah ruang dialektika sosial yang secara organik menanamkan nilai-nilai karakter esensial, seperti religiusitas, tanggung jawab kolektif yang tak tertulis, kedisiplinan yang ketat I Putu Eka Praditya . / Nilai-Nilai Dalam Pementasan Calonarang Basur Sebagai Penguatan Karakter Warga Desa Keliki Dalam Perspektif Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. terhadap norma dan awig-awig . ukum ada. , kebersamaan yang meleburkan sekat-sekat kasta, serta etika kasih sayang antarwarga. Akan tetapi, observasi empiris terhadap lanskap kebudayaan di Desa Keliki kiwari menyingkap sebuah fenomena nyata berupa kontradiksi sosiologis yang sangat memprihatinkan. Di tengah pusaran arus modernisasi yang eksponensial, penetrasi masif teknologi digital dari era Society 5. 0, serta gelombang globalisasi pariwisata yang tak terhindarkan, keberadaan budaya sakral seperti Calonarang Basur tengah menghadapi ancaman disrupsi dan degradasi epistemologis yang serius. Secara kasat mata, partisipasi fisik masyarakat dalam penyelenggaraan ritual mungkin masih terlihat tinggi dan semarak, di mana generasi muda turut hadir meramaikan jalannya upacara. Namun, di balik keramaian fisik tersebut, terjadi kekosongan makna di dalam kognisi generasi muda atau Generasi Z. Realitas di lapangan menunjukkan adanya penurunan tingkat literasi dan pemahaman masyarakat, secara khusus di kalangan generasi muda, terhadap substansi makna filosofis, pesan moral, dan nilai-nilai analitik yang sesungguhnya terkandung di dalam setiap babak pementasan tersebut. Banyak dari generasi muda masa kini cenderung mereduksi dan memaknai Calonarang Basur semata-mata sebagai tontonan estetis yang mendebarkan, tradisi rutin desa yang wajib dihadiri tanpa perlu dipertanyakan, atau yang lebih ironis, sekadar medium hiburan mistis yang sensasional untuk direkam dan didistribusikan di platform media sosial guna mendapatkan atensi visual (Komang Indra Wirawan, 2. Mereka kehilangan kapasitas untuk mengekstraksi nilai dari lakon yang dipertunjukkan. Pesan-pesan filosofis mendalam tentang dualitas Rwa Bhineda, serta nilai-nilai pedagogis tentang pengorbanan . , kepatuhan komunal, gotong royong, dan kesalehan ritual, perlahan memudar maknanya dan gagal terinternalisasi menjadi kompas etika dan moral dalam navigasi kehidupan mereka sehari-hari. Fenomena ketercabutan dari akar budaya ini kian diperparah oleh masifnya komodifikasi seni sakral di wilayah Gianyar secara umum, di mana batas antara ritual untuk memuja Sang Pencipta . dan pertunjukan untuk memuaskan turis . alih-baliha. menjadi semakin bias, sehingga menyebabkan terputusnya proses pewarisan nilai . ransmisi kultura. yang otentik dari generasi tetua adat kepada generasi penerus (Wibawa & Wirawan. Bertolak dari fenomena degradasi pemahaman dan krisis identitas kultural yang terjadi secara nyata pada generasi muda tersebut, maka ekskavasi, rasionalisasi, dan reaktualisasi nilainilai Calonarang Basur menemukan urgensinya yang paling mendesak, terutama jika didudukkan dalam lensa strategis disiplin ilmu Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. Urgensi topik kajian ini dilandasi oleh sebuah premis fundamental bahwa karakter warga negara . ivic dispositio. , ketahanan nasional, dan identitas kebangsaan yang solid tidak akan pernah dapat dibangun dalam ruang hampa di dalam tembok kelas yang terisolasi dari realitas sosiokultural masyarakatnya (Alhudawi & Malihah, 2. Di era Kurikulum Merdeka saat ini, pendidikan nasional sedang menggencarkan pembentukan Profil Pelajar Pancasila sebuah inisiatif strategis untuk mencetak generasi yang memiliki enam dimensi utama: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif (Brata dkk. , 2. Mewujudkan profil karakter yang multidimensional ini mutlak mensyaratkan adanya pendekatan pembelajaran yang membumi, kontekstual, dan berakar kuat pada nilai kearifan lokal . ocal wisdo. yang sudah hidup dan dihormati oleh komunitas peserta didik itu sendiri (Santika, 2. Dalam konteks komunal masyarakat Bali, tradisi lokal seperti Calonarang Basur bukanlah sekadar artefak seni masa lalu yang usang, melainkan sebuah laboratorium pendidikan moral yang hidup dan bernapas, serta wahana pendidikan kewarganegaraan sosial yang menyatu dengan ritme ekologi desa (Alhudawi & Malihah, 2. Ritus pengruwatan dan gotong royong . dalam Calonarang Basur sejatinya adalah manifestasi konkret dari nilai sila-sila Pancasila dalam tindakan nyata, mulai dari dimensi spiritualitas hingga keadilan sosial dan persatuan. Ketika generasi muda kehilangan ketajaman untuk memahami nilai dari ritual budayanya sendiri, mereka pada hakikatnya kehilangan mekanisme pertahanan kultural . ultural defense mechanis. terbaik yang mereka miliki dalam menghadapi dekadensi moral, intoleransi, dan individualisme yang dibawa oleh arus globalisasi (Wulan Nurida & Lathifah, 2. Oleh karena itu, langkah strategis untuk mendokumentasikan, menganalisis, dan mengintegrasikan kembali makna filosofis Calonarang GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Basur sebagai sumber belajar kontekstual dan instrumen penguatan karakter bukan lagi sekadar pilihan alternatif, melainkan sebuah keharusan akademis dan kewajiban kultural. Hal ini sangat krusial guna merevitalisasi ketahanan moral masyarakat Desa Keliki agar senantiasa relevan dengan tuntutan zaman tanpa harus tercabut dari akar spiritualitas dan falsafah kebangsaan Pancasila. Meskipun narasi teoretis mengenai urgensi untuk mensinergikan kearifan lokal dengan pendidikan karakter kewarganegaraan telah banyak disuarakan oleh berbagai pakar, penelusuran sistematis dan komprehensif terhadap literatur akademis mutakhir menyingkap sebuah kesenjangan penelitian . esearch ga. yang nyata dan sangat mencolok. Kajian-kajian akademis terdahulu memang telah mengeksplorasi domain Calonarang dan kebudayaan Bali dari berbagai instrumen metodologi dan sudut pandang disiplin ilmu. Di ruang lingkup sosiologi dan pariwisata, kajian banyak didominasi oleh kritik terhadap dampak modernisasi dan politik identitas terhadap agama di Bali seperti pandangan Picard . dalam Worsley . , tinjauan mengenai komodifikasi estetika yang menggeser esensi sakral pementasan seperti yang dipaparkan oleh Wirawan . , hingga studi spesifik mengenai representasi feminisme dan kajian gender melalui pembedahan simbolisasi tokoh Rangda dalam naskah tradisional (Wibawa & Wirawan, 2. Sementara itu, dalam irisan disiplin ilmu Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. sendiri, beberapa penelitian perintis seperti yang digagas oleh Santika . dan Alfaqi . telah sukses mengkonfirmasi tingginya potensi dan efektivitas penggunaan falsafah lokal secara umum, seperti konsep makro Tri Hita Karana atau cerita pewayangan yang bersifat generik, sebagai embrio bahan ajar dan sumber integrasi pendidikan moral (Mahendra, 2. Bahkan inovasi pembelajaran berbasis kesenian seperti pemanfaatan wayang Kamasan untuk penguatan karakter di jenjang pendidikan dasar juga mulai dieksplorasi (Sujana dkk. , 2024. Namun demikian, dari sekian banyak gugusan penelitian tersebut, sangat jarang, bahkan nyaris tidak terpetakan adanya penelitian kualitatif empiris yang secara dedikatif dan spesifik membedah subjek pementasan seni sakral Calonarang Basur dengan lokus di Desa Keliki. Tidak ada studi sebelumnya yang menganalisis bagaimana karakteristik fundamental pementasan ini yang meniadakan unsur individual watangan dan mengubah esensinya menjadi ritual pengruwatan trans kolektif yang sangat bergantung pada kepatuhan serta kebersamaan dapat dioperasionalkan secara analitik sebagai model praksis penguatan karakter warga negara dalam lensa kontemporer Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Ketiadaan diskursus akademis yang mampu menjembatani kedalaman teologi ritualistik lakon Basur dengan kerangka pedagogi PPKn inilah yang menyebabkan tradisi adiluhung ini tak ubahnya bagai berlian yang belum terasah. ia dibiarkan teronggok di ruang ritual tanpa mampu disistematisasikan, dioptimalkan, dan ditransformasikan menjadi media literasi pendidikan karakter berbasis komunitas yang membumi bagi generasi mudanya. Berdasarkan deskripsi rangkaian fenomena empiris tentang krisis pemahaman budaya yang mengkhawatirkan, kesadaran akan tingginya urgensi strategis untuk merestorasi kohesi moral generasi muda di tengah disrupsi global, serta berpijak secara solid pada celah kekosongan literatur akademis yang telah diidentifikasi secara kritis, maka penelitian ini diletakkan pada fondasi tujuan yang jelas, terstruktur, dan imperatif secara naratif. Kajian ini diinisiasi dengan tujuan utama untuk menyingkap, mengevaluasi, dan mendeskripsikan secara mendalam sejauh mana tingkat pemahaman ontologis masyarakat komunal Desa Keliki, dengan memfokuskan sorotan utama pada persepsi generasi muda, terhadap substansi dan spektrum nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalam keseluruhan prosesi ritus Calonarang Basur. Lebih dari sekadar melakukan pemetaan ranah kognitif masyarakat, penelitian ini dirancang untuk secara tajam menganalisis peran konkret, fungsi sosiologis, dan signifikansi eksistensial dari rutinitas pementasan tersebut sebagai instrumen kultural dalam memfasilitasi penguatan dimensi karakter keseharian warga desanya di tengah kepungan arus modernitas. Pada tingkatan yang lebih analitik dan teoretis, sintesis dari keseluruhan observasi dan diskursus dalam penelitian ini diarahkan secara presisi untuk menafsirkan, membongkar, dan mendekonstruksi nilai-nilai analitik yang tersembunyi di balik lakon dan tarian magis Calonarang Basur. Hal ini dilakukan agar nilai-nilai esensial tersebut . eligiusitas, keadilan, disiplin, simpati sosia. dapat direkonstruksi ke dalam sebuah kerangka pedagogis sebagai rumusan strategis penguatan karakter kewarganegaraan berbasis kearifan lokal . ocal wisdo. yang tidak hanya adaptif dan I Putu Eka Praditya . / Nilai-Nilai Dalam Pementasan Calonarang Basur Sebagai Penguatan Karakter Warga Desa Keliki Dalam Perspektif Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. responsif terhadap tantangan zaman, tetapi juga memiliki daya edukasi yang tinggi dan relevansi kultural dengan ritme kehidupan sosiologis masyarakat Desa Keliki saat ini. Diharapkan, pemenuhan seluruh tujuan dari studi ini kelak mampu memberikan sumbangsih pemikiran yang bermakna bagi upaya perlindungan dan pelestarian warisan budaya lokal yang otentik, sekaligus berkontribusi secara signifikan dalam memperkaya serta memperluas cakrawala keilmuan dan metodologi pembelajaran pada disiplin Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam mencetak warganegara yang paripurna. Metode Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian, yaitu metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode observasi adalah teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lainnya. Dalam hal ini peneliti akan melaksanakan pengamatan kepada tokoh adat desa Keliki, warga desa Keliki dan pemuka agama desa Keliki tentang nilai-nilai pementasan calonarang basur sebagai penguatan karakter warga desa Keliki. Metode wawancara adalah sebuah pendekatan atau teknik yang digunakan untuk mengumpulan informasi atau data dengan cara berbicara langsung dengan responden atau subjek penelitian. Dalam metode wawancara ini nantinya akan dilakukan kepada responden atau narasumber yang dituju, yaitu tokoh adat desa Keliki, warga desa Keliki dan pemuka agama desa Keliki. Metode dokumentasi merupakan teknik pengumpula data yang menggunakan dokumentasi seperti mengambil gambar atau foto dan mengadakan pencatatan dengan sistematis. Dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasu dalam penelitian kualitatif. Dalam metode ini nantinya peneliti akan memfokuskan kepada warga desa Keliki, karena didalam penelitian ini permasalahan yang diteliti adalah nilai-nilai dalam pementasan calonarang basur sebagai penguatan karakter warga desa Keliki, sehingga metode ini dapat menunjang teknik pengumpulan data wawancara. Hasil dan pembahasan Hasil Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui nilai-nilai dalam pementasan calonarang basur sebagai penguatan karakter warga Desa Keliki. Penelitian ini berjalan sejak Desember 2025 hingga Januari 2026. Subjek penelitian ini adalah tokoh adat Desa Keliki, warga desa Keliki dan pemuka agama Desa Keliki. Ada pun hasil dari penelitian ini, yaitu : pemahaman masyarakat desa Keliki mengenai nilai-nilai yang terdapat dalam calonarang basur, peran calonarang basur dalam memperkuaat karakter warga desa Keliki dan strategi untuk mengintegrasikan nilai-nilai Calonarang Basur dalam penguatan karakter masyarakat Desa Keliki. Pemahaman masyarakat Desa Keliki terutama generasi muda terhadap nilai-nilai dalam Calonarang Basur. Calonarang merupakan seni pertunjukan tradisional Bali yang mengisahkan cerita mistis mengenai seorang perempuan sakti bernama Calonarang dari Girah. Kisah ini berasal dari masa Kerajaan Airlangga di Jawa Timur dan kemudian berkembang menjadi bagian dari warisan budaya Bali. Pertunjukan Calonarang menggambarkan pertempuran antara kekuatan baik, yang dilambangkan oleh tokoh Barong, dan kekuatan jahat yang diperankan oleh tokoh Rangda. Salah satu bentuk pertunjukan Calonarang yang memiliki karakteristik khas adalah Calonarang Basur. Pertunjukan ini memiliki keunikan tersendiri, khususnya dalam pola pementasannya. Istilah "Basur" dalam konteks ini merujuk pada pertunjukan Calonarang yang tidak menggunakan watangan, yaitu tokoh Rangda yang dimainkan secara khusus oleh satu individu. Sebaliknya, dalam Calonarang Basur, tokoh Rangda tidak hadir secara individual, melainkan diambil alih secara bergiliran oleh para penari yang mengalami kondisi trans kolektif (Suyanto, 2021, hlm. Calonarang Basur menjadi bagian penting dari identitas budaya dan ritual masyarakat Desa Keliki. Berbeda dengan Calonarang di daerah lain yang lebih terstruktur dan memiliki karakter tetap. Calonarang Basur bersifat lebih dinamis, interaktif, dan lebih banyak melibatkan masyarakat sekitar dalam pementasannya. Calonarang Basur juga memiliki fungsi ritual yang lebih kuat dibandingkan dengan Calonarang konvensional yang kadang lebih berorientasi pada aspek estetika pertunjukan. Pementasan Calonarang Basur lebih ditekankan sebagai bagian dari ritual penyucian . yang bertujuan untuk menyeimbangkan energi baik dan buruk dalam kehidupan masyarakat. Dengan GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Calonarang Basur tidak hanya berfungsi sebagai hiburan atau seni pertunjukan, tetapi juga menjadi sarana penguatan nilai-nilai tradisional, kebersamaan, dan spiritualitas masyarakat Desa Keliki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Keliki secara umum memiliki pemahaman yang cukup baik terhadap keberadaan dan makna Calonarang Basur sebagai tradisi sakral desa. Masyarakat memandang Calonarang Basur tidak sekadar sebagai seni pertunjukan, melainkan sebagai bagian integral dari kehidupan religius dan adat yang berfungsi menjaga keseimbangan spiritual desa. Nilai-nilai yang paling mudah dipahami oleh masyarakat adalah nilai religius dan spiritual, karena pementasan Calonarang Basur selalu dikaitkan dengan ritual pengruwatan dan upacara adat. Namun demikian, tingkat pemahaman tersebut menunjukkan variasi antar generasi. Generasi tua dan tokoh adat umumnya memahami nilai-nilai filosofis Calonarang Basur secara lebih mendalam, termasuk makna simbolik pertarungan antara Barong dan Rangda sebagai representasi konsep Rwa Bhineda . eseimbangan antara baik dan buru. Sebaliknya, sebagian generasi muda cenderung memahami Calonarang Basur secara praktis sebagai tradisi desa yang harus dijaga, tetapi belum sepenuhnya memahami nilai-nilai analitik dan filosofis yang terkandung di dalamnya. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan pemahaman yang perlu mendapatkan perhatian dalam upaya pewarisan nilai budaya. Peran Calonarang Basur dalam Memperkuat Karakter Warga Desa Keliki. Calonarang Basur memiliki peran yang signifikan dalam memperkuat karakter warga Desa Keliki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pementasan Calonarang Basur menjadi media internalisasi nilai karakter melalui keterlibatan langsung masyarakat dalam seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan ritual. Nilai religius tercermin dari kepatuhan masyarakat terhadap tata upacara dan keyakinan bahwa pementasan ini berfungsi sebagai sarana penyucian desa. Selain itu, nilai kebersamaan dan gotong royong tampak kuat melalui partisipasi kolektif warga, baik sebagai penari, penabuh gamelan, panitia adat, maupun masyarakat pendukung. Proses ini memperkuat solidaritas sosial dan rasa memiliki terhadap budaya desa. Nilai tanggung jawab dan disiplin juga tercermin dari ketaatan warga terhadap aturan adat . wig-awi. yang mengatur pelaksanaan Calonarang Basur, termasuk pembagian peran dan kewajiban masing- masing pihak. Dengan demikian. Calonarang Basur tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter sosial dan moral masyarakat. Strategi Integrasi Nilai-Nilai Calonarang Basur dalam Penguatan Karakter Masyarakat. Hasil penelitian mengidentifikasi beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengintegrasikan nilai-nilai Calonarang Basur dalam penguatan karakter masyarakat Desa Keliki. Strategi pertama adalah melalui pelibatan aktif generasi muda dalam pementasan dan proses ritual, tidak hanya sebagai pelaku seni, tetapi juga melalui pemberian pemahaman tentang makna filosofis dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pelibatan ini dinilai efektif untuk meningkatkan rasa tanggung jawab dan kebanggaan terhadap budaya lokal. Strategi kedua adalah melalui pewarisan nilai secara informal dalam kehidupan bermasyarakat, seperti melalui kegiatan adat, sanggar seni, dan diskusi budaya yang melibatkan tokoh adat dan seniman Calonarang. Strategi ketiga adalah integrasi nilai-nilai Calonarang Basur ke dalam konteks pendidikan, khususnya sebagai sumber belajar. kontekstual dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. Nilai religius, gotong royong, disiplin, dan tanggung jawab yang terkandung dalam Calonarang Basur dapat dijadikan contoh nyata penerapan nilai- nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan penerapan strategi-strategi tersebut. Calonarang Basur berpotensi menjadi media yang efektif dalam memperkuat karakter masyarakat Desa Keliki secara berkelanjutan, sekaligus menjaga keberlangsungan budaya lokal di tengah tantangan Pembahasan Pemahaman Masyarakat Desa Keliki terhadap Nilai-Nilai Calonarang Basur Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman ontologis masyarakat Desa Keliki terhadap substansi nilai yang terkandung dalam Calonarang Basur berada pada kategori yang cukup baik, terutama pada aspek religius dan ritualistik. Pemahaman ini terbentuk secara organik melalui partisipasi empiris dan keterlibatan kolektif yang berkelanjutan dalam siklus upacara Bagi generasi tetua dan tokoh adat setempat, transmisi nilai budaya masih berjalan efektif I Putu Eka Praditya . / Nilai-Nilai Dalam Pementasan Calonarang Basur Sebagai Penguatan Karakter Warga Desa Keliki Dalam Perspektif Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. melalui tradisi lisan, keteladanan, dan observasi langsung. Mereka tidak hanya mereduksi Calonarang Basur sebagai sebuah tontonan estetis, melainkan memahami maknanya secara filosofis sebagai simbol keseimbangan kosmis antara kekuatan kebaikan dan keburukan, yang sejalan dengan doktrin Rwa Bhineda dalam ajaran Hindu Bali. Meskipun demikian, observasi di lapangan menyingkap sebuah fenomena berupa kesenjangan kognitif . ognitive ga. di kalangan generasi muda. Sebagian besar generasi muda cenderung memaknai Calonarang Basur secara normatif sebagai sebuah tradisi rutinan desa yang wajib diselenggarakan dan dihadiri, tanpa adanya proses refleksi maupun pemaknaan yang tajam terhadap substansi filosofis dan nilai analitik di dalamnya. Kondisi ini sangat rasional jika didudukkan dalam lanskap sosiologis kontemporer yang sarat akan disrupsi. Sebagaimana dikaji oleh Wiratama dkk. , generasi muda saat ini menghadapi tantangan serius berupa ancaman "kekosongan makna" . eaning vacuu. akibat masifnya arus globalisasi yang melemahkan ikatan kultural mereka dengan tradisi lokal. Lebih lanjut, absennya literasi budaya yang mendalam berpotensi menyebabkan ritual sakral ini tereduksi menjadi sebatas komoditas hiburan. Mahadewi dkk. dalam kajian kearifan lokalnya juga menemukan disparitas serupa, di mana pengetahuan mengenai konsep harmonisasi budaya lokal sering kali gagal bertransmutasi menjadi realitas sosial yang terinternalisasi akibat kuatnya tekanan gaya hidup modern. Tanpa pemahaman yang utuh. Calonarang Basur berisiko kehilangan daya edukatifnya. Oleh karena itu, rasionalisasi dan reaktualisasi nilai filosofis pada generasi muda menjadi sebuah urgensi agar tradisi ini senantiasa relevan sebagai instrumen penjaga identitas kultural desa. Peran Calonarang Basur dalam Memperkuat Karakter Kewarganegaraan Di tengah gempuran modernisasi. Calonarang Basur secara konsisten mempertahankan peran strategisnya sebagai instrumen penguatan karakter masyarakat Desa Keliki. Penelitian membuktikan bahwa nilai-nilai karakter esensial tidak ditransfer melalui instruksi didaktisverbal, melainkan diinternalisasi melalui proses embodied learning . embelajaran berbasis pengalaman jasmani dan rohan. di mana nilai tersebut dihidupkan melalui partisipasi kolektif Secara ontologis. Calonarang Basur mengkonstruksi karakter warganya melalui beberapa dimensi fundamental. Pertama, nilai religiusitas diperkuat melalui keyakinan mutlak masyarakat terhadap fungsi pementasan sebagai sarana pengruwatan . enyucian des. Absennya tokoh watangan dan digantikannya peran tersebut oleh masyarakat yang mengalami kondisi trans . komunal merepresentasikan ketundukan spiritual yang mendalam terhadap realitas teologis Kedua, nilai etika, disiplin, dan tanggung jawab tercermin secara nyata dari kepatuhan warga terhadap awig-awig . orma ada. yang mengatur tata laksana ritual. Temuan ini sangat ekuivalen dengan analisis Gunarta . , yang mengonfirmasi bahwa dramatari Arja Basur sarat akan nilai-nilai pendidikan karakter seperti etika, kasih sayang, dan tuntunan moral guna merestorasi tatanan sosial masyarakat Ketiga, nilai kebersamaan bermanifestasi melalui mekanisme ngayah . otong royong tanpa pamri. yang meleburkan sekat-sekat stratifikasi sosial dan memperkuat kohesi komunal Dinamika ini menegaskan bahwa budaya komunal bukan sekadar artefak, melainkan mekanisme pertahanan . ultural defense mechanis. Analisis dari Dwi dkk. membuktikan bahwa manajemen pendidikan karakter yang berakar kuat pada praksis kebudayaan lokal merupakan strategi paling tangguh bagi masyarakat untuk menangkal dekadensi moral dan individualisme di era globalisasi. Integrasi dimensi spiritual, sosial, dan ekologis yang terjadi selama persiapan hingga pementasan Calonarang Basur ini selaras dengan pengejawantahan filosofi Tri Hita Karana, yang diakui secara akademis sebagai kerangka pendidikan holistik pembentuk karakter yang paripurna (Suwamba dkk. , 2. Strategi Integrasi Nilai Analitik dalam Pendidikan Karakter dan PPKn Untuk menjembatani kesenjangan pemahaman generasi muda serta mengoptimalkan peran Calonarang Basur sebagai sarana edukasi yang berkelanjutan, diperlukan strategi integrasi yang sistematis dan terstruktur. Hasil penelitian merumuskan tiga strategi utama, yakni: pelibatan aktif generasi muda dalam ritual, pewarisan nilai secara informal melalui komunitas/sanggar, dan integrasi nilai-nilai analitik ke dalam konteks pendidikan formal, spesifiknya pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Pada jalur pendidikan informal, optimalisasi peran sanggar seni dan institusi adat sangatlah Yasa dkk. menegaskan bahwa intervensi melalui pelatihan di sanggar seni tidak hanya berfungsi sebagai upaya pelestarian keahlian teknis estetik, namun juga berperan sebagai ruang dialogis yang efektif untuk menanamkan pemahaman karakter dan filosofi tradisi kepada generasi muda. Interaksi intensif dengan seniman dan tetua adat memungkinkan proses transfer makna berjalan secara organik. Di ranah pendidikan formal, integrasi nilai-nilai Calonarang Basur ke dalam PPKn menemukan momentum pedagogisnya pada era Kurikulum Merdeka. Hal ini sejalan dengan temuan Santika . yang menegaskan bahwa penguatan kearifan lokal Bali merupakan pijakan krusial dalam membentuk Profil Pelajar Pancasila, karena nilai-nilai tersebut membumi dengan realitas ekologi dan kultural peserta didik. Sebagai representasi, relasi antara nilai-nilai Calonarang Basur dan pembentukan karakter kewarganegaraan . ivic dispositio. dapat disintesiskan pada matriks berikut: Tabel 1. Representasi, relasi antara nilai-nilai Calonarang Basur dan pembentukan karakter kewarganegaraan . ivic dispositio. Dimensi Karakter Praktik Sosiokultural Relevansi Dimensi Profil Calonarang Basur dalam Ritus Keliki Pelajar Pancasila Religiusitas & Kesalehan Kepatuhan pada tata upacara Beriman. Bertakwa kepada pengruwatan dan pantangan Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia. Kebersamaan & Solidaritas Tradisi ngayah secara kolektif Bergotong Royong yang meleburkan sekat kasta Berkebinekaan Global. Tanggung Jawab & Disiplin Ketaatan individu dalam Mandiri dan Bertanggung menjalankan perannya sesuai Jawab (Kewarganegaraan awig-awig desa. Huku. Resolusi Moral (Rwa Pemaknaan lakon Gede Basur Bernalar Kritis dan Keadilan Bhined. mengenai konflik adharma Sosial. melawan dharma. Pemanfaatan instrumen kearifan lokal dalam PPKn seperti ini telah terbukti secara empiris. Kajian Sujana dkk. mengonfirmasi bahwa penggunaan representasi visual kesenian lokal mampu menerjemahkan nilai-nilai keadilan, ketuhanan, dan keteladanan yang abstrak menjadi konsep yang konkret dan mudah dipahami, sehingga menumbuhkan kebanggaan serta literasi budaya warga negara. Di samping itu, mendokumentasikan nilai pementasan melalui diskursus publik maupun platform digital, sebagaimana yang didorong oleh Anco . , akan menjamin bahwa warisan budaya lokal dapat ditransmisikan kepada Generasi Z dalam format yang adaptif. Secara holistik, menjadikan Calonarang Basur sebagai laboratorium kewarganegaraan bukan sebatas upaya romantisasi masa lalu, melainkan sebuah rekayasa kultural agar masyarakat Desa Keliki senantiasa memiliki daya lentur moral . oral resilienc. yang kokoh demi menyongsong masa depan tanpa harus tercabut dari akar identitasnya. Simpulan dan saran Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Calonarang Basur memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Desa Keliki, tidak hanya sebagai seni pertunjukan tradisional, tetapi juga sebagai media penguatan karakter berbasis kearifan lokal. Pemahaman masyarakat Desa Keliki terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Calonarang Basur secara umum tergolong cukup baik, khususnya pada aspek religius dan ritualistik. Namun demikian, pemahaman generasi muda terhadap makna filosofis dan nilai analitik yang terkandung di dalamnya masih perlu ditingkatkan agar tradisi ini tidak hanya dipahami secara normatif, tetapi juga secara substantif. Calonarang Basur terbukti berperan signifikan dalam memperkuat karakter masyarakat Desa Keliki melalui internalisasi nilai religius, tanggung jawab, disiplin, kebersamaan, dan I Putu Eka Praditya . / Nilai-Nilai Dalam Pementasan Calonarang Basur Sebagai Penguatan Karakter Warga Desa Keliki Dalam Perspektif Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. kepatuhan terhadap norma adat. Nilai-nilai tersebut tertanam secara alami melalui keterlibatan aktif masyarakat dalam seluruh rangkaian pementasan, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan Dengan demikian. Calonarang Basur berfungsi sebagai sarana pendidikan karakter yang kontekstual, di mana nilai-nilai kehidupan diajarkan melalui pengalaman langsung dan praktik sosial yang berkelanjutan. Selain itu, strategi integrasi nilai-nilai Calonarang Basur dalam penguatan karakter masyarakat perlu dilakukan secara sistematis melalui pewarisan budaya antar generasi, penguatan peran sanggar seni dan tokoh adat, serta integrasi budaya lokal dalam pendidikan formal, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. Upaya ini menjadi penting agar nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Calonarang Basur tetap relevan dan mampu menjawab tantangan modernisasi dan globalisasi. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa pelestarian Calonarang Basur bukan hanya berorientasi pada keberlangsungan tradisi, tetapi juga sebagai upaya strategis dalam membentuk karakter masyarakat yang berlandaskan nilai budaya, spiritualitas, dan Pancasila. Tradisi ini diharapkan terus hidup dan diwariskan sebagai bagian dari identitas dan kekuatan moral masyarakat Desa Keliki. Daftar Rujukan Alhudawi. , & Malihah. Kearifan Lokal Aktivitas Masyarakat Hindu Bali sebagai Sumber Belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan, 5. , 241Ae251. https://doi. org/http://dx. org/10. 17977/um019v5i2p241-251 Anco. Implementasi Pendidikan Antikorupsi melalui Kurikulum Kearifan Lokal di Sekolah. Journal of Humanities. Social Sciences. And Education, 12. , 68Ae80. https://doi. org/https://doi. org/10. 64690/jhuse. Arianti. Sri. DESA ADAT KELIKI KECAMATAN TEGALLALANG. KABUPATEN GIANYAR Bandem. Seni Pertunjukan Bali dalam Konteks Budaya dan Pendidikan. Denpasar: Udayana University Press. Bandung: Alfabeta. Brata. Sartika. , & Saputra. Membangun Karakter Profil Pelajar Pancasila Berbasis Kearifan Lokal dengan Perspektif Kebudayaan Bali. Jurnal Penelitian Inovatif, 4. , 829Ae838. https://doi. org/10. 54082/jupin. Dewi. Landrawan. , & Kertih. Implementasi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Sikap Disiplin pada Pembelajaran PPKn: Studi Evaluasi Kurikulum Merdeka. EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN. ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT, 5. , 535-544. Dwi. Dartini. Syahputra. Zahara. Wijaksono. , & Gombo. Integrating Local Wisdom Values into Educational Management: A Literature Review on Character Development Aspects. INDONESIAN JOURNAL OF EDUCATIONAL INQUIRY, 2. , 42Ae51. https://ejournal2. id/index. php/IJEI/index Gunarta. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Dramatari Arja Basur Di Desa Adat Tegal. Darmasaba Badung Bali. Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni, 19. , 120Ae132. https://doi. org/https://doi. org/10. 21831/imaji. Komang Indra Wirawan. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Dramatari Arja Basur Di Desa Adat Tegal. Darmasaba Badung Bali. Mudra Jurnal Seni Budaya, 39. , 1Ae7. https://doi. org/10. 31091/mudra. Mahadewi. Nafisah. , & Maheswari. Inkonsistensi Internalisasi Nilai Tri Hita Karana Dalam Praktik Membuang Sampah Ke Teba Pada Masyarakat Desa Sulangai. Kabupaten Badung. SABANA: Jurnal Sosiologi. Antropologi, dan Budaya Nusantara, 4. , 404Ae413. https://doi. org/10. 55123/sabana. Mahendra. Conception of Local Wisdom Nangun Sad Kerthi Loka Bali in Character Education. Social. Humanities, and Education Studies (SHE. : Conference Series, 4. , 78Ae https://doi. org/https://doi. org/10. 20961/shes. Nurdin. Pelestarian Budaya Lokal dalam Pendidikan Nasional: Sebuah Tantangan di Era Globalisasi. Surabaya: Unesa Press. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Peters. The Sacred Power of Hysteria: Performance. Identity, and the Magic of Balinese Calonarang. Asian Theatre Journal, 38. , 148-167. Picard. Balinese Religion in Practice. Princeton University Press. Prasetya. Pendidikan Multikultural dan Nasionalisme dalam Konteks Indonesia. Santika. Kompetensi Guru Mengembangkan Materi PPKn Berbasis Kearifan Lokal (Local Wisdo. Bali dalam Membentuk Sikap Kewarganegaraan Siswa [Universitas Pendidikan Indonesi. https://repository. edu/18368/ Santika. Penguatan Nilai-nilai kearifan lokal Bali dalam membentuk Profil Pelajar Pancasila. Jurnal Pendidikan Konseling, 4. , 6182Ae6195. https://doi. org/https://doi. org/10. 31004/jpdk. Suastika. Calon Arang dalam tradisi Bali: suntingan teks, terjemahan, dan analisis proses pem-Bali-an. Sudiana. Pementasan Dramatari Calonarang Wirada Sungsang: Kajian Nilai-Nilai Pendidikan Karakter. Sujana. Kristiantari. Ambara. , & Sujana. KEARIFAN LOKAL BALI LUKISAN WAYANG KAMASAN DALAM MENGUATKAN PROFIL PELAJAR PANCASILA DI SEKOLAH DASAR. Jurnal Pendidikan Karakter, 15. , 155Ae164. https://doi. org/10. 21831/jpka. Sujana. Kristiantari. Ambara. , & Sujana. Kearifan Lokal Bali Lukisan Wayang Kamasan Dalam Menguatkan Profil Pelajar Pancasila Di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Karakter, 15. , 155Ae164. https://doi. org/10. 21831/jpka. Sumerta. , & Windu Mertha Sujana. Nilai Pancasila. Budaya Lokal Dan Tradisi Ngayah Bali Sebagai Media Pendidikan Karakter Generasi Muda. Suwamba. Jampel. Parmiti. , & Sanjaya. Tari Maskot sebagai Media Internalisasi Nilai Tri Hita Karana dalam Perspektif Filsafat Pendidikan di Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Adat Budaya, 8. , 196Ae205. https://doi. org/https://doi. org/10. 23887/jabi. Wibawa. , & Wirawan. Representation of Contemporary Balinese Women in the Symbol of Rangda: Perspectives from the Lontar Calonarang and Usadha Taru Premana through Ethnography. Journal of Cultural Analysis and Social Change, 10. , 2120Ae2132. https://doi. org/10. 64753/jcasc. Wiratama. Nadiroh. Rahardjo. Asikin. , & Adelina Fitri. Kontribusi Ritual Ngertaken Bumi Dalam Membangun Rasa Nasionalisme Masyarakat Sunda Budi Daya. Jurnal Civic Hukum, 10. , 188Ae202. https://doi. org/10. 22219/jch. Wirawan. Calonarang: Ajaran tersembunyi di balik tarian mistis. Bali Wisdom. Wirawan. Reflections on the Governance of Calon Arang Performance: Between Contestation. Commodification, and Religion. Mudra Jurnal Seni Budaya, 39. , 1-7. Worsley. Michel Picard. Kebalian : La construction dialogique de lAoidentity balinaise. Archipel, 98, 257Ae261. https://doi. org/10. 4000/archipel. Wulan Nurida. , & Lathifah. Generasi Z Kreatif : Bagaimana Kearifan Lokal Membentuk Inovasi Mereka. Revitalisasi Bimbingan dan Konseling Berbasis Kearifan Lokal untuk Memperkuat Kreativitas & Ketangguhan Generasi Z menuju Indonesia EmasAy, 4(Revitalisasi Bimbingan dan Konseling Berbasis Kearifan Lokal untuk Memperkuat Kreativitas & Ketangguhan Generasi Indonesia Ema. , 288Ae295. https://doi. org/https://doi. org/10. 29407/11efqy91 Yasa. Wahyuni. Ardiyasa. Palguna. Juliawan. , & Darmayoga. Komang Agus. Pelatihan Dan Pembinaan Tari Topeng Sidhakarya Dan Tata Rias Di Yayasan Taksu Tri Datu Nusa Penida: Upaya Pelestarian Seni Tradisi Dalam Konteks Pendidikan Karakter. PANAKAWAN : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 1. , 58Ae70. https://ekadanta. org/jurnal/index. php/Panakawan/article/view/559 Yuliadi. Adaptation and Representation of Narcissistic Desires of Calon ArangAos Text in Bali. Journal Urban SocietyAos Arts, 9. , 117Ae128. https://doi. org/https://doi. org/10. 24821/jousa. I Putu Eka Praditya . / Nilai-Nilai Dalam Pementasan Calonarang Basur Sebagai Penguatan Karakter Warga Desa Keliki Dalam Perspektif Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan