Jurnal Keperawatan Indonesia. Volume 19 No. Juli 2016, hal 100-106 pISSN 1410-4490, eISSN 2354-9203 KEPUASAN PASIEN DIABETES MELITUS TERHADAP PERAWATAN PALIATIF: TINGKAT TERENDAH PADA DIMENSI TAMPILAN FISIK Iin Nur Indah Sari1*. Tuti Nuraini2 Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih. Jakarta Timur. DKI Jakarta 13640. Indonesia Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Kampus UI. Depok 16424. Indonesia *E-mail: iin. nuris@yahoo. Abstrak Diabetes merupakan penyakit progresif yang tidak hanya membutuhkan perawatan kuratif dan rehabilitatif tetapi juga perawatan paliatif. Salah satu indikator penting tercapainya perawatan paliatif yang efektif adalah kepuasaan pasien. Penelitian ini dilakukan untuk menilai kepuasan pasien diabetes yang mendapatkan perawatan paliatif. Penelitian cross sectional ini melibatkan sampel pasien diabetes di balai asuhan keperawatan di Jabodetabek sebanyak 43 responden. Instrumen yang digunakan adalah modifikasi dan terjemahan Home Care Client Satisfaction Instrument-Revised (HCCSI-R). Client Satisfaction Inventory (CSI), dan Long-form Patient Satisfaction Questionnaire (PSQ-. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 14% responden merasa cukup puas, 60,5% merasa puas, dan 25,6% merasa sangat Dimensi tampilan fisik mendapatkan nilai paling rendah dalam kepuasan pasien di antara dimensi yang lain. Hasil penelitian ini tidak menemukan adanya perbedaan antara karakteristik individu dengan tingkat kepuasan. Penelitian ini merekomendasikan kepada praktisi kesehatan untuk memperhatikan faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan pasien. Kata kunci: diabetes, kepuasan pasien, perawatan paliatif Abstract Diabetes Mellitus Patients Satisfaction on Palliative Care: The Lowest Level on Tangibleness Dimension. Diabetes is a progressive disease that needs palliative care aside from curative and rehabilitative. Satisfaction is one of the most important indicators of palliative care, so the measurement of patient satisfaction with treatment is necessary. This study aimed to describe the level of satisfaction of patients with diabetes mellituswho received palliative care. This cross sectional study involved 43 respondents of diabetic patients in nursing care centers in Jabodetabek. Modified and translation of Home Care Client Satisfaction Instrument-Revised (HCCSI-R). Client Satisfaction Inventory (CSI), and the Long-Form Patient Satisfaction Questionnaire (PSQ-. was used. The results showed that 14% of respondents reported quite satisfied, 60,5% satisfied, and 25,6% very satisfied. Tangibleness dimension was achieved the lowest level of satisfaction. This research also found that there are no significant differences between the characteristics of the respondents with the level of satisfaction . > 0,. The study recommends healthcare practitioners to deepen their knowledge about palliative care and apply it to health services. Keywords: diabetic, palliative care, patient satisfaction Pendahuluan Transisi demografi dan epidemiologi menyebabkan struktur penduduk semakin menua dan pola penyakit berubah dari penyakit menular ke penyakit tidak menular kronik. Saat ini penyakit tidak menular (PTM) menjadi penyebab utama kematian secara global. Lebih dari dua- pertiga . %) dari populasi global diperkirakan akan meninggal akibat penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung, stroke dan diabetes melitus (World Health Organization [WHO], 2. Salah satu PTM yang terus berlangsung dan menjadi masalah besar dalam kesehatan masyarakat adalah diabetes melitus. Diabetes Melitus (DM) Sari, et al. Kepuasan Pasien Diabetes Melitus Terhadap Perawatan Paliatif merupakan sekelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan adanya peningkatan kadar glukosa dalam darah . karena kelainan dalam sekresi insulin, aksi insulin atau keduanya (American Diabetes Association [ADA], 2004. Smeltzer & Bare, 2. Diabetes merupakan salah satu penyakit progresif yang memerlukan penanganan lama dan biaya yang besar. Pasien dengan penyakit progresif tidak hanya mengalami berbagai masalah fisik seperti nyeri, sesak nafas, penurunan berat badan, gangguan aktivitas, tetapi juga mengalami gangguan psikososial dan spiritual yang memengaruhi kualitas hidup pasien dan keluarganya. Kebutuhan pasien yang memiliki penyakit pada stadium lanjut tidak hanya pada pemenuhan atau pengobatan gejala fisik, tetapi juga membutuhkan dukungan terhadap kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritual yang dikenal sebagai perawatan paliatif (Doyle & Mac Donald, 2. Hal ini sejalan dengan Keputusan Kemenkes RI . yang menjelaskan bahwa penyakit kardiovaskuler, kanker, penyakit pencernaan, diabetes, dan PTM lainnya tidak hanya membutuhkan perawatan kuratif dan rehabilitatif tetapi juga membutuhkan perawatan paliatif dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi pasien. Beberapa kendala dapat menghambat pasien dalam mendapatkan pelayanan kesehatan. Keterbatasan fasilitas pada instansi yang menyediakan pelayanan perawatan paliatif tentu saja menjadi salah satu kendala untuk masyarakat dalam mendapatkan perawatan paliatif secara optimal dan akan memengaruhi tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan yang didapatkan. Hasil studi pendahuluan dalam penelitian Meier . menunjukkan bahwa pasien di salah satu hospice di Amerika Serikat menerima perawat berkualitas rendah yang ditandai dengan tidak terpenuhinya kebutuhan psikososial, perawatan pribadi, penanganan gejala, dan biaya yang besar, sehingga pasien beserta keluarga merasa tidak puas. Hasil studi Elfira . menunjukkan bahwa pasien dan keluarga kurang puas dengan nilai rerata 2,98 terhadap pelayanan perawatan paliatif yang diberikan di Puskesmas Balongsari Surabaya. Ketidaksesuaian antara harapan masyarakat terhadap perawatan paliatif dengan ketersediaan pelayanan kesehatan dapat memengaruhi tingkat kepuasan. Di sisi lain, keterlibatan konsumen diakui sebagai peran yang diperlukan untuk mengukur dimensi kualitas suatu pelayanan yang nantinya akan menjadi tolok ukur pengembangan institusi penyedia perawatan paliatif (Geron. Smith. Tennstedt. Jette, & Chassler, 2. Oleh karena itu, penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran tingkat kepuasan pasien DM yang mendapatkan perawatan paliatif perlu dilakukan. Metode Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan melibatkan 43 pasien DM di Balai Asuhan Keperawatan atau Rumah Perawatan di wilayah Jabodetabek. Responden ini dipilih melalui teknik consecutive sampling mengingat keterbatasan jumlah kunjungan pasien DM di tiap Balai. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah modifikasi dari Home Care Client Satisfaction Instrument-Revised (HCCSI-R). Client Satisfaction Inventory (CSI), dan Longform Patient Satisfaction Questionnaire (PSQ. Kuesioner dalam penelitian ini terdiri dari lima bagian yang disusun berdasarkan dimensi kepuasan yaitu dimensi tangibleness . ampilan fisi. , dimensi reliability . , dimensi responsiveness . aya tangga. , dimensi empathy . dan dimensi assurance . dengan total 35 butir pernyataan yang dapat diisi oleh pasien DM yang mendapatkan perawatan paliatif. Tiap butir dinilai menggunakan skala Likert dari Ausangat puasAy sampai Ausangat tidak puasAy. Validitas instrumen dari seluruh 34 pernyataan memiliki r> 0,396. Hal Jurnal Keperawatan Indonesia. Vol. No. Juli 2016, hal 100-106 ini menunjukkan bahwa 34 pernyataan dinyatakan valid. Uji reliabilitas instrumen menghasilkan nilai Cronbach alpha> 0,964 yang menunjukkan bahwa instrumen dalam penelitian ini bersifat reliabel. Hasil Karakteristik responden paling banyak dewasa akhir . ,5%), berjenis kelamin perempuan . ,8%), berpendidikan perguruan tinggi . ,2%), bekerja sebagai pegawai swasta . ,5%), dan berpenghasilan lebih atau sama 000 . ,2%). Secara rinci data tentang karakteristik ini dapat dilihat pada Gambar 1. Diagram Tingkat Kepuasan Responden Tabel 1. Karakteristik Responden Frekuensi Presentase (%) Usia Dewasa Awal Dewasa Tengah Dewasa Akhir Lansia Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan SMP SMA Perguruan Tinggi Pekerjaan Pegawai Negeri Pegawai Swasta Wiraswasta Tidak bekerja Pendapatan O2. >2. >5. >7. Karakteristik Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada rentang merasa puas . ,5%). Data tersebut dapat dilihat pada Dimensi tingkat kepuasan pasien dapat dilihat pada tabel 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65,1% responden merasa puas pada dimensi tangibleness . ampilan fisi. , 67,4% responden merasa puas pada dimensi reliability . , 60,5% responden merasa puas pada dimensi responsiveness . aya tangga. , 67,4% responden merasa puas pada dimensi empathy . , dan 62,8% responden merasa puas pada dimensi assurance . Pembahasan Karakteristik Responden. Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden berada dalam rentang dewasa akhir . -60 tahu. Penyakit diabetes pada umumnya dialami oleh seorang yang sudah memasuki dewasa akhir. Seseorang yang berusia lebih dari 45 tahun memiliki peningkatan risiko terhadap terjadinya DM dan intoleransi glukosa yang disebabkan oleh faktor degeneratif yaitu menurunnya fungsi tubuh, khususnya kemampuan sel dalam memproduksi insulin untuk memetabolisme glukosa (Sujaya, 2. AA. Sari, et al. Kepuasan Pasien Diabetes Melitus Terhadap Perawatan Paliatif Tabel 2. Tingkat Kepuasan Responden pada Tiap Dimensi Kategori Tingkat Kepuasan Variabel Sangat Tidak Puas Tidak Puas Cukup Puas Puas Sangat Puas Dimensi tangibleness . ampilan fisi. 2,3% 2,3% 20,9% 65,1% 9,3% Dimensi reliability . 0,0% 0,0% 9,3% 67,4% 23,3% Dimensi responsiveness . aya tangga. 0,0% 0,0% 14,0% 60,5% 25,6% Dimensi empathy . 0,0% 0,0% 7,0% 67,4% 25,6% Dimensi assurance . 0,0% 0,0% 11,6% 62,8% 25,6% Hasil penelitian ini didukung oleh Richardo dan Darmayanti . di Manado. Berdasarkan penelitian tersebut, sepuluh perempuan usia produktif di Puskesmas Wawonasa Manado menunjukkan bahwa 50% berusia 46Ae 60 tahun. Hasil penelitian ini juga didukung Kurnia . yang menjelaskan bahwa ada hubungan yang signifikan antara umur dengan risiko terjadinya diabetes. Kelompok umur kurang dari 45 tahun merupakan kelompok yang kurang berisiko menderita DM Tipe 2. Risiko pada kelompok ini 72% lebih rendah dibanding kelompok umur 45 tahun atau lebih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 55,8% pasien berjenis kelamin perempuan sedangkan 44,2% berjenis kelamin laki-laki. Namun, hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wong. Gucciardi. Li, dan Grace . di Kanada. Berdasarkan penelitian tersebut, penderita diabetes laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan penderita perempuan. Sebanyak 561 orang yang menghadiri Diabetes Education Centre di Toronto Western Hospital, 53% laki-laki dan 47% perempuan. Perbedaan hasil penelitian tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan budaya di tempat penelitian yang dapat memengaruhi pola hidup pada laki-laki atau perempuan pada umumnya. Pola hidup yang dimaksud adalah pola makan dan olahraga yang bisa menjadi faktor pemicu terjadinya penyakit diabetes. Hepp. Spindler, dan Milos . mengidentifikasi bahwa masalah pola makan lebih banyak ditemukan pada perempuan dibanding lakilaki. Secara umum, olahraga dianggap sebagai domain laki-laki (Riemer & Visio, 2. , namun lebih khusus, kegiatan olahraga digolongkan sebagai olahraga maskulin, feminin, atau netral. Kegiatan ekspresif . isalnya menari dan sena. secara konsisten dikategorikan sebagai olahraga feminin, tenis atau berenang sebagai olahraga netral, dan olahraga beladiri sebagai olahraga maskulin. Nursiswati. Prawesti, dan Sihombing . dalam penelitiannya di Jakarta mengidentifikasi bahwa dari 92 pasien diabetes, 84,78% berjenis kelamin perempuan. Perempuan lebih berisiko terkena diabetes karena wanita berpeluang lebih besar untuk mengalami peningkatan indeks masa tubuh dibandingkan lakilaki. Selain itu, sindroma siklus bulanan . remenstrual syndrom. dan pasca menopause juga membuat distribusi lemak tubuh menjadi terakumulasi akibat proses hormonal. Terjadinya akumulasi lemak tubuh menyebabkan otot Jurnal Keperawatan Indonesia. Vol. No. Juli 2016, hal 100-106 akan makin resistensi terhadap kerja insulin, sehingga wanita berisiko menderita DM tipe 2 (Kurnia, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 34,9% pasien berpendidikan SMA, dan 37,2% berpendidikan sarjana. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa rerata pasien memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi. Namun, hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kurnia . yang menemukan, 61,29% pasien diabetes melitus di Puskesmas Cengkareng berlatar belakang pendidikan yang rendah. Menurut Irawan . , tingkat pendidikan berpengaruh terhadap kejadian penyakit DM karena masyarakat berpendidikan tinggi akan memiliki banyak pengetahuan tentang kesehatan, sehingga mereka memiliki kesadaran tinggi dalam menjaga kesehatan. menuhi kebutuhan selama perawatan. Mahalnya biaya perawatan paliatif ini dapat ditanggulangi dengan adanya asuransi kesehatan nasional baik yang bersifat mandiri maupun karena fasilitas dari pekerjaan. Smith. Brick. OAoHara, dan Normand . menelaah biaya perawatan paliatif pada berbagai tatanan, seperti di rumah sakit, di rumah atau di Hospice. Hasil telaah mereka menyebutkan bahwa biaya perawatan paliatif relatif tidak mahal di berbagai tatanan tersebut dibandingkan dengan bentuk perawatan informal Perawatan medis dengan bentuk informal mungkin belum terlalu banyak dikenal di Indonesia sehingga biayanya sering dibandingkan secara head to head dengan perawatan medis yang formal. Masyarakat yang berpendidikan tinggi seharusnya memiliki banyak pengetahuan tentang kesehatan dan memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga kesehatannya. Namun, saat ini tingkat pendidikan yang tinggi tidak menjamin masyarakat dapat sadar menjaga kesehatannya. Tidak sedikit dari mereka juga memiliki gaya hidup yang kurang baik. Gaya hidup yang dimaksud seperti kebiasaan mengonsumsi makanan yang berisiko seperti makanan cepat saji atau makanan instan dengan tingkat glukosa tinggi, minuman berkafein, minuman bersoda, makanan berlemak, jeroan dan lain-lain. Kebiasaan mengkonsumsi alkohol dan merokok merupakan salah satu gaya hidup kurang sehat yang dapat menyebabkan terjadinya DM (Kurnia. Tingkat Kepuasan Responden. Hasil penelitian tentang gambaran tingkat kepuasan pasien secara umum menunjukkan sebanyak 60,5% responden merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan. Jika dilihat tingkat kepuasan berdasarkan tiap dimensi, maka didapatkan bahwa pasien merasa puas pada semua dimensi pelayanan yang diberikan yakni dimensi tangibleness . ampilan fisi. , dimensi reliability . , dimensi responsiveness . aya tangga. , dimensi empathy . , dan dimensi assurance . Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Wijayanti. Kristanti, dan Setiyarini . yang menemukan bahwa pasien dan keluarga memiliki tingkat kepuasan yang tinggi terhadap pelayan perawatan paliatif di RSUD Dr. Sardjito Yogyakarta. Nilai kepuasan yang tertinggi terletak pada aspek perawatan psikososial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 41% pasien memiliki pekerjaan sebagai pegawai Hasil penelitian menunjukkan 62,8% berpenghasilan lebih dari Rp2. 000,- atau di atas upah minimum regional DKI Jakarta. Bahkan sebanyak 37,2% berpendapatan antara Rp5. 000 hingga Rp7. Biaya perawatan paliatif untuk luka diabetes cukup mahal dan membutuhkan dana yang besar untuk me- Dimensi tangibleness . ampilan fisi. mendapatkan nilai terendah dibandingkan dengan dimensi yang lainnya. Dimensi ini meliputi tampilan lingkungan dalam perawatan paliatif. Lingkungan juga memengaruhi kenyamanan dan kepuasan pasien. Dimensi tampilan fisik bersama dengan tingkat respon, dan empati berpengaruh paling besar pada kualitas layanan secara keseluruhan. Ditemukan ada Sari, et al. Kepuasan Pasien Diabetes Melitus Terhadap Perawatan Paliatif hubungan yang positif dan signifikan antara kualitas layanan secara keseluruhan, kepuasan pasien dan niat perilaku mereka (Ramez. Masyarakat atau pasien menilai sebuah pelayanan bermutu jika suatu pelayanan kesehatan dapat memenuhi kebutuhan yang diharapkan pada lima dimensi pelayanan yang telah disebutkan di atas. Beberapa contoh harapan yang diinginkan pasien adalah seperti memberikan pelayanan secara sopan dan santun, tepat waktu, tanggap, mampu menyembuhkan keluhannya, serta mampu mencegah berkembangnya atau meluasnya penyakit. Menurut Kotler . , kepuasan konsumen diukur berdasarkan tingkat harapan konsumen tentang produk dan pelayanan dengan pelayanan aktual yang Pasien akan merasa puas jika pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dan harapan pasien. Kesimpulan Penelitian ini mengidentifkasi tingkat kepuasan masyarakat yang mendapatkan perawatan Jenis penyakit kronis yang membutuhkan perawatan paliatif cukup beragam, termasuk diabetes melitus. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh gambaran tingkat kepuasan masyarakat terhadap perawatan paliatif yang Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum semua pasien merasa puas dengan pelayanan yang diberikan. Semua pasien merasa puas terhadap semua dimensi pelayanan yakni dimensi tangibleness . ampilan fisi. , dimensi reliability . , dimensi responsiveness . aya tangga. , dimensi empathy . dan dimensi assurance . Dimensi tangibleness . ampilan fisi. mendapatkan skor terendah karena lingkungan fisik yang diberikan masih terbatas dan sempit. Kepuasan pasien diukur berdasarkan tingkat harapan pasien terhadap pelayanan yang diberikan dan perubahan kesehatan yang didapat- Pasien akan merasa puas jika pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dan harapan pasien. Oleh karena itu, perawat perlu memperhatikan faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan pasien, antara lain faktor lingkungan fisik (TN. INR. AM). Referensi