Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik (JIFFK) Vol. No. Desember 2024. Hal. ISSN: 1693-7899 e-ISSN: 2716-3814 ANALISIS PERSEPSI PENYAKIT TERHADAP KEPUASAN TERAPI PASIEN DIABETES MELITUS DI RSU UNDATA PALU Arya Dibyo Adisaputra*. Amelia Rumi. Fakhrul Hardani. Setiawati Fadhilah. Nur Khalishah Amir Prodi Farmasi Jurusan Farmasi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Tadulako. Palu. Sulawesi Tengah. Indonesia *Email: adibyoadisaputraa@gmail. Received: 16-09-2023 Accepted: 14-12-2024 Published:31-12-2024 INTISARI Persepsi penyakit yang positif ataupun negatif pada pasien diabates melitus tipe 2 dapat mempengaruhi kemampuan pasien untuk melakukan pengelolaan terhadap penyakitnya dan menganggap penyakit tersebut sebagai sesuatu yang dapat dikelola ataupun sesuatu yang bersifat Kepuasan terapi mempengaruhi keputusan yang berhubungan dengan kesehatan pasien dan terkait dengan perilaku pengobatan yang berdampak pada hasil pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi penyakit dengan kepuasan terapi pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSU Undata Palu. Penelitian ini merupakan penelitan non eksperimental dengan pendekatan metode cross sectional dengan pengumpulan data variabel bebas dan terikat pada satu waktu atau secara bersamaan. Instrumen yang digunakan dalam penlitian ini adalah kuiseoner Brief Illness Perception Quistionnaire (B-IPQ) dan Diabetes Medication Satisfaction Tool (DMSAT). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki persepsi penyakit negatif 51,25% dan sangat puas 62,5%. Hasil uji korelasi chi-square diperoleh nilai p-value sebesar 0,193 . >0,. hal ini menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi penyakit dengan kepuasan terapi pasien diabates melitus di RSU Undata Palu. Kata kunci: Diabetes melitus tipe 2, kepuasan terapi, persepsi penyakit ABSTRACT Positive or negative perceptions of disease in patients with type 2 diabetes mellitus can affect the patient's ability to manage their disease and perceive the disease as something that can be managed or something that is threatening. Treatment satisfaction influences decisions related to the patient's health and is related to treatment behavior that has an impact on treatment outcomes. This study aims to determine the relationship between perception of disease and satisfaction therapy in patients with type 2 diabetes mellitus at RSU Undata Palu. This research is a non-experimental research with a cross-sectional method approach by collecting data on independent and dependent variables at one time or simultaneously. The instruments used in this study were the Brief Illness Perception Questionnaire (B-IPQ) and the Diabetes Medication Satisfaction Tool (DMSAT). The results showed that most of the respondents had a negative perception of disease 51. 25% and 62. 5% were very The results of the chi-square correlation test obtained a p-value of 0. > 0. This shows that there is no significant relationship between perception of disease and satisfaction with therapy for patients with diabetes mellitus at Undata General Hospital. Palu. Keywords: Type 2 diabetes mellitus, therapy satisfaction, disease perception Journal homepage:http:/w. id/Farmasi ISSN: 1693-7899 *Corresponding author: Nama : Arya Dibyo Adisaputra Institusi : Universitas Tadulako Alamat institusi : Jl. Soekarno-Hatta Km 09 E-mail : adibyoadisaputraa@gmail. PENDAHULUAN Diabetes Melitus adalah Penyakit kronis yang kompleks ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah karena kelainan sekresi dan kinerja insulin yang membutuhkan perawatan medis Diabetes dapat dikasifikasikan ke dalam kategori umum yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Diabetes tipe 1 terjadi karena penghancuran sel- sel autoimun, biasanya mengarah ke defisiensi insulin. Diabetes tipe 2 merupakan hilangnya sekresi insulin sel yang memadai secara progresif (American Diabetes Association, 2. Prevalensi diabetes pada orang berusia 20-79 tahun telah meningkat menjadi 537 juta jiwa pada tahun 2021 tanpa tindakan yang cukup untuk mengatasi penyakit diprediksi peningkatan sebanyak 643 juta jiwa dari populasi akan menderita diabetes pada tahun 2030 (Internasional Diabetes Federation, 2. Pada tahun 2045 mendatang Indonesia diperkirakan berada pada posisi tertinggi kelima dengan jumlah estimasi penderita sebesar 28,6 juta jiwa (Internasional Diabetes Federation, 2. Jumlah penderita diabetes melitus di provinsi Sulawesi Tengah sebesar 210. jiwa sedangkan di kota Palu jumlah penderita diabetes sebanyak 27. 005 jiwa pada tahun 2019 (Profil Kesehatan Sulawesi Tengah, 2. Diabetes melitus disebabkan oleh gangguan sekresi insulin, glukagon, dan hormon lainnya serta menyebabkan metabolisme karbohidrat dan lemak yang tidak normal. Ini sering digabungkan dengan resistensi insulin, terutama pada mereka yang menderita DM tipe 2. Setelah mengkonsumsi makanan, komsumsi karbohidrat meningkatkan konsetrasi glukosa plasma dan merangsang pelepasan hormon inkretin dari usus dan pelepasan insulin dari sel pankreas. Hiperinsulinemia yang dihasilkan dapat menekan produksi glukosa hepatik, menekan pelepasan glukagon, dan memicu penyerapan glukosa oleh jaringan perifer (Dipiro, 2. Terapi farmakologis diberikan bersamaan dengan pengaturan makan dan latihan jasmani . aya hidup seha. Obat antidiabetik oral dibagi berdasarkan cara kerjanya obat anti-hiperglikemia dibagi menjadi enam golongan yaitu pemacu sekresi insulin . ulfonilurea, glini. , peningkatan glukosidase . , penghambat enzim dipeptidil peptidase-4 . ildagliptin, linagliptin, sitagliptin, saxagliptin, dan aloglipti. , dan penghambat enzim sodium glukosa co-transporter 2 (Perkeni, 2. Sedangkan menurut (Dipiro, 2. , terapi farmakologis diabetes melitus yaitu obat antidiabetik oral dari golongan biguanid adalah metformin, dimana metformin merupakan salah satu golongan biguanid yang direkomendasikan sebagai farmakoterapi lini pertama pada terapi farmakologi diabetes melitus tipe 2. Persepsi penyakit merupakan keyakinan tentang keluhan yang berhubungan dengan penyakit, keyakinan tentang konsekuensi, dan sejauh mana penyakit dapat dikendalikan baik dengan perawatan diri atau perawatan medis. Beberapa persepsi penyakit, yaitu keyakinan tentang kontrol yang terbentuk dari kognisi dan emosi (Chew et al. , 2. Jika Pandangan seseorang terhadap sesuatu itu positif atau baik, maka mudah untuk menerima atau beradaptasi dengan obyek tersebut, sebaliknya jika pandangannya negatif atau buruk, maka sulit untuk menerima atau beradaptasi dengan obyek tersebut (Amisim dkk. Kepuasan Terapi adalah salah satu hasil humanistik yang dinilai berdasarkan laporan pasien Kepuasan terhadap pengobatan memegang peranan penting dalam penatalaksanaan diabetes untuk menjaga kadar glukosa darah tetap terkendali dan kepuasan terhadap pengobatan tidak dapat dipisahkan dari kepuasan pengobatan secara keseluruhan (Rasdiana dkk. The Brief Illness Perception Questionnaire (BIPQ) adalah alat yang digunakan untuk mempelajari persepsi penyakit tentang penyakit, yang menggambarkan bagaimana pasien menanggapi ancaman yang dirasakan terhadap kesehatan mereka. Instrumen BIPQ telah digunakan di London. Inggris untuk menggambarkan ancaman nyeri dan lima penyakit berbeda termasuk asma, diabetes tipe 2, miokardium, ginjal dan diagnosis dini stress, serta lulus uji validasi instrumen yang Analisis Persepsi PenyakitA(Adisaputra dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 digunakan (Bangga, 2. Kepuasan pengobatan pasien merupakan harapan pasien terhadap hasil Persepsi penyakit pasien terhadap kepuasan terapi sangat membantu dalam keberhasilan pengobatan serta mempengaruhi seseorang untuk mengambil tindakan dalam pengobatannya. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam meningkatkan kepuasan terapi pasien diabetes dengan cara mengetahui persepsi pasien terhadap penyakit khususnya pada pasien penderita diabetes melitus tipe 2 yang terdapat di RSU Undata Palu. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode non eksperimental . dengan pendekatan metode cross sectional yaitu pengumpulan data variabel bebas dan terikat pada satu waktu atau secara bersamaan. Penelitian ini menggunakan teknik random sampling dengan jumlah responden yang digunakan sebanyak 80 responden pasien diabetes mellitus tipe 2 yang melakukan terapi pengobatan di RSU Undata Palu periode tahun 2021-2022 yang sesuai dengan kriteria inklusi dan Adapun kriteria inklusi dan eksklusi pada penelitian ini yaitu : Kriteria Inklusi Pasien diabetes melitus tipe 2 yang melakukan pengobatan minimal 3 bulan di RSUD Undata Palu pada periode 2021-2022 Pasien diabetes melitus tipe 2 yang berusia > 18 tahun Pasien diabetes melitus tipe 2 yang bersedia diwawancarai dan bersedia mengisi informed Pasien yang memiliki rekam medik dan data klinis yang jelas Kriteria Inklusi Pasien diabetes melitus tipe 2 yang tidak bersedia diwawancarai dan tidak bersedia mengisi informed consent Pasien yang memiliki rekam medik tidak lengkap Pasien yang tidak memiliki data klinis yang jelas Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik penelitian yang disetujui oleh Komisi Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Universitas Tadulako dengan nomor etik 2727/UN 28/KM/2022. Pengambilan data menggunakan instrumen berupa kuesioner persepsi penyakit BIPQ (Brief illness Perception Questionnair. dan kuesioner kepuasan terapi DMSAT (Diabetes Medication Satisfaction Too. Data yang telah dikumpulkan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Demografi Pasien Hasil tabel I menunjukkan bahwa untuk kategori jenis kelamin yang terbanyak diperoleh perempuan yaitu sebanyak 57,5%. Hal ini sejalan dengan penelitian Listyana dkk. , dimana jenis kelamin merupakan salah satu faktor biologis yang dapat mempengaruhi homeostatis tubuh dan menyebabkan kerentanan terhadap faktor risiko kardiometaboli, salah satunya adalah diabetes melitus tipe 2. Umumnya, perempuan berpotensi lebih besar dalam peningkatan indeks mata tubuh dibandingkan laki- laki. Keadaan menstruasi ataupun pre-menstrual syndrome dan pasca menopause mengakibatkan lemak lebih mudah terakumulasi di dalam tubuh (Sinuraya dkk. Berdasarkan karakteristik demografi pasien, kategori usia menunjukkan bahwa usia 40-60 tahun terbanyak mengalami diabetes mellitus tipe 2 dengan persentase sebesar 65%. Hal ini dapat dikarenakan dengan seiringnya bertambahnya usia seseorang dapat meningkatkan risiko intoleransi Pada usia ini terjadi proses penuaan yang menyebabkan berkurangnya kemampuan sel pankreas dalam memproduksi insulin dan pengaturan pola hidup mulai berkurang (Listyana dkk. Jumlah responden pada kategori pasien tidak bekerja pada penelitian ini yaitu sebesar 53,75%. Menurut Arania dkk. , jenis pekerjaan bisa mempengaruhi risiko terjadinya diabetes mellitus. JIFFK Vol. No. Desember 2024. Hal. ISSN: 1693-7899 pekerjaan dengan aktivitas fisik yang kurang dapat menyebabkan kurangnya pembakaran energi sehingga dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan berisiko besar terkena diabetes melitus. Tingkat pendidikan terakhir sebagian besar responden didominasi oleh pasien tidak sarjana yaitu 74%. Penelitian yang dilakukan oleh Istianah dkk. , menunjukkan rata-rata responden lulusan SMA 40,3%. Seseorang yang berpendidikan tinggi memiliki lebanyak informasi tentang kesehatan, yang mempengaruhi kesadaran kesehatan menjaga kesehatan. sedangkan tingkat pendidikan seseorang dapat mempengaruhi kepribadian serta pola makan seseorang, kurangnya pengetahuan terhadap suatu penyakit akan mengakibatkan lambatnya kesadaran seseorang terhadap penyakit yang dialami. Kategori indeks massa tubuh (IMT) didapatkan kategori IMT obesitas tingkat 1 merupakan kategori tertinggi yaitu sebanyak 22,75%. Obesitas berhubungan dengan diabetes melitus dimana fungsi hormon leptin ini mempengaruhi kerja hipotalamus yang mengatur kadar lemak dalam tubuh sehingga menimbulkan rasa kenyang. Obesitas dapat meningkatkan kadar leptin dalam tubuh namun fungsinya terhambat (Kosupa dan Utama, 2. Tabel I. Karakteristik Demografi Pasien Karakteristik Jenis Kelamin Laki- Laki Perempuan Total Usia 18-39 Tahun 40-60 Tahun > 60 Tahun Total Tingkat Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Sarjana Sarjana/ Diploma Total Pekerjaan Tidak Bekerja Bekerja Total IMT IMT Berat badan kurang IMT normal IMT berisiko obesitas IMT Obesitas tingkat 1 IMT Obestias tingkat 2 Total Jumlah Responden . Persentase Berdasarkan tabel II menunjukkan penyakit diabetes melitus tipe 2 menjadi penyakit yang paling banyak diderita oleh pasien dengan persentase 61,25% dari total 80 responden diagnosa utama. Persentase DM pada penelitian ini merupakan yang paling tinggi karena penelitian ini berfokus pada terhadap persepsi penyakit terhadap kepuasan terapi pasien DM tipe 2. Hal ini berdasarkan hasil riset (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, 2. menyatakan bahwa penderita DM di kota palu merupakan prevalensi tertinggi kedua dengan jumlah 26. 204 jiwa. Analisis Persepsi PenyakitA(Adisaputra dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 Tabel II. Karakteristik Data Klinis Pasien Diagnosa Utama DM Tipe 2 DM Tipe 2 HHD CHF DM Tipe 2 Hipertensi DM Tipe 2 AHD DM Tipe 2 HHD DM Tipe 2 CAD DM Tipe 2 DM Hiperglikemia DM Tipe 2 Angina Pektoris DM Tipe 2 HHD CAD DM Tipe 2 CKD DM Tipe 2 Neuropati DM Hiperurisemia DM Tipe 2 CKD CHF ec HHD DM Tipe 2 HHD CKD DM Tipe 2 APS DM Tipe 2 APS HHD DM Tipe 2 COPD DM Tipe 2 Neuropati DM Tipe 2 Hipertensi DM Tipe 2 Dispepsia Total Jumlah Responden . Persentase (%) 61,25% 6,25% 5,00% 5,00% 2,50% 2,50% 2,50% 1,25% 1,25% 1,25% 1,25% 1,25% 1,25% 1,25% 1,25% 1,25% 1,25% 1,25% 1,25% Profil Pengobatan Berdasarkan hasil penelitian pada tabel i menunjukkan bahwa terapi antidiabetik golongan biguanid adalah metformin sebesar 70,59%, dapat dilihat dari hasil penelitian (TampaAoi dkk. bahwa penggunaan obat antidiabetik paling banyak dari golongan biguanid yaitu metformin sebesar 72,50%. Pemilihan obat tergantung tingkat keparahan dari penyakit yang diderita pasien. Obat antidiabetik yang paling banyak digunakan sebagai pertimbangan pemilihan obat monoterapi adalah metformin (TampaAoi dkk. , 2. Hal ini juga sejalan dengan Perkeni . , bahwa metformin dianjurkan sebagai pilihan pertama pada sebagian besar pasien DM tipe 2. Pemilihan obat ini dengan pertimbangan yaitu memiliki efektivitasnya relatif baik, efek samping hipoglikemia rendah, netral terhadap peningkatan berat badan dan harganya relatif murah. Lalu diikuti dengan obat dari golongan kombinasi insulin novorapid dan levemir sebesar 37,09%. Terapi insulin diberikan kepada pasien yang tidak mencapai target gula darahnya saat diobati dengan obat oral baik sebagai monoterapi atau Persepsi dan Kepuasan Berdasarkan persepsi penyakit pasien diabetes melitus tipe 2 di RSU Undata menunjukkan sebagian besar 51,25% pasien memiliki persepsi penyakit negatif terhadap obat yang telah diberikan (Tabel IV). Hal ini sesuai dengan penelitian Firmansyah dan Purwanti . , yang menyatakan bahwa persepsi penyakit diabetes melitus tipe 2 diperoleh data pasien diabetes yang memiliki persepsi negatif dengan jumlah paling besar 51,1%. Pasien diabetes cenderung memiliki health belief yang buruk terhadap diabetes, tingginya persepsi negatif pada pasien diabetes berkaitan dengan penilaian penyakit diabetes mereka merupakan hal yang mengganggu secara psikologis yang disebabkan oleh pengalaman yang dirasakan serta gender mayoritas perempuan pada pasien diabetes, sehingga berpengaruh pada keterkaitan pasien diabetes dalam memanajemen pengobatan diabetes. JIFFK Vol. No. Desember 2024. Hal. ISSN: 1693-7899 Tabel i. Profil Pengobatan pada Peresepan Pasien Diabetes Melitus rawat jalan di RSU Undata Palu Golongan Obat N Total . Jenis Obat Tunggal Biguanid Sulfonilurea Metformin Glimepirid Gliquidon Jumlah Kombinasi ADO Kombinasi ADO Insulin Insulin Metformin Glimepirid Metformin Glibenklamid Metformin Novorapid Glimepirid Novorapid Ryzodec Glimepirid Novorapid Levemir Novorapid Levemir Jumlah Total Keseluruhan 70,59% 23,53% 5,88% 24,19% 3,23% 1,61% 3,23% 1,61% 25,81% 3,23% 38,09% Tabel IV. Gambaran Persepsi Penyakit dan Kepuasan Terapi Pasien Diabetes Melitus Persepsi Penyakit Positif Negatif Total Frekuensi Persentase % N=80 48,75% 51,25% Tabel V. Deskripsi Persepsi Faktor Penyebab Diabetes Melitus Faktor Pola makan Kurang olahraga Stres Kelelahan Gaya Hidup Obesitas Total Frekuensi Persentase 44,74% 22,37% 14,47% 12,50% 4,61% 1,32% Faktor penyebab diabetes melitus merupakan hasil dari jawaban responden pasien diabetes melitus pada pertanyaan nomor 9 persepsi penyakit. Persepsi pasien mengenai faktor utama penyebab diabetes melitus yang diyakini oleh pasien adalah pola makan 44,74%, kurang olahraga 22,37% dan stres sebanyak 14,47% (Tabel V). Pola makan tidak sehat menyebabkan ketidakseimbangan antara karbohidrat dan kandungan lain yang dibutuhkan oleh tubuh. Akibatnya kandungan gula dalam tubuh menjadi tinggi melebihi kapasitas kerja pankreas dan berakibat terjadinya diabetes melitus. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Valentine dkk. dimana pola makan 80,95% merupakan faktor terbanyak penyebab diabetes melitus. Selain itu. Beberapa macam faktor gaya hidup yang sangat penting untuk perkembangan diabetes mellitus tipe 2, misalnya kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan sering mengkonsumsi alkohol (Widiasari dkk. Analisis Persepsi PenyakitA(Adisaputra dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 Tabel VI. Kepuasan Terapi Kepuasan Terapi Puas Tidak Puas Total Frekuensi Persentase % N=80 62,5% 37,5% Berdasarkan tabel VI menunjukkan bahwa pasien diabetes melitus tipe 2 di RSU Undata sebanyak 62,5% pasien merasa puas dengan terapi yang mereka terima. Secara keseluruhan pasien yang menjalani pengobatan diabetes melitus tipe 2 di RSU Undata Palu merasa puas dengan terapi yang mereka terima. Kepuasan terapi pasien dalam kategori baik dikarenakan pasien tersebut merasa perlu dengan terapi yang mereka terima sehingga mereka akan tetap rutin melakukan pengobatan tiap bulan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Rasdiana dkk. , sebanyak 39,8% pasien diabetes melitus memiliki tingkat kepuasan terapi pada kategori cukup puas dan sebanyak 60,2% pasien dengan kategori puas. Kepuasan terapi yang dirasakan pasien dapat disebabkan karena pasien mengangap terapi diabetes merupakan suatu kebutuhan sehingga rutin kontrol kesehatan tiap bulan. Tabel VII. Hubungan Persepsi penyakit dan Kepuasan Terapi Pasien Diabetes Melitus Persepsi Penyakit Positif Negatif Total Kepuasan Terapi Tidak Puas Puas 56,41% 43,59% 68,29% 31,71% 62,5% 37,5% Total P Value 0,193 Berdasarkan tabel VII hasil yang didapatkan p = 0,193 < . yang artinya H0 diterima yaitu tidak ada hubungan yang signifikan antara persepsi penyakit dengan kepuasan terapi pasien diabetes melitus tipe 2 pada responden di RSU Undata Palu. Hasil wawancara yang dilakukan dengan pasien diabetes melitus di poli penyakit dalam 2 dan pusat diabetes melitus di RSU Undata Palu pasien mengatakan bahwa persepsi penyakit tidak mempengaruhi tingkat kepuasan terapi yang mereka terima selama menjalani masa pengobatan diabetes melitus di RSU Undata Palu. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagian besar pasien rawat jalan diabetes melitus tipe 2 di RSU Undata dari 80 responden memiliki persepsi penyakit yang negatif sebanyak 51,25% dan kepuasan terapi yang diterima yaitu sebanyak 62,5%. Implikasi dari penelitian ini diharapkan terdapat peningkatan pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan sehingga meningkatkan persepsi positif dan kepuasan terapi pasien terhadap pengobatan diabetes melitus tipe 2 yang sedang dijalani. DAFTAR PUSTAKA