KONSEP KONSIENTISASI PAULO FREIRE DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM Agung Ilham Prastowo Mahasiswa Program Doktor PAI UIN Sunan Kalijaga Email: agungelham684@gmail. Abstrak Penelitian ini akan membahas tentang konsep pendidikan Paulo Freire yang sering disebut dengan konsientisasi. Penelitian ini mencakup konsep kosientisasi Paulo Freire, ide-ide Paulo Freire dalam pendidikan dan relevansinya terhadap pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka . ibrary research. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep pendidikan Paulo Freire sangat berkaitan erat dengan pendidikan Islam, pertama kesesuaian tujuan dalam pendidikan yaitu membangun kesadaran dalam mengembangkan potensi diri manusia. Kedua, kesesuaian dalam konsep pendidik yaitu sebagai pembimbing, pengajar, fasilitator yang menciptakan proses belajar yang interaktif. Ketiga, kesuaian dalam konsep siswa yaitu siswa mempunyai kebebasan dalam mengembangkan dirinya. Kata Kunci: Paulo Freire. Konsientisasi. Pendidikan Islam Pendahuluan Paulo Freire merupakan seorang tokoh yang mempunyai andil besar dalam dunia pendidikan. Ia tinggal di bagian timur Brazil yangmana keadaan ekonominya masih jauh tertinggal, ia dilahirkan di Recife 19 September 1921 di Recife. Pada saat itu razil masih sangat jauh dari kesejahteraan, akan tetapi Freire hidup sederhana meskipun keluarganya termasuk ekonomi menengah. dalam keluarga, ia dididik dengan penuh saling menghormati antar anggota keluarga, sehingga ada keterbukaan antara orang tua dan Freire. (Denis Collins, 2005: . Ia banyak terlibat dalam pembinaan dan pengentasan kaum miskin di Brazil pada tahun 19461956, ia mendatangi berbagai perkampungan atau pelosok Brazil. Pengalaman ini sangat mendukung projeknya, yaitu penelitian-penelitian dan menjadikannya sebagai dasar pendidikan yang ia tawarkan. Sampai akhirnya ia mampu mengembangkan Konsep Konsientisasi Paulo. (Agung Ilham Prastow. 1 kosepnya secara massif di Brazil dan pada tahun 1959 mendapatkan gelar Doktor. (Listiyono Santoso, 2017: Adapun yang melatar belakangi Paulo Freire membuat konsep Conscientization atau kesadaran adalah keterbelakangan masyarakat Brazil yang lahir atas pengaruh feodalisme yang semakin mapan dan kehidupan rakyat berpusat kepada Manusia dihancurkan oleh kekuasaan tuan tanah, gubernur, dan para penguasa. Berpijak dari fenomena keterbelakangan masyarakat Brazil. Freire terus menerus melakukan analisis kritis dan pergulatan intensif dengan realitas kondisi masyarakat Brazil. Hal terpenting yang didapatkan dari analisa tersebut adalah bahwasannya masyarakat Brazil tidak memiliki pengalaman demokrasi dan prasyaratprasyarat partisipasi dalam proses-proses Partisipasi menurut Freire adalah kemampuan untuk berpikir kritis bagi rakyat, dan sama sekali bukan kepada adaptasi. (Paulo Freire, 1984: Vi. Brazil kolonialisme Portugal yang sejak kepentingan komersial. Sehingga situasi ini juga memunculkan perbudakan, secara ekonomi para budak ini dieksploitasi oleh para tuan tanah dan para pemilik modal yang memiliki posisi dominan dalam 2 SUHUF. Vol. No. Mei 2020: 1-13 pemerintahan Portugal. Hubungan yang terjadi di masyarakat adalah hubungan antara tuan tanah dan para budak yakni masyarakat tertindas bukanlah hubungan yang dialog. Hal ini terlihat dari sikap para tuan tanah di perkebunan di mana para budak terkungkung dalam kebisuan yang sangat dahsyat. Sikap inilah yang mencirikan masyarakat Brazil yang Ketertutupan dan kebisuan inilah yang mengakar pada masyarakat Brazil, sehingga mereka tidak sadar atas keadaan ketertindasannya. Tidak cukup dalam keadaan itu saja mereka juga kehilangan ruang partisipasinya dalam memungkinkan pertumbuhan kesadaran kritis mereka. Freire berhasil mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat Brazil melalui system pendidikan yang ditawarkannya. pendidikan yang monolog dan tidak mengembangkan potensi siswa. Maka system pendidikan Islam perlu mengadopsi system pendidikan Paulo Freire yang dialogis dan inetraktif. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian library research atau studi pustaka yaitu dengan cara mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam material yang terdapat di ruang perpustakaan seperti. buku, majalah, dokumen, foto dan lain-lain. Sumbersumber data dari penulisan ini antara lain Paulo Freire: His Life. Works and Though. Conscientizacao Tujuan pendidika Paulo dan Pendidikan Kaum Tertindas dan sumber-sumber lain yang berkaitan dengan konsep pendidikan Paulo Freire. Konsep Konsientisasi Paulo Freire Konsep pendidikan konsientisasi adalah mengeluarkan manusia dari penjajahan harga diri dan kreatifitas pendidkan yang membebaskan. Pembebasan diri ini diperoleh melalui adanya kesadaran atau konsientisasi. Konsep ini menempatka manusia sebagai subyek dalam kehidupan, artinya mampu mengekspreikan keinginan dan kreatifitasnya, bukan sebagai obyek atau selalu menerima perlakuan dari orang lain. Sehingga manusia mampu hidup sesuai dengan kodratnya yaitu manusia yang (Paulo Freire, 1999: . Pendidikan menurut Paulo bertujuan untuk humanisasi baik pribadi maupun sesama yaitu melalui sebuah aksi yang jelas, sistematis, kreatif dan mampu merealisasikan kehidupan yang sejahtera. Menurutnya pendidikan harus berorientasi kepada pengenalan dan pemahaman jati diri seseorang dan umat manusia. Paulo Freire mengatakan: AuBahwa obyektifitas merupakan dasar untuk mendapatkan pengetahuan tentang dunia yang empiris dan realistit. Pengetahuan ini bukan hanya sekedar sesuatu yang berdasarkan keadaan yang kongkrit yang bis dilihat, tetapi juga termasuk bagaimana manusia memandang dirinya dan realitas kehidupanAy. (Paulo Freire, 1999:. Pendidikan berperan penting dalam eksistensi manusia. Sehingga berorientasi untuk mengembalikan Berdasarkan kemanusian inilah. Paulo mengamati bahwa inti dari pendidikan yaitu penyadaran . membagi kesadaran menjadi 3 yaitu: Kesadaran Magis (Magical Consciousnes. Kesadaran ini masuk dalam tahap dimana manusia tidak faktor-faktor yang menyebabkan Contoh tidak sadar akan hubungan kebijakan ekonomi dan politik terhadap kemiskinan. Tahap ini lebih melihat faktor luar manusia sebagai penyebab Dalam hal ini manusia terperangkap oleh inferioritas alam atau rasa rendah diri. Minat manusia semata-mata tertuju pada sekitar kelangsungan hidup dan tidak mempunyai wawasan tentang aspek sejarah. Sifatnya adalah fatalisme yang mendorong sikap menyerah daripada melawan. Konsep Konsientisasi Paulo. (Agung Ilham Prastow. 3 Kesadaran Naif (Naival Consciousnes. Yaitu lebih melihat pada aspekaspek manusia sebagai asal muasal problem yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Kesadaran akan berkembang manakala manusia mulai mampu meningkatkan kemampuannya menanggapi persoalan-persoalan yang berasal dari lingkungannya. Pada tahap ini kemampuan dialog juga berkembang. Kesadaran Kritis (Critical Consciousnes. Menurut Paulo kesadaran inilah yang paling penting dalam dunia pendidikan. Kesadaran ini lebih menekankan pada aspek system dan struktur sebagai sumber masalah. Pendekatan struktural menekankan analisis bahwa struktur dan sistem budaya, ekonomi, politik dan budaya berakibat pada tatanan kehidupan masyarakat. Proses konsientisasi berkaitan erat dengan keadan kultural manusia. Proses konsientisasi berlangsung dengan membuka selubung realitas yang mengungkung dan mengasingkan manusia dari dunianya. Konsientisasi mencerminkan perkembangan bangkitnya kesadaran. (Mansour Fakih, 2001: 23-. 4 SUHUF. Vol. No. Mei 2020: 1-13 Paulo cenderung membangkitkan . aival consciousnes. dalam diri masyarakat peserta didik. Kesadaran naif memandang bahwa manusia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas permasalahan yang terjadi atau mereka selalu merasa pesismis. Pada tingkat kesadaran ini, masyarakat tidak memandang adanya factor luar yang menyebabkan permasalahan tetapi asal permasalahan adalah dirinya Karena ketidakmampuan beranggapan bahwa kebijakan yang diambil oleh penguasa merupakan kebijakan yang paling baik, sehingga tidak perlu mengkritisi. Pendidikan di sini seakan-akan membuat dan mengarahkan agar peserta didik untuk menerima begitu saja pengetahuan dan sistem yang benar. (Firdaus M. Yunus, 2007: . Konsep Konsientisasi Pendidikan Berdasarkan Paulo menentang sistem pendidikan yang pasif dan tidak berkembang. Dalam dunia pendidikan sangat kental dengan nuansa penindasan, sehingga Paulo merasakan ketidakefektifan dalam menjalankan pendidikan. Sistem pendidikan inilah yang disebut dengan pendidikan gaya bank, yaitu guru seakan-akan menjadi seorang yang memiliki uang yang banyak dan meniyimpannya di bank sedangkan siswa dijadikan sebagai bank, yaitu menampung seluruh informasi. Paulo system pendidikan pembebasan dengan system pendidikan otoriter yang dia istilahkan sebagai Aubanking educationAy. Berdasarkan konsep pembebasan, pendidikan banking memisahkan pelajar dari konten dan proesen belajar mengajar. System ini menjadikan ilmu pengetahuan seakan-akan barang yang bisa dipindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. (Firdaus M. Yunus, 2007: Pendidikan banking berarti ilmu pengetahuan ditransfer dari pengajar ke pelajar. Hal ini memberikan stigma bahwa pengajar mengetahui semua hal, siswa tidak mengetahui Guru menyampaikan dan menentukan materi yang harus diterima pelajar untuk selanjutnya dihafal dan diulang-ulang secara Sistem pendidikan seperti menjadi instrument penindasan yang melarang dan menghalang-halangi penyelidikan, kreatifitas dan dialog. Pendidikan gaya bank tradisional sangat kontras dengan dialog yang tidak pernah mempertentangkan manusia dengan alam, subyek dengan obyek atau guru dengan murid. (Denis Collin, 2002: . Paulo membuatnya jelas bahwa pendidikan banking telah mendikotomikan kesadaran dan dunia, maka dari itu system pendidikan ini telah mendomestifikasi Sementara guru bertindak sebagai subyek, konsep kesadaran statis dan naturalistis. (Paulo Freire, 1968: . Siswa yang mudah untuk dibentuk karakter dan pola pikirnya adalah siswa yang baik, sementara yang menolak untuk dibentuk maka dia adalah siswa yang bermasalah. Oleh karenanya, banking education menindas masyarakat karena alasan berikut: (Santoso. Listiyono, 2003: Memitologikan realitas sesuatu yang mana oleh individu dianggap sebagai penonton yang harus beradaptasi Menolak dialog Menjadikan siswa sebagai obyek yang dibantu Membatasi kreatifitas Gagal keberadaan umat manusia yang Sebaliknya Paulo menawarkan konsep kekebasan atau yang dia istilahkan sebagai Auproblem pasing educationAy yang berlandaskan pada keterkaitan demokrasi guru dan murid. Ia mengusulkan suatu AupartnershipAy antara guru dan murid terdapat saling interaksi yang menguntungkan. Sedangkan demokratisasi isi dan penelitian, kreativitas dan kekritisan (Paulo Freire, 1968: . Maka dari itu pendidikan pembebasan Konsep Konsientisasi Paulo. (Agung Ilham Prastow. 5 harus mencakup beberapa aspek. Memposisikan diri sebagai agen demitologisasi dalam menghadapi masalah Menganggap dialog sebagai hal yang tidak bisa ditawar-tawar dalam rangka tindakan kognisi yang menyingkap realitas Mendorong peserta didik untuk berfikir kritis dan sistematis Berdasarkan kreatifitas dan merangsang refleksi dan aksi yang bernar terhadap realitas Mengakui sejarah umat manusia sebagai starting pointnya Dalam dunia pendidikan dialog antara guru dan murid sangatlah penting sebagai alat perlawanan yang membebaskan dan menepis dominasi. Pendidikan harus menghasilkan produk yang kritis dan progresif, dialog harus dimulai dengan berani antara pendidik dan peserta didik dalam rangka menghadapi kenyataan. Pendidik harus mengakui kekurangankekurangannya maupun kesulitannya sehingga akan terjadi kemudian adalah pembebasan bersama bagi sang pendidik dan peserta didik itu sendiri dalam proses pencarian ilmu Dalam hal ini, pendidikan sedapat mungkin menghindarkan metode monologis dan monoton Metode dialogis memungkinkan terjadinya 6 SUHUF. Vol. No. Mei 2020: 1-13 komunikasi dan dialog multiarah antara pendidik dan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik yang lain, dan pendidik-peserta didik dengan lingkungan sumber belajar. Salah satu tugas pendidik yang berat ialah membantu peserta didik untuk dapat berbicara dan mengungkapkan pendapat dan pikirannya, dan setelah ia lancar dalam pengungkapan pikiran dan pendapatnya, tugas berikutnya adalah memurnikan pikiran dan didik diarahkan pada kesadaran akan pencapaian kebenaran yang logis, obyektif, dan murni. (Marius Mantovanny, 2017: . Paulo presepsinya terhadap pertumbuhan manusia didominasi oleh gerakan yang melalui beberapa fase atau tema. Sebuah lintasan sejarah dicirikhaskan oleh beberapa aspirasi, minat dan nilai yang ingin diwujudkan dengan cara, bertingkah laku dan mengembangkan bakat. Wujud nyata dari banyak aspirasi, minat dan nilai serta hambatan yang menghalangi perwujudannya adalah tema-tema dalam lintasan sejarah tersebut, yang pada gilirannya menunjukkan pekerjaan-pekerjaan yang harus (Santoso. Listiyono dan Abd. Qodir Saleh, 2003: . Perkembangan yang digagas oleh Paulo sejalan dengan tahap Kohlberg Mayer yaitu perjalanan hidup dan pengalaman empiris manusia sangat menentukan perkembangan manusia. Perkembangan pada manusia tidak hanya berdasarkan pada pengalaman pribadi tetapi juga faktor lingkungan. Ia menyatakan bahwa pendidikan sebagai sebuah keadaan gnosiosiologis yang berarti mempermasalahkan apa yang dipikirkan oleh guru dan murid sebagai subyek dalam proses mengetahui. Subyek-subyek tersebut dalam proses mengetahui ini dan mempelajari obyek-obyek esensi obyek tersebut. Setahap demi setahap, subyek tersebut berada dalam proses mengetahui mengalami kemajuan menuju ke sebuah kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang membuat sebuah Sehingga setiap usaha menimplikasikan proses totalitasi. (William A. Smith, 2001: . Pendidikan gaya bank harus Jalan keluarnya menurut Freire menggantinya dengan sebuah konsep tentang manusia sebagai mahluk yang sadar, dan kesadaran sebagai kesadaran yang diarahkan kedunia. System pendidikan harus menghapus visi dan misi sekolah yang masih bersifat menabung pengetahuan, adapun tujuan pendidikan yang tepat adalah bahwa peserta didik harus mampu menghadapi berbagai problem Freire menyebutnya dengan AuPendidikan Hadap MasalahAy . roblem posin. dan AuPendidikan KritisAy. Pendidikan Hadap Masalah . roblem posin. Sistem pendidikan harus mampu memecahkan masalah baik antar murid maupun antara murid dan guru. Jika mengedepankan pemecahan masalah maka akan terjadi pergaulan yang dialogis antar warga sekolah. Sehingga suatu masalah tidak hanya dipandang dengan satu penyelesaian akan teapi akan menimbulkan banyak opsi dari para murid. Ciriciri pendidikan ini . roblem posin. adalah: (Masykur H Mansyur, 2014: Pendidikan problem posing tidak menggunakan konsep hubungan melahirkan kreatifitas, kebebsan berfikir dan kemampuan dalam memperbaiki hidup. Pendidikan mengintegrasikan antara murid dan guru baik dalam pikiran, ide, kreatifitas dan kemauan. Sehingga guru menampung usulari muri tentang apa yang menarik untuk dipelajari. Obyek pembelajaran menjadi tanggung jawab bersama bukan hanya guru dan murid tinggal menerima. Pendidikan hadap masalah menyingkap realitas secara terus menerus, dan berusaha dalam meningkatkan kesadaran dan meningkatkan kemampuan masalahmasalah di lingkungan sekitar. Konsep Konsientisasi Paulo. (Agung Ilham Prastow. 7 d. Pendidikan hadap masalah harus mampu mnenggali potensi manusia untuk mengembangkan dirinya dalam berbagai aspk agar mampu bersaing untuk kemerdekaan dan kebebasan dalam hidup. Pendidikan ini menunjukkan bahwa manusia harus selalu belajar, karena kehidupan pada hakikatnya adalah proses belajar sepanjang masa karena manusia merupakan makhluk yang tidak akan terlepas dari kesalahan. Realitas kehidupan ini akan terus berubah dari waktu ke waktu, sehingga perlu adanya sikap untuk terus belajar. Pendidikan juga harus mampu menyiapkan generasi unggung dalam mengahadapi perubahan Pendidikan harus membawa dirinya, yaitu jiwa yang merdeka tanpa ada penindasan dan Pendidikan Kritis Tahap pendidikan selanjutnya yaitu thap pendidikan kritis, di sini masyarakat diajak untuk menganalisa apa yang terjadi pada masyarakat baik sosial, ekonomi maupun Mereka mampu meliahat secara komprehensif apa saja yang menyebabkan masalah-masalah itu Selanjutnya mereka akan memetakan konsep-konsep apa saja 8 SUHUF. Vol. No. Mei 2020: 1-13 yang akan dilakukan dan selanjutnya adalah proses pelaksanaan dari konsep-konsep tersebut. Dalam tahap ini masyarakat sudah mampu berfikir dengan kritis dan mampu memecahkan masalahnya. Dalam tahap ini mereka tidak lagi berfikir secara individual akan tetapi berfikir secara kolektif sehingga menghasilkan sebuah tindakan nyata yang akan membawa perubahan yang signifikan. Maka dari itu tahap pendidikan ini sangat diperlukan dalam berbangsa dan bernegara untuk memberikan kritik dan masukan kepada pemerintah dan penguasa sehingga kehidupan masyarakat (Masykur H Mansyur, 2014: Bagi Freire pendidikan revolusioner, keterlibatan masyarakat, keterlibatan siswa, kebijakan pendidikan, kurikulum merupakan uapaya demokratisasi konsep pendidikan. Pendidikan tidak sebatas kegiatan belajar di dalam kelas akan tepai berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat, sumber daya alam dan bahkan pilihan Sehingga kondisi sosial akan berpengaruh besar dalam konstruksi kurikulum dan kebijakan yang perlu (Moh Yamin, 2009: . Relevansi Konsep Konsientisasi Terhadap Pendidikan Islam Konsep Freire banyak yang sesuai dengan konsep pendidikan Islam, jika ditelaah lebih lanjut maka akan ditemukan kesamaan-kesamaan baik secara eksplisit dan emplisit. Maka konsep Freire akan memperkuat dan menjabarkan konsep pendidikan Islam. Relevansi pendidikan Freire berkaitan erat dengan tujuan pendidikan Islam. Membicarakan tujuan pendidikan maka akan selalu berhubungan dengan tujuan hidup manusia. Tujuan pendidikan Islam bersifat universal dan mutlaq. Tujuan akhir pendidikan Islam adalah menjadikan insan kamil . anusia yang sempurn. yaitu menjadi . atau penghambaan diri kepada Allah secara total dan . wakil Allah dalam menegurus bumi. Untuk mencapai insan kamil, manusia potensinya baik secara intelektual, spiritual . , maupun ketrampilan . kearah nilai ketuhanan, kemanusiaan dan kealaman. Atiyah Al-Abrosyi menjabarkan tujuan umum tersebut kepada tujuan yang khusus: Pendidika menjadikan tubuh selalu sehat dan kuat karena kesahatan pangkal dari segalanya. Pendidikan akal, yaitu memberi ilmu pengetahuan, mendidik akal, dan kemahiran atau diketahui oleh manusia Pendidikan budi pekerti yaitu pembentukan kemuliaan akhlak, kuat cita-cita, berbudi bekerti, sopan dan ramah Pendidikan yaitu anak lahir sudah dibiasakan agar mencintai keluarganya, pendidikan keindahan, yaitu menyukai keindahan, sehingga manusia diajarkan agar mampu menciptakan keindahan. Tujuan akhir dari penjabaran tersbut adalah kembali pada tujuan dasar dan umum tadi, yaitu menjadi Abdullah dan Khalifah yang baik, artinya manusia mampu mengemban amanah sebagai hamba yang selalu taat pada aturannya dan mampu memakmurkan bumi sesuai dengan kehendakNya. (Maragustam, 2018: Tujuan pendidikan Islam ini sejalan dengan konssep tujuan Freire, yaitu menyadarkan manusia dari keterkungkungan penindasan penguasa karena pada dasarnya untuk berkembang maka harus menciptakan lingkungan yang saling Ketika kesadaran terbangun maka manusia akan mampu mengembangkan potensinya dalah hidup, yaitu hidup dengan layak dan wajar. Maka dengan adanya kesadaran akan eksistensi diri, menjadi modal utama manusia untuk Konsep Konsientisasi Paulo. (Agung Ilham Prastow. 9 mengemban amanah, yaitu Abdullah dan Khalifatullah. Maka titik temunya adalah pengoptimalan potensi diri dan kesadaran akan fitrah manusia menjadi pondasi utama dalam sedangkan tujuan akhirnya yaitu manusia mampu hidup dengan layak, mampu mengembangkan dirinya dan terciptanya hidup yang harmoni. Pendidik dalam Islam sering disebut dengan muallim yang artinya pengajar dan murobbi yang artinya pendidik. Hakekat pendidik dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab dalam pengembangan peserta didik dengan mengembangkan seluruh potensinya, baik spiritual, akfektif, kognitif maupun psikomotor kea rah ang lebih baik secara optimal dan seimbang yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Di dalam islam kedudukan pendidik sangatlah tinggi, mulia dan terhormat. Adam selain sebagai manusia juga sebagai pendidik pertama yang diutus Allah memakmurkan Hal ini bisa dilihat ketika Allah berfirman dalam Q. S Al-Baqarah ayat 30 yang menyatakan bahwa Allah menciptakan adam sebagai khalifah Allah. Hal tersebut menjadi para malaikat bertanya-tanya tentang keputusanNya, lalu Allah berfriman bahwa Adam diajarkan tentang bumi oleh Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Adam akan menjadi pendidik pertama bagi keturunannya di bumi. 10 SUHUF. Vol. No. Mei 2020: 1-13 Untuk bisa menjadi pendidik yang baik maka sesorang haruslah memenuhi kriteria tertentu agar mampu mengemban amanah yang Al-Ghozali merinci syaratsyarat yang harus dipenuhi seorang pendidik, antara lain. harus mempunyai rasa kasih sayang, menjadi pendamping yang jujur dan benar, tidak boleh menggunakan kekerasan, harus toleran, memahami perbedaan potensi tiap murid, memhami psikologis tiap siswa dan mengamalkan ilmunya. (Maragustam, 2018: . Selaras pendidikan Islam. Freire menegaskan bahwa pendidik bukan sekedar mentrasfer ilmu, tetapi seorang pendidik harus mampu membantu siswa dalam menggali potensi. Freire juga menentang pendidik yang memaksa siswa untuk mengikuti seluruh keinginannya, tetapi pendidik juga harus memberi kesempatan siswa untuk berkembang karena setiap orang mempunyai potensi lahiriah yang berbeda. Pola interaksi pendidik dan siswa juga menjadi sorotan bagi Freire, diamana seorang pendidikan harus mampu menciptakan pembelajaran yang katif dan inovatif tidak monolog dari guru. Dari penjelasan-penjalasan tersebut maka pendidik tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi harus membangun strategi pembelajaran yang baik dan efektif secara lahiriah dan batiniah. Sehingga siswa akan menjadi pribadi yang matang baik Sedangkah didik atau siswa dalam pendidikan Islam ialah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan menjadi manusia yang mempunyai ilmu, iman, taqwa serta berakhal mulia sehingga mampu menjalankan fungsina sebagai hamba Allah dan khalifah yang baik. Siswa tidak hanya sebatas obyek pendidikan saat guru atau pendidik mengajar tetapi juga sebagai subyek pendidikan yang mempunyai kesempatan untuk mengemabngkan potensinya dan merancang kehidupannya masingmasing. Dalam perkembangannya peserta didik dipengaruhi oleh beberapa faktor yang secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu intern dan ekstern. Faktor intern berkaitan dengan factor bawaan dasar, potensi-potensi yang dibawa sejak lahir, sedangkan factor ekstern, yaitu yan berkaitan dengan di luar dirinya, seperti lingkungan keluarga dan masyarakat. Faktorfaktor inilah yang akan membentuk kepribadian siswa, karena kedua factor tersebut akan saling berkaitan. Pemikiran Freire tentang siswa, ia menekankan agar siswa diberi apa yang harus dipelajari. Freire menentang sistem pendidikan gaya bank dimana siswa diberi materi, disuruh menghafal dan tidak ada dialog interaktif dengan guru. Maka ia sangat menekankan pada demokratisasi guru dan siswa, sehingga siswa mampu mengembangkan dirinya. Hal ini sesuai dengan prinsip pendidikan Islam yang berpijak pada Q. S ArRum: 30 yang artinya: Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan seluruslurusnya . esuai kecenderungan asliny. itulah fitrah Allah, yang Allah menciptakan manusia berdasarkan atas fitah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, itulah agama yang lurus. Namun kebanyakan manusia tidak Ayat tersebut dipakai oleh para pakar pendidikan Islam untuk membangun teori fitrah manusia, dasar yang memiliki kecenderungan berkembang, yang di dalam ilmu psikologi disebut potensialitas atau Maka pendidikan Islam harus dilakukan dengan berpijak pada fitrah dan juga akan dipengaruhi oleh lingkungan dan tidak memaksakan kehendak kepada pendidik. (Abudin Nata, 2017: . Berdasarkan beberapa konsep pendidikan yang digagas oleh Paulo Freire yang diungkapkan di atas, maka perlu adanya perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan oleh para pemikir pendidikan Islam. Konsep Konsep Konsientisasi Paulo. (Agung Ilham Prastow. 11 tersebut sebatas ranah kognitif yang berdasarkan realitas sosial yaitu kesadaran magis, nayf dan inransitif. Maka perlu adanya penyempurnaan dengan melengkapi ranah afektif dan Dalam ranah afektif, konsep konsientisasi harus mencakup bagaimana manusia peka terhadap realitas sosial, berfikir untuk banyak orang atau tidak sebatas menyadari realitas dirinya sendiri. Sedangkan dalam konteks psikomotorik, konsep konsietiasai tidak cukup sebatas berfikir kritis tetapi juga harus mencakup bagaimana manusia meningkatkan peradaban melalui ketrampilan yang dimiliki. Kesimpulan Konsep konsientisasi adalah mengeluarkan manusia dari penjajahan harga diri dan kreatifitas pendidkan yang Pembebasan diri ini diperoleh melalui adanya kesadaran atau konsientisasi. Konsep ini menempatka manusia sebagai subyek dalam kehidupan, artinya mampu mengekspreikan keinginan dan kreatifitasnya, bukan sebagai obyek atau selalu menerima perlakuan dari orang lain. Sehingga manusia mampu hidup sesuai dengan kodratnya yaitu manusia yang merdeka. Relevansi konsep kosientisasi Paulo Freire dalam pendidikan Islam dapat dilihat dalam beberapa aspek, pertama, konsep tujuan pendidikan, yaitu menyadarkan manusia agar hidup merdeka dan terlepas dari keterkungkungan, memaksimalkan potensi atau fitrah manusia untuk kemakmuran hidup. Kedua, aspek hakekat pendidik, pendidik tidak hanya sekedar mentransfer ilmu ke siswa tetapi juga membentuk akhlak, membimbing, mengarahkan dan menjadi fasilitator yang mengembangkan potensinya. Dalam proses belajar mengajar pendidik harus mampu mencipkatan suasana yang demokratis, dialogis, dan Ketiga, aspek siswa yaitu siswa merupakan individu yang unik dan mempunyai kekhasan masing-masing, maka siswa harus dikembangkan sesuai dengan bakat dan minatnya. Paulo Freire yang menekankan aspek praktetis dalam dengan konsep pendidikan Islam yang tidak hanya menekankan aspek praktis tetapi juga sisi afektif dan Daftar Pustaka