Naradidik: Journal of Education & Pedagogy Volume 4 Nomor 2 2025, pp 318-331 ISSN: 2827-864X (Onlin. Ae 2827-9670 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 24036/nara. Received: October 21, 2024. Revised: June 10, 2025. Accepted: June 17, 2025 https://naradidik. id/index. php/nar Sistem Pemilihan Mata Pelajaran Pilihan dalam Implementasi Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 2 Lubuk Basung Arifa Qurratul Aini1. Ike Sylvia2* Universitas Negeri Padang *Corresponding author, e-mail: ikesylvia@fis. Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya motivasi belajar siswa. Salah satu penyebabnya adalah pada tahap pemilahan mata pelajaran pilihan, siswa memakai aplikasi Aku Pintar untuk menentukan gaya belajar mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana sistem pemilihan mata pelajaran pilihan pada tahap persiapan, pelaksanaan dan pendampingan setelah penetapan mata pelajaran pilihan di kelas XI SMA Negeri 2 Lubuk Basung. Program pemilihan mata pelajaran pilihan di SMA Negeri 2 Lubuk Basung sudah berjalan selama 2 angkatan. Hal ini penting untuk dibahas lebih lanjut karena sistem pemilihan mata pelajaran pilihan ini merupakan program wajib sekolah. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori teori fungsional struktural Talcott Parsons melalui skema AGIL (Adaptation. Goal Attainment. Integration, dan Latenc. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengambilan informan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah informan 17 orang dengan kriteria informan yaitu siswa kelas XI Fase F, kepala sekolah, wakil kurikulum dan guru BK. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi non partisipan, observasi, wawancara dan Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Dengan menggunakan analisis data yang digunakan adalah model Miles dan Huberman melalui empat tahap analisis yaitu, pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, bahwa pemilihan mata pelajaran pilihan dalam implementasi kurikulum merdeka di SMA Negeri 2 Lubuk Basung menghadapi beberapa tantangan. Meskipun sekolah telah melakukan persiapan, sosialisasi yang kurang efektif menyebabkan siswa tidak memahami cara memilih mata pelajaran pilihan. Kurangnya informasi dan pemahaman siswa mengenai mata pelajaran pilihan menghambat siswa dalam menentukan pilihan yang sesuai dengan minat dan bakat siswa. Penggunaan tes gaya belajar melalui aplikasi aku pintar belum cukup membantu siswa, karena banyak siswa tidak memahami hasil dari tes gaya belajar yang telah melaka Selain itu, pemilihan mata pelajaran pilihan dipengaruhi oleh kondisi kelas, jumlah guru yang tersedia dan pengaruh teman. Dari perubahan kurikulum K13 ke kurikulum merdeka berdasarkan hasil penelitian di atas sekolah dan siswa belum mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Kata kunci: Kurikulum Merdeka. Merdeka Belajar. Pemilihan Mata Pelajaran Pilihan. Abstract This research was motivated by low student learning motivation. One of the reasons is that at the stage of selecting elective subjects, students use the Aku Pintar application to determine their learning style. In the Merdeka Belajar curriculum, students who choose elective subjects must be in accordance with their interests, talents and abilities. This research aims to analyze the system for selecting elective subjects at the preparation, implementation and mentoring stages after determining elective subjects in class XI SMA Negeri 2 Lubuk Basung. The elective subject selection program at SMA Negeri 2 Lubuk Basung has been running for 2 classes. This is important to discuss further because this elective subject selection system is a mandatory school program. The theory used in this research is Talcott Parsons' structural functional theory through the AGIL scheme (Adaptation. Goal Attainment. Integration, dan Latenc. The research approach used is a qualitative approach with a case study approach. Taking informants using techniques purposive sampling with a total of 17 informants with the informant criteria being class XI Phase F students, school principals, curriculum representatives and guidance and counseling teachers. Data collection was carried out through nonparticipant observation, observation, interviews and documentation. Data validity uses source triangulation and technical triangulation. By using data analysis, the Miles and Huberman model is used through four stages of analysis, namely, data collection, data reduction, data presentation, and Aini. & Sylvia. drawing conclusions. Based on the research results, the selection of elective subjects in implementing the independent curriculum at SMA Negeri 2 Lubuk Basung faces several challenges. Even though schools have made preparations, ineffective socialization means students do not understand how to choose elective subjects. Lack of information and students' understanding of selected subjects prevents students from making choices that suit students' interests and talents. The use of learning style tests through the Aku Smart application is not enough to help students, because many students do not understand the results of the learning style tests that have been carried out in Melaka. addition, the choice of elective subjects is influenced by class conditions, the number of teachers available and peer influence. From changes to the K13 curriculum to an independent curriculum based on research results, schools and students have not been able to adapt to the changes that have Keywords: Elective Subject Selection Guide. Independent Learning. Kurikulum Medeka. How to Cite: Aini. & Sylvia. Sistem Pemilihan Mata Pelajaran Pilihan dalam Implementasi Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 2 Lubuk Basung. Naradidik: Journal of Education & Pedagogy, 4. , 318-331. This is an open access article distributed under the Creative Commons 4. 0 Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. A2025 by author. Pendahuluan Pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas manusia. Pendidikan di Indonesia sering mengalami perubahan dari masa ke masa, menyesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan zaman. Kurikulum merdeka merupakan bentuk pembaharuan dari kurikulum K13 yang diterbitkan oleh Kementerian pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sebagai pencetus konsep merdeka belajar yang digagasnya merupakan usaha agar siswa fokus pada kebebasan dan berpikir kreatif. Sejalan dengan itu menurut Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat 1 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran bertujuan agar siswa aktif mengembangkan potensi diri, memiliki spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan untuk dirinya dan masyarakat (Kemendikbudristek, 2. Kemunculan pandemi COVID-19 di Indonesia sangat berdampak terhadap perubahan pendidikan di Kurikulum Merdeka belajar yang diterbitkan oleh Kementerian pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia sebagai bentuk respon dan solusi atas kondisi pendidikan di indonesia saat itu. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pendidikan, hal ini dilihat dari isi keputusan Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset Dan Teknologi Nomor 56/M/2022 tentang pedoman penerapan kurikulum dalam rangka pemulihan pembelajaran (Eka et al. , 2. Kurikulum merdeka hadir untuk menanggulangi masalah pendidikan di indonesia. Dengan berubahnya kurikulum, peserta didik dan pendidik harus mampu beradaptasi. Pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah atas (SMA) sudah memakai kurikulum merdeka dan menghapuskan kurikulum K13 yang pemilihan penjurusan IPA dan IPS yang sebelumnya menjadi standar dalam pemilihan mata pelajaran. Penghapusan sistem penjurusan ini memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih mata pelajaran pilihan yang mereka sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Minat bakat dan kemampuan merupakan bagian dari potensi yang dimiliki oleh siswa (Aryanto et al. , 2. Menurut Suyanto . Tujuan kurikulum merdeka siswa dimita untuk kreatif, siswa dapat belajar secara mandiri. Minat merupakan rasa suka atau tertarik atau tidak suka. Dengan adanya minat atau dorongan yang kuat seseorang dapat melakukan segala sesuatu yang mereka inginkan. Bakat merupakan kemampuan yang dimiliki oleh individu yang dibawa sejak lahir dan terkait dengan struktur otaknya. Siswa yang memiliki bakat akan melakukan kegiatan dengan perasaan senang dan bahagia, selain itu siswa akan memahami pelajaran dengan cepat. Siswa yang berbakat adalah peserta didik yang mampu mencapai prestasi karena mempunyai kemampuan yang unggul. Kemampuan ini meliputi kemampuan intelektual umum . ecerdasan atau intelegens. , kemampuan akademik khusus, kemampuan berpikir kreatif, produktif, kemampuan memimpin, dan kemampuan psikomotor. Kemampuan merupakan kapasitas seseorang untuk melakukan berbagai tugas dalam suatu kegiatan atau pekerjaan (Utami et al. , 2. Dalam kurikulum merdeka belajar terdapat beberapa langkah-langkah pengorganisasian dalam pelaksanaan pemilihan mata pelajaran pilihan, yaitu . tahap persiapan pemilihan mata pelajaran pilihan, . proses pemilihan mata pelajaran pilihan. Naradidik: Journal of Education & Pedagogy ISSN: 2827-864X (Onlin. pendampingan setelah penetapan mata pelajaran pilihan, dan . refleksi (Kementerian Pendidikan. Kebudayaan, 2. SMA Negeri 2 Lubuk basung merupakan salah satu sekolah yang sudah memakai kurikulum merdeka semenjak tahun 2022, serta menerapkan proses pemilihan mata pelajaran yang sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan siswa. Berdasarkan hasil observasi peneliti di lapangan pada pelaksanaan kurikulum merdeka siswa diberikan waktu untuk mengenali minat, bakat, dan kemampuan mereka pada kelas X fase E untuk menentukan mata pelajaran yang akan mereka pilih pada saat kelas X semester 2. Siswa dibebaskan untuk memilih 3 rumpun dari mata pelajaran IPA. IPS dan Bahasa. Sekolah SMA Negeri 2 Lubuk Basung menawarkan 10 mata pelajaran pilihan diantaranya yaitu, rumpun IPA yaitu mata pelajaran Biologi. Kimia. Fisika. Informatika, dan Matematika Lanjut, dan mata pelajaran pada rumpun IPS dapat dipilih mata pelajaran Sosiologi. Geografi. Ekonomi, serta pada rumpun Bahasa terdapat mata pelajaran pilihan Bahasa Indonesia Lanjut dan Bahasa Inggris Lanjut. Dari 10 mata pelajaran pilihan yang ditawarkan sekolah, siswa dapat memilih mapel lintas rumpun, siswa diperbolehkan memilih 5 mata pelajaran pilihan diantaranya pada rumpun IPA siswa diperbolehkan mengambil 3 mapel pilihan maksimalnya, dan mengambil rumpun IPS atau rumpun Bahasa. Siswa yang memilih mata pelajaran pilihannya sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan, saat belajar di kelas kurang aktif dalam belajar. Berdasarkan keputusan permendikbud kelompok mata pelajaran pilihan pada setiap SMA/MA/bentuk yang lain yang sederajat wajib menyediakan minimal 7 . mata pelajaran pilihan (Kementerian Pendidikan. Kebudayaan, 2. Berdasarkan masalah diatas maka peneliti tertarik untuk melihat bagaimana adaptasi siswa dan guru dalam Bagaimana persiapan, pelaksanaan, dan pendampingan setelah penetapan mata pelajaran pilihan di kelas XI SMA Negeri 2 Lubuk Basung. Adapun pada penelitian ini mempunyai perbedaan dengan penelitian terdahulu. Terdapat sejumlah penelitian yang relevan di antaranya adalah pertama, penelitian dari Mahaly et al. , dengan judul AuAnalisis Pemilihan Minat Mata Pelajaran Pilihan Siswa SMA Laboratorium Universitas PattimuraAy hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahwa rumpun IPA, mata pelajaran Biologi adalah yang paling diminati oleh siswa. Kedua, penelitian dari Aji Mulya Pratama. Alief Laili Budiyono. Muhammad Minanurrohman. Nur Hidayah, dan Fitri Wahyuni Yang berjudul AuImplementasi Bimbingan Kelompok Terhadap Keputusan Pemilihan Mata Pelajaran Pada Kurikulum Merdeka BelajarAy. Menunjukkan bahwa bimbingan kelompok teknik diskusi dapat dilakukan untuk membantu siswa dalam menentukan pilihan mata pelajaran yang diinginkan sesuai dengan minat bakat dan aspirasinya sesuai dengan kurikulum merdeka belajar yang telah ditetapkan kemendikbud (Pratama et al. , 2. Ketiga, penelitian dari oleh Ernawati dan Nuzulul Fitria yang berjudul AuAnalisis Pemilihan Mata Pelajaran Geografi Pada Fase E SMA Negeri 1 SitiungAy Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penyebab rendahnya nilai geografi siswa karena kurangnya minat belajar siswa, siswa tidak mengumpulkan tugas dan kondisi belajar yang kurang kondusif, alasan siswa yang memiliki nilai geografi rendah memilih mata pelajaran geografi karena menyukai guru mata pelajaran, sesuai dengan minat karir dan mengikuti teman (Fitria & Ernawati, 2. Peneliti tertarik melakukan penelitian ini dikarenakan beberapa penelitian terdahulu lebih fokus pada kajian pemilihan minat siswa terhadap mata pelajaran pilihan. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini meneliti mengenai sistem pemilihan mata pelajaran pilihan dalam implementasi kurikulum Penelitian ini penting untuk mengetahui bagaimana sekolah dan siswa beradaptasi dengan kurikulum yang baru yaitu kurikulum merdeka dalam menentukan mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan siswa. Selain itu penelitian ini dapat menjadi rujukan meningkatkan pelaksanaan kurikulum merdeka dalam pemilihan mata pelajaran pilihan. Adaptasi guru dan siswa dalam kurikulum merdeka yang baru ini menjadi kunci keberhasilan proses pendidikan. Oleh karena itu peneliti sangat tertarik meneliti bagaimana sistem pemilihan mata pelajaran pilihan dalam implementasi kurikulum merdeka di SMA Negeri 2 Lubuk Basung. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pendekatan kualitatif merupakan semua pendekatan yang berusaha menjelaskan realitas sosial yang ingin diteliti secara mendalam dengan menggunakan data kualitatif berupa kata-kata dan kenyataan di lapangan (Sugiyono, 2. Studi kasus dalam penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi secara lebih mendalam, mendetail, dan sistematis dari informan penelitian. Penelitian kualitatif digunakan untuk memperoleh penjelasan umum mengenai sebuah gejala yang sedang diteliti (Muri, 2. Dengan metode penelitian kualitatif ini peneliti dapat menjawab pertanyaan tersebut melalui berbagai informasi dan jawaban langsung dari informan. Penelitian ini dilakukan di SMA 2 Lubuk Basung, dengan pertimbangan yaitu sudah menerapkan kurikulum merdeka dimana siswa harus memilih mata pelajaran pilihannya sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan siswa. Teknik pemilihan informan yang digunakan yaitu Purposive Sampling dengan jumlah (Sistem Pemilihan Mata A) Aini. & Sylvia. informan 17 orang dengan kriteria yaitu, 1 kepala sekolah, 1 wakil kurikulum, 1 guru BK, dan 14 siswa kelas XI yang memilih mata pelajaran pilihan. Dalam proses pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data observasi non partisipan, peneliti hanya berperan sebagai pengamat. Selanjutnya, proses wawancara peneliti melakukan wawancara secara langsung . ace to fac. dimana peneliti mendengarkan penjelasan yang disampaikan informan dari pertanyaan peneliti ajukan. Dokumentasi dalam penelitian ini dalam bentuk foto, rekaman wawancara yang peneliti ambil saat melakukan observasi di lapangan sebagai tanda bukti fisik bahwasannya peneliti sudah melakukan penelitian. Dengan adanya kegiatan dokumentasi ini tentunya akan menjadi bukti pertanggung jawaban dari penelitian ini. Untuk mengecek keabsahan data, peneliti menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi dilakukan peneliti pada saat melakukan penelitian, mengumpulkan serta menganalisis data. Tujuannya untuk menarik kesimpulan dari berbagai sudut pandang (Alfansyur & Mariyani, 2. Kemudian data dari informan diolah dengan menggunakan model Miles dan Huberman yang melalui beberapa langkah yaitu: . Pengumpulan data, pada tahap ini data diperoleh melalui hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi di lapangan. reduksi data, merupakan kegiatan dimana pada tahapan reduksi data proses pemilihan data hanya temuan yang berkaitan dengan permasalahan penelitian yang akan direduksi. Penyajian data, penyajian data disajikan dalam bentuk tulisan dan kata-kata. Tujuan adanya penyajian data ini untuk menggabungkan informasi yang didapatkan sehingga dapat memberikan gambaran keadaan yang sedang terjadi. Kesimpulan, pada tahap ini peneliti menyimpulkan data yang sesuai dengan rumusan masalah (Saleh, 2. Gambar 1. Model Analisis Data Interaktif Miles dan Huberman Hasil dan Pembahasan Tahap Persiapan Pemilihan Mata Pelajaran Pilihan Persiapan Sekolah Sebelum Mengadakan Pemilihan Mata Pelajaran Pilihan SMA Negeri 2 Lubuk Basung sudah melaksanakan kurikulum merdeka dalam pemilihan mata pelajaran pilihan semenjak tahun ajaran 2022/2023. Persiapan merupakan proses pengambilan keputusan secara rasional mengenai pencapaian tujuan yang akan dicapai, selanjutnya penetapan tujuan tersebut dirumuskan untuk bagaimana cara mencapainya (Nasution, 2. Persiapan sekolah sebelum melaksanakan pemilihan mata pelajaran pilihan terlebih dahulu dilaksanakannya rapat tahun ajaran, kepala sekolah, wakil kurikulum, guru BK. Guru mata pelajaran, dan wali kelas mempunyai peran penting dalam kelancaran dan kesuksesan terselenggaranya kegiatan tersebut. Supaya pelaksanaan pemilihan mata pelajaran pilihan dapat terselenggara dengan lancar pemilihan mata pelajaran pilihan ini harus sesuai dengan kalender akademik, lama pengolahan data, penentuan pilihan tahapan, dan mekanisme pemilihan mata pelajaran yang sesuai. Sebagaimana yang dipaparkan oleh bapak Nasril kepala sekolah SMA Negeri 2 Lubuk Basung, menyatakan bahwa: AuARapat pada awal tahun ajaran baru dilaksanakan oleh para unsur pimpinan dan juga guru BK serta wali kelas. Bentuk pemilihan mata pelajaran pilihan anak diberikan sosialisasi tentang mata pelajaran pilihan pada kelas X semester 1, dan pada semester 2 sebelum ujian kenaikan kelas siswa diminta untuk mengisikan mata pelajaran pilihannya yang sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan yang dimiliki. Kendala nya adalah terbatasnya sarana dan prasarana di sekolahA(Wawancara tanggal 18 September 2. Berdasarkan pernyataan yang disampaikan oleh bapak Nasril kepala sekolah SMA Negeri 2 Lubuk Basung bahwa persiapan sekolah sebelum pemilihan mata pelajaran pilihan kepala sekolah mengadakan rapat pada awal tahun ajaran baru dilaksanakan oleh para unsur pimpinan dan juga guru BK serta wali kelas. Naradidik: Journal of Education & Pedagogy ISSN: 2827-864X (Onlin. Namun, kendala nya terletak pada terbatas nya sarana dan prasarana di sekolah dalam melaksanakan kurikulum merdeka. Hal yang sama juga dikatakan oleh ibu Milva Hetti selaku wakil kurikulum, bahwa: AuASebelum pelaksanaan pemilihan mata pelajaran pilihan dilaksanakannya rapat unsur Dari awal sudah disosialisasikan kepada siswa saat mereka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) mengenai kurikulum merdeka. Pada kurikulum merdeka siswa di akhir tahun ajaran di kelas X siswa harus memilih mata pelajaran pilihannya yang sesuai dengan minat, bakat dan karir kedepannya. Serta, disampaikan kepada siswa mata pelajaran apa yang akan dipilih nantinya sesuai dengan perguruan tinggi dan program studi yang Pada awal semester 2 bulan Januari dan Februari sekolah sudah melaksanakan sosialisasi kembali kepada siswa, siswa dikumpulkan dan diarahkan kembali seperti yang sudah disampaikan saat (MPLS). Bulan Februari guru BK masuk ke kelas menyampaikan tentang minat, bakat, dan karir kedepannyaAyA (Wawancara 3 Oktober 2. Berdasarkan hasil wawancara di atas terlihat bahwa sebelum persiapan pelaksanaan pemilihan mata pelajaran pilihan ini pihak sekolah sudah melaksanakan rapat dengan unsur pimpinan dalam merencanakan kegiatan tersebut agar terlaksana dengan lancar. Dengan begitu dapat diketahui bahwa perubahan kurikulum menjadi langkah awal sekolah dalam mempersiapkan terlaksananya pemilihan mata pelajaran pilihan agar dapat berjalan dengan baik. Kurikulum merdeka merupakan bentuk usaha serta langkah yang dapat membantu siswa untuk beradaptasi dengan peralihan dari kurikulum K13 ke kurikulum Merdeka. Dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa, implementasi kurikulum merdeka dalam pemilihan mata pelajaran pilihan membuat pihak sekolah lebih awal merencanakan bagaimana pemilihan mata pelajaran pilihan melalui rapat pada tahun ajaran. Dengan memberikan ruang fleksibel kepada siswa dalam memilih mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan minat, bakat dan kemampuannya serta mendukung rencana karirnya. Selain itu terdapat kendala seperti terbatasnya sarana dan prasarana di Sosialisasi Bagaimana Memilih Mata Pelajaran Pilihan Sosialisasi dilakukan untuk membangun pemahaman antara orang tua dan peserta didik tentang bagaimana pentingnya mengenali minat, bakat dan kemampuan yang mendukung rencana karir setelah tamat dari SMA. Guru BK, guru mata pelajaran, dan wali kelas berkontribusi untuk mengeksplorasi minat, bakat dan kemampuan siswa. Kegiatan sosialisasi tentang pemilihan mata pelajaran pilihan ini sangat penting untuk dilaksanakan sebagai bentuk upaya sekolah dalam memfasilitasi siswa agar paham tentang ketentuan pemilihan mata pelajaran pilihan. Dari kegiatan sosialisasi siswa mendapatkan berbagai informasi bagaimana pertimbangan yang harus dilakukan dalam memilih mapel pilihan. Pentingnya keterhubungan pilihan mata pelajaran dengan perencanaan program studi yang akan diambil di perguruan tinggi. Kegiatan sosialisasi merupakan langkah awal dalam program pemilihan mata pelajaran pilihan. Sekolah SMA Negeri 2 lubuk Basung telah melaksanakan sosialisasi tentang pemilihan mata pelajaran pilihan ini kepada siswa kelas X yang akan memilih mapel pilihannya pada kelas XI. Berikut dokumentasi proses sosialisasi pemilihan mata pelajaran pilihan: Gambar 2. Proses Sosialisasi Pemilihan Mata Pelajaran Pilihan Bagi Siswa Kelas X Masalah yang muncul adalah pada proses pemilihan mata pelajaran pilihan siswa kurang memahami apa saja mata pelajaran yang akan mereka pilih. Secara keseluruhan, walaupun implementasi kurikulum merdeka membebaskan siswa memilih mata pelajaran pilihan sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan siswa, sebagian siswa merasa ragu dengan mata pelajaran yang akan mereka pilih. Hal ini diungkapkan oleh bapak Drs. Nasril selaku Kepala sekolah, beliau menyatakan bahwa: (Sistem Pemilihan Mata A) Aini. & Sylvia. AuAKendala dalam pemilihan mata pelajaran pilihan ini tetap ada karena anak kurang memahami apa itu mata pelajaran pilihan, dan pada tingkat SMP anak belum memakai kurikulum Merdeka. Sebagian besar di SMP anak belum menggunakan kurikulum Merdeka. Sesampainya anak di SMA kadang anak merasa ragu karena tidak tahu mau memilih mapel apa yang harus dipilihnyay (Wawancara tanggal 28 September 2. Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat dipahami bahwa dalam proses pemilihan mata pelajaran pilihan tidak semua sekolah yang sudah menerapkan kurikulum merdeka dalam proses pembelajaran di Hal inilah yang membuat siswa ragu dalam menentukan mata pelajaran pilihannya. Kegiatan sosialisasi yang diberikan pihak sekolah kepada siswa sangat penting dalam menentukan tujuan karir siswa. Hal yang berbeda dikatakan oleh Anggun Putri Herlina siswa kelas XI F11, menyatakan bahwa: AuAPertama tantangan nya karna Anggun masih remaja masih mempunyai sikap labil serta pemikirannya masih sering berubah-ubah. Mungkin di awal kepengen jadi ini setelah belajar ternyata mata pelajaran ini susah. Jadi seperti masih labil dalam mengambil keputusan buk. Menurut Anggun pemilihan mapel pilihan pada kelas X agak cepat karena kelas X itu kami kedepannyaAyA. (Wawancara tanggal 25 September 2. Berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh Anggun Putri Herlina diatas dapat dilihat bahwa dalam memilih mata pelajaran pilihannya siswa masih merasa ragu karena memiliki sikap yang masih labil dalam mengambil keputusan. Hal yang serupa juga dikatan oleh Anisa Akmal siswa kelas XI F16, menyatakan bahwa: AuARagu dan tidak yakin dengan kemampuan sendiri, serta tidak yakin dengan pilihan. Sosialisasi tentang mapel pilihannya dilakukan satu kali di aula, secara bersamaAyA. awancara 26 September 2. Berdasarkan wawancara di atas dapat dipahami bahwa sosialisasi yang diberikan oleh sekolah terkait pemilihan mata pelajaran pilihan ini masih minim, sehingga mengakibatkan siwa merasa bingung dalam menentukan mata pelajaran pilihannya, siswa tidak yakin dengan apa yang sudah mereka pilih. Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa tidak semua sekolah melaksanakan kurikulum merdeka, sesampainya siswa di SMA Negeri 2 Lubuk Basung yang sudah memakai kurikulum merdeka dalam menentukan mata pelajaran pilihan mereka merasa bingung mapel apa yang akan dipilih. Selain itu sosialisasi yang diberikan oleh sekolah bersama guru BK hanya dilakukan satu kali dalam menentukan mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan siswa. Siswa yang merasa ragu dalam menentukan mata pelajaran pilihannya disebabkan oleh kurangnya informasi dan ketidakpahaman bagaimana sistem pemilihan mata pelajaran pilihan dalam kurikulum merdeka. Tes Gaya Belajar Dalam menentukan mata pelajaran pilihan siswa harus berdasarkan dengan minat, bakat dan kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Gaya belajar adalah cara individu dalam menerima, memproses, dan memahami informasi. Dalam memilih mata pelajaran pilihan siswa harus mengetahui gaya belajarnya terlebih dahulu karena setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Selanjutnya, dengan memahami gaya belajar peserta didik sangat penting bagi pendidik karena dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih efektif dan mendukung. Terdapat 3 tipe gaya belajar yaitu . visual, . auditori dan . kinestetik (Silaban et al. , 2. Dengan memahami gaya belajar membantu siswa untuk membuat keputusan tentang mata pelajaran apa yang akan mereka pilih sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan. Gaya belajar merupakan cara di mana siswa dapat menerima informasi baru dan proses yang akan mereka gunakan untuk belajar. Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Milva Hetti selaku wakil kurikulum di sekolah, menyatakan bahwa: AuASekolah kita tidak ada mengadakan tes kecerdasan IQ, tes yang diberikan adalah tes gaya Tes gaya belajar tersebut diberikan oleh guru BK, tujuan nya untuk mengarahkan anak memilih mata pelajaran pilihannya sesuai dengan minat dan bakat sisway (Wawancara 3 oktober 2. Guru Bimbingan dan konseling (BK) berperan dalam pengadministrasian tes ini. Guru BK tidak hanya mengadakan tes, akan tetapi juga memberikan bimbingan kepada siswa dalam memilih mata pelajaran Guru BK memberikan tes gaya belajar kepada siswa, tes ini dirancang untuk memahami bagaimana siswa belajar dengan cara yang paling efektif. Selanjutnya, tes gaya belajar dapat membantu siswa dalam memilih mata pelajaran yang sesuai dengan minat dan bakat siswa. Dengan demikian sekolah berfokus pada pengembagan potensi induvidu melalui pendekatan yang lebih personal dan sesuai dengan karakteristik Naradidik: Journal of Education & Pedagogy ISSN: 2827-864X (Onlin. Hal yang sama juga disampaikan oleh ibu Resa Revita guru mata pelajaran Bimbingan dan Konseling, menyatakan bahwa: AuA Kalau tes kecerdasan IQ memang itu kendala nya kita di sekolah. Tes tersebut tidak dilaksanakan karena tidak ada orang yang berlisensi untuk dilaksanakannya tes kecerdasan IQ. Secara formal tidak ada dilaksanakan namun ada aplikasi yang bisa membantu kami guru BK melaksanakan tes kecerdasan IQ kepada siswa. Aplikasi yang kami gunakan adalah aplikasi Aku Pintar, di aplikasi ini siswa diberikan pertanyaan untuk menentukan gaya belajarAAy (Wawancara tanggal 26 September 2. Sekolah menghadapi kendala dalam melaksanakan tes kecerdasan IQ karena keterbatasan sumber daya manusia. Tidak ada tenaga pengajar yang memiliki lisensi untuk melakukan tes tersebut secara resmi. Meskipun tes IQ secara formal tidak dilaksanakan, sekolah mencari solusi alternatif dengan menggunakan aplikasi aku pintar. Aplikasi aku pintar dirancang untuk membantu guru bimbingan dan konseling (BK) dalam melaksanakan evaluasi. Aplikasi ini dapat diakses secara gratis oleh siswa, pada aplikasi ini terdapat pertanyaan yang dapat membantu siswa menentukan gaya belajar mereka. Sekolah berusaha memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan bimbingan terhadap siswa. Berikut dokumen Aplikasi yang digunakan untuk menentukan tes gaya belajar tersebut adalah aplikasi Aku Pintar. Gambar 3. Aplikasi Aku Pintar Hal ini juga didukung dengan wawancara dengan siswa Kelas XI F11 Anisa Najla Nihaya , yang menyatakan bahwa: Au. Tes yang diberikan adalah tes gaya belajar jadi siswa nya itu termasuk kedalam gaya belajar visual, kinestetik, dan audio. Tes gaya belajar tersebut diberikan dalam bentuk link, di link tersebut kita menjawab pertanyaan yang sudah disediakan nanti hasil nya bisa kita lihat sesudah mengisi pertanyaan yang ada pada link tersebutAyA. awancara 25 September 2. Guru BK memberikan tes gaya belajar sebagai acuan dalam memilih mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan minat dan bakat siswa. Dengan mengetahui gaya belajar siswa guru dapat menyesuaikan pendekatan pengajaran mereka dan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran dan membantu siswa memahami materi yang diajarkan. Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pemilihan mata pelajaran pilihan SMA Negeri 2 Lubuk Basung dalam menentukan minat bakat dan kemampuan siswa melalui tes gaya Tes gaya belajar dapat diakses secara online oleh siswa. Tes yang diberikan guru BK dalam menentukan minat, bakat dan kemampuan siswa dengan tes gaya belajar, tes gaya belajar ini bertujuan untuk mengetahui siswa tergolong ke dalam gaya belajar kinestetik, visual dan auditori. Aplikasi yang digunakan untuk menentukan tes gaya belajar tersebut adalah aplikasi Aku Pintar. Penggunaan aplikasi ini secara gratis, dan diisi oleh siswa. Tidak semua siswa memahami hasil tes gaya belajar tersebut. Tanpa bimbingan dari (Sistem Pemilihan Mata A) Aini. & Sylvia. guru dan orang tua, siswa kesulitan memahami hasil dan bagaimana cara mengimplementasikannya dalam strategi belajar siswa tersebut. Proses Pemilihan Mata Pelajaran Pilihan Kesulitan Siswa Memilih Mata Pelajaran Pilihan yang Sesuai Dengan Minat dan Bakat Siswa Pendampingan mengeksplorasi minat, bakat dan kemampuan guru BK, guru mata pelajaran, dan wali kelas berkontribusi dalam melakukan pendampingan eksplorasi minat, bakat dan kemampuan peserta didik. Menurut Kemendikbud RI mata pelajaran pilihan yang ditawarkan dalam kurikulum merdeka pada tingkat SMA di Fase F adalah mata pelajaran Biologi. Kimia. Fisika. Informatika. Matematika tingkat lanjut. Sosiologi. Ekonomi. Geografi. Antropologi. Bahasa Indonesia tingkat lanjut. Bahasa Inggris tingkat lanjut. Bahasa Korea. Bahasa Arab. Bahasa Mandarin. Bahasa Jepang. Bahasa Jerman. Bahasa Prancis. Prakarya dan Kewirausahaan. Kelompok mata pelajaran pilihan pada setiap SMA/MA/ bentuk yang lain yang sederajat wajib menyediakan minimal 7 . mata pelajaran (Trisnapradika et al. , 2. Sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset Dan Teknologi Nomor 56/M/2022 tentang pedoman penerapan kurikulum dalam rangka pemulihan pembelajaran (Mahaly et al. , 2. Pada jenjang pendidikan menengah atas (SMA) pada kurikulum merdeka sudah menghapuskan sistem pemilihan penjurusan IPA dan IPS yang sebelumnya menjadi standar dalam pemilihan mata Penghapusan sistem penjurusan ini memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih mata pelajaran pilihan yang mereka sukai sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan yang dimiliki (Agustine et al. , 2. Minat merupakan rasa suka atau tertarik atau tidak suka. Dengan adanya minat atau dorongan yang kuat seseorang dapat melakukan segala sesuatu yang mereka inginkan. Bakat merupakan kemampuan yang dimiliki oleh individu yang dibawa sejak lahir dan terkait dengan struktur otaknya. Siswa yang memiliki bakat akan melakukan kegiatan dengan perasaan senang dan bahagia, selain itu siswa akan memahami pelajaran dengan cepat. Siswa yang berbakat adalah peserta didik yang mampu mencapai prestasi karena mempunyai kemampuan yang unggul. Kemampuan ini meliputi kemampuan intelektual umum . ecerdasan atau intelegens. , kemampuan akademik khusus, kemampuan berpikir kreatif, produktif, kemampuan memimpin, dan kemampuan psikomotor. Kemampuan merupakan kapasitas seseorang untuk melakukan berbagai tugas dalam suatu kegiatan atau pekerjaan (Utami et al. , 2. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh ibu Milva Hetti selaku wakil kurikulum di sekolah, menyatakan bahwa: AuAKita membuka kelas mata pelajaran pilihan karena ketersediaan guru, pada rumpun IPA mata pelajaran Fisika. Kimia. Biologi. Informatika dan Matematika lanjutan, rumpun IPS terdapat mata pelajaran Geografi. Ekonomi, dan Sosiologi, dan pada rumpun bahasa terdapat mata pelajaran Bahasa Indonesia Lanjutan dan Bahasa Inggris Lanjutan. Kita hanya membuka 2 kelas bahasa karena kita memiliki guru tersebut. Dalam pemilihan mata pelajaran pilihan siswa wajib memilih 5 mata pelajaran pilihan. Pemilihan setiap kelompok nya maksimal 3 dari rumpun IPA, dari rumpun bahasa tidak diwajibkan dipilih karena mata pelajaran ini sudah ada di mata pelajaran wajibAyA . awancara 3 Oktober 2. SMA Negeri 2 Lubuk Basung membuka mata pelajaran pilihan berdasarkan pada jumlah guru yang tersedia untuk mengajar. Sekolah hanya dapat menawarkan mata pelajaran yang didukung oleh tenaga pengajar yang tersedia. Sekolah mengelompokkan mata pelajaran dalam beberapa rumpun yaitu, rumpun IPA. IPS dan Bahasa. Siswa diwajibkan memilih lima mata pelajaran pilihan. Ini memberikan fleksibelitas bagi siswa untuk menentukan minat dan bakat mereka dalam studi tertentu. Hal yang sama juga disampaikan oleh ibu Resa Revita selaku guru Bimbingan dan Konseling. Ketika peneliti wawancara, beliau menyatakan bahwa: AuASekolah membuka kelas mata pelajaran pilihan sesuai dengan kemampuan sekolah, keadaan kelas dan banyak nya guru. Dari 10 kelas yang dibuka di SMA Negeri 2 Lubuk Basung menawarkan mata pelajaran pilihan Matematika. Kimia. Fisika. Biologi. Informatika. Sosiologi, geografi. Ekonomi. Bahasa Indonesia lanjutan dan Bahasa Inggris lanjutan. Sekolah SMA Negeri 2 Lubuk Basung ini memiliki kemampuan untuk membuka 10 kelas mata pelajaran pilihan, namun dari 10 kelas ini siswa hanya bisa memilih 5 karena kita sesuaikan dengan satuan kredit dan panduan pemilihan mata pelajaran pilihan. Dalam pemilihan mata pelajaran pilihan ini terdapat 3 rumpun pemilihan mata pelajaran yaitu rumpun IPA. IPS dan Bahasa. Dalam pemilihan mata pelajaran pilihan siswa dibatasi untuk memilih jurusan IPA, maksimal nya memilih 3 mata pelajaran pilihan dari rumpun tersebut selebihnya boleh bebas. Sekolah kita membuka rumpun bahasa karena sekolah mempunyai kapasitas guru yang memungkinkan untuk kita bisa membuka kelas dan jumlah kelas memungkinkan kita untuk membuka kelas bahasay. awancara 26 september 2. Naradidik: Journal of Education & Pedagogy ISSN: 2827-864X (Onlin. Pembukaan kelas mata pelajaran pilihan didasarkan pada kemampuan sekolah, termasuk faktor seperti kondisi fisik kelas dan jumlah guru yang tersedia. Dengan beragamnya mata pelajaran pilihan yang ditawarkan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi berbagai disiplin ilmu sesuai dengan minat dan bakat mereka. Pemilihan mata pelajaran pilihan disesuaikan dengan satuan kredit dan panduan yang telah ditetapkan. Hal ini menunjukkan adanya sistem yang terstruktur untuk mengelola pemilihan mata pelajaran pilihan, sehingga siswa dapat membuat sebuah keputusan yang tepat untuk kebutuhan akademis siswa. Begitu juga dengan wawancara dengan Anisa Najla siswa kelas XI F 5, menyatakan bahwa: AuAMata pelajaran pilihan yang harus dipilih sebanyak 5 mata pelajaran buk, ada Nia memilih dua dari rumpun IPA dan dua dari rumpun IPS, yaitu mata pelajaran Kimia. Fisika. Sosiologi dan Ekonomi dari rumpun bahasa nia tidak ada memilih mata pelajaran nya, karena waktu kelas X ada sosialisasi lima orang ke ruang BK guru memberikan pengarahan bahwa memilih mata pelajaran pilihan pada rumpun basa itu tidak wajib buk karena mata pelajaran tersebut ada di jam wajib, selanjutnya yang nia dengar informasi dari teman yang belajar mata pelajaran pilihan bahasa kata mereka materi pembelajaran sama apa yang dipelajari di jam wajib dipelajari juga di kelas moving classAyA . awancara 25 September 2. Dalam proses pemilihan mata pelajaran pilihan siswa seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pengaruh dari teman. Teman yang sudah mengambil mata pelajaran pilihan dapat memberikan rekomendasi berdasarkan pengalaman mereka. Terkadang siswa lebih cenderung mengikuti saran dari teman mereka yang ia percayai. Informasi yang diterima dari teman dapat mempengaruhi persepsi siswa terhadap mata pelajaran tersebut. Sejalan dengan pendapat di atas. Kerin Acuta Putri siswa kelas XI F 9, menyatakan bahwa: AuASaya memilih mata pelajaran pilihan Matematika. Kimia. Biologi. Sosiologi, dan Ekonomi, menurut kerin mata pelajaran bahasa inggris itu bisa dipelajari secara otodidak diluar sekolah selain itu mata pelajaran bahasa tersebut juga ada di jam wajibAyA. awancara 27 September Sekolah memberikan kebebasan kepada siswanya untuk memilih mata pelajaran pilihan berdasarkan minat dan bakat siswa. Sebagian siswa menganggap mapel pilihan bahasa inggris dan bahasa indonesia ini sudah dipelajari pada jam wajib dan dapat dipelajari secara otodidak diluar sekolah. Siwa lebih memilih untuk mengambil mata pelajaran lain yang dianggap sesuai dengan minat dan bakat siswa tersebut. Siswa memiliki pemahaman yang baik tentang strategi belajar dan pemanfaatan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan mereka. Berdasarkan pemaparan diatas dapat diketahui bahwa sekolah membuka mata pelajaran pilihan berdasarkan ketersediaan guru dan kondisi fisik kelas. Hal ini memastikan bahwa setiap mata pelajaran pilihan yang ditawarkan didukung oleh tenaga pengajar yang memadai. Mata pelajaran dikelompokkan kedalam tiga rumpun yaitu rumpun IPA. IPS dan Bahasa. Ini memberikan struktur yang jelas bagi siswa dalam memilih mata pelajaran pilihan berdasarkan minat dan bakat mereka. Dalam pemilihan mata pelajaran pilihan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya pengaruh teman. Secara keseluruhan\n pemilihan mata pelajaran di SMA Negeri 2 Lubuk Basung sudah mencerminkan pendekatan yang terstruktur dalam pemilihan mata pelajaran pilihan ini terhadap kebutuhan siswa. Siswa diberikan kebebasan untuk menyesuaikan pilihan mereka dengan minat dan bakat, yang mendukung pengembangan pendidikan yang lebih holistik. Pendampingan Setelah Penetapan Mata Pelajaran Pilihan Setelah melakukan proses pemilihan mata pelajaran pilihan selesai, langkah selanjutnya adalah mendampingi siswa agar mengikuti proses pembelajaran dan pengembangan diri di kelas masing-masing sesuai dengan pilihan minat dan kemampuannya. Dengan adanya tahapan pendampingan ini peserta didik akan lebih matang dalam merencanakan kelanjutan studi mereka setelah menyelesaikan pendidikan pada jenjang SMA. Dalam penyelenggaraan pendampingan setelah pemilihan mata pelajaran pilihan diperlukan dukungan dari satuan pendidikan seperti guru BK, bidang kurikulum dan bidang kesiswaan. Setelah menjalani pembelajaran pada mata pelajaran pilihannya, terdapat beberapa kemungkinan peserta didik ingin mengganti mata pelajaran pilihan mereka (Sari et al. , 2. Peserta didik diperbolehkan mengganti mata pelajaran pilihan pada kelas XI semester 2 sesuai dengan peminatannya. Hal yang perlu dipertimbangkan oleh satuan pendidikan dalam penggantian mata pelajaran pilihan yaitu: . mempertimbangkan informasi yang ada pada data dapodik terkait pergantian mata pelajaran pilihan, dan . memberikan informasi akan konsekuensi yang akan dihadapi saat dilakukan pergantian mata pelajaran pilihan (Kementerian (Sistem Pemilihan Mata A) Aini. & Sylvia. Pendidikan. Kebudayaan, 2. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh ibu Resa Revita guru bimbingan dan konseling, menyatakan bahwa: AuAMaksimal siswa perkelas nya 36 orang. Untuk mengganti mata pelajaran pilihan sebenarnya di UUD dan peraturan nya itu boleh tetapi disesuaikan dengan keadaan sekolah semisal peraturan memang menyatakan bahwa siswa boleh pindah mata pelajaran yang sudah mereka pilih, namun di sekolah kita pemilihan mata pelajaran pilihan disesuaikan dengan kemampuan sekolah, jumlah guru yang tersedia, dan jumlah kelas yang dibuka jadi kita bentuk lagi dengan keadaan sekolah. Untuk anak yang pindah mata pelajaran pilihannya biasa kebanyakan kasus sudah 2 minggu sekolah berjalan pada ajaran baru pada kelas moving baru mengatakan pindah sebelumnya kita tidak menerima, kita tanyakan dulu siswa tersebut secara detail apa alasan nya untuk pindah, kadang alasan untuk pindah mengikuti teman, tidak sesuai dengan dengan gurunya, tidak sesuai dengan kelas nya, dan tidak sesuai dengan cita-cita. Kalau kasusnya jam dempet, tidak sesuai dengan tujuan karir nya baru kita ceng. Kita lihat lagi keadaan kelas yang sudah terbentuk misal nya jika mengharuskan membuka kelas baru lagi sedangkan kemampuan sekolah tidak memungkin untuk membuka kelas baru itu tidak akan bisa kita tukarA. awancara september 2. Setiap kelas mata pelajaran pilihan dibatasi jumlah siswanya maksimal 36 siswa per lokalnya. Hal ini menunjukkan upaya sekolah agar pembelajaran berlangsung secara efektif. Kebijakan penggantian mata pelajaran sekolah mengizinkan siswanya untuk mengganti mata pelajaran pilihan, namun keputusan tersebut sangat bergantung pada keadaan sekolah, ketersediaan guru dan jumlah kelas. Siswa yang ingin pindah mata pelajaran pilihan bisa mengajukan permohonan setelah dua minggu pembelajaran berlangsung. Sekolah akan mengevaluasi alasan perpindahan tersebut secara detail untuk memastikan keputusan yang diambil sesuai dengan kebutuhan siswanya. Alasan umum siswa meminta untuk pindah kelas karena mengikuti teman, ketidakcocokan dengan guru, atau ketidakcocokan dengan kelas dan jam pelajaran yang Dalam beberapa kasus, alasan terkait dengan tujuan karir atau jam pelajaran yang bertabrakan juga menjadi pertimbangan. Kebijakan yang ada menunjukkan fleksibilitas sekolah dalam menangani kebutuhan siswa, sambil tetap mempertimbangkan kondisi dan kemampuan sekolah secara keseluruhan. Sejalan dengan pendapat di atas, menurut siswa kelas XI F 10 bernama Rahma Uliya Satriani, menyatakan bahwa: AuAkemaren pas penukaran mapel pilihan rahma telah memilih mata pelajaran geografi karna jadwal nya dempet dengan mapel lain kalaupun mau pindah ruangan, ruangan yang lain sudah penuh rahma tetap mengambil mata pelajaran pilihan sosiologi yang dipilihkan oleh sekolah bukAyA. awancara 27 September 2. Pada tahap pendampingan setelah penetapan mata pelajaran pilihan terdapat beberapa siswa yang mengalami jawal mapel pilihan nya berbentrokan dengan mata pelajaran wajib. Hal ini membuat siswa tidak bisa mengikuti kedua pelajaran secara bersamaan. Jika siswa ingin berpindah ke mata pelajaran lain namun semua ruang kelas untuk mata pelajaran tersebut sudah penuh, maka perpindahan tidak dapat dilakukan. Keterbatasan kapasitas ruang kelas ini seringkali menjadi kendala dalam melakukan penukaran mata pelajaran pilihan. Sekolah biasanya memiliki kebijakan yang mengatur pemilihan dan penggantian mata Dalam situasi ini, jika tidak ada pilihan lain yang tersedia, siswa mungkin harus tetap mengambil mata pelajaran yang sudah ditentukan oleh sekolah. Siswa yang terpaksa tetap pada mata pelajaran yang ada, meskipun merasa kurang cocok atau terhalang oleh jadwal, dapat mengalami kesulitan dalam mengikuti materi pelajaran. Ini bisa berdampak pada motivasi dan hasil belajar mereka. Komunikasi yang baik antara siswa, guru, dan administrasi sekolah sangat penting. Siswa disarankan untuk menyampaikan kendala yang dihadapi agar pihak sekolah dapat mencari solusi yang mungkin, meskipun tidak selalu memungkinkan untuk memenuhi permintaan perpindahan. Sejalan dengan pendapat di atas, menurut siswa kelas XI F11 Anggun Fetrariga siswa kelas, mengatakan bahwa: AuARencana nya saya mau mengambil mata pelajaran Informatika buk tetapi tidak jadi karena terpengaruh oleh teman, kata teman saya mata pelajaran informatika itu bisa dipelajari sendiri jadi saya memilih mata pelajaran biologi. Saya menyesal mengambil mata pelajaran biologi buk karena berkaitan dengan kimiaAyA. awancara 26 September 2. Setelah menetapkan mata pelajaran, pendampingan dapat dimulai melalui evaluasi pilihan melibatkan refleksi tentang alasan memilih mapel pilihan, seperti pengaruh teman. Pendampingan dapat membantu siswa mengenali faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan tersebut. Salah satunya adalah pengaruh teman. Pendampingan harus mencakup refleksi berkala tentang kemajuan siswa dalam mata pelajaran yang dipilih. Hal ini membantu siswa untuk terus menilai apakah pilihan tersebut masih sesuai dengan minat dan tujuan karir mereka. Naradidik: Journal of Education & Pedagogy ISSN: 2827-864X (Onlin. Berdasarkan hasil wawancara di atas terlihat bahwa banyak siswa yang ingin menukarkan mata pelajaran pilihan yang mereka dapatkan karena tidak sesuai dengan guru, tidak sesuai dengan kelasnya, tidak sesuai dengan cita-cita, tidak sesuai dengan tujuan karir, dempet dengan jam pelajaran lainnya, dan karena ikut-ikutan teman. Dalam beberapa kasus, alasan yang terkait dengan tujuan karir dan jam pelajaran pilihan yang dempet dengan jam mata pelajaran wajib yang menjadi pertimbangan guru BK dalam menganti mata pelajaran pilihan. Refleksi dan Tindak Lanjut Kegiatan refleksi dan tindak lanjut dilakukan oleh semua satuan pemangku kepentingan pendidikan. Kegiatan refleksi ini berfokus pada keseluruhan tahapan pelaksanaan pemilihan mata pelajaran pilihan. Hasil dari refleksi ini digunakan sebagai bahan evaluasi dan perbaikan mekanisme dalam proses pemilihan mata pelajaran pilihan dan layanan bimbingan konseling (Kementerian Pendidikan. Kebudayaan, 2. Refleksi terhadap hasil wawancara yang sudah dilaksanakan menunjukkan bahwa banyak siswa yang merasa ketidaksesuaian antara mata pelajaran pilihan yang mereka dapatkan dengan beberapa aspek penting dalam kehidupan mereka. Ketidaksesuain tersebut seperti guru yang tidak sesuai, kelas yang tidak sesuaian, atau tidak sesuai dengan cita-cita dan tujuan karir, dapat menyebabkan ketidakpuasan dalam berpotensi menghambat proses belajar mereka. Selain itu faktor sosial seperti ikut-ikutan teman juga menjadi alasan yang cukup signifikan dalam memilih mata pelajaran pilihan. Tindak lanjut dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah sebagai berikut: . pihak sekolah perlu melakukan evaluasi terhadap cara pemilihan mata pelajaran agar siswa bisa memilih berdasarkan potensi mereka, bukan hanya berdasarkan pengaruh dari teman atau ketidakcocokan dengan . memberikan informasi dan bimbingan kepada terkait kaitan antara mata pelajaran pilihan dengan tujuan kurikulum merdeka, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih matang dan sesuai dengan masa depan mereka. perlu adanya kebijakan yang memungkinkan siswa untuk melakukan perubahan mata pelajaran dengan pertimbangan tertentu, agar siswa lebih puas dengan pilihan mereka. meningkatkan pengelolaan jadwal pelajaran agar tidak terjadi bentrok dengan mata pelajaran lain. melakukan melakukan kegiatan tindak lanjut ini diharapkan siswa lebih sesuai dengan pilihan mereka dan dapat fokus belajar sesuai dengan minat dan tujuan mereka. Pembahasan Penelitian ini membahas tentang bagaimana sebuah sistem yang akan berjalan dengan baik apabila semua komponen yang mempengaruhinya dapat berker jasama menjalankan peranannya dengan baik maka sistem tersebut menjadi fungsional. Dalam penelitian ini peneliti ingin melihat bagaimana SMA Negeri 2 Lubuk Basung mengimplementasikan kurikulum merdeka dalam sistem pemilihan mata pelajaran di SMA Negeri 2 Lubuk Basung dan mencocokkan nya dengan pendekatan yang dikembangkan oleh Talcott Parson, yaitu dengan skema AGIL. Skema tersebut berupa Adaptasi. Goal Attainment. Integrasi dan Latensi (Rizer. Dalam teori Parson menjelaskan masyarakat merupakan suatu sistem yang kompleks dimana masyarakat terdiri dari berbagai struktur yang berkaitan satu sama lain. Parson berpandangan untuk menciptakan keseimbangan sosial maka diperlukan suatu struktur sosial yang baik, dikarenakan struktur sosial yang baik akan menciptakan keseimbangan sosial sehingga dapat mencapai tujuan dari sistem sosial. Dimana setiap warga sekolah seperti guru, kepala sekolah, wakil kurikulum, guru BK dan siswa merupakan anggota dari sistem sosial yang saling mempengaruhi satu sama lain. Pada penelitian ini meneliti bagaimana sekolah dan siswa beradaptasi dengan kurikulum yang baru yaitu kurikulum merdeka. Dari analisis data yang telah peneliti lakukan, peneliti akan mengembangkan hasil pembahasan sebagai berikut: Pertama. Adaptation (Adaptas. ini berarti bahwa sistem harus menyesuaikan diri dengan Untuk penyesuaian ini sistem harus didukung dengan sarana dan prasarana yang diperlukan (Raho, 2. Perubahan dari kurikulum K13 ke kurikulum merdeka belajar dalam pemilihan mata pelajaran pilihan merupakan hal yang baru. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan dari segala aspek dalam pemilihan mata pelajaran dan proses pembelajaran. Adaptasi sekolah dalam melaksanakan kurikulum merdeka di SMA Negeri 2 Lubuk Basung dianalisis menggunakan teori adaptasi agil yang dikembangkan oleh Talcott Parsons dengan skema AGIL. Adaptasi . dalam teori ini merujuk pada kemampuan sebuah sistem, dalam hal ini sekolah untuk menyesuaikan diri dengan kurikulum yang baru demi mencapai Dalam konteks implementasi kurikulum merdeka di SMA Negeri 2 Lubuk Basung menghadapi tantangan untuk menyesuaikan kurikulum dengan sistem pemilihan mata pelajaran pada kurikulum Selain penyesuaian kurikulum, adaptasi dalam tahapan persiapan, sosialisasi, proses pemilihan, pendampingan dan proses refleksi menjadi bagian penting. Oleh karena itu sistem sekolah seperti kepala sekolah, wakil kurikulum, guru BK dan siswa mesti dapat beradaptasi dengan adanya pembaruan pada Adaptasi sekolah dalam persiapan pemilihan mata pelajaran pilihan di SMA Negeri 2 Lubuk Basung berusaha melaksanakan langkah persiapan dengan melakukan rapat bersama unsur pimpinan untuk merencanakan pelaksanaan pemilihan mata pelajaran pilihan agar berjalan dengan baik dan lancar. (Sistem Pemilihan Mata A) Aini. & Sylvia. Adaptasi kedua. SMA Negeri 2 Lubuk Basung juga mampu beradaptasi dengan proses pemilihan mata pelajaran pilihan. Dimana pada kurikulum sebelum nya siswa memilih berdasarkan lintas jurusan bukan seperti yang sekarang ini yang sudah sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan siswa. Kenyataannya di sekolah mata pelaran pilihan ini dibuka kemampuan sekolah dan ketersedian guru. Siswa merasa mata pelajaran pilihan pada rumpun bahasa tidak wajib dipelajari karena sudah ada dipelajari pada jam wajib. Adaptasi ketiga. SMA Negeri 2 Lubuk Basung yang telah dilakukan dalam tahap pendampingan yaitu Dalam penyelenggaraan pendampingan setelah pemilihan mata pelajaran pilihan diperlukan dukungan dari satuan pendidikan seperti guru BK, bidang kurikulum dan bidang kesiswaan. Setelah menjalani pembelajaran pada mata pelajaran pilihannya, terdapat beberapa kemungkinan peserta didik ingin mengganti mata pelajaran pilihan mereka. Siswa dapat menukarkan mata pelajaran pilihan yang mereka dapatkan karena alasan tidak sesuai dengan guru, tidak sesuai dengan kelasnya, tidak sesuai dengan citacita, tidak sesuai dengan tujuan karir, dempet dengan jam pelajaran lainnya, dan karena ikut-ikutan teman. Kedua. Goal Attainment (Pencapaian tujua. , ini berarti bahwa sebuah sistem yang harus mampu menentukan tujuannya dan berusaha mencapai tujuan-tujuan yang telah direncanakan. Langkah pertama yang dilakukan oleh SMA Negeri 2 Lubuk Basung adalah mengadakan langkah sosialisasi dalam memilih mata pelajaran pilihan. Dalam upaya pencapaian tujuan tersebut SMA Negeri 2 Lubuk Basung proses sosialisasi merupakan tahap awal yang harus diberikan kepada siswa agar siswa mendapatkan berbagai informasi bagaimana pertimbangan yang harus dilakukan dalam memilih mapel pilihan. Selain itu sosialisasi tentang pemilihan mata pelajaran pilihan ini sangat penting untuk dilaksanakan sebagai bentuk upaya sekolah dalam memfasilitasi siswa agar paham tentang ketentuan pemilihan mata pelajaran pilihan. Berdasarkan hasil temuan peneliti dilapangan pada proses sosialisasi yang diberikan oleh guru BK dalam menentukan mata pelajaran pilihan siswa hanya diberikan satu kali. Kurikulum yang baru, pemahaman yang kurang dan kurang nya informasi tentang pemilihan mata pelajaran pilihan membuat siswa merasa ragu dan tidak yakin dengan mata pelajaran pilihan yang akan dipilih. Kedua, tes gaya belajar diberikan untuk menentukan minat dan bakat siswa. Tes gaya belajar ini dapat diakses secara online dan gratis oleh siswa, aplikasi tersebut adalah aplikasi aku pintar. Tidak semua siswa memahami hasil tes gaya belajar tersebut. Tanpa bimbingan dari guru dan orang tua, siswa kesulitan memahami hasil dan bagaimana cara mengimplementasikannya dalam strategi belajar siswa tersebut. Ketiga, kesulitan siswa dalam memilih mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan minat dan bakat siswa, dan keempat pada pendampingan setelah penetapan mata pelajaran pilihan terdapat beberapa kendala seperti, siswa yang ingin menukarkan mata pelajaran pilihan mereka dikarenakan tidak sesuai dengan guru, tidak sesuai dengan kelas, tidak sesuai dengan cita-cita, tidak sesuai dengan tujuan karir, dempet dengan jam pelajaran lainnya dan karena ikutikutan teman. Ketiga, integration (Integras. sebagai sebuah sistem harus mengkoordinasikan pembinaan dan memelihara hubungan antara subsistem agar keseluruhan sistem dapat berfungsi. Usaha Sekolah SMA Negeri 2 Lubuk Basung dalam menjaga kesatuan sistem pemilihan mata pelajaran pilihan dalam implementasi kurikulum merdeka di SMA Negeri 2 Lubuk Basung dianalisis menggunakan teori AGIL dari Talcott Parsons pada integrasi. Dalam teori AGIL integrasi fokus pada bagaimana suatu sistem sosial dapat menjaga harmoni dalam berbagai elemen yang ada, sehingga semua bagian dapat berjalan sebagaimana SMA Negeri 2 Lubuk Basung Pada integrasi sistem pemilihan mata pelajaran pilihan dalam implementasi kurikulum merdeka, integrasi ini mencakup pada kegiatan refleksi dan tindak lanjut dan tindak lanjut yang dilakukan oleh semua satuan pemangku kepentingan pendidikan. Kegiatan refleksi ini berfokus pada keseluruhan tahapan pelaksanaan pemilihan mata pelajaran pilihan. Hasil dari refleksi ini digunakan sebagai bahan evaluasi dan perbaikan mekanisme dalam proses pemilihan mata pelajaran pilihan dan layanan bimbingan konseling. Untuk menciptakan hubungan sosial yang baik, maka SMA Negeri 2 Lubuk Basung juga memelihara integration berupa komitmen untuk mencapai tujuan dari proses pemilihan mata pelajaran pilihan. Keempat. Latensi atau pemeliharaan pola yang mengatur proses pemilihan mata pelajaran pilihan di SMA Negeri 2 Lubuk Basung berkomitmen untuk memelihara nilai-nilai yang telah disepakati bersama. Dimana pihak sekolah memastikan pemilihan mata pilihan ini dapat berjalan dengan baik. Dengan begitu maka nilai-nilai yang disepakati oleh seluruh unsur yang ada di sekolah dapat terjaga sehingga mencapai tujuan bersama yaitu siswa dapat memilih mata pelajaran pilihan dalam kurikulum merdeka berdasarkan minat, bakat dan kemampuan siswa. Kesimpulan Hasil penelitian mengenai sistem pemilihan mata pelajaran pilihan dalam implementasi kurikulum merdeka di SMA Negeri 2 Lubuk Basung ditunjukkan dengan beberapa indikator. Pertama, tahap persiapan sekolah sudah merencanakan bagaimana proses pemilihan mata pelajaran pilihan agar berjalan baik dengan Naradidik: Journal of Education & Pedagogy ISSN: 2827-864X (Onlin. melakukan rapat pada awal tahun ajaran baru yang dilaksanakan oleh kepala sekolah, dan guru. Pada tahap sosialisasi pemilihan mata pelajaran pilihan yang dilakukan oleh guru BK tidak mencapai tujuan, karena sebagian besar siswa kurang memahami bagaimana memilih mata pelajaran pilihan dalam kurikulum Pemahaman siswa dalam menentukan mata pelajaran pilihan di kurikulum merdeka menjadi tantangan baru setelah peralihan dari kurikulum K13. Kurangnya informasi dan pemahaman tentang apa yang ditawarkan dimasing-masing rumpun mata pelajaran pilihan menghambat siswa untuk menentukan mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan siswa. Selanjutnya. SMA Negeri 2 Lubuk Basung dalam memilih mata pelajaran yang sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan siswa melalui tes gaya belajar. Tes gaya belajar yang diberikan oleh guru BK menggunakan aplikasi aku pintar yang dapat diakses secara gratis oleh siswa. Tidak semua siswa memahami hasil tes gaya belajar tersebut. Tanpa adanya bimbingan dari guru dan orang tua, siswa kesulitan memahami hasil dan bagaimana cara mengimplementasikannya dalam strategi belajar siswa tersebut. Kedua, proses pemilihan mata pelajaran pilihan terdapat beberapa kendala dalam proses pemilihan mata pelajaran pilihan disebabkan oleh kesulitan siswa dalam memilih mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan siswa. Selanjutnya, disebabkan oleh sekolah membuka mata pelajaran pilihan didasarkan pada kondisi fisik kelas dan jumlah guru yang tersedia dan dalam pemilihan mata pelajaran pilihan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, salah satunya pengaruh dari teman. Ketiga, pendampingan setelah penetapan mata pelajaran pilihan, setelah siswa berada di kelas mata pelajaran pilihan nya terdapat beberapa siswa yang meminta untuk pindah kelas karena faktor mengikuti teman, ketidak cocokan dengan guru, ketidak cocokan dengan kelas dan jam pelajaran yang dempet. Dalam beberapa kasus, alasan yang terkait dengan tujuan karir dan jam pelajaran yang dempet dengan jam pelajaran mata pelajaran wajib menjadi pertimbagan guru BK dalam manganti mata pelajaran pilihan tersebut. Keempat, refleksi dan tindak lanjut adalah refleksi terhadap hasil wawancara yang sudah dilaksanakan menunjukkan bahwa banyak siswa yang merasa ketidak sesuaian antara mata pelajaran pilihan yang mereka dapatkan dengan beberapa aspek penting dalam kehidupan mereka. Ketidaksesuaian tersebut seperti guru yang tidak sesuai, kelas yang tidak sesuaian, atau tidak sesuai dengan cita-cita dan tujuan karir, dapat menyebabkan ketidak puasan dalam berpotensi menghambat proses belajar mereka. Selain itu faktor sosial seperti ikut-ikutan teman juga menjadi alasan yang cukup signifikan dalam memilih mata pelajaran pilihan. Dengan melakukan melakukan kegiatan tindak lanjut ini diharapkan siswa lebih sesuai dengan pilihan mereka dan dapat fokus belajar sesuai dengan minat dan tujuan mereka. Daftar Pustaka