Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 BILINGUALISME DALAM PROSES PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA ARAB DI PONDOK PESANTREN ISLAMIC CENTER LIMBANGAN Hetty Waluati Triana1. Mahyudin Ritonga2. Yuke Alfi Zulyatmi 3 Magister Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Magister Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Magister Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang hettitriana@uinib. id1, mahyudinritonga@gmail. yukealfizulyatmi@gmail. ABSTRACT This research was conducted to find out how there is a process of bilingualism in learning Arabic speaking skills at the Islamic Center Limbangan Islamic Boarding School. To examine how the process of bilingualism occurs in learning Arabic speaking skills at this hut, researchers used descriptive methods to find data through observation and interviews. Based on the results of observations and interviews conducted by researchers with several related parties, several results were found including that it was true that in the process of learning Arabic at this cottage, there was a blend of languages or bilingualism, namely Arabic and Indonesian in everyday speech, but this becomes a major thing to form habituation and create a language environment. So it can be concluded that the application of bilingualism did not happen on purpose but was part of the language learning process at this Islamic boarding school. Keywords: Bilingualism. Arabic speaking skills. Islamic boarding schools ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana adanya proses bilingualisme dalam keterampilan berbicara bahasa Arab di Pondok Pesantren Islamic Center Limbangan yang mewajibkan para santri dan santriwati untuk berbicara dengan bahasa Arab. Tahap awal dalam keterampilan berbicara bahasa Arab adalah pembentukan lingkungan dan pembiasaan. Dalam bagaimana terjadinya proses bilingualisme dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Arab di pondok ini menggunakan metode deskriptif untuk menemukan data-data melalui observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan kepada beberapa pihak terkait, ditemukan beberapa hasil, diantaranya bahwa memang benar dalam proses pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren Islamic Center Limbangan terdapat perpaduan bahasa atau bilingualisme yaitu bahasa Arab dan bahasa Indonesia dalam berbicata sehari-hari, namun hal ini menjadi suatu yang utama untuk membentuk pembiasaan dan menciptakan lingkungan berbahasa sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan bilingualisme tidak terjadi dengan sengaja melainkan bagian daripada proses pembelajaran bahasa di Pondok Pondok Pesantren Islamic Center Limbangan. Kata kunci : Bilingualisme. Keterampilan berbicara bahasa Arab. Pondok Pesantren Volume 07 Nomor 02. Juli Ae Desember 2. 137 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 PENDAHULUAN Manusia muncul dari berbagai suku, ras, agama, dan budaya yang kaya, yang masing-masing berkontribusi pada keragaman dunia kita yang dinamis. Selain keragaman budaya ini, berbagai bahasa yang digunakan dalam komunitas kita mencerminkan nuansa lingkungan kita. Bahasa itu sendiri merupakan sarana komunikasi yang mendalam, yang terdiri dari simbol-simbol suara yang diartikulasikan melalui alat bicara manusia, yang berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan individu satu sama lain. Dengan demikian, bahasa memiliki makna yang sangat penting dalam interaksi sosial kita, berfungsi sebagai media verbal dan tertulis yang melaluinya kita mengartikulasikan keinginan, pikiran, dan emosi kita. (Devianty, 2. Keragaman yang ditemukan dalam bahasa seharihari mengartikulasikan ide dan emosi mereka dengan cara yang sesuai dengan diri Variasi bahasa ini tidak hanya memfasilitasi ekspresi diri tetapi juga berfungsi sebagai sarana pengaturan diri, memungkinkan individu untuk beradaptasi dengan konteks yang berbeda. Lebih jauh, hal ini memainkan peran penting dalam mendorong pemahaman lintas budaya, karena nuansa dalam penggunaan bahasa dapat mengungkapkan banyak hal tentang nilai dan perspektif komunitas yang berbeda. Mengingat keragaman bahasa yang digunakan di seluruh negeri ini, semakin banyak orang menyadari pentingnya bahasa dan pendidikan dalam membina warga negaranya dalam konteks negara yang merdeka. Ilmu bahasa memainkan peran penting dalam membentuk kebijakan bahasa, menyusun strategi implementasinya, mendorong pengembangan bahasa daerah, dan mempromosikan pendidikan dwibahasa. Akibatnya, manajemen yang efektif muncul sebagai elemen penting dalam keberhasilan pelaksanaan program dwibahasa, yang berfungsi sebagai aspek dasar dan aset penting bagi lembaga Dwibahasa berkomunikasi dalam dua bahasa atau lebih, yang mengharuskan penguasaan keduanya agar dapat digunakan secara efektif. Orang yang fasih dalam bahasa kedua disebut sebagai bilingual, sedangkan kemampuan untuk menguasai banyak bahasa disebut sebagai bilingualitas. (Kartikasar. Bilingualisme mencakup proses pemerolehan bahasa kedua, yang terkait erat dengan cara anak-anak mempelajari kata-kata, makna, struktur tata bahasa, dan penggunaan pragmatis. Volume 07 Nomor 02. Juli Ae Desember 2. 138 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 Ketika anak-anak diperkenalkan pada dua bahasa sejak usia dini, pengalaman pemerolehan bahasa mereka menjadi lebih rumit dan bernuansa. Pembelajar bilingual awal terlibat dengan kekayaan kedua bahasa, yang memungkinkan mereka untuk menavigasi dan menafsirkan lanskap linguistik yang beragam. Faktor penting yang berkontribusi pada perkembangan linguistik mereka adalah kualitas pendidikan, yang memainkan peran penting dalam memelihara keterampilan bahasa mereka. Bloomfield mendefinisikan bilingualisme sebagai kemampuan individu untuk menggunakan dua bahasa dengan kemahiran yang Sebaliknya. Robert Lado menyajikan perspektif yang agak berbeda, menggambarkan bilingualisme sebagai kapasitas untuk menggunakan satu bahasa dengan mahir. Akhirnya, kita dapat menyimpulkan bahwa bilingualisme melibatkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa secara efektif, bahkan jika kemahiran itu bervariasi, dan itu mengacu pada pengetahuan seseorang tentang dua bahasa pada tingkat kompetensi apa pun. (Rahay. Di sisi lain, "pesantren" berasal dari akar kata "santri," dengan tambahan awalan "pe" dan akhiran "an," yang secara kolektif menunjukkan tempat tinggal para santri. Menurut KH. Imam Zarkasyi, pesantren didefinisikan sebagai lembaga pendidikan Islam yang bercirikan sistem asrama atau pondok. Dalam lingkungan ini, kyai, atau pemimpin agama, memainkan peran penting, sementara masjid berfungsi sebagai pusat berbagai kegiatan, yang menginspirasi dan membimbing para santri dalam mengejar ajaran agama Islam di bawah bimbingan kyai. Pendekatan pembelajaran akademis tetapi juga pertumbuhan spiritual dalam lingkungan Dalam menelaah lanskap pendidikan di Indonesia, seseorang dapat menarik perbedaan yang berarti antara model sekolah berasrama dan nonasrama, khususnya dalam hal konotasi linguistiknya. Istilah "sekolah berasrama" berasal dari dua kata penting: "pondok" dan "pesantren. " Kata "pondok" yang dalam bahasa Indonesia berarti kamar kecil, gubuk, atau rumah, menyiratkan kesan kesederhanaan dan kesopanan dalam arsitekturnya. Kata ini mungkin juga berakar dari istilah Arab "funduk" yang merujuk pada ruang tidur. Secara umum, pondok berfungsi sebagai tempat berteduh dasar bagi para pelajar yang datang dari daerah yang jauh (Riskal Fitri, 2. Model Pesantren, khususnya Pesantren Modern, sangat menekankan pada pendidikan bilingual, dengan fokus pada penguasaan bahasa Arab dan Inggris. Selain pembelajaran formal, para santri Volume 07 Nomor 02. Juli Ae Desember 2. 139 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 didorong untuk menggunakan bahasa-bahasa tersebut dalam interaksi seharihari, sehingga menumbuhkan pemahaman praktis tentang keterampilan berbahasa mereka. Pendekatan ini berbeda dengan sekolah umum, yang tidak mengharuskan para santri untuk belajar atau menggunakan dua bahasa secara aktif, sehingga menonjolkan filosofi pendidikan pesantren yang unik dalam mempromosikan kemahiran berbahasa sebagai bagian integral dari pengalaman Fenomena bilingualisme dapat terwujud dalam berbagai lingkungan pendidikan, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Di Pondok Pesantren Islamic Center Limbangan, para santri menunjukkan bilingualisme sebagai alat Pengamatan ini mendorong peneliti untuk melakukan penelitian Bilingualisme didefinisikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur. Untuk memelihara potensi linguistik seorang anak secara efektif, sangat penting bahwa pengalaman pendidikan yang diberikan kompeten dan berkualitas tinggi. Pengamatan yang dilakukan oleh peneliti di Pondok Pesantren Islamic Center Limbangan menunjukkan bahwa para santri terlibat dalam penggunaan berbagai Model bilingual ini, yang digunakan dalam interaksi sehari-hari, menumbuhkan kebiasaan penggunaan dan menumbuhkan lingkungan linguistik yang kondusif. Akibatnya, dapat disimpulkan bahwa para santri ini memang Mengingat konteks ini, peneliti bertujuan untuk melakukan eksplorasi yang lebih mendalam tentang peran bilingualisme dalam pola bicara para santri di Pondok Pesantren Islamic Center Limbangan. Dengan ini peneliti akan mengangkat suatu penelitian dengan judul AuBilingualisme Dalam Proses Pembelajaran Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Di Pondok Pesantren Islamic Center LimbanganAy. LANDASAN TEORITIS DAN METODE Metodologi penelitian mengacu pada pendekatan atau kerangka kerja sistematis yang digunakan untuk mengumpulkan data secara ilmiah, yang berfungsi sebagai dasar untuk melakukan penelitian yang menyeluruh dan bermakna (Nurdiana, 2. Istilah "metode penelitian" berakar dari dua kata. "Metode" berasal dari kata Yunani "methodos," yang berarti jalan atau lintasan. Volume 07 Nomor 02. Juli Ae Desember 2. 140 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 "Penelitian" dibentuk dari kata "re," yang berarti kembali, dan "search," yang berarti Jadi, mencari kembali berarti terus mencari pengetahuan, mengumpulkan informasi untuk memperbaiki atau menyempurnakan suatu penyelidikan. Sugiono menyatakan bahwa itu adalah cara untuk mengumpulkan data yang valid secara ilmiah, yang bertujuan untuk menemukan, mengembangkan, dan membuktikan Pengetahuan memecahkan, dan mengantisipasi masalah yang muncul. (Nana Darna, 2. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha memahami realitas yang dihadapi oleh para siswa di sebuah pesantren di Jawa Barat. Fokusnya adalah pada bagaimana bilingualisme dalam pembelajaran bahasa dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab mereka. Ini adalah penelitian kualitatif, seperti yang dijelaskan oleh Denzin dan Lincoln, yang berlangsung dalam suasana alami. Tujuannya menggunakan berbagai metode untuk menangkap esensi perjuangan dan kemenangan mereka . oleong, 2. Digunakannya sebuah metode dalam penelitian merupakan hal yang teramat penting untuk membantu memudahkan peneliti dalam memecahkan dan menjelaskan sebuah permasalahan yang terjadi. Adapun peneliti pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yang dengan metode ini diharapkan dapat mempermudah menyelesaikan penelitian yang dilakukan. Dengan metode ini, peneliti berupaya untuk mengumpulkan data berupa kata-kata dan gambar bukan angka dengan melakukan observasi dan wawancara kepada beberapa pihak terkait sebagaimana dalam penelitian kuantitatif. Berdasarkan hal tersebut, para peneliti memilih pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengeksplorasi dan menganalisis pengalaman pemerolehan bahasa para siswa di Pondok Pesantren Islamic Center Limbangan. Jawa Barat, khususnya dalam kerangka bilingualisme. Pemilihan metodologi ini disengaja, karena sangat sesuai dengan fokus penelitian, sehingga memungkinkan pemahaman yang bernuansa dan artikulasi yang jelas dari temuan-temuan berdasarkan data yang dikumpulkan. Adapun sumber data penelitian ini bersumber dari observasi dan wawancara peneliti di sebuah Lembaga Pendidikan berbasis pesantren yang terletak di daerah Garut, tepatnya di desa Dunguswiru kecamatan blubur Limbangan Kabupaten Garut yaitu Pondok Pesantren Islamic Center Limbangan. Volume 07 Nomor 02. Juli Ae Desember 2. 141 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 Peneliti memilih Lembaga ini karena di sini para santri dan santriwati diajarkan kompetensi berbahasa untuk komunikasi serta mewajibkan mereka untuk berbicara Bahasa Arab. Terdapat beberapa keunikan saat peneliti melakukan observasi ke pondok ini yang mana ada proses bilingualisme pada pembelajaran keterampilan berbicara Bahasa Arab, sehingga peneliti pun berkeinginan untuk meneliti dan menelaah lebih mendalan tentang hal ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Proses pendidikan dan pembelajaran di pondok pesantren akan berbeda dengan pendidikan serta pembelajaran yang ada di luar pondok. Pendidikan yang teratur dan terbimbing selama 24 jam dengan keterlibatan guru bersama muridnya menjadi daya tarik lebih dalam proses pendidikan. Begitu pun dengan pembelajaran yang akan senantiasa terbimbing dan terawasi mengikuti arahan serta tujuan dari lembaga pendidikannya. Dan tujuan suatu lembaga pendidikan berbasis pesantren akan berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya, seperti salah satu pondok pesantren yang ada di Jawa Barat yaitu Pondok Pesantren Islamic Center Limbangan yang menjadi objek penelitian kali ini. Pondok pesantren Islamic Center Limbangan telah berdiri sejak lama dan pondok ini diwakafkan pada tahun 2014. Terciptanya santri yang mengerti, berbakti, surti, loyalitas terhadap tugas diri, negara dan tugas Gusti merupakan tujuan pondok ini, dengan mencetak santri yang mau mengamalkan hal terbaik bukan mencetak satri yang terbaik diharapkan dapat mewujudkan segala niat baik para pendidi pondok ini. Ilmu agama untuk menuntun para santri berjalan menjalankan segala kewajiban dan ilmu umum untuk menjadikan para santri berintelektual tinggi dengan mengepankan norma-norma agama senatiasa diajarkan kepada para santri. Namun, selain dari pada ilmu agama dan ilmu umum yang diajarkan di pondok ini, para santri juga dibekali dan dituntut untuk memiliki kemampuan lainnya dan menjadi salah satu program unggulan pondok ini yaitu kemampuan santri dalam berbicara bahasa Arab. Pembelajaran bahasa Arab berbeda dengan pembelajaran pelajaran lainnya, karena sejatinya pembelajaran bahasa yang terpenting adalah mempraktekannya. Di Pondok ini, para santri diajarkan Volume 07 Nomor 02. Juli Ae Desember 2. 142 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 pelajaran-pelajaran bahasa Arab dan dengan diadakannya kegiatan-kegiatan kebahasaan di setiap minggunya. Para santri seluruhnya diwajibkan untuk berbicara bahasa Arab, namun ada hal unik peneliti temui ketika melakukan observasi ke pondok dan melakukan wawancara dengan salah satu bagian yang mengurusi bahasa santri yaitu bagian bahasa. Berdasarkan menggunakan bahasa Arab. masih banyak percampuran bahasa Arab dan bahasa Indonesia diucapkan para santri. Seperti halnya yang sempat didengarkan peneliti ketika melakukan observasi, saat ada salah satu santriwati yang berkata Au A eA UOA e AaO a a eO aA A a eO a eOE IaOAOeA e aAI A e a AAyA. Dalam kalimat ini terdapat bilingualisme a AO eaA e A aI a eO aIA e a a Aa aA atau perpaduan dua bahasa yaitu bahasa Arab yang menjadi bahasa wajib di pondok dan bahasa Indonesia yang menjadi bahasa ibu mereka. Hal ini bukanlah karena ada unsur kesengajaan penutur, melainkan ketidaktahuan penutur dalam mengungkapkan beberapa kata bahasa Indonesia ke dalam bahasa Arab yang seharusnya diungkapkan. Berdasarkan hasil wawancara peneliti kepada salah satu bagian yang bertanggung jawab mengurusi kebahasaan yang ada di pondok ini yaitu bagian Lanaguge Advisory Council, temuan adanya bilingualisme pada proses pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Arab seperti yang ditemukan peneliti pada salah satu santriwati tadi, hal itu merupakan tahap awal dalam pembelajaran bahasa yang ada di pondok. Para santri dan santriwati dipaksa untuk berbicara sedikit demi sedikit bahasa Arab yang telah diketauinya. Karena pembentukan keterampilan berbicara ke depannya, maka merupakan hal wajar ketika para santri dan santriwati masih menggunakan dua bahasa dalam percakapan sehari-hari di pondok untuk proses pembelajaran pembiasaan terlebih dahulu. Hal inilah yang ditemukan peneliti pada proses pembelajaran di Pondok Pesantren Islamic Center Limbangan dengan adanya proses bilingualisme pada pembelaran bahasanya. Dan berdasarkan wawancara kepada salah satu santriwati yang ada di pondok, memang mereka terkadang menemukan kesulitan ketika berbicara bahasa Arab, terlebih saat ada kata yang belum diketahuinya, maka dia pun tidak ragu untuk Arab Indonesia pembelajaran dan pembiasaan, lalu dia akan menanyakannya kepada asatidz atau dia akan mencari sendiri dengan membuka kamus bahasa Arab. Volume 07 Nomor 02. Juli Ae Desember 2. 143 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 Selama 24 jam dalam sehari, para santri diwajibkan untuk berbicara bahasa Arab walaupun masih terdapat percampuran bahasa dengan bahasa Indonesia. Bimbingan para asatidz dan asatidzah yang juga standby di pondok untuk mendidik dan mengajari mereka. Dimulai dengan penyampaian kosa-kata setiap hari setelah shalat shubuh tepat dan adanya pembelajaran bahasa di kelas diharapkan dapat menunjang para santri dan santriwati untuk dapat menguasai bahasa Arab. Perpaduan dua bahasa dalam proses pembelajaran merupakan tahap dasar dalam membentuk lingkungan berbahasa dan dasar dalam menciptakan kebiasaan berbicara bahasa Arab. Untuk kebahasaan para santri dan santriwati, diajarkan pula ilmu-ilmu kebahasaan seperti Nahwu dan Sharf setelah para santri benar-benar terbiasa untuk mengungkapkan dan berbicara dengan bahasa arab di dalam keseharian mereka. Dan hal ini sangat penting pula untuk menjadikan para santri dan santriwati mahir dalam berbicara bahasa Arab baik dan juga benar dengan kaidah-kaidah kebahasa Araban yang berlaku. Dan harapannya dengan pembelajaran bahasa Arab di pondok ini, para santri dan santriwati bukan hanya dapat berkomunikasi dengan bahasa Arab, melainkan juga dapat mahir dalam ilmu agama dengan dapat membaca sumber-sumber ilmu agama al-QurAoan. Hadits dan kita-kitab para ulama-ulama Islam terdahulu. Analisis Berdasarkan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti, maka memang benar adanya bahwa di Pondok Pesatren Islamic Center Limbangan proses pembelajaran untuk meningkatkan bahsasa Arab santri diperlukan pembiasaan untuk membentuk lingkungan berbahasa Arab, dan hal ini dapat ditempuh dengan adanya bilingualisme dalam proses pembelajaran bahasa Arab di pondok ini saat tahap pemaksaan untuk membentuk Akan tetapi hal ini bukanlah hal yang baru, melainkan hal yang sudah banyak dilakukan oleh lembaga-lembaga yang sudah berkembang lainnya seperti di Pondok Modern Darussalam Gontor. Pada tahap awal, para santri pun diijinkan untuk menggunakan dua bahasa dalam percakapan sehari-hari, namun seiring dengan meningkatnya kelas yang ditempuh maka hilang pula bahasa Indonesia Volume 07 Nomor 02. Juli Ae Desember 2. 144 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 secara sedikit demi sedikit. Dan di Pondok Pesantren Islamic Center Limbangan, tempat peneliti meneliti dengan observasi dan wawancara kepada beberapa pihak, diwajibkannya para santri berbicara bahasa Arab dengan masih adanya campuran bahasa Indonesia ini diberlakukan untuk membentuk pembiasaan santri dalam berbicara bahasa Arab, melalui pemaksaan diharapkan para santri dan santri wati terbiasa untuk berbicara bahasa Arab. Tujuan pembelajaran bahasa Arab di pondok ini adalah untuk menjadikan para santri mahir dalam berkomunikasi dengan bahasa Arab dan dapat memahami ilmu-ilmu agama yang secara utuh menggunakan bahasa Arab melalui kitab-kitab kuning yang dikaji para santri. KESIMPULAN Pembelajaran bahasa arab berbeda dengan pembelajaran keilmuan lainnya. Pembelajaran bahasa diperlukan pembiasaan dengan praktek setiap harinya untuk menjadikan lisan terbiasa mengucapkannya. Hal ini ditempuh oleh salah satu lembaga pendidikan yang ada di Jawa Barat tepatnya di Limbangan Garut yaitu di Pondok Pesantren Islamic Center Limbangan. Berdasarkan data hasil dan pembahasan yang disampaikan, bilingualisme dalam pembelajaran bahasa di Pondok Pesantren Islamic Center Limbangan dilakukan untuk membentuk pembiasaan dan untuk menciptakan lingkungan berbahasa bagi santri dan Hal ini dilakukan karena memang tahap awal dalam belajar bahasa untuk berkomunikasi adalah latihan membiasakan diri untuk berbicara. Terkait benar atau salah dikesampingkan terlebih dahulu untuk menjadikan para santri dan santriwati terbiasa, namun sebelum fase pembiasaan tentu ada fase paksaan terlebih dahulu, jadi para santri dan santriwati dipaksa untuk berbicara berbahasa Arab semampunya. Inilah yang menjadikan adanya proses bilingualisme dalam pembelajaran berbicara bahasa Arab bagi para santri dan santriwati. Proses bilingualisme bahasa ini tidak bisa dihindari karena membutuhkan proses yang tidak sebentar untuk menjadikan para santri dan santriwati benar-benar menguasai keterampilan berbicara bahasa Arab seutuhnya. Volume 07 Nomor 02. Juli Ae Desember 2. 145 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 REFERENSI