Elektriese: Jurnal Sains dan Teknologi Elektro Volume 15. Number 02. Oktober 2025 e-ISSN: 2830-3512X https://doi. org/10. 47709/elektriese. RGEC: Menguak Kesehatan dan Potensi Financial Distress BTPN Syariah Author: Renita Cahyani1 Tina Lestari2 Afiliation: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pancasetia Banjarmasin1,2 Corresponding email tn@gmail. Histori Naskah: Submit: 2025-07-04 Accepted: 2025-10-24 Published: 2025-10-26 This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. Interational License Abstrak: Dalam era digital dan transformasi industri keuangan, perbankan syariah berperan penting dalam memperkuat sistem keuangan nasional. Pertumbuhan signifikan tercermin dari peningkatan aset industri perbankan syariah di Indonesia dari Rp441,79 triliun pada 2021 menjadi Rp594,71 triliun pada 2023 (OJK, 2. , menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap produk keuangan berbasis syariah. Namun, pertumbuhan tersebut disertai tantangan berupa risiko kredit, pasar, dan operasional yang dapat memengaruhi stabilitas bank. Penelitian ini berfokus pada PT Bank BTPN Syariah Tbk yang berperan dalam inklusi keuangan masyarakat pra-sejahtera. Tujuan penelitian adalah menganalisis tingkat kesehatan dan potensi financial distress Bank BTPN Syariah selama 2021Ae2023 menggunakan metode RGEC (Risk Profile. Good Corporate Governance. Earnings. Capita. sesuai POJK No. 4/POJK. 03/2016. Penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif menggunakan data sekunder dari laporan keuangan dan studi Hasil menunjukkan rasio NPF masih tergolong Sehat meski meningkat pada 2022Ae2023. FDR berada pada kategori Cukup Sehat, dan GCG memperoleh peringkat 2 (Seha. selama tiga tahun. ROA menunjukkan kinerja sangat baik hingga 2022 namun menurun pada 2023, sementara ROE cenderung menurun (Kurang Seha. BOPO meningkat pada 2023, menandakan tekanan efisiensi, sedangkan CAR tetap tinggi dan stabil. Secara keseluruhan. PT Bank BTPN Syariah Tbk berada dalam kondisi Sehat dan resilien, dengan rekomendasi peningkatan manajemen risiko kredit dan efisiensi biaya untuk menjaga stabilitas jangka panjang Keywords: BTPN Syariah. Financial Distress. Kesehatan Bank. Manajemen Risiko. Perbankan Syariah. RGEC. Pendahuluan Dalam era digital dan transformasi industri keuangan yang semakin pesat, perbankan syariah menempati posisi strategis sebagai salah satu pilar utama dalam sistem keuangan nasional. Perkembangan teknologi informasi dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap prinsip-prinsip keuangan berbasis syariah telah mendorong pertumbuhan signifikan sektor ini. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total aset perbankan syariah di Indonesia meningkat dari Rp441,79 triliun pada tahun 2021 menjadi Rp594,71 triliun pada tahun 2023, menunjukkan peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan syariah (Ojk. Otoritas Jasa Keuangan, 2. Meskipun menunjukkan pertumbuhan positif, industri perbankan syariah tetap menghadapi tantangan signifikan, terutama akibat dampak pandemi COVID-19 yang menekan aktivitas ekonomi sejak tahun 2020. Namun, berbagai kebijakan pemulihan ekonomi nasional serta inovasi digital di sektor perbankan berhasil memperkuat daya tahan industri ini. Peningkatan aset yang konsisten di atas rata-rata industri konvensional Elektriese: Jurnal Sains dan Teknologi Elektro Volume 15. Number 02. Oktober 2025 e-ISSN: 2830-3512X https://doi. org/10. 47709/elektriese. menegaskan kemampuan perbankan syariah dalam beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis dan perilaku nasabah (Rahmawati. Putri, & Ahmad, 2. Pertumbuhan positif tersebut tidak lepas dari beberapa faktor utama. Pertama, meningkatnya preferensi masyarakat terhadap produk keuangan yang sesuai prinsip syariah. Kedua, dukungan regulasi dan kebijakan pemerintah dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah. Ketiga, percepatan adopsi teknologi digital yang memperluas jangkauan layanan keuangan syariah hingga ke segmen masyarakat yang sebelumnya sulit terlayani (Prasetyo & Wulandari, 2. Dalam konteks ini. PT Bank BTPN Syariah Tbk menjadi salah satu lembaga yang menonjol karena fokusnya pada pembiayaan masyarakat prasejahtera dan mikro, yang berperan penting dalam memperkuat inklusi keuangan nasional (Syariah, 2. Laporan tahunan Bank BTPN Syariah Tbk menunjukkan peningkatan aset yang konsisten didukung oleh pertumbuhan dana pihak ketiga, pembiayaan produktif, serta efisiensi operasional yang baik. Namun demikian, pertumbuhan tersebut perlu diimbangi dengan analisis tingkat kesehatan bank untuk memastikan keberlanjutan dan ketahanan keuangannya. Sebagai lembaga keuangan, bank syariah dihadapkan pada berbagai risiko, seperti risiko kredit, likuiditas, operasional, serta profitabilitas yang jika tidak dikelola dengan baik dapat memicu financial distress dan mengancam stabilitas institusi (Kontan. id, 2. Untuk menilai ketahanan dan keberlanjutan operasional bank, metode RGEC (Risk Profile. Good Corporate Governance. Earnings, dan Capita. yang diatur melalui POJK No. 4/POJK. 03/2016 menjadi acuan penting dalam mengevaluasi kinerja keuangan dan risiko perbankan (Otoritas Jasa Keuangan, 2016. Melalui pendekatan ini, aspek manajemen risiko, tata kelola, pendapatan, dan permodalan dapat dianalisis secara menyeluruh guna memberikan gambaran kesehatan bank yang komprehensif. Dalam hal ini. Bank BTPN Syariah Tbk menghadapi berbagai tantangan, termasuk risiko kredit akibat menurunnya daya beli masyarakat, fluktuasi pasar, dan perubahan teknologi yang menuntut efisiensi operasional tinggi (Ojk. Otoritas Jasa Keuangan, 2. Selain aspek risiko, tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) juga menjadi faktor fundamental dalam menjaga transparansi, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap prinsip syariah. Bank BTPN Syariah Tbk memperoleh peringkat 2 dalam penilaian GCG selama periode 2021Ae2023, yang mengindikasikan penerapan tata kelola yang efektif (Bank BTPN Syariah, 2. Namun, dinamika industri keuangan syariah yang terus berkembang menuntut peningkatan berkelanjutan terhadap kualitas tata kelola agar tetap relevan dengan perubahan kebijakan dan standar global (Prasetyo & Wulandari, 2. Kinerja keuangan bank juga dipengaruhi oleh aspek Earnings dan Capital. Data menunjukkan bahwa laba bersih Bank BTPN Syariah Tbk meningkat dari Rp1,46 triliun . menjadi Rp1,78 triliun . sebelum menurun menjadi Rp1,08 triliun . , sementara Capital Adequacy Ratio (CAR) tetap berada jauh di atas batas minimum ketentuan OJK, mencerminkan kapasitas permodalan yang kuat (Bank BTPN Syariah, 2. Rasio-rasio keuangan seperti Return on Assets (ROA) dan CAR menjadi indikator penting dalam mendeteksi potensi financial distress, karena mencerminkan efisiensi penggunaan aset dan kecukupan modal dalam menghadapi risiko keuangan (Rahmawati. Putri, & Ahmad, 2. Analisis kesehatan keuangan Bank BTPN Syariah Tbk dengan metode RGEC selama periode 2021Ae2023 menjadi relevan mengingat peran strategis bank ini dalam ekosistem keuangan syariah nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan prinsip RGEC serta mengidentifikasi potensi financial distress berdasarkan indikator risiko, tata kelola, pendapatan, dan permodalan. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai kondisi kesehatan keuangan Bank BTPN Syariah Tbk, serta menawarkan rekomendasi strategis untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan bank syariah di Indonesia. Elektriese: Jurnal Sains dan Teknologi Elektro Volume 15. Number 02. Oktober 2025 e-ISSN: 2830-3512X https://doi. org/10. 47709/elektriese. Selain itu, penelitian ini berkontribusi dalam mengisi kesenjangan literatur akademik terkait analisis kesehatan bank syariah berbasis RGEC yang selama ini masih terbatas, terutama pada konteks bank yang berfokus pada segmen masyarakat prasejahtera. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya memiliki nilai praktis bagi manajemen bank dan regulator, tetapi juga memberikan kontribusi ilmiah bagi pengembangan kajian manajemen risiko dan stabilitas perbankan syariah di Indonesia. Studi Literatur Teori Sinyal Teori Sinyal (Signaling Theor. menjelaskan bahwa ketika terjadi asimetri informasi, pihak yang memiliki informasi lebih . eperti ban. akan mengirimkan sinyal untuk mengurangi ketidakpastian bagi pihak Dalam industri perbankan, rasio keuangan seperti ROA. ROE. CAR. FDR. BOPO, dan GCG menjadi sinyal utama yang mencerminkan kesehatan, efisiensi, dan transparansi manajemen. Bagi Bank BTPN Syariah Tbk, sinyal positifAiseperti NPF rendah dan CAR tinggiAimengindikasikan stabilitas dan kredibilitas dalam pengelolaan risiko. (Spence, 1. Akuntansi Keuangan Akuntansi keuangan merupakan proses penyajian informasi keuangan yang relevan dan andal bagi pihak eksternal (Kieso. Weygandt, & Warfield, 2. Informasi ini disajikan dalam bentuk laporan keuangan yang menggambarkan posisi keuangan, kinerja, dan arus kas entitas pada periode tertentu. PSAK No. (IAI, 2. menegaskan bahwa laporan keuangan berfungsi menyediakan informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan ekonomi. Laporan Keuangan Menurut PSAK No. 1 (IAI, 2. , laporan keuangan merupakan penyajian sistematis mengenai posisi keuangan, kinerja, dan arus kas perusahaan selama periode tertentu. Laporan ini berfungsi sebagai alat utama untuk menilai efektivitas strategi manajemen dalam mencapai profitabilitas dan stabilitas (Sari. Lestari, & Handayani, 2. Lembaga Keuangan Perbankan Syariah Bank syariah adalah lembaga keuangan yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah Islam, melarang riba, gharar, dan maysir, serta berpedoman pada fatwa Dewan Syariah Nasional (Ojk. Otoritas Jasa Keuangan, 2. Bank syariah berfungsi menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat, menyediakan layanan keuangan, serta memiliki fungsi sosial melalui pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (UU No. Tahun 2. Ciri khasnya mencakup sistem bagi hasil, prinsip keadilan, transparansi, dan keberadaan Dewan Pengawas Syariah (DPS). Bank syariah merupakan lembaga keuangan yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah Islam, termasuk larangan terhadap riba, gharar, dan maisir (OJK, 2. Prinsip keadilan, keseimbangan, dan kemaslahatan menjadi landasan utama dalam setiap transaksi. Kinerja Keuangan Bank Syariah Kinerja keuangan menunjukkan kemampuan bank dalam mengelola aset, kewajiban, dan modal sesuai prinsip syariah. Indikator utamanya meliputi: Profitabilitas (ROA. ROE. BOPO). Likuiditas (FDR). Risiko Pembiayaan (NPF), dan Kecukupan Modal (CAR). (Company, 2. Nilai rasio yang baik mencerminkan efektivitas manajemen dalam mencapai efisiensi dan stabilitas keuangan. Kesehatan Bank dan Metode RGEC Kesehatan bank menggambarkan kemampuan bank menjalankan fungsi intermediasi, menjaga likuiditas, serta memenuhi kewajiban (Nurafini, 2. Berdasarkan PBI No. 13/1/PBI/2011, penilaian dilakukan Elektriese: Jurnal Sains dan Teknologi Elektro Volume 15. Number 02. Oktober 2025 e-ISSN: 2830-3512X https://doi. org/10. 47709/elektriese. dengan lima peringkat komposit (PK-1 sampai PK-. untuk menunjukkan tingkat kesehatan bank. Evaluasi ini penting bagi regulator, investor, dan publik sebagai ukuran kepercayaan dan stabilitas industri Penilaian kesehatan bank di Indonesia mengacu pada metode RGEC sesuai Surat Edaran OJK No. 10/SEOJK. 03/2014. RGEC mencakup empat komponen utama: Risk Profile, diukur melalui rasio NPF dan FDR. Good Corporate Governance (GCG), menilai kualitas tata Kelola. Earnings, diukur melalui ROA. ROE, dan BOPO. Capital, diukur melalui CAR. Financial Distress Financial distress adalah kondisi penurunan kemampuan keuangan sebelum kebangkrutan, ditandai ketidakmampuan memenuhi kewajiban (Foster, 1. Model prediksi seperti Altman Z-score. Springate, dan Zmijewski menggunakan indikator ROA dan CAR sebagai penentu utama (Habbi & Harto, 2. Penelitian (Fitri, 2. dan (Subiyanto, 2. menunjukkan bahwa ROA. ROE. CAR, dan NPF berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan dan harga saham bank syariah, mendukung teori sinyal. ROA dan FDR berpengaruh terhadap tingkat kesehatan bank, sedangkan penerapan GCG meningkatkan profitabilitas (Putri, 2. Indikator keuangan dan non-keuangan menjadi sinyal utama stabilitas bank (Ningsih, 2. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk memberikan gambaran yang sistematis, faktual, dan akurat mengenai kondisi serta fenomena yang terjadi pada objek penelitian. Penelitian kualitatif digunakan untuk menyelidiki, menggambarkan, dan menemukan makna dari objek yang diteliti dalam konteks sosial yang alami. Pendekatan ini berbeda dari penelitian kuantitatif yang lebih menekankan pada data numerik dan pengujian hipotesis. Adapun penelitian deskriptif dimaksudkan untuk mengetahui nilai atau kondisi variabel yang bersifat independen sehingga menghasilkan pemahaman mendalam tentang variabel-variabel yang diteliti. (Zakariah, 2. Dalam penelitian ini, data yang digunakan berasal dari data sekunder, yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian, melainkan melalui sumber lain yang telah terdokumentasi sebelumnya. Data sekunder tersebut meliputi laporan keuangan tahunan Bank BTPN Syariah Tbk serta dokumen resmi lainnya yang relevan dengan topik penelitian. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), data sekunder mencakup data yang dikumpulkan oleh pihak lain dalam bentuk bukti, catatan, atau laporan yang terdokumentasi baik yang dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan. Sumber data utama dalam penelitian ini berasal dari situs resmi Bank BTPN Syariah Tbk dan Bursa Efek Indonesia. Jenis data yang digunakan meliputi data kualitatif berupa profil perusahaan PT Bank BTPN Syariah Tbk serta data kuantitatif berupa laporan keuangan tahunan dan laporan tata kelola perusahaan periode 2021Ae Data kuantitatif tersebut mencakup laporan posisi keuangan, laporan laba rugi komprehensif, laporan arus kas, serta laporan self-assessment tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance/GCG). Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif untuk menilai tingkat kesehatan bank dengan mengacu pada metode RGEC (Risk Profile. Good Corporate Governance. Earnings, dan Capita. sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank. Analisis dilakukan dengan menelaah data laporan keuangan secara sistematis, kemudian mengidentifikasi pola, kecenderungan, dan hubungan antarvariabel yang relevan. Data dianalisis untuk menilai setiap komponen penilaian, yaitu: . Risk Profile, yang diukur melalui rasio Non-Performing Financing (NPF) dan Financing to Deposit Ratio (FDR). Good Corporate Governance (GCG), berdasarkan hasil selfassessment dan laporan tahunan. Earnings, yang dievaluasi melalui rasio Return on Assets (ROA). Return on Equity (ROE), dan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO). Capital, yang diukur dengan rasio Capital Adequacy Ratio (CAR). Selain itu, potensi financial distress dianalisis Elektriese: Jurnal Sains dan Teknologi Elektro Volume 15. Number 02. Oktober 2025 e-ISSN: 2830-3512X https://doi. org/10. 47709/elektriese. dengan memanfaatkan rasio ROA dan CAR sebagai indikator utama yang merefleksikan kemampuan bank dalam mempertahankan kinerja keuangan dan kecukupan modalnya. Proses analisis dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu: . Mengumpulkan laporan keuangan dan laporan tata kelola dari periode penelitian yang relevan. Menghitung seluruh rasio keuangan berdasarkan data laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, serta catatan atas laporan keuangan. Melakukan penilaian terhadap masing-masing faktor penilaian RGEC dan mengidentifikasi tren pergerakan nilai rasio keuangan selama tiga tahun penelitian. Menilai tingkat kesehatan bank dan potensi financial distress dengan mengacu pada peringkat komposit yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, dengan bobot penilaian sebagai berikut: Peringkat 1 (PK-. : Sangat sehat. Peringkat 2 (PK-. : Sehat. Peringkat 3 (PK-. Cukup sehat. Peringkat 4 (PK-. : Kurang sehat. Peringkat 5 (PK-. : Tidak sehat. Peringkat komposit dihitung dengan mengalikan bobot nilai setiap komponen dan mengonversinya ke dalam persentase untuk memperoleh peringkat keseluruhan bank. Interpretasi hasil analisis ini memberikan pemahaman menyeluruh mengenai kondisi kesehatan keuangan Bank BTPN Syariah Tbk serta kemampuannya dalam mengantisipasi potensi risiko keuangan selama periode 2021Ae2023. Untuk memastikan keabsahan hasil penelitian, dilakukan triangulasi sumber data, yakni dengan membandingkan data dari berbagai dokumen resmi dan publikasi otoritatif guna memperoleh validitas dan reliabilitas hasil analisis yang kuat. Hasil akhir dari analisis ini diinterpretasikan secara deskriptif untuk memberikan gambaran empiris mengenai tingkat kesehatan dan potensi financial distress pada Bank BTPN Syariah Tbk. Hasil Kesehatan suatu bank mencerminkan kemampuan lembaga tersebut dalam menjalankan kegiatan operasional secara efisien, memenuhi kewajiban kepada nasabah dan regulator, serta mempertahankan stabilitas keuangan di tengah dinamika ekonomi. Penilaian tingkat kesehatan bank menjadi aspek krusial karena berhubungan langsung dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi perbankan. Hanya bank yang memiliki tingkat kesehatan baik yang mampu memberikan pelayanan optimal dan menjaga keberlanjutan operasionalnya. Dalam konteks ini, penilaian kesehatan Bank BTPN Syariah Tbk dilakukan dengan menggunakan pendekatan RGEC (Risk Profile. Good Corporate Governance. Earnings, dan Capita. sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 dan Surat Edaran No. 13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011. Berikut gambar Berikut i rangkuman data laporan keuangan dan gambar kenaikan dan penurunan keuangan Keuangan Bank BTPN Syariah Tbk . Tabel 1. 1 Rangkuman Data Laporan Keuangan Periode 2021-2023 Sumber: Diolah Elektriese: Jurnal Sains dan Teknologi Elektro Volume 15. Number 02. Oktober 2025 e-ISSN: 2830-3512X https://doi. org/10. 47709/elektriese. Gambar 1. 1 Data Keuangan Periode 2021-2023 Sumber: Diolah Risk Profile (Profil Risik. Aspek Risk Profile dinilai melalui rasio Non-Performing Financing (NPF) dan Financing to Deposit Ratio (FDR). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa NPF Bank BTPN Syariah Tbk meningkat dari 2,37% pada tahun 2021 menjadi 2,65% pada 2022, dan kembali naik menjadi 2,93% pada 2023. Kenaikan ini menunjukkan adanya peningkatan pembiayaan bermasalah, namun masih berada dalam batas kategori AuSehatAy . Kondisi ini mengindikasikan bahwa manajemen bank tetap mampu mengendalikan risiko kredit dengan baik meskipun terjadi tekanan ekonomi makro. Sementara itu, rasio FDR berada pada kisaran yang stabil dan tergolong AuCukup SehatAy . , dengan nilai 95,17% pada tahun 2021, meningkat menjadi 95,68% pada 2022, dan sedikit menurun menjadi 93,78% pada 2023. Rasio ini menunjukkan bahwa bank relatif optimal dalam menyalurkan pembiayaan terhadap dana pihak ketiga, meskipun likuiditasnya perlu dikelola lebih hati-hati agar tetap seimbang antara ekspansi pembiayaan dan kesiapan cadangan likuid. Good Corporate Governance (GCG) Dalam aspek Good Corporate Governance (GCG). Bank BTPN Syariah Tbk secara konsisten memperoleh peringkat 2 . redikat AuSehatA. selama periode 2021Ae2023 berdasarkan hasil self-assessment yang dilakukan sesuai Surat Edaran BI No. 15/15/DPNP Tahun 2013. Hasil ini menggambarkan bahwa prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, dan keadilan telah diterapkan dengan baik di seluruh tingkat organisasi. Meskipun masih terdapat ruang perbaikan, terutama dalam efisiensi operasional dan pelaporan, penerapan tata kelola yang baik menunjukkan komitmen bank untuk menjaga integritas dan kepercayaan publik. Earnings (Rentabilita. Aspek Earnings dianalisis menggunakan rasio Return on Assets (ROA). Return on Equity (ROE), dan Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO). Rasio ROA menunjukkan kemampuan bank dalam menghasilkan laba dari aset yang dimiliki. Selama periode penelitian, nilai ROA tercatat sebesar 10,12% pada 2021, meningkat menjadi 10,76% pada 2022, namun turun menjadi 6,43% pada 2023. Meskipun terjadi penurunan, rasio ini masih berada pada peringkat 1 . redikat AuSangat SehatA. , yang menandakan efektivitas pengelolaan aset secara keseluruhan. Elektriese: Jurnal Sains dan Teknologi Elektro Volume 15. Number 02. Oktober 2025 e-ISSN: 2830-3512X https://doi. org/10. 47709/elektriese. Rasio ROE menunjukkan fluktuasi yang cukup signifikan, yakni 20,65% pada 2021, meningkat menjadi 21,16% pada 2022, dan turun menjadi 12,31% pada 2023. Penurunan tajam ROE pada tahun terakhir menunjukkan adanya tekanan terhadap profitabilitas yang disebabkan oleh meningkatnya beban operasional dan menurunnya laba bersih. Hal ini mengindikasikan perlunya strategi efisiensi yang lebih agresif untuk mempertahankan tingkat pengembalian terhadap modal. Sementara itu, rasio BOPO meningkat dari 55,24% pada 2022 menjadi 74,08% pada 2023, yang menunjukkan penurunan efisiensi operasional. Meskipun demikian, rasio ini masih berada di bawah batas 83%, sehingga tetap masuk kategori AuSangat Sehat. Ay Kenaikan BOPO yang signifikan menunjukkan perlunya pengendalian biaya administrasi, tenaga kerja, dan investasi teknologi agar profitabilitas tidak terus tergerus. Capital (Permodala. Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) menggambarkan kemampuan bank dalam menanggung risiko kerugian melalui kecukupan modal yang dimiliki. Selama periode analisis. CAR Bank BTPN Syariah Tbk mengalami penurunan bertahap dari 60,44% pada 2021 menjadi 55,56% pada 2022, dan 54,29% pada 2023. Meskipun demikian, angka ini masih jauh di atas ketentuan minimum OJK sebesar 8%, sehingga dapat dikategorikan AuSangat Sehat. Ay Kondisi ini menandakan bahwa bank memiliki cadangan modal yang sangat memadai untuk menghadapi potensi risiko keuangan di masa mendatang. Peringkat Komposit dan Rekonsiliasi Tingkat Kesehatan Bank Berdasarkan hasil penilaian komposit dengan pendekatan RGEC. Bank BTPN Syariah Tbk memperoleh peringkat komposit (PK) 1 dengan predikat AuSangat SehatAy pada tahun 2021 dan 2022, serta PK 2 dengan predikat AuSehatAy pada tahun 2023. Penurunan peringkat ini terutama disebabkan oleh melemahnya rasio ROE dan meningkatnya rasio BOPO serta NPF. Namun demikian, secara umum bank tetap menunjukkan stabilitas keuangan dan tidak memperlihatkan indikasi financial distress yang signifikan. Hasil rekonsiliasi dari seluruh aspek menunjukkan bahwa Bank BTPN Syariah Tbk masih berada dalam kondisi yang baik dan memiliki ketahanan yang kuat terhadap risiko sistemik. Profitabilitas dan efisiensi operasional menjadi area yang memerlukan perhatian manajemen ke depan, khususnya dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi pembiayaan, efisiensi biaya, dan manajemen risiko kredit. Potensi Financial Distress Analisis terhadap potensi financial distress dilakukan melalui dua rasio utama, yaitu Return on Assets (ROA) dan Capital Adequacy Ratio (CAR). Berdasarkan hasil pengukuran, meskipun ROA mengalami penurunan pada 2023, nilai tersebut masih berada di atas ambang batas sehat, menunjukkan bahwa bank tetap efisien dalam menghasilkan laba dari aset yang dimiliki. Sementara itu, rasio CAR yang tetap tinggi menunjukkan kecukupan modal yang kuat dan menjadi faktor utama yang mengurangi risiko kebangkrutan. Dengan demikian. Bank BTPN Syariah Tbk dapat dikategorikan sebagai bank dengan tingkat financial distress yang rendah, yang berarti mampu menjaga stabilitas keuangan dan mendukung pertumbuhan Pembahasan Tingkat kesehatan bank merupakan indikator penting dalam menilai kemampuan lembaga keuangan dalam mengelola risiko, menjaga stabilitas keuangan, serta mempertahankan kepercayaan publik. Berdasarkan hasil analisis terhadap PT Bank BTPN Syariah Tbk selama periode 2021Ae2023, penilaian tingkat kesehatan bank mengacu pada pendekatan RGEC (Risk Profile. Good Corporate Governance. Earnings, and Capita. sebagaimana ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Elektriese: Jurnal Sains dan Teknologi Elektro Volume 15. Number 02. Oktober 2025 e-ISSN: 2830-3512X https://doi. org/10. 47709/elektriese. Dari aspek Risk Profile, hasil pengukuran terhadap rasio Non-Performing Financing (NPF) menunjukkan bahwa Bank BTPN Syariah Tbk secara konsisten berada pada kategori AuSehat. Ay Pada tahun 2021, rasio NPF mencerminkan kemampuan manajemen dalam menjaga kualitas pembiayaan dengan efektif, sebagaimana juga dijelaskan oleh Fadhilah dan Suprayogi . bahwa rasio NPF yang rendah menjadi indikator utama dari kualitas aset yang baik serta pengendalian risiko kredit yang memadai. Namun, peningkatan NPF pada tahun 2022 dan 2023 menunjukkan adanya tekanan pada pengelolaan risiko pembiayaan, terutama pada kategori kredit bermasalah. Temuan ini sejalan dengan pandangan Ardyanfitri et al. bahwa kenaikan NPF menuntut penguatan strategi mitigasi risiko, seperti peningkatan pengawasan kredit dan restrukturisasi pembiayaan. Dengan demikian, meskipun masih berada dalam kategori AuSehat,Ay tren kenaikan NPF perlu menjadi fokus perbaikan agar stabilitas pembiayaan dapat terjaga secara berkelanjutan. Selanjutnya, pada rasio Financing to Deposit Ratio (FDR), bank mempertahankan predikat AuCukup SehatAy selama tiga tahun berturut-turut. Hal ini mengindikasikan bahwa bank memiliki kemampuan yang memadai dalam menyalurkan pembiayaan dengan tetap menjaga keseimbangan likuiditas. Meskipun terjadi penurunan rasio FDR pada tahun 2023 akibat kebijakan konservatif dalam menyalurkan pembiayaan, kondisi tersebut menunjukkan kehati-hatian manajemen dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi. Namun, sebagaimana dikemukakan oleh Suhartono dan Ardiansyah . , pendekatan yang terlalu hatihati dapat menghambat pertumbuhan aset produktif. Oleh karena itu, strategi pengelolaan FDR perlu diarahkan pada optimalisasi dana pihak ketiga melalui pembiayaan yang produktif namun tetap prudent agar pertumbuhan tetap berkelanjutan. Dari aspek Good Corporate Governance (GCG). Bank BTPN Syariah Tbk memperoleh predikat AuSehatAy . selama tiga tahun berturut-turut. Hasil ini mencerminkan efektivitas penerapan prinsip-prinsip GCG seperti transparansi, akuntabilitas, independensi, dan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan Pencapaian ini juga didukung oleh penelitian Rahmawati et al. , yang menyebutkan bahwa implementasi GCG yang baik menjadi fondasi penting bagi stabilitas perbankan syariah. Konsistensi kinerja positif GCG menunjukkan bahwa bank memiliki sistem tata kelola yang kuat dalam menjaga kredibilitas dan kepercayaan publik, meskipun ruang perbaikan tetap terbuka dalam hal efisiensi operasional dan transparansi laporan keuangan. Aspek Earnings (Rentabilita. menunjukkan kinerja yang relatif kuat. Rasio Return on Assets (ROA) yang berada pada kategori AuSangat SehatAy selama 2021Ae2023 mencerminkan kemampuan bank dalam menghasilkan laba melalui pengelolaan aset yang efisien. Meskipun terjadi sedikit penurunan pada tahun 2023, kondisi ini masih menunjukkan fundamental keuangan yang solid. Penelitian Pratikto et al. menegaskan bahwa ROA yang tinggi menjadi sinyal efektivitas strategi manajemen aset dalam meningkatkan profitabilitas tanpa meningkatkan risiko berlebihan. Rasio Return on Equity (ROE) memperlihatkan penurunan signifikan pada tahun 2023, yang menandakan adanya tantangan dalam mengoptimalkan penggunaan modal untuk menghasilkan laba. Penurunan ini disinyalir akibat meningkatnya biaya operasional dan tekanan eksternal pada pendapatan. Suhartono dan Ardiansyah . menjelaskan bahwa penurunan ROE mengindikasikan adanya ketidakseimbangan antara pertumbuhan modal dan laba yang dihasilkan. Oleh karena itu, diperlukan langkah korektif melalui efisiensi biaya dan inovasi produk untuk memulihkan profitabilitas. Dari sisi efisiensi, rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) tetap menunjukkan predikat AuSangat SehatAy meskipun mengalami fluktuasi. Peningkatan rasio BOPO pada tahun 2023 menjadi perhatian utama karena mengindikasikan menurunnya efisiensi operasional. Berdasarkan teori manajemen biaya oleh Habbi dan Harto . , pengendalian beban operasional yang efektif akan memperkuat kinerja Elektriese: Jurnal Sains dan Teknologi Elektro Volume 15. Number 02. Oktober 2025 e-ISSN: 2830-3512X https://doi. org/10. 47709/elektriese. profitabilitas dan stabilitas jangka panjang bank. Oleh karena itu. Bank BTPN Syariah perlu memperkuat sistem efisiensi biaya untuk mempertahankan kesehatan finansialnya. Pada aspek Capital (Permodala. , rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) menunjukkan kondisi yang sangat sehat selama periode 2021Ae2023. Meskipun mengalami sedikit penurunan dari 60,44% menjadi 54,29%, nilai ini tetap jauh di atas ambang batas minimum OJK sebesar 8%. Hal ini menandakan bahwa bank memiliki cadangan modal yang sangat memadai untuk menanggung risiko keuangan. Penurunan moderat pada CAR lebih banyak disebabkan oleh peningkatan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) seiring ekspansi aset produktif. Sejalan dengan teori manajemen risiko (Habbi & Harto, 2. , penguatan basis permodalan merupakan langkah strategis dalam menjaga ketahanan terhadap potensi kerugian akibat fluktuasi ekonomi. Secara keseluruhan, hasil penilaian komposit menunjukkan bahwa Bank BTPN Syariah Tbk berada dalam kondisi AuSangat SehatAy pada tahun 2021Ae2022 dan AuSehatAy pada tahun 2023. Penurunan ini bersifat moderat dan mencerminkan perlunya penguatan strategi pengelolaan risiko likuiditas serta efisiensi operasional. Berdasarkan teori RGEC (Samanto & Hidayah, 2. , keseimbangan antara risiko, tata kelola, rentabilitas, dan permodalan merupakan kunci dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan bank. Dengan fundamental keuangan yang kuat, cadangan modal yang tinggi, serta penerapan tata kelola yang baik. Bank BTPN Syariah Tbk mampu menjaga stabilitas operasional dan meminimalkan risiko financial Namun, untuk mempertahankan kinerja berkelanjutan, manajemen perlu melakukan evaluasi berkala terhadap efisiensi operasional, strategi pembiayaan, dan penguatan tata kelola agar bank tetap kompetitif dan berdaya tahan terhadap dinamika ekonomi makro. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis tingkat kesehatan dan potensi financial distress PT Bank BTPN Syariah Tbk selama periode 2021Ae2023 menggunakan metode RGEC (Risk Profile. Good Corporate Governance. Earnings, dan Capita. , dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan bank secara umum berada dalam kategori sehat. Meskipun terjadi penurunan dari peringkat komposit 1 (PK-. pada tahun 2021Ae2022 menjadi peringkat komposit 2 (PK-. pada tahun 2023, kondisi tersebut masih menunjukkan stabilitas keuangan yang kuat. Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya rasio NPF. BOPO, dan turunnya ROE, namun struktur modal dan penerapan GCG tetap solid. Dari sisi potensi financial distress, hasil analisis dengan indikator ROA. CAR, serta metode Grover. Springate, dan Zmijewski menunjukkan bahwa risiko kesulitan keuangan masih rendah. Meskipun profitabilitas menurun, kemampuan permodalan Bank BTPN Syariah Tbk tetap sangat baik dengan CAR di atas 54%, menandakan ketahanan finansial yang kuat terhadap tekanan eksternal. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa Bank BTPN Syariah Tbk masih berada dalam kondisi keuangan yang sehat dan tangguh, meskipun perlu memperhatikan efisiensi operasional dan manajemen risiko kredit untuk mencegah potensi penurunan kinerja di masa mendatang. Rekomendasi utama bagi bank adalah memperkuat digitalisasi layanan, diversifikasi pendapatan, serta meningkatkan manajemen biaya dan risiko pembiayaan. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk memperluas periode penelitian dan melakukan perbandingan dengan bank syariah lainnya, agar diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai posisi kompetitif dan keberlanjutan kesehatan keuangan perbankan syariah di Indonesia. References