Volume 2. No. 1, 2019 E-ISSN P-ISSN ANALISIS HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH DI SD NEGERI 83 PALEMBANG Seyla Pertiwi SD NEGERI 83 PALEMBANG seylapertiwi10@gmail. Abstract: The problem in this research in the low level of student learning activities in science learning, learning still focuses student on listening, taking notes and answering questions. This study aims to describe student learning outcomes in science learning outcomes in the make a match learning model. The research method used is descriptive with a qualitative approach. The data collection teachnique used is interview observation and dokumentation. The data analysis teachnique used is thought data reduction, data presentation, and conclusing drawing. As for the conclusing of the study, the average result of student learning activities in science, learning using the make a match learning model is 82% or is included in the hight Student learning outcomes in science learning using the make a match learning model are76. interval which is includein the high category. Keywords: Learning Outcomes. Make a match Abstrak: Permasalahan pada penelitian ini yaitu rendahnya aktivitas belajar siswa pada pembelajaran IPA, pembelajaran masih memusatkan siswa pada aktivitas mendengar dan mencatat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil belajar siswa pada model pembelajaran Make a Match. Metode penelitian yang dilakukan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalalm penelitian yaitu melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Adapun hasil dari penelitian yaitu rata-rata aktivitas belajar siswa pada pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match yaitu 82% atau termasuk dalam kategori tinggi. Hasil belajar siswa nilai ratarata pada pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match sebesar 76,80. Dengan demikian nilai rata-rata tersebut terdapat pada interval 75-84 yang termasuk dalam kategori tinggi. Kata Kunci: Hasil belajar. Make a Match Scholastica Journal Vol. No. 1, pp. Maret 2019 Pendahuluan Pendidikan merupakan komponen penting untuk menentukan kemajuan suatu bangsa. Undangundang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Ayat 1 Menyebutkan Bahwa Aupendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif dapat mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan spiritual Keagamaan, pengendalian diri, kepribadian kecerdasan, akhalak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan NegaraAyPendidikan sekolah dasar sebagai jenjang paling dasar pendidikan formal mempunyai peranan sangat besar bagi keberlangsungan proses pendidikan selanjutnya. Menurut Undang- undang RI Nomor 20 Tahun 2003 pasal 17 ayat 1 yang menyebutkan bahwa AuPendidikan dasarmerupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengahAu Dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (Tahun 2007 semester I & II) dijelaskan bahwa AuTujuan pendidikan dasar adalah meletakan dasar kecerdasan, kepribadian, pengetahuan, akhalak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjutAy. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia, sebab penyelenggaraan pendidikan yang baik dan bermutu akan menghasilkan manusia-manusia tangguh bagi pembangunan nasional. Untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran harus didukung dengan proses belajar mengajar yang efektif dan efisien. Namun, akan ditemukan berbagai masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran terutama dalam pembelajaran IPA di SD. Mata pelajaran IPA merupakan salah satu mata pelajaran pokok dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, termasuk pada jenjang sekolah dasar. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan usaha manusia dalam memahami alam semesta melalui pengamatan yang tepat pada sasaran, serta menggunakan prosedur yang benar dan dijelaskan dengan penalaran yang sahih sehingga dihasilkan kesimpulan yang benar. Menurut Sutrisno (Eviani,Utami, & Sabri, 2020:. IPA adalah usaha manusia dalam memahami alam semesta melalui pengamatan yang tepat pada sasaran, serta menggunakan prosedur dan dijelaskan dengan penalaran sehingga mendapatkan suatu Tujuan pembelajaran IPA disekolah dasar menurut Badan Nasional Standar Pendidikan dimaksudkan untuk: Memperoleh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaannya. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segalanya sebagai salah satu ciptaan Tuhan. Memperoleh bekal pengetahuan, keterampilan serta konsep IPA sebagai dasar untuk melanjutkan kejenajng pendidikan Mengingat pentingnya pembelajaran IPA di SD, maka dalam pelaksanaannya diperlukan kemampuan guru untuk mengelola pembelajaran sehingga hasil belajar siswa optimal. Namun pada kenyataannya pembelajaran IPA masih berpusat pada guru, proses pembelajaran yang demikian tidak akan mendorong siswa untuk mengembangkan potensinya, kurang menumbuhkan aktivitas siswa serta daya cipta (Kreativita. dalam proses pembelajaran. Pada hasil belajar siswa masih ada ditemukan siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM. Pada proses pembelajaran IPA rendahnya aktivitas belajar yang dilakukan siswa, siswa lebih banyak duduk diam dan mendengarkan penjelasan Pembelajaran lebih banyak menempatkan siswa pada aktivitas mendengar mencatat atau menjawab pertanyaan dari guru tanpa melibatkan interaksi kerja sama antara siswa satu dengan yang Penyebab utama kelemahan pembelajaran tersebut adalah karena kebanyakan guru tidak melakukan kegiatan pembelajaran dengam memfokuskan pada pengembangan keterampilan proses sains anak. Pada akhirnya keadaan ini menyebabkan kegiatan dilakukan hanya terpusat pada penyampaian materi dalam buku teks saja. Model pembelajaran Make a Match merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan oleh Lorna Curran (Huda, 2017:. dengan ciri utama yaitu siswa diminta untuk mencari pasangan yang merupakan pasangan kartu yang merupakan jawaban atau pertanyaan materi tertentu dalam pembelajaran. Kelebihan dari model ini yaitu siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana belajar yang Karakteristik model pembelajaran Make a match memiliki hubungan erat dengan karakteristik siswa yang gemar bermain. Menurut Huda (Huda, 2017:. menyatakan bahwa Scholastica Journal Vol. No. 1, pp. Maret 2019 langkah-langkah model pembelajaran make a match adalah sebagai berikut: . Guru memberikan materi pembelajaran kepada peserta didik. Guru membagi peserta didik kedalam dua kelompok, misalnya kelompok 1 dan kelompok 2, kemudian kedua kelompok ini saling berhadapan. Guru memberikan kelompok satu 1 berupa kartu pertanyaan dan kelompok 2 berupa kartu jawaban. Guru memberi tahu peserta didik batasan waktu selama mencari dan mencocokan kartu yang dibawa. Guru mengharuskan seluruh anggota kelompok 1 untuk mencari pasangan kartu dikelompok 2. Apabila peserta didik sudah mendapatkan pasangan kartunya, peserta didik melapor kepada guru untuk dicatat pada lembar yang sudah disiapkan sebelumnya. Apabila waktu telah berakhir, peserta didik diberitahukan jika waktu mencari pasangan kartu sudah berakhir dan peserta didik yang tidak mendapat pasangan berkumpul dengan yang tidak mendapatkan pasangan juga. Peserta didik yang bisa menemukan pasangan satu persatu diminta untuk mempresentasikan hasilnya didepan kelas. Peserta didik yang lain harus menyimak dan memberikan komentar. Guru mengecek benar tidaknya hasil yang dipresentasikan serta memberi penegasan mengenai materi. Guru meminta pasanagan selanjutnya untuk melakukan presentasi hingga semua pasangan selesai melakukan Berdasarkan informasi awal yang peneliti ketahui di SD Negeri 83 Palembang bahwa guru sudah menerapkan model pembelajaran Make a Match namun belum secara efektif terutama pada mata pelajaran IPA. Pada hasil belajar siswa masih ada ditemukan siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM. Pada proses pembelajaran IPA rendahnya aktivitas belajar yang dilakukan siswa, siswa lebih banyak duduk diam dan mendengarkan penjelasan guru. Pembelajaran lebih banyak menempatkan siswa pada aktivitas mendengar mencatat atau menjawab pertanyaan dari guru tanpa melibatkan interaksi kerja sama antara siswa satu dengan yang lainnya. Untuk itu penerapan model pembelajaran Make a Match secara optimal sangat dibutuhkan agar siswa menjadi lebih aktif dan memunculkan interaksi anatara guru dengan siswa, siswa satu dengan yang lainnya, juga sebagai alternatif untuk mengatasi kejenuhan/ rasa bosan pada siswa. Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan diatas, peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan judul Analisis Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran IPA Melalui Model Pembelajaran Make A Match di SD Negeri 83 Palembang Tahun Pelajaran 2020/2021. Metode Menurut (Sugiyono, 2014:. metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat pospositivisme digunakan untuk meneliti pada kondisi yang alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive, teknik pengumpulan data dengan tragulasi, analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi. Menurut Basir & Amrina . penelitian deskriptif sifatnya melukiskan danmenafsirkan keadaan yang ada sekarang mengenai masalah yang diteliti atau dapat bersifat melukiskan dan menafsirkan suatu variabel. Dari penjelasan di atas, metode penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif karena peneliti menggambarkan secara jelas dan sekuensial atas pernyataan penelitian yang telah ditentukan sebelumnya dan terkadang mereka tidak menggunakan hipotesis sebagai petunjuk dalam penelitian. Data adalah bahan mentah yang perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukan fakta. Data juga merupakan kumpulan fakta, angka atau segala sesuatu yang dapat dipercaya kebenarannya sehingga dapat digunakan sebagai dasar untuk menarik suatu kesimpulan. Siregar . Secara garis besar data dibagi kedalam data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan. Sedangkan data sekunder adalah data yang diterbitkan atau digunakan oleh organisasi yang bukan Data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi tentang hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA. Sumber data dari penelitian ini adalah jawaban hasil wawancara, hasil observasi dan dokumentasi, buku siswa kelas IV, jurnal penelitian dan hasil penelitian Teknik pengumpulan data merupakan cara yang bisa digunakan peneliti untuk mendapatkan data dari objek yang ditelitnya (Basir & Amrina, 2017:. Sedangkan menurut Sugiyono . teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam Scholastica Journal Vol. No. 1, pp. Maret 2019 penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Teknik pengumpulandata yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi wawancara dan dokumentasi. Observasi adalah suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, dan objektif dan rasional mengenai berbagai fenomena, baik dalam situasi sebenarnya maupun situasi buatan untuk mencpai tujuan tertentu Observasi dalam penelitian pendidikan dapatdilakukan secara langsung dan tidak langsung (Arifin, 2016:. Observasi langsung dilakukan tanpa perantara terhadap prilaku subjek penelitian. Observasi tidak langsung dapat dilakukan melalui situasi yang diciptakan untuk mengamati prilaku yang ingin dikumpulkan datanya. Wawancara merupakan suatu kegiatan tanya jawab dengan tatap muka . ace to fac. antara pewawancara dengan yang diwawancarai tentang masalah yang diteliti. Dimana pewawancara bermaksud memperoleh persepsi, sikap dan pola pikir dari yang diwawancarai yang relevan dengan maalah yang akan diteliti (Gunawan, 2013:. Dokumentasi merupakan informasi dari macam-macam sumber tertulis atau dokumen yang ada pada responden atau tempat (Basir & Amrina, 2017:. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data dokumentasi bertujuan untuk mengumpulkan data baik berupa gambar, tulisan, maupun informasi lainnya yang dibutuhkan selama penelitian dilakukan. Teknik keabsahan data dilakukan untuk membuktikan apakah penelitian yang dilakukan benar-benar penelitian ilmiah sekaligus juga untuk menguji data yang didapatkan. Menurut Sugiyono . Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Triangulasi teknik, teknik pengumpulan data yang berbeda untuk mendapaatkan data dari sumber yang sama. Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek lagi dengan observasi dan dokumentasi. Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Penulis melaksanakan peneliti tentang analisis hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA menggunakan model Make a Match melalui dokumentasi pembelajaran IPA. Menurut Sugiyono . analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh atau sumber data lain terkumpul. Analisis data dapat dikatakan suatu proses sistematis pencarian dan pengaturan transkip wawancara, observasi, dokumentasi dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang data yang terkumpul, sehingga dapat dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Teknik analisis data yang digunakan dalampenenlitian imi yaitu melalui langkah-langkah mereduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Mereduksi data berarti merangkum, memilih haal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gaambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya yaitu menyajikan data. Dalam penelitiaan kualitatif penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori. Flowchart dan sejenisnya. Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Dengan menyajikan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. Setelah hasil analisis data melalui reduksi dan display data, selanjutnya langkah terakhir yaitu tahap penarikan kesimpulan dan verifikasi terhadap kesimpulan yang telah dibuat. Hasil Penelitian Hasil dari penelitian ini terdiri dari hasil observasi aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match. Adapun hasil analisis dari penenlitian sebagai berikut. Scholastica Journal Vol. No. 1, pp. Maret 2019 Tabel 1 Observasi Aktivitas Siswa Total Sub Indikator Jumlah Kegiatan Memperhatiakn visual dan penjelasan guru Memperhatikan saat kelompok lain presentasi Memperhatikan saat guru /siswa lain mengajukan Kegiatan Mencatat materi Kegiatan Interaksi yang baik pasangan kartu Ketepatan Kegiatan Ketepatan pasangan kartu dalam mencari Kerjasama yang Penguasaan materi yang baik saat presentasi Kegiatan Menjaga Antusias Rata-rata Hasil data observasi aktivitas siswa pada pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match di SD Negeri 83 Palembang kelas IV B dengan jumlah 26 orang siswa menunjukkan sebanyak 73 % siswa yang memperhatikan guru, 65% memperhatikan saat kelompok lain presentasi, 80% memperhatikan saat guru/ siswa mengajukan pertanyaan, 84% mencatat materi yang disampaikan, 80% interaksi yang baik saat mencari pasangan, 80% ketepatkan menjawab pertanyaan, 88% ketepatan mencari pasangan kartu, 84% kerjasama yang baik saat presentasi, 88% penguasaan materi yang baik saat presentasi, 92% menjaga kondisi yang baik saat presentasi, dan 88% siswa antusias saat pembelajaran. rata-rata aktivitas belajar siswa Indikator Scholastica Journal Vol. No. 1, pp. Maret 2019 pada pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match yaitu 82% atau termasuk dalam kategori tinggi. Tabel 2. Daftar Hasil Belajar Siswa Nama Nilai ARP DGF FAK MDP MDK MDR MAL NLF WDR Jumlah Rata-rata 76,80 Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match siswa kelas IV B termasuk dalam kategori baik. Rata-rata diperoleh dari rumus berikut: Rata-rata= Ea ii (Sudjana, 2010:. Rata-rata = 1997 Rata-Rata = 76,80 Kemudian nilai rata-rata tersebut diintrevertasikan kedalam tabel berikut ini: Tabel 3 kategori hasil belajar siswa Nilai Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match sebesar 76,80. Dengan demikian nilai rata-rata tersebut terdapat pada interval 75-84 yang termasuk dalam kategori tinggi. Scholastica Journal Vol. No. 1, pp. Maret 2019 Nilai Tabel 4 Kategori Hasil belajar siswa Kategori Jumlah siswa Sangat Tinggi 8 orang Tinggi 10 orang Sedang 6 orang Rendah 2 orang Sangat Rendah Analisis hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match dapat dilihat dari uraian berikut: Dari tabel diatas dapat kita lihat hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA Menggunakan model pembelajaran make a match di SD Negeri 83 Palembang terdapat siswa yang mendapat nilai . angat tingg. berjumlah 8 orang, siswayang mendapatkan nilai . berjumlah 10 orang dan 6 siswa mendapatkan nilai . dan 2 siswa yang mendapat kan nilai . Nilai tertinggi siswa pada pembelajaran IPA materi gaya menggunakan model pembelajaran make a match yaitu mendapat skor 88 dan nilai terendah hasil belajar siswa mendapat skor 50. Setelah peneliti telusuri siswa yang tidak tuntas pada pembelajaran IPA materi gaya menggunakan model pembelajaran make a match karena mereka tidak menemukan pasangan kartu yang mereka pegang dan kurang memahami materi pembelajaran dengan baik sehingga mereka tidak dapat menemukan pasangan dari kartu yang mereka pegang. Jadi berdasarkan rekapitulasi nilai rata-rata hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match sebesar 76,80. Dengan demikian nilai rata- rata tersebut terdapat pada interval 75-84 yang termasuk dalam kategori tinggi. Hasil wawancara ibu Desmawati. Pd juga menunjukan bahwa model pembelajaran make a match dapat memunculkan semangat belajar siswa karena pada saat pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match siswa antusias mengikuti pembelajaran hasil belajar siswa dan rata-rata siswa sudah diatas KKM. Berdasarkan hasil wawancara yang didapat dari guru kelas IV B SD Negeri 83 Palembanghasil belajar siswa materi gaya sudah cukup baik karena hasil belajar siswa sudah diatas KKM. Kriterika ketuntasan minimal (KKM) untuk mata pelajaran IPA yang ditetapkan oleh SD Negeri 83 Palembang Pada proses belajar mengajar materi IPA guru menggunakan model pembelajaran make a match dengan cukup baik sesuai langkah-langkah model make a match dan menggunakan media pembelajaran berupa kartu soal dan kartu jawaban yang menjadikan proses pembelajaran menjadi menyenangkan serta menarik semangat belajar siswa. Pada proses pembelajaran siswa menjadi aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Siswa juga memahami pertanyaan dari guru terhadap materi macam-macam gaya yang diberikan. Berdasarkan hasil wawancara yang didapat dari beberapa siswa kelas IV B SD Negeri 83 Palembang terlihat dari cara menjawabnya siswa menyukai pembelajaran IPA materi Gaya dengan menggunakan model pembelajaran make a match karena mereka antusias ketika mengikuti Siswanya menyukai pembelajaran IPA dan juga lebih mudah memahami materi Ketika proses pembelajaran siswa dibagi kelompok ada yang mendapat kartu soal dan ada yang mendapat kartu jawaban serta dalam pelaksanaannya mempunyai batas waktu yang sudah ditentukan, hal ini menjadikan siswa harus cepat memanfaatkan waktu agar bisa menemukan pasangannya tepat waktu. Jika sudah menemukan pasangan dari kartu yang mereka pegang tepat waktu maka siswa tersebut akan maju kedepan dan menjelasakan materi dari kartu yang mereka pegang, setelah itu guru menjelaskan kembali materi yang dipelajari sehingga membuat siswa lebih memahami materi yang dipelajari. Pembahasan Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 83 Palembang yaitu pada siswa kelas IV. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan analisis hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match, peneliti menggunakan kelas IV B yang berjumlah 26 siswa sebagai objek penelitian dan juga guru kelas IV B. Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan tiga cara yaitu observasi, peneliti mengobservasi pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match, kedua Scholastica Journal Vol. No. 1, pp. Maret 2019 wawancara, peneliti mewawancarai guru dan siswa kelas IV B untuk mendapatkan data lebih mendalam tentang hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match dan dokumentasi dimana peneliti menggunakan dokumentasi untuk mengumpulkan data-data dan informasi mengenai sekolah dan kelas yang diteliti. Dari hasil observasi yang didapat oleh peneliti yaitu pembelajaran IPA mnggunakan model pembelajaran make a match materi gaya siswa mengikuti pembelajaran sangat antusias, terbukti dengan hasil belajar dan rata-rata nilai siswa sudah diatas KKM. Hasil data observasi aktivitas siswa pada pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match di SDNegeri 83 Palembang kelas IV B dengan jumlah 26 orang siswa menunjukkan sebanyak 73 % siswa yang memperhatikan guru, 65% memperhatikan saat kelompok lain presentasi, 80% memperhatikan saat guru/ siswa mengajukan pertanyaan, 84% mencatat materi yang disampaikan, 80% interaksi yang baik saat mencari pasangan, 80% ketepatkan menjawab pertanyaan, 88% ketepatan mencari pasangan kartu,84% kerjasama yang baik saat presentasi, 88% penguasaan materi yang baik saat presentasi, 92% menjaga kondisi yang baik saat presentasi, dan 88% siswa antusias saat pembelajaran. Jadi rata-rata aktivitas belajar siswa pada pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match yaitu 82% atau termasuk dalam kategori tinggi. Pada saat proses pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match dilaksanakan dengan baik oleh guru kelas IV. Peserta didik dapat mempelajari suatu materi dalam suasana yang menyenangkan. beberapa kendala yang dialami juga mampu diselesaika secara tepat jadi proses pembelajaran berjalan sesuai dengan langkah-langkah yang tepat. Penerapan model pembelajaran make a match yang sesuai dengan prosedur mampu menunjang pembelajaran dengan Model ini memang mempunyai kekurangan yaitu membuat kelas menjadi gaduh tapi disamping kekurangan tersebut make a match dapat menumbuhkan komunikasi yang baik anatara siswa. Pada saat penerapan model pembelajaran make a match di kelas IV B siswa yang mendapat nilai sangat tinggi berjumlah 8 orang, siswa yang mendapatkan nilai tinggi berjumlah 10 orang dan 6 siswa mendapatkan nilai sedang dan 2 siswa yang mendapatkan nilai rendah. Dari hasil belajar siswa nilai rata-rata pada pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match sebesar 76,80. Dengan demikian nilai rata-rata tersebut terdapat pada interval 75-84 yang termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini sesuai dengan teori dari beberapa penelitian tentang penerapan model pembelajaran make a match seperti yang telah dilakukan oleh Aliputri . Perdana . , dan Nisa . yang menunjukan bahwa model pembelajaran make a match dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Hasil wawancara yang didapat dari guru kelas IV B SD Negeri 83 Palembang hasil belajar siswa materi gaya sudah cukup baik karena hasil belajar siswa sudah diatas KKM. Kriterika ketuntasan minimal (KKM) untuk mata pelajaran IPA yang ditetapkan oleh SD Negeri 83 Palembang Hasil wawancara yang didapat dari beberapa siswa kelas IV B SD Negeri 83 Palembang terlihat dari cara menjawabnya siswa menyukai pembelajaran IPA materi Gaya dengan menggunakan model pembelajaran make a match karena mereka antusias ketika mengikuti Siswa nya menyukai pembelajaran IPA dan juga lebih mudah memahami materi Model pembelajaran make a match membuat IPA menjadi menarik untuk dipelajari dikelasIV, meskipun beberapa siswa mengaku jika masih kebingungan tapi hal tersebut tidak mengurangi ketertartarikan mereka pada saat proses pembelajaran berlangsung. Mereka sanggup menyesuaikan diri secara pelan-pelan kemudian dengan bantuan guru kebingungan yang mereka rasakan berangsur-angsur berkurang Model pembelajaran make a match dikembangkan pertama kali oleh lorna Curran. Menurut Rusman . Model pembelajaran Make a Match atau mencari pasangan adalah salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa. Penerapan model pembelajaran ini dimulai dari siswa disuruh mencari pasangan karu yang merupakan soal/jawaban sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocok kan kartu diberi poin. Kekurangan model pembelajaran ini yang paling umum adalah membuat kelas menjadi gaduh dan memakan banyak waktu, meskipun demikian siswa tidak mengganggu teman-temannya selama proses pembelajaran, mereka justru bersungguh-sungguh Scholastica Journal Vol. No. 1, pp. Maret 2019 mempelajari IPA. Huda . 3, 253-. mengemukakan beberapa kekurangan dari model pembelajaran make a match ini terletak pada strategi yang dipersiapkan oleh guru. Jika persiapan yang dilakukan kurang maksimal maka akan banyak waktu yang terbuang. Awal penerapan model ini juga mendapat beragam respon dari siswa, beberapa ada yang biasa saja berpasangan dengan lawan jenisnya ada juga yang malu, juga pada saat presentasi kedepan guru harus memperhatikan siswa karena ada saja siswa yang tidak memperhatikan kedepan. Selama proses menemukan pasangan ada beberapa siswa yang melakukan kesalahan, dari kesalahan tersebut guru harus hatihati dalam memberikan hukuman sebab tidak semua siswa memiliki mental yang kuat dan yang terakhir menggunakan model ini secara terus menerus akan menimbulkan kebosanan bagi siswa. Simpulan Berdasarkan hasil wawancara yang didapat dari guru kelas IV B SD Negeri 83 Palembanghasil belajar siswa materi gaya sudah cukup baik karena hasil belajar siswa sudah diatas KKM. Kriterika ketuntasan minimal (KKM) untuk mata pelajaran IPA yang ditetapkan oleh SD Negeri 83 Palembang Berdasarkan hasil wawancara yang didapat dari beberapa siswa kelas IV B SD Negeri 83 Palembang terlihat dari cara menjawabnya siswa menyukai pembelajaran IPA materi Gaya dengan menggunakan model pembelajaran make a match karena mereka antusias ketika mengikuti Siswa nya menyukai pembelajaran IPA dan juga lebih mudah memahami materi Hasil data observasi aktivitas siswa pada pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match di SD Negeri 83 Palembang kelas IV B dengan jumlah 26 orang siswa menunjukkan sebanyak sebanyak 73 % siswa yang memperhatikan guru, 65% memperhatikan saat kelompok lain presentasi, 80% memperhatikan saat guru/ siswa mengajukan pertanyaan, 84% mencatat materi yang disampaikan, 80% interaksi yang baik saat mencari pasangan, 80% ketepatkan menjawab pertanyaan, 88% ketepatan mencari pasangan kartu,84% kerjasama yang baik saat presentasi, 88% penguasaan materi yang baik saat presentasi, 92% menjaga kondisi yang baik saat presentasi, dan 88% siswa antusias saat pembelajaran. Jadi rata-rata aktivitas belajar siswa pada pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match yaitu 82% atau termasuk dalam kategori tinggi. Dari hasil belajar siswa nilai rata-rata pada pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran make a match sebesar 76,80. Dengan demikian nilai rata-rata tersebut terdapat pada interval 75-84 yang termasuk dalam kategori tinggi. Hasil belajar pada kelas IV B siswa yang mendapat nilai . angat tingg. berjumlah 8 orang, siswa yang mendapatkan nilai . berjumlah 10 orang, 6 siswa mendapatkan nilai . dan 2 siswa yang mendapatkan nilai . Daftar Pustaka