KEBIASAAN MEROKOK ORANG TUA DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA Putu Susy Natha Astini1 . Roni Andrian Gupta2. NLP. Yunianti Suntari 3. IDAK Surinati4 1,2,3 Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Denpasar. Bali. Indonesia Email: yuni. suntari@yahoo. com 1 . , susynathaastini@gmail. ronnygupta95@gmail. Abstract : Parenting Smoking Habits To The Incidence Of Pneumonia Children In Wangaya Hospital 2019. Pneumonia is a disease caused by bacteria pneumococcus, staphylococcus, streptococcus, and viruses. The causes of pneumonia are divided into intrinsic factors and extrinsic factors. The type of research used in this study was nonexperimental research with a type of correlational research and cross sectional approach using non probability sampling with purposive sampling. The number of samples is 56 toddlers. This research was conducted in April to May 2019. Data collection using a questionnaire. The results showed that parents with the most smoking habits aged 30 years, with male sex . 4%), work for self-employed / service traders . 8%), high school education / SMK . %), current smoking status . 5%), no smoking . 5%), duration of smoking <10 years . 6%), and active smokers . 5%). Hypothesis testing uses the chi square test and multiple logistic regression with p values 024 each and the most related variable is the type of smoker with an OR value of Key words: Toddler:Peneumonia:Smoking Habit Abstrak :Kebiasaan Merokok Orang Tua Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita Di Rsud Wangaya. Pneumonia adalah penyakit yang disebabkan kuman pneumococcus, staphylococcus, streptococcus, dan virus. Faktor ekstrinsik meliputi kepadatan tempat tinggal, polusi udara, tipe rumah, ventilasi, dan kebiasaan merokok orang tua. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian noneksperimen dengan jenis penelitian korelasional dan pendekatan cross sectional menggunakan non probability sampling dengan purposive sampling. Jumlah sampel sebanyak 56 balita. Penelitian ini dilakukan pada bulan april sampai mei 2019. pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan orang tua dengan kebiasaan merokok terbanyak usia 30 tahun, dengan jenis kelamin laki Ae laki . ,4%), pekerjaan wiraswasta/pedagang jasa . ,8%), pendidikan sma/smk . %), status merokok saat ini . ,5%), tidak merokok . ,5%), lamanya merokok <10 tahun . ,6%), dan perokok aktif . ,5%). uji hipotesis menggunakan uji chi square dan regresi logistik ganda dengan nilai p masing-masing 0,024 dan variabel yang paling berhubungan yaitu jenis perokok dengan nilai or yaitu 19,00. Kata kunci : Balita. Pneumonia. Kebiasaan merokok Jurnal Gema Keperawatan |Volume . Nomor . Putu Susy Natha Astini. Roni Andrian Gupta. NLP. Yunianti Suntari. IDAK Surinati. Desember 2020. PENDAHULUAN Salah satu penyebab kematian tertinggi akibat penyakit infeksi pada balita adalah pneumonia. Pneumonia adalah penyakit yang disebabkan kuman pneumococcus, staphylococcus, streptococcus, dan virus. Gejala penyakit pneumonia yaitu menggigil, mengeluarkan dahak, dan sesak napas. Hasil Riskesdas tahun 20152017, menyebutkan bahwa pneumonia menduduki peringkat kedua sebagai penyebab kematian pada balita sebesar 15,5%. Selama tiga tahun terakhir prevalensi pneumonia pada balita di Indonesia pada tahun 2015 Ae 2016 mengalami peningkatan yaitu sebesar 63,45% tahun 2015 dibandingkan tahun 2016 sebesar 65,27%. Tahun 2016-2017 prevalensi penemuan pneumonia pada Indonesia 14,08% dibandingkan dari tahun sebelumnya yaitu 51,19% tahun 2017. (Kementerian Kesehatan RI, 2. Cakupan pneumonia pada balita di Provinsi Bali menempati urutan ketiga setelah diare, tahun 2016 Ae 2018 pneumonia pada balita mengalami peningkatan, di tahun 2016 prevalensi pneumonia pada balita sebesar 32,44% dengan jumlah kasus 640 balita dari 8. 139 jumlah perkiraan Tahun prevalensi pneumonia pada balita lebih tinggi dari tahun 2016 sebesar 45,03% dengan jumlah kasus 3. 764 balita dari 359 jumlah perkiraan pneumonia Prevalensi pada tahun 2018 meningkat dari tahun 2016-2017 yaitu sebesar 58,35% dengan jumlah kasus 777 balita dari 8. 187 jumlah perkiraan Tingkat kabupaten/kota pada tahun 2018 penemuan tertinggi kasus pneumonia adalah Kabupaten Karangsem yaitu 92,67% dengan jumlah kasus 788 balita dari 850 jumlah pneumonia balita. Kabupaten Denpasar dengan penemuan kasus pneumonia pada balita sebesar 58,55% dengan jumlah kasus 1. balita dari 1. 908 jumlah pneumonia (Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Penemuan pneumonia pada balita di Kota Denpasar mengalami peningkatan dari tahun 2016 Ae 2018. Tahun 2016 prevalensi pneumonia pada balita sebesar 44,68% dengan jumlah kasus 668 balita dari perkiraan 1. jumlah pneumonia balita. Tahun 2017 prevalensi pneumonia balita sebesar 54,31% dengan jumlah kasus 1. balita dari perkiraan 1. 874 jumlah pneumonia balita, sedangkan di tahun 2018 prevalensi pneumonia balita sebesar 58,55% dengan jumlah kasus balita dari 1. 908 jumlah pneumonia balita . Menurut catatan rekam medik pasien di RSUD Wangaya pneumonia menjadi salah satu dari penyakit 10 besar mematikan setiap Data pneumonia balita di RSUD Wangaya pada tahun 2017 Ae 2018 mengalami peningkatan yang tidak terlalu signifikan. Pada tahun 2017 terdapat 258 kasus pneumonia pada balita, sedangkan pada tahun 2018 penemuan pneumonia pada balita sebanyak 297 kasus (RSUD Wangaya. Penyebab pneumonia terbagi atas faktor instrinsik dan faktor Faktor instrinsik meliputi umur, jenis kelamin, status gizi. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), status imunisasi, pemberian Air Susu Ibu (ASI), dan pemberian vitamin A. Faktor ekstrinsik meliputi kepadatan tempat Jurnal Gema Keperawatan |Volume . Nomor . Putu Susy Natha Astini. Roni Andrian Gupta. NLP. Yunianti Suntari. IDAK Surinati. Desember 2020. tinggal, polusi udara, tipe rumah, ventilasi, dan asap rokok . Kebiasaan anggota keluarga merokok di dalam rumah merupakan masalah yang mengkhawatirkan di Indonesia. Keberadaan keluarga yang merokok di dalam rumah menjadi faktor penyebab terjadinya masalah kesehatan di dalam keluarga seperti gangguan pernafasan dan dapat ISPA khususnya pada balita. Anak-anak yang orang tuanya merokok lebih rentan terkena penyakit pernafasan seperti flu, asma, pneumonia dan penyakit saluran pernafasan lainnya (Kusuma, 2. Rata- rata proporsi perokok menurut Riskesdas tahun 2013 di Indonesia adalah 29,3 persen. Proporsi terbanyak perokok aktif setiap hari pada umur 30-34 tahun sebesar 33,4 persen, umur 35-39 tahun sebesar 32,2 persen, sedangkan proporsi perokok setiap hari laki-laki dibandingkan perokok perempuan yaitu 47,5 persen banding 1,1 persen. Hasil merokok setiap hari di Dinas Kesehatan Provinsi Bali sebanyak 18,0% di usia Ou 10 tahun dengan jumlah batang rokok . retek, putih, dan lintin. yang dihisap setiap hari sebesar 12,0%. Dari angka tersebut, kebiasaan merokok pria lebih besar dibandingkan dengan perempuan yaitu 35,2%, sedangkan perempuan sebanyak 0,6% berdasarkan kebiasaan merokok setiap harinya. Data tertinggi kebiasaan merokok di Pronvinsi Bali terdapat di Kabupaten Jembrana dengan jumlah 22,8%, sedangkan yang terendah terdapat di Kabupaten Gianyar dengan jumlah 11,0%. Prevalensi kebiasaan merokok di Kota Denpasar sebesar 17,5%. Penelitian yang dilakukan oleh Kusuma. Winarsih & Sukini . menunjukkan ada hubungan antara paparan asap rokok dengan kejadian ISPA pada Balita di Desa Pucungrejo Magelang. Dari 42 responden yang diteliti 2 balita menderita pneumonia berat yang mendapat paparan asap rokok, 3 balita menderita pneumonia yang mendapat paparan asap rokok, dan sisanya merupakan kejadian tidak ISPA yang sebagian besar terjadi pada balita yang tidak mendapatkan paparan asap Upaya menekan angka kematian akibat penemuan kasus pneumonia balita sedini mungkin di pelayanan kesehatan dasar, penatalaksanaan kasus dan Adanya keterpaduan dengan lintas program melalui pendekatan MTBS di daerah terpencil . Dalam menjaga kesehatan, upaya yang dilakukan Kementerian Kesehatan RI mewujudkan Indonesia sehat melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). GERMAS dengan cara : melakukan aktivitas fisik, mengkonsumsi sayuran dan buah, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alcohol, memeriksa kesehatan secara rutin, menggunakan jamban. METODE Penelitian penelitian non-eksperimen dengan jenis Teknik pengambilan sampel non probability sampling dengan purposive sampling. Jumlah sampel 56 Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2019. Pengumpulan kuesioner kebiasaan merokok dengan 4 pernyataan dan penelusuran rekam Teknik analisa data yang digunakan untuk menguji hipotesis Jurnal Gema Keperawatan |Volume . Nomor . Putu Susy Natha Astini. Roni Andrian Gupta. NLP. Yunianti Suntari. IDAK Surinati. Desember 2020. dengan menggunakan uji statistic, yaitu dengan Uji chi square untuk mengetahui hubungan physical activity dengan derajat hipertemsi dengan =0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan di daerah Wangaya, tepatnya di RSUD Wangaya Denpasar. Subyek penelitian dalam penelitian ini yaitu orang tua balita dengan pneumonia di RSUD Wangaya sesuai kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 56 orang. Tabel 1. Distribusi Karakteristik Orang Tua yang Mempunyai Balita Dengan Pneumonia Berdasarkan Usia Med Mean Mod Standa Devias MinMax 35,79 5,598 Hasil interpretasi tabel 1 diatas, dari 56 responden didapatkan bahwa rata-rata usia responden yaitu 35,79 tahun dengan usia terbanyak yaitu 30 Tabel Distribusi Frekuensi Karakteristik Orang Tua Mempunyai Balita Dengan Pneumonia Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Frek Persenta No Kelami uensi se (%) . 1 Laki45 2 Peremp Jumlah Tabel Distribusi Frekuensi Karakteristik Orang Tua Mempunyai Balita Dengan Pneumonia Berdasarkan Pekerjan Frek Persentas No Pekerjaan e (%) . 1 Tidak 2 PNS/TNI/Po BUMN/BU 3 Pegawai 4 Wiraswasta/ Pedagang/Ja 5 Petani 6 Buruh Jumlah Dilihat dari distribusi frekuensi pekerjaan orang tua dari 56 responden didapatkan yaitu 35,8% bekerja sebagai wiraswasta/pedagang/jasa Tabel Distribusi Frekuensi Karakteristik Orang Tua Balita Pneumonia. Berdasarkan Pendidikan Frekue Persentase Pendidikan nsi . (%) 1 SD 2 SMP 3 SMA/SMK 4 Perguruan Tinggi Jumlah Pendidikan orang tua dari 56 responden didapatkan bahwa 50% berpendidikan terakhir SMA/SMK. Dilihat dari tabel 2 diatas, 56 responden didapatkan bahwa 80,4% berjenis kelamin laki-laki dan 19,6 % berjenis kelamin perempuan. Jurnal Gema Keperawatan |Volume . Nomor . Putu Susy Natha Astini. Roni Andrian Gupta. NLP. Yunianti Suntari. IDAK Surinati. Desember 2020. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Kebiasaan Merokok Orang Tua yang Mempunyai Balita Dengan Pneumonia Berdasarkan Status Merokok. Fre Status kue Persentase o Merokok (%) . 1 Merokok saat ini 2 Mantan 3 Tidak Jumlah Kebiasaan merokok orang tua dari 56 responden berdasarkan status merokok didapatkan bahwa 62,5% memiliki status merokok saat ini. Tabel 6. Distribusi Frekuensi Kebiasaan Merokok Orang Tua yang Mempunyai Balita Dengan Pneumonia Berdasarkan Jumlah Batang Rokok Yang Dikonsumsi. Frek N Jumlah Batang Persenta Rokok se (%) . 1 >31 batang/hari 2 21-31 batang/hari 3 11-20 batang/hari 4 O10 batang/hari 5 Tidak merokok Jumlah Distribusi frekuensi kebiasaan merokok orang tua berdasarkan jumlah batang rokok yang dikonsumsi dari 56 responden didapatkan yaitu 37,5% tidak Tabel Distribusi Frekuensi Kebiasaan Merokok Orang Tua yang Mempunyai Balita Dengan Pneumonia Berdasarkan Lamanya Merokok. Frek Lama Persentase Meokok (%) 1 >20 tahun 2 10-20 tahun 3 <10 tahun 4 Tidak merokok Jumlah Dilihat dari tabel 7 diatas, dari 56 responden didapatkan bahwa 44,6% sudah merokok selama <10 tahun. Tabel 8. Distribusi Frekuensi Kebiasaan Merokok Orang Tua yang Mempunyai Balita Dengan Pneumonia Berdasarkan Jenis Perokok. Jenis Frekue Persentas o Perokok nsi . e (%) 1 Aktif 2 Pasif Jumlah Kebiasaan merokok orang tua berdasarkan jenis perokok dari 56 responden didapatkan bahwa 62,5% sebagai perokok aktif. Tabel 9. Distribusi Frekuensi Orang Tua yang Mempunyai Balita dengan Pneumonia Berdasarkan Kejadian Pneumonia Kejadian Pneumonia Frek Persen (%) 1 Pneumonia 2 Pneumonia Jumlah Berdasarkan distribusi frekuensi orang tua yang mempunyai balita dengan pneumonia dari 56 responden didapatkan bahwa 73,2% mengalami 26,8% pneumonia berat. Jurnal Gema Keperawatan |Volume . Nomor . Putu Susy Natha Astini. Roni Andrian Gupta. NLP. Yunianti Suntari. IDAK Surinati. Desember 2020. Tabel 10. Analisis Bivariat Hubungan Status Merokok Orang Tua Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita. Kejadian Pneumonia % CI) Jumlah Status Pneumonia Pneumoni Merokok Berat 5,318 Merokok 13 23,2 . ,603 saat ini 46,. 0,900 Mantan 19,6 0,024 ,049 perokok 12,. Tidak Pembanding 15 26,8 Jumlah Dilihat dari analisis bivariat memiliki balita dengan pneumonia hubungan status merokok dengan dengan persentase 16,1%. kejadian pneumonia, didapatkan bahwa Hasil hasil terbanyak yaitu orang tua dengan menggunakan uji chi square dan status merokok saat ini memiliki balita diperoleh nilai p = 0,024. Karena nilai p dengan pneumonia dengan persentase < . , maka H0 ditolak. Hal ini 39,3%, orang tua dengan status mantan berarti bahwa ada hubungan status perokok terbanyak memiliki balita merokok orang tua dengan kejadian dengan pneumonia dengan persentase pneumonia pada balita di RSUD 17,8%, sedangkan orang tua dengan Wangaya tahun 2019. status tidak pernah merokok terbanyak Tabel 11. Analisis Bivariat Hubungan Jumlah Batang Rokok Yang Dihisap Orang Tua Dengan Kejadian Pneumonia Kejadian Pneumonia Jumlah Jumlah . % CI) Batang Pneumonia Berat Pneumonia Rokok >31 19,00 . ,146 batang/hari -314,. 9,50 . ,403 Ae 8,9 10 17,9 batang/hari 64,. 2,714 . ,434 14 25,0 18 32,1 batang/hari 0,024 Ae 16,. O 10 9,50 . ,826 Ae batang/hari 109,. Tidak 19 33,9 21 37,5 Pembanding Jumlah Jurnal Gema Keperawatan |Volume . Nomor . Putu Susy Natha Astini. Roni Andrian Gupta. NLP. Yunianti Suntari. IDAK Surinati. Desember 2020. Berdasarkan analisis bivariat pneumonia berat dan pneumonia hubungan jumlah batang rokok yang masing-masing 3,6%, sedangkan orang tua yang tidak pneumonia, didapatkan bahwa orang tua merokok memiliki balita dengan yang mengonsumsi >31 batang pneumonia dengan persentase 33,9%, rokok/hari memiliki balita dengan Hasil pneumonia berat dengan persentase menggunakan uji chi square dan 3,6%, orang tua yang mengonsumsi 21diperoleh nilai p = 0,024. Karena nilai p 31 batang rokok/hari memiliki balita < . , maka H0 ditolak. Hasil analisis ini berarti ada hubungan jumlah pneumonia dengan persentase masingbatang rokok yang dihisap orang tua masing 8,9%, orang tua yang dengan kejadian pneumonia pada balita mengonsumsi 11-20 batang rokok/hari di RSUD Wangaya tahun 2019. memiliki balita dengan pneumonia dengan persentase 25,0%, orang tua yang mengonsumsi O 10 batang rokok/hari memiliki balita dengan Kejadian Pneumonia % CI) Jumlah Lama Pneumonia Pneumonia Merokok Berat 19,00 >20 tahun . ,146 Ae 3,80 . ,424 10-20 tahun -34,. 5,344 <10 tahun 16,0 16 28,6 25 ,006 Ae Tidak Pembandin 3,6 19 33,9 21 26,8 41 73,2 56 Jumlah Berdasarkan analisis bivariat sedangkan orang tua yang tidak diatas, didapatkan bahwa orang tua merokok memiliki balita dengan yang sudah merokok selama >20 tahun pneumonia dengan persentase 33,9%. memiliki balita dengan pneumonia berat Hasil dengan persentase 3,6%, orang tua yang menggunakan uji chi square dan sudah merokok selama 10-20 tahun diperoleh nilai p = 0,024. Karena nilai p memiliki balita dengan pneumonia < . , maka H0 ditolak. Hal ini dengan persentase 8,9%, orang tua yang berarti bahwa ada hubungan lamanya sudah merokok selama <10 tahun merokok orang tua dengan kejadian sebagian besar memiliki balita dengan pneumonia pada balita di RSUD pneumonia dengan persentase 28,6%. Wangaya tahun 2019. Jurnal Gema Keperawatan |Volume . Nomor . Putu Susy Natha Astini. Roni Andrian Gupta. NLP. Yunianti Suntari. IDAK Surinati. Desember 2020. Tabel 13. Analisis Bivariat Hubungan Jenis Perokok Orang Tua Dengan Kejadian Pneumonia Kejadian Pneumonia Pneu Jumlah Jenis Pneumonia CI) Perokok Berat 5,614 . ,122 Aktif 13 23,2 39,3 35 Ae 28,. 0,024 Pasif 22,9 21 Pembanding 15 26,8 73,2 56 Jumlah Tabel 14. Hasil Seleksi Bivariat Berdasarkan Hubungan Kebiasaan Merokok Orang didapatkan bahwa orang tua yang Tua Dengan Kejadian Pneumonia. sebagai perokok aktif memiliki balita Variabel Sub Variabel dengan pneumonia dengan persentase Kebiasaan Status 0,058 39,3%, sedangkan orang tua yang sebagai perokok pasif memiliki balita Jumlah batang 0,048 dengan pneumonia persentase 22,9%. Lamamnya 0,072 Hasil menggunakan uji chi square dan Jenis perokok 0,024 diperoleh nilai p = 0,024. Karena nilai p < . , maka H0 ditolak. Hal ini Berdasarkan interpretasi tabel berarti bahwa ada hubungan jenis diatas, menunjukkan bahwa semua sub perokok dengan kejadian pneumonia variabel kebiasaan merokok memiliki pada balita di RSUD Wangaya tahun nilai p O 0,25, hal ini berarti bahwa sub variabel status merokok, jumlah batang merokok yang dihisap, lamanya merokok, dan jenis perokok masuk ke dalam model multivariat. Tabel 15. Analisis Multivariat Hubungan Kebiasaan Merokok Orang Tua Dengan Kejadian Penumonia. Sub Variabel OR . % CI) Langkah I Jenis perokok 0,074 18,00 . ,758 Ae 427,. Status merokok . 0,944 1,111 . ,60 Ae 20,. Jumlah batang rokok . 0,681 1,786 . ,112 Ae 28,. Jumlah batang rokok . 0,170 6,480 . ,448 Ae 93,. Jumlah batang rokok . 0,661 2,00 . ,090 -44,. Lama merokok . 0,707 1,460 . ,203 Ae 10,. Langkah II Jenis perokok 0,040 19,00 . ,146 Ae 314,. Jumlah batang rokok . 0,681 1,786 . ,112 Ae 28,. Jumlah batang rokok . 0,170 6,480 . ,448 Ae 93,. Jumlah batang rokok . 0,661 2,00 . ,090 Ae 44,. Lama merokok . 0,707 1,460 . ,203 Ae 10,. Jurnal Gema Keperawatan |Volume . Nomor . Putu Susy Natha Astini. Roni Andrian Gupta. NLP. Yunianti Suntari. IDAK Surinati. Desember 2020. Dilihat dari interpretasi tabel diatas, didapatkan bahwa sub variabel kebiasaan merokok yang paling pneumonia yaitu jenis perokok, sedangkan sub variabel jumlah batang rokok yang dihisap dan lama merokok sebagai variabel konfounding. Nilai OR jenis perokok yaitu 19,00 . ,146314,. , hal ini berarti orang tua yang sebagai perokok aktif memiliki peluang 19,00 kali balitanya mengalami pneumonia berat dibandingkan dengan orang tua yang sebagai perokok pasif setelah dikontrol sub variabel jumlah batang rokok yang dihisap dan lamanya SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang kebiasaan merokok orang tua dengan kejadian pneumonia di RSUD Wangaya Tahun 2019 disimpulkan bahwa orang tua balita sebagian besar memiliki status merokok saat ini yaitu 62,5%, berdasarkan jumlah batang rokok didapatkan tidak merokok yaitu 37,5% , berdasarkan lamanya merokok <10 tahun yaitu 44,6%, dan sebagian besar sebagai perokok aktif yaitu 62,5%, kejadian pneumonia pada balita sebagian besar mengalami pneumonia yaitu 73,2%, ada hubungan yang bermakna antara status merokok orang tua, jumlah batang rokok yang dihisap, lamanya merokok, dan jenis perokok orang tua dengan kejadian pneumonia pada balita di RSUD Wangaya tahun 2019 dengan nilai p masing-masing yaitu 0,024, sub variabel kebiasaan merokok yang paling pneumonia pada balita di RSUD Wangaya tahun 2019 dengan nilai OR = 19,00 . % CI : 1,146-314,. yaitu jenis perokok. ETIKA PENELITIAN Penelitian ini telah medapatkan ijin etik dari Institusi Politeknik Kesehatan Denpasar dengan nomor etik LB 02 03/EA/KEPK/0262/2019. SUMBER DANA Penelitian ini sumber dana swadana. DAFTAR RUJUKAN Kemenkes R. PROFIL KESEHATAN INDONESIA TAHUN 2013. Vol. Journal of Physics A: Mathematical and General. 2171Ae2172 p. Kementerian Kesehatan RI. HASIL UTAMA RISKESDAS Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Data Pneumonia Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Bali. Mokoginta D. Arsin A. Sidik D. Faktor resiko kejadian pneumonia pada anak balita di Wilayah kerja Puskesmas Sudiang Kota Makasar. Kusuma N. Sri W. Sukini T. Hubungan antara paparan asap rokok dengan kejadian ISPA pada balita di Desa Pucung Rejo Kabupaten Magelang. Kebidanan. :18Ae26. Riskesdas. Riset Kesehatan Dasar Kementerian RI. Vol. Proceedings. Annual Meeting Air Pollution Control Association. Riskesdas Bali. Riskesdas Dalam Angka Provinsi Bali 2013. Vol. 77 p. Kemenkes. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kemenkes RI. GERMAS Wujudkan Indonesia Sehat. Jurnal Gema Keperawatan |Volume . Nomor . Putu Susy Natha Astini. Roni Andrian Gupta. NLP. Yunianti Suntari. IDAK Surinati. Desember 2020. Jurnal Gema Keperawatan |Volume . Nomor .