KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2025. Vol. 2 No. 1: 39-45 Workshop Pengembangan Mindset Positif untuk Prestasi Akademik di Era Digital di SMA Ahmad Yani Nisaul Barokati Seliro Wangi1. Anita Dwi Hapsari2. Rodli3. Buyun Khulel4 Universitas Islam Darul Aoulum. Lamongan. Indonesia1 Universitas Islam Darul Aoulum. Lamongan. Indonesia2 Universitas Islam Darul Aoulum. Lamongan. Indonesia3 Universitas Islam Darul Aoulum. Lamongan. Indonesia4 https://doi. org/10. 46367/khidmah. Info Artikel Riwayat: Dikirim: 18 April 2025 Direvisi: 15 Mei 2025 Diterima: 31 Mei 2025 Kata Kunci: Growth Mindset. Participatory Action Research. Workshop Pendidikan. Adaptasi Teknologi Digital. Prestasi Akademik Siswa Abstrak Pola pikir siswa, khususnya growth mindset, memainkan peran krusial dalam menentukan keberhasilan akademik dan ketahanan mental Pengabdian ini bertujuan untuk menumbuhkan pola pikir berkembang pada siswa SMA Ahmad Yani Baureno Bojonegoro melalui workshop berbasis Participatory Action Research (PAR). Metode PAR melibatkan empat tahap: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Workshop ini difokuskan pada pengembangan pola pikir positif, manajemen waktu, strategi belajar efektif, serta adaptasi terhadap teknologi digital. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa tentang growth mindset, keterampilan manajemen waktu, dan adaptasi teknologi. Sebanyak 85% siswa melaporkan peningkatan kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan akademik, dan 78% mengadopsi strategi belajar yang lebih efektif. Guru juga melaporkan perubahan positif dalam sikap dan ketekunan siswa. Kesimpulannya, pendekatan PAR efektif dalam menumbuhkan growth mindset dan keterampilan hidup siswa, yang tidak hanya meningkatkan prestasi akademik tetapi juga ketahanan mental dalam menghadapi tantangan di era digital. Korespondensi: Anita Dwi Hapsari anitadwi@unisda. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. International License. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2025. Vol. 2 No. 1: 39-45 PENDAHULUAN Dalam dunia pendidikan, pola pikir siswa memainkan peranan krusial dalam menentukan keberhasilan belajar mereka. Pola pikir tidak hanya memengaruhi cara siswa memandang kemampuan diri, tetapi juga bagaimana mereka merespons tantangan, kegagalan, dan kesuksesan dalam proses Menurut Dweck . , pola pikir dapat dikategorikan menjadi dua jenis utama, yaitu pola pikir tetap . ixed mindse. dan pola pikir berkembang . rowth mindse. Individu dengan pola pikir berkembang percaya bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat ditingkatkan melalui usaha, pembelajaran terus-menerus, dan pengalaman. Sebaliknya, individu dengan pola pikir tetap cenderung beranggapan bahwa kecerdasan dan bakat adalah bawaan lahir dan sulit diubah. Perbedaan ini memiliki implikasi yang signifikan terhadap motivasi, ketekunan, dan pencapaian akademik siswa. Pola pikir berkembang mendorong individu untuk menghadapi tantangan dengan sikap optimis, belajar dari kesalahan, dan berusaha lebih keras saat menghadapi kegagalan. Hal ini sejalan dengan temuan Dweck . yang menyatakan bahwa siswa dengan growth mindset cenderung lebih tangguh dan berorientasi pada pencapaian jangka panjang. Mereka tidak hanya fokus pada hasil akhir, tetapi juga menghargai proses belajar sebagai bagian penting dari pengembangan diri. Dengan demikian, pola pikir ini tidak hanya berperan dalam meningkatkan prestasi akademik, tetapi juga dalam membentuk karakter siswa yang tangguh dan berdaya juang tinggi. Penelitian terbaru semakin memperkuat pentingnya peran pola pikir berkembang dalam konteks Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Ghaybiyyah . menunjukkan bahwa growth mindset memiliki pengaruh signifikan terhadap ketekunan akademik . cademic gri. Dalam studinya, siswa yang memiliki pola pikir berkembang cenderung lebih gigih dalam menghadapi tugas-tugas sulit dan tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan akademik. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Agatha Junita . yang menemukan bahwa mahasiswa dengan growth mindset lebih mampu mengatasi stres akademik karena mereka memiliki pemahaman bahwa kemampuan dapat berkembang dengan usaha yang berkelanjutan. Dengan kata lain, pola pikir berkembang tidak hanya berpengaruh pada pencapaian akademik, tetapi juga pada kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis siswa. Lebih jauh lagi, penelitian yang dilakukan oleh Yeager dan Dweck . menyoroti bahwa intervensi pola pikir berkembang yang dilakukan secara berkelanjutan mampu memberikan dampak jangka panjang terhadap pencapaian siswa. Program intervensi yang menggabungkan aktivitas diskusi, simulasi, dan pelatihan mental terbukti meningkatkan kepercayaan diri siswa untuk menghadapi tantangan akademik yang lebih kompleks. Program ini juga menyoroti pentingnya peran guru dalam membangun pola pikir berkembang di lingkungan belajar. Namun, di tengah pesatnya perkembangan era digital, tantangan baru muncul dalam dunia Pembelajaran berbasis teknologi menuntut siswa untuk memiliki keterampilan adaptasi yang baik agar mampu mengatasi berbagai hambatan, seperti keterbatasan akses teknologi, ketidakmampuan mengatur waktu secara efektif, dan kurangnya interaksi sosial yang intensif. Menurut data UNESCO . , sekitar 30% siswa di negara berkembang mengalami kesulitan dalam mengakses sumber belajar daring yang efektif, yang berimplikasi pada rendahnya motivasi belajar dan pencapaian akademik mereka. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Minorrahman . mengungkapkan bahwa kesenjangan akses teknologi menjadi salah satu faktor penghambat utama bagi siswa dalam mengoptimalkan pembelajaran Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Ekonomi UNJ . menunjukkan bahwa siswa yang kurang mampu beradaptasi dengan teknologi cenderung mengalami penurunan motivasi belajar dan prestasi akademik yang tidak optimal. Hal ini mengindikasikan bahwa selain pola pikir, faktor eksternal seperti akses dan kemampuan menggunakan teknologi juga memainkan peran penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa di era digital. Selain itu, kurangnya pemahaman siswa mengenai pentingnya pola pikir berkembang menjadi salah satu faktor penghambat mereka dalam menghadapi tantangan akademik. Banyak siswa yang cenderung menyerah saat mengalami kesulitan, tanpa memahami bahwa kemampuan mereka dapat ditingkatkan melalui upaya berkelanjutan. Hal ini diperparah dengan minimnya program pendidikan yang secara khusus menanamkan nilai-nilai pola pikir berkembang di sekolah-sekolah, terutama di daerah dengan akses pendidikan yang terbatas. Melihat urgensi tersebut, diperlukan upaya yang komprehensif untuk menumbuhkan pola pikir positif pada siswa agar mereka lebih siap menghadapi tantangan di era digital ini. Salah satu cara efektif yang dapat dilakukan adalah melalui workshop yang dirancang khusus untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya pola pikir berkembang. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pemaparan materi, tetapi juga melibatkan praktik langsung melalui simulasi, diskusi kelompok, dan refleksi Pendekatan ini diharapkan mampu membekali siswa dengan keterampilan berpikir yang positif, percaya diri, serta kemampuan untuk menghadapi berbagai tantangan akademik maupun kehidupan sehari-hari dengan lebih baik. Workshop semacam ini juga dapat menjadi wadah bagi siswa untuk berlatih mengelola stres, mengembangkan strategi belajar yang efektif, dan meningkatkan kemampuan adaptasi mereka terhadap perubahan yang cepat dalam lingkungan belajar. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2025. Vol. 2 No. 1: 39-45 Dengan demikian, penelitian ini berfokus pada implementasi workshop guna menanamkan pola pikir berkembang pada siswa SMA Ahmad Yani Baureno Bojonegoro sebagai upaya meningkatkan prestasi akademik mereka. Melalui pendekatan ini, diharapkan siswa tidak hanya mampu mencapai hasil akademik yang lebih baik, tetapi juga mengembangkan keterampilan hidup yang diperlukan untuk menghadapi tantangan di masa depan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan, khususnya dalam upaya membentuk generasi muda yang tangguh, adaptif, dan berorientasi pada pengembangan diri secara berkelanjutan. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Participatory Action Research (PAR). Metode ini dipilih karena pendekatan partisipatif memungkinkan keterlibatan aktif dari para siswa dan guru dalam kegiatan workshop, sehingga hasil yang dicapai dapat lebih relevan dan berkelanjutan (Suharto 2. Metode PAR berfokus pada pemecahan masalah secara kolaboratif melalui siklus berulang yang melibatkan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi (Kemmis dan McTaggart 2. Pendekatan ini menekankan bahwa subjek yang terlibat dalam kegiatan tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi turut berperan aktif dalam mengidentifikasi masalah, merumuskan solusi, dan mengevaluasi hasil yang dicapai. Tahapan Pelaksanaan Perencanaan. Tahap ini meliputi identifikasi masalah utama yang dihadapi siswa dalam membangun mindset positif di tengah tantangan era digital. Data diperoleh melalui diskusi awal dengan pihak sekolah untuk memahami permasalahan yang dihadapi siswa dan penyebaran kuesioner kepada siswa untuk mengidentifikasi pola pikir mereka terhadap tantangan akademik dan penggunaan teknologi Materi workshop dirancang dengan menyesuaikan kebutuhan siswa berdasarkan hasil identifikasi tersebut. Selain itu, dilakukan pula penyusunan modul workshop yang mencakup materi pola pikir positif, teknik manajemen waktu, strategi belajar efektif, serta pemanfaatan teknologi digital secara optimal untuk mendukung prestasi akademik siswa. Pelaksanaan Workshop dilaksanakan dengan pendekatan interaktif untuk memastikan keterlibatan aktif siswa selama kegiatan. Beberapa metode yang digunakan dalam workshop meliputi: A Diskusi kelompok: Siswa diminta untuk berbagi pengalaman terkait tantangan akademik yang mereka hadapi dan cara mereka mengatasinya. A Simulasi permasalahan: Siswa diberikan studi kasus yang berhubungan dengan situasi nyata, seperti menghadapi kegagalan ujian atau kesulitan dalam mengatur waktu belajar. A Studi kasus berbasis pengalaman sehari-hari: Kegiatan ini bertujuan untuk melatih siswa agar mampu menerapkan pola pikir positif dalam kehidupan nyata (Hidayat dan Kurniawan 2. Selain itu, siswa diminta untuk membuat jurnal refleksi sebagai bentuk evaluasi individu atas pemahaman materi yang disampaikan. Jurnal ini berisi pengalaman siswa selama workshop, pemahaman baru yang mereka peroleh, dan bagaimana mereka berencana menerapkan pola pikir berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Observasi Observasi dilakukan selama kegiatan workshop berlangsung. Observasi ini meliputi: Partisipasi aktif siswa dalam diskusi kelompok dan simulasi. Pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan dan Keterampilan siswa dalam menyelesaikan simulasi masalah yang diberikan. Data observasi dicatat secara sistematis oleh tim fasilitator menggunakan lembar observasi yang telah disusun sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk mendokumentasikan interaksi siswa, respons mereka terhadap materi, dan potensi perubahan pola pikir yang ditunjukkan selama kegiatan berlangsung. Refleksi Tahap refleksi dilakukan untuk mengevaluasi hasil kegiatan workshop. Evaluasi dilakukan A Kuesioner pasca-kegiatan yang diisi oleh siswa untuk mengukur pemahaman mereka setelah mengikuti workshop. A Wawancara dengan guru pendamping untuk memperoleh pandangan terkait perubahan perilaku dan pola pikir siswa pasca-workshop. Data hasil refleksi dianalisis secara kualitatif untuk mengukur efektivitas kegiatan workshop dalam menumbuhkan pola pikir positif pada siswa SMA Ahmad Yani Baureno Bojonegoro. Subjek dan Sasaran Program Program ini melibatkan siswa kelas XI SMA Ahmad Yani Baureno Bojonegoro yang berjumlah 60 Pemilihan kelompok ini didasarkan pada pertimbangan bahwa siswa kelas XI berada pada fase E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2025. Vol. 2 No. 1: 39-45 penting dalam persiapan menghadapi ujian akhir dan penentuan masa depan akademiknya (Setyawan Selain itu, guru pendamping juga dilibatkan untuk mendukung keberlangsungan penerapan pola pikir positif setelah kegiatan workshop. Guru pendamping memiliki peran penting dalam memastikan bahwa hasil dari workshop dapat terus diterapkan di lingkungan sekolah dan menjadi bagian dari praktik belajar sehari-hari. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa instrumen berikut: A Kuesioner: Digunakan untuk mengukur pemahaman siswa sebelum dan sesudah kegiatan Kuesioner ini mencakup pertanyaan tentang pola pikir, manajemen waktu, serta strategi belajar yang digunakan siswa. A Observasi: Observasi dilakukan secara langsung selama kegiatan workshop berlangsung untuk mencatat respons siswa terhadap materi yang disampaikan dan partisipasi mereka dalam berbagai aktivitas. A Wawancara: Wawancara dilakukan dengan guru pendamping untuk mendapatkan pandangan mereka terkait perubahan perilaku dan pola pikir siswa setelah mengikuti workshop. Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil analisis ini mencakup: Identifikasi pola umum dalam pemahaman siswa sebelum dan sesudah kegiatan workshop. Analisis hasil observasi untuk menilai keterlibatan siswa selama workshop dan Evaluasi hasil wawancara untuk mengetahui dampak jangka panjang kegiatan workshop terhadap siswa. Hasil analisis ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai efektivitas workshop dalam menumbuhkan pola pikir positif pada siswa SMA Ahmad Yani Baureno Bojonegoro. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan kegiatan workshop yang dilaksanakan dengan metode Participatory Action Research (PAR), diperoleh beberapa hasil yang signifikan terkait perubahan pola pikir siswa SMA Ahmad Yani Baureno Bojonegoro. Berikut adalah hasil yang diperoleh dari setiap tahapan kegiatan: Perencanaan Identifikasi masalah melalui diskusi dengan pihak sekolah dan kuesioner menunjukkan bahwa mayoritas siswa mengalami kesulitan dalam mengelola waktu, menghadapi tantangan akademik, dan beradaptasi dengan teknologi digital. Materi workshop dirancang untuk fokus pada pengembangan pola pikir positif . rowth mindse. , manajemen waktu, strategi belajar efektif, dan pemanfaatan teknologi Hasil kuesioner awal menunjukkan bahwa 65% siswa cenderung memiliki pola pikir tetap . ixed mindse. , sementara hanya 35% yang menunjukkan tanda-tanda pola pikir berkembang . rowth mindse. Hasil ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk membantu siswa mengubah pola pikir mereka agar lebih siap menghadapi tantangan akademik di era digital. Pelaksanaan Workshop dilaksanakan secara interaktif dengan melibatkan diskusi kelompok, simulasi masalah, dan studi kasus berbasis pengalaman siswa. Sesi diskusi kelompok mendorong siswa untuk berbagi pengalaman mereka terkait kegagalan dalam belajar dan bagaimana mereka biasanya menghadapinya. Dalam sesi ini, siswa yang sebelumnya cenderung menyalahkan kemampuan diri mulai memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Simulasi masalah menjadi sesi yang paling menarik bagi siswa. Salah satu simulasi yang dilakukan adalah skenario AuMenyusun Rencana Studi HarianAy di mana siswa diminta membuat jadwal belajar dengan mempertimbangkan waktu istirahat, hiburan, dan tanggung jawab keluarga. Hasilnya, banyak siswa menyadari bahwa mereka selama ini cenderung menunda tugas karena kurangnya perencanaan yang Jurnal refleksi yang dibuat oleh siswa menunjukkan peningkatan pemahaman tentang pentingnya pola pikir berkembang dan strategi belajar yang efektif. Beberapa siswa melaporkan bahwa mereka mulai melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai akhir dari usaha mereka. Salah satu siswa menulis. AuSaya sadar sekarang bahwa gagal di satu mata pelajaran tidak berarti saya bodoh. Saya hanya perlu mencari cara belajar yang lebih baik. Ay Observasi Selama workshop, siswa terlihat aktif berpartisipasi dalam diskusi dan simulasi. Observasi menunjukkan bahwa siswa mulai memahami konsep growth mindset dan mampu mengaplikasikannya dalam menyelesaikan masalah yang diberikan. Siswa yang sebelumnya cenderung diam dalam diskusi E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2025. Vol. 2 No. 1: 39-45 mulai berani mengungkapkan pendapat mereka. Guru pendamping mencatat bahwa siswa yang sebelumnya cenderung menghindari tantangan mulai menunjukkan sikap yang lebih proaktif dalam menghadapi tugas-tugas sulit. Misalnya, seorang siswa yang biasanya enggan berbicara di kelas mulai aktif bertanya dan berpartisipasi dalam diskusi kelompok. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan rasa percaya diri dan kesadaran bahwa kemampuan dapat berkembang dengan usaha yang tepat. Refleksi Hasil kuesioner pasca-workshop menunjukkan bahwa 85% siswa merasa lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan akademik. Sebanyak 78% siswa melaporkan bahwa mereka telah mengadopsi strategi belajar yang lebih efektif setelah mengikuti workshop. Guru pendamping juga melaporkan adanya perubahan positif dalam sikap dan perilaku siswa, terutama dalam hal ketekunan dan kemampuan mengatasi stres akademik. Beberapa siswa bahkan mulai membantu teman-temannya yang masih kesulitan dalam memahami materi, menunjukkan adanya peningkatan dalam kerja sama dan empati. Pembahasan Hasil dari kegiatan workshop ini menunjukkan bahwa pendekatan Participatory Action Research (PAR) efektif dalam menumbuhkan pola pikir berkembang . rowth mindse. pada siswa. Berikut adalah beberapa poin penting dalam pembahasan hasil: Peningkatan Pemahaman tentang Growth Mindset Siswa yang awalnya cenderung memiliki pola pikir tetap . ixed mindse. mulai memahami bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan melalui usaha dan pembelajaran terus-menerus. Hal ini sejalan dengan temuan Dweck . yang menyatakan bahwa growth mindset dapat meningkatkan motivasi dan ketekunan siswa dalam menghadapi tantangan akademik. Dalam jurnal refleksi, beberapa siswa menulis bahwa mereka mulai melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar, bukan sebagai bukti bahwa mereka tidak mampu. Peningkatan Keterampilan Manajemen Waktu dan Strategi Belajar Workshop berhasil membekali siswa dengan keterampilan manajemen waktu dan strategi belajar yang efektif. Siswa melaporkan bahwa mereka merasa lebih terorganisir dan mampu menyelesaikan tugastugas akademik dengan lebih baik setelah mengikuti workshop. Hasil ini konsisten dengan penelitian Ghaybiyyah . yang menemukan bahwa siswa dengan growth mindset cenderung lebih gigih dalam menghadapi tugas-tugas sulit. Selain itu, beberapa siswa melaporkan bahwa mereka mulai menerapkan teknik seperti metode Pomodoro dan membuat daftar prioritas untuk mengelola waktu dengan lebih baik. Adaptasi terhadap Teknologi Digital Meskipun masih ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan teknologi digital, mayoritas siswa menunjukkan peningkatan dalam pemanfaatan teknologi untuk mendukung Beberapa siswa bahkan mulai menggunakan aplikasi manajemen waktu dan platform pembelajaran online secara mandiri, menunjukkan adanya peningkatan dalam kemandirian belajar. Perubahan Sikap dan Perilaku Guru pendamping melaporkan adanya perubahan positif dalam sikap dan perilaku siswa, terutama dalam hal ketekunan dan kemampuan mengatasi stres akademik. Siswa yang sebelumnya cenderung menghindari tantangan mulai menunjukkan sikap yang lebih proaktif dan berani mengambil risiko dalam Salah satu siswa yang sebelumnya dikenal sering menyerah dalam mengerjakan tugas matematika mulai menunjukkan ketekunan yang lebih baik dengan mencoba metode belajar baru yang dia pelajari dalam workshop. Keterlibatan Aktif Siswa dan Guru Pendekatan partisipatif dalam PAR memungkinkan siswa dan guru untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran, sehingga hasil yang dicapai lebih relevan dan berkelanjutan. Guru melaporkan bahwa mereka merasa lebih terbantu dalam memahami kebutuhan siswa dan dapat memberikan dukungan yang lebih tepat sasaran setelah mengikuti workshop. Implikasi terhadap Kesehatan Mental Hasil wawancara dengan beberapa siswa menunjukkan bahwa mereka merasa lebih mampu mengelola stres akademik setelah mengikuti workshop. Hal ini sejalan dengan temuan Agatha Junita . yang menemukan bahwa mahasiswa dengan growth mindset lebih mampu mengatasi stres akademik karena mereka memiliki pemahaman bahwa kemampuan dapat berkembang dengan usaha yang E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2025. Vol. 2 No. 1: 39-45 Dengan demikian, workshop ini tidak hanya berdampak pada prestasi akademik, tetapi juga pada kesejahteraan psikologis siswa. Pendekatan PAR yang berfokus pada partisipasi aktif berhasil menciptakan lingkungan belajar yang mendukung siswa dalam mengembangkan pola pikir yang lebih positif, meningkatkan keterampilan manajemen waktu, serta membangun kepercayaan diri yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan akademik. KESIMPULAN Kegiatan workshop ini berhasil menumbuhkan pola pikir berkembang . rowth mindse. pada siswa SMA Ahmad Yani Baureno Bojonegoro. Selain itu, siswa juga mengalami peningkatan dalam keterampilan manajemen waktu, strategi belajar, dan adaptasi terhadap teknologi digital. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan PAR efektif dalam menciptakan perubahan positif dalam pola pikir dan perilaku siswa. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan prestasi akademik, tetapi juga pada pengembangan keterampilan hidup yang diperlukan untuk menghadapi tantangan di masa depan. UCAPAN TERIMA KASIH