Jurnal Farmasi SYIFA Volume 4. Nomor 1. Halaman 23-30. Februari 2026 Homepage: https://wpcpublisher. com/jurnal/index. php/JFS DOI: 10. 63004/jfs. Gambaran Tingkat Pengetahuan Dan Perilaku Swamedikasi Penggunaan Obat Tetes Mata Untuk Keluhan Mata Ringan: Sebuah Kajian Literatur Description Of Knowledge Level And Self-Medication Practices Regarding Eye Drops Use For Mild Eye Symptoms: A Literature Review Astri Nur Fadillah1*. Rani Himayani1. Ervina Damayanti1 Program Studi Farmasi. Universitas Lampung. Bandar Lampung. Indonesia *Corresponding author: astrinurfad4@gmail. ABSTRAK Swamedikasi penggunaan obat tetes mata merupakan praktik yang umum dilakukan masyarakat untuk mengatasi keluhan mata ringan, seperti mata kering, mata merah, dan rasa gatal. Praktik ini cenderung dipilih karena kemudahan akses obat, namun dapat menimbulkan risiko apabila tidak disertai pengetahuan dan perilaku penggunaan yang tepat. Kajian literatur ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi penggunaan obat tetes mata pada keluhan mata ringan. Metode yang digunakan adalah penelusuran dan seleksi artikel ilmiah melalui basis data Google Scholar. PubMed, dan Research Gate. Dari hasil seleksi, diperoleh 10 jurnal yang memenuhi kriteria inklusi dengan total 5. 305 responden. Hasil kajian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan obat tetes mata umumnya berada pada kategori cukup hingga baik, dengan persentase berkisar antara 51% hingga 65,67%. Namun, perilaku penggunaan obat tetes mata masih menunjukkan ketidaktepatan, terutama dalam penggunaan obat tetes mata yang seharusnya memerlukan resep. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tingkat pengetahuan dan perilaku penggunaan obat tetes mata. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi untuk meningkatkan penggunaan obat tetes mata yang aman dan rasional pada keluhan mata ringan. Kata kunci: keluhan mata ringan, obat tetes mata, pengetahuan, perilaku, swamedikasi ABSTRACT This is an open access article under the CC BY-NC 4. Self-medication with eye drops is a common practice for managing mild eye symptoms such as dryness, redness, and itching. This practice is often chosen due to easy access to medications. however, it may pose risks when not supported by adequate knowledge and appropriate usage This literature review aims to describe the level of knowledge and self-medication behavior regarding the use of eye drops for mild eye symptoms. The method involved searching for and selecting scientific articles from Google Scholar. PubMed, and ResearchGate. From the selection process, 10 articles met the inclusion criteria, involving a total of 5,305 respondents. The results indicate that knowledge levels generally ranged from moderate to good, with percentages between 51% and 65. However, inappropriate practices were still identified, particularly the use of eye drops that require medical. These findings indicate a gap between knowledge level and actual practice. Therefore, educational efforts are needed to promote safe and rational use of eye drops for mild eye symptoms. Keywords: eye drops, knowledge, practice, mild eye symptoms, self-medication PENDAHULUAN Swamedikasi merupakan perilaku individu dalam memilih dan menggunakan obat untuk mengatasi penyakit atau gejala yang dianggap Perilaku ini mencakup penggunaan obat tanpa resep dokter serta penggunaan kembali obat yang tersisa dari pengobatan sebelumnya (Alessa et , 2. Praktik ini banyak ditemukan secara global, baik di negara maju maupun negara berkembang, dengan angka kejadian berkisar antara 25,6% hingga 73,6% (Adimassu et al. Dalam konteks kesehatan mata, swamedikasi juga masih sering dilakukan, terutama untuk menangani keluhan mata ringan (Almazrou et al. , 2. Secara global, prevalensi swamedikasi obat mata dilaporkan berkisar antara 18,2% hingga 73,6% dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain tingkat pendidikan. Jurnal Farmasi SYIFA jenis kelamin, status sosial ekonomi, serta ketersediaan obat (Chakrabarty, 2. Keluhan mata ringan merupakan kumpulan gejala pada permukaan okular yang bersifat subjektif dan tidak selalu ditandai dengan gejala berat, misalnya mata kering . ry ey. , konjungtivitis alergi, dan kelelahan mata akibat penggunaan layar . igital eye strai. (Synchezgonzylez et al. , 2. Dalam penatalaksanaan keluhan mata ringan, obat tetes mata berbasis artificial tears merupakan pilihan terapi lini pertama karena dapat membantu meredakan gejala dalam waktu singkat (Beeson et al. , 2. Namun, obat tetes mata lain seperti yang mengandung kortikosteroid juga sering digunakan karena mudah diperoleh, padahal penggunaan tanpa pengawasan dapat menimbulkan komplikasi serius, termasuk peningkatan tekanan intraokular yang berisiko keterlambatan penyembuhan jaringan mata (Alamer et al. , 2. Penggunaan obat mata secara swamedikasi yang tidak tepat, meskipun dianggap praktis untuk menangani keluhan ringan, dapat menimbulkan berbagai dampak yang merugikan. Penggunaan obat oftalmik yang tidak rasional berisiko menyebabkan resistensi mikroba, hasil terapi yang tidak optimal, reaksi obat yang merugikan, serta progresivitas penyakit mata yang tidak terdeteksi sejak dini (Al Hemaidi et al. , 2. Selain itu, masih banyak individu yang belum sepenuhnya memahami potensi risiko penggunaan obat tetes mata bebas . ver-the-counter/OTC), seperti reaksi alergi, toksisitas, maupun perburukan kondisi mata yang mendasari, termasuk glaukoma dan sindrom mata kering. Penggunaan obat tanpa pengetahuan yang memadai juga berpotensi menutupi gejala penyakit mata yang lebih serius, sehingga dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat (Alamer et al. , 2. Selain aspek pengetahuan, perilaku penggunaan obat tetes mata juga berperan penting dalam keamanan dan efektivitas swamedikasi. Penelitian menunjukkan bahwa kesalahan teknik penggunaan obat tetes mata masih sering terjadi, seperti menyentuhkan ujung botol ke mata atau kelopak mata . ,7%), tidak menutup mata setelah penetesan . ,8%), serta tidak melakukan penekanan duktus nasolakrimal selama minimal Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 satu menit . ,7%) (Mehuys et al. , 2. Selain itu, sekitar 20% sediaan suspensi oftalmik tidak dikocok sebelum digunakan, dan 40% pengguna melaporkan permasalahan saat meneteskan obat, seperti kesulitan meneteskan obat ke mata atau keluarnya tetesan berlebihan. Hasil penelitian Mehuys et al . menunjukkan bahwa keterbatasan pengetahuan dan perilaku penggunaan obat tetes mata yang tidak tepat masih umum ditemukan di masyarakat. Dalam penggunaan obat tetes mata, keterbatasan pengetahuan mengenai jenis obat, indikasi, durasi pemakaian, serta potensi efek samping dapat berkontribusi terhadap penggunaan yang tidak tepat. Beberapa penelitian melaporkan bahwa kurangnya pemahaman pengguna terkait risiko dan cara penggunaan obat tetes mata, . ver-the-counte. , berhubungan dengan terjadinya penyalahgunaan obat oftalmik dan peningkatan risiko komplikasi, meskipun keluhan yang ditangani tergolong ringan atau termasuk penyakit mata ringan (Sahoo et al. Dar et al. , 2. Selain itu, anggapan bahwa obat tetes mata aman digunakan tanpa pengawasan tenaga kesehatan, yang dipengaruhi oleh rendahnya literasi kesehatan maupun informasi promosi yang tidak memadai, dapat mendorong praktik swamedikasi yang tidak rasional (Al Hemaidi et , 2. Oleh karena itu, kajian terhadap pengetahuan dan perilaku dalam swamedikasi penggunaan obat tetes mata menjadi penting untuk mendukung penatalaksanaan keluhan mata ringan yang aman dan efektif. METODE Metode yang digunakan dalam review jurnal ini adalah pengumpulan artikel penelitian sebanyak 136 artikel yang diperoleh dari basis data Google Scholar. PubMed dan Research Gate. Penelusuran menggunakan kata kunci pencarian antara lain Auophthalmic self-medicationAy. Aueye dropsAy. Aumild eye symptomsAy. AuknowledgeAy, dan AupracticeAy, serta padanan dalam bahasa Indonesia seperti AuswamedikasiAy. Auobat tetes mataAy, dan Aukeluhan mata ringanAy. Mendeley digunakan untuk pembuatan sitasi dan penyusunan daftar pustaka. Jurnal ini akan membahas mengenai tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi mengenai Jurnal Farmasi SYIFA Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 penggunaan obat tetes mata untuk keluhan mata ringan dapat dilihat pada Tabel 1. 136 jurnal hasil pencarian 73 jurnal diperoleh dari situs Research Gate 53 jurnal diperoleh dari situs Google Scholar 10 jurnal diperoleh dari situs Pubmed 10 jurnal dipilih setelah penyaringan yang diperolah dari situs Research Gate dan Google Scholar Dikeluarkan 126 jurnal yang tidak relevan A 69 jurnal diperoleh dari situs Resarch Gate A 46 jurnal diperoleh dari situs Google Scholar A 10 jurnal diperoleh dari situs Pubmed Kriteria jurnal yang dieksklusi: Artikel dengan objek penelitian berupa hewan atau uji praklinis Artikel yang tidak membahas aspek pengetahuan dan/atau perilaku terkait Artikel yang tidak menjelaskan penggunaan obat tetes mata Gambar 1. Diagram alur pemilihan literatur HASIL Pada review jurnal ini dilakukan penelusuran dan seleksi terhadap 136 artikel ilmiah yang membahas praktik swamedikasi penggunaan obat tetes mata, keluhan mata ringan, serta gambaran pengetahuan dan perilaku pengguna. Obat tetes mata merupakan sediaan oftalmik yang digunakan untuk memberikan efek lokal pada mata dan umum digunakan dalam praktik swamedikasi karena kemudahan penggunaan serta ketersediaan yang luas. Menurut American Academy of Ophtalmology penggunaan artifial tears sebagai terapi utama untuk keluhan mata yang ringan, melindungi permukaan okular, dan mengurangi ketidaknyamanan pada mata kering dan iritasi ringan (Beeson et al. , 2. Di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa obat tetes mata pelumas dapat digunakan untuk keluhan mata ringan, namun penggunaannya harus memperhatikan jenis obat, cara pemakaian, serta durasi penggunaan agar terhindar dari efek samping (Kemenkes RI, 2. Penatalaksanaan keluhan mata ringan pada umumnya bersifat simptomatik dan berfokus pada kenyamanan mata (Sheppard & Wolffsohn, 2. Keberhasilan terapi sangat ditentukan oleh cara Dengan menggunakan obat tetes mata secara tepat, seseorang dapat mengurangi risiko munculnya efek samping atau gangguan lain yang mungkin terjadi akibat penggunaan yang keliru (Ayuchecaria et al. , 2. Review Jurnal ini menyajikan ringkasan hasil penelitian terkait gambaran pengetahuan dan perilaku swamedikasi penggunaan obat tetes mata pada keluhan mata ringan, yang dirangkum dalam bentuk tabel sebagai Tabel 1. Karakteristik Artikel Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Penggunaan Obat Tetes Mata untuk Keluhan Mata Ringan Judul Penulis Responden Hasil Pengetahuan dan (Putri et al. , 232 Sebanyak 59,84% Profil Perilaku Penggunaan Obat 2. pengetahuan yang tergolong cukup, namun Tetes Mata pada Mahasiswa perilaku penggunaannya hanya 45,20% dimana Kota Surabaya masih tergolong kurang . Ophthalmic Self-Medication (Alamer et 308 Sebanyak 64,6% Practices and Associated al. , 2. pengetahuan yang baik, namun perilaku Factors of Using Steroid Eye swamedikasi masih buruk dengan 12% menggunakan steroid tanpa resep satu kali dan Jurnal Farmasi SYIFA Drops Among Adult Opthalmic Patients Knowledge. Attitude, and Practice Regarding Over-theCounter Prescription of Topical Eye Medications Among General Population of Saudi Arabia Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 (Al Hemaidi et , 2. Knowledge and Practices Regarding Self-medication of Ophthalmic Products in Rawalpindi (Fayyaz. et al. , 2. Self-medication ophthalmic drugs and its associated factors among ophthalmic patients attending three hospitals in Asmara. Eritrea: a cross-sectional (Tesfay et , 2. Knowledge. Attitudes, and Practices Toward Self-Medicating Eye Symptoms in Saudi Arabia (Alessa et , 2. Prevalence of self-medication use, and the attitude and practices toward traditional eye medicines regarding eye (Almazrou et al. , 2. Use of eye drops selfmedication in Aseer region. Southern Saudi Arabia Abdulrahman Ophthalmology Selfmedication Practices: A Questionnaire-based Study (Alamri et , 2. (Albuyrak et al. , 2. (Ahmad et , 2. Prevalence and Predictors of Self-Medication Among Ophthalmic Patients Jordan: A Cross-Sectional Analysis 35% berulang kali, yang beruju 28,3% Sebanyak 59,7 responden pernah menggunakan obat tetes mata tanpa resep dokter. Dari aspek pengetahuan sebanyak 53,5% tidak mengetahui kandungan obat dan 52,6% tidak mengetahui efek samping obat tetes mata. Dari aspek perilaku, 48,2% menentukan sendiri pemilihan obat, dan 60,7% menggunakan obat tetes mata lebih dari satu kali tanpa berkonsultasi. Sebanyak pengetahuan yang baik mengenai penggunaan produk oftalmik untuk swamedikasi, sementara hanya 26,67% responden yang memiliki perilaku yang baik. Sebanyak 14,9% swamedikasi obat tetes mata, dengan antibiotik . ,6%) dan kortikosteroid . ,7%) sebagai obat Dari aspek pengetahuan, sumber informasi utama berasal dari tenaga kefarmasian . ,1%), sedangkan dari aspek perilaku, praktik swamedikasi dipengaruhi oleh kemudahan akses obat . ,9%) dan sikap (COR = 1,. Sebanyak 51% responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi tentang obat oftalmik, tidak ditemukan hubungan signifikan antara pengetahuan dan perilaku swamedikasi . = 0,. Sebanyak 6,82% responden menggunakan obat mata tanpa konsultasi dokter. Dari aspek perilaku, . ,4%) menggunakan obat tradisional mata, namun mayoritas . ,6%) menunjukkan preferensi terhadap obat medis Sebanyak 34,4% responden menentukan sendiri penggunaan obat tetes mata tanpa resep, dengan perilaku swamedikasi terutama didorong oleh mata gatal . ,2%) dan mata merah . ,4%). Sebanyak 37,2% swamedikasi obat tetes mata, dengan 32,6% menggunakan tetes mata steroid. Dari aspek pengetahuan, 86,6% pengguna steroid tidak mengetahui risiko komplikasi, sementara dari aspek perilaku penggunaan obat tetes mata tetap tinggi . ,1%). Sebanyak 21,0% swamedikasi untuk keluhan mata, dengan perilaku penggunaan terutama dipengaruhi oleh anjuran apoteker/optik . ,7%) dan anggapan keluhan tidak berat . ,4%). Keluhan yang paling sering mendorong swamedikasi adalah mata merah . ,3%) dan mata gatal . ,3%). Jurnal Farmasi SYIFA PEMBAHASAN Hasil review dari 1 jurnal nasional dan 9 jurnal internasional menunjukkan bahwa praktik swamedikasi penggunaan obat tetes mata untuk keluhan mata ringan masih sering terjadi, dengan variasi tingkat pengetahuan dan perilaku antar Secara umum, temuan konsisten dari beberapa penelitian adalah adanya kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku, yaitu responden dapat memiliki pengetahuan cukup/baik, namun perilaku penggunaan obat tetes mata tergolong kurang tepat (Putri et al. , 2024. Alamer et al. , 2023. Alessa et al. , 2. Penelitian pada mahasiswa di Kota Surabaya menunjukkan bahwa sebanyak 59,84% responden memiliki tingkat pengetahuan yang tergolong cukup, tetapi perilaku penggunaan obat tetes mata masih berada pada kategori kurang, yaitu sebesar 45,20% (Putri et al. , 2. Kondisi serupa juga dilaporkan di Rawalpindi. Pakistan, di mana sebagian besar responden sebanyak 65,67% memiliki pengetahuan yang baik mengenai produk oftalmik, tetapi hanya 26,67% yang menunjukkan perilaku swamedikasi yang baik (Fayyaz et al. Masalah perilaku swamedikasi semakin terlihat pada penggunaan obat tetes mata yang mengandung kortikosteroid. Penelitian melaporkan bahwa 64,6% responden memiliki pengetahuan yang baik mengenai penggunaan steroid mata, namun masih ditemukan perilaku penggunaan tanpa resep dokter, baik satu kali . %) maupun berulang . %). Praktik tersebut berdampak pada munculnya komplikasi pada 28,3% responden (Alamer et al. , 2. Hal yang sejalan dilaporkan oleh Albuyrak et al. , di mana 37,2% responden melakukan swamedikasi obat tetes mata dan 32,6% di antaranya menggunakan steroid. Dari aspek pengetahuan, sebanyak 86,6% pengguna steroid tidak mengetahui risiko komplikasi, sementara dari aspek perilaku penggunaan obat tetes mata tetap tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa keterbatasan pengetahuan spesifik terkait risiko obat berkontribusi terhadap perilaku penggunaan yang tidak rasional. Studi lain menyoroti peran pengetahuan dan sikap dalam praktik swamedikasi. Penelitian di Eritrea menunjukkan prevalensi swamedikasi obat tetes mata sebesar 14,9%, dengan antibiotik dan kortikosteroid sebagai obat yang paling sering digunakan. Sumber informasi Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 utama berasal dari tenaga kefarmasian . ,1%), sementara kemudahan akses obat . ,9%) menjadi alasan utama perilaku swamedikasi. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa sikap responden memiliki hubungan yang bermakna dengan praktik swamedikasi (COR = 1,. (Tesfay et al. , 2. Temuan ini menunjukkan bahwa aspek sikap memiliki peran penting dalam menentukan perilaku penggunaan obat tetes mata. Penelitian yang dilakukan pada populasi umum di Arab Saudi menunjukkan bahwa meskipun sekitar 51% responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi mengenai obat oftalmik, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi . = 0,. (Alessa et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa praktik swamedikasi tetap dilakukan meskipun responden memiliki pemahaman yang Penelitian lain juga melaporkan bahwa sebagian besar responden pernah menggunakan obat tetes mata tanpa resep dokter, dengan keterbatasan pengetahuan terkait kandungan dan efek samping obat tetes mata. Dari aspek perilaku, responden cenderung menentukan sendiri pemilihan obat dan menggunakan obat tetes mata lebih dari satu kali tanpa berkonsultasi (Al Hemaidi et al. , 2. Perilaku swamedikasi juga dipengaruhi oleh persepsi terhadap keluhan mata yang dialami. Penelitian di wilayah Aseer melaporkan bahwa 34,4% responden menentukan sendiri penggunaan obat tetes mata tanpa resep dokter. Keluhan yang paling sering mendorong swamedikasi adalah mata gatal . ,2%) dan mata merah . ,4%) (Alamri et , 2. Penelitian di Yordania menunjukkan hasil yang sejalan, di mana 21,0% responden melakukan swamedikasi untuk keluhan mata, terutama karena anjuran apoteker atau optik . ,7%) dan anggapan bahwa keluhan yang dialami tidak berat (Ahmad et al. , 2. Selain obat medis, sebagian masyarakat juga masih menggunakan pengobatan alternatif. Penelitian oleh Almazrou et al. menunjukkan bahwa 16,4% responden pernah menggunakan obat tradisional mata, meskipun mayoritas responden . ,6%) lebih memilih obat medis untuk Temuan menunjukkan bahwa pilihan terapi sering dipengaruhi oleh kebiasaan dan persepsi Jurnal Farmasi SYIFA keamanan, bukan semata-mata oleh pengetahuan yang benar. Swamedikasi individu dalam menggunakan obat untuk mengatasi keluhan yang dirasakan tanpa melalui diagnosis dan konsultasi langsung dengan tenaga Swamedikasi dapat memberikan manfaat apabila dilakukan secara tepat, terutama untuk keluhan ringan, karena dapat menghemat waktu dan biaya pengobatan. Namun, keberhasilan dan keamanan swamedikasi sangat ditentukan oleh tingkat pengetahuan dan perilaku individu dalam menggunakan obat secara benar. Notoatmodjo . menyatakan bahwa pengetahuan merupakan dasar terbentuknya perilaku, sehingga keterbatasan pengetahuan dapat berdampak pada perilaku penggunaan obat yang tidak sesuai. Dalam penggunaan obat tetes mata untuk keluhan ringan perlu memperhatikan jenis obat, cara pemakaian, serta durasi penggunaan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas menekankan bahwa obat tetes mata bebas dapat digunakan untuk keluhan ringan dengan syarat pengguna memahami aturan pakai dan teknik penggunaan yang benar (Kemenkes RI, 2. Penggunaan obat tetes mata yang tepat, seperti menjaga ujung penetes tetap steril, mencuci tangan sebelum dan sesudah pemakaian, serta meneteskan obat sesuai teknik yang dianjurkan, berperan penting dalam menurunkan risiko efek samping dan kegagalan terapi (Ayuchecaria et al. , 2. Selain penyimpanan obat tetes mata juga perlu mendapat Penyimpanan yang tidak sesuai dapat meningkatkan risiko kontaminasi dan menurunkan kualitas sediaan. Obat tetes mata yang telah dibuka tidak dianjurkan digunakan lebih dari 28Ae30 hari karena melewati batas aman penggunaan setelah kemasan dibuka atau Beyond Use Date (BUD) (United States Pharmacopoeia, 2022. Laila et al. Penggunaan obat tetes mata melebihi BUD mikroorganisme yang dapat membahayakan pengguna, terutama pada individu dengan kondisi kesehatan tertentu (Widyastiwi et al. , 2. Risiko penggunaan obat tetes mata juga meningkat pada sediaan yang mengandung Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 kortikosteroid atau bahan pengawet apabila digunakan tanpa pengawasan dan dalam jangka Penelitian penggunaan tetes mata kortikosteroid lebih dari dua minggu dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraokular dan meningkatkan risiko terjadinya glaukoma (Asroruddin et al. , 2. Selain itu, kandungan pengawet seperti benzalkonium chloride diketahui dapat menyebabkan iritasi dan memperburuk keluhan mata kering apabila digunakan secara berulang (Sitompul & Nora. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan yang disertai pembentukan perilaku penggunaan obat tetes mata yang tepat menjadi aspek penting dalam mendukung praktik swamedikasi yang aman dan rasional pada keluhan mata ringan. SIMPULAN Review jurnal ini melibatkan 10 jurnal dengan total 5. 305 responden. Hasil review menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan penggunaan obat tetes mata pada keluhan mata ringan umumnya berada pada kategori cukup hingga baik berkisar antara 5165,67%, namun perilaku penggunaannya masih menunjukkan ketidaktepatan, ditandai dengan penggunaan obat tetes mata tanpa konsultasi tenaga kesehatan serta penggunaan obat yang seharusnya memerlukan pengawasan medis, dengan proporsi berkisar antara 6,8262,4%. REFERENSI