Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2025, pg. TINGKAT STRES PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI SALAH SATU PUSKESMAS KOTA BANJARMASIN STRESS LEVELS IN PULMONARY TUBERCULOSIS PATIENTS AT A COMMUNITY HEALTH CENTER IN BANJARMASIN CITY Aulia Rachman* | 2Afie Anari | 3Lanawati 1 Nursing. STIKES Suaka Insan. Banjarmasin. Indonesia, e-mail: auliarachman04@gmail. 2 Nursing. STIKES Suaka Insan. Banjarmasin. Indonesia, e-mail: afieanari08@gmail. 3 Nursing. STIKES Suaka Insan. Banjarmasin. Indonesia, e-mail: lanawati@stikessuakainsan. * Corresponding Author: lanawati@stikessuakainsan. ARTICLE INFO Article Received: November, 2024 Article Accepted: November, 2024 Article Published: May, 2025 ABSTRAK Latar belakang: Penyakit TB paru dapat menjadi sumber stresor yang meningkatkan potensi stres pada penderitanya. Manifestasi klinis penyakit dan proses pengobatan OAT yang panjang dan intensif, dapat berkembang menjadi sumber stresor yang dapat berkembang menjadi stres. Stres ini dapat memengaruhi buruknya manajemen penyakit dan pengobatan, yang mengakibatkan penurunan kualitas hidup. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengukur gambaran tingkat stres pada penderita TB paru. Metode: Metode yang digunakan yaitu kuantitatif dengan survei deskriptif. Pengambilan data menggunakan kuesioner Perceived Stres Scale (PSS)-10 terdapat 30 orang penderita TB paru di salah satu Puskesmas di kota Banjarmasin. Analisis data dilakukan menggunakan metode analisis univariat dengan perhitungan rumus distribusi frekuensi Hasil: Hasil penelitian mayoritas penderita TB paru mengalami tingkat stres sedang sebanyak 93,3%, dengan dua faktor utama yang menyebabkan stres yaitu ketidakpastian/kecemasan dan rasa tidak berdaya Implikasi: Penelitian ini menyoroti pendekatan holistik dalam pengelolaan TB paru, tidak hanya berfokus pada aspek fisik saja. Kata Kunci: Tingkat Stres. TB Paru. Pengelolaan TB ISSN (Prin. : 2088-6098 ISSN (Onlin. : 2550-0538 Website: https://jurnal. E-mail: jkmmalang@gmail. DOI: https://doi. org/10. 36916/jkm ABSTRACT Background: Pulmonary TB can be a significant stressor, increasing stress potential in patients. The clinical manifestations of TB and the prolonged, intensive treatment with antituberculosis drugs (ATD) can develop into sources of stress, potentially worsening the patient's overall stress. This stress may negatively impact disease and treatment management, leading to a reduced quality of life. Purpose: This study aims to assess stress levels among pulmonary TB Methods: A quantitative approach with a descriptive survey design was Data were collected using the Perceived Stress Scale (PSS)-10 questionnaire among 30 pulmonary TB patients at a community health center in Banjarmasin City. Data analysis used univariate methods with frequency distribution calculations. Result: Findings indicate that 93. 3% of pulmonary TB patients experienced moderate stress levels, with two primary stress-inducing factors: uncertainty/anxiety and a sense of helplessness Implication: This study emphasizes the importance of a holistic approach to pulmonary TB management, addressing both physical and psychosocial Keywords: Stress Levels. Pulmonary TB. TB Management Copyright A The Author. 2025 | Page 31 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2025, pg. LATAR BELAKANG Penyakit tuberkulosis atau TB terus bertambah setiap tahunnya dan menjadi salah satu penyakit dengan penderita tertinggi di dunia. Pada tahun 2019, ditemukan sekitar 450 ribu kasus TB di seluruh dunia. Kasus terbanyak terjadi di negara-negara Eropa Timur dan Asia Tengah. Di wilayah Asia Tenggara. Indonesia termasuk dalam lima negara dengan jumlah kasus TB tertinggi yang dilaporkan (WHO, 2. Data Direktorat P2PM . menyatakan bahwa dari estimasi 969. 000 kasus TBC, terdapat 724. %) kasus yang ter-notifikasi, meninggalkan 25% kasus yang belum ter-notifikasi. Data Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin mencatat, prevalensi TB di kota Banjarmasin meningkat dari 903 kasus pada tahun 2021 menjadi 1. 869 kasus pada tahun 2023 (Dinkes Kota Banjarmasin, 2. Peningkatan Kasus TB menggambarkan bahwa prevalensi penyakit ini masih tinggi di Masyarakat, baik secara global maupun di Indonesia. Jumlah penderita TB yang terus meningkatkan tersebut mencerminkan buruknya penanganan dalam penyakit ini. Tingginya prevalensi TB di masyarakat dapat terjadi karena beberapa faktor. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa beberapa aspek terkait lingkungan fisik seperti ventilasi, kepadatan hunian, pencahayaan, suhu, dan kelembaban memiliki keterkaitan dengan munculnya kasus TB di kalangan masyarakat (Miharti, 2022. Siregar, 2. Faktor lainnya yang ditemukan pada penelitian lain berkaitan dengan karakteristik usia di bawah 58 tahun, jenis kelamin laki-laki, tingkat pendidikan rendah, dan riwayat kontak dengan penderita dianggap memiliki potensi lebih besar untuk menderita TB paru (Andriyanto et al, 2024. Sopacuaperu. Wowor, & Naziyah, 2. Penyakit TB dapat mempengaruhi kondisi fisik, psikologis, dan sosial penderitanya. Hal ini terjadi karena manifestasi klinis dapat muncul pada penderita TB, seperti batuk terus menerus, sesak nafas, dan penurunan berat badan. Tanda gejala yang muncul dapat menimbulkan kecemasan, takut, serta perasaan malu. Dalam studi serupa, ditemukan bahwa kualitas hidup yang rendah umumnya ditemukan pada penderita TB paru, terutama dalam aspek fisik dan psikologis (Alfauzan & Lucya, 2. Di sisi lain, penderita TB perlu menjalani pengobatan OAT . bat anti tuberkulosi. secara intensif setiap hari selama 6 Pengobatan yang panjang dan intensif ini dapat menimbulkan kebosanan dan frustasi bagi penderitanya (Diamanta. D, & Buntoro, 2. Gejala fisik yang muncul akibat penyakit TB serta stigma dan diskriminasi dari lingkungan terhadap penderita dan keluarganya dapat berdampak pada kondisi psikologis penderita TB. Stres yang dialami oleh penderita TB dapat berdampak serius terhadap Copyright A The Author. 2025 | Page 32 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2025, pg. kualitas hidup dan manajemen penyakit penderita TB. Studi telah melaporkan bahwa hampir semua penderita TB pernah mengalami stres dan koping yang tidak adaptif karena menderita TB paru (Wibowo. Amin, & Hidayati, 2. Salah satu dampak yang paling sering ditemukan adalah depresi pada penderita, kecemasan, dan penurunan kualitas hidup (Duko. Bedaso, & Ayano, 2020. Febi et al, 2. Di sisi lain, kejadian putus obat juga paling banyak dilaporkan dalam berbagai studi sebagai salah satu dampak yang sering dialami oleh penderita TB (Diamanta et al. , 2. Kualitas hidup yang rendah dan manajemen penyakit yang buruk berpotensi meningkatkan risiko penyakit TB paru berkembang menjadi MDR-TB. Hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti terhadap 10 penderita TB paru yang ada di salah satu PKM di kota Banjarmasin menemukan bahwa, penderita mengungkapkan merasakan stres karena menderita TB. Stres karena merasa malu dengan penyakitnya dan lebih memilih mengurung diri. Mereka juga mengungkapkan takut menularkan ke orang lain, dan merasa sedih karena tidak kunjung sembuh, serta merasa dijauhi oleh lingkungan sekitar. Meski demikian, sebagian dari mereka mengungkapkan hal yang bertentangan, dimana mereka mengakui tidak merasa cemas atau khawatir karena merasa sudah rutin menjalani terapi OAT dan gejala yang dirasakan sudah tidak berat serta sudah dapat beraktivitas. Sedangkan dari pihak PKM mengungkapkan bahwa tidak ada program khusus yang diberikan pada penderita TB paru di wilayah mereka untuk mampu mengelola stres karena penyakit yang diderita. Saat ini, program PKM hanya berfokus pada kegiatan pencegahan seperti pendidikan kesehatan dan kontrol minum OAT. Hasil yang didapatkan dalam studi pendahuluan tersebut menunjukan bahwa penyakit TB paru menjadi sumber stresor yang meningkatkan potensi stres pada penderitanya. samping itu, hasil telusur pustaka menunjukan pula bahwa manifestasi klinis penyakit, proses pengobatan OAT yang panjang dan intensif dapat berkembang menjadi sumber stresor yang berubah menjadi stres. Stres pada penderita TB dapat mempengaruhi buruknya manajemen penyakit dan pengobatan yang mengakibatkan penurunan kualitas Oleh karena itu, penting untuk memahami tingkat stres pada penderita TB. Dengan demikian, manajemen stres terhadap penyakit kronis dan menular dapat dilakukan secara tepat dan sesuai dengan tingkatannya. Copyright A The Author. 2025 | Page 33 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2025, pg. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan survei deskriptif. Proses pengambilan data menggunakan kuesioner Perceived Stres Scale (PSS)-10. Di Indonesia. PSS-10 sering digunakan untuk mengukur tingkat stres dan dinyatakan valid untuk digunakan. Peneliti menggunakan rujukan hasil uji validitas yang dilakukan oleh Asram. Riskiyani, & Thaha . , dimana 10 butir pertanyaan PSS-10 menunjukan nilai korelasi > 0,333 dan dinyatakan valid untuk digunakan. Instrumen ini juga dinyatakan reliabel, dimana nilai CronbachAos Alpha menunjukan nilai sebesar 0,888 (Asram. Riskiyani, & Thaha, 2. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 30 orang penderita TB Paru di salah satu Puskesmas Kota Banjarmasin. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik total sampling. Teknik ini digunakan, karena jumlah populasi penderita TB paru di Puskesmas tersebut kurang dari 100, sehingga peneliti mengambil seluruh populasi untuk terlibat sebagai responden dalam penelitian ini. Penelitian ini berlangsung dari 27-30 Juni 2024. Analisis data dilakukan secara manual menggunakan bantuan tabel Ms. Excel dengan metode analisis univariat. Data yang terkumpul dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus distribusi frekuensi. Seluruh proses pengumpulan data dilakukan setelah peneliti mendapatkan sertifikat kelaikan etik dari KEPK STIKES Suaka Insan pada tanggal 6 Juni 2024 dengan nomor 142/KEPK-SI/VI/2024. HASIL Berdasarkan tabel. 1 menunjukkan karakteristik penderita TB yang terlibat dalam penelitian ini dibagi oleh peneliti ke dalam 3 karakteristik, yaitu: jenis kelamin, usia, dan Pada karakteristik jenis kelamin, ditemukan bahwa mayoritas penderita TB yang terlibat adalah laki Ae laki dengan persentase 60% . Penderita TB paru yang terlibat dalam penelitian ini mayoritas berada pada kategori usia dewasa akhir dengan prevalensi sebanyak 36,7% . Mayoritas penderita TB paru yang terlibat dalam penelitian ini 46,7% . memiliki pekerjaan sebagai buruh Tabel 1. Karakteristik penderita TB paru Karakteristik Jenis Kelamin Laki Ae laki Perempuan Usia Dewasa Awal ( 26 Ae 35 tahu. Dewasa Akhir ( 36 Ae 45 tahu. Lansia Awal ( 46 Ae 55 tahu. Lansia Akhir ( 56 Ae 65 tahu. Manula ( 65 tahun > ) Copyright A The Author. 2025 Frekuensi | Page 34 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2025, pg. Pekerjaan Ibu Rumah Tangga Wiraswasta Buruh Sumber: Data Primer, 2024 . Pada tabel 2 menunjukan bahwa mayoritas penderita TB paru yang terlibat dalam penelitian ini mengalami tingkat stres sedang, yaitu sebanyak 93,3% . Tabel 2. Tingkat stres penderita TB paru yang terlibat dalam penelitian Kategori Ringan Sedang Berat Frekuensi Total Sumber: Data Primer, 2024 . Presentase 6,7 % 93, 3 % PEMBAHASAN Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas penderita TB adalah laki-laki dengan persentase mencapai 60%. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa laki-laki lebih rentan terhadap penyakit TB jika dibandingkan dengan perempuan. Pernyataan ini selaras dengan studi terdahulu, yang menyatakan bahwa laki-laki memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami TB paru karena kecenderungan faktor gaya hidup seperti merokok dan konsumsi alkohol. Di samping itu, umumnya laki-laki memiliki peran sebagai pencari nafkah dalam keluarga dan sering bekerja di luar rumah dan memungkinkan potensi tertular kuman TB (Husnaniyah. Lukman, & Susanti, 2. Data karakteristik responden menunjukan bahwa 36,7% penderita TB paru berada pada kategori usia dewasa. Kategori usia ini, dilaporkan dalam studi terdahulu sebagai kategori usia yang paling rentan tertular TB paru. Kerentanan tersebut berhubungan dengan peran dan tanggung jawab yang diemban. Pada usia dewaa akhir, individu cenderung menggunakan energinya untuk bekerja, sering kekurangan waktu istirahat, dan mengalami penurunan daya tahan tubuh, serta mobilitas yang tinggi. Situasi inilah yang dilaporkan meningkatkan risiko usia dewasa akhir lebih rentan dengan risiko tertular TB paru (Sunarmi & Kurniawaty, 2. Peneliti menemukan bahwa 46,7% penderita TB paru bekerja sebagai buruh. Ini berarti ada kerentanan yang terindikasi dari jenis pekerjaan yang dimiliki oleh penderita TB. Serupa dengan studi Hutama. Riyanti, & Kusumawati . , dimana lingkungan kerja buruh dilaporkan sering kali memiliki kebersihan sanitasi yang buruk, sehingga meningkatkan potensi dampak negatif terhadap kesehatan. Lingkungan kerja dengan sanitasi yang buruk meningkatkan potensi penularan TB lebih mudah terjadi. Copyright A The Author. 2025 | Page 35 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2025, pg. Temuan utama dalam penelitian ini menunjukan bahwa mayoritas penderita TB paru mengalami tingkat stres sedang. Berdasarkan penelitian sebelumnya mengenai TB paru, mayoritas studi menunjukkan temuan yang sejalan dengan hasil penelitian ini. Dimana penderita TB paru umumnya terindikasi mengalami stres karena menderita penyakit Tingkat stres yang dialami pun bervariasi, beberapa melaporkan stres yang dialami berada di tingkat ringan, namun ada pula yang melaporkan stres pada penderita TB paru umumnya berada di tingkat sedang atau berat (Diamanta et al. , 2020. Fiamanda & Widyaningsih, 2024. Fuadianti. Dewi, & Hadi k, 2019. Ratnasari. Dewi, & Kurniyawan. Hasil analisis terhadap jawaban pada setiap butir kuesioner PSS-10, peneliti menemukan 2 faktor yang menyebabkan stres pada penderita TB paru. Faktor pertama yaitu ketidakpastian atau kekhawatiran. Hal ini ditemukan peneliti dari terindikasinya 43% penderita yang menjawab poin pertanyaan ke-1 pada PSS-10 yaitu dalam satu bulan terakhir, mereka kadang-kadang merasa kesal karena sesuatu yang terjadi di luar dugaan Bila dilihat dari butir pernyataan tersebut, mengindikasikan bahwa rasa kesal terjadi karena hal tersebut tidak sesuai harapan atau keinginan mereka. Peneliti berpendapat bahwa penderita TB paru mungkin saja menghadapi ketidakpastian terkait status kesehatan mereka, pengobatan yang diterima, bahkan dampak penyakit tersebut pada kehidupan sehari-hari serta pekerjaan mereka. Di samping itu, kekhawatiran mungkin dialami karena kondisi penyakit TB paru yang membutuhkan perawatan jangka panjang serta pengawasan yang ketat terkait manajemen pengobatan. Situasi ini diyakini peneliti dapat menjadi sumber stresor yang meningkatkan potensi stres pada penderita TB paru. Penderita penyakit kronis dan menular seperti TB paru sangat rentan mengalami kecemasan, yang meningkatkan potensi penderita mengalami stres dari level ringan sampai Salah satu contohnya, kecemasan tingkat sedang yang dilaporkan dalam studi Dewi et al . dialami oleh 90,7% penderita TB paru. Studi lainnya melaporkan hal serupa, bahwa penderita TB paru kerap menunjukan tingkat kecemasaan yang berbeda, dari ringan sampai panic (Kurniasih & Nurfajriani, 2. Penelitian lainnya, juga menguatkan bahwa penderita TB paru memang sangat rentan mengalami kecemasaan, adapun kecemasan yang paling sering terjadi yaitu kecemasaan ringan dan sedang (Pakaya. Yunus, & Pakaya. Faktor kedua yang diindikasikan oleh peneliti yakni rasa tidak berdaya. Hasil analisis terhadap butir kuesioner poin pernyataan ke-2 menunjukan bahwa 28,6% penderita TB paru Copyright A The Author. 2025 | Page 36 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2025, pg. ditemukan dalam satu bulan terakhir merasa kadang-kadang tidak mampu mengendalikan hal-hal penting dalam hidup mereka. Menurut peneliti, rasa tidak berdaya tersebut dapat muncul dari perasaan bahwa penyakit tersebut dianggap telah mengendalikan hidup mereka serta membatasi kemampuan penderita TB paru menjalani aktivitas sehari-hari. Kondisi dimana penderita merasa kehilangan kontrol pada kondisi dirinya dapat menjadi sumber stres yang berpotensi mengganggu kesejahteraan mental dan emosional penderita. Rasa ketidakberdayaan dilaporkan dalam studi terdahulu sebagai respon yang paling sering ditemukan pada penderita penyakit kronis. Studi Ramadia. Keliat, & Wardhani . , menunjukan bahwa sebanyak 59,76% dari penderita penyakit kronis mengalami ketidakberdayaan dengan penyakitnya. Stres yang dialami oleh penderita TB paru perlu diantisipasi oleh penderita, keluarga, dan tenaga kesehatan, karena stres tidak hanya dapat mempengaruhi kesehatan mental penderita TB paru tetapi juga dapat mempengaruhi proses penyembuhan fisik. Stres kronis diketahui dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh Di sisi lain, sistem imun ini sangat penting bagi penderita TB paru untuk melawan infeksi Mycobacterium tuberculosis. Di samping itu, data sekunder yang didapatkan peneliti dari pemegang program TB paru di PKM tempat penelitian, ditemukan bahwa program pengelolaan TB paru yang berjalan selama ini masih berfokus pada mengatasi masalah fisik serta pengelolaan patuh minum obat. Tidak ada program atau strategi khusus yang dicanangkan oleh PKM setempat sebagai upaya mengatasi stres pada penderita penyakit TB. Melihat hal tersebut, penting bagi program pengelolaan TB untuk mempertimbangkan intervensi yang membantu mengurangi stres serta meningkatkan kesejahteraan mental penderita TB paru. Beberapa strategi yang dapat dilakukan yaitu dukungan psikososial. Dukungan psikososial seperti konseling dan kelompok dukungan dapat dipertimbangkan sebagai salah satu strategi untuk membantu penderita TB paru mengatasi stres akibat penyakit yang diderita. Studi-studi terdahulu menunjukan bahwa penerapan kelompok pendukung . ocial suppor. seperti dukungan teman, keluarga, dan tenaga kesehatan terbukti mampu membantu penderita TB paru meningkatkan kepatuhan meminum OAT (Haryanto & Sugiyarto, 2. Melewati dukungan psikososial tersebut, penderita TB paru dapat berbagi pengalaman dan saling menerima dukungan dengan sesama penderita. Strategi tersebut dapat membantu mereka merasa lebih dipahami dan didukung. Copyright A The Author. 2025 | Page 37 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2025, pg. Strategi lainnya yang dapat digunakan ialah edukasi dan informasi. Informasi dan edukasi yang jelas tentang penyakit TB, pengobatan yang tersedia, serta gambaran terkait proses penyembuhan dapat membantu penderita TB paru mengurangi ketidakpastian dan kecemasan terkait penyakitnya. Studi Manalu. Latifah, & Arifin . , membuktikan bahwa penggunaan edukasi kesehatan dapat secara signifikan menurunkan tingkat kecemasan dari kategori berat menjadi sedang. Ini membuktikan bahwa strategi edukasi dapat membantu penderita penyakit kronis termasuk TB paru, untuk mengelola kecemasaan yang dialami karena penyakit yang diderita. Strategi lainnya yang dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan dalam program pengelolaan TB paru yaitu pengembangan keterampilan manajemen stres seperti teknik relaksasi, mindfulness, dan pengaturan emosi. Keterampilan manajemen stres akan sangat membantu penderita TB paru mengelola stres akibat penyakit yang dideritanya dengan Beberapa studi telah membuktikan bahwa keterampilan manajemen stres seperti mindfulness dan teknik relaksasi mampu menurunkan stres. Salah satu contohnya, teknik relaksasi Benson yang dilakukan pada pasien hemodialisa menunjukan ada perubahan nilai mean kecemasaan sebelum dilakukan relaksasi dan sesudah dilakukan teknik relaksasi Benson (Suwanto. Sugiyorini, & Wiratmoko, 2. Di samping itu, keterampilan manajemen stres menggunakan mindfulness-based cognitive therapy (MBCT) dilaporkan terbukti efektif membantu mengurangi gangguan kecemasaan pada orang dewasa (Leni. Dwidiyanti, & Fitrikasari, 2. Ini menunjukan bahwa terdapat banyak keterampilan manajemen stres yang bisa dimanfaatkan dalam program pengelolaan TB paru. Penelitian ini menyoroti implikasi penting bagi ilmu keperawatan dalam pengelolaan pasien dengan penyakit kronis dan menular seperti TB paru. Keperawatan perlu mengadopsi pendekatan yang holistik dan komprehensif dalam pengelolaan TB paru. Pengelolaan TB paru sebaiknya tidak hanya berfokus pada aspek biologis penderita tetapi juga pada aspek psikologis dan sosial penderita TB paru. Pengelolaan yang melihat seluruh aspek dari penderita diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup dan keberhasilan pengobatan penderita TB paru. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan untuk studi yang akan datang. Keterbatasaan pertama berkaitan dengan metode pengukuran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini hanya dapat mengukur gambaran tingkat stres pada penderita TB secara umum tetapi tidak dapat menganalisis secara mendalam faktor-faktor yang berkaitan dengan stres tersebut. Penggunaan metode kualitatif atau mix metode dapat Copyright A The Author. 2025 | Page 38 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2025, pg. dipertimbangkan untuk studi yang akan datang, sehingga pemahaman yang lebih komprehensif tentang dinamika stres pada penderita TB dapat diketahui. Keterbatasan berikutnya berkaitan dengan jumlah responden yang minim. Jumlah responden yang kecil dapat membatasi generalisasi temuan serta mengurangi kekuatan statistik dari analisis yang dilakukan, sehingga studi yang akan datang diharapkan dapat melibatkan responden yang lebih besar, sehingga dapat menggambarkan secara kuat tingkat stres yang dialami penderita TB paru. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukan bahwa mayoritas penderita TB paru yang terlibat mengalami tingkat stres sedang sebanyak 93,3%. Dua faktor utama yang ditemukan menyebabkan stres adalah ketidakpastian/kecemasan dan rasa tidak berdaya. Intervensi yang disarankan meliputi dukungan psikososial, edukasi kesehatan, dan pengembangan keterampilan manajemen stres, untuk membantu mengurangi stres serta meningkatkan kesejahteraan mental penderita TB paru. Penelitian ini menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam pengelolaan TB paru, tidak hanya berfokus pada aspek fisik saja. Di samping itu, melihat keterbatasan penelitian dalam metode pengukuran dan jumlah responden yang kecil, sehingga disarankan studi selanjutnya dapat mengembangkan metode pengumpulan data dan sampel yang lebih besar, untuk mencapai pemahaman yang lebih komprehensif terkait stres pada penderita TB paru UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Dinkes Kota Banjarmasin yang telah memberikan ijin tim peneliti melaksanakan penelitian di wilayah kerja Dinkes Kota Banjarmasin. Peneliti berterima kasih atas kesediaan para responden untuk menyediakan waktunya berpartisipasi dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA