AL-ATHFAL STAI MUHAMMADIYAH PROBOLINGGO p-ISSN 2723-245X e-ISSN 2723-0813 Vol. No. , p. Available online at https://jurnal. staim-probolinggo. id/Al-Athfal MODEL PENGEMBANGAN SPIRITUALITAS ANAK USIA DINI MELALUI KEGIATAN SPIRITUAL KEAGAMAAN *Adnan Syah Sitorus. Isna Maulidya *Magister Pendidikan Agama Islam. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Magister Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Universitas Islam Negeri Sunan kalijaga *e-mail: 24204011030@student. uin-suka. https://jurnal. staim-probolinggo. id/Al-Athfal/article/view/960 Abstract This study aims to describe the model of spiritual development in early childhood through religious ritual activities in Islamic Early Childhood Education institutions (PIAUD). The research is grounded in the urgency of spiritual development as a fundamental part of holistic child growth, which remains underexplored in the context of Islamic education. A qualitative descriptive approach was employed using a case study method. Data were collected through participatory observation, indepth interviews, and documentation, then analyzed using Miles and Huberman's interactive model. The findings reveal that ritual activities such as daily prayers, dhuha prayer, and collective dhikr serve as effective tools for instilling spiritual values through consistent habituation. Teachers play a central role as moral exemplars . swah hasana. , while integrated learning enables the infusion of spiritual values into non-ritual activities like storytelling and play. Parental involvement further reinforces the internalization of Islamic values at home. The study concludes that nurturing children's spirituality requires a synergy of habituation, teacher modeling, integrated learning, and family collaboration. Keywords: Spirituality. Early Chilhood. Religious Rituals. Islamic Education ARTICLE HISTORY Received 14 June 2025 Revised 05 July 2025 Accepted 07 July 2025 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model pengembangan spiritualitas anak usia dini melalui kegiatan ritual keagamaan di lembaga Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya spiritualitas sebagai bagian dari perkembangan holistik anak, yang masih belum banyak dibahas secara mendalam dalam konteks pendidikan Islam pada anak usia Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, yang dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan ritual seperti doa harian, salat dhuha, dan zikir bersama menjadi media efektif dalam menanamkan nilai-nilai spiritual melalui pembiasaan. Guru memainkan peran sentral sebagai teladan nilai . swah hasana. Al-athfal. Vol. 06 No. : 292 Adnan Syah Sitorus. Etc. Model Pengembangan Spiritualitas Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Spiritual Keagamaan sementara pembelajaran terintegrasi memungkinkan nilainilai spiritual disisipkan dalam kegiatan non-ritual seperti bermain dan mendongeng. Dukungan dari orang tua juga terbukti memperkuat proses internalisasi nilai-nilai Islam di lingkungan rumah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembentukan spiritualitas anak memerlukan sinergi antara pembiasaan, keteladanan guru, pembelajaran integratif, dan kolaborasi dengan keluarga. Kata kunci: Spiritualitas. Anak Usia Dini. Ritual Keagamaan. Pendidikan Agama Islam INTRODUCTION Pendidikan anak usia dini (PAUD) dalam perspektif Islam bukan hanya sekadar proses pembelajaran akademik awal, tetapi merupakan fase paling krusial dalam membentuk kepribadian dan karakter anak secara menyeluruh, termasuk dimensi spiritual (Peradila & Chodijah, 2. Pada masa ini, anak berada dalam tahap perkembangan yang sangat pesat, baik secara fisik, kognitif, sosial, emosional, maupun spiritual (Salimah et al. , 2. Islam menempatkan fase ini sebagai masa fitrah, yaitu kondisi anak yang masih murni dan terbuka untuk menerima nilai-nilai kebaikan dan ketauhidan (Sitorus & Herni, 2. Oleh karena itu, pendidikan Islam untuk anak usia dini (PIAUD) seharusnya secara komprehensif memperhatikan aspek spiritualitas sebagai bagian integral dari pendidikan. Spiritualitas anak usia dini dalam konteks pendidikan Islam dapat dipahami sebagai kesadaran awal anak terhadap keberadaan Tuhan (Allah SWT), rasa takjub terhadap ciptaan-Nya, serta kemampuan untuk merespons pengalaman religius secara emosional dan simbolik (Mariana et al. , 2. Dalam pandangan psikologi perkembangan, spiritualitas bukanlah sesuatu yang eksklusif untuk orang dewasa, tetapi merupakan potensi bawaan yang dapat berkembang secara alami sejak usia dini jika dibimbing dengan tepat (Mawarni Purnamasari & NaAoimah, 2. Sejalan dengan pandangan ini, pendekatan pendidikan Islam terhadap anak-anak harus menyentuh aspek qalbu . dan ruhani . , bukan semata aspek kognitif atau afektif (Muhammad et al. , 2. Secara ideal, lembaga-lembaga PIAUD diharapkan menjadi ruang yang kondusif untuk menumbuhkan spiritualitas anak melalui kegiatan-kegiatan yang bermakna, menyenangkan, dan sesuai perkembangan mereka (Sitorus & Achadi. Berbagai kegiatan ritual keagamaan seperti membaca doa harian, menyebut asmaul husna, melantunkan salawat, menyimak kisah nabi, dan mengikuti praktik salat berjamaah dapat menjadi sarana penguatan nilai-nilai ketauhidan dan akhlak sejak dini. Pendekatan berbasis pengalaman . xperiential learnin. melalui penghayatan simbol dan makna dalam kegiatan ibadah sangat penting untuk Al-athfal. Vol. 06 No. : 293 Adnan Syah Sitorus. Etc. Model Pengembangan Spiritualitas Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Spiritual Keagamaan membangun relasi spiritual anak dengan Tuhannya (Morris, 2. Namun, dalam kenyataannya, pengembangan spiritualitas anak usia dini di banyak lembaga PIAUD masih belum berjalan secara optimal. Pelaksanaan kegiatan keagamaan cenderung bersifat ritualistik dan repetitif, tanpa disertai upaya untuk menyentuh dimensi makna dan perasaan spiritual anak (Hafidz & Rachmy, 2. Beberapa guru masih memandang spiritualitas anak sebagai sesuatu yang akan terbentuk secara otomatis seiring dengan bertambahnya usia, sehingga pendidikan spiritual belum diposisikan secara strategis dalam kurikulum maupun praktik pembelajaran (Handayani & Irawan, 2. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep ideal pendidikan spiritual dan realita implementasinya di lapangan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih dibutuhkan kajian yang mendalam mengenai bagaimana sebenarnya praktik pengembangan spiritualitas anak usia dini dilakukan di lembaga PIAUD, khususnya melalui kegiatan-kegiatan ritual keagamaan. Kajian ini penting untuk mengetahui apakah kegiatan tersebut benar-benar berkontribusi terhadap pertumbuhan spiritual anak atau hanya sebatas formalitas yang belum menyentuh aspek ruhaniah mereka. Lebih dari itu, penting juga untuk mengkaji bagaimana peran guru dalam memahami dan mengarahkan kegiatan ritual menjadi proses pembelajaran spiritual yang efektif dan kontekstual. Sejumlah penelitian sebelumnya telah mengangkat tema spiritualitas dalam pendidikan anak usia dini, baik dalam konteks pendidikan Islam maupun dalam pendekatan umum. Misalnya, beberapa studi berfokus pada pengaruh kegiatan religius terhadap pembentukan karakter anak, atau bagaimana peran lingkungan keluarga dalam menumbuhkan nilai-nilai spiritual sejak dini (Ruslan Gunawan. Penelitian lain mengeksplorasi pentingnya metode pembelajaran berbasis nilai atau integrasi pendidikan agama dalam kurikulum PAUD (Cici Sintia Dewi et , 2. Meskipun demikian, sebagian besar dari penelitian-penelitian tersebut belum secara spesifik menelaah bentuk-bentuk kegiatan ritual yang dijalankan di lembaga PIAUD serta bagaimana kegiatan tersebut dimaknai dan dikembangkan untuk membangun spiritualitas anak secara sistematis. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini akan memfokuskan pada pengembangan model pembinaan spiritualitas anak usia dini melalui kegiatan ritual di lembaga PIAUD. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk kegiatan ritual yang dilaksanakan, memahami peran guru dalam membangun spiritualitas anak, serta menganalisis faktor pendukung dan penghambat dalam proses tersebut. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi baik teoritis maupun Al-athfal. Vol. 06 No. : 294 Adnan Syah Sitorus. Etc. Model Pengembangan Spiritualitas Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Spiritual Keagamaan praktis bagi pengembangan pendidikan Islam anak usia dini yang lebih menyeluruh dan bermakna secara spiritual. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena pengembangan spiritualitas anak usia dini melalui kegiatan ritual keagamaan di lembaga PIAUD. Pendekatan kualitatif dipilih karena sesuai untuk mengkaji makna, nilai, serta pengalaman subjektif yang tidak dapat dijelaskan secara numerik. Jenis penelitian ini bersifat studi kasus, yakni mendalami secara intensif satu atau beberapa lembaga PIAUD yang dianggap memiliki praktik baik . est practice. dalam pengembangan spiritualitas anak. Studi kasus ini memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman kontekstual dan holistik terhadap realitas di lapangan. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu lembaga Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) di Kabupaten Asahan yang dikenal memiliki implementasi yang konsisten dalam menyelenggarakan kegiatan ritual keagamaan sebagai bagian dari program pendidikan spiritual. Lokasi dipilih secara purposive, yaitu dengan pertimbangan tertentu yang disesuaikan dengan tujuan penelitian, seperti keterbukaan lembaga terhadap kegiatan penelitian, ketersediaan data yang relevan, dan praktik pendidikan spiritual yang terstruktur. Adapun subjek penelitian ini melibatkan berbagai pihak yang memiliki keterkaitan langsung dengan pelaksanaan dan dampak kegiatan spiritual di PIAUD, yaitu guru atau pendidik yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran, kepala lembaga yang berperan dalam pengambilan kebijakan, serta orang tua murid yang dapat memberikan perspektif dari luar lembaga. Anak-anak usia dini juga menjadi subjek penting dalam penelitian ini, meskipun pendekatan terhadap mereka dilakukan dengan cara tidak langsung, penuh kehati-hatian, dan memperhatikan prinsip-prinsip etika penelitian anak. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tiga teknik utama untuk memperoleh data yang valid dan komprehensif, yaitu observasi, wawancara, dan Teknik observasi dilakukan secara partisipatif, di mana peneliti mengamati secara langsung kegiatan ritual keagamaan yang dilakukan oleh anakanak, seperti kegiatan doa bersama, salat berjamaah, pembiasaan mengucapkan basmalah dan hamdalah, serta kegiatan keagamaan lainnya yang bernuansa Observasi ini bertujuan untuk menangkap makna yang terkandung dalam aktivitas tersebut serta reaksi emosional dan perilaku anak selama kegiatan Selain itu, wawancara mendalam dilakukan terhadap guru, kepala sekolah. Al-athfal. Vol. 06 No. : 295 Adnan Syah Sitorus. Etc. Model Pengembangan Spiritualitas Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Spiritual Keagamaan dan orang tua siswa. Wawancara ini bersifat semi-terstruktur, sehingga peneliti memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi informasi yang relevan sambil tetap mengacu pada pedoman pertanyaan. Melalui wawancara ini, peneliti dapat menggali pandangan, pengalaman, serta refleksi mendalam dari masing-masing partisipan mengenai pelaksanaan kegiatan spiritual dan dampaknya terhadap perkembangan anak. Teknik dokumentasi digunakan sebagai pelengkap dari dua teknik sebelumnya, yaitu dengan mengumpulkan dokumen-dokumen seperti rencana pembelajaran, program kegiatan harian, dokumentasi foto atau video, dan catatan-catatan kegiatan anak yang berkaitan dengan aspek spiritualitas. Data yang diperoleh dari ketiga teknik pengumpulan tersebut dianalisis menggunakan model interaktif dari Miles dan Huberman yang terdiri dari tiga tahap utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Tahap pertama adalah reduksi data, yaitu proses menyederhanakan, memilah, dan memfokuskan data mentah yang telah dikumpulkan berdasarkan kategori atau tema yang relevan dengan fokus penelitian. Reduksi ini membantu peneliti dalam memusatkan perhatian hanya pada informasi yang signifikan. Tahap kedua adalah penyajian data, yang dilakukan dalam bentuk narasi deskriptif atau tabel tematik, sehingga pola-pola dan hubungan antar data menjadi lebih jelas terlihat. Tahap ketiga adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi, yaitu proses interpretasi makna yang terkandung dalam data yang telah dianalisis dan memastikan bahwa kesimpulan yang diambil benar-benar didukung oleh data yang Seluruh proses ini dilakukan secara simultan dan berulang untuk menjaga konsistensi serta validitas hasil penelitian. Untuk menjamin validitas data, digunakan teknik triangulasi, yaitu perbandingan antara hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Selain itu, dilakukan member check . onfirmasi data kepada narasumbe. serta peer debriefing . iskusi dengan rekan sejawa. untuk menghindari subjektivitas peneliti. RESULTS AND DISCUSSION Pelaksanaan Kegiatan Ritual Keagamaan di Lembaga Pendidikan Islam Anak Usia Dini Kegiatan ritual keagamaan yang dilaksanakan di Lembaga Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) merupakan bagian penting dari proses pembelajaran Berdasarkan hasil observasi, setiap pagi anak-anak mengikuti serangkaian kegiatan seperti membaca doa harian, salat dhuha, membaca surat pendek, dan dzikir bersama. Kegiatan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai rutinitas, tetapi juga sebagai upaya membiasakan anak-anak dalam menjalani kehidupan spiritual sejak usia dini. Guru-guru memandu kegiatan ini secara aktif, menciptakan suasana yang Al-athfal. Vol. 06 No. : 296 Adnan Syah Sitorus. Etc. Model Pengembangan Spiritualitas Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Spiritual Keagamaan religius namun tetap menyenangkan dan sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini (Sitorus et al. , 2. Fenomena ini mencerminkan pendekatan internalisasi nilai spiritual melalui metode pembiasaan dan penguatan perilaku. Hal ini sejalan dengan pendekatan afektif dalam pendidikan karakter Islam, di mana anak tidak hanya mengenal konsep religius secara kognitif, tetapi juga mengalaminya secara emosional dan motorik (Hasanah & Fajri, 2. Dalam pandangan Al-Ghazali, pendidikan spiritual memerlukan pembiasaan dan penghayatan, bukan sekadar pemahaman teoretis. Oleh karena itu, rutinitas keagamaan di PIAUD ini menjadi sarana penting untuk menanamkan nilai-nilai ilahiyah secara konkret (Sitorus et al. , 2. Kepala Sekolah juga menjelaskan bahwa program-program tersebut dilakukan memang dibuat untuk membiasakan peserta didik: AuKami melihat bahwa banyak sekali anak-anak muda sekarang yang kehilangan semangat dan nilai spiritualitas. Maka dari itu dengan adanya program-program seperti ini dapat membiasakan anak-anak dengan praktik Semoga ini menjadi kebiasaan yang melekat dengan mereka sampai besarAy Pembiasaan merupakan salah satu metode paling efektif dalam membentuk perilaku anak usia dini sehingga menjadi karakter yang melekat hingga dewasa. Menurut teori behaviorisme dari B. Skinner, perilaku yang diulang secara konsisten akan mengalami penguatan dan akhirnya menjadi kebiasaan yang otomatis . abit formatio. Pada tahap usia dini, otak anak sangat plastis dan sensitif terhadap rangsangan lingkungan, sehingga pembiasaan positif yang diterapkan secara rutin akan menanamkan pola perilaku yang kuat dan tahan lama. Penelitian oleh Lally. Van Jaarsveld, dan Wardle (Gardner et al. , 2. menunjukkan bahwa rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk membentuk kebiasaan baru adalah sekitar 66 hari, dan kebiasaan yang terbentuk pada masa kanak-kanak cenderung bertahan hingga dewasa. Selain itu, kajian dari National Institute of Child Health and Human Development (NICHD, 2. mengungkapkan bahwa pembiasaan nilai-nilai moral dan spiritual sejak usia dini secara signifikan meningkatkan keterampilan sosial dan emosional anak dalam jangka panjang. Dengan demikian, pembiasaan perilaku positif sejak anak usia dini bukan hanya membantu perkembangan karakter yang konsisten, tetapi juga menjadi fondasi yang kuat bagi pembentukan identitas dan kepribadian mereka di masa depan. Peran Guru dalam Internalisasi Nilai Spiritual Guru memainkan peran sentral dalam proses internalisasi nilai spiritual (Nuryadi et al. , 2. Berdasarkan wawancara dengan lima guru dan dengan kepala Al-athfal. Vol. 06 No. : 297 Adnan Syah Sitorus. Etc. Model Pengembangan Spiritualitas Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Spiritual Keagamaan lembaga, diperoleh informasi bahwa pembiasaan nilai-nilai spiritual ditanamkan melalui keteladanan perilaku dan komunikasi interpersonal yang hangat. Para guru tidak hanya menyuruh anak-anak untuk berdoa atau bersikap sopan, tetapi mereka juga menjadi contoh langsung dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengucapkan salam, membaca doa sebelum makan, dan menyampaikan syukur dalam berbagai Guru memegang peran strategis dalam menanamkan nilai spiritual kepada anak usia dini melalui teladan perilaku sehari-hari. Menurut teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura, anak-anak belajar bukan hanya dari instruksi verbal, tetapi juga dari mengamati dan meniru perilaku orang dewasa yang menjadi model bagi mereka. Dalam konteks pendidikan Islam, konsep uswah hasanah atau teladan yang baik menjadi landasan utama agar nilai-nilai spiritual dapat tertanam secara efektif pada anak. Ketika guru menunjukkan sikap sabar, jujur, penuh kasih sayang, dan konsisten dalam menjalankan ibadah, anak-anak akan cenderung menirunya dan menginternalisasi nilai-nilai tersebut ke dalam perilaku mereka. Penelitian oleh Hendra Agung (Samaloisa & Hutahaean, 2. menguatkan hal ini dengan menemukan bahwa guru yang aktif menunjukkan nilai spiritual dalam interaksi sehari-hari mampu meningkatkan kedalaman spiritual dan karakter positif anak secara signifikan. Secara lebih lanjut, penelitian milik Poniman (Poniman et al. , 2. menjelaskan bahwa guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar materi, tetapi juga sebagai figur yang memandu perkembangan spiritual dan moral anak melalui contoh nyata, yang sangat krusial dalam pembentukan fondasi keimanan sejak usia dini. Hal tersebut dibuktikan dengan penelitian milik (Iqbal Mustakim et al. , 2. yang menjelaskan bahwa kepemimpinan guru yang baik terbukti signifikan dalam meningkatkan kecerdasan spiritual siswa, karena guru mampu mengintegrasikan nilai-nilai agama ke dalam kurikulum dan aktivitas sekolah secara kreatif dan holistic. Strategi Integratif dalam Pembelajaran Non-Ritual Salah satu keunikan dari lembaga ini adalah pengintegrasian nilai-nilai spiritual ke dalam aktivitas non-ritual seperti bermain, menggambar, mendongeng, dan bernyanyi. Guru secara kreatif menyisipkan nilai tauhid, syukur, sabar, dan ikhlas dalam aktivitas tersebut. Misalnya, saat anak menggambar hewan ciptaan Allah, guru mengaitkannya dengan rasa syukur atas keindahan makhluk Tuhan. Dalam cerita-cerita, tokoh-tokoh disusun agar mencerminkan nilai kejujuran dan kasih sayang sesama. Hal ini menunjukkan pendekatan holistik dalam pendidikan Islam yang tidak memisahkan nilai spiritual dari kehidupan sehari-hari. Pendidikan spiritual tidak Al-athfal. Vol. 06 No. : 298 Adnan Syah Sitorus. Etc. Model Pengembangan Spiritualitas Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Spiritual Keagamaan hanya berada di ruang ibadah, tetapi juga melekat dalam keseharian anak. Pendekatan ini memperkuat gagasan bahwa pendidikan Islam bersifat integratif dan kontekstual, di mana nilai-nilai Ilahiah melekat pada semua aspek Ini juga memperkaya teori pendidikan karakter anak usia dini yang menekankan bahwa penanaman nilai tidak boleh terpisah dari dunia bermain dan pengalaman konkret anak. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan guru, mereka dengan sengaja menciptakan pembelajaran yang terintegrasi untuk penanaman nilai spiritual yang sempurna: AuKalau biasa orang bilang itukan semua tempat adalah kelas untuk belajar, jadi cara yang kami lakukan untuk membuat anak-anak terbiasa dengan nilainilai spritual ini adalah mengaitkan pembelajaran dengan nilai spiritual itu. Jadi bisa dikatakan semua pembelajaran itu berbasis nilai spiritualAy. Pembelajaran terintegrasi merupakan pendekatan pendidikan yang menggabungkan berbagai aspek pengetahuan, keterampilan, dan nilai dalam satu kesatuan yang utuh, sehingga menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi anak usia dini. Pendekatan ini sangat efektif karena anak tidak hanya menerima informasi secara terpisah-pisah, tetapi juga dapat menghubungkan konsep-konsep yang dipelajari dengan konteks nyata dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Piaget dalam teori konstruktivismenya, anak belajar terbaik ketika mereka aktif membangun pengetahuan melalui pengalaman yang terhubung dengan lingkungan mereka. Dalam pendidikan Islam, pembelajaran terintegrasi memungkinkan penggabungan nilai-nilai spiritual dengan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara simultan, sehingga anak tidak hanya memahami konsep keagamaan secara teoritis tetapi juga mengamalkannya dalam tindakan nyata. Secara konkrit penelitian milik Jaja (Sulaeman, et al. , 2. menjelaskan bahwa model pembelajaran holistik-integratif, seperti PHIKAP dan uly al-Aoilm, telah terbukti efektif meningkatkan pemahaman kognitif, pembentukan sikap . , serta keterampilan dan perilaku nyata . siswa dalam konteks nilainilai Islam. Penelitian oleh Juwairiyah (Juwairiyah & Fanani, 2. menunjukkan bahwa pembelajaran terintegrasi meningkatkan motivasi belajar dan pemahaman konsep pada anak usia dini secara signifikan dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional yang terpisah-pisah. Oleh karena itu, pembelajaran yang terintegrasi bukan hanya memperkaya pengalaman belajar anak, tetapi juga Al-athfal. Vol. 06 No. : 299 Adnan Syah Sitorus. Etc. Model Pengembangan Spiritualitas Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Spiritual Keagamaan Peran Keluarga dan Lingkungan dalam Internalisasi Nilai Spiritual Faktor eksternal yang mendukung keberhasilan internalisasi nilai spiritual adalah keterlibatan lingkungan dan keluarga. Berdasarkan data wawancara, sebagian besar orang tua memberikan respon positif terhadap program-program keagamaan yang diterapkan: AuKami selaku orang tua sangat berharap untuk anak-anak kami bisa tumbuh dan berkembang dengan nilai-nilai agama Islam. Kami juga sangat terbantu dengan program-program di sekolah ini. Kami sebagai orang tua juga berusaha semaksimal mungkin untuk memastikan program-program yang ada di sekolah itu tidak sia-sia ketika anak sudah di rumahAy. Anak-anak sering membawa kebiasaan spiritual ke rumah, seperti mengajak orang tua membaca doa sebelum tidur atau menyampaikan salam ketika pulang dari Hal ini menandakan bahwa pendidikan spiritual yang dilakukan di sekolah telah beresonansi hingga ke lingkungan rumah. Temuan ini memperkuat prinsip bahwa pendidikan anak usia dini harus bersifat kolaboratif antara lembaga pendidikan dan keluarga. Pendidikan spiritual yang konsisten di dua lingkungan utama anak Ai sekolah dan rumah Ai menjadikan nilai-nilai tersebut lebih mudah terinternalisasi. Dalam teori ekologi perkembangan Bronfenbrenner, disebutkan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh sistem mikro . eluarga dan sekola. yang saling berinteraksi (Navarro & Tudge, 2. Maka, keberhasilan pendidikan spiritual anak akan optimal bila terjadi sinergi antara kedua lingkungan tersebut. Peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai agama Islam sangat vital dalam proses tumbuh kembang anak, terutama pada masa usia dini yang merupakan fase pembentukan dasar kepribadian dan spiritualitas (Istiqomah et al. Keluarga, khususnya orang tua, merupakan madrasah pertama bagi anak, sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, dan orang tuanyalah yang membentuknya menjadi Yahudi. Nasrani, atau Majusi. Dalam konteks ini, orang tua yang aktif memberikan teladan, bimbingan, serta menciptakan lingkungan religius di rumah akan sangat berpengaruh terhadap internalisasi nilai-nilai Islam dalam diri anak. Teori ekologi perkembangan Bronfenbrenner juga menekankan bahwa lingkungan terdekat anakAitermasuk keluargaAimemiliki pengaruh paling langsung dan kuat terhadap perkembangan karakter dan keyakinan. Studi yang dilakukan oleh Romanto (Romanto et al. , 2. menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam aktivitas keagamaan anak, seperti membimbing salat, membaca AlQur'an, atau berdzikir bersama, berkontribusi secara positif terhadap pemahaman Al-athfal. Vol. 06 No. : 300 Adnan Syah Sitorus. Etc. Model Pengembangan Spiritualitas Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Spiritual Keagamaan dan pengamalan ajaran Islam oleh anak. Oleh karena itu, dukungan orang tua bukan hanya pelengkap, tetapi menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi Muslim yang berakhlak mulia dan taat beragama. CONCLUSION Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk kegiatan ritual yang dilaksanakan meliputi doa harian, pembacaan surat pendek, dzikir bersama, salat berjamaah, serta pembiasaan ucapan-ucapan islami yang dilakukan secara rutin dan Guru memiliki peran sentral dalam membimbing dan memberi teladan kepada anak, baik melalui instruksi langsung maupun pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Keberhasilan pengembangan spiritualitas sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam menghadirkan kegiatan ritual sebagai pengalaman religius yang menyenangkan dan bermakna bagi anak. Adapun faktor pendukung dalam proses ini mencakup lingkungan sekolah yang kondusif, keterlibatan kepala sekolah, serta dukungan dari orang tua. Sementara itu, hambatan yang dihadapi antara lain terbatasnya pemahaman guru mengenai pendekatan spiritual yang sesuai dengan usia anak, serta kurangnya media atau metode yang variatif dalam mengenalkan nilai-nilai spiritual. Secara keseluruhan, penguatan kapasitas guru dan sinergi antara sekolah dan orang tua menjadi kunci utama dalam membangun spiritualitas anak sejak usia dini melalui kegiatan ritual keagamaan di lembaga PIAUD. REFERENCES