|ISSN . :2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/gjv4zm69 PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN GIZI ORANGTUA DAN PRAKTIK PEMBERIAN MAKAN TERHADAP STATUS GIZI ANAK USIA PRASEKOLAH DI PAUD SAI AN-NAIM Surya Meka Novita Sari 1 RSUD Kota Mataram Email : vietha. dupont@gmail. ABSTRAK Penelitian ini menunjukkan hubungan pengetahuan gizi orang tua dan praktik pemberian makan mempengaruhi status gizi anak-anak prasekolah di PAUD SAI ANNAIM. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dengan 66 orang tua dari anak-anak prasekolah berusia 3 sampai 6 tahun dengan total Analisa statistik menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi p < 0. Hasil penelitian menunjukkan 47,0% orang tua memiliki pemahaman gizi yang baik namun penerapan praktik pemberian makan yang tepat hanya terjadi pada 28,8% Di antara anak-anak yang dinilai status gizinya berdasarkan berat badan menurut standar tinggi badan, 56,1% memiliki berat badan normal, sementara 22,7% termasuk dalam kategori berat badan kurang, dan 21,2% dalam kategori sebagai berat badan berlebih. Hasil uji Chi-square menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan secara statistic antara pengetahuan gizi orang tua dengan status gizi anakanak mereka . =0. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara praktik pemberian makan dan status gizi anak prasekolah, meskipun tingkat pengetahuan gizi orang tua tidak berkorelasi secara statisti. Adapun Praktik pemberian makan memiliki hubungan yang signifikan secara statistic dengan hasil uji Chi-square dengan nilai p sebesar 0. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tingkat pengetahuan orang tua tentang gizi dan bagaimana mereka menerapkannya dalam Kata kunci: Pengetahuan. Praktik Makan. Status Gizi Anak THE IMPACT OF PARENT'S KNOWLEDGE ON NUTRITION AND FEEDING PRACTICES TOWARD THE NUTRITIONAL STATUS OF PRESCHOOL STUDENTS IN PAUD SAI AN-NAIM ABSTRACT This study aims to show the relationship between parents' nutritional knowledge and feeding practices affecting the nutritional status of preschool children at PAUD SAI AN-NAIM. This study is a quantitative study with a cross-sectional design with 66 parents of preschool children aged 3 to 6 years with total sampling. Statistical analysis used Chi-square test with a significance level of p < 0. The results showed 0% of parents had a good understanding of nutrition but the implementation of appropriate feeding practices only occurred in 28. 8% of cases. Among the children whose nutritional status was assessed based on weight for height standard, 56. 1% had JurnalTeras Kesehatan - 64 |ISSN . :2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/gjv4zm69 normal weight, while 22. 7% fell into the underweight category, and 21. 2% exceeded normal weight as overweight. Chi-square test results showed no statistically significant association between parents' nutritional knowledge and their children's nutritional status . =0. This study showed a significant relationship between feeding practices and the nutritional status of preschool children, although parents' nutritional knowledge was not statistically correlated. Feeding practices had a statistically significant relationship with the Chi-square test result, with a p-value of This indicates a gap between parents' level of knowledge about nutrition and how they implement it in their practices. Keywords: Parental knowledge. Feeding Practices. Children Nutritional Status PENDAHULUAN Malnutrisi pada anak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia dan banyak terjadi di negara-negara dengan penghasilan rendah dan menengah(Black et al. , 2. (Nafikadini et al. Prevalensi dari anak dengan gizi kurang masih tinggi yaitu 17. 7% dengan tingkat stunting 5% (RI, 2. Berdasarkan data dunia, jumlah anak dibawah 5 tahun yang termasuk dalam kategori wasting di Asia sekitar 31. 6 juta anak(UNICEF et al. , 2. Berdasarkan penelitian sebelumnya menunjukkan tahun-tahun pertama kehidupan manusia merupakan periode perkembangan yang signifikan dengan perubahan yang cepat dan dinamis(Arimond & Ruel, 2. (James R. Blaylock. Jayachandran N. Variyam, 1. (Bhutta et al. , 2. Selama masa perkembangan ini, anak-anak mengalami perkembangan fisik yang cepat dan perkembanagan yang signifikan dalam bidang kognitif dan emosional. Hal ini sangat bergantung pada kesehatan gizi mereka(Contento. R, 2. (Daniels et al. , 2. Gizi yang tepat dan seimbang selama masa anakanak mendukung kesehatan sekaligus perkembangan otak serta fungsi kekebalan tubuh yang nantinya akan meningkatkan potensi prestasi akademik(Victora et al. , 2. Malnutrisi dapat bermanifestasi dalam berbagai kondisi, termasuk kekurangan mikronutrien, yang nantinya dapat mempengaruhi kemampuan fisik dan kognitif anak serta dampak ekonomi dalam jangka Panjang(UNICEF, 2. (Mcphie et al. , 2. Beberapa kondisi yang juga penting selain stunting adalah masalah berat badan kurang dan berat badan berlebih/obesitas yang merupakan beban ganda malnutrisi dan membutuhkan intervensi yang komprehensif(Bhutta et al. , 2. (GranthamMcGregor & Ani, 2. Kondisi tersebut merupakan kondisi dasar yang nantinya dapat berujung pada stunting dan penyakit yang membutuhkan intervensi komprehensif(RI, 2. (Kemenkes, 2. (Kemenkes RI, 2. Pengetahuan orang tua tentang gizi merupakan dasar yang penting untuk kesehatan anak(Mcphie et , 2. (Prasetyo et al. , 2. Selain itu faktor kebiasaan. Pendidikan, pengasuh utama dan pola asuh juga mempengaruhi pemilihan makanan dan pilihan persiapan, frekuensi dan kuantitas makanan yang ditawarkan, serta menciptakan suasana makan yang hangat dan mendukung(Prasetyo et al. , 2. (Birch & Davison, 2. Orang tua yang memahami pola makan seimbang, makanan bergizi untuk anak, dan praktik pemberian makan yang tepat dapat membuat keputusan pola makan yang tepat(Nafikadini et al. , 2. (Kemenkes, 2. (Pangesti & Prabawati, 2. (Yuliyani et al. , 2. (WHO, 2. Oleh karena itu, orang tua perlu memiliki pengetahuan gizi yang baik agar pemberian makan anak dapat efektif. Beberapa literatur lain menyebutkan bahwa pengetahuan yang baik tidak menjamin perubahan perilaku atau hasil gizi yang lebih baik(T. Lestari et al. , 2. Orang tua dapat menghadapi berbagai hambatan saat menerapkan pengetahuan gizi ke dalam praktik pemberian makan yang konsisten, termasuk keterbatasan keuangan, norma budaya makanan, dan kurangnya dukungan sosial. Faktor psikologis juga menjadi tantangan tambahan(Haines et al. , 2. (Hughes et al. , 2. Hambatan-hambatan tersebut menunjukkan masalah dalam mengatasi malnutrisi anak secara efektif. Praktik pemberian makan menunjukkan adanya hubungan yang positif terhadap gizi anak. Menurut penelitian sebelumnya menyatakan bahwa praktik pemberian makan anak termasuk juga JurnalTeras Kesehatan - 65 |ISSN . :2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/gjv4zm69 menetapkan waktu makan yang konsisten serta menawarkan frekuensi dan variasi makanan yang sesuai dengan tetap responsive terhadap sinyal lapar dan kenyang anak serta meminimalkan gangguan saat makan(James R. Blaylock. Jayachandran N. Variyam, 1. (Mekonnen et al. Anak-anak prasekolah yang menerima makanan secara teratur dan diet seimbang serta penguatan positif saat makan menunjukkan pola pertumbuhan yang lebih sehat dan berkurangnya risiko malnutrisi dan kelebihan berat badan (Bhutta et al. , 2. (Anand, 2. Beberapa peneliti telah mengamati gizi anak secara luas, namun belum sepenuhnya mengkaji bagaimana pengetahuan gizi orang tua dan perilaku pemberian makan dalam mempengaruhi status gizi anak prasekolah di berbagai lingkungan masyarakat, terutama di daerah yang memiliki keragaman budaya seperti Indonesia(Prasetyo et al. , 2. Penelitian sebelumnya umumnya terkonsentrasi pada faktor individu atau temuan yang tidak konsisten tentang hubungan langsung antara pengetahuan dan praktik pemberian makan terutama dengan subjek Pendidikan anak usia dini(Setiari & Yektiningtiyastuti, 2. Penelitian ini menilai bagaimana pengetahuan gizi orang tua dan praktik pemberian makan dalam mempengaruhi status gizi anak di PAUD SAI AN-NAIM. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bukti kontekstual untuk mendukung terciptanya intervensi kesehatan masyarakat yang efektif dan secara khusus menargetkan gizi pada anak. METODOLOGI PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional untuk menyelidiki bagaimana pemahaman gizi dan praktik pemberian makan oleh orang tua sebagai pengasuh utama dalam mempengaruhi status gizi anak-anak prasekolah. Penelitian dilakukan di lembaga pendidikan prasekolah SAI AN-NAIM di Lombok Barat. Indonesia. Sampel Penelitian Populasi penelitian ini mencakup orang tua yang memiliki anak berusia 3-6 tahun yang bersekolah di PAUD SAI AN-NAIM selama pengumpulan data pada bulan Mei Ae Juli 2024. Penelitian ini melibatkan 66 orang tua yang dipilih melalui total sampling. Kriteria inklusi didasarkan pada orang tua yang berperan sebagai pengasuh utama untuk anak usia 3-6 tahun yang terdaftar di PAUD SAI AN-NAIM dan telah memberikan persetujuan. Penelitian ini mengecualikan orang tua yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif dan orang tua dari anak-anak dengan penyakit kronis . enyakit jantung bawaan dan TBC) yang berdampak pada status gizi anak. Instrumen Penelitian Penelitian ini telah menerima persetujuan resmi dari PAUD SAI AN-NAIM. Sebelum memulai pengumpulan data, peneliti memberikan informasi yang lengkap kepada orang tua peserta mengenai tujuan dan prosedur penelitian serta potensi risiko dan manfaatnya. Kuesioner Pengetahuan Gizi untuk Orang Tua menggunakan teknik pengumpulan data secara mandiri dengan wawancara terstruktur. Kuesioner ini memiliki format tertutup, yang menyediakan tujuh kemungkinan jawaban untuk setiap pertanyaan. Kuesioner Praktik Pemberian Makan Orang Tua mengevaluasi perilaku pemberian makan orang tua dengan memeriksa frekuensi makan dan variasi makanan yang diberikan kepada anak-anak, keteraturan waktu makan dan praktik ukuran porsi, serta reaksi mereka terhadap sinyal lapar dan kenyang dari anak-anak. Kuesioner ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang mengukur respons, disesuaikan untuk menunjukkan jawaban yang serupa dan kemudian diurutkan kedalam kategori praktik 'baik', 'sedang', atau 'buruk'. Teknik pengukuran antropometri dapat secara langsung menilai status gizi anak. Pengukuran Berat Badan menggunakan timbangan digital yang telah dikalibrasi mengukur berat badan anak hingga sepersepuluh kilogram terdekat diukur tanpa alas kaki. Adapun pengukuran Tinggi badan menggunakan stadiometer portable untuk mengukur tinggi badan hingga 0,1 cm. Anak-anak JurnalTeras Kesehatan - 66 |ISSN . :2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/gjv4zm69 mempertahankan posisi tegak di dinding, menjaga tumit, pantat, bahu, dan kepala tetap bersentuhan dengan dinding sambil menjaga pandangan tetap fokus ke depan. Sedangkan perhitungan Z-Score berdasarkan Berat Badan dan Tinggi Badan menggunakan StandarPertumbuhan WHO 2006 . Status gizi diklasifikasikan menjadi Kurus (Z-score A -2 SD). Normal (Z-Score -2 SD sampai 2 SD) dan Gemuk (Z-Score A 2 SD). Validitas Dan Reliabilitas Kuesioner telah melalui uji validitas dan reliabilitas melalui pra-pengujian dengan sampel orang tua yang representatif, peneliti memastikan validitas awal dengan memeriksa apakah pertanyaanpertanyaan yang diajukan sudah jelas dan dapat dimengerti. Uji validitas dan reliabilitas ditentukan dengan menggunakan metode statistik dengan Alpha Cronbach. Nilai Alpha Cronbach yang diperoleh sebesar 0,78 untuk pengetahuan gizi dan 0,82 untuk praktik pemberian makan menunjukkan konsistensi internal yang baik hingga dapat diterima menurut Taber . Analisis Data Analisis data tingkat pengetahuan orang tua tentang gizi, praktik pemberian makan, dan status gizi anak menggunakan analisa deskriptif. Adapun analisa bivariat menggunakan Uji Chi Square untuk menilai adanya hubungan antara pengetahuan gizi orang tua dan praktik pemberian makan dengan status gizi anak PAUD SAI An-Naim. Signifikan sistatistik didefinisikan sebagai nilai p di bawah 0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan di PAUD SAI An-Naim. Lembar. Lombok Barat dengan jumlah responden 66 Orang. Berdasarkan hasil analisa data berdasarkan kuesioner, didapatkan distribusi pengetahuan gizi orang tua dan distribusi praktik pemberian makan yang diklasifikasikan menjadi Baik. Cukup dan Kurang. Tabel 1. Distribusi Pengetahuan Gizi Orang Tua KategoriPengetahuan Gizi Frekuensi . Persentase (%) Baik 47,0% Cukup 33,3% Kurang 19,7% Total Berdasarkan table 1, didapatkan bahwa 47,0% responden . menunjukkan pengetahuan gizi yang baik, sebesar 33,3% . = . menunjukkan pengetahuan gizi yang cukup, sementara 19,7% . = . menunjukkan tingkat pengetahuan yang rendah. Tabel 2. DistribusiPraktikPemberian Makan Orang Tua KategoriPraktikPemberian Makan Frekuensi . Persentase (%) Baik 28,8% Sedang 39,4% Buruk 31,8% Total Berdasarkan table 2, didapatkan hanya 28,8% . = . dari orang tua yang menunjukkan praktik pemberian makan yang Baik. Porsi terbesar dari sampel, 39,4% . = . , menunjukkan praktik pemberian makan yang sedang, sementara 31,8% . = . menunjukkan praktik pemberian makan yang buruk. JurnalTeras Kesehatan - 67 |ISSN . :2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/gjv4zm69 Tabel 3. Distribusi Status Gizi Anak Berdasarkan BB/TB (Z-scor. Kategori Status Gizi Frekuensi . Persentase (%) Normal 56,1% Kurus 22,7% Kelebihan Berat Badan 21,2% Total Berdasarkan table 3, didapatkan hasil penilaian berat badan terhadap tinggi badan untuk usia sesuai z-score menunjukkan bahwa sebagian besar anak, 56,1% . = . , menunjukkan pengukuran normal pada skala berat badan terhadap tinggi badan. Hasil penilaian gizi menunjukkan bahwa 43,9% dari peserta . = . menunjukkan tanda-tanda kekurangan gizi. Penelitian ini mengidentifikasi bahwa 22,7% anak-anak . dianggap kurus, dan 21,2% . dianggap Tabel 4. Hasil Uji Chi-Square Hubungan yang Diuji Pengetahuan Gizi Orang Tua dan Status Gizi Anak PraktikPemberian Makan Orang Tua dan Status Gizi Anak Nilai Chi-Square df p-value Kesimpulan Tidak signifikan Signifikansecarastatistik . < Berdasarkan Tabel 4, analisis statistic menggunakan uji Chi-square menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi orang tua dan status gizi anak . =0. Sedangkan hasil uji Chi-square menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistic antara praktik pemberian makan orang tua dan gizi makanan anak . = 0. Berdasarkan table diatas menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan gizi orang tua tidak secara langsung mempengaruhi status gizi anak prasekolah dalam populasi penelitian ini. Sedangkan praktik pemberian makan orang tua secara signifikan mempengaruhi hasil gizi anak PAUD SAI An-Naim. Penelitian ini mengkaji bagaimana pengetahuan orang tua tentang gizi dan praktik pemberian makan mempengaruhi status gizi anak prasekolah di PAUD SAI AN-NAIM di Lombok Barat. Indonesia. Dengan menunjukkan hubungan yang kompleks antara pengetahuan dan perilaku, penelitian ini berkontribusi pada penelitian yang tentang gizi anak. Penelitian ini tidak menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara pengetahuan gizi orang tua dan status gizi anak. Berbagai penelitian menunjukkan hubungan yang kompleks antara pengetahuan dan praktik, yang mengindikasikan bahwa pengetahuan tidak secara otomatis diterjemahkan ke dalam penerapan perilaku kesehatan yang efektif(Contento. R, 2. (Pangesti & Prabawati, 2. (Setiari & Yektiningtiyastuti, 2. Penerapan praktis dari pengetahuan orang tua tentang gizi anak masih terbatas karena adanya hambatan di dunia nyata, meskipun 47,0% orang tua menunjukkan pemahaman teoritis yang tepat tentang gizi seimbang untuk anak. Hambatan yang dihadapi di bidang ini menunjukkan karakteristik yang kompleks yang sangat bergantung sumber daya keuangan yang tidak memadai dan membatasi pilihan makanan yang beragam dan bergizi, sehingga para pengasuh lebih berfokus pada harga daripada kualitas(Haines et al. , 2. (Ningrum, 2. (Sadikeen et al. , 2. Praktik makan tradisional dan norma makanan budaya sering kali bertentangan dengan pedoman gizi, yang membentuk pilihan makanan dan pemberian makan(Simanjuntak et al. , 2. (Dewey & Adu-Afarwuah, 2. (Jawaldeh, 2. Waktu yang terbatas yang dimiliki para ibu untuk menyiapkan makanan dan member makan keluarga mereka terkendala karena mereka harus menyeimbangkan tugas-tugas rumah tangga JurnalTeras Kesehatan - 68 |ISSN . :2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/gjv4zm69 dengan tugas-tugas pekerjaan informal(Purnama et al. , 2. Ketika faktor penentu sosio-ekonomi dan budaya tidak ada diintervensi, hal tersebut menciptakan kelemahan dalam strategi pendidikan gizi karena upaya untuk meningkatkan pengetahuan gizi saja tidak akan membuahkan hasil yang efektif(Unicef, 2. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara praktik pemberian makan anak dengan status gizi anak. Temuan penelitian sangat mendukung gagasan bahwa intervensi yang menargetkan perubahan perilaku dalam praktik gizi sangat penting untuk meningkatkan perilaku makan anak yang mengacu pada status gizi anak(Pangesti & Prabawati, 2. (Prasetya & Khomsan, 2. Anak-anak dari orang tua yang menetapkan waktu makan yang tegas dan menciptakan lingkungan makan yang mendukung dengan makanan seimbang dan menawarkan variasi akan mengalami peningkatan status gizi yang lebih baik dengan pola pertumbuhan yang lebih baik(Bhutta et al. , 2. (Faizullaeva, 2. Metode-metode ini memberikan hasil yang terukur yang secara langsung mengubah jumlah makanan yang dikonsumsi anak-anak. Perilaku kesehatan mendukung temuan ini dengan menyatakan bahwa perilaku individu dihasilkan dari berbagai tingkat pengaruh seperti faktor interpersonal, organisasi, komunitas, dan kebijakan(Santoso & Sugiri, 2. Aspek perilaku dari berbagai pengaruh tersebut memberikan hasil yang baik dalam praktik pemberian makan anak. Beberapa penelitian lain tentang praktik pemberian makan berperan sebagai penentu langsung status gizi dalam berbagai konteks global. Pendekatan pemberian makanan yang merespons sinyal lapar dan kenyang pada anak dengan interaksi yang hangat berhasil mencegah pemberian makanan yang kurang dan pemberian makanan yang berlebihan(Black et al. , 2. (Bhutta et al. , 2. Mempromosikan pola makan yang beragam melalui makanan dari berbagai kelompok makanan memastikan asupan mikronutrien yang cukup dan mencegah kekurangan yang dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat(Arimond & Ruel, 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan prinsip-prinsip yang sudah ada, yang menunjukkan bahwa hasil positif muncul dari penerapan praktis dari perilaku-perilaku tersebut, bukan dari pemahaman prinsip-prinsip dasar di baliknya. Hasil penelitian ini memberikan wawasan mendasar yang sangat berdampak pada strategi intervensi kesehatan masyarakat. Penelitian sebelumnya menunjukkan poster edukasi dan ceramah untuk mengedukasi orang tua tentang gizi tidak cukup untuk mengatasi aspek-aspek kompleks dari status gizi anak. Program untuk orang tua harus mencakup strategi perilaku yang memungkinkan orang tua untuk menerapkan pengetahuan yang telah mereka pelajari ke dalam tindakan praktis dalam rutinitas sehari-hari(UNICEF, 2. (Unicef, 2. (S. Lestari & Rochmawati, 2. Demonstrasi memasak dengan bahan-bahan local dapat membantu menghubungkan pengetahuan teoretis dengan keterampilan praktis(Dewey & Adu-Afarwuah, 2. Orang tua dapat belajar untuk mengatasi kesulitan pemberian makan yang umum terjadi melalui pelatihan pemberian makan yang responsif, model interaksi orang tua-anak yang positif, dan lokakarya perencanaan makan yang terorganisir(Mcphie et al. , 2. Intervensi perilaku yang diberikan secara khusus oleh petugas kesehatan masyarakat dan pendidik anak usia dini menunjukkan harapan yang besar dalam meningkatkan praktik pemberian makan anak dan status gizi(Bhutta et al. , 2. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa praktik pemberian makan orang tua memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi anak, sementara tingkat pengetahuan gizi orang tua tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Hal ini menegaskan bahwa pengetahuan yang tidak disertai dengan implementasi nyata tidak cukup untuk memperbaiki status gizi anak usia dini. Oleh karena itu, strategi peningkatan gizi anak harus focus tidak hanya pada edukasi, tetapi juga pada pembinaan keterampilan praktik makan sehat di lingkungan keluarga. Meskipun sebagian orang tua memiliki pengetahuan gizi yang baik, hal tersebut tidak menunjukkan hubungan signifikan JurnalTeras Kesehatan - 69 |ISSN . :2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/gjv4zm69 terhadap status gizi anak. Sebaliknya, praktik pemberian makan memiliki hubungan yang Intervensi peningkatan gizi anak sebaiknya mencakup edukasi dan perubahan perilaku pemberian makan secara langsung. UCAPAN TERIMA KASIH Dukungan dan kerjasama yang diberikan oleh seluruh pihak PAUD SAI AN-NAIM, mulai dari kepala sekolah, kepala yayasan An-Naim, para guru, orang tua/Wali, hingga staf, sangat membantu kelancaran proses pengumpulan data kami. Akses dan informasi yang diberikan telah berkontribusi besar terhadap keberhasilan penelitian ini. Kami sangat menghargai waktu dan perhatian yang telah Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif dan manfaat bagi pengembangan program gizi di PAUD SAI AN-NAIM di masa mendatang. DAFTAR PUSTAKA