Jurnal Pengabdian Masyarakat https://ojs. id/index. php/jukeshum/index E-ISSN: 2774-4698 Vol. 5 No. Januari 2025 Hal. TRAINING AND MENTORING OF SIAGA TEENS AS AN EFFORTS TO PREVENT BULLYING IN SCHOOLS PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN REMAJA SIAGA SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN TINDAKAN BULLYING DI SEKOLAH Susi Roida Simanjuntak1. Andi Buanasari2. Juwita M Toar3 1,2,3 Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Kedokteran. Universitas Sam Ratulangi E-mail Author: susiroidasimanjuntak@unsrat. Submitted: 26/09/2024 Reviewed: 23/12/2024 Accepted: 31/01/2025 ABSTRACT Bullying is the act of harming others both physically and psychologically in the form of verbal, social, and physical violence. Bullying among adolescents can lead to serious health issues, both physical and To this day, cases of bullying among teenagers remain very high and even show an increase each year. This poses a serious problem that must be addressed immediately. The implementation method for this activity involved training for adolescents conducted in two different schools in Manado, carried out in person. Before and after the activity, team conducted pre-test and post-test measurements to assess students' knowledge during the training. Based on the results of the pre-test and post-test, the knowledge assessment in the two middle schools showed an increase based on the average scores of the Therefore, we concluded that there was an increase in participants' knowledge about bullying and its health impacts after the training was conducted for the students. Keywords: Bullying. Adolescents. Training ABSTRAK Bullying atau perundungan merupakan tindakan menyakiti orang lain baik secara fisik maupun psikis dalam bentuk kekerasan verbal, sosial, dan fisik. Bullying pada remaja dapat menyebabkan masalah serius pada kesehatan baik fisik maupun menta. Hingga saat ini, kasus bullying pada remaja masih sangat tinggi bahkan mengalami peningkatan setiap tahun. Hal ini menjadi masalah serius yang harus segera ditangani. Metode pelaksanaan pada kegiatan ini adalah pelatihan pada remaja yang dilakukan di 2 sekolah yang berbeda di Kota Manado yang dilaksanakan secara luring. Sebelum dan sesudah kegiatan. Tim PKM melakukan pengukuran pre-test dan post-test untuk menilai pengetahuan pada siswa selama kegiatan pelatihan. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, gambaran pengetahuan di 2 SMP menunjukkan adanya peningkatan berdasarkana dari nilai rata-rata peserta. Oleh sebab itu Tim PKM menyimpulkan terjadi peningkatan pengetahuan peserta terhadap bullying dan dampak bullying pada masalah kesehatan setelah dilakukan kegiatan pelatihan pada siswa. Kata Kunci: Bullying. Remaja. Pelatihan * Simanjuntak. , dkk. JUKESHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat PENDAHULUAN Menurut Kemenkes, usia remaja merupakan anak yang berada pada rentang usia 1018 tahun. Remaja menjadi salah satu kelompok usia yang rentan mengalami bullying. Hal ini dikarenakan pada usia remaja terjadi masa transisi dalam pencarian jati diri serta harus berhadapan dengan kelompok teman sebaya yang lebih besar/heterogen (Susanti & Wulanyani. Keadaan tersebut membuat remaja sangat rentan mengalami bullying. Menurut KBBI, bullying atau perundungan merupakan tindakan menyakiti orang lain baik secara fisik maupun psikis dalam bentuk kekerasan verbal, sosial, dan fisik yang terjadi berulangkali dari waktu ke waktu. Berdasarkan laporan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus bullying pada anak sekolah masih sangat tinggi bahkan mengalami peningkatan setiap tahun. Kasus bullying di sekolah menjadi kasus tertinggi yang dilaporkan ke KPAI sepanjangan tahun 2023 (KPAI, 2. Hasil penelitian melaporkan bahwa 30% kejadian bullying yang terjadi di sekolah terjadi tanpa disadari oleh pihak sekolah (Wachs et , 2. Ada berbagai jenis bullying yakni bullying fisik, verbal, sosial, dan cyberbullying (Sapitri, 2. Cyberbullying menjadi salah satu jenis bullying yang paling banyak dilaporkan dialami oleh siswa (Peng et al. , 2. Penggunaan media sosial yang semakin meningkat pada kalangan remaja berhubungan signifikan dengan peningkatan kejadian bullying (Sabramani et , 2. Remaja korban bullying akan mengalami masalah seperti kehilangan motivasi belajar, tidak percaya diri, mengisolasi diri dari pergaulan, trauma, depresi, menyakiti diri sendiri, bahkan bunuh diri (Ren et al. , 2. Dampak jangka panjang yang berpotensi muncul adalah anak-anak korban bullying memiliki potensi untuk menjadi pelaku bullying (Flannery et al. , 2. Di Kota Manado masih ditemukan kasus kejadiaan bullying pada anak sekolah. Pada tanggal 23 Mei 2023 terjadi kasus bullying yang dilakukan oleh remaja di Pantai Minanga Malalayang (Wuisan, 2. Kejadian bullying secara fisik juga ditemukan pada remaja SMP di Amurang (Mintje, 2. Paling fatal di Kotamobagu ditemukan kasus seorang anak meninggal setelah mengalami bullying fisik oleh teman sekolahnya (Prasetyadi, 2. Berdasarkan wawancara singkat yang dilakukan di SMP N 8 Manado dan SMP Katolik St. Rafael diperolah informasi bahwa sekolah belum memiliki sistem/strategi pencegahan terhadap kejadian bullying di sekolah. Sekolah juga belum pernah melakukan sosialisasi terkait Sehingga mungkin saja siswa di sekolah tidak menyadari bahwa tindakan yang mereka anggap sebagai hal biasa ternyata sudah masuk dalam kategori bullying. Pihak sekolah melaporkan sangat membutuhkan pelatihan dan pendampingan bagi siswa untuk meningkatkan kesadaran dan mencegah kejadian bullying di sekolah. Terlebih semakin maraknya pemberitaan media terkait kasus bullying yang terjadi di sekolah. Hasil penelitian dengan pendekatan meta analisis menjelaskan bahwa program pencegahan tindakan bullying yang dilakukan di tingkat sekolah terbukti efektif dalam menurunkan angka kejadian bullying pada remaja (Gaffney et al. , 2. Oleh sebab itu, mengingat dampak buruk bullying, temuan kasus bullying yang masih banyak terjadi di Kota Manado serta hasil wawancara maka Tim PKM terdorong untuk mengembangkan strategi/sistem antisipasi maupun literasi penguatan anti bullying di sekolah. Kegiatan yang dirancang oleh Tim PKM adalah dalam bentuk pelatihan dan pedampingan bagi siswa di sekolah untuk mencegah terjadinya tindakan bullying. Siswa yang sudah dilatih tersebut akan didampingi untuk mampu melakukan peer-support pada teman sebaya dalam meningkatkan kesadaran akan bullying dan dampak bullying. Pendekatan dengan peer-support dilakukan karena dukungan dari teman sebaya . eer-suppor. akan memberikan kesempatan pada remaja untuk bersikap lebih proaktif dalam menentang dan mencegah tindakan bullying (Tzani-Pepelasi et al. , 2. Hasil penelitian menjelaskan bahwa Vol. No. 1, 2025 JUKESHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat pendekatan peer-support pada kasus bullying memberikan kontribusi yang sangat kuat dalam mencegah serta meminimalisir dampak negatif tindakan bullying (Yang et al. , 2. Kegiatan yang dirancang ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan semangat bagi siswa untuk menghindari tindakan bullying sehingga tercipta lingkungan sekolah yang ramah, aman, dan bebas dari tindakan bullying. METODE Metode pelaksanaan dari kegiatan ini adalah melalui pelatihan pada remaja SMP. Kegiatan Pengabdian ini dilakukan selama 2 hari di 2 SMP yang berbeda yakni SMP Negeri 8 dan SMP Katolik Santo Rafael Manado. Pada Tabel berikut akan diuraikan metode dan materi pelatihan yang dilakukan yakni sebagai berikut. Tabel. 1 Metode dan Materi Pelatihan Metode Pelatihan - Class-meeting - Pembagian leaflet - Diskusi Kegiatan Perilaku Positif Materi Pelatihan Konsep Bullying - Definisi bullying - Jenis-jenis bullying - Dampak bullying pada kesehatan remaja, - Upaya melakukan pencegahan bullying. - Perilaku apa yang kamu harapkan dari teman mu - Hal-hal apa yang membuat mu merasa diterima oleh teman. Sebelum kegiatan pelatihan dilakukan. Tim PKM terlebih dahulu menyebarkan kuesioner pre-test untuk mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan tentang bulying pada Setelah pelatihan dilakukan. Tim PKM kemudian menyebarkan kuesioner post-test tentang bullying. Pada sesi pelatihan, siswa mengikuti games Kartu Perilaku Positif yakni masingmasing siswa diminta untuk menuliskan pendapat mereka tentang bagaimana mereka ingin diperlakukan oleh teman. Pendapat tersebut ditulis di kertas post-it berwarna kemudian masing-masing akan maju ke depan kelas untuk menempelkan post-it tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengabdian kepada masyarakat dilakukan di 2 sekolah yakni SMP Katolik Santo Rafael dan SMP Negeri 8 Manado. Pengabdian di SMP Katolik Santo Rafael dilakukan tanggal 1 Agustus 2024 dengan dihadiri 28 siswa. Sementara itu kegiatan di SMP Negeri 8 Manado dilakukan pada tanggal 2 Agustus 2024 dengan dihadiri 30 siswa. Total siswa yang mengikuti kegiatan pelatihan ini adalah sebanyak 58 siswa. Keseluruhan siswa tersebut mengisi kuesioner dengan lengkap. Berikut ini disajikan karakteristik siswa pada kegiatan Vol. No. 1, 2025 JUKESHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat Tabel. 2 Karakteristik Peserta Pelatihan . Karakteristik Responden Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Pengalaman bullying Pelaku Korban Jenis bullying yang pernah dialami Verbal Fisik Sosial Media Sosial Pengalaman menyaksikan teman di-bully Pernah Tidak Pernah Gambaran Pengetahuan Remaja terkait Bullying Sebelum Intervensi Baik Kurang Sesudah Intervensi Baik Kurang 65,51 68,96 63,79 55,17 22,41 12,06 Tabel 2. menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan siswa setelah Pada tabel tersebut juga didapatkan data bahwa mayoritas siswa pernah menjadi pelaku dan juga korban bullying. Jenis bullying yang dialami oleh siswa dimulai dari urutan terbanyak adalah bullying verbal, fisik, sosial, dan media sosial. Pembahasan Bullying merupakan perbuatan menyakiti yang dapat menyebabkan perasaan tak berdaya dan trauma pada korban(Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2. Sejalan dengan laporan dari (KPAI, 2. , kasus bullying di sekolah menjadi kasus tertinggi dan mengalami peningkatan setiap tahun. Pada kegiatan ini juga didapatkan hasil yang mendukung data tersebut bahwa semua siswa pernah menyaksikan kejadian bullying pada temannya. Menurut (Armitage, 2. , bullying pada anak dapat terjadi di sekolah maupun di rumah. Pada saat diskusi dengan siswa, mereka melaporkan bahwa mereka sering tidak melaporkan kejadian bullying yang mereka saksikan karena merasa takut. Pada buku terbitan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dijelaskan bahwa saksi dari kejadian bullying cenderung tidak melaporkan kejadian bullying yang mereka saksikan karena merasa takut terlibat, takut menjadi korban berikutnya, juga merasa bahwa perbuatan tersebut bukan masalahnya sehingga kejadian tersebut tidak dilaporkan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2. Selain menyaksikan kejadian bullying, siswa juga pernah terlibat dalam kegiatan bullying tersebut baik sebagai pelaku maupun sebagai korban. Hasil yang sama juga didapatkan pada penelitian yang dilakukan oleh Obregyn-Cuesta et al . bahwa sebagian Vol. No. 1, 2025 JUKESHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat besar siswa di sekolah terlibat dalam kegiatan bullying, baik sebagai pelaku, korban, maupun kedua nya. Hal ini sejalan dengan pendapat Sri Wahyuningsih . yang menyatakan bahwa korban bullying di kemudian hari dapat menjadi pelaku bullying. Jenis bullying terbanyak yang dialami oleh siswa adalah bullying verbal. Pada kegiatan ini, jumlah siswa yang menjadi korban perundungan media sosial menempati urutan terakhir. Meski demikian, orangtua harus tetap mengawasi penggunaan media sosial pada anak. Hal ini dikarenakan perkembangan teknologi menyebabkan anak menjadi kelompok yang lebih rentan mengalami bullying cyber/media sosial dengan dampak yang sangat serius pada anak (Armitage, 2. Pada kegiatan ini, diperoleh hasil peningkatan pengetahuan pada siswa setelah dilakukan pelatihan. Peningkatan pengetahuan setelah kegiatan pelatihan sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmadhony . yang menyatakan bahwa kegiatan pelatihan signifikan meningkatkan pengetahuan pada anak. Ainiyah & Cahyanti . melaporkan bahwa pengetahuan yang baik tentang bullying dapat mendorong siswa untuk lebih proaktif saat menghadapi kejadian bullying. Hasil analisis pada data pre-test menunjukkan bahwa mayoritas siswa beranggapan bahwa perundungan fisik merupakan perundungan yang paling berbahaya. Hal ini bertentangan dengan Flannery et al . yang menyatakan bahwa semua jenis perundungan memiliki dampak yang serius pada anak. Pada hasil pre-test juga ditemukan bahwa mayoritas anak beranggapan bahwa mengajak teman untuk menjauhi anak tertentu di kelas bukan termasuk bullying. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran siswa terkait dengan bullying masih berfokus pada bullying yang melibatkan fisik. Gambar 1. Pelaksanaan Kegiatan Pelatihan Selama proses pelatihan berlangsung, siswa terlibat aktif dalam diskusi yang Siswa melaporkan bahwa selama ini mereka beranggapan bullying fisik menjadi jenis bullying yang paling berbahaya karena dapat menimbukan cedera fisik. Namun setelah pelatihan berlangsung, para siswa akhirnya memahami bahwa semua jenis bullying dapat menimbulkan dampak yang serius baik pada fisik maupun mental yang pada akhirnya dapat menimbulkan depresi dan bunuh diri pada siswa (Armitage, 2. Vol. No. 1, 2025 JUKESHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pada pelatihan ini juga dilakukan kegiatan Kartu Perilaku Positif yang bertujuan untuk menggali jawaban siswa tentang bagaimana mereka ingin diperlakukan oleh teman dan perilaku apa saja yang membuat mereka merasa diterima di pertemanan. Petunjuk dari kegiatan ini adalah masing-masing siswa diminta untuk menuliskan jawaban dari pertanyaan berikut yakni . Perilaku seperti apa yang kamu harapkan dilakukan oleh teman di sekolah. Hal-hal apa saja yang membuat mu merasa diterima oleh teman-teman di sekolah. Jawaban dari setiap pertanyaan tersebut dituliskan pada kertas post-it yang dibagikan oleh Tim PKM. Setelah mereka selesai menuliskan jawabannya, mereka akan menempelkan jawabannya ke depan Pada pertanyaan hal-hal apa saja yang membuat mu merasa diterima oleh teman-teman di sekolah, maka berikut ini merupakan kutipan dari beberapa jawaban siswa. AuSaya didengarkan ketika berceritaAy AuSaya diajak bermain bersamaAy AuSaya dibantu oleh teman saya saat kesulitanAy Pada pertanyaan perilaku seperti apa yang kamu harapkan dilakukan oleh teman di sekolah, maka berikut ini adalah beberapa jawaban dari siswa. AuKetika teman membantu saya saat dibullyAy AuMenghibur di saat saya sedihAy AuMembela saya saat saya dibullyAy Gambar 2. Kartu Perilaku Positif Pada kegiatan ini, semua siswa terlibat dan mereka tampak antusias membaca jawaban-jawaban dari teman. Hal ini membantu mereka untuk mengenali perasaan dan keinginan dari murid-murid yang lain, sehingga diharapakan mellaui kegiatan Kartu Perilaku Positif tersebut, kesadaran para siswa untuk berperilaku positif dapat semakin meningkat. Oleh sebab itu, kegiatan pencegahan bullying di sekolah sangat perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang dampak bullying, membangun perilaku positif, dan meciptakan suasana yang nyaman di lingkungan sekolah. Vol. No. 1, 2025 JUKESHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat KESIMPULAN Kegiatan pelatihan pada siswa SMP terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran para siswa terkait bullying dan dampak bullying terhadap masalah kesehatan. Melalui kegiatan ini diharapkan para remaja dapat berperan menjadi agent of change untuk mencegah terjadinya kasus bullying di lingkungan sekolah. UCAPAN TERIMA KASIH