CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 3, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal PENGARUH SOCIOECONOMIC DAN FINANCIAL KNOWLEDGE TERHADAP FINANCIAL SATISFACTION YANG DIMEDIASI OLEH FINANCIAL BEHAVIOR PADA KOLEKTOR MERCHANDISE K-POP Dewi Pertiwi1. Evelyn Jennis Chriswanto2 Universitas Kristen Petra. Surabaya Corresponding e-mail: dewi. pertiwi@petra. Copyright A 2025 The Author This is an open access article Under the Creative Commons Attribution Share Alike 4. 0 International License DOI: 10. 53866/jimi. Abstract This study aims to analyze the influence of socioeconomic and financial knowledge on financial satisfaction mediated by financial behavior in K-pop merchandise collectors. High enthusiasm for K-pop merchandise is often exploited by irresponsible parties to commit fraud, which risks reducing collectors' financial This study involved 175 respondents through primary data collection with an online questionnaire, analyzed using the Structural Equation Modeling (SEM) method. The results showed that socioeconomic did not have a significant effect on financial satisfaction in K-pop merchandise collectors. contrast, financial knowledge had a significant effect on financial satisfaction, both directly and through the mediation of financial behavior in K-pop merchandise collectors. These findings highlight the importance of financial literacy in increasing financial satisfaction amidst the risks faced by K-pop merchandise collectors. Keywords: financial behavior, financial knowledge, financial satisfaction, k-pop merchandise collectors. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh socioeconomic dan financial knowledge terhadap financial satisfaction yang dimediasi oleh financial behavior pada kolektor merchandise K-pop. Antusiasme tinggi terhadap merchandise K-pop sering dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan, yang berisiko menurunkan financial satisfaction kolektor. Penelitian ini melibatkan 175 responden melalui pengumpulan data primer dengan kuesioner online, dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa socioeconomic tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap financial satisfaction pada kolektor merchandise K-pop. Sebaliknya, financial knowledge berpengaruh signifikan terhadap financial satisfaction, baik secara langsung maupun melalui mediasi financial behavior pada kolektor merchandise K-pop. Temuan ini menyoroti pentingnya literasi keuangan dalam meningkatkan kepuasan finansial di tengah risiko yang dihadapi kolektor merchandise Kpop. Kata Kunci: financial behavior, financial knowledge, financial satisfaction, kolektor merchandise k-pop. Hlm | 759 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 3, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Pendahuluan Fenomena penyebaran budaya Korea Selatan, yang dikenal dengan istilah Korean Wave, telah membawa pengaruh besar pada budaya pop di seluruh dunia, termasuk Indonesia, khususnya melalui industri musik yang disebut juga sebagai Korean Pop (Jayanti et al. , 2. Survei Jakpat . dan IDN Times . menunjukkan bahwa K-pop memiliki penggemar yang tersebar luas di Indonesia, dengan Pulau Jawa sebagai peminat paling tinggi sebesar 76,7%. Segmentasi penggemar didominasi oleh wanita berusia 20 Ae 25 tahun. Seiring dengan pertumbuhan popularitas K-pop, para penggemar mengekspresikan dukungan terhadap idola melalui berbagai kegiatan, termasuk dengan mengoleksi merchandise K-pop (Ardhiyansyah et al. , 2. Bagi sebagian kolektor, aktivitas ini menjadi bagian dari hobi, bahkan dipandang sebagai bentuk investasi karena nilai merchandise dapat meningkat seiring waktu, terutama jika barang tersebut langka. Penggemar K-pop tidak semuanya adalah kolektor merchandise. Ada penggemar biasa yang hanya menikmati karya idolanya, tanpa menjadi seorang kolektor. Survei yang dilakukan oleh VICE . menjelaskan kolektor merchandise K-pop sering membeli beberapa album yang sama agar kesempatan mendapatkan photocard anggota yang disukai lebih tinggi karena photocard dimasukkan secara acak ke dalam album. Hal ini melibatkan pengeluaran yang lebih tinggi, berbeda dengan penggemar biasa. Peneliti telah melakukan wawancara dengan dua penggemar K-pop, satu penggemar biasa dan satu kolektor Penggemar biasa mendukung idola dengan cara menikmati musik dan konten idola tanpa merasa perlu membeli merchandise, sedangkan kolektor merchandise K-pop mendukung idola dengan cara menikmati musik, konten, membeli dan mengoleksi merchandise K-pop. Kolektor perlu mengalokasikan waktu, usaha, dan uang yang lebih tinggi dibanding penggemar biasa karena terdorong untuk membeli barang merchandise resmi, seperti album, lightstick, dan photocard. Jika tidak mendapat photocard idola yang diinginkan pada album yang dibeli, kolektor akan beralih ke pasar sekunder. Harga yang dipatok di pasar sekunder jauh lebih tinggi karena kelangkaan dan tingginya permintaan untuk idola tertentu. Korea. melaporkan bahwa ekspor album K-pop berhasil mencapai rekor dengan nilai 300 miliar won, mencerminkan tingginya permintaan global termasuk dari Indonesia. Permintaan yang tinggi di Indonesia turut memicu berkembangnya layanan jasa titip . untuk memfasilitasi penggemar yang ingin membeli merchandise dari luar negeri. Aktivitas jual beli merchandise K-pop di pasar sekunder, seperti photocards, juga mengalami peningkatan. Antusiasme terhadap merchandise K-pop yang tinggi sering kali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan (Kompasiana, 2. Survei oleh Tirto . mengungkapkan bahwa 16,27% dari 1. 107 responden pernah menjadi korban penipuan dalam pembelian merchandise K-pop. Modus penipuan yang umum mencakup penawaran barang dibawah harga pasar, skema Aupre-order albumAy yang tampak menarik namun berakhir dengan penjual menghilang setelah menerima uang muka, serta pengiriman merchandise palsu. Risiko finansial ini tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi tetapi juga berpotensi menurunkan tingkat financial satisfaction para kolektor merchandise K-pop. Financial satisfaction mengacu pada penilaian subjektif terhadap ketersediaan sumber daya keuangan yang dimilikinya (Dale, 2. Pencapaian financial satisfaction tidak hanya dicerminkan dari aspek finansial, tetapi juga terkait dengan sikap positif terhadap kesehatan, kebahagiaan dan keyakinan diri terkait kondisi keuangan pribadinya (Renaldo et al. , 2. Financial satisfaction bagi kolektor merchandise K-pop tidak hanya diukur dari seberapa banyak uang yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan untuk memenuhi keinginan tanpa merasa terbebani secara finansial. Ketika pengeluaran untuk hobi menyebabkan kesulitan finansial, bahkan sampai terjadi penipuan, yang akhirnya mulai menganggu stabilitas keuangan dan harus mengorbankan kebutuhan dasar, hal ini dapat menurunkan tingkat financial satisfaction. Individu akan merasa ketidakpuasan karena dana yang dialokasikan untuk hobi justru menciptakan beban finansial tambahan (Renaldo et al. , 2. Risiko finansial ini dapat memperburuk penilaian individu terhadap kondisi keuangan pribadinya secara keseluruhan. Financial satisfaction setiap individu berbeda-beda tergantung pada karakteristik socioeconomic (Hasyyati, 2. Penggemar K-pop atau K-popers datang dari beragam latar belakang tanpa batasan status sosial-ekonomi tertentu (Rojo et al. , 2. , yang menunjukkan bahwa fenomena ini merangkul seluruh Karakteristik socioeconomic, yang mencakup tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan pendapatan, mempengaruhi bagaimana setiap individu memikirkan dan mengelola keuangannya, termasuk untuk jangka panjang. Tingkat pendidikan menggambarkan tingkat pengetahuan dan potensi akses terhadap Hlm | 760 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 3, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal informasi keuangan yang lebih baik, yang dapat mempengaruhi pencapaian financial satisfaction (Joo & Grable, 2. Status pekerjaan juga memiliki peran signifikan dalam menentukan financial satisfaction. Individu dengan pekerjaan tetap cenderung memiliki financial satisfaction yang lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja kontrak atau paruh waktu, karena pekerjaan tetap memberikan stabilitas pendapatan dan jaminan finansial yang lebih jelas (Salignac et al. , 2. Pendapatan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap financial satisfaction, sebagaimana dibuktikan oleh penelitian Syren et al. Semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin tinggi kemungkinan individu merasa puas dengan kondisi keuangannya. Pendapatan yang lebih tinggi memungkinkan individu memenuhi kebutuhan dan keinginan, termasuk hobi mengoleksi merchandise K-pop. Adanya pemahaman mengenai keuangan, atau financial knowledge, ikut berperan dalam pembuatan keputusan finansial yang cerdas dan bertanggung jawab sehingga memberikan efek pada financial Menurut Ekasari et al. , . financial knowledge sangat penting karena memungkinkan individu mengelola uangnya dengan lebih baik dan meminimalisasi risiko finansial, termasuk menghadapi penipuan merchandise K-pop. Kolektor merchandise K-pop sering terpengaruh oleh tren atau tekanan sosial yang dapat meningkatkan pengeluaran untuk merchandise K-pop (Yoganingsih, 2. Jika kolektor tidak memiliki financial knowledge yang tinggi, kolektor cenderung menghadapi kesulitan dalam mengatur anggaran sehingga pengalokasian pengeluaran untuk hobi dapat berlebihan (Klapper et al. , 2. Hal ini dapat menganggu stabilitas keuangan, terlebih jika disertai dengan risiko seperti penipuan. Kondisi ini berpotensi menurunkan financial satisfaction, karena kolektor merasa tidak mampu mengelola dana secara optimal atau terjebak dalam beban keuangan yang meningkat akibat pengeluaran yang tidak terkendali. Financial behavior didefinisikan sebagai perilaku dalam mengelola keuangan, mencakup aspek pengeluaran, tabungan, perencanaan keuangan, dan manajemen utang (Sabri et al. , 2022. Nalurita et al. Financial behavior yang baik diperlukan untuk mencapai financial satisfaction karena mencerminkan preferensi dan kebiasaan finansial yang dimiliki setiap orang (Dew & Xiao, 2. Pada penelitian ini, financial behavior berperan sebagai variabel mediasi antara financial knowledge dan financial satisfaction. Sebagai contoh, kolektor merchandise K-pop yang memiliki financial knowledge yang tinggi cenderung mengadopsi financial behavior yang baik, seperti menyusun anggaran khusus untuk koleksi, menghindari utang berlebih, dan mengelola prioritas keuangan secara seimbang. Financial behavior menjadi krusial mengingat pengeluaran untuk hobi sering dipengaruhi oleh tekanan sosial. Dengan pengelolaan keuangan yang baik, kolektor dapat menikmati hobinya tanpa mengorbankan stabilitas keuangan, yang pada akhirnya meningkatkan financial satisfaction (Perry & Morris, 2005. Xiao et al. , 2. Kolektor merchandise K-pop memiliki tingkat financial knowledge yang berbeda, sehingga financial behavior dapat menjadi faktor penentu dalam menjaga keseimbangan prioritas keuangan antara hobi dan kebutuhan finansial lainnya. Hal ini dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh Narulloh et al. , . Sekalipun financial knowledge itu penting, dampaknya terhadap financial satisfaction akan lebih optimal jika didukung oleh financial behavior yang baik. Kolektor merchandise K-pop dapat tetap merasa puas secara finansial meskipun mengeluarkan uang untuk hobi, selama mereka mampu mengelola keuangan dengan Penelitian yang dilakukan oleh Fachrudin et al. , . menguji pengaruh socioeconomic dan neurotic personality terhadap financial satisfaction dan financial well-being, dengan financial behavior sebagai variabel mediasi. Sampel yang digunakan adalah masyarakat dari kota besar di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan meskipun socioeconomic dan neurotic personality bersifat intrinsik bagi individu, peningkatan financial behavior secara signifikan mampu meningkatkan financial satisfaction yang selanjutnya bisa meningkatkan financial well-being. Financial behavior terbukti berhasil memediasi hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Ukuran sampel yang digunakan memang cukup besar, melibatkan 600 responden dari kota besar di Indonesia, namun belum mencerminkan keragaman populasi secara menyeluruh. Penelitian lain yang dilakukan oleh Saurabh & Nanda . menguji pengaruh financial knowledge dan financial socialization sebagai variabel independen terhadap financial sastisfaction sebagai variabel dependen, dengan tambahan financial behavior dan financial risk attitude sebagai variabel mediasi. Sampel penelitian terdiri dari klien dua bank sektor publik besar yang tinggal di kota Allahabad. India. Hasil penelitian menunjukkan financial knowledge dan financial socialization memiliki pengaruh signifikan terhadap financial satisfaction. Ketika financial behavior dan financial risk attitude ditambahkan sebagai Hlm | 761 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 3, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal variabel mediasi, hubungan antara variabel independen dan financial satisfaction menjadi lebih kuat. Karena penelitian dilakukan di India dengan sampel yang spesifik, generalisasi temuan ini ke konteks geografi lain mungkin terbatas. Berbeda dengan dua penelitian sebelumnya, penelitian ini secara khusus berfokus pada kolektor merchandise K-pop yang secara spesifik menghadapi risiko keuangan dalam kegiatan mengoleksi. Berdasarkan data dan fenomena yang ada, penelitian terhadap kolektor merchandise K-pop masih terbatas. Jumlah penggemar K-pop yang semakin banyak, hingga melampaui 150 juta orang, mencerminkan daya tarik Korean Wave yang sangat luas dan potensi dampak yang lebih luas terhadap perilaku finansial mereka (Natalia, 2. Indonesia sendiri menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan antusiasme tinggi terhadap budaya Korea Selatan (Irhamni, 2. Oleh karena itu, penelitian ini akan menguji pengaruh socioeconomic dan financial knowledge terhadap financial satisfaction yang dimediasi oleh financial behavior pada kolektor merchandise K-pop. Metode Populasi dan Sampel Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kolektor merchandise K-pop di Indonesia. Untuk memastikan bahwa tidak semua anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel, peneliti menggunakan non-probability sampling (Kriyanto, 2. Metode ini berarti pemilihan sampel dilakukan secara tidak acak. Metode yang dilakukan adalah dengan menggunakan purposive sampling. Purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel dimana sampel dipilih secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian (Sugiyono, 2. Kriteria penarikan sampel adalah sebagai berikut: Merupakan penggemar K-pop yang menjadi kolektor merchandise K-pop dan masih aktif Hal ini dibuktikan dengan adanya pembelian merchandise dalam 6 bulan terakhir. Memiliki pendapatan pribadi, baik dari bekerja atau diberi uang saku oleh orang tua. Pendapatan menjadi faktor yang menentukan kemampuan individu untuk membeli merchandise K-pop. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan instrumen berupa kuesioner tertutup. Kuesioner akan dibagikan dalam bentuk link dan kemudian disebarkan menggunakan media sosial, yaitu Instagram. LINE, dan Twitter, untuk mempermudah penyebaran kepada responden yang sesuai dengan kriteria penelitian. Teknik Analisa Data Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan Partial Least Square (PLS) metode Structural Equation Modeling (SEM) dengan bantuan aplikasi SmartPLS sebagai alat instrumen analisis data statistik. Tujuan utama metode ini adalah untuk menganalisis hubungan antar variabel yang diteliti, baik pengaruh langsung maupun tidak langsung. Langkah-langkah dalam membuat PLS adalah: Mengkonstruksi Diagram Path Evaluasi Outer Model Evaluasi Inner Model Hlm | 762 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 3, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Hasil dan Pembahasan Hasil Akhir Diagram Path Gambar 1. Hasil Akhir Diagram Path Sumber: Diolah oleh penulis . Evaluasi Outer Model Convergent Validity Tabel 1. Nilai Outer Loading FB. 0,619 FB. 0,741 FB. 0,556 FB. 0,714 FK. 0,573 FK. 0,518 FK. 0,755 FK. 0,590 FK. 0,824 FS. 0,759 FS. 0,707 FS. 0,793 FS. 0,788 FS. 0,731 SE. 0,811 SE. 0,897 Sumber: Diolah oleh penulis . Pada awalnya penelitian ini menggunakan 19 indikator untuk mengukur variabel. Setelah dilakukan analisa terdapat 3 indikator yang tidak valid yaitu SE. FK. 3 dan FB. Ketiga indikator tersebut memiliki nilai outer loading yang tidak mencapai batas minimum yaitu 0,5. Outer loading yang rendah menunjukkan bahwa indikator tersebut tidak memiliki kontribusi signifikan terhadap konstruk yang diukur, sehingga tidak relevan untuk dipertahankan dalam model. Penghapusan ketiga indikator tersebut dilakukan untuk meningkatkan validitas model. Tabel 1. menunjukkan nilai outer loading dari keseluruhan indikator telah memenuhi ketentuan yang berlaku, yaitu lebih besar Hlm | 763 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 3, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal dari 0,5. Keseluruhan indikator memiliki convergent validity yang baik sehingga dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut. Tabel 2. Nilai AVE Variabel AVE 0,438 0,439 0,572 0,731 Sumber: Diolah oleh penulis . Nilai AVE yang berada di atas 0,4 masih dapat diterima dalam analisis asalkan didukung dengan nilai composite reliability yang baik atau lebih besar dari 0,6 (Fornell dan Larcker, 1981. Chin. Berdasarkan tabel 2, nilai AVE dari semua variabel sudah berada di atas 0,4, didukung pula dengan nilai composite reliability yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa model secara keseluruhan sudah valid dan layak untuk digunakan dalam analisis lebih lanjut. Discriminant Validity Tabel 3. Nilai Cross Loading FB. 0,619 0,131 0,170 0,078 FB. 0,741 0,168 0,339 -0,013 FB. 0,556 0,121 0,080 0,076 FB. 0,714 0,140 0,181 -0,058 FK. 0,119 0,573 0,115 0,104 FK. 0,076 0,518 0,133 0,138 FK. 0,184 0,755 0,232 0,340 FK. 0,099 0,590 0,149 0,132 FK. 0,190 0,824 0,308 0,148 FS. 0,294 0,174 0,759 0,199 FS. 0,260 0,295 0,707 0,105 FS. 0,235 0,202 0,793 0,217 FS. 0,206 0,308 0,788 0,167 FS. 0,264 0,163 0,731 -0,013 SE. 0,092 0,310 0,136 0,811 SE. -0,049 0,173 0,180 0,897 Sumber: Diolah oleh penulis . Berdasarkan tabel 3, ditunjukkan bahwa setiap indikator masing-masing variabel laten memiliki nilai cross loadings yang paling besar dibandingkan dengan nilai cross loading indikator tersebut terhadap variabel laten lainnya. Maka dari itu, data yang digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi syarat dari discriminant validity dan bisa digunakan untuk analisis lebih lanjut. Reliability Test Tabel 4. Nilai Composite Reliability Indikator Composite Reliability 0,755 0,791 0,870 0,844 Sumber: Diolah oleh penulis . Hlm | 764 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 3, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa nilai dari composite reliability setiap variabel sudah berada di atas 0,6. Nilai ini dianggap ideal, menandakan bahwa indikator yang digunakan sudah akurat dan konsisten digunakan untuk mengukur setiap variabel. Hal ini berarti data yang digunakan telah memenuhi kriteria reliability test. Evaluasi Inner Model Nilai R-Square Tabel 5. Nilai R-Square Indikator Nilai R-Square 0,046 0,184 Sumber: Diolah oleh penulis . Tabel 5 menunjukkan perhitungan nilai R-square dari variabel financial satisfaction adalah 0,046 atau 4,6%. Hal ini berarti financial satisfaction mampu dipengaruhi oleh variabel independen sebesar 4,6% dan sisanya sebanyak 95,4% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diuji pada penelitian ini. Nilai R-square untuk variabel financial behavior sebesar 0,184 atau 18,4%. Hal ini berarti financial behavior dapat dipengaruhi oleh variabel independen, baik socioeconomic dan financial knowledge, sebesar 18,4% dan sisanya 81,6% dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian ini. Nilai Q-Square Nilai Q-Square juga digunakan sebagai evaluasi dari inner model. Hasil perhitungan nilai Q-square adalah sebagai berikut: ycE! = 1 Oe . Oe ycI"! ). Oe ycI!! ) ycE! = 1 Oe . Oe 0,. Oe 0,. ycE! = 1 Oe 0,797 ycE! = 0,203 Perhitungan nilai Q-Square untuk penelitian ini memberikan hasil 0,203 dimana angka ini lebih besar dari 0. Hal ini berarti model memiliki relevansi prediktif yang baik dan dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam menjelaskan variabel yang diprediksi (Chin, 1. Model penelitian ini sudah dapat digunakan untuk memprediksi data dengan akurat atau memiliki goodness of fit yang baik. Uji Hipotesis Tabel 6. Hasil Pengujian Hipotesis Original Sample T-Statistics P-Values FB -> FS 0,286 3,784 0,000 FK -> FB 0,215 2,630 0,009 FK -> FS 0,212 2,502 0,012 SE -> FS 0,126 1,811 0,070 FK -> FB -> FS 0,061 2,421 0,016 Sumber: Diolah oleh penulis . Keterangan Signifikan Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Hipotesis 1 Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan, nilai t-statistic yang diperoleh dari pengujian pengaruh socioeconomic terhadap financial satisfaction pada kolektor merchandise K-pop adalah 1,811 dengan nilai p-values yang didapatkan adalah 0. Nilai ini belum memenuhi syarat untuk menolak H0. Hal ini memberikan hasil bahwa socioeconomic tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap financial Hlm | 765 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 3, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Hipotesis 2 Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan, nilai t-statistic yang diperoleh dari pengujian pengaruh financial knowledge terhadap financial satisfaction pada kolektor merchandise Kpop adalah 2,502 dengan nilai p-values 0. Nilai ini sudah memenuhi syarat untuk menolak H0 yang artinya variabel financial knowledge berpengaruh secara signifikan terhadap financial satisfaction. Hipotesis 3 Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan, nilai t-statistic yang diperoleh dari pengujian pengaruh financial knowledge terhadap financial satisfaction pada kolektor merchandise K-pop yang dimediasi oleh financial behavior adalah 2,421 dengan nilai p-values 0,016. Nilai ini memenuhi syarat untuk menolak H0 yang artinya financial knowledge berpengaruh secara signifikan terhadap financial satisfaction yang dimediasi oleh financial behavior. Pengaruh Socioeconomic terhadap Financial satisfaction Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, variabel socioeconomic, yang meliputi tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan pendapatan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap financial satisfaction pada kolektor merchandise K-pop. Temuan ini menarik karena bertolak belakang dengan banyak studi sebelumnya yang umumnya menunjukkan adanya pengaruh signifikan antara socioeconomic dan financial satisfaction. Komposisi tingkat pendidikan dan pendapatan menunjukkan homogenitas pada tingkat yang cenderung menengah, menunjukkan bahwa pendidikan formal dan pendapatan tidak berfungsi sebagai faktor pembeda signifikan dalam mempengaruhi financial satisfaction pada konteks kolektor merchandise K-pop. Kolektor dengan berbagai tingkat pendidikan tampaknya sama-sama mengandalkan kemampuan pengelolaan keuangan pribadi untuk menyeimbangkan kebutuhan dasar dengan hobi. Status pekerjaan juga tidak terdistribusi dengan rata. Tidak adanya dominasi jenis pekerjaan tertentu menunjukkan bahwa status pekerjaan tidak secara langsung mempengaruhi cara responden dalam mengelola keuangan Koleksi merchandise K-pop juga dapat dipertimbangkan sebagai bentuk investasi rill, terutama bagi kolektor yang aktif memperdagangkan koleksinya di pasar sekunder. Beberapa merchandise, seperti photocard edisi terbatas, memiliki nilai jual yang bisa meningkat seiring waktu. Aktivitas perdagangan ini memberikan potensi keuntungan finansial yang dapat mendukung financial satisfaction, khususnya pada responden yang menyadari dan memahami nilai aset koleksi. Hal ini dapat menjadi pertimbangan tambahan dalam menjelaskan hubungan antara socioeconomic dan financial satisfaction. Ketidakhadiran pengaruh signifikan dari socioeconomic terhadap financial satisfaction dapat dijelaskan oleh dominasi faktor psikologis dan perilaku. Responden dengan pendapatan rendah tampaknya telah mengembangkan pola pengeluaran yang adaptif, memungkinkan responden untuk tetap menikmati hobi meskipun memiliki keterbatasan finansial (Diener et al. , 1. Kolektor merchandise K-pop cenderung mengedepankan nilai emosional dari hobi mengoleksi merchandise K-pop, seperti kepuasan pribadi atau kebanggaan menjadi bagian dari komunitas kolektor (Rinata & Dewi, 2. Nilai emosional dari hobi ini membuat kolektor merchandise K-pop merasa puas secara finansial meskipun memiliki keterbatasan Hasil ini sejalan dengan penelitian Rahadian et al. , . yang menemukan bahwa tingkat pendidikan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap financial satisfaction. Tingkat pendidikan yang tinggi belum tentu menghasilkan financial satisfaction yang tinggi pula. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian Menard . yang menemukan tingkat pendidikan memiliki pengaruh signifikan terhadap financial satisfaction. Status pekerjaan tidak berpengaruh signifikan terhadap financial satisfaction. Hal ini sejalan dengan penelitian Tharp et al. , . yang menemukan status pekerjaan tidak berpengaruh signifikan terhadap financial satisfaction, namun tidak sejalan dengan Owusu . yang menemukan status pekerjaan berpengaruh signifikan terhadap financial satisfaction. Pendapatan tidak berpengaruh signifikan terhadap financial satisfaction, sejalan dengan penelitian Sadiq et al. , . Semakin tinggi pendapatan seseorang belum tentu menjamin ia akan semakin puas dengan keuangannya. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian Vera-Toscano et al. , . dan Sahi . yang menemukan bahwa pendapatan memiliki pengaruh signifikan terhadap financial satisfaction. Hlm | 766 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 3, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Pengaruh Financial knowledge terhadap Financial satisfaction Berdasarkan hasil penelitian, financial knowledge memiliki pengaruh signifikan terhadap financial satisfaction pada kolektor merchandise K-pop. Temuan ini mengindikasikan bahwa pemahaman yang lebih baik tentang prinsip keuangan membantu responden merasa lebih puas dengan kondisi finansial, meskipun memiliki hobi yang menuntut pengeluaran signifikan. Responden yang menyadari likuiditas rendah dari aset seperti merchandise K-pop (FK . cenderung memiliki ekspektasi realistis terhadap nilai koleksi merchandise K-pop. Kesadaran ini membantu responden mengelola ekspektasi finansial sehingga tidak bergantung pada merchandise sebagai aset likuid, tetapi lebih menghargai sebagai aset koleksi bernilai emosional. Hal ini secara tidak langsung meningkatkan financial satisfaction karena responden tidak mengalami tekanan finansial ketika menghadapi kebutuhan mendesak. Pemahaman tentang pentingnya mengevaluasi pengeluaran untuk merchandise sebelum pembelian berikutnya (FK . juga menjadi faktor penting. Kemampuan menilai prioritas, memungkinkan responden menjaga kestabilan keuangan (FS . , tetap memenuhi kebutuhan dasar (FS . , dan merasa puas dengan pengelolaan keuangan yang terencana. Kesadaran akan pentingnya tabungan darurat (FK . mendukung responden dalam memisahkan dana untuk hobi dan kebutuhan darurat, sehingga responden tetap memiliki cadangan keuangan yang memadai, yang mendukung indikator FS 5. Kesadaran terhadap risiko utang konsumtif dari penggunaan kartu kredit atau layanan paylater (FK . mendorong perilaku pengelolaan utang yang lebih berhati-hati. Hal ini mengurangi tekanan finansial akibat utang berlebihan, yang berdampak pada kepuasan finansial (FS . Financial knowledge membantu menghindarkan responden dari tekanan finansial akibat utang konsumtif. Pemahaman tentang perbedaan risiko dan potensi keuntungan antara produk keuangan seperti saham atau emas dan produk riil seperti merchandise K-pop (FK . membuat responden lebih bijak dalam mengalokasikan dana. Responden mampu menyeimbangkan tujuan investasi dengan pengeluaran hobi, yang berkontribusi pada financial satisfaction secara keseluruhan. Hasil ini konsisten dengan penelitian Joo & Grable . dan kreblin Kirbi et al. , . yang menemukan financial knowledge berpengaruh signifikan terhadap financial satisfaction. Keunikan penelitian ini terletak pada penerapan financial knowledge dalam konteks pengelolaan pengeluaran untuk hobi yang memiliki nilai emosional tinggi. Ini menegaskan bahwa financial knowledge tidak hanya relevan dalam pengelolaan kebutuhan dasar dan investasi formal, tetapi juga dalam mendukung aktivitas berbasis hobi. Kolektor merchandise K-pop yang memahami prinsip keuangan mampu menjadikan hobi ini sebagai sumber kebahagiaan tanpa mengorbankan stabilitas finansial. Pengaruh Financial knowledge terhadap Financial satisfaction yang dimediasi oleh Financial behavior Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa financial knowledge berpengaruh signifikan terhadap financial satisfaction melalui mediasi financial behavior pada kolektor merchandise K-pop. Temuan ini menunjukkan bahwa pemahaman keuangan yang baik tidak hanya langsung meningkatkan kepuasan finansial, tetapi juga mendorong perilaku keuangan yang lebih bijak, yang pada gilirannya memperkuat kepuasan finansial. Financial knowledge yang dimiliki responden memungkinkan responden untuk mengambil keputusan keuangan yang lebih bijak, terutama dalam mengelola pengeluaran untuk hobi mengoleksi merchandise K-pop. Hal ini dapat dilihat dari FK 5 (Saya memahami bahwa penggunaan kartu kredit atau pinjaman paylater untuk membeli merchandise K-pop dapat meningkatkan risiko utang konsumti. membantu responden untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan kartu kredit atau pinjaman paylater (Saya sering menggunakan kartu kredit atau pinjaman konsumtif . untuk membeli merchandise K-pop atau barang lain yang saya inginka. , sehingga responden tidak terjebak dalam masalah utang yang dapat mengurangi kepuasan finansial. Konteks kolektor merchandise K-pop memberikan keunikan pada penelitian ini, di mana financial behavior memainkan peran dalam menyeimbangkan kebutuhan dasar dengan pengeluaran untuk hobi. Kolektor merchandise K-pop cenderung memiliki tekanan emosional, seperti keinginan untuk mengikuti tren atau pengaruh dari komunitas, yang tercermin dalam FB 4 (Saya membeli barang karena melihat teman atau orang lain juga membelinya, misalnya membeli merchandise K-po. dan FB 5 (Saya merasa khawatir tertinggal tren jika tidak membeli barang yang sedang populer, seperti merchandise K-po. Responden yang memiliki financial knowledge yang baik mampu mengelola tekanan tersebut dengan bijak sehingga tidak Hlm | 767 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 3, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal mengorbankan kepuasan finansial mereka. Temuan ini sejalan dengan penelitian Arifin . Saurabh & Nandan . , dan Normawati et , . yang menyatakan bahwa financial behavior berhasil memediasi pengaruh financial knowledge terhadap financial satisfaction. Penelitian ini didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Joo & Grable . , yang menyatakan bahwa financial satisfaction dapat ditentukan melalui financial knowledge Selain itu, temuan ini juga konsisten dengan Theory of Planned Behavior dari Ajzen . , yang menyoroti bahwa pengetahuan atau informasi yang dimiliki seseorang secara signifikan memengaruhi tindakan yang diambilnya. Kolektor merchandise K-pop dengan kesadaran finansial cenderung menghindari perilaku impulsif meskipun tekanan sosial, seperti tren atau teman sesame kolektor, dapat mempengaruhi keputusan pembelian individu. Kesimpulan Penelitian ini memberikan hasil bahwa socioeconomic tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap financial satisfaction pada kolektor merchandise K-pop, menunjukkan bahwa tingkat pendidikan, status pekerjaan atau pendapatan tidak memengaruhi kepuasan finansial. Financial knowledge terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap financial satisfaction, baik secara langsung maupun melalui mediasi financial Hal ini menekankan pentingnya pemahaman keuangan dalam membantu kolektor mengelola perilaku finansial untuk mencapai kepuasan finansial yang lebih baik. Penelitian ini memberikan wawasan yang relevan bagi kolektor merchandise K-pop untuk terus meningkatkan financial knowledge. Pengetahuan ini dapat membantu kolektor merchandise K-pop memahami risiko keuangan, merencanakan anggaran, dan membuat keputusan finansial yang lebih strategis. Kolektor disarankan untuk menetapkan prioritas keuangan, seperti menabung untuk kebutuhan masa depan atau investasi, sebelum mengalokasikan dana untuk membeli merchandise. Financial knowledge yang tinggi membantu kolektor merchandise K-pop untuk berhati-hati terhadap risiko penipuan saat membeli merchandise K-pop dari pihak ketiga. Dengan begitu financial satisfaction yang dirasakan bisa terus Peneliti selanjutnya disarankan untuk lebih mendalami konteks kolektor merchandise K-pop, termasuk mengeksplorasi apakah responden hanya mengoleksi merchandise sebagai hobi atau juga memperjualbelikan merchandise yang dimiliki, karena aktivitas perdagangan ini dapat dianggap sebagai bentuk investasi riil. Dengan begitu, pemilihan dan penggunaan indikator dapat mencerminkan konsep yang diteliti secara menyeluruh, khususnya dalam konteks kolektor merchandise K-pop. Bibliography