CASSOWARY volume 3 . : 77 - 90 ISSN : 2614-8900 E-ISSN : 2622-6545 Program Pascasarjana Universitas Papua, https://pasca. Respon beberapa galur mutan kedelai (Glycine max (L. ) Merri. generasi M5 pada berbagai tingkat cekaman salinitas pada media Rockwool (Responses of Some M5 Glycine max (L. ) Merrill Generation in Various Levels of Salinity in Rockwool Medi. Ade Ryan Muarif1. Hasanuddin1. Zuyasna1* Jurusan Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Syiah Kuala Jln. Krueng Kalee. No 3. Darussalam. Banda Aceh. Indonesia. *Email: zuyasna@unsyiah. ABSTRACT: This study aims to determine the effect of various levels of salinity on several M5 soybean mutant lines. The study was conducted at the Laboratory of Seed Science and Technology and the Screen House of the Agrotechnology Study Program. Faculty of Agriculture. Syiah Kuala University. The experiment design that used was factorial 5x4 with three replications. The first factor was the soybean genotype namely the mutant B4. B7. B15. Kipas Putih . and Wilis varieties. The second factor is the concentration of NaCl which consists of 0 gl-1, 4 gl1 , 6 gl-1, and 8 gl-1. The results showed that each genotype had different response to salinity. Concentration of NaCl 4 gl-1, the genotype shows a decrease in the value of viability, vigorous of seeds, and plant vegetative growth. The highest viability and vigor were found in the Wilis variety followed by the B4 mutant. Kipas Putih, the B7 mutant and the lowest was the B15 mutant. The genotypes of Wilis. Kipas Putih and mutant B4 had relatively better germination and growth power in salinity condition compared to mutants B7 and B15. Keywords: ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai tingkat salinitas pada beberapa galur mutan kedelai M5. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih serta Rumah Kasa Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Syiah Kuala. Data dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 5 x 4 dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah genotipe kedelai dengan 5 taraf yaitu mutan B4. B7. B15, varietas Kipas Putih . dan varietas Wilis. Faktor kedua adalah konsentrasi NaCl yang terdiri dari 0 gl-1, 4 gl-1, 6 gl-1, dan 8 gl-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap genotipe memiliki respon yang berbeda terhadap salinitas. Konsentrasi NaCl 4 gl-1, genotipe sudah mulai menunjukkan penurunan nilai viabilitas, vigor benih dan pertumbuhan vegetatif tanaman. Via- bilitas dan vigor tertinggi terdapat pada perlakuan varietas Wilis yang kemudian diikuti oleh mutan B4. Kipas Putih, mutan B7 dan terendah pada mutan B15. Genotipe Wilis, mutan B4 dan Kipas Putih relatif memiliki daya berkecambah dan daya tumbuh yang lebih baik pada cekaman salinitas dibandingkan dengan mutant B7 dan B15. Kata Kunci: cekaman abiotik, keragaman, lahan marginal, mutasi, viabilitas benih CASSOWARY volume 3 . : 76 Ae 90 PENDAHULUAN Kedelai merupakan salah satu tanaman sumber protein penting bagi masyarakat di Indonesia. Namun sampai sekarang ini produksi kedelai Indonesia masih belum mampu memenuhi kebutuhan secara nasional, sehingga perlu dilakukan pemasokan kedelai dari luar Disisi lain, pemerintah masih terus mengupayakan agar Indonesia mampu mencapai swasembada kedelai, baik melalui intensifikasi ataupun ekstensfikasi. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk kegiatan perluasan areal tanam untuk menanami kedelai yaitu menanami seluruh lahan yang tersedia dan memanfaatkan lahan yang mengalami salinitas (Suryaman et al. , 2. Salinitas tanah pada kenyataannya telah menjadi suatu masalah yang serius dalam produksi tanaman di Indonesia. Departemen Pertanian tahun 2005 menunjukkan pula bahwa kadar garam di lapisan permukaan lahan sawah yang terendam air laut di daerah Aceh mencapai 8-10 dS/m. Pemanfaatan lahan marginal dapat menjadi alternatif bagi para petani untuk permasalahan berkurangnya lahan subur dan lahan yang dapat ditanami dalam upaya ekstensifikasi kedelai. Tanah yang memiliki kadar salinitas yang cukup tinggi merupakan salah satu lahan marginal yang bisa menjadi pilihan dan dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya kedelai (Dianawati et al. , 2. Salinitas merupakan salah satu cekaman abiotik yang dapat memicu permasalahan lingkungan yang cukup Salinitas dapat menimbulkan gangguan terhadap pertumbuhan dan produktifitas tanaman (Mohsen et al. Oleh karena itu diperlukan upaya agar tanah yang salin dapat dimanfaatkan untuk budidaya kedelai. Salah satu upaya untuk mengatasi kondisi tanah salin yaitu dengan perakitan varietas kedelai yang memiliki sifat toleran salin atau mengadaptasi varietas-varietas unggul yang sudah ada pada tanah salin. Salah satu cara yang sangat efektif untuk perakitan varietas dan perbaikan genetik dapat dilakukan melalui induksi Teknik mutasi dalam pemuliaan tanaman dapat meningkatkan keragaman genetik tanaman sehingga dapat menghasilkan tanaman yang memiliki genetik yang toleran salin jika ditanam di lahan sub-optimum seperti tanah salin (Gurning et al. , 2. Tahapan pertama yang perlu dilakukan untuk mengetahui varietas atau galur yang memiliki sifat toleran salin yaitu pengujian berbagai macam galur dan varietas pada kondisi tanah salin. Tanaman kedelai termasuk tanaman yang sensitif terhadap salinitas. Hal ini disebabkan karena salinitas akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman mulai dari fase perkecambahan sampai ke fase generatif. Salinitas dapat mengakibatkan terhambat dan tertundanya waktu perkecambahan, benih gagal untuk berkecambah (Agarwal et al. dan penurunan indeks vigor kecambah (Cokkizgin, 2. Menurut Yadav et al. batas kritis kedelai berdasarkan penurunan hasil adalah 5 dS/m. Berdasarkan hasil penelitian Dianawati et al. , penurunan daya berkecambah benih kedelai varietas Burangrang dan Tanggamus nyata dengan nilai daya berkecambah lebih kecil dari 80% diperoleh pada konsentrasi NaCl 6 Hal ini mengindikasikan bahwa kedua varietas mulai terhambat hidupnya pada konsentrasi NaCl 6 gl-1. Purwaningrahayu . , menyatakan bahwa pada penelitian pot, varietas Wilis termasuk toleran cekaman salinitas paling rendah, yakni pada 0,5-5,8 dS/m. Berdasarkan hal tersebut, kedelai varietas Wilis digunakan sebagai pembanding dalam penelitian ini. Zuyasna et al. telah melakukan seleksi terhadap mutan CASSOWARY volume 3 . : 76 Ae 90 kedelai Kipas Putih generasi ke 5 (M. berdasarkan hasil dan kadar protein tinggi melalui program penelitian Insinas. Berdasarkan karakter agronomi dan produksi tinggi M5 diperoleh mutan B4. B7 dan B15 memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi varietas unggul, karena memiliki berat 100 biji > 14 g dengan kadar protein kasar > Agar dapat dilakukan pendaftaran varietas perlu dilakukan pengujian terhadap potensi lain yang dimiliki oleh mutan-mutan terpilih tersebut seperti ketahanan terhadap salinitas, serta ketahanan terhadap hama dan penyakit Oleh karena itu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon beberapa galur mutan kedelai generasi M5 pada berbagai tingkat cekaman salinitas terhadap viabilitas dan vigor benih kedelai serta pertumbuhan vegetatif tanaman kedelai. MATERI DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih dan Rumah Plastik Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri atas 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah genotipe kedelai yang terdiri dari 5 taraf yaitu Mutan Kipas Putih B4. B7 dan B15, dan sebagai pembanding digunakan varietas Kipas Putih . serta varietas Wilis yang toleran terhadap salin. Sebelum digunakan dalam penelitian, terlebih dahulu dilakukan sortasi atau pemilihan benih kedelai setiap galur yang telah disediakan dengan memilih benih yang seragam. Selanjutnya, benih direndam dalam air bersih selama 5 menit. Perendaman bertujuan untuk mengangkat kotoran dan benih yang hampa, benih yang tenggelam digunakan sebagai bahan penelitian. Faktor kedua adalah konsentrasi NaCl pada media tanam yang terdiri dari 4 taraf yaitu 0 gl-1 . dS/. , 4 gl-1 . dS/. , 6 gl-1 . dS/. , dan 8 gl-1 . ,5 dS/. sehingga terdapat 20 kombinasi perlakuan. Setiap perlakuan dibuat 3 ulangan sehingga terdapat 60 satuan percobaan. Pengujian Viabilitas dan Vigor Benih di Laboratorium Pengujian benih dilakukan dengan metode uji kertas digulung didirikan dalam (UKDd. menggunakan kertas merang yang berukuran folio yang dilembabkan dengan larutan NaCl dengan konsentrasi yang sesuai dengan perlakuan, yaitu 0 gl1 . , 4 gl-1, 6 gl-1 dan 8 gl-1. Empat lembar kertas merang yang telah dilembabkan dengan larutan NaCl sesuai konsentrasi perlakuan, dihamparkan diatas selembar plastik yang memiliki ukuran yang sama. Selanjutnya benih diatur dalam 2 baris diatas kertas, dimana baris pertama disusun 13 benih kedelai dan baris kedua disusun 12 benih kedelai. Untuk setiap UKDdp total berjumlah 25 benih, sedangkan 3 lembar sisanya ditutupkan diatasnya dan digulung bersama. Gulungan ini diletakkan secara tegak di dalam germinator selama 7 hari. Parameter yang diamati adalah parameter viabilitas benih kedelai yang terdiri dari potensi tumbuh, daya berkecambah, kecepatan tumbuh, keserempakan tumbuh, indeks vigor, kecepatan tumbuh relatif, dan panjang akar kecambah normal. Pengujian Pertumbuhan Vegetatif Media tanam yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari wadah dan media tanam rockwool. Ukuran setiap plug media tanam rockwool yaitu 36x36x40 Terdapat 600 plug media rockwool untuk semua perlakuan pada penelitian ini sehingga dibutuhkan 15 wadah perkecambahan dengan setiap wadah berisi 40 plug media rockwool. Persiapan larutan CASSOWARY volume 3 . : 76 Ae 90 untuk perlakuan konsentrasi NaCl adalah NaCl sebanyak 4, 6 dan 8 gram. Setelah itu. NaCl dimasukkan sesuai perlakuan yaitu 4 gl-1, 6 gl-1, dan 8 gl-1 kedalam beaker Selanjutnya ditambahkan aquadest sebanyak 500 ml dan 10 ml nutrisi A dan 10 ml nutrisi B, diaduk sampai homogen, kemudian ditambahkan aquadest sampai volume larutan mencapai 1000 ml. Pengujian pertumbuhan vegetatif dilakukan dengan menanam benih kedelai didalam media tanam rockwool yang dimasukkan ke dalam gelas plastik. Semua media dibasahi dengan larutan nutrisi tanaman dan NaCl sesuai dengan konsentrasi perlakuan. Pengujian pertumbuhan vegetatif dilakukan selama masa pertumbuhan vegetatif selama 28 Pemeliharaan kedelai dilakukan dengan melakukan penyiraman secara Selama masa pertumbuhan, kelembaban dipertahankan dengan menambahkan larutan NaCl sesuai perlakuan. Pengukuran tingkat salinitas pada media tanam dilakukan setiap hari menggunakan EC Meter untuk mempertahankan tingkat salinitas didalam media. Penambahan larutan NaCl dilakukan apabila air pada wadah sudah mulai berkurang atau tingkat salinitas dalam media menurun, media tanam rockwool tidak boleh sampai kering. Parameter pertumbuhan ve getatif kedelai terdiri dari tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, bobot berangkasan segar, bobot akar segar, bobot berangkasan kering dan bobot akar kering. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan ANOVA. Hasil uji F yang menunjukkan berpengaruh nyata (A= 5%), dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. Data dalam bentuk persen (%) ditransformasi Arcsin Oop, jika data yang tersebar diantara 030% dan 70-80%, sedangkan data 3070% tidak ditransformasi. Parameter yang menggunakan transformasi Arcsin Oop adalah potensi tumbuh, daya berkecambah, kecepatan tumbuh, keserempakan tumbuh, indeks vigor, kecepatan tumbuh relatif dan daya tumbuh sedangkan data jumlah daun pada 7 dan 28 HST diolah menggunakan transformasi Oox 0,5. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Genotipe Kedelai Terhadap Viabilitas Benih Hasil analisis ragam (Uji F) menunjukkan bahwa genotipe kedelai berpengaruh sangat nyata terhadap semua para meter seperti potensi tumbuh, daya berkecambah, kecepatan tumbuh, keserempakan tumbuh, indeks vigor, kecepatan tumbuh relatif, dan panjang akar kecambah normal. Berdasarkan hasil penelitian pada parameter potensi tumbuh, daya keserempakan tumbuh dan kecepatan tumbuh relatif dapat dilihat bahwa nilai viabilitas dan vigor tertinggi terdapat pada perlakuan varietas Wilis yang kemudian diikuti oleh mutan B4. Kipas Putih, mutan B7 dan terendah pada mutan B15. Hal ini mengindikasikan bahwa varietas Wilis memiliki sifat adaptasi yang lebih baik pada cekaman salinitas. Nilai indeks vigor benih yang ditanam pada berbagai tingkat konsentrasi NaCl tertinggi terdapat pada perlakuan mutan B4 yang diikuti oleh Kipas Putih. Wilis, mutan B7 dan terendah mutan B15. Hal ini mengindikasikan bahwa mutan B4 memiliki vigor kecepatan tumbuh yang lebih baik dibandingkan dengan genotipe kedelai lainnya yang digunakan dalam penelitian ini. Vigor benih yang tinggi menghasilkan benih yang toleran, benih dapat tumbuh dan berkembang pada kondisi lahan yang sub-optimum. Benih yang memiliki CASSOWARY volume 3 . : 76 Ae 90 vigor yang tinggi akan memiliki nilai kecepatan tumbuh yang tinggi, sehingga benih akan cepat berkecambah dalam waktu singkat. Nilai panjang akar kecambah normal yang ditanam pada berbagai konsentrasi NaCl tertinggi terdapat pada perlakuan varietas Kipas Putih yaitu 15,95 cm yang diikuti dengan mutan B7. Wilis, mutan B4 dan mutan B15. Hal ini menunjukkan bahwa Kipas putih dan Wilis memiliki kemampuan pertumbuhan akar yang lebih baik pada kondisi salin dan mutan B4 dan B15 memiliki kemampuan pertumbuhan akar yang rendah. Panjang akar memiliki korelasi positif dengan panjang hipokotil, sehingga Kipas Putih yang mempunyai akar lebih panjang memiliki peluang untuk mempunyai hipokotil yang lebih panjang pula (Taufiq dan Purwaningrahayu. Munculnya keragaman sifat pada mutan kedelai disebabkan radiasi sinar gamma yang memiliki daya tembus yang sangat besar yang dapat menimbulkan terjadinya perubahan DNA pada tanaman induk sehingga terjadi mutasi (Arwin dan Yuliasti, 2. Mutasi yang terjadi pada benih bersifat acak, sehingga mampu menyebabkan perubahan sifatsifat genetik kearah positif maupun Teknik mutasi dalam pemuliaan tanaman mampu meningkatkan keragaman genetik tanaman, sehingga mampu menghasilkan tanaman yang toleran terhadap NaCl (Gurning et al. , 2. Pengaruh Konsentrasi NaCl terhadap Viabilitas Benih kedelai Nilai viabilitas dan vigor benih semakin menurun dengan semakin meningkatnya konsentrasi NaCl yang Penurunan terhadap nilai viabilitas dan vigor benih tampak jelas pada konsentrasi NaCl 8 gl-1. ,5 dS/. Semakin meningkat konsentrasi NaCl, maka daya berkecambah benih kedelai yang diuji makin menurun. Tabel 1. Rata-rata nilai viabilitas dan vigor benih kedelai (Glycine max (L. ) Merri. beberapa genotipe kedelai Parameter Wilis Potensi Tumbuh Maksimum (PTM) Daya Berkecambah (DB) 81,08 . c 63,07 . c 10,50 . c 54,70 . d 21,00 . b 52,60 . c 15,57 b Kecepatan Tumbuh (%/etma. Keserempakan Tumbuh (%) Indeks Vigor Kecepatan Tumbuh Relatif (%) Panjang Akar Kecambah Normal . Kipas Putih Genotipe Kedelai Mutan Mutan Mutan B15 BNJ0,05 abc 50,03 . bc 40,00 . bc 23,30 . b 43,30 . bc 15,95 a 76,00 65,00 . ab 57,30 42,00 . b 9,80 7,00 . 48,00 33,00 ab 26,00 15,30 . a 49,10 35,00 . b 15,37b 15,93b 56,07 . a 24,00 . a 4,10 . a 20,00 . a 11,00 . a 20,60 . a 12,26 a 9,14 10,08 3,30 9,15 6,91 8,74 0,75 Keterangan : - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 0,05 (Uji BNJ) - ( ) Angka Transformasi ArcSinOop CASSOWARY volume 3 . : 76 Ae 90 Tabel 2. Rata-rata nilai viabilitas dan vigor benih kedelai (Glycine max (L. ) Meril. pada berbagai konsentrasi NaCl 0 gL Konsentrasi NaCl 4 gL 6 gL-1 8 gL-1 dS/. dS/. dS/. ,5 dS/. 81,70 . c 72,30 . d 13,10 . c 65,10 . d 46,10 . c 65,50 . c 17,38c 74,70 . bc 54,90 . b 45,60 . c 13,90 . b 44,50 . b 15,60bc 64,80 . ab 40,50 . b 6,60 . b 31,50 . d 11,50 . b 32,90 . c 14,81b 58,40 . a 22,10 . a 3,50 . a 14,40 . a 5,90 . a 17,70 . a 12,28a Parameter Potensi Tumbuh Maksimum (PTM) Daya Berkecambah (DB) Kecepatan Tumbuh (%/etma. Keserempakan Tumbuh (%) Indeks Vigor Kecepatan Tumbuh Relatif (%) Panjang Akar Kecambah Normal . BNJ0,05 7,67 8,46 2,27 7,68 5,80 7,34 2,29 Keterangan : - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 0,05 (Uji BNJ) - ( ) Angka Transformasi ArcSinOop Rendahnya nilai viabilitas dan vigor benih pada perlakuan konsentrasi NaCl 8 gL-1 . ,5 dS/. disebabkan oleh tingginya kandungan NaCl yang terdapat pada media tanam. Rini et al. menyatakan bahwa salinitas pada media tanam benih dapat mempengaruhi proses perkecambahan benih karena dapat menurunkan potensial air pada media tanam sehingga menghambat penyerapan air oleh benih yang berkecambah. Menurut Dianawati et al. , . peningkatan konsentrasi NaCl dapat menghambat proses imbibisi benih karena kelarutan garam dapat menurunkan tekanan osmotik sehingga benih tidak dapat menyerap air dari lingkungan tumbuhnya yang diperlukan untuk pengaktifan enzim guna proses perkecambahan. Interaksi antara Genotipe dan Berbagai Konsentrasi NaCl terhadap Indeks Vigor Pada Gambar 1, indeks vigor varietas Wilis dan mutan B15 mengalami penurunan yang signifikan pada konsentrasi NaCl 4 gl-1 . dS/. dan semakin menurun dengan meningkatnya konsentrasi NaCl. Indeks vigor varietas Kipas Putih, mutan B4 dan B7 mengalami penurunan pada konsentrasi NaCl 4 gl-1 . dS/. , dan mengalami peningkatan pada konsentrasi NaCl 6 gl-1 . dS/. , namun namun kembali menurun pada konsentrasi 8 gl-1 . ,5 dS/. Gambar 2 menunjukkan bahwa, panjang akar kecambah normal varietas Wilis. Kipas Putih, mutan B4 dan B7 mengalami penurunan yang tidak signifikan dengan meningkatnya konsentrasi NaCl, akan tetapi pada mutan B15 mengalami penurunan panjang akar kecambah normal yang nyata. CASSOWARY volume 3 . : 76 Ae 90 Indeks Vigor Wilis Kipas Putih Mutan B4 Mutan B7 Mutan B15 0 dS/m 4 dS/m 5 dS/m 5,5 dS/m Panjang Akar Kecambah Normal . Gambar 1. Pengaruh Kombinasi Perlakuan Genotipe Kedelai dan Berbagai Konsentrasi NaCl terhadap Tolok Ukur Indeks Vigor Wilis Kipas Putih Mutan B4 Mutan B7 Mutan B15 0 dS/m 4 dS/m 5 dS/m 5,5 dS/m Gambar 2. Pengaruh Kombinasi Perlakuan Genotipe Kedelai dan Berbagai Konsentrasi NaCl terhadap Tolok Ukur Panjang Akar Kecambah Normal Nilai panjang akar kecambah normal tertinggi pada konsentrasi NaCl 8 gl1 . ,5 dS/. terdapat pada perlakuan Wilis yaitu 14,77 cm yang tidak berbeda nyata dengan Kipas Putih, mutan B4 dan mutan B7 namun berbeda nyata dengan mutan B15. kedelai memiliki tingkat ketahanan terhadap salinitas yang berbeda-beda, yang disebabkan oleh kemampuan setiap genotipe kedelai itu sendiri untuk menanggapi faktor lingkungan yang tidak Setiap mempunyai kemampuan untuk menanggapi faktor lingkungan. Tanaman memiliki kemampuan untuk merespon faktor lingkungan sama seperti makhluk hidup lainnya, dimana tanaman akan mengembangkan strategi tertentu untuk beradaptasi terhadap lingkungannya. Pengaruh Genotipe Kedelai terhadap Pertumbuhan Vegetatif Kedelai Nilai tinggi tanaman 7 HST terbaik terdapat pada varietas Kipas Putih yaitu 11,09 cm yang tidak berbeda nyata dengan Wilis dan mutan B15, namun berbeda nyata pada perlakuan mutam B4 dan B7. Pengaruh genotipe kedelai tidak berpengaruh nyata pada parameter pertumbuhan vegetatif lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa setiap genotipe Tabel 3. Rata-rata nilai pertumbuhan vegetatif tanaman kedelai (Glycine max (L. ) Merri. pada beberapa genotipe kedelai CASSOWARY volume 3 . : 76 Ae 90 Parameter Daya Tumbuh (%) Wilis 53,00 . c Tinggi Tanaman 7 HST . 9,41ab Tinggi Tanaman 28 HST . 35,07 Jumlah Daun 7 HST (Hela. 1,02 . Jumlah Daun 28 HST (Hela. 10,77 . Panjang Akar Tanaman . 4,97 Berat Berangkasan Segar . 1,58 Berat Berangkasan Kering . 0,40 Berat Akar Segar . 0,28 Berat Akar Kering . 0,13 Kipas Putih 47,00 bc 11,09b 38,01 0,71 . 10,79 . 4,07 1,54 0,39 0,26 0,12 Genotipe Kedelai Mutan B4 Mutan B7 Mutan B15 BNJ 0,05 33,00 ab 7,04a 31,63 0,58 . 10,30 . 4,20 1,37 0,34 0,24 0,10 28,00 a 6,45a 29,89 0,72 . 9,16 . 3,73 1,17 0,29 0,23 0,10 35,00 ab 8,65ab 29,13 0,68 . 9,84 . 4,79 1,35 0,33 0,26 0,11 Keterangan : - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 0,05 (Uji BNJ) - ( ) Angka Transformasi ArcSin Oop untuk daya tumbuh - ( ) Angka Transformasi Oox 0,5 untuk jumlah pada 7,14,21 dan 28 HST Pengaruh Konsentrasi NaCl terhadap berbeda dengan perlakuan tanpa NaCl. Pertumbuhan Vegetatif Kedelai Hal ini diduga karena pada konsentrasi Tabel 4 menunjukkan bahwa nilai NaCl 4 gl-1 . dS/. , tanaman masih daya tumbuh tertinggi didapat pada permampu beradaptasi dengan baik. lakuan 0 gl . dS/. dan pada konsenMenurut penelitian Yunita et al. trasi 4 gl-1. dS/. daya tumbuh tanapada tingkat salinitas air penyiraman 3 man sudah mulai nyata menurun. Hal ini dS/m tanaman belum mengakumulasi diduga karena NaCl dapat menghambat garam Na yang terlalu tinggi, sehingga pertumbuhan tanaman sejak masa perkedaun masih mampu tumbuh dengan norcambahan dimulai. Sesuai dengan pernmal dan daun belum gugur akibat nekroyataan Asharf dan Foolad . , salinisis. tas menunda pertumbuhan awal. Pada konsentrasi NaCl 4 gl-1 . menurunkan rata-rata dan meningkatkan dS/. , jumlah daun yang tumbuh tidak ketidak seraga-man perkecambahan dan berbeda dengan perlakuan tanpa NaCl. mengurangi tanaman yang tumbuh. Hal ini diduga karena pada konsentrasi Penurunan tinggi tanaman pada NaCl 4 gl-1 . dS/. , tanaman masih umut 7 HST sangat nyata pada perlakuan mampu beradaptasi dengan baik. konsentrasi NaCl 6 gl . dS/. Hal ini Menurut penelitian Yunita et al. sesuai dengan penelitian Yunita et al. pada tingkat salinitas air penyiraman 3 . , tingkat salinitas air penyiraman 6 dS/m tanaman belum mengakumulasi dS/m tanaman mulai mengalami garam Na yang terlalu tinggi, sehingga cekaman osmotik akibat penyerapan Na daun masih mampu tumbuh dengan nordan Cl yang terlalu berlebihan, sehingga mal dan daun belum gugur akibat nekromenghambat penyerapan ion K . Pada konsentrasi NaCl 4 gl . dS/. , jumlah daun yang tumbuh tidak Tabel 4. Rata-rata nilai pertumbuhan vegetatif tanaman kedelai (Glycine max (L. Meril. pada berbagai konsentrasi NaCl 3,17 CASSOWARY volume 3 . : 76 Ae 90 Parameter Daya Tumbuh (%) Tinggi Tanaman 7 HST . Tinggi Tanaman 28 HST . Jumlah Daun 7 HST (Hela. Jumlah Daun 28 HST (Hela. Panjang Akar Tanaman . Berat Berangkasan Segar . Berat Berangkasan Kering . Berat Akar Segar . Berat Akar Kering . 0 gL-1 . dS/. Genotipe Kedelai 4 gL-1 6 gL-1 8 gL-1 . dS/. dS/. ,5 dS/. BNJ0,05 77,00 . c 15,99c 43,95c 1,62 . c 11,95 . b 7,01d 2,09c 0,47c 0,40d 0,14b 44,00 . b 10,12b 43,45c 1,00 . b 12,98 . b 5,03c 1,69bc 0,44bc 0,31c 0,14b 23,00 . a 4,96a 31,87b 0,17 . a 10,04 . b 3,92b 1,32b 0,34b 0,22b 0,12b 13,00 . a 3,37a 13,79a 0,19 . a 5,72 . a 1,76a 0,60a 0,16a 0,11a 0,06a 11,12 2,62 10,33 0,19 0,72 0,99 0,42 0,07 0,04 Keterangan : - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 0,05 (Uji BNJ) - ( ) Angka Transformasi ArcSin Oop untuk daya tumbuh - ( ) Angka Transformasi Oox 0,5 untuk jumlah pada 7,14,21 dan 28 HST Konsentrasi NaCl yang sangat tinggi akan mengurangi pertumbuhan tanaman, baik pada bagian tunas maupun bagian akar. Meskipun keracunan NaCl lebih terlihat pada pucuk, penurunan panjang akar akibat NaCl tetap terjadi. Penurunan panjang akar diduga disebabkan hilangnya tekanan turgor sel akibat penambahan konsentrasi NaCl sehingga terjadi perubahan tekanan osmotik eksternal. Penurunan pada parameter berat berangkasan segar dan berat akar segar terjadi pada pelakuan konsentrasi NaCl 6 gl-1. dS/. dan NaCl 8 gl-1. ,5 dS/. Penurunan berat berangkasan segar dan akar diduga disebabkan karena pada tanaman yang ditanam pada keadaan salinitas yang tinggi, tanaman tersebut akan mengalami penurunan penyerapan Hal ini sesuai dengan pernyataan Ramayani et al. , penurunan berat basah disebabkan jumlah air yang masuk ke akar tanaman akan berkurang karena makin tingginya konsentrasi garam. Penurunan berat berangkasan kering mulai terjadi pada perlakuan konsentrasi NaCl 4 gl-1. dS/. dan terus mengalami penurunan yang nyata sampai konsentrasi NaCl 8 gl-1 . ,5 dS/. Penurunan yang terjadi pada berat berangkasan kering dan akar diduga terjadi karena rendahnya akumulasi hasil asimilat pada tanaman yang ditanam pada kondisi salinitas yang tinggi. Hal ini didukung oleh pernyataan Ramayani et al. , penambahan konsentrasi garam menyebabkan jumlah air dalam tanaman berkurang sehingga turgor selsel penutup stomata turun. Penurunan turgor stomata menyebabkan terhambatnya proses fotosintesis yang berujung pada rendahnya jumlah asimilat yang dihasilkan oleh tanaman dan proses respirasi meningkat sehingga berat kering tanaman menurun. Interaksi antara Genotipe Kedelai dan Konsentrasi NaCl terhadap CASSOWARY volume 3 . : 76 Ae 90 Jumlah Daun 28 HST Jumlah Daun Tanaman 14 HST dan 28 hari Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai jumlah daun 14 HST tertinggi pada konsentrasi NaCl 8 gl-1 . ,5 dS/. terdapat pada perlakuan Wilis yaitu 4,57 helai yang tidak berbeda nyata dengan mutan B4 dan Kipas Putih, namun berbeda nyata dengan mutan B7 dan B15. Jumlah daun 28 HST tertinggi pada konsentrasi NaCl 8 gl-1. ,5 dS/. terdapat pada varietas Wilis yang tidak berbeda nyata dengan mutan B4 dan Kipas Putih, namun berbeda nyata dengan mutan B7 dan B15. Wilis Kipas Putih Mutan B4 Mutan B7 Mutan B15 0 dS/m 4 dS/m 5 dS/m Konsentrasi NaCl 5,5 dS/m Gambar 3. Pengaruh Kombinasi Perlakuan Genotipe Kedelai dan Berbagai Konsentrasi NaCl terhadap Tolok Ukur Jumlah Daun pada 28 HST Tabel 5. Rata-rata jumlah daun pada 14 HST akibat perlakuan genotipe kedelai dan berbagai konsentrasi NaCl Konsentrasi NaCl Genotipe Kedelai 0 gL . dS/. (K. 4 gL . dS/. 6 gL-1. dS/. 8 gL . ,5 dS/. Wilis (G. Kipas Putih (G. Mutan B4 (G. Mutan B7 (G. Mutan B15 (G. BNJ 5,25 6,69 d 5,66 . 5,61 4,93 5,27 5,54 5,00 5,58 5,49 3,76 5,08 3,00 4,33 4,33 4,57 1,67 3,08 a 1,20 . 1,27 Keterangan : - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama berbeda tidak nyata berdasarkan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 0. - ( ) Angka Transformasi Oox 0. CASSOWARY volume 3 . : 76 Ae 90 Interaksi antara Genotipe Kedelai dan Konsentrasi NaCl terhadap Panjang Akar Tanaman Kedelai Hasil analisis ragam (Uji F) menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang nyata antara perlakuan genotipe kedelai dan konsentrasi NaCl terhadap panjang akar tanaman. Nilai panjang akar tanaman tertinggi pada konsentrasi NaCl 8 gl-1. ,5 dS/. terdapat pada perlakuan Wilis yang tidak berbeda nyata dengan mutan B4 dan Kipas Putih, namun berbeda nyata dengan mutan B7 dan B15. Perbedaan penampilan yang tampak pada tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Setiap tanaman menunjukkan pertumbuhan dan hasil yang beragam sebagai akibat dari pengaruh genetik dan lingkungan, dimana pengaruh genetik merupakan pengaruh keturunan yang dimiliki oleh setiap galur atau varietas sedangkan pengaruh lingkungan adalah pengaruh yang ditimbulkan oleh habitat dan kondisi lingkungan. Menurut Dachlan . , gen-gen beragam dari setiap galur tervisualisasikan dalam karakterkarakter yang berbeda pula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe kedelai menunjukkan respon yang berbeda pada berbagai tingkat cekaman salinitas. Perbedaan tingkat ketahanan genotipe kedelai pada cekaman salinitas diduga dipengaruhi oleh adanya keragaman genetik pada setiap genotipe kedelai yang digunakan. Hal ini berarti gen yang mengatur karakter ketahanan terhadap salinitas telah menghasilkan keragaman fenotipe yang berbeda-beda (Welsh, 1. Respon tanaman terhadap cekaman lingkungan berbedabeda tergantung genotipe tanamannya. Perbedaan tersebut berkaitan dengan perbedaan toleransi dari setiap genotipe tanaman terhadap cekaman. Interaksi antara Genotipe Kedelai dan Konsentrasi NaCl terhadap Panjang Akar Tanaman Kedelai Hasil analisis ragam (Uji F) menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang nyata antara perlakuan genotipe kedelai dan konsentrasi NaCl terhadap panjang akar tanaman. Nilai panjang akar tanaman tertinggi pada konsentrasi NaCl 8 gl-1. ,5 dS/. terdapat pada perlakuan Wilis yang tidak berbeda nyata dengan mutan B4 dan Kipas Putih, namun berbeda nyata dengan mutan B7 dan B15. Panjang Akar . Wilis Kipas Putih Mutan B4 Mutan B7 Mutan B15 0 dS/m 4 dS/m 5 dS/m 5,5 dS/m Gambar 4. Pengaruh Interaksi antara Perlakuan Genotipe Kedelai dan Berbagai Konsentrasi NaCl terhadap Tolok Ukur Panjang Akar Tanaman CASSOWARY volume 3 . : 76 Ae 90 Perbedaan penampilan yang tampak pada tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Setiap tanaman menunjukkan pertumbuhan dan hasil yang beragam sebagai akibat dari pengaruh genetik dan lingkungan, dimana pengaruh genetik merupakan pengaruh keturunan yang dimiliki oleh setiap galur atau varietas sedangkan pengaruh lingkungan adalah pengaruh yang ditimbulkan oleh habitat dan kondisi lingkungan. Menurut Dachlan . , gen-gen beragam dari setiap galur tervisualisasikan dalam karakterkarakter yang berbeda pula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe kedelai menunjukkan respon yang berbeda pada berbagai tingkat cekaman salinitas. Perbedaan tingkat ketahanan genotipe kedelai pada cekaman salinitas diduga dipengaruhi oleh adanya keragaman genetik pada setiap genotipe kedelai yang digunakan. Hal ini berarti gen yang mengatur karakter ketahanan terhadap salinitas telah menghasilkan keragaman fenotipe yang berbeda-beda (Welsh, 1. Respon tanaman terhadap cekaman lingkungan berbedabeda tergantung genotipe tanamannya. Perbedaan tersebut berkaitan dengan perbedaan toleransi dari setiap genotipe tanaman terhadap cekaman. KESIMPULAN Pada penelitian ini belum ditemukan genotipe kedelai yang toleran terhadap salinitas dengan kemampuan daya berkecambah dan daya tumbuh diatas 80% atau lebih. Konsentrasi NaCl 4 gl-1 . dS/. merupakan titik kritikal cekaman salinitas bagi galur mutan B4. B7 dan B15. Galur mutan kedelai B4 menunjukkan tingkat ketahanan yang lebih baik terhadap cekaman salinitas dibandingkan galur B7 dan B15. DAFTAR PUSTAKA