Febrianti, A. Lukman. Ikbal, M. / JDG Vol. 15 No. 02 (2025) 216-225 ISSN 2303- 0089 e-ISSN 2656-9949 DINAMIKA GOVERNANCE JURNAL ILMU ADMINISTRASI NEGARA http://ejournal.upnjatim.ac.id/index.php/jdg PENGARUH PERILAKU BIROKRASI TERHADAP KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DI KANTOR DISDUKCAPIL KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG Astrina Febrianti1, Lukman2, Muhammad Ikbal3 Program Studi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang1,2,3 * Email Corresponding : 21053b.astrinafebrianti@gmail.com , lukmansirap75@gmail.com , iqbal.sidrap@gmail.com ARTICLE INFORMATION Article history: Received date: 15 Juni 2025 Revised date: 21 Juni 2025 Accepted date: 6 Juli 2025 ABSTRACT This study aims to determine the effect of bureaucratic behavior on the quality of public services at the Population and Civil Registry Office of Sidenreng Rappang Regency. This research uses a quantitative approach with associative research type. Data collection techniques were carried out through observation, questionnaires, and literature studies. Data analysis was carried out using validity, reliability, and simple linear regression tests through the IBM SPSS Statistics 21.0 program. The results showed that bureaucratic behavior was in the “Good” category with an average score of 79.6%, and the quality of public services was also in the “Good” category with an average score of 78.4%. The results of regression analysis show that there is a significant effect of bureaucratic behavior on the quality of public services, indicated by a significance value of 0.001 <0.05 and a tcount value (12.869) > ttable (1.661). The coefficient of determination (R²) test result is 63.5%, which means that bureaucratic behavior affects the quality of public services by 63.5%, while the remaining 36.5% is influenced by other factors outside this study. Thus, the better the bureaucratic behavior shown, the more the quality of public services perceived by the community will increase. Keyword: Behavior, Bureaucracy, and Public Services ABSTRAKSI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perilaku birokrasi terhadap kualitas pelayanan publik di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sidenreng Rappang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, kuesioner, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan menggunakan uji validitas, reliabilitas, dan regresi linear sederhana melalui program IBM SPSS Statistik 21.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku birokrasi berada pada kategori “Baik” dengan skor ratarata 79,6%, dan kualitas pelayanan publik juga dalam kategori “Baik” dengan skor rata-rata 78,4%. Hasil analisis regresi menunjukkan adanya pengaruh signifikan perilaku birokrasi terhadap kualitas pelayanan publik, ditunjukkan oleh nilai signifikansi 0,001 < 0,05 dan nilai thitung (12,869) > ttabel (1,661). Hasil uji koefisien determinasi (R²) sebesar 63,5%, yang berarti perilaku birokrasi memengaruhi kualitas pelayanan publik sebesar 63,5%, sedangkan sisanya 36,5% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Dengan demikian, semakin baik perilaku birokrasi yang ditunjukkan, maka semakin meningkat pula kualitas pelayanan publik yang dirasakan oleh masyarakat .Kata Kunci: Perilaku, Birokrasi, dan Pelayanan Publik 216 Febrianti, A. Lukman. Ikbal, M. / JDG Vol. 15 No. 02 (2025) 216-225 PENDAHULUAN Birokrasi pemerintahan merupakan sebuah struktur organisasi resmi yang bertugas menjalankan berbagai aktivitas pemerintahan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Para birokrat menjalankan tugas mereka dengan penuh tanggung jawab guna memastikan pelayanan publik terlaksana dengan baik. (Punya et al., 2019) Untuk memperkuat kedudukannya sebagai "pelayanan publik", birokrasi pemerintah harus mampu menyeimbangkan antara kekuasaan dan tanggung jawab, Sebagai institusi yang berperan dalam pelayanan masyarakat, birokrasi pemerintahan harus memiliki keahlian profesional serta sistem manajemen dan organisasi yang efektif. Orientasinya adalah memastikan pembangunan berlangsung secara menyeluruh, harmonis, dan terintegrasi, dengan pendekatan berbasis administrasi dan pendidikan. (Novitasari et al., 2022) Menurut Pasal 1 Ayat (1) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundangundangan bagi setiap warga Negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. (Sadi, 2017) Kemudian Pasal 1 Ayat (7) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 tentang Standar Pelayanan. Standar Pelayanan adalah tolok ukur yang di pergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai kewajiban dan janji penyelenggara kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan terukur.(Rianto, 2018) Istilah birokrasi berasal dari bahasa Yunani “certain”, yang berarti mengatur, dan bahasa Prancis “bureau”, yang berarti kantor atau meja tulis. Dalam bahasa Inggris, birokrasi dapat diartikan sebagai “civil service’’ dan kemudian disebut juga “public administration’’, atau “public sector’’. Karena pekerjaan birokrasi terjadi di kantor organisasi formal, birokrasi dapat diartikan sebagai jenis organisasi yang melakukan kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang dan saling berkoordinasi. (Endah et al., 2021) Menurut Bintoro Tjakroamidjojo (1984), birokrasi bertujuan untuk mengatur secara sistematis pekerjaan yang melibatkan banyak individu. Dengan adanya birokrasi, tugas dapat dikelola dengan baik sehingga proses penyelesaian pekerjaan menjadi lebih cepat dan terorganisir.(Suhardiman et al., 2023) Tetapi pada kenyataannya berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada bulan Desember, peneliti menemukan fenomena yang terjadi yakni informasi yang diperoleh melalui wawancara kepada salah satu masyarakat setempat atas nama Putri Andini yang hendak melakukan pelayanan administrasi, beliau mengatakan “pegawai kurang responsif, pegawai di sana itu seperti kadang mau kadang juga seperti tidak mau melayani dan juga kurangnya informasi tentang petunjuk yang memadai tentang proses atau persyaratan yang harus dibawa, seperti kelengkapan berkas. Banyak warga, termasuk saya, yang merasa bingung harus ke bagian mana atau harus menunggu berapa lama. Petugas hanya sesekali memberi informasi, itu pun jika kita bertanya”. (2/12/2024) Berdasarkan observasi awal di lapangan, ditemukan bahwa pelayanan publik di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sidenreng Rappang masih menghadapi beberapa kendala, seperti kurangnya responsivitas pegawai, informasi yang tidak jelas, serta ketidakkonsistenan dalam sikap melayani masyarakat. Warga merasa kebingungan karena minimnya petunjuk prosedur dan ketidaksiapan pegawai dalam memberikan pelayanan secara cepat dan ramah. Fenomena ini mencerminkan adanya kesenjangan antara harapan masyarakat dan perilaku birokrasi yang ditampilkan di lapangan. Kondisi ini sejalan dengan hasil penelitian terdahulu oleh (Mayasari et al., 2022) dan (Usnaidi & Purnama, 2022) yang menemukan bahwa perilaku birokrasi, 217 Febrianti, A. Lukman. Ikbal, M. / JDG Vol. 15 No. 02 (2025) 216-225 termasuk profesionalisme dan keterampilan Anggraini, 2019) pegawai, berpengaruh signifikan terhadap kualitas Kualitas pelayanan publik dapat diartikan pelayanan publik. Sementara itu, (Dali et al., 2024) sebagai indikator yang mencerminkan kapasitas suatu menekankan bahwa perilaku birokrasi yang tidak organisasi dalam memenuhi berbagai kebutuhan dan profesional dapat menurunkan kualitas pelayanan, tujuan yang telah ditetapkan.(Lauma et al., 2019) sebagaimana juga terlihat dalam fenomena di Menurut Sinambela (2007), pelayanan publik lapangan ini. Temuan lapangan ini juga relevan dengan teori (Thoha, 2005) dalam (Gusmita, 2022) merupakan upaya penyelenggara negara dalam yang menekankan bahwa kepedulian, kedisiplinan, memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat. dan tanggung jawab adalah dimensi utama dalam Pelayanan publik dapat didefinisikan sebagai proses perilaku birokrasi yang memengaruhi efektivitas pemberian layanan kepada individu atau kelompok pelayanan publik. Oleh karena itu, peningkatan yang memiliki kepentingan terhadap suatu organisasi, perilaku birokrasi menjadi kunci untuk menjawab yang dilakukan sesuai dengan aturan dan prosedur ekspektasi masyarakat terhadap pelayanan yang yang telah ditetapkan. (Erlianti, 2019) berkualitas. METODE PENELITIAN Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, maka calon peneliti menemukan fenomena yang terjadi di lapangan itu tidak sesuai atau sejalan dengan teori Thoha (2005) dalam (Gusmita, 2022) yang mengemukakan bahwa wujud dimensi perilaku birokrasi sebagai sikap dan tindakan dalam memberikan pelayanan administrasi, meliputi tiga dimensi yaitu kepedulian, kedisiplinan dan tanggungjawab. Jika merujuk pada inti dari pendapat tersebut, maka hal ini mengarah pada peningkatan kualitas pelayanan. Maksudnya adalah upaya yang dilakukan untuk memberikan layanan terbaik kepada masyarakat, sesuai dengan harapan mereka yakni pelayanan yang cepat, ramah, adil, serta komunikatif. (Sabali et al., 2025) Kualitas pelayanan dapat diukur berdasarkan sejauh mana layanan yang diberikan sesuai dengan harapan penerima. Sebagai penyelenggara layanan, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menyediakan pelayanan terbaik bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa pengecualian. Oleh karena itu, layanan yang diberikan harus mampu memenuhi ekspektasi masyarakat sebagai penerima layanan. (Fitria et al., 2020) Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh perilaku birokrasi terhadap kualitas pelayanan publik. Penelitian dilaksanakan di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sidenreng Rappang, dengan populasi sebanyak 3.600 orang yang mengurus KTP selama dua bulan terakhir. Sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan margin of error 10%, sehingga diperoleh sebanyak 97 responden melalui teknik random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga metode, yaitu observasi langsung di lokasi, penyebaran kuesioner tertutup berbasis skala Likert, dan studi pustaka terhadap sumber-sumber relevan. Instrumen penelitian berupa angket yang disusun berdasarkan indikator perilaku birokrasi (kepedulian, kedisiplinan, tanggung jawab) dan kualitas pelayanan publik (tangible, reliability, responsiveness, assurance, empathy). Data dianalisis menggunakan program IBM SPSS Statistics 21.0. Sebelum analisis utama dilakukan, data diuji validitas dan reliabilitasnya. Selanjutnya, analisis regresi linear sederhana digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil dari analisis ini memberikan gambaran sejauh mana perilaku birokrasi memengaruhi kualitas pelayanan publik di instansi yang diteliti. Kualitas pelayanan publik adalah aspek yang bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti produk, layanan, manusia, proses, HASIL DAN PEMBAHASAN dan lingkungan. Penilaian terhadap kualitas layanan Instrumen Skala Pengukuran ini dilakukan secara langsung saat pelayanan Penelitian menunjukkan bahwa perilaku diberikan kepada masyarakat. (Susanto & birokrasi diukur melalui tiga indikator, yaitu 218 Febrianti, A. Lukman. Ikbal, M. / JDG Vol. 15 No. 02 (2025) 216-225 kepedulian, kedisiplinan, dan tanggung jawab, dengan hasil rata-rata 79,6% yang termasuk kategori baik. Indikator kepedulian memperoleh skor tertinggi sebesar 81% (sangat baik), menunjukkan pegawai cukup responsif dan ramah. . hal ini mengindikasikan bahwa pegawai sudah menunjukkan kepedulian yang baik dalam memberikan pelayanan. Hal ini mengindikasikan bahwa kepedulian bukan hanya tentang memberikan layanan tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan masyarakat.(Wahono, 2022). Kedisiplinan memperoleh skor 78%, Indikator yang digunakan dalam mengukur tingkat kedisiplinan mencakup aspek kehadiran, kepatuhan terhadap peraturan kerja, penerapan standar kerja, serta perilaku kerja yang etis.(Sudiartha Athar, 2020) Ini berarti bahwa meskipun pegawai hadir tepat waktu dan mengikuti prosedur, tetapi masih terdapat beberapa keluhan terkait keterlambatan dalam pelayanan. Tanggung jawab memperoleh skor 80%, keduanya dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas pegawai telah berkomitmen dalam menyelesaikan pekerjaannya, meski masih ada sebagian kecil masyarakat yang menganggap pegawai masih kurang bertanggung jawab dalam menjalannya tugasnya. Secara keseluruhan, indikator perilaku birokrasi menunjukkan bahwa pelaksanaan tugas oleh pegawai berada pada kategori baik hingga sangat baik, dengan nilai rata-rata keseluruhan sebesar 79,6%. Ini mengindikasikan bahwa perilaku birokrasi di kantor tersebut telah berjalan cukup efektif namun tetap memerlukan penyempurnaan, terutama pada aspek konsistensi dan tanggung jawab pelayanan. Sementara itu, kualitas pelayanan publik yang diukur melalui lima indikator SERVQUAL (tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy). tangible mengacu pada indikator teori yang dijadikan acuan dalam penelitian ini, bukti fisik adalah segala hal yang bisa dilihat langsung oleh masyarakat, mencakup fasilitas (ruang tunggu), tampilan fisik kantor di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sidenreng Rappang. Hasil olahan data menunjukkan bahwa indikator ini memperoleh nilai sebesar 78% yang menunjukkan kategoroi “baik”.Meskipun masih ditemukan keluhan mengenai kurangnya petunjuk layanan yang jelas dan kenyamanan ruang tunggu. indikator ini menunjukkan bahwa fasilitas pelayanan sudah cukup baik, namun tetap perlu perbaikan agar dapat memberikan kenyamanan maksimal bagi semua pengunjung. Tangible dapat diartikan sebagai kesan yang diberikan oleh fasilitas fisik, perlengkapan, dan personil dalam suatu layanan.(Suryantoro & Kusdyana, 2020) reliability mengacu pada indikator teori yang dijadikan acuan dalam penelitian ini, keandalan adalah kemampuan pegawai dalam memberikan pelayanan yang sesuai dengan janji, tepat waktu dan tanpa ada kesalahan di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sidenreng Rappang. Hasil olahan data menunjukkan bahwa indikator ini memperoleh nilai sebesar 80% yang menunjukkan kategoroi “baik”. Indikator keandalan merupakan yang tertinggi di antara seluruh aspek kualitas di antara seluruh aspek kualitas pelayanan publik. Hal ini menunjukkan bahwa pegawai dinilai mampu bekerja dengan profesional, cermat, dan dapat diandalkan oleh masyarakat. responsiveness mengacu pada indikator teori yang dijadikan acuan dalam penelitian ini, daya tanggap adalah kesediaan pegawai untuk membantu masyarakat dan memberikan pelayanan dengan cepat saat dibutuhkan di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sidenreng Rappang. Hasil olahan data menunjukkan bahwa indikator ini memperoleh nilai sebesar 78% yang menunjukkan kategoroi “baik”. meskipun kecepatan layanan sudah cukup memuaskan, masih ada sebagian masyarakat yang merasa pegawai belum cukup sigap dalam melayani kebutuhan mereka. Jadi masih perlu ditingkatkan dari segi kecepatan pelayanan. Assurance mengacu pada indikator teori yang dijadikan acuan dalam penelitian ini, empati adalah sikap yang peduli, memahami kebutuhan masyarakat dan menghargai tanpa membedakan latar belakang masyarakat di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sidenreng Rappang. Hasil 219 Febrianti, A. Lukman. Ikbal, M. / JDG Vol. 15 No. 02 (2025) 216-225 olahan data menunjukkan bahwa indikator ini memperoleh nilai sebesar 78% yang menunjukkan kategoroi “baik”. Yang menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat merasa nyaman dan percaya saat berinteraksi dengan pegawai, meskipun ada sebagian kecil yang merasa kurang yakin terhadap sikap dan kemampuan pelayanan. Empathy mengacu pada indikator teori yang dijadikan acuan dalam penelitian ini, jaminan adalah rasa aman dan kepercayaan yang diberikan pegawai kepada masyarakat ketika dilayani di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sidenreng Rappang. Hasil olahan data menunjukkan bahwa indikator ini memperoleh nilai sebesar 78% yang menunjukkan kategoroi “baik”. ”. Artinya, meskipun secara umum empati pegawai sudah cukup baik, tetap dibutuhkan peningkatan dalam hal sikap, komunikasi, dan keterbukaan agar seluruh masyarakat merasa dihormati dan diperlakukan setara. Skor rata-rata kualitas pelayanan publik berdasarkan seluruh indikator adalah 78,4%, yang termasuk dalam kategori baik. Temuan ini menunjukkan bahwa pelayanan publik di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sidenreng Rappang telah memenuhi harapan masyarakat dalam beberapa aspek penting, namun masih menyisakan ruang untuk peningkatan, terutama dalam hal kecepatan dan ketanggapan pegawai. Uji Kualitas Data (Uji Validitas dan Realibilitas) Uji Validitas Tabel 1. Correlations Variabel X Correlations X1 X1 X2 X3 X4 X5 .533** .541** .549** .379** .753** <,001 <,001 <,001 <,001 <,001 97 97 97 97 97 97 Pearson Correlation .533** 1 .643** .476** .530** .802** Sig. (2-tailed) <,001 <,001 <,001 <,001 <,001 Pearson Correlation 1 Sig. (2-tailed) N X2 N X3 97 97 97 97 97 97 Pearson Correlation .541** .643** 1 .623** .541** .844** Sig. (2-tailed) <,001 <,001 <,001 <,001 <,001 97 97 97 97 97 97 Pearson Correlation .549** .476** .623** 1 .497** .788** Sig. (2-tailed) <,001 <,001 <,001 <,001 <,001 97 97 97 97 97 97 Pearson Correlation .379** .530** .541** .497** 1 .763** Sig. (2-tailed) <,001 <,001 <,001 <,001 97 97 97 97 97 97 1 N X4 N X5 TOTAL N <,001 TOTA Pearson Correlation .753** .802** .844** .788** .763** L Sig. (2-tailed) <,001 <,001 <,001 <,001 <,001 N 97 97 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 97 97 97 97 Sumber Data: Hasil Olahan SPSS 21.0 Pedoman menentukan keputusan pada uji validitas Pearson Correlation : 1. Jika nilai Rhitung > Rtabel = Valid 2. Jika nilai Rhitung < Rtabel = Tidak Valid Cara melihat Rhitung dengan N = 97 pada signifikansi 5% pada distribusi nilai Rtabel statistik, maka diperoleh sebesar 0,199. 220 Febrianti, A. Lukman. Ikbal, M. / JDG Vol. 15 No. 02 (2025) 216-225 Berdasarkan hasil output di atas, pengujian validitas dilakukan dengan membandingkan nilai Rhitung dengan Rtabel. Diketahui bahwa nilai Rhitung untuk item pertanyaan X1 adalah 0,753, X2 sebesar 0,802, X3 sebesar 0,844, X4 sebesar 0,788 dan X5 sebesar 0,763. Seluruh nilai tersebut lebih besar dari Rtabel sebesar 0,202. Oleh karena itu, kelima item pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku birokrasi dapat dinyatakan “Valid”, karena memenuhi kriteria validitas instrumen penelitian. Dalam pengujian validitas berdasarkan output tabel di atas, tingkat validitas ditentukan dengan membandingkan Rhitung dan Rtabel. Dalam proses ini, peneliti menggunakan 97 responden sebagai sampel, dengan derajat kebebasan (df) dihitung menggunakan rumus df = n - 2, sehingga diperoleh df = 97 - 2 = 95. Dengan tingkat signifikansi 0,05, nilai Rtabel yang digunakan sebagai acuan adalah 0,199. Tabel 2. Correlations Variabel Y Correlations Y1 Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 .443** .428** .406** .358** .668** <,001 <,001 <,001 <,001 <,001 97 97 97 97 97 97 Pearson Correlation .443** 1 .343** .432** .473** .664** Sig. (2-tailed) <,001 <,001 <,001 <,001 <,001 Pearson Correlation 1 Sig. (2-tailed) N Y2 N Y3 97 97 97 97 97 97 Pearson Correlation .428** .343** 1 .568** .581** .781** Sig. (2-tailed) <,001 <,001 <,001 <,001 <,001 97 97 97 97 97 97 Pearson Correlation .406** .432** .568** 1 .701** .838** Sig. (2-tailed) <,001 <,001 <,001 <,001 <,001 97 97 97 97 97 97 Pearson Correlation .358** .473** .581** .701** 1 .843** Sig. (2-tailed) <,001 <,001 <,001 <,001 97 97 97 97 97 97 .664** .781** .838** .843** 1 N Y4 N Y5 TOTAL N <,001 TOTA Pearson Correlation .668** L Sig. (2-tailed) <,001 <,001 <,001 <,001 <,001 97 97 97 97 97 N 97 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Sumber Data: Hasil Olahan SPSS 21.0 Pedoman menentukan keputusan pada uji validitas Pearson Correlation : 1. Jika nilai Rhitung > Rtabel = Valid 2. Jika nilai Rhitung < Rtabel = Tidak Valid Cara melihat Rhitung dengan N = 97 pada signifikansi 5% pada distribusi nilai Rtabel statistik, maka diperoleh sebesar 0,199. Berdasarkan hasil output di atas, pengujian validitas dilakukan dengan membandingkan nilai Rhitung dengan Rtabel. Diketahui bahwa nilai Rhitung untuk item pertanyaan X1 adalah 0,753, X2 sebesar 0,802, X3 sebesar 0,844, X4 sebesar 0,788 dan X5 sebesar 0,763. Seluruh nilai tersebut lebih besar dari Rtabel sebesar 0,202. Oleh karena itu, kelima item pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku birokrasi dapat dinyatakan “Valid”, karena memenuhi kriteria validitas instrumen penelitian. Dalam pengujian validitas berdasarkan output tabel di atas, tingkat validitas ditentukan dengan membandingkan Rhitung dan Rtabel. Dalam proses ini, peneliti menggunakan 97 responden sebagai sampel, dengan derajat kebebasan (df) dihitung menggunakan rumus df = n - 2, sehingga diperoleh df 221 Febrianti, A. Lukman. Ikbal, M. / JDG Vol. 15 No. 02 (2025) 216-225 = 97 - 2 = 95. Dengan tingkat signifikansi 0,05, nilai Rtabel yang digunakan sebagai acuan adalah 0,199. pertanyaan pada variabel kualitas pelayanan publik. Berdasarkan kriteria bahwa instrumen dinyatakan reliabel jika nilai Cronbach’s Alpha > 0,60, maka dengan hasil 0,819 > 0,60, dapat disimpulkan bahwa data tersebut “Reliabel”. Uji Realibilitas Analisis Regresi Linear Sederhana Tabel 3. Case Processing Summary Cases N % Valid 97 100.0 Excludeda 0 .0 Total 97 100.0 Tabel 6. Model Summary a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Sumber Data : Hasil Olahan SPSS 21.0 Output di atas menjelaskan mengenai kelayakan data untuk dianalisis. Dari hasil yang ditampilkan, terdapat 97 case atau data yang dinyatakan valid atau memenuhi syarat untuk diproses, dengan persentase sebesar 100%. Tidak terdapat data yang dikeluarkan (excluded), sehingga seluruh data yang dikumpulkan dapat digunakan dalam analisis secara menyeluruh. Tabel 4. Reliability Statistics X Cronbach's Alpha N of Items .847 5 Sumber Data : Hasil Olahan SPSS 21.0 Output di atas menunjukkan hasil uji reliabilitas dengan metode Cronbach’s Alpha dengan nilai sebesar 0,847 untuk lima item pertanyaan pada variabel perilaku birokrasi. Berdasarkan kriteria bahwa instrumen dinyatakan reliabel jika nilai Cronbach’s Alpha > 0,60, maka dengan hasil 0,847 > 0,60, dapat disimpulkan bahwa data tersebut “Reliabel”. Model R 1 .797a Adjusted R Std. Error of Square the Estimate R Square .635 .632 1.619 a. Predictors: (Constant), Perilaku Birokrasi Sumber Data : Hasil Olahan SPSS 21.0 Nilai R sebesar 0,797 menunjukkan adanya hubungan kuat antara Perilaku Birokrasi dan Kualitas Pelayanan Publik. Koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,635 berarti 63,5% variasi dalam kualitas pelayanan publik dapat dijelaskan oleh perilaku birokrasi, sedangkan 36,5% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,632 memperkuat kestabilan model meskipun ada penyesuaian. Sementara itu, nilai Standard Error of the Estimate sebesar 1,619 menunjukkan bahwa kesalahan prediksi model masih tergolong wajar. Secara keseluruhan, model ini dinilai cukup baik dan relevan. Tabel 7. Coefficientsa Standard ized Unstandardized Coefficie Coefficients nts Std. Model B Error 1 (Constant) 3.071 1.322 Perilaku .836 .065 Beta t Sig. 2.324 .022 12.86 <,001 Tabel 5. Reliability Statistics Y Cronbach's Alpha Birokrasi N of Items .819 .797 5 9 a. Dependent Variable: Kualitas Pelayanan Publik Sumber Data : Hasil Olahan SPSS 21.0 Sumber Data : Hasil Olahan SPSS 21.0 Berdasarkan tabel 4.23 Coefficients hasil Output di atas menunjukkan hasil uji reliabilitas dengan metode Cronbach’s Alpha pengolahan data, model regresi yang digunakan dalam dengan nilai sebesar 0,819 untuk lima item penelitian ini untuk mengukur pengaruh perilaku 222 Febrianti, A. Lukman. Ikbal, M. / JDG Vol. 15 No. 02 (2025) 216-225 birokrasi terhadap kualitas pelayanan publik di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sidenreng Rappang, dapat dijelaskan melalui persamaan regresi berikut: Y1 = 3,071 + 836X Penjelasan dari persamaan tersebut adalah sebagai berikut: 1) Koefisien regresi (b) sebesar 0,836 menunjukkan bahwa setiap perubahan dalam variabel perilaku birokrasi (X) akan diikuti oleh perubahan searah pada variabel kualitas pelayanan publik (Y). artinya, semakin baik perilaku birokrasi yang dilakukan, maka tingkat kualitas pelayanan publik juga akan meningkat dan sebaliknya. 2) Nilai konstanta (a) sebesar 3,071 mengindikasikan bahwa jika tidak ada pengaruh dari variabel perilaku birokrasi (X), maka nilai dasar kualitas pelayanan publik tetap berada pada angka 3,071. Ini menunjukkan bahwa Perilaku Birokrasi memiliki kontribusi positif terhadap Kualitas Pelayanan Publik, meskipun tanpa pengaruh variabel lain. 3) Berdasarkan nilai beta (Standar Koefisien) sebesar 0,797 menunjukkan kekuatan pengaruh perilaku birokrasi terhadap Kualitas Pelayanan Publik. Semakin besar nilai beta, semakin kuat pula pengaruhnya. Nilai 0,797 menyatakan bahwa variabel ini memiliki pengaruh dominan dan signifikan. 4) Nilai signifikansi (Sig. < 0,001) karena nilai signifikansi jauh di bawah 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh Perilaku Birokrasi terhadap Kualitas Pelayanan Publik adalah signifikan secara statistik. Uji Hipotesis (Pengaruh X dan Y) Tabel 8. ANOVAa Sum of Model 1 Squares Regressi 433.871 Mean df Square 1 F Sig. 433.871 165.61 <,001b on 8 Residual 248.872 95 Total 682.742 96 2.620 a. Dependent Variable: Kualitas Pelayanan Publik b. Predictors: (Constant), Perilaku Birokrasi Sumber Data : Hasil Olahan SPSS 21.0 Untuk menguji validitas hipotesis dalam penelitian ini, digunakan uji F. pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel yang diteliti, dengan acuan level of significant α = 0,05. Jika nilai signifikansi yang diperoleh lebih kecil dari 0,05, maka hipotesis (Ha) diterima. Berdasarkan hasil pengolahan data pada tabel ANOVA, diperoleh nilai Fhitung sebesar 165,618 dengan tingkat signifikansi sebesar < 0,001. Karena nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa variabel Perilaku Birokrasi (X) berpengaruh secara signifikan terhadap Kualitas Pelayanan Publik (Y). Maka Ha diterima, artinya signifikan. Jadi Perilaku Birokrasi berpengaruh/signifikan terhadap Kualitas Pelayanan Publik di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sidenreng Rappang. Temuan ini menegaskan bahwa semakin baik perilaku birokrasi maka semakin tinggi pula kualitas pelayanan publik yang diterima oleh masyarakat. Uji statistik t digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh masing-masing variabel independen secara individual dalam menjelaskan variasi pada variabel dependen. Berdasarkan hasil pengolahan data SPSS yang ditampilkan pada tabel Coefficients, dapat diketahui besarnya kontribusi atau pengaruh dari masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat: 1. Nilai thitung variabel Perilaku Birokrasi (X) 836 dan tingkat signifikansi sebesar 0,001. 2. Hipotesis berdasarkan uji-t dirumuskan secara statistik sebagai berikut: Ha : Pyx ≠ 0 H0 : Pyx ≠ 0 Hipotesis bentuk kalimat : Hipotesis Ha : Perilaku Birokrasi berpengaruh/signifikan terhadap Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sidenreng Rappang. Kaidah Keputusan : Jika nilai thitung ≥ ttabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima, artinya signifikan. Tabel coefficients diperoleh thitung = 12,869 prosedur mencari statistik tabel dengan kriteria sebagai berikut: 1. Nilai signifikansi sebesar 0,001 ≤ 0,05 2. Df atau dk (derajat kebebasan) = Jumlah Data – 2 223 Febrianti, A. Lukman. Ikbal, M. / JDG Vol. 15 No. 02 (2025) 216-225 = 97 – 2 = 95 memperkuat bahwa pengaruh tersebut nyata dan sangat signifikan secara statistik. Semakin baik 3. Sehingga didapat ttabel = 1,985 perilaku birokrasi yang ditunjukkan oleh aparatur, Keputusan : Nilai thitung (12,869) > ttabel (1,985) maka akan semakin tinggi pula kualitas pelayanan Maka Ha diterima, artinya signifikan. Jadi Perilaku publik yang diterima oleh masyarakat.rima oleh Birokrasi berpengaruh/signifikan terhadap Kualitas masyarakat. Pelayanan Publik di Kantor Dinas Kependudukan DAFTAR PUSTAKA dan Catatan Sipil Kabupaten Sidenreng Rappang. KESIMPULAN Perilaku birokrasi di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sidenreng Rappang berada pada kategori baik. Hasil analisis menunjukkan bahwa indikator-indikator seperti kepedulian, kedisiplinan dan tanggung jawab para pegawai memperoleh nilai rata-rata sebesar 79,6%, yang menunjukkan bahwa perilaku birokrasi sudah cukup baik menurut penilaian masyarakat. Pegawai umumnya hadir tepat waktu, melayani dengan sikap tanggung jawab, serta memiliki kesediaan untuk membantu masyarakat. Namun, beberapa responden masih merasa bahwa pegawai kurang tanggap dan belum sepenuhnya komunikatif, terutama dalam menyampaikan informasi layanan secara proaktif. Dali, S. R., Sulila, I., & Abdussamad, J. (2024). Pengaruh Perilaku Birokrasi Terhadap Kualitas Pelayanan Publik Di Samsat Kota Gorontalo. Journal Education and Government Wiyata, 2(4), 447–457. Endah, K., Vestikowati, E., & Galuh, U. (2021). Birokrasi Pemerintaha Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Jurnal Moderat, 7(3), 647– 656. Erlianti, D. (2019). Kualitas Pelayanan Publik. Jurnal Administrasi Publik & Bisnis, 1(1), 9–18. http://ejournal.stia-lkdumai.ac.id/index.php/japabis Fitria, I., Asad, M. A., & Lukman, L. (2020). Kualitas Pelayanan Publik Terhadap Indeks Kepuasan Masyarakat Di Puskesmas Rappang. Praja: Jurnal Ilmiah Pemerintahan, 8(3), 190–197. https://doi.org/10.51817/prj.v8i3.296 Kualitas pelayanan publik di Kantor Dinas Gusmita, E. (2022). Analisis Perilaku Birokrasi Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Kantor Camat Sidenreng Rappang juga dinilai berada pada kategori Danau Kerinci Barat Kabupaten Kerinci. Ebisma baik. Berdasarkan lima indikator kualitas pelayanan (Economics, Business, Management, & Accounting Journal), 2(2), 39–49. (tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan https://journal.ebisma.net empathy), diperoleh nilai rata-rata 78,4%. Ini mencerminkan bahwa pelayanan yang diberikan Lauma, R., Pangemanan, S., & Sampe, S. (2019). Pengaruh Penerapan Prinsip-Prinsip Good telah memenuhi sebagian besar harapan masyarakat, Governanace Terhadap Kualitas Pelayanan baik dari sisi ketepatan waktu, fasilitas fisik yang Publik (Suatu Studi di Dinas Kependudukan dan memadai, maupun sikap pegawai yang sopan dan Pencatatan Sipil Kabupaten …. Jurnal Eksekutif. ramah. Meski demikian, masih ditemukan keluhan https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jurnaleksek terkait kejelasan prosedur dan waktu tunggu utif/article/view/23855 pelayanan, yang mengindikasikan perlunya Mayasari, R. M., Enggok, M. S., & Herman, M. peningkatan pada aspek responsivitas dan empati. (2022). Pengaruh Profesionalisme Kerja Dan Perilaku Birokrasi Terhadap Kualitas Pelayanan Perilaku birokrasi berpengaruh positif dan Publik Pegawai Kantor Blud Intan Hijau signifikan terhadap kualitas pelayanan publik. Hasil Kabupaten Banjar. AS-SIYASAH: Jurnal Ilmu uji regresi linear sederhana menunjukkan bahwa Sosial Dan Ilmu Politik, 7(1), 1–8. nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 63,5%, artinya perilaku birokrasi menjelaskan lebih dari Novitasari, D., Ikbal, M., & Adnan, A. A. (2022). Tingkat Kepatuhan Masyarakat Terhadap setengah variasi kualitas pelayanan publik yang Protokol Kesehatan Di Masa Pandemi Covid-19 dirasakan oleh masyarakat yang berarti perilaku Di Kelurahan Pangkajene Kecamatan …. JIA: birokrasi memengaruhi kualitas pelayanan sebesar Jurnal Ilmiah …. 63,5%. Sementara sisanya 36,5% dipengaruhi faktor http://jurnal.umsrappang.ac.id/jia/article/view/698 %0Ahttp://jurnal.umsrappang.ac.id/jia/article/do lain di luar penelitian ini. Nilai signifikansi < 0,001 224 Febrianti, A. Lukman. Ikbal, M. / JDG Vol. 15 No. 02 (2025) 216-225 wnload/698/585 Punya, P. S., Sambiran, S., & Sampe, S. (2019). Perilaku Birokrasi Pemerintah Dalam Pelayanan Administrasi Pada Kantor Kecamatan Malalayang Kota Manado. Jurusan Ilmu Pemerintahan, 3(3), 1–12. Kualitas Pelayanan Publik Pada Politeknik Rianto, A. (2018). Pelayanan Publik Dalam Konteks Pelayaran Surabaya. Jurnal Baruna Horizon. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Masyarakat. https://ejurnal.stiamak.ac.id/index.php/jbh/article SOSFILKOM : Jurnal Sosial, Filsafat Dan /view/42 Komunikasi, 12(02), 12–19. https://doi.org/10.32534/jsfk.v12i02.555 Susanto, J., & Anggraini, Z. (2019). Kualitas Pelayanan Publik Pada Kantor Camat Tabir Ulu Sabali, S., Tui, F. P., & Nani, Y. N. (2025). Standar Kabupaten Merangin. Jurnal Administrasi Pelayanan Publik Dalam Meningkatkan Kualitas Negara. Pelayanan Publik. Journal Administration and http://www.journal.stialanmakassar.ac.id/index.p Public Service, 5(2), 62–67. hp/jurnal_administrasi_negara/article/view/699 Sadi, T. (2017). Kajian Hukum Tentang PenerapanPrinsip Pelayanan Publik Thoha, M. (2005). Perilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya. library.stik-ptik.ac.id. BerdasarkanUndang-Undang Nomor 25 Tahun https://api.semanticscholar.org/CorpusID:17843 2009Tentang Pelayanan Publik. Lex et 8169 Societatis, 5(6), 1–8. Sudiartha Athar, H. (2020). Pengaruh Usnaidi, & Purnama, Y. H. (2022). Pengaruh Perilaku Birokrasi Dan Keterampilan Kerja Pegawai Kepemimpinan, Kedisiplinan dan Lingkungan Terhadap Kualitas Pelayanan Publik Di Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Kantor Lingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Kecamatan Selong Kabupaten Lombok Timur. Sukabumi. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(1), Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis (JRMB) 13888–13898. Fakultas Ekonomi Uniat, 5(1), 57–64. http://jrmb.ejournalWahono, A. (2022). Re-Coding Dna Of Public feuniat.net/index.php/jrmb/article/view/367 Administration Sebagai Upaya Peningkatan Public Service. Governance, JKMP Suhardiman, Rachman, M., & Jamiah. (2023). (Governance, Jurnal Kebijakan & Manajemen Birokrasi & Public Governance (T. Media Publik),2 (2). (ed.)). CV.Tahta Media Group. https://doi.org/10.38156/gjkmp.v2i2.46 Suryantoro, B., & Kusdyana, Y. (2020). Analisis 225