Jurnal Bisnis Terapan. Volume 09 Nomor 02 (Desember, 2. 123 - 133 DOI: https://doi. org/10. 24123/jbt. EVALUASI KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN KONSTRUKSI DI BURSA EFEK INDONESIA DENGAN PENDEKATAN DUPONT Rahmat Saleh. Dadang Iwan Riswandi. Iman Firmansyah. Asty Khairi Inayah Syahwani. Lesia Fatma Ginoga Program Studi Akuntansi Sekolah Vokasi IPB University. Bogor. Indonesia Email: rahmat_saleh@apps. Masuk 30 September 2025. Revisi 2 Desember 2025. Diterima 3 Desember 2025. Terbit 22 Desember 2025 Abstract This study aims to evaluate the financial performance of construction companies listed on the Indonesia Stock Exchange during the 2019Ae2023 period using the DuPont System approach. The analysis focuses on three sample companies. PT Total Bangun Persada Tbk. PT Acset Indonusa Tbk, and PT Adhi Karya (Perser. Tbk by measuring Net Profit Margin (NPM). Total Asset Turnover (TATO), and Return on Investment (ROI). The results indicate that PT Total Bangun Persada Tbk consistently recorded the strongest financial performance, with an average ROI of 4. In contrast. PT Acset Indonusa Tbk experienced significant financial pressure, with an average negative ROI of . while PT Adhi Karya (Perser. Tbk showed fluctuating performance, averaging an ROI of The industry average remained negative, reflecting the ongoing challenges in profitability and asset efficiency faced by the construction sector. These findings highlight the importance of asset management optimization and operational efficiency strategies to enhance the competitiveness of construction companies in Indonesia. Copyright A2025 by Authors. Published by Jurnal Bisnis Terapan. This work is licensed under a Creative Commons. Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Keywords: financial performance, dupont system, construction. ROI, indonesia stock Pendahuluan Globalisasi telah memperketat persaingan di industri konstruksi Indonesia, terutama dengan meningkatnya investasi asing yang signifikan. Pada tahun 2023, sektor konstruksi Indonesia mencatat investasi sebesar Rp36,98 triliun, mencakup 58. 935 proyek dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Provinsi DKI Jakarta menjadi penerima utama investasi PMA di sektor ini dengan realisasi sebesar 167,36 juta dolar AS atau setara Rp2,47 triliun, diikuti oleh Banten dan Jawa Barat (Konstruksi Media, 2. Tren ini berlanjut pada tahun 2024, di mana investasi sektor konstruksi mencapai Rp44,8 triliun. Peningkatan ini menunjukkan daya tarik yang tinggi dari sektor konstruksi Indonesia bagi investor asing, khususnya dari Tiongkok. Singapura. Jepang. Inggris, dan Korea Selatan (Kompas. com, 2. Fenomena masuknya investasi dan perusahaan asing membawa dampak berupa persaingan yang semakin ketat bagi perusahaan konstruksi lokal. Perusahaan asing umumnya hadir dengan modal yang kuat dan teknologi yang lebih maju, sehingga perusahaan konstruksi domestik harus berupaya keras untuk mempertahankan eksistensi di tengah tantangan tersebut. Tidak sedikit perusahaan lokal yang akhirnya terpaksa dilikuidasi karena tidak mampu mengimbangi persaingan, salah satunya akibat lemahnya pengelolaan kinerja keuangan dan kurangnya strategi antisipatif. Kinerja keuangan merupakan indikator utama dalam menilai kesehatan dan keberlanjutan suatu perusahaan. Menurut Harahap . , kinerja keuangan dapat dievaluasi melalui analisis laporan keuangan yang mencakup rasio profitabilitas, likuiditas, solvabilitas, dan aktivitas. Penilaian kinerja keuangan menjadi krusial bagi perusahaan publik, termasuk sektor konstruksi, karena mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, mengelola aset, dan menjaga kepercayaan investor. Dalam konteks persaingan yang semakin ketat, pengelolaan kinerja keuangan yang efisien dan efektif merupakan salah satu kunci untuk menjaga daya saing. Industri konstruksi di Indonesia memiliki peran vital dalam pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, industri ini menghadapi tantangan berupa fluktuasi biaya bahan baku, ketergantungan pada proyek pemerintah, serta tingkat persaingan yang tinggi (Siboro et al. , 2. Oleh karena itu, perusahaan konstruksi dituntut untuk mampu melakukan evaluasi terhadap kinerja keuangannya secara berkelanjutan agar dapat menjaga keberlanjutan dan profitabilitas usaha. Salah satu metode analisis yang banyak digunakan untuk mengevaluasi kinerja keuangan adalah pendekatan DuPont System. Menurut Brigham & Houston . , pendekatan ini memberikan gambaran menyeluruh tentang faktor-faktor yang memengaruhi profitabilitas perusahaan melalui integrasi tiga rasio utama, yaitu Net Profit Margin (NPM). Total Asset Turnover (TATO), dan Return On Investment (ROI). Melalui pendekatan ini, manajemen dapat mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan, baik dari sisi efisiensi operasional maupun pengelolaan aset. Beberapa penelitian sebelumnya telah membuktikan efektivitas pendekatan DuPont dalam menilai kinerja keuangan. Misalnya. Bangun . yang menganalisis kinerja keuangan PT Adhi Karya (Perser. Tbk periode 2017Ae2021 menemukan bahwa perusahaan mengalami kinerja keuangan yang kurang baik berdasarkan rasio profitabilitas dan efisiensi aset. Penelitian Faisa . terhadap beberapa perusahaan konstruksi BUMN periode 2017Ae2022 juga menunjukkan bahwa rasio keuangan seperti Current Ratio (CR). Days Sales Outstanding (DSO). Inventory Turnover (INVT). Total Asset Turnover (TATO). Total Debt to Capital (TDC), dan Operating Margin (OPMAR) memiliki pengaruh signifikan terhadap Return on Equity (ROE). Hasil tersebut menunjukkan bahwa pendekatan DuPont efektif dalam mengungkap hubungan antar-rasio yang memengaruhi kinerja perusahaan secara menyeluruh. Selain itu, penelitian oleh Hasrul et al. pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa DuPont System dapat membantu mengidentifikasi determinan utama ROI yang memengaruhi kinerja jangka panjang. Penelitian serupa oleh Rahmandiansyah & Sodikin . terhadap perusahaan konstruksi menemukan bahwa perusahaan dengan rasio profitabilitas dan perputaran aset yang tinggi cenderung lebih mampu bertahan di tengah dinamika industri. Pemilihan perusahaan konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai objek penelitian didasarkan pada ketersediaan data laporan keuangan yang terverifikasi dan diaudit secara publik, sehingga hasil analisis dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. BEI juga menyediakan transparansi dan keterbukaan informasi yang memungkinkan evaluasi objektif terhadap kinerja keuangan perusahaan (Rafikaningsih et al. , 2. Oleh karena itu, hasil penelitian ini diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi akademik, tetapi juga manfaat praktis bagi para pemangku kepentingan, khususnya dalam pengambilan keputusan investasi dan perumusan strategi keuangan di sektor konstruksi. Namun demikian, sebagian besar penelitian sebelumnya belum secara spesifik menelaah penerapan DuPont System pada subsektor konstruksi di Indonesia dalam periode pascapandemi. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan penelitian yang perlu diisi melalui studi ini. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan pendekatan DuPont System. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai kekuatan dan kelemahan keuangan perusahaan konstruksi serta menjadi dasar bagi pengambilan keputusan strategis dalam meningkatkan kinerja dan daya saing perusahaan. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif untuk mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan konstruksi melalui DuPont System. Studi ini mengkaji laporan keuangan utama, yaitu laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi, dengan menelusuri keterkaitan antara Net Profit Margin dan Total Asset Turnover selama periode 2019Ae2023. Pendekatan deskriptif kuantitatif dipilih karena mampu memberikan gambaran objektif serta terukur atas fenomena yang diteliti (Sugiyono, 2. Unit analisis penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data yang digunakan bersifat kuantitatif, berupa angka-angka pada pos laporan keuangan, dengan sumber utama berupa data sekunder yang diperoleh dari situs resmi Bursa Efek Indonesia . , meliputi laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi. Informasi tambahan juga diperoleh dari media massa sebagai bahan pendukung (IDX, 2. Pemilihan sampel dilakukan menggunakan metode purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian (Sugiyono, 2. Kriteria yang digunakan meliputi: . perusahaan merupakan bagian dari subsektor konstruksi bangunan yang terdaftar di BEI. telah terdaftar paling lambat sejak . pernah atau sedang tercatat di Papan Utama atau Papan Pengembangan BEI selama periode 2019Ae2023. secara konsisten menerbitkan laporan keuangan tahunan selama periode tersebut. Berdasarkan kriteria tersebut, terdapat sebelas perusahaan yang memenuhi syarat, yaitu PT Adhi Karya (Perser. Tbk. PT Pembangunan Perumahan (Perser. Tbk. PT Total Bangun Persada Tbk. PT Wijaya Karya (Perser. Tbk. PT Waskita Karya (Perser. Tbk. PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk. PT Paramita Bangun Sarana Tbk. PT Nusa Raya Cipta Tbk. PT Acset Indonusa Tbk. PT Indonesia Pondasi Raya Tbk, dan PT Mitra Pemuda Tbk. Dari sebelas perusahaan tersebut, penelitian ini memilih tiga perusahaan sebagai sampel utama, yaitu PT Total Bangun Persada Tbk. PT Acset Indonusa Tbk, dan PT Adhi Karya (Perser. Tbk. Pemilihan ini didasarkan pada variasi kinerja keuangan masing-masing perusahaan, sehingga analisis terhadap ketiganya diharapkan dapat memberikan insight yang lebih komprehensif mengenai dinamika kinerja di subsektor konstruksi bangunan (Bangun, 2. Data yang telah diperoleh dianalisis dengan pendekatan DuPont System. Pendekatan ini digunakan untuk mengukur kinerja keuangan berdasarkan Return on Investment (ROI) yang merupakan hasil perkalian antara Net Profit Margin (NPM) dan Total Asset Turnover (TATO) (Bangun, 2023. Brigham & Houston, 2. NPM mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari setiap penjualan, sedangkan TATO menunjukkan efektivitas perusahaan dalam menggunakan seluruh aset untuk menghasilkan pendapatan. Rumus yang digunakan adalah: ROI = Net Profit Margin y Total Asset Turnover Seluruh data kemudian diolah secara kuantitatif dengan pendekatan non-statistik, yaitu dengan menghitung dan menginterpretasikan hasil perhitungan untuk menggambarkan kinerja keuangan perusahaan secara deskriptif. Hasil analisis ini menjadi dasar dalam menarik kesimpulan mengenai kinerja keuangan masing-masing perusahaan selama periode 2019Ae2023 (Brigham & Houston, 2019. Sugiyono, 2. Hasil dan Pembahasan Analisis kinerja keuangan perusahaan konstruksi dalam penelitian ini menggunakan pendekatan DuPont System, yaitu metode analisis keuangan yang bersifat integratif dengan tujuan utama mengevaluasi tingkat pengembalian investasi atau Return on Investment (ROI). Pendekatan ini menggabungkan dua rasio keuangan utama, yaitu Net Profit Margin (NPM) dan Total Asset Turnover (TATO), sehingga memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai efektivitas perusahaan dalam menghasilkan laba dari aset yang dimilikinya. Rasio NPM dihitung dengan membagi laba bersih setelah pajak dengan total pendapatan usaha, yang mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari setiap rupiah penjualan yang diperoleh. Sementara itu. TATO diperoleh dengan membagi total pendapatan usaha dengan jumlah aset, yang menggambarkan seberapa efisien perusahaan memanfaatkan seluruh asetnya untuk mendukung kegiatan operasional dan menghasilkan pendapatan. Nilai ROI kemudian dihitung dengan mengalikan NPM dengan TATO. Dengan demikian. DuPont System memberikan pemahaman menyeluruh mengenai faktor-faktor yang memengaruhi tingkat pengembalian investasi, baik dari aspek profitabilitas maupun efisiensi penggunaan aset. Tabel 1 berikut menyajikan data Net Profit Margin (NPM) dari tiga perusahaan subsektor konstruksi bangunan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2019Ae2023, yaitu PT Total Bangun Persada Tbk. PT Acset Indonusa Tbk, dan PT Adhi Karya (Perser. Tbk. Tabel 1. Net Profit Margin (NPM) Perusahaan Konstruksi . 9Ae2. Dalam jutaan rupiah, kecuali dinyatakan lain PT Total Bangun Persada Tahun PT Acset Indonusa PT Adhi Karya Laba Setelah Pajak NPM (%) Laba Setelah Pajak NPM (%) Laba Setelah Pajak NPM (%) 8,44 4,95 4,75 0,22 5,83 0,75 4,03 1,29 5,70 0,33 Berdasarkan Tabel 1, terlihat bahwa PT Total Bangun Persada Tbk secara konsisten mencatatkan NPM yang relatif stabil dan tinggi dibandingkan dua perusahaan lainnya selama periode 2019Ae2023. NPM perusahaan ini sempat menurun pada 2020Ae2022 akibat tekanan ekonomi dan perlambatan proyek konstruksi, namun kembali meningkat Kondisi ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan profitabilitas di tengah dinamika industri yang penuh tantangan. Faktor-faktor eksternal seperti pandemi COVID-19 dan ketidakpastian pasar properti nasional jelas berpengaruh terhadap penurunan laba bersih perusahaan, namun PT Total Bangun Persada Tbk berhasil melakukan penyesuaian strategis dan efisiensi biaya sehingga mampu mempertahankan margin positif. Sebaliknya. PT Acset Indonusa Tbk mengalami tren penurunan kinerja keuangan yang cukup signifikan. Selama lima tahun berturut-turut, perusahaan ini membukukan NPM negatif dan cenderung memburuk dari tahun ke tahun, menandakan kerugian operasional yang berkelanjutan. Fenomena tersebut mengindikasikan adanya tekanan dari sisi pendapatan, biaya proyek, serta efisiensi manajerial. Tekanan ini mungkin berasal dari pembengkakan biaya proyek, gagal bayar, dan penurunan nilai kontrak yang menggerus margin laba secara konsisten. Sementara itu. PT Adhi Karya (Perser. Tbk memperlihatkan pola fluktuatif. Setelah mencatatkan NPM cukup baik pada 2019, perusahaan ini mengalami penurunan drastis pada 2020 akibat pandemi COVID-19, namun mulai menunjukkan perbaikan pada 2021Ae2022, meskipun belum mampu mencapai tingkat profitabilitas sebelum pandemi. Pada 2023. NPM Adhi Karya kembali menurun, menunjukkan tantangan dalam menjaga stabilitas laba di tengah ketidakpastian pasar Kondisi ini mencerminkan betapa rentannya sektor konstruksi terhadap gangguan eksternal dan tekanan biaya, terutama dalam menghadapi pandemi global yang mengubah pola permintaan dan operasional proyek secara signifikan. Secara umum, data NPM ini mencerminkan variasi strategi dan kemampuan adaptasi tiap perusahaan terhadap tekanan eksternal, seperti pandemi, kenaikan biaya bahan bangunan, dan perlambatan investasi sektor publik. Perusahaan yang mampu melakukan inovasi manajemen dan efisiensi operasional dengan baik dapat mempertahankan profitabilitas lebih optimal. Selanjutnya, untuk menilai efisiensi penggunaan aset. Tabel 2 menyajikan perbandingan Total Asset Turnover (TATO) tiga perusahaan tersebut pada periode yang Tabel 2. Total Asset Turnover (TATO) Perusahaan Konstruksi . 9Ae2. PT Total Bangun PT Acset PT Adhi Tahun Persada Indonusa Karya 0,99 0,45 0,50 0,80 0,18 0,34 0,62 0,54 0,35 0,78 0,41 0,33 0,80 1,21 0,50 Hasil analisis menunjukkan bahwa PT Total Bangun Persada Tbk memiliki TATO yang cukup stabil dan relatif tinggi. Pada 2019, nilai TATO perusahaan mencapai 0,99, menandakan bahwa setiap satu rupiah aset mampu menghasilkan hampir satu rupiah Meski terjadi penurunan pada 2021, rasio ini kembali membaik pada 2022 dan 2023, menunjukkan adanya konsistensi efisiensi dalam pengelolaan aset perusahaan. Konsistensi ini menjadi indikasi manajemen yang mampu mengoptimalkan perputaran aset meskipun menghadapi tantangan pasar. Berbeda dengan itu. PT Acset Indonusa Tbk menunjukkan fluktuasi TATO yang signifikan. Tahun 2020 mencatat penurunan tajam hingga 0,18, yang menunjukkan rendahnya efisiensi operasional di tengah tekanan proyek. Namun, pada 2023 terjadi lonjakan TATO menjadi 1,21, menandakan adanya peningkatan efisiensi atau restrukturisasi aset yang berhasil dilakukan manajemen, meskipun profitabilitasnya masih negatif. Lonjakan ini kemungkinan berasal dari pelepasan aset tidak produktif atau restrukturisasi proyek, namun belum sepenuhnya berkontribusi terhadap laba bersih. Di sisi lain. PT Adhi Karya (Perser. Tbk menunjukkan tren TATO yang cenderung menurun dengan kisaran 0,33Ae0,50 selama lima tahun terakhir. Nilai ini mencerminkan bahwa perusahaan belum sepenuhnya efisien dalam mengoptimalkan aset untuk menghasilkan pendapatan, sehingga perlu perbaikan strategi dalam manajemen aset dan pengendalian proyek. Penurunan TATO dapat mengindikasikan peningkatan aset yang tidak disertai peningkatan pendapatan secara proporsional, sehingga efisiensi penggunaan aset menurun. Kombinasi antara profitabilitas dan efisiensi penggunaan aset tercermin dalam Return on Investment (ROI) yang disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Return on Investment (ROI) Perusahaan Konstruksi . 9Ae2. Nama Perusahaan PT Total Bangun Persada PT Acset Indonusa PT Adhi Karya Rata-rata Industri DuPont System Rata-rata 2019Ae2023 NPM (%) 8,44 4,75 5,83 4,03 5,70 5,75 TATO . 0,99 0,80 0,62 0,78 0,80 0,80 ROI (%) 8,36 3,80 3,61 3,14 4,56 4,29 NPM (%) TATO . 0,45 1,21 0,56 ROI (%) . NPM (%) 4,95 0,22 0,75 1,29 0,33 1,91 TATO . 0,50 0,34 0,35 0,33 0,50 0,40 ROI (%) 2,48 0,07 0,26 0,43 0,17 0,68 NPM (%) TATO . 0,65 0,44 0,51 0,84 0,59 ROI (%) . 0,18 0,54 0,50 0,41 Berdasarkan data ROI. PT Total Bangun Persada Tbk secara konsisten menunjukkan kinerja keuangan yang stabil dan baik sepanjang 2019Ae2023. NPM perusahaan yang tetap positif dan TATO yang efisien menghasilkan ROI di kisaran 3,148,36%, dengan rata-rata lima tahun sebesar 4,29%, yang tertinggi di antara ketiga Hal ini menunjukkan efektivitas manajemen dalam menjaga keseimbangan antara efisiensi aset dan profitabilitas. ROI yang stabil tersebut menandakan kemampuan perusahaan untuk memberikan nilai tambah secara konsisten kepada pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Sebaliknya. PT Acset Indonusa Tbk terus mencatat ROI negatif dengan rata-rata lima tahun sebesar . %, akibat kerugian operasional yang Walaupun TATO membaik pada 2023, peningkatan tersebut belum mampu menutupi kerugian yang dialami. Kondisi ini menegaskan bahwa perbaikan efisiensi aset harus diimbangi dengan pengendalian biaya dan perbaikan margin agar ROI dapat positif. Sementara PT Adhi Karya (Perser. Tbk memiliki ROI yang rendah dan tidak stabil, dengan rata-rata hanya 0,68%. Setelah sempat mencatatkan kinerja baik pada 2019, penurunan drastis terjadi pada 2020 karena pandemi, dan perbaikan yang terjadi setelahnya belum signifikan. ROI yang fluktuatif ini mencerminkan tantangan dalam mempertahankan keuntungan berkelanjutan di sektor konstruksi yang sangat sensitif terhadap faktor Jika dibandingkan dengan rata-rata industri, ketiga perusahaan ini menunjukkan bahwa sektor konstruksi secara umum menghadapi tantangan besar dalam menjaga tingkat pengembalian investasi. Rata-rata ROI industri selama lima tahun terakhir sebesar . %, yang berarti sebagian besar perusahaan belum mampu memaksimalkan laba dari investasi Faktor-faktor seperti kenaikan biaya bahan bangunan, keterlambatan proyek, serta ketergantungan pada proyek pemerintah turut memengaruhi rendahnya ROI di subsektor Tekanan struktural ini menjadi tantangan sistemik yang harus diatasi melalui perbaikan regulasi, peningkatan kapasitas manajemen proyek, dan inovasi dalam model bisnis Selanjutnya. Tabel 4 menampilkan hasil perhitungan rata-rata NPM. TATO, dan ROI selama lima tahun untuk ketiga perusahaan sebagai representasi kinerja keuangan subsektor konstruksi. Tabel 4. Analisis DuPont System Perusahaan Konstruksi (Rata-rata 2019Ae2. Net Profit Margin (%) 5,75 Total Asset Turnover . 0,80 Return On Investment (%) 4,29 PT Acset Indonusa 0,56 PT Adhi Karya 1,91 0,40 0,68 Rata-rata Industri 0,59 Nama Perusahaan PT Total Bangun Persada Berdasarkan Tabel 4. PT Total Bangun Persada Tbk menunjukkan kinerja terbaik di antara ketiganya, dengan rata-rata NPM sebesar 5,75%. TATO 0,80 kali, dan ROI 4,29%. Kombinasi antara profitabilitas yang stabil dan efisiensi penggunaan aset yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan ini memiliki manajemen keuangan yang solid serta kemampuan beradaptasi terhadap dinamika pasar konstruksi. Hal ini menjadi contoh keberhasilan strategi manajemen yang mampu menyeimbangkan antara pengendalian biaya, pengelolaan aset, dan pencapaian pendapatan. Sebaliknya. PT Acset Indonusa Tbk menunjukkan performa yang sangat lemah, dengan NPM rata-rata . % dan ROI . Kondisi ini menandakan adanya permasalahan mendasar dalam pengendalian biaya, manajemen proyek, dan strategi investasi. Faktor-faktor internal seperti lemahnya manajemen risiko, buruknya perencanaan proyek, dan ketidakefisienan operasional mungkin menjadi penyebab utama kinerja negatif ini. PT Adhi Karya (Perser. Tbk memiliki NPM dan ROI lebih rendah dibandingkan PT Total Bangun Persada Tbk, dengan nilai masing-masing 1,91% dan 0,68%, serta TATO 0,40 kali. Hal ini menunjukkan tantangan yang dihadapi perusahaan dalam mempertahankan efisiensi operasional dan profitabilitas jangka panjang. Meskipun tidak serendah PT Acset Indonusa Tbk. PT Adhi Karya perlu melakukan perbaikan strategi secara signifikan agar dapat bersaing dan tumbuh secara berkelanjutan. Jika dilihat secara agregat, nilai rata-rata industri menunjukkan bahwa subsektor konstruksi bangunan di Indonesia masih menghadapi hambatan struktural dalam menciptakan nilai tambah dari investasi aset. Rata-rata NPM sebesar . % dan ROI sebesar . % dengan TATO 0,59 kali memperlihatkan bahwa mayoritas perusahaan belum mencapai tingkat efisiensi dan profitabilitas yang memadai. Kondisi ini menggambarkan bahwa sektor ini masih dalam fase menyesuaikan diri dengan perubahan pasar dan tekanan biaya, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Hanya sedikit perusahaan yang berhasil menjaga kinerja positif dan konsisten, seperti PT Total Bangun Persada Tbk, sedangkan sebagian besar masih harus memperkuat strategi manajemen aset dan struktur biaya. Temuan penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian terdahulu. Karlinda & Ratnasari . menyatakan bahwa tingginya NPM dan TATO berkontribusi positif terhadap ROI, sebagaimana tercermin pada kinerja PT Total Bangun Persada Tbk. Studi tersebut menegaskan pentingnya sinergi antara profitabilitas dan efisiensi aset dalam menunjang keberlanjutan kinerja keuangan. Rohyana & Norsipa . menegaskan bahwa fluktuasi faktor eksternal seperti krisis ekonomi atau pandemi berdampak signifikan terhadap penurunan NPM dan ROI, sebagaimana terlihat pada PT Adhi Karya (Perser. Tbk dan rata-rata industri. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan konstruksi harus mengembangkan strategi mitigasi risiko eksternal yang efektif untuk menjaga stabilitas Sementara itu. Supriyanto & Pakuan . menunjukkan bahwa kegagalan dalam mengelola biaya dan aset secara efisien dapat menyebabkan kerugian berkelanjutan, seperti yang dialami oleh PT Acset Indonusa Tbk. Penelitian ini menggarisbawahi perlunya penguatan pengendalian internal dan manajemen proyek untuk memperbaiki kinerja Dengan demikian, hasil penelitian ini memperkuat teori DuPont yang menekankan pentingnya sinergi antara profitabilitas dan efisiensi aset dalam menghasilkan kinerja keuangan yang optimal. Perusahaan yang mampu menjaga stabilitas kedua faktor ini cenderung memiliki tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi dan berkelanjutan. Dalam konteks sektor konstruksi, perbaikan manajemen biaya, pengendalian proyek yang ketat, serta inovasi dalam penggunaan aset menjadi kunci keberhasilan. Secara khusus, perusahaan harus mampu mengantisipasi fluktuasi pasar dan menjaga fleksibilitas operasional agar mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang semakin ketat dan kondisi makroekonomi yang tidak menentu. Oleh karena itu, perusahaan konstruksi perlu mengembangkan strategi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada optimalisasi aset dan pengendalian biaya secara simultan. Sinergi antara aspek profitabilitas dan efisiensi penggunaan aset harus menjadi perhatian utama manajemen, karena kedua faktor ini saling berkaitan dan menentukan keberhasilan finansial perusahaan secara keseluruhan. Penelitian ini juga menyarankan agar pemangku kepentingan, termasuk investor dan regulator, memperhatikan indikator DuPont sebagai alat evaluasi kinerja yang efektif dan Secara keseluruhan, analisis kinerja keuangan dengan DuPont System pada perusahaan konstruksi ini memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi keuangan dan tantangan yang dihadapi oleh subsektor konstruksi bangunan di Indonesia selama periode 2019Ae2023. Hasil yang diperoleh dapat menjadi dasar bagi pengambilan keputusan strategis yang lebih tepat dan berkelanjutan, baik untuk manajemen perusahaan maupun pemangku kepentingan lainnya dalam industri konstruksi. Simpulan dan Saran Hasil analisis DuPont System terhadap tiga perusahaan konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2019Ae2023 menunjukkan bahwa PT Total Bangun Persada Tbk secara konsisten mencatat kinerja keuangan terbaik, dengan tingkat profitabilitas dan efisiensi penggunaan aset yang stabil. PT Acset Indonusa Tbk mengalami tekanan berat dengan nilai NPM dan ROI negatif, menandakan perlunya perbaikan strategi bisnis dan Sementara itu. PT Adhi Karya (Perser. Tbk memperlihatkan kinerja yang fluktuatif dan masih menghadapi tantangan dalam menjaga pertumbuhan laba. Rata-rata industri juga menunjukkan hasil negatif, yang mencerminkan tantangan umum di subsektor konstruksi bangunan. Secara keseluruhan, efisiensi manajemen dan optimalisasi aset menjadi faktor kunci untuk meningkatkan daya saing serta keberlanjutan perusahaan konstruksi di Indonesia. Untuk itu, perusahaan konstruksi perlu meningkatkan efisiensi aset, memperkuat kontrol biaya, dan mengadopsi teknologi manajemen proyek guna menjaga profitabilitas. Penelitian mendatang disarankan untuk memperluas objek kajian dan memasukkan faktor eksternal, seperti kondisi makroekonomi dan kebijakan pemerintah. Selain itu, dukungan kebijakan dari pemerintah serta asosiasi industri diharapkan dapat memperkuat daya saing dan ketahanan sektor konstruksi di masa depan. Daftar Pustaka